Episode sebelumnya…
Sakura tiba-tiba teringat dengan wajah Sasuke yang begitu tampan saat dilihat dari jarak yang begitu dekat dan tadi hampir saja dia dan Sasuke berciuman, wajah Sakura memanas, dia memegang kedua pipinya sambil tersenyum malu-malu. Namun Sakura segera menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menepis pikiran anehnya tadi.
"Sebaiknya aku cepat pulang sebelum Sasuke berhasil mengejarku." Sakura mengayuh sepedanya dan pergi dari rumah megah itu.
.
.
.
Chocoaddicted Present...
My Psycho Student
Naruto © Masashi Kishimoto
Inspirited by Shiiba Nana Gorgeous Twins
Warning!: OOC, AU, GAJE, ABAL, TYPO and MISS-TYPO (semoga gak ada…), EYD YANG TIDAK KONSISTEN, JAYUS, GARING (KRIUK KRIUK)
DON'T LIKE? DON'T READ!
Chapter 4: Ternyata Cantik
Enjoy…
.
.
Pagi ini langit sangat cerah dan matahari terasa hangat menyinari bumi. Jarang-jarang di musim gugur seperti ini langit berkompromi dengan bumi. Padahal biasanya langit selalu menangis sehingga membasahi bumi dan menyebabkan beberapa manusia mengeluh karena tidak membawa payung. Seharusnya mereka selalu memegang kata pepatah, 'Sedia payung sebelum hujan'. Seperti yang dilakukan oleh anak cewek yang satu ini.
Terlihat aneh memang, keadaan langit yang secerah ini dia malah memasukkan payung lipat abu-abunya ke dalam tas. Sebelumnya dia membuat gempar seisi rumah karena lupa menyimpan si payung, namun akhirnya dia menemukan si payung yang sedang tergeletak tak berdaya di bawah kasurnya.
Sakura membawa sepedanya dengan kekuatan penuh, waktunya terbuang banyak saat mencari payung tadi. Saat sampai di depan gerbang seperti biasa dia berteriak menyetop sang satpam agar tidak menutup gerbang sekolah. Tapi sayang si satpam sudah menutup gerbang sambil nyengir lebar.
"Maaf ya, kali ini aku tidak akan terpengaruh oleh suara mega ultrasonic-mu itu." Satpam itu melipat kedua tangannya di bawah dada sambil memasang senyum kemenangannya.
Sakura mendecih saat melihat si satpam yang ternyata memakai headset di kupingnya. Sakura menuntun sepedanya ke samping sekolah. Kalau dia pulang lagi, dia pasti dihajar habis-habisan sama ibunya. Akhirnya Sakura milih jalan lain, yaitu manjat tembok sekolah.
Sebelumnya Sakura berjalan ke samping sekolah, mastiin kalau satpam sekolah gak bisa ngelihat dia. Sakura menggembok sepedanya di tempat yang aman, lalu mulai memanjat tembok sekolah.
Sakura sudah sampai di atas tembok dan langsung lompat untuk masuk ke dalam halaman samping sekolah dan Sakura jatuh terduduk.
"Hap!" Sakura melompat dari tembok. "Yeah! Aku bisa masuk ke sekolah juga akhirnya! Hohoho…" Sakura tertawa senang, tapi dia merasa ada yang empuk-empuk di bawahnya. Sakura langsung melihat benda apa yang didudukinya.
Doeeeeng!
"Apa yang kau lakukan, baka?" bentak seseorang yang ternyata sedang diduduki oleh Sakura. Rupanya orang tersebut sedang tiduran di atas rumput sambil membaca komik.
"Chi-Chickenbutt!" teriak Sakura sambil menunjuk tepat di muka Sasuke yang masih tertidur.
"Cih! Cepat bangun!" bentak Sasuke lagi.
Sakura langsung berdiri setelah dibentak oleh Sasuke. Sasuke pun bangun dari tidurnya dan siap memberi "pelajaran" berharga pada Sakura. Saat Sasuke melangkahkan kakinya satu langkah mendekat pada Sakura, Sakura sudah ambil langkah seribu karena takut Sasuke akan melakukan hal yang macam-macam seperti kemarin.
"Tch. Cepat sekali larinya. Padahal aku mau memberikan tugas yang kemarin dia suruh," dengus Sasuke dan kembali melanjutkan kegiatannya tiduran di rumput sambil membaca komik.
.
.
Karena kejadian tadi pagi, Sakura seperti kucing-kucingan di sekolah dengan Sasuke. Dia takut ketemu Sasuke dan takut dimintai ganti rugi oleh Sasuke.
Sakura mengendap-endap menuju perpustakaan karena dia mau meminjam buku untuk tugas ekonomi. Sakura membuka pintu perpus dengan sangat pelan, ya kalian tahulah kalau di perpus itu gak boleh berisik, sedikit suara saja membuat para penghuni perpus mengalihkan pandangannya ke sumber suara dan itulah yang terjadi pada Sakura.
Sakura mengumbar cengiran lebarnya saat semua sorot mata menatapnya tajam akibat kegaduhan yang dia ciptakan. Sakura memang membuka pintu perpus dengan sangat hati-hati tapi dia melangkahkan kakinya dengan tidak hati-hati sehingga dia keserimpet keset terus jatuh.
Sakura berjalan menuju rak-rak buku yang mana terdapat buku-buku khusus anak IPS. Sakura mengambil buku ekonomi kelas dua dan segera menuju tempat penjaga perpus untuk meminjamnya. Setelah selesai melakukan administrasi untuk meminjam buku, Sakura melihat-lihat isi perpus dan dia menangkap sosok Sai yang sedang membaca di sudut perpus.
Sakura hanya mengamati Sai dari jauh, tiba-tiba Sai mengangkat wajahnya dan menangkap Sakura yang sedang memerhatikannya. Sai tersenyum lalu mengayunkan tangannya menyuruh Sakura menghampirinya.
Sakura menelan ludahnya karena ketahuan sedang memerhatikan Sai, Sakura melihat Sai mengayunkan tangannya memanggil Sakura untuk datang ke tempatnya. Dengan polosnya Sakura menunjuk dirinya sendiri dan dijawab dengan anggukan Sai.
Sakura berjalan mendekat ke meja Sai. Tepat saat dia sudah berdiri di depan meja tersebut, Sai menunjuk bangku di depannya yang artinya menyuruh Sakura duduk.
"Nah, apa ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Sai sambil menopang dagu dengan tangan kanannya.
Sakura tertegun dengan pertanyaan Sai. Bagaimana Sai bisa tahu kalau Sakura sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya.
Karena jaim, Sakura menjawab, "PD banget. Aku gak mau nanya apa-apa kok."
Sai menahan tawanya. "Lalu kenapa dari tadi kau terus memerhatikanku? Itu membuatku terganggu," jawab Sai ceplas-ceplos.
'Memerhatikan saja membuatnya terganggu? Benar-benar cowok angkuh!' batin Sakura sambil mematahkan pensil yang dia pegang di kolong meja.
"Tch!" dengus Sakura.
Sai tersenyum lalu kembali membolak-balikkan halaman buku yang dia baca tadi. Sakura memerhatikan Sai yang membolak-balik halaman buku di depannya. Lama-lama Sakura merasa jenuh juga, dia yang cerewet berada di tempat yang sepi sangatlah gak sesuai.
"Sensei, Sasuke kalau marah itu sangat menyeramkan loh," ucapan Sai mengalihkan perhatian Sakura padanya.
"Menyeramkan bagaimana?" tanya Sakura.
Sai menghentikan kegiatannya yang membolak-balik halaman buku dan menatap Sakura sambil tersenyum. "Dia kalau marah matanya berubah menjadi merah, dan dengan kekuatan yang ada di matanya itu dia bisa membunuh orang lain."
"APA?" teriak Sakura saking kagetnya.
Karena mendapatkan aura seram dari sekitarnya, Sakura buru-buru menutup mulutnya yang teriak tadi sambil menggumamkan kata maaf.
Sai terkekeh geli akibat ulah Sakura. Sai menyodorkan dua buah buku yang terletak gak jauh darinya pada Sakura. Sakura memandang buku itu dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Ini tugasku dan tugas Sasuke yang sensei suruh kemarin. Tadi pagi aku udah nunggu sensei di depan gerbang tapi sensei gak dateng-dateng, terus kata Sasuke tadi sensei nindih dia pas manjat tembok sekolah di halaman samping pas Sasuke mau ngasih tugasnya eh sensei udah ngacir duluan," kata Sai dengan senyum buatannya.
'Tugas?' pikir Sakura, ternyata dia lupa udah ngasih tugas ke 'tuh dua anak kemarin. "Ah! Iya iya, nanti akan kuperiksa tugas kalian." Sakura berkata sok cool sambil mengambil kedua buku tersebut dan berdiri dari duduknya.
Saat Sakura akan pergi dari sana, tiba-tiba Sai berkata, "Hati-hatilah, Sakura-sensei." Sai memperingatkan Sakura sambil tersenyum. Sakura menelan ludahnya.
'Kembar sialan ini benar-benar seperti psikopat,' batin Sakura dengan cemas.
.
.
Ini adalah hari kedua Sakura mengajar. Sakura bersembunyi di balik tembok, suara jantung Sakura berdetak lebih cepat sekarang. Dia takut terjadi apa-apa padanya nanti. Saat Sakura bersembunyi di belakang tembok, tiba-tiba ada yang menepuk bahunya membuat Sakura menoleh dengan gerakan lambat.
Dag dig dug…
Dag dig dug…
Suara jantung Sakura deg-degan menebak-nebak siapa yang menepuk bahunya. Great! Yang menepuk bahu Sakura adalah Sasuke, orang yang sangat terlarang untuk ditemuinya saat ini meskipun saat mengajar nanti bakalan ketemu juga.
Sakura refleks langsung menjauh dari Sasuke. Sasuke menatap Sakura dengan mata merahnya. Sakura menelan paksa ludahnya dan berusaha untuk kabur tapi jalannya dihalangi oleh Sasuke.
Sasuke berjalan mendekati Sakura dan membuat Sakura semakin melangkah mundur. Sasuke menyunggingkan senyum yang sangat menyeramkan membuat Sakura bergidik ngeri. Sakura gak bisa mundur lagi karena badannya udah menyentuh tembok.
Sasuke menatap Sakura dengan menyeringai. "Tamat riwayatmu, Sakura!"
Sakura panik melihat Sasuke. "Tidaaaaaak!" teriak Sakura.
.
.
"Tidaaaaaak!" teriak Sakura.
"Kau kenapa, Sakura-chan?" tanya Itachi yang kebetulan lewat dan mendengar teriakan Sakura.
Sakura tersadar dari lamunannya. Dia memandang Itachi sambil nyengir. "Gak apa-apa kok, Itachi-nii. Hehehe."
"Oh… ya sudah cepat masuk sana. Ajari adik-adikku sampai pandai, ya!" seru Itachi sambil mengacak rambut Sakura dan pergi meninggalkan Sakura sendirian.
Sakura merentangkan tangannya mencoba menahan Itachi agar gak pergi. "Itachi-nii, jangan pergi!" ucapnya namun bayangan Itachi sudah menghilang karena dia sudah berbelok ke arah lain.
Sakura menunduk dan menghembuskan napasnya. Cobaan apa lagi yang akan dia dapatkan hari ini? Sakura berjalan menuju kelas Sasuke dan Sai. Sakura menatap pintu kelas itu sambil memegang kenop pintu.
"Kami-sama, kumohon lindungi aku." Doa Sakura lalu membuka pintu kelas sambil melangkah masuk.
BYUUUURRR!
PLAK! PLAK! PLAK!
Sebuah serangan dahsyat menghantam Sakura dan Sakura gak sempat buat menghindarinya. Seember besar air yang diletakkan di atas pintu mengguyur Sakura disusul dengan serangan tiga buah penghapus papan tulis di muka Sakura. Doa Sakura hari ini tidak dikabulkan, poor you.
'Percuma aja tadi aku bawa payung, tapi aku basah kuyup karena ulah mereka sekarang.' Sakura membatin.
Sakura menggeram kesal sambil mengepalkan kedua tangannya dan menolehkan kepalanya menatap kesal kedua anak kembar sialan yang pastinya sengaja membuat serangan itu. Sai tetap tersenyum memandang Sakura, sedangkan Sasuke menatap Sakura dengan datar.
Sakura menggertakan giginya menatap sengit kedua cowok tersebut. 'Bahkan ekspresi mereka tetap begitu setelah menyiksaku? Benar-benar psikopat!' batin Sakura yang kepalanya sudah mendidih.
"Kalian!" kata Sakura masih di depan pintu.
"Kenapa?" tanya Sasuke dengan datar seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Sakura langsung melangkah masuk dan meletakkan tasnya di atas meja. Dia membalikkan badannya dan keluar dari kelas menuju kamar mandi, Sasuke ikut keluar dari kelas, Sai hanya terdiam di bangkunya sambil memerhatikan kedua orang itu pergi meninggalkan kelas.
Di kamar mandi Sakura mengelap badannya dengan handuk yang ada di dalam laci buffet. Dia menatap dirinya di cermin, badannya sudah basah kuyup. Rambutnya lepek, kacamatanya berair, kaos kakinya pun sampai basah. Sakura menunjuk dirinya sendiri di cermin.
"Kau, Haruno Sakura gak boleh kalah dengan si kembar sialan itu! Kau harus membalas mereka!" ucap Sakura dengan tegas.
Tanpa Sakura tahu, Sasuke sedang memasang kupingnya di daun pintu kamar mandi yang Sakura pakai. Setelah mendengar kata-kata Sakura, Sasuke menyeringai kemudian kembali menuju kelas lagi.
Sakura keluar dari kamar mandi dengan semangat empat lima sekarang. Ya, dia akan membalas perbuatan si kembar tapi beda. Sakura berjalan diiringi aura api yang membara, mata Sakura menyorot tajam seolah akan menerkam mangsanya.
"Kalian ingin bermain-main denganku, the stupid twins?" kata Sakura sambil menyeringai.
Sakura masuk ke dalam kelas, Sasuke dan Sai sedang duduk manis di bangku mereka masing-masing. Sakura tersenyum menyeramkan memandang kedua cowok kembar itu. Langkah Sakura berhenti di depan kelas dan dia menatap sinis kedua orang yang memiliki ekspresi khas yang kontras.
"Kita akan belajar tentang jenis teks apa saja yang ada di dalam bahasa inggris. Ada yang tau apa saja itu?" tanya Sakura berbasa-basi dengan keadaan badannya yang basah kuyup, sebenarnya sih dia kedinginan tapi dia sok cool gitu.
Sai menunjuk tangannya, Sakura melirik Sai. "Ada dua belas genre dalam teks bahasa inggris, yaitu procedure, recount, narrative, description, news item, report, analytical exposition, spoof, hortatory exposition, explanation, discussion, dan review," jawab Sai.
'Cih! Pintar juga dia,' decih Sakura dalam hati.
"That's true, Sai. Sekarang kita akan praktek membuat sebuah artikel menggunakan salah satu dari dua belas genre tersebut." Sakura berjalan menuju mejanya dan membuka tas untuk mengambil spidol.
Saat Sakura memasukkan tangannya ke dalam tas, dia memegang sebuah benda yang lunak-lunak, lalu Sakura mengeluarkan benda tersebut dari dalam tasnya.
"Gyaaaaa!" jerit Sakura saat mengambil benda yang ternyata ular-ularan plastik. Jantung Sakura hampir copot karena kaget.
Amarah Sakura sekarang sudah tak terelakkan lagi. Dengan kesal Sakura meremas spidol yang baru saja dia ambil dan menatap horror kedua muridnya. Sakura menunjuk kedua muridnya dengan spidol. Sasuke dan Sai bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Sakura selanjutnya.
"Kau!" Sakura menunjuk Sai dengan spidol, "dan kau!" Sakura mengarahkan spidolnya menunjuk Sasuke, "kalian kuberikan tugas untuk besok!" ucap Sakura dengan tegas.
"Apa? Jangan yang gampang kayak kemarin." Sasuke bicara datar sambil memutar bola matanya.
Sakura melotot pada Sasuke, tugas kemarin dibilang gampang! Oh my god, murid macam apa yang dia ajar? Jika mereka sudah pintar, untuk apa mereka mencari guru privat? Apa untuk menyalurkan hasrat psikopat mereka?
"Sorry, chickenbutt kalau tugas yang kemaren terlalu mudah untukmu. Tugas kali ini naik sedikit levelnya," Sakura memberi jeda sebentar, "buat satu buah contoh artikel procedure dan tuliskan social function, text organization, juga language features-nya."
"Bukankah itu jauh lebih mudah dari tugas kemaren, pinky? Kau ini bodoh atau apa?" tanya Sasuke dengan sarkastik.
Sakura terkekeh menyeramkan, menimbulkan aura yang horror di ruangan itu. "Procedure yang kalian buat haruslah tentang membuat makanan dan kalian juga harus mempraktekannya dengan membuat makanan tersebut."
"Kau menyuruh kami memasak, begitu?" tanya Sasuke dengan ketus.
"Hmm… gak juga, aku kan menyuruh kalian membuat procedure dan salah satu bentuk procedure itu adalah membuat sebuah masakan bukan?" Sasuke hendak membuka mulutnya lagi, tapi distop oleh Sakura, "tugasnya dikumpulkan besok saat jam makan siang di sekolah. Thanks, karena membuat pekerjaanku cukup sampai di sini. See you tomorrow, my students!" Sakura menggemblok tasnya dan berjalan dengan riang keluar dari kelas.
Sasuke memasang muka malas, dia kan gak bisa memasak, sekarang malah disuruh memasak. Sai menopang dagunya dengan kedua tangan, dia sedang memikirkan akan membuat makanan apa besok.
"Sasuke, kira-kira aku akan membuat apa ya untuk besok?" tanya Sai. Kemampuan Sai dalam memasak memang lebih baik dari pada Sasuke yang hanya bisa memasak air dan mie instan.
"Terserah kaulah," jawab Sasuke malas.
Sai menolehkan kepala memandang sang kembaran. "Sasuke, kau khawatir karena kau gak bisa masak ya?" tanya Sai ceplas ceplos.
"…" Sasuke gak jawab.
"Eh Sasuke?"
"Hn."
"Gak usah pusing-pusing kali, kau suruh chef di rumah ini untuk memasakkan makananmu saja. Kau bisa mencari resep makanan di internet atau di rak buku punya momy," saran Sai.
Sasuke seperti ngedapetin sebuah pencerahan. Dia menyeringai tapi gak lama kemudian seringaian mautnya luntur lagi.
"Aku mau masak sendiri aja. Kalau makanan yang dibuat chef besok dimakan oleh si forehead itu aku yang akan rugi," jawab Sasuke.
Sai mengangguk-angguk mengerti. "Ah… benar juga."
Sasuke sekarang bisa menyeringai dengan lebar. 'Kau pikir bisa mengerjaiku, forehead? Mimpi saja sana ke neraka!' inner Sasuke tertawa terbahak-bahak.
.
.
.
Sakura pulang sambil tertawa laknat. Dia membayangkan bagaimana mereka—Sasuke dan Sai—kerepotan dalam memasak. Saat Sakura sedang tertawa, tiba-tiba dia keingetan sesuatu terus dia mengerem sepedanya yang sedang melaju.
"Eh? Bukannya kalau di rumah orang kaya ada chef-nya ya?" tanya Sakura pada dirinya sendiri.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Mereka pasti menyuruh chef mereka. Bagaimana ini?" Sakura bicara sendiri seperi orang sarap, dia diliatin sama orang-orang yang lewat disekitarnya, tapi Sakura gak nyadar.
Orang-orang itu ngelihat anak perempuan memakai seragam sekolah terkenal tapi basah kuyup lagi ngomong sendiri. Mereka mengambil kesimpulan kalau sekolah itu sangat ketat dan cara mengajarnya sangat disiplin, buktinya anak perempuan berambut merah muda itu sampai stress begitu.
"Aha! Aku makan aja makanan mereka! lumayaaaan…" Sakura kembali mengayuh sepedanya dengan ceria, tapi hembusan angin membuatnya bergidik kedinginan.
.
.
Besoknya Sakura bangun dengan terhuyung-huyung. Kali ini Sakura gak telat bangun karena dia udah dibangunin oleh rasa pusing di kepalanya. Tadinya Sakura gak mau berangkat sekolah, tapi dia gak mau melewatkan moment-moment penting saat di mana dia membalas dendamnya pada duo kembar tampan tapi kurang ajar didikannya.
Setelah selesai bersiap-siap, Sakura langsung turun dari kamarnya dan menuju meja makan. Ayah dan ibunya kaget ngelihat Sakura yang tumben banget udah bangun tanpa teriakan super mega ultrasonic dari sang mimi tercinta.
Sakura langsung mengambil tempat duduk di depan sang ibu. Tsunade memerhatikan muka Sakura yang memerah, terus Tsunade meletakkan punggung telapak tangannya ke jidat lebar Sakura.
"Oh my gosh! Sakura-chan, kau demam!" teriaknya histeris sambil lari ke arah kulkas untuk mengambil beberapa es batu dan memasukkannya ke dalam bungkusan handuk.
Jiraiya bingung ngelihatin Tsunade yang heboh sendiri. Jiraiya pun meletakkan punggung telapak tangannya seperti yang dilakukan Tsunade tadi ke Sakura.
"Sakura honey, jidatmu panas sekali. Sepertinya kalau telur dimasak di atas jidatmu bakalan mateng deh," ucap Jiraiya innocent membuat Sakura dan Tsunade sweatdrop.
BLETAK!
Tsunade memukul kepala suaminya. "Baka! Anak semata wayang kita lagi sakit, kau malah bercanda begitu!" omel Tsunade.
Jiraiya meringis kesakitan memegangi kepalanya. Tsunade sedang mengompres jidat Sakura pake es yang dibungkus tadi. Sakura juga meringis kesakitan seperti ayahnya. Gimana enggak? Itu batu es kan keras banget dan dengan kuatnya Tsunade mengompres jidat Sakura, bisa-bisa jidat Sakura jadi melesep ke dalam.
"Tsunade-koi, kau membuat Sakura honey kesakitan tau! Tuh liat mukanya yang menyedihkan!" seru Jiraiya sambil menunjuk muka Sakura. Sakura hanya pasrah dikompres secara biadab oleh ibunya.
"Oh my god! I'm sorry, Sakura-chan," ucap Tsunade sambil memelankan kegiatan mengompresnya.
"Sakura honey, kamu gak usah masuk sekolah aja hari ini. Istirahat di rumah aja, ya?" kata Jiraiya sambil menggenggam tangan Sakura.
"Gak bisa, otou-san. Sakura harus sekolah karena ada ulangan fisika," jawab Sakura berbohong. Tsunade dan Jiraiya menaikkan sebelah alis mereka dengan kompak.
"Ulangan fisika? Kan kamu kelas IPS, Sakura-chan." Tsunade dan Jiraiya kompak bicara pada Sakura.
Dengan setengah sadar, Sakura pun nyadar kalau ucapannya tadi salah, bohongnya nanggung banget. "Maksud Sakura, ulangan akuntansi."
"Kau benar-benar demam, Sakura-chan. Kau aja sampe lupa kalau kau kelas IPS." Tsunade bicara dengan nada cemas.
Sakura tersenyum memandang ayah dan ibunya. "Aku gak apa-apa kok, otou-san, okaa-san. Sudah ah, nanti aku telat lagi. Aku berangkaaat!" seru Sakura setelah menyomot satu lembar roti tawar.
Tsunade dan Jiraiya menghembuskan napas mereka. Mereka khawatir akan terjadi sesuatu pada anaknya. Firasat orang tua biasanya jarang meleset, bukan?
.
.
.
Sakura sudah sampai di sekolahnya. Satpam yang ngelihat Sakura datang pagi pun mengucek-ngucek matanya, takut itu hanya halusinasinya saja. Tapi sosok Sakura nyata banget sehingga membuat satpam terpukau memandang kedatangan Sakura.
Sakura menyeringai ketika melihat satpam sekolah memandang takjub kehadirannya dengan mulut yang menganga lebar. 'Rasakan kau! Aku balas perbuatanmu kemarin!' batinnya.
Sakura berjalan menuju kelasnya. Sakura membuka pintu kelas dan sudah ada Ino di sana yang sedang membaca sebuah majalah.
Ino yang menyadari kehadiran seseorang mengalihkan perhatiannya dari majalah fashion yang sedang dia baca ke arah pintu kelas. Ino terkejut melihat Sakura yang biasanya telat, hari ini datang tidak telat.
"Sa-Sakura? Benarkah kau Sakura si tukang telat?" tanya Ino tidak percaya.
Sakura memutar bola matanya, sebal. "Ya, ini aku. Gak usah heran segitunya kali." Sakura mendudukkan dirinya di kursinya.
Ino memutar badannya ke arah meja Sakura. "Mimpi apa aku semalam sehingga kau bisa gak telat begini?" tanya Ino, "ah… apa sesuatu terjadi padamu, jidat?" Ino kelihatan penasaran sekali.
"Gak, pig! Sudahlah, lanjutkan kegiatanmu membaca!" dengus Sakura dan merebahkan kepalanya di atas meja.
"Kau yakin?" tanya Ino terdengar sedikit cemas.
"Hn," jawab Sakura sekenanya karena matanya mulai terpejam, mencoba mengurangi sakit kepala yang dirasakannya.
.
.
.
Bel istirahat kedua pun berbunyi. Sakura masih ingat dengan dendamnya. Dia langsung keluar dari kelas dan berjalan menyusuri lorong, berharap menemukan Sasuke dan Sai. Dan benar saja, dia menemukan Sai dan Sasuke yang membawa kotak makan dan buku tulis di tangan mereka masing-masing. Melihat dendamnya akan terlaksana, sakit yang Sakura rasakan mendadak hilang. Inikah dahsyatnya kekuatan dendam? Ckck…
"Wah… wah… wah… ternyata murid-muridku ini memang murid yang rajin, ya!" seru Sakura yang berdiri di depan Sasuke dan Sai.
Sasuke mendengus membuang mukanya, kesal. Sai menatap datar Sakura, ekspresi Sai kali ini terlihat berbeda. Sasuke dan Sai menyerahkan kotak makan dan buku mereka, namun Sakura menyetopnya dengan mengarahkan kelima jarinya di depan mereka. Kedua orang itu memandang Sakura dengan menaikkan sebelah alis mereka.
"Kita ke taman untuk menilai tugas kalian," kata Sakura sambil berjalan memimpin di depan.
Sekilas Sasuke melihat wajah Sakura yang memerah. Itu perasaannya saja atau bukan? Sakura sakitkah? Atau meronakah? Sasuke segera menepis pikirannya yang aneh itu.
Sai berjalan di belakang Sakura dengan ekspresi datar sambil terus memandang kotak makannya. Apa yang menarik dari kotak makan berwarna biru dengan gambar Spongebob tersebut?
Mereka bertiga sudah sampai di taman sekolah. Di sana banyak murid yang sedang bercanda, mengobrol atau pacaran. Taman sekolah serasa seperti taman kota saja kalau begini.
Sakura memandang kedua muridnya dan kotak makan yang mereka bawa. Sakura menaikkan sebelah alisnya melihat gambar kotak makan mereka. Kotak makan Sai bergambar Spongebob sedangkan kotak makan Sasuke bergambar Patrick.
Mengerti arti tatapan Sakura, Sasuke membuka mulutnya agar Sakura gak mikir yang macam-macam. "Ini Itachi-nii yang menyuruh kami memakai kotak makan ini!"
Mendengar jawaban Sasuke, Sakura malah tertawa sampai matanya menyipit. "Hahaha… kalian seperti anak kecil saja!" Sasuke dan Sai terpesona melihat Sakura yang tertawa. Satu kata yang ada di otak mereka, 'manis'.
Merasa terus diperhatikan, Sakura berdehem membuat Sasuke dan Sai tersadar dari keterpesonaan mereka terhadap Sakura. Sontak wajah keduanya mengeluarkan garis-garis merah.
"Gak usah terpesona sampai segitunya kali," ucap Sakura bernarsis ria.
"Siapa yang terpesona dengan gadis jelek sepertimu?" tanya Sai dengan innocent membuat Sakura kesal.
"Kau! Kemarikan kotak makanmu!" Sakura mengambil kotak makan Sai dengan kesal dan membukanya.
Doeeeeng!
'Apaan nih?' batin Sakura melihat omelet berwarna hitam pekat. Selera nafsu Sakura langsung hilang seketika.
Sakura melihat Sai yang memandang kotak makannya dengan tatapan datar. Tumben-tumbennya si Sai gak senyum palsu seperti biasanya.
"Kenapa omelet ini jadi berwarna hitam begini?" tanya Sakura.
Sai tetap memandang omelet itu dengan datar dan menjawab, "Tadinya aku mau membuat eksperimen dengan menambahkan rasa blueberry, eh aku malah memasukkan kecap yang terlalu banyak sehingga eksperimenku menjadi seperti itu."
"What?" seru Sakura. 'Pasti rasanya gak enak.' Sakura meletakkan kembali kotak makan Sai di meja yang ada di depannya. Sai menatap kotak makannya dengan datar, rupanya dia merasa sedih karena membuat resep eksperimennya gagal.
Sakura melirik kotak makan Sasuke. 'Sepertinya makanan chicken butt lebih baik dari Sai.'
"Lalu kau buat apa, chickenbutt?" tanya Sakura pada Sasuke.
"Jangan memanggilku begitu, forehead!" sahut Sasuke ketus sambil menyerahkan kotak makannya, "aku buat tempura."
Air liur Sakura langsung berkumpul ketika mendengar Sasuke membuat tempura. Sakura membuka kotak makan Sasuke dan matanya berbinar-binar melihat kesempurnaan dari tempura yang Sasuke buat.
"Ternyata kau pintar memasak, chickenbutt?" puji Sakura. Sasuke memasang muka datar padahal hatinya senang minta ampun.
Sakura mengambil tempura Sasuke dengan sumpit dan hendak memakannya. Tapi dia melihat perubahan ekspresi Sasuke yang terlihat menyeringai. Sakura meletakkan kembali tempura ke dalam kotak makan Sasuke, membuat Sasuke terlihat sedikit kecewa.
Sakura mengerti mengapa Sasuke seperti itu, pasti dia mempunyai niat licik pada Sakura. Sakura melihat-lihat daerah sekitar taman itu, lalu dia melihat Naruto dan Lee yang sedang bermain kartu. Sakura memanggil Naruto dan Lee agar datang ke tempatnya.
"Ada apa Sakura-chan?" tanya Naruto dan Lee bersamaan.
"Sasuke dan Sai membuat makanan untuk kalian dan mereka dengan senang hati akan menyuapi kalian." Kata-kata Sakura tadi sontak membuat Sasuke dan Sai membulatkan matanya. Menyuapi kedua orang yang super lebay ini? Tidak, tidak. Nama Uchiha akan runtuh seketika.
"Wah! Benarkah? Kalau begitu aku mau sama teme saja!" seru Naruto dan langsung duduk di samping Sasuke.
"Kalau begitu, aku sama Sai. Yosh!" seru Lee dan mengambil tempat duduk di samping Sai. Sementara Sakura duduk bersebrangan dengan keempat orang itu.
'Rasakan! Mau mengerjaiku, eh?' batin Sakura sambil tertawa laknat.
"Tunggu apa lagi? Cepat suapi Naruto dan Lee!" perintah Sakura pada Sasuke dan Sai. Sasuke dan Sai hendak pergi, tapi tangan mereka di tahan oleh Naruto dan Lee yang duduk di samping mereka.
"Ayolah, teme! Kau kan jarang banget membuatkanku makanan dan menyuapiku!" rengek Naruto dengan suara toa sampai membuat murid-murid di sekitar mereka menengok.
'Sial! Naruto dan Sakura, kalian benar-benar menyebalkan!' rutuk Sasuke dalam hati.
"Sai! Aku mengerti perasaanmu. Dengan semangat muda yang membara di dalam jiwamu, kau membuatkanku makan siang! Aku yakin makan siangmu pasti lezat sekali!" seru Lee sambil mengacungkan jempolnya dan kali ini perhatian murid-murid mengarah pada Sai dan Lee.
'Aduh, sial! Si jelek benar-benar mengerjaiku!' batin Sai kesal.
Dengan terpaksa Sasuke dan Sai membuka kotak makan mereka. Lee dan Naruto terkejut melihat isi kotak makan tersebut.
"Wow! Tempura yang sangat sempurna! Pasti enak!" seru Naruto.
"Apa itu? Kenapa warnanya menyeramkan begitu? Tapi aku yakin rasanya pasti menggelegar seperti semangat mudamu, Sai!" seru Lee.
Sasuke dan Sai menyeringai bersamaan. 'Ya, rasanya SANGAT lezat.' Batin mereka bersamaan, kemudian mereka menyuapi Naruto dan Lee.
Dalam gerakan lambat Sasuke dan Sai menyuapi Naruto dan Lee, Sakura megatupkan kedua telapak tangannya sambil memandang Naruto dan Lee. 'Terima kasih, Naruto, Lee. Kalian sudah menyelamatkanku.'
Tempura dan omelet sudah masuk ke dalam mulut Naruto dan Lee. Mereka mengunyah makanan tersebut, dan sepuluh detik kemudian muka mereka berubah menjadi pucat. Naruto dan Lee memegang perut mereka lalu mereka berdua lari terbirit-birit menuju toilet.
"Gyaaaa! Awas! Kami mau ke toilet!" seru Naruto dan Lee sambil mendorong murid-murid yang menghalangi jalan mereka menuju toilet.
"Ckck… kalian kuberikan nilai d-!" kata Sakura sambil menulis di buku tulis Sasuke dan Sai, kemudian dia pergi setelah memberikan buku tulis tersebut pada sang pemilik.
"Sepertinya aku salah memasukkan bahan tadi," kata Sai sambil memegang dagunya, pose berpikir.
Sasuke menyeringai sambil memandang Sakura yang berjalan, 'Kau sangat menarik, pink.'
.
.
.
Tanpa terasa bel pulang sudah berbunyi, sekarang waktunya Sakura pergi mengajar ke kedua murid psikopatnya. Hari-hari Sakura selama mengajar kedua anak tersebut terasa sangat berat. Setiap hari ada saja kesialan yang dia dapat. Sampai kapan hidupnya seperti ini?
Sakura mengayuh sepedanya dengan lemas. Dia merasakan pusing lagi sekarang, tapi mau pulang pun tidak bisa, dia mempunyai kewajiban untuk mengajar.
Setelah Sakura memarkirkan sepedanya di halaman rumah Uchiha, Sakura langsung menuju kelas. Sampai di depan kelas, Sakura memandang pintu kelas dan menaikkan sebelah sudut bibirnya.
"Aku gak akan jatuh ke lubang yang sama, Sasuke," gumamnya.
Sakura memutar kenop pintu dan mendorong daun pintu dengan kakinya. Terlihat olehnya air yang mengguyur dari atas pintu dan penghapus terbang. Sakura langsung menunduk sehingga penghapus-penghapus tersebut gak menampar mukanya lagi.
"Fufufu…" tawa Sakura dan masuk ke dalam kelas dengan santainya. Namun kakinya merasa licin, ternyata air yang ada di dalam ember tadi adalah air sabun. Sakura terpeleset dan terjatuh. Kacamatanya terlepas dan frame-nya patah karena tertindih olehnya, kepala Sakura yang pusing makin tambah pusing. Akhirnya Sakura pingsan.
Sasuke dan Sai tetap duduk manis di bangku mereka masing-masing. Setelah beberapa menit mereka duduk dan memerhatikan Sakura, mereka pun jadi saling pandang dan dengan hitungan kurang dari lima detik, mereka langsung berlari mendekati Sakura yang tengkurap di atas lantai.
"Sensei!"
"Sakura!"
To Be Continue…
Mian hamnida (maaf) saya telat update. Untuk ngetik fict ini butuh jiwa yang sangat tenang dan jiwa humor yang tinggi. *padahal fictnya garing bgt. Maaf ya kalau chapter ini mengecewakan *nunduk pasrah*
Kamsa hamnida buat yang udah review. Saya bales review gak login dibawah ini:
Hikari Shinju: mianhae (maaf) Hikari-ssi, saya update ngareeeeet banget, ya? Iya, saya pengen bikin fict yang nyantai aja. Gomawo reviewnya ^o^
Matsumoto Rika: Kamsa hamnida, kamsa hamnida (terima kasih) atas pujiannya. Saya senang banget baca reviewmu. Maaf ya updatenya lama -.-'
Vvvv: kita liat aja nanti, ya *kedip-kedip* makasih reviewnya yaaa… *hug *ditendang vvvv karena seenaknya meluk-meluk.
ss cholich, princess 2, laluna, misaci, mikan: gomapseumnida (terima kasih) reviewnya ya. Maaf gak bisa update cepet -.-'
Ms. Phantomhive: Iya saya ngerti kok maksud kamu. Tapi maaf sebelumnya, saya udah ngasih warning *nunjuk-nunjuk warning di atas. Tapi, terima kasih untuk kritikannya, sangat membangun ^_^
Vvvv: oke, sip deh! Saya juga udah kepikiran itu *gawat ngasih tau spoiler*
mayu akira: ini dia lanjutannya, makasih ya reviewnya ^o^
kamsa hamnida, Thia Shirayuki, Richi Hasegawa, 4ntk4-ch4n, Uchiha Eky-chan, Vesavillius Vanilla, Violet7orange, Red Flower Iki-chan. Udah saya bales lewat PM ^_^
Review again? Kamsa hamnida! ^O^
