~Between Us~

..An Alternate Universe Fanfiction..

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Shim Changmin

Warn : Typo's, YAOI, OOC, Don't Like? Don't Read! And No bash Caracter!

Pair : Check out yourself!

Chapter 4 of ?

...

..

.

.

.

Perlahan demi perlahan, Changmin mulai membuka dirinya dan tanpa sadar membiarkan keempat sahabatnya memasuki hati dan pikirannya.

Jaejoong tentu merasa bangga akan dirinya, karena menganggap Changmin pertama kali tersenyum karenanya. Hingga sejak saat itu, Jaejoong tak pernah berhenti mengunjungi dan menemani Changmin.

Jika dianalogikan, Jaejoong sudah seperti double-sided tape yang menempel pada dua bagian. Satu pada Changmin, dan satu lagi tentu pada Yunho. Namun Jaejoong membagi waktunya dengan sangat baik hingga tidak mempertemukan keduanya bersamaan.

Mungkin, Jaejoong tak mau Yunho-nya teralihkan darinya jika bersama Changmin..

"Ah! Sudah sore.. Aku harus menjemput Changmin!" Jaejoong bergegas merapikan buku-buku PR-nya saat mendapati langit senja mulai terlihat di balik jendela kamar Yunho.

"Biar kutemani.." tawar Yunho

"Tidak tidak! Biar aku sendiri saja! Kan biasanya aku yang menjemput Changmin!" tolak Jaejoong dengan halus.

"Tapi di taman juga ada Yoochun dan Junsu, jadi biar sekalian aku main bola dengan mereka"

Dan kali ini Jaejoong tak bisa mengelak lagi. Mau tak mau Jaejoong membiarkan Yunho ikut pergi ke taman kota.

Dan ia tidak buta untuk menangkap gelagat ceria Yunho yang begitu bersemangat untuk ikut ke taman. Jaejoong tahu pasti maksud Yunho ikut ke taman itu tidak sepenuhnya untuk bermain bersama Yoochun dan Junsu. Tapi juga karena ada satu sosok lagi di sana, yang begitu ingin ia jumpai.

"Kita bawakan minum ya untuk mereka? Sebentar, aku akan panggil bibi Shin dulu untuk menyiapkannya" Yunho bergegas keluar dari kamarnya untuk meminta asisten rumah tangganya membekalkan minum untuk teman-temannya. Sebab, sepulang sekolah tadi Junsu mengatakan kalau ia ingin bermain bola di taman itu bersama Yoochun. Sebenarnya Yunho ingin ikut bermain, tapi ia harus mengerjakan pekerjaan rumahnya bersama Jaejoong. Dan jangan tanya kenapa Yoochun tidak ikut mengerjakan bersama. Tentu saja itu karena Yoochun memilih bermain di taman agar tetap memperhatikan Changmin dalam jangkauannya.

Dan tentang Changmin?

Ia memang selalu punya waktu spesial.

Jika dulu ia selalu berdiri mematung di sudut taman yang menghadap jalan raya, kini kegiatannya itu beralih menjadi bermain baling-baling.

Terima kasih pada baling-baling itu..

Terima kasih pada yang memberikannya juga..

Karena setidaknya wajah polosnya kini tidak lagi terlihat kosong dan hambar. Walau ia tak beranjak dari duduknya, wajahnya selalu berseri menatap baling-baling yang terbang di angkasa.

"Ini.."

Changmin mendongakkan wajahnya ketika seseorang mengembalikan baling-balingnya yang sudah terjatuh ke tanah. Dan ternyata orang itu adalah orang yang sama dengan yang menghadiahkan baling-baling kesukaan Changmin.

Terima kasih..

Changmin mengambil baling-baling itu sambil tersenyum kaku.

'Aku senang melihatmu tersenyum..'

"Changminnie!" pekik Jaejoong girang sambil duduk di samping Changmin dan segera memeluknya dengan erat.

Setelah memandang haru sambil tersenyum lembut ke arah Jaejoong dan Changmin, Yunho baru teringat tujuan utamanya ke taman itu.

"Yoochun-ah, Junsu-yah! Aku ingin ikut bermain!" Yunho langsung berlari menyusul Yoochun dan Junsu yang sedang berebut bola.

Jangan pikir mereka berlima bisa hidup berbahagia hanya dengan kebersamaan mereka saat ini. Karena ini masih awal dari kisah perjalanan hidup mereka. Setidaknya, dimulai dari hari itu..

.

..

...

"Eomma.. Appa.. Kami pulaaaang" seru Yoochun saat memasuki rumah besarnya sambil menggandeng Changmin di belakangnya.

Plak! Plak!

"Andwaee.. hiks..hiks.. Geumanhae!"

"Aku akan membawa pergi Yoochun!

"Andwaee! Hikss.. Aku mohon.. Jangan bawa dia pergi!"

Sungguh hal yang tak terduga terjadi di kediaman keluarga Park senja itu.

Yoochun kecil mematung tak percaya pada apa yang dilihat matanya saat ini. Matanya kini terasa panas akibat percampuran antara rasa amarah sekaligus sedih. Ia terlalu shock dengan apa yang dilihatnya di ruang tengah kediaman itu. Hingga tak memperhatikan sesosok mungil di belakang tubuhnya kini mulai berguncang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.

"Yoochun-ah!" Tuan Park yang melihat kedatangan anaknya segera menghampiri Yoochun dengan langkah kakinya yang tersendat oleh pegangan kuat Ny. Park.

"Andwaee! Jangan bawa Yoochun pergi!" Ny. Park masih setia menangis berlutut di lantai sambil memegangi kaki Tuan Park.

"Minggir!" Tuan Park segera menghempaskan tubuh istrinya dan menggenggam tangan Yoochun

"Ayo kita pergi!" Tuan Park menyeret Yoochun yang masih tak mengerti akan apa yang terjadi. Atau apa yang harus ia lakukan.

"Park Yoochun!" bentak sang Appa pada Yoochun yang memilih bergeming dengan tangan satunya lagi mengeratkan genggamannya pada tangan Changmin.

"Ikut Appa!" Tuan Park menyeret Yoochun dengan paksa hingga genggamannya pada tangan Changmin juga terpaksa terlepas.

"Andwaee! Aku tidak mau ikut Appa! Hikss hikss.." Yoochun berusaha melepaskan tangannya yang dicengkeram dengan erat oleh sang Appa.

"hiks.. hikss.. huaaaaa.. Changmin!"

Tangan Yoochun berusaha menggapai Changmin yang kini mematung dengan tatapan matanya yang perlahan demi perlahan kembali memutih.

"H-hy—"

Yoochun sontak melebarkan matanya melihat Changmin yang kini jatuh berlutut di lantai marmer rumah itu.

"—hyung.."

Blam!

Sebelum akhirnya pintu besar rumah itu tertutup rapat di depan mata Yoochun yang berurai air mata.

"CHANGMIIIIIIN!"

Yoochun semakin berteriak histeris saat Appa-nya membawa paksa dirinya keluar halaman dan memasuki mobil. Kepalan tangan kecilnya berkali-kali ia pukulkan pada tubuh sang Appa untuk melepaskan dirinya.

Setelah hampir dua tahun Changmin bungkam tak bersuara, satu kata kini berhasil terucap dari bibirnya. Satu kata yang membuat Yoochun merasa tersayat hatinya.

Satu kata yang ditujukan untuk Yoochun.

"Berhenti menangis! Untuk apa kau menangisinya?! Dia bukan adikmu! Dia bukan siapa-siapa kita!"

Yoochun tak perduli seberapa banyak caci maki, omelan, serta pukulan yang diterima dari ayahnya. Ia tetap menangis tersedu sambil melihat ke belakang mobilnya melalui jendela.

Ia tak ingin meninggalkan Changmin. Ia ingin selalu menjaga Changmin. Dan ia ingin selalu ada untuk Changmin..

'Aku mohon.. Tolong jaga Changmin untukku, Joongie hyung..'

Jaejoong memang berdiri di sana. Kembali menjadi saksi kelamnya kehidupan Changmin. Menatap nanar kepergian Yoochun. Dan menatap pilu pada pintu rumah Yoochun yang tertutup.

Karena Jaejoong tahu, di balik pintu itu seseorang kembali terluka..

.

..

...

"Bagaimana Changminnie, Ahjumma?" tanya Jaejoong khawatir saat melihat Ny. Park keluar dari kamar Changmin.

Membuat Ny. Park tersenyum miris sambil membawa Jaejoong duduk di sofa di ruang tengah.

"Mau berjanji pada Ahjumma?" tanya Ny. Park dengan lembut.

"Janji apa?" tanya Jaejoong penasaran

"Berjanjilah untuk tidak akan pernah meninggalkan Changmin.." mohon Ny. Park sambil menggenggam tangan mungil Jaejoong.

Dan Jaejoong mengerti sekali arti ucapan wanita dewasa di hadapannya ini.

Changmin yang ditinggalkan orang tuanya, kini harus ditinggalkan kembali oleh orang yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.

"Tanpa Ahjumma minta, Joongie memang sudah berjanji pada diri Joongie sendiri. Joongie tidak akan meninggalkan Changmin!"

Grep!

Ny. Park yang terharu akan ucapan polos Jaejoong segera menarik Jaejoong dalam pelukannya.

"Terima kasih, Joongie.." Ny. Park kini menangis sambil memeluk Jaejoong.

"Memangnya Yoochun pergi kemana, Ahjumma? Kapan ia akan pulang?" tanya Jaejoong dengan polos setelah Ny. Park melepaskan pelukannya.

"Ke Amerika.. Dan ia tidak akan pulang.."

.

..

...

10 YEARS LATER

.

..

...

"YA! Kenapa terus mengikutiku?!"

"Ayolah Changminnie~ Jangan begitu!" Junsu mengekor sambil merajuk manja pada Changmin yang kini lebih tinggi dua inchi darinya itu.

"Ish! Mengganggu!" ucap Changmin sambil mendudukkan dirinya di meja yang terletak di sudut kantin. Tak lupa meletakkan beberapa makanan yang menjadi menu makan siangnya saat itu.

"Memangnya kau mau makan sendirian? Kalau aku sih tidak mau!" ucap Junsu yang dengan santainya duduk di hadapan Changmin yang memberikan death glare manisnya pada Junsu.

"Aku lebih suka sendiri" gumam Changmin sambil memulai acara makan siangnya.

"Changminniiiiiie~!" terdengar teriakan bernada tinggi dari arah luar kantin.

Membuat Junsu memutar bola matanya jengah dan Changmin memilih tak perduli dengan tetap melahap makanannya.

"Hyung! Bisa tidak berikan aku waktu untuk kencan dengan Changmin, sekali iniiii saja?" protes Junsu yang kesal melihat kedatangan Jaejoong dengan Yunho yang mengekor di belakang Jaejoong.

Plak!

"Berani kau mengencaninya, kupotong habis punyamu!" ancam Jaejoong setelah memukul kepala Junsu.

Junsu dan Yunho yang mendengar ancaman Jaejoong segera menutup area pribadi mereka dengan kedua tangan sambil menatap horor Jaejoong.

'Bagaimana kalau Joongie tahu, aku yang mengencaninya..'

.

.

.

.

.

TBC

...

..

.

Naah kaaan, aku tetep lanjut ffnya.. Ada yang masih mau tau kelanjutannya?

Terima kasih untuk reviewer di chapter 3 kemarin:

Rashae, kame chan, Guest, Love min, PedoYun, hoshino aya, GaemGyu92, Lovy, banzaianime80, ajib4ff, Homin lover, sayakanoicinoe, shin min hyo, chamiko, ia tania, zarah, yunlicha *smooch* Love you All!

For PedoYun, I really thanks for your appreciation of my fanfics. It's okay, you can PM anytime if you want :) Untuk zarah, setuju deh sama kamooh! Sepertinya kamu teliti sekali bacanya ^.^ Dan untuk raisa dan mungkin yg lain, aku sendiri gak tau ini chapternya sampai berapa. Tapi yang pasti sampai END! Yosh! Doakan saja :))

Keep reading!