Permohonan Maaf
Saya terkejut saat membaca reviews pada chapter sebelumnya, yang mengatakan tidak adanya pembatas di chapter itu. Setelah saya periksa, ternyata memang nggak ada… DX
Sepertinya ini memang salah saya. Gomennasai! Saya ternyata memang author ceroboh yang lupa mengedit cerita sebelum mempublikasikannya. Semoga chapter-chapter selanjutnya tidak membuat kecewa para readers. Sekali lagi mohon maaf *bungkukkan badan*
NB : Naruto isn't mine
TWINS!
All of characters on this fiction belong to Masashi Kishimoto
Warning : Mengandung imajinasi author yang sepertinya gila(?)
dan Perubahan sifat asli karakter
Read and Reviews, please!
Sakura P.O.V
"Ekhh?! A-apa yang sedang kalian lakukan?" kalimat itu langsung saja meluncur dari mulutku. Sungguh, aku tidak bermaksud merusak moment-moment terindah mereka. Tapi apa yang akan kau ucapkan ketika melihat kembaranmu berciuman mesra dengan kekasihnya di depan matamu?
"Eh? Ng.. Saku-chan? Mmm… begini…" jelas sekali terlihat kegelisahan dan rasa malu di wajah saudariku itu. Aku mendesah pelan, tidak sanggup untuk berkata-kata kasar padanya.
"Ino… Bukankah tadi kau bilang mau ke rumah Shikamaru untuk tugas kelompok kalian? Kenapa malah bermesraan dengan Sasuke disini?"
Astaga… Aku benar-benar tidak menyangka dia berbohong padaku, kembarannya sendiri.
"Ah… iya, aku lupa. Eh, tidak. Maksudku… tadi aku memang ingin kesana, tapi tentu saja setelah pulang dari sini. Mmm.. sebaiknya aku segera pergi ke tempat Shikamaru saja. Sampai jumpa, Sasu-kun… Bye Sakura." Blam!
Hening.
"Jadi..?" Tanpa sadar suaraku memecah keheningan ini. Hey, tidak biasanya aku yang memulai percakapan duluan. Tapi ya sudahlah.
"Apanya?"
"Jadi apa kau menikmati ciuman tadi, Sasuke?" tanyaku tajam, aku tidak menyangka pertanyaan ini bisa membuat pemuda disampingku menolehkan kepalanya. Sekilas sepertinya tadi aku melihat ada ekspresi kemarahan di wajahnya, tapi ntah kenapa ekspresi itu tiba-tiba hilang.
"Ya tentu saja." Jujur, aku benar-benar kaget dibuat jawabannya. Dia pikir dia siapa? Dia seakan-akan berkata bahwa ciuman Ino itu adalah kewajiban Ino. Atau itu memang kewajiban dalam sebuah hubungan? Arrghh.. Ada apa denganku? Kenapa akhir-akhir ini aku terus memikirkan hal yang namanya 'pacaran'? Hufftt… Tenang sakura… fokuskan dirimu…
"Hei, siapa yang menyuruhmu masuk ke ruangan ini?" Seketika sugesti-sugesti yang aku ucapkan tadi hilang dari pikiranku karena suara baritone-nya.
"Pelayanmu. Tadi dia mempersilahkanku untuk langsung kesini ketika aku bilang ingin mengerjakan tugas kelompok bersamamu."
Hening.
Sepertinya keheningan ini mulai mengusikku. Kenapa dia tidak memulai tugas kami? Dimana ular Orochimau yang disimpan olehnya?
Kembali lagi tanpa sadar, aku berdeham.
"Tidak bisakah kita memulai tugas ini? Aku mulai merasa risih jika terlalu lama ditempat ini."
Jujur, sebenarnya aku tidak bermaksud selalu mengucapkan kata-kata sinis padanya. Ini seperti bukan diriku. Biasanya aku tidak begini ketika berbicara dengan yang lainnya. Ah, sudahlah…
Sasuke P.O.V
Gadis ini benar-benar menyebebalkan. Sama sekali tidak ada manis-manisnya seperti Ino. Untung saja dia perempuan, jika tidak, maka… maka.. aku akan… ah, sudahlah Sasuke…Lupakan... Ayo fokus, lanjutkan pekerjaanmu…
Kubuca kembali buku panduan yang ada dipangkuanku. Berusaha fokus, walaupun sulit. Ternyata hanya berada didekat gadis ini saja sudah membuatku geram. Aku menghela nafas, berusaha membuang segala kepenatan yang sudah dibuat oleh ucapan-ucapan menusuk gadis ini. Aku sedikit terkejut ketika dia tiba-tiba menoleh padaku. Tapi tentu saja, ekspresi kebanggaanku (baca : ekspresi datar) tetap terpampang jelas diwajah saat aku membalas tatapannya.
"Kenapa kau menghela nafas seperti itu?"tanyanya. Aku malas untuk menjawab pertanyaan bodoh seperti ini. Aku menghela nafas juga tidak merugikannya, bukan? Jadi aku memilih kembali membaca buku panduan itu daripada merespon pertanyaannya.
"Kau tidak bisa berbicara ya?" baiklah, sepertinya dia mulai memancing emosiku –lagi- yang saat itu memang sudah berada diambang batas.
"Bisu." Hei, apa-apaan ucapannya itu?! Sama sekali tidak sopan!
"Diam!" kataku tanpa mengalihkan pandangan dari buku panduan itu. Aku baru sadar bahwa suaraku tadi terlalu mengerikan untuk seorang perempuan ketika melihat jelas ke mata Sakura. Disana. Dimata hijau itu, terlihat jelas ketakutan yang luar biasa. Aku merasa bersalah, tapi tidak bisa meminta maaf. Jujur saja, aku memang seperti itu jika ada orang yang menghinaku.
Tiba-tiba saja dia bangkit dari duduknya. Memandang tajam kearahku sebentar, lalu pergi keluar dari ruangan ini membawa semua buku dan tas yang tadi dia bawa ketika datang. Sebagian dari diriku berkata bahwa aku harus mengejarnya lalu meminta maaf. Sedangkan sebagian lagi berkata sebaliknya. Sepertinya pilihan yang pertama tadi sama sekali tidak mencerminkan diriku. Jadi pilihan kedualah yang aku ikuti, membiarkan gadis itu.
Normal P.O.V
Sakura keluar dari rumah mewah itu dengan berurai air mata. Tapi tunggu. Ini bukanlah air mata kesedihan atau kekecewaan terhadap teriakan Sasuke tadi. Air mata ini keluar karena rasa takut yang luar biasa.
Sakura bersandar pada tembok luar rumah mewah Sasuke. Tubuhnya berguncang hebat. Dia menangis, tapi suara isakannya tidak terdengar sama sekali. Teriakan Sasuke tadi membuatnya menciut. Ketakutan dan menangis. Dua hal yang selalu terjadi ketika seseorang berteriak mengerikan kepadanya. Tubuhnya kini mulai merosot, kedua telapak tangannya menutupi wajah. Dia membiarkan pikirannya melayang jauh kembali ke masa-masa kelamnya.
Flashback On
Prang! suara pecahan benda kaca membuat Sakura terbangun dari tidurnya. Saat itu sudah tengah malam, tapi suara benda yang berpecahan terus terdengar di rumah Sakura.
Sakura yang saat itu masih berumur 9 tahun sudah terbiasa melihat kebiasaan ayahnya yang selalu mabuk-mabukan dan pulang larut. Tapi kali ini berbeda. Dia mengintip dari celah lubang kunci pintu kamarnya. Pemandangan mengerikan itu membuatnya histeris ketakutan. Dia melihat ibunya berlumuran darah dan tergelatak tak bergerak dilantai. Sedangkan tou-san nya masih terus memukuli tubuh tak berdaya itu dengan vas bunga sambil berteriak.
"Mati kau!" kalimat yang diucapkan ayahnya itu membuat dia mudur dari pintu dengan mata yang membulat. Sedetik kemudian, Sakura berteriak. "Kyaaaaaa…!"
Sang ayah mendengar teriakan putrinya itu. Kemudian dia dengan langkah cepat, dia menghampiri pintu kamar putrinya dan langsung membukanya.
"Sakura…"katanya lembut.
Sakura yang sudah berada diatas ranjang mengigil memeluk tubuh dan kakinya yang ditekuk dengan kedua tangan. Jujur, dulu dia pernah menyukai saat ayahnya memanggil namanya dengan lembut. Tapi sekarang, setelah melihat kejadian mengerikan itu. Dia sangat jijik ketika sang ayah mengucapkannya. Jijik dan takut.
"Jangan mendekat!" ucap Sakura garang, tapi masih dengan tubuh yang gemetar.
"Tidak apa-apa sayang. Ayah tidak akan menyakitimu juga Ino." kata ayahnya, kemudian dia menunjukkan seriangaian yang mengerikan. Mendengar nama Ino, dia jadi menyesal karena tidak menuruti perintah Ibunya untuk tinggal bersama nenek Chio dan Ino, kembarannya. Jika tahu begini jadinya, tentu saja dia akan pergi ke Desa Suna daripada harus melihat bajingan ini membunuh Ibunya dengan keji.
"Kau pembunuh! Kau membunuh Ibuku! Kau membunuhnya dasar bangsat!" Sakura kaget. Bagaimana dia bisa mengucapkan hal-hal mengerikan itu? Padahal dulu Ibunya berkata bahwa dia dan Ino tidak boleh berbicara seperti itu.
"Diammm!" teriakan itu datang bersamaan dengan tamparan keras dari ayahnya. Sakura kembali menjerit hebat. Rasa perih kini mulai menjalar di pipi kanannya. Saat itu dia tidak tahu lagi harus bagaimana.
Dia melihat sang ayah keluar dari kamarnya. Selama beberapa saat dia merasa lega. Dia bergegas melihat ke luar melalui jendela kamarnya yang menghadap ke jalanan. Berusaha meminta tolong dengan siapa pun yang melewati rumahnya. Tapi sepi. Tidak ada orang disana.
Sakura langsung mempertajam penglihatannya ketika melihat seseorang di seberang jalan. Dia langsung melambai-lambaikan kedua tangannya berharap orang itu menyadarinya, dan berjalan mendekat ke arah rumah Sakura. Sepertinya Tuhan berpihak padanya. Orang itu berjalan ke arah rumah Sakura dan berhenti tepat didepan pagar. Sakura merasa lega karna ternyata orang itu adalah seorang polisi yang sedang patroli malam.
Saat dia ingin menyuarakan suaranya, tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki dari belakang. Sakura berbalik dan mendapati ayahnya yang kini kembali dengan membawa vas yang tadi ia gunakan memukuli Ibunya.
"Tidak… ayah… Jangan lakukan itu. Jangan!" Sakura histeris
"Hahaha, kau bilang jangan? Kau tahu, nak. Setelah Ibumu… berikutnya adalah kau. Sepertinya kau kurang beruntung, tidak seperti saudaramu Ino. Kenapa dulu kau tidak menuruti perkataan Ibumu untuk pergi bersama Ino ke Desa Suna? Haha, sangat disayangkan. Karna kau akan berakhir malam ini. Hei nak, sepertinya membunuh ini sudah menjadi hobiku, nak. Ibumu bukanlah yang pertama, kau tahu." ucap sang ayah seraya -kalimat yang dia ucapkan terdengar sangat jelas bahwa dia sudah tidak waras.
Dia masih terus saja berbicara tanpa menyadari bahwa orang yang berada didepan pagar rumahnya kini sudah masuk mengendap-endap ke dalam. Sakura terpojok. Kini ayahnya sudah berada dihadapannya dan berancang-ancang untuk mengayunkan benda itu ke kepala Sakura.
Sakura berdoa dalam hati. Semoga dia selamat. Seandainya saja tadi dia sempat meminta pertolongan pada polisi itu, dia yakin saat ini ayahnya sudah ditahan. Vas itu mulai mengayun, Sakura memejamkan matanya bersiap menerima rasa sakit.
Dor! Dor! Dor! Tiba-tiba saja terdengar suara tembakan bertubi-tubi. Dengan perlahan Sakura membuka matanya, dan melihat ayahnya tumbang kebelakang dengan tiga lubang di dada sebelah kiri. Dia langsung melihat ke arah pintu dan sosok yang tadi dia harapkan datang, kini muncul masih dengan posisi tangan terjulur kedepan memegang pistol. Sakura yakin, polisi itu yang sudah menyelamtkannya dan menembak pria gila ini. Setelah itu Sakura tidak melihat apa-apa lagi saat sang polisi mendekat. Semua buram dan perlahan menghitam.
Flashback Off
Saat Sakura sudah merasa tenang, dia perlahan berdiri dan menghapus air matanya. Lalu berjalan ke arah gerbang, tanpa menyadari sesosok orang yang mengawasinya dari tadi dari jendela dengan perasaan bersalah.
Melihat tubuh Sakura yang berguncang hebat, Sasuke jadi yakin bahwa gadis itu memang ketakutan hingga menangis hebat seperti itu. Perasaan bersalah menyerangnya. Setelah melihat kepergian Sakura, Sasuke memantapkan hatinya untuk meminta maaf. Biar bagaimanapun juga dia adalah seorang Uchiha sejati. Ya, besok aku akan meminta maaf ke rumahnya.batin Sasuke. Sedetik kemudian dia tersadar bahwa dia tidak tahu dimana rumah Sakura. Sasuke lalu mengambil handphonenya yang tergeletak dimeja dan menekan beberapa tombol.
"Halo, Hinata. Apa kau bisa memberiku alamat rumah Sakura." Jeda beberapa saat, lalu Sasuke kembali berkata, "Baiklah. Terima kasih."
To be continued…
Ah… chapter 4 selesai juga~ Gimana? Udah lebih panjang nggak ceritanya?
oh iya, feelingnya dapat nggak ya saat masa-masa kelamnya Sakura? ._. Btw, author nggak nyangka loh bakalan ngetik adegan masa-masa kelamnya Sakura XD tiba-tiba aja nih tangan dan pikiran jalan sendiri. Gyahahahaha *plak XD
Balasan Reviews~
LastMelodya, sepertinya pair Shikasaku nggak nggak ada nih u.u maaf jadi kecewa ya Ohiya, chap kali ini udah saya panjangin loh,,, masih kurang panjang nggak ya? XD
ShikaInofans, terimakasih pujiannya, ya. Aduh, jd tersanjung XD ShikaIno nya bakalan saya buat deh di fict lain tapi masih berhubungan dgn ini ;) (Tunggu fict ini selesai dulu, yahh)
LaChoco Latte, ini sudah saya panjangin loh ;) Masih kurang nggak? Btw, makasih bantuannya ya~
Choi Raekhi, ini chapter 4 nya udh diupdate~
Yola-ShikaIno, wah, makasih ya buat semangat nya XD Hihihihi,,,,
Terakhir, terima kasih buat yang udah baca fict saya, baik yang nge-reviews/tidak. ^^
