HELLO! Iya ini apdetnya telat- saia tau- tapi tiap manusia punya masalah sendiri di kehidupan sekolahnya(?)

btw, yang kemaren ada rikues rival buat Akashi, tunggu ya xD mungkin bakal muncul di chapter depan. Oke cukup nyerocosnya, enjoy~


CHAPTER 4

Tiga hari sudah berlalu dengan sangat lambat.

Kuroko Tetsuna mulai merasakan tekanannya.

Dimulai dari Akashi yang selalu datang ke rumah untuk menjemputnya—secara paksa tentunya, lalu mengantar sampai ke depan kelas dengan senyum ambigunya, dan yang terparah sekarang ini adalah—

Akashi menjadikannya manajer tambahan di klub basket dan ia terpaksa mengikutinya seperti budak... ah, bukan, ia seperti anak anjing yang kehilangan induknya. Abaikan wajah datarnya yang terus meneriakkan (dalam hati) kebencian terhadap sang kapten. Momoi yang menyaksikannya bisa merasakan tekanan batin yang sedang melanda seorang Kuroko Tetsuna, sahabatnya.

Iya, kasihan. Bahkan para anggota klub basket seperti Generation of Miracles juga dapat merasakan betapa tersiksanya Kuroko. Namun, mereka tak sebodoh itu untuk datang dan menolongnya dari jeratan Akashi Seijuro.

"Tetsuna, ambilkan handuk dan minuman mereka."

"Ya." Segera ia ambil handuk dan minuman dan membagikannya pada semua pemain.

"Tetsuna, bersihkan bungkus makanan yang berserakan ini."

"Ya." Ia sapu bersih semua bungkus yang ditebarkan oleh si raksasa, Murasakibara.

"Tetsuna, lap lantainya. Kalau sampai mereka terpeleset dan terluka, latihan tak akan efektif."

"Ya." Ia lap tempat-tempat yang sekiranya basah dan akan dilewati oleh mereka semua.

"Tetsuna, buka bajuku."

"Ya—" kain lap yang ia pegang jatuh dengan dramatis.

Hah?

Momoi yang sedang mengurus data dan para anggota tim yang masih berlatih langsung berhenti, berdiri diam dan memasang ekspresi yang sama di wajah mereka selagi menatap kedua insan berkepala merah dan biru muda yang berada di bangku.

Mulut mangap dan mata melotot.

Mata Kuroko melebar, seperti menampakkan kata 'apa kau gila' dan sejenisnya. Seringai itu muncul lagi.

"1-0, Tetsuna." Ucapnya sambil meninggalkan gadis itu. Wajahnya kembali datar. Ia terdiam di tempat dan menatap lelaki bernomor punggung 4 tersebut pergi. Tetapi ada yang berbeda dari sebelumnya.

Dirinya mengeluarkan aura negatif, sampai membuat orang-orang yang berada di dekat sana bergidik ngeri dan menjauh—jaga-jaga, siapa tahu ia melampiaskan kemarahannya dengan mengamuk bebas.

Aomine berbisik kepada Momoi, "Hei, apa temanmu memang semengerikan ini?"

"EEEH, DIA HILANG, SSU!"

"HAH? KEMANA KUROKO?"

"O-OH, DIA ADA DISANA!"

Momoi tertawa canggung sembari melirik ke arah Kuroko yang pergi membersihkan lantai disisi lain lapangan.

Sebenarnya dia ini manajer atau cleaning service?

.

.

.

"Tsuna-chan, ayo ke kantin!" suara ceria milik Momoi menguasai ruang kelas yang sudah agak sepi. Yang diajak menatap sejenak sebelum kembali berkutat pada novel misteri yang sudah ia baca sejak kemarin. Tinggal beberapa halaman, ia tak mau membuang waktu dengan pergi ke kantin.

"Boleh nitip, Momoi-san?"

Perempuan yang lebih tinggi itu memajukan bibirnya. "Sudah kubilang panggil saja Satsukiii—ya sudahlah. Kau mau apa?"

Kuroko tersenyum tipis pada sahabatnya ini, "Susu vanilla dan sandwich."

Berhasil melihat senyum tipis milik Kuroko, gadis berambut merah muda itu mendengus, kemudian tersenyum lebar. "Baiklah, aku pergi dulu." Ujarnya seraya melaju menuju kantin, menyusul teman perempuannya yang lain.

Sekarang, hanya tinggal perempuan berkulit pucat itu dan novel misterinya. Suasana kelas yang hening membuatnya semakin terhanyut dalam novelnya. Sampai-sampai ia tak sadar, seorang lelaki familiar sebentar lagi akan menghancurkan momen menenangkannya.

"Tetsuna."

Sebuah suara yang tegas telah menampar Kuroko keluar dari dunianya sendiri. Kemudian ia menoleh pada orang yang sudah merusak momen berharganya. Ah, padahal tinggal dua lembar lagi.

Iris biru bertemu merah-kuning.

Ia segera memutus kontak mata dengan sang emperor dan menoleh kembali ke bukunya. "Ada apa?"

Akashi, yang merasa terganggu akan fakta Kuroko lebih memilih memperhatikan novelnya daripada wujudnya yang memukau, langsung menyambar buku itu. Kuroko yang ingin meraihnya langsung dicegat oleh tangan kiri lelaki itu. Mau tak mau, ia harus mendengar apa lagi permintaan konyolnya.

"Ketahui tempatmu, Tetsuna. Kau bukan orang yang pantas mengabaikan keberadaanku." Bisiknya dingin.

Kuroko menelan ludahnya. Ya, tentu ia merasa agak takut. Tapi semua itu ia simpan dan sembunyikan dari Akashi. Jika ia tahu, mungkin saja ia akan mengancamnya setiap saat untuk mengikuti semua kemauannya, dan pada ujungnya ialah pemenang dari permainan ini—TIDAK, TIDAK. KALAH DARI AKASHI SEIJURO? DALAM MIMPIMU.

Kuroko bukanlah perempuan yang suka mengalah. Apalagi pada iblis berbadan manusia seperti Akashi ini. maka dari itu, ia mendongakkan kepalanya dan menatap lurus ke arah lelaki ini.

"Tolong kembalikan novelku, Akashi-kun."

Mata berwarna merah-emas itu memicing, tak suka pada intonasi Kuroko dan caranya menatap dirinya. "Kau tak belajar dari apa yang sudah lalu, hm? Ya sudahlah."

Tangan yang memegang novel itu terangkat ke depan wajah Kuroko. Gadis itu membisikkan kalimat terima kasih. Tapi, belum sampai tangannya menyentuh novel misteri tersebut—

Srek! sreeek!

Potongan-potongan kecil kertas putih telah melayang di udara, tepat di hadapan si perempuan yang sudah menanti-nantikan akhir dari cerita di novel itu. Dan sekarang, sebuah novel tebal yang sudah tinggal sedikit lagi ia selesaikan sudah berubah menjadi kertas kecil tak berguna. Disinilah, Kuroko Tetsuna dapat merasakan darahnya mendidih.

Kedua tangan kecil pucatnya mengepal menahan amarah. Dan tak perlu ditanya lagi, ekspresinya masih tetap datar, kendati pun berkebalikan dengan segala sumpah serapah dan caci maki yang berada dalam kepalanya, yang bisa saja tumpah melalui mulutnya kapan pun. Dan Kuroko sedang berusaha untuk menahan diri untuk tak melakukannya di hadapan lelaki yang sudah membuat kesenangannya sirna ini.

"Kau tahu? Bukannya mencintaimu, aku malah membencimu seumur hidupku."

Dan dengan itu, Kuroko Tetsuna berlari keluar, membawa semua emosinya bersama.

Meninggalkan Akashi Seijuro yang tak mengejarnya dan malah berdiam diri di tempat. Setelah beberapa detik terlewati, dirinya menghela napas dan menyeringai tipis mengingat wajah Kuroko. Datar dan dingin—tetapi sepasang permata biru langit miliknya berkata lain. Matanya mencerminkan betapa panasnya api kemarahan yang terpenjara di dalamnya.

Tak ada sepatah kata pun yang ia alirkan. Sang emperor hanya ikut meninggalkan ruangan yang masih sepi, kembali menuju kelasnya dengan ekspresi yang masih tetap. Seringai tipis yang memperlihatkan betapa terhiburnya ia.

Sementara itu, Momoi Satsuki sudah dekat dengan kelasnya. Selagi bersenandung ria, ia mengayun-ayunkan plastik yang berisi roti miliknya dan susu vanilla pesanan Kuroko—sang sahabat tercinta.

Tapi saat dirinya sudah dekat dengan kelasnya, perasaan tak enak dan pikiran negatif menguar di dalam benaknya. Ia melihat sang kapten basket keluar dari ruangan tersebut dengan seringai yang tak biasa. Matanya terpaku pada sosok lelaki itu sekian lamanya, sampai tak sadar bahwa ia telah berjalan melewatinya.

Dan ia dengan terburu-buru memasuki kelas.

Seperti dugaannya, Kuroko Tetsuna tak ada.

Ukh, bagaimana dengan susu vanillanya?!

Sekali lagi, sebagai sahabat, Momoi Satsuki mempunyai insting (atau radar) yang kuat mengenai tempat dimana si perempuan berhawa tipis itu berada. Dan batin Momoi mengarahkannya pada ruang klub yang tak digunakan di dekat gudang. Benar saja, ketika pintu berdebu itu dibuka, sesosok Kuroko tengah berdiri di dekat jendela yang terbuka, membelakangi Momoi. Namun hanya dengan melihat betapa eratnya kepalan tangannya yang sedang bertumpu di bingkai jendela, ia langsung tahu semuanya.

Momoi memutuskan untuk memulai percakapan duluan. "Tsuna-chan, ini susu vanillamu. Kita makan sama-sama, yuk?"

Gadis itu menoleh dan mendekat padanya tanpa menjawab.

Perlahan, mereka memakan makanan mereka dalam keheningan yang menenangkan. Kuroko masih tak mau bicara sepatah kata pun, dan ia masih memendam semuanya sendiri. Seperti biasa. Untungnya Momoi orang yang peka dalam urusan seperti ini. dan ia mengerti betul bagaimana cara mengatasi Kuroko Tetsuna yang ada di sampingnya.

Sekian lama saling diam dan sudah menyelesaikan makanan mereka, perempuan bermata senada dengan sakura tersebut tersenyum lebar. "Kita bolos saja hari ini!"

Biru langit mengerjap. Iya, perempuan ini kaget saat mendengar ajakan temannya. Tumben-tumbennya ia seperti ini. Mengingat ia paling tak suka membolos maupun melihat orang lain membolos, contohnya seperti teman kecilnya, Aomine Daiki. Momoi lah yang paling sering menjemputnya dan memaksanya untuk latihan atau mengikuti pelajaran. Ia juga sering mengeluh pada Kuroko soal sifat Aomine yang suka membolos ini.

Jadi Kuroko mengamsusikan bahwa Momoi benci membolos.

Tetapi, bukan berarti Kuroko akan menolaknya begitu saja. Ia ingin memperbaiki moodnya sebelum ada yang menjadi korban.

Lalu senyum tipisnya lah yang menjadi jawaban bagi Momoi. Tak perlu berkata lebih banyak lagi, mereka berdua segera pergi keluar ruangan dan pergi diam-diam dari sekolah.

Kuroko bersyukur ia mempunyai teman yang pengertian seperti Momoi.

Sayang sekali seorang manusia berkepala merah melihat dua manusia itu mengendap keluar pagar sekolah.

.

.

.

.

.

~TBC~