"Ran! Ayo kita jalan – jalan lagi!" Shinichi menarik tanganku dengan tiba – tiba. Bukan menarik tanganku dengan romantis, melainkan dengan cara memaksa. Namun, mau bagaimana lagi. inilah dia yang sesungguhnya. Entahlah, namun aku lebih menyukai dirinya yang seperti ini saja.

(beberapa menit lalu)

"jadi,.. tadi kau belum melanjutkan kata - katamu. Kau ingin aku apa?" pertanyaan itu sungguh membuatku gelagapan. Bagaimana bisa aku berterus terang seperti itu tiba – tiba di hadapannya. Pasti ia akan merasa kaget dan... hubungan kami bisa renggang

"aku.. hanya ingin kau..." aku menelan ludah untuk memikirkan apa yang akan aku katakan sebagai sebuah alasan yang semoga saja masuk akal. "taman! Bukan, maksudku. Aku hanya ingin kau mengajakku pergi jalan jalan. Hahahaha" aku tertawa sendiri. Benar benar tampak seperti orang idiot. Sedangkan Shinichi dengan ketidakpekaannya hanya mengiyakan

Dan jadilah kami pergi berdua menelusuri tempat dimana kita sering bermain dulu. Sungguh, melihat pemandangan kecil seperti ini membuatku terus bertanya. Apakah aku dan Shinichi bisa terus seperti ini, seperti dulu sampai nanti walaupun bukan aku orang yang disukainya?

Aku menghela napas panjang. Mengingat pernyataan Shinichi di London beberapa tahun lalu memang selalu membuat dadaku sakit. Aku tak mengerti mengapa. Apa pernyataan itu hanya ilusi semata. Lalu, siapa orang yang disukai Shinichi? Yaampun, aku benar benar penasaran.

"Kau tampak lelah. Tak semangat seperti biasanya Ran?" Shinichi tiba – tiba bertanya khawatir terhadapku. Benar, siapapun orang yang disukai Shinichi nantinya, aku tetap bisa jadi sahabatnya kan? Toh, ia cukup peduli kepadaku.

"mm.. hanya biasalah, masalah orang dewasa." Aku tersenyum tipis.

"ah benar. Kita sudah dewasa. Aku belum pernah mendengar, kau bekerja dimana?" ia tiba – tiba saja menanyakan soal pekerjaan. Entahlah, ketika ia bertanya demikian, aku jadi merasa bahwa... setua apa aku ini? Sampai percakapan kita berhubung ke perkerjaan pula.

"mm.. aku bekerja di kafe dekat rumah. Baagaimana dneganmu? Menjadi asisten ayahmu?" aku bertanya demikian, karena ketika terakhir kali ia memberitahukan kabarnya kepadaku, ia berkata bahwa ia sedang bekerja membantu ayahnya.

"itu hanya kerja sambilan. Kerja tetapku ada di bidang politik. Apa perlu aku jelaskan apa yang ku kerjakan selama disana?" Bodoh saja. Paling – paling setelah ia menjelaskan panjang lebar, aku tetap tak akan mengerti apa maksudnya. Politik, enyahlah kau.

"kurasa tak perlu. " aku menolak halus.

"Ran..." Shinichi bergumam. Aku menoleh menatap wajahnya. Selisih tinggi kami kini semakin jauh. Membuatku semakin sulit untuk menatap wajahnya. "jika setelah ini aku pergi... kau akan bagaimana?"

Langkahku terhenti mendengar pernyataan yang diucapkan oleh Shinichi. Bagaimana mungkin, bahkan pertemuan kami belum mencapai 3 hari. Apa ia benar – benar tega setega itu sampai dengan mudahnya meninggalkanku yang sudah menunggu selama bertahun – tahun? Apa aku harus mengatakannya dengan keras agar ia mau berada disini.

"mm...' aku bergumam. Aku benar benar tak tahan menampung air mata yang hampir jatuh ini. Aku takut, aku takut kehilangannya untuk yang kedua kalinya. Kenapa selalu begini? Apa waktu kita tak pernah cocok? Apa yang membuatnya terus – terusan pergi seperti ini?

"aku benar benar punya urusasn yang tak dapat kujelaskan."

Hentikan. Jangan katakan apapun lagi. aku tak mau. Aku tak bisa menerima kenyataan pahit ini. Apa kau akan benar benar pergi. Sebelum itu, katakanlah. Katakanlah sesuatu tentangku. Apa kau menyukaiku? Apa yang tak kau suka dariku? Kenapa kau begitu ingin berpisah denganku?

Apa saat ini aku harus memeluknya dan menahannya pergi? Tidak Ran, kau tidak bisa! Kau bukan tipe gadis yang sebegitu merayunya. Bagaimana? Aku harus bagaimana?

"apa kau.. benar benar harus pergi lagi? Shin,, Shinichi..." aku tak bisa melakukan apa – apa lagi selain menangis di hadapnnya. Kenapa.. kenapa aku tak bisa terlihat sedikit kuat dan begitu saja merelakannya pergi. Kenapa aku malah membuatnya susah? Kenapa aku menangis di depannya?

"Ran.. kenapa kau.." benar kan, Shinichi jadi khawatir karenaku. Aku sekarnag harus bagaimana? Sia – sia saja jika aku berkata 'aku baik – baik saja'. aku tak sanggup berkata sepatah katapun. Aku harus bagaimana. Bagaimana?

Aku hanya meremas erat baju di bagian lengan Shinchi. Tak ada yang bisa membuatku lebih nyaman selain melakukan hal ini. Aku tak bisa memeluknya. Aku tak dapat berkata bahwa aku suka padanya. Aku tak tahu...

"Ra..Ran?" Shinichi terpaku melihatku yang tak seperti biasanya. Airmataku tak henti – hentinya mengalir. Aku tak tahu lagi. Aku tak tahan. Harus berapa lama lagi aku menunggunya agar aku bisa bersama dengannnya seperti dulu?

"maafkan aku Ran" Shinichi tiba tiba bernada lembut. Itu membuat hatiku semakin sakit dan tersayati. Kau menegerti.. kau mengerti.. namun kau salah memahami artinya..

Aku mengangguk pelan menandakan aku baik baik saja dan itu sama sekali bukan salahnya. "a.. aaku... ba.. bai.. baaik.. saa." Aku belum sempat menyelesaikan 1 kata di akhir – akhir kalimatku hingg akhirnya ia memelukku. Membuatku terkaget akan sikapnya.

"jangan menangis Ran. Jangan menangis. Maaf, tapi aku harus segera pergi besok. Aku benar – benar minta maaf." Aku mengangguk pelan. Sepertinya aku sudah membasahi bajunya dengan segumpulan air mataku. Ah.. aku benar benar payah.

"selamat ulang tahun Ran."