Gila, udah berapa lama saya nggak apdet ini 8'D hahaha. Apa kabar semuanya? Saya kangen loh. Sebenernya udah lama saya selesai nulis fic ini. Tapiiiii... kemaren saya mengalami sakit yang cetar membahana badai, jadi nggak bisa apdet fic wkwk. Maaf ya? #dilempar.
Okey, inilah lanjutan dari London's Vocaloid Story dari saya :P
Enjoy.
Thorny Rules
a VOCALOID FANFIC
By : EcrivainHachan24
Desclaimer by : Yamaha Crypton Future Media
Rate : T
Kaito x Miku
WARNING!
Shoujo, berlatar di abad pertengahan Inggris, abal, fluff gagal, nama tetap, etc
DON'T LIKE, DON'T READ!
4of 8
.
.
.
.
.
"Aku Luka Megurine, tunangan Tuan Kaito!"
Seolah ditampar oleh tangan tak kasat mata, mata besar Miku membeliak kaget. Nafasnya memburu. Sungguh sangat mengejutkannya!
Tunangan?!
Luka Megurine masih menatapnya dengan tatapan bingung, seolah tak menyadari ada raut terluka di wajah manis Miku.
Dan Miku takkan pernah tahu sampai kapan gurat terluka itu akan menyisa nantinya.
Mata biru gelap itu menatap kedua orang di hadapannya. Mereka semua tengah duduk di ruang tamu pribadi puri Shion. Gumone Kojiro, Gakuko Kamui, Luka Megurine, dan Miku yang berdiri di sebelah Luka hanya berdiam diri. Menyadari ada raut kemarahan di wajah tenang Kaito.
"Aku tidak pernah mendengar, tentang tunangan-tunanganan," Kaito terdengar ketus. "Maupun hal lainnya. Mengapa kalian memutuskan seenaknya, hah?"
"Kami hanya mempertimbangkan Lady yang pantas untuk Tuan Kaito." Gumone Kojiro, sang butler terlihat tenang menatap kemarahan tuannya. Toh, tuannya itu bisa apa? Bukankah selama ini Kaito selalu menuruti perkataannya?
"Benar, Count," Luka angkat bicara sambil tersenyum manis. "Aku putri pemilik sebuah perusahaan dagang yang paling berpengaruh di Inggris saat ini," bulu mata lentiknya berkedip. "Aku memang tidak memiliki gelar, tapi memiliki kekayaan," Luka mengangkat dagunya. Tidak menyadari bahwa gadis berambut hijau toska di sampingnya hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Ini hanyalah pernikahan politik biasa kok," suara Luka terdengar renyah. "Keluarga kami menginginkan hubungan dengan bangsawan, sebaliknya, kamu akan mendapatkan kekayaan yang melimpah dari keluarga kami," Luka menepuk tangannya dengan sikap anggun. "Bagaimana? Bukan hal yang saling merugikan, iya 'kan?"
Kaito terdiam sejenak dengan wajah tidak tertarik. "Gitu doang? Maaf, ya," Kaito mengangkat kedua alisnya. "Tapi aku akan memilih calon istriku sendiri."
Luka tertegun. Begitupun Miku yang masih menundukkan kepalanya. Entah hanya perasaannya, tetapi… dia merasa tatapan Kaito tertuju padanya.
"Apakah Anda berkenan untuk menginap beberapa hari?" tawar Gumone sambil tersenyum sopan. "Butuh kesempatan untuk mengenal satu sama lain, bukan? Saya sudah menyiapkan sebuah kamar yang dekat dengan kamar Tuan Kaito."
"Oh! Haha, ya, ya, tentu saja!" angguk Luka penuh semangat. Gumone mempertahankan senyumnya lalu menatap Miku yang masih membisu di samping Luka.
"Ehm… ngomong-ngomong… maid ini…"
"Oh iya!" pekik Luka senang lalu menarik bahu Miku mendekat padanya. "Ini Miku! Pelayan yang kupinjam selama menginap di sini!" dengan tenaga yang lumayan kuat untuk ukuran seorang wanita anggun yang memakai gaun setebal tiga lapis itu, Luka menarik Miku dan memperlihatkannya pada Kaito dan Gumone.
"Anak ini manis sekali, ya kan, ya kan!" Luka mengikik pelan tanpa memedulikan Miku yang gelagapan. "Aku paling suka sama yang cantik-cantik begini! Iya 'kan? Kau juga setuju kan Tuan Kaito? Gadis ini cantik sekali sih!"
Deg!
Mata biru gelap itu menatap dalam-dalam iris Miku membuat gadis itu memejamkan matanya dan memalingkan wajahnya.
Ta-takuuuut! Ma-masa kami beradu pandang sih?! Padahal, ini kan di dalam puri!
"Begitulah!" Luka nampaknya tidak memerhatikan atmosfer yang sedikit berbeda karena perlakuannya tadi. "Untuk sementara, mohon bantuannya yaa, calon suami!"
Ah…
Calon suami…
Miku menahan gejolak di dadanya. Sakit bukan main dideranya. Oh, Tuhan, mengapa tiba-tiba ada kejadian seperti ini…?
Ini terlalu berat bagi Miku.
"Waaah!" seru Luka dengan mata berbinar-binar saat ia memandangi taman belakang puri yang teramat sangat indah; pepohonan rindang, rerumputan yang bersinyalir di bawah kakinya, bunga-bungaan cantik yang mekar sempurna karena tangan-tangan tukang kebun yang handal, serta air mancur dengan merpati-merpati putih di sekitarnya yang sedang minum.
"Kebun yang indah!" desah Luka takjub. "Kalau sudah menikah nanti, aku akan datang kemari setiap hari, ah! Indah sekali, benar-benar luar biasa!"
Saat itu, mereka bertiga—Kaito, Miku, dan Luka—sedang berkeliling kebun karena permintaan Luka—oke, sebenarnya agak memaksa—akhirnya mereka semua mengikuti kehendaknya untuk berkeliling puri dan rupanya gadis cantik berambut merah muda itu sangat teramat takjub pada kebun milik puri Kaito.
"Kamu puas dengan perjodohan ini?" tanya Kaito yang berdiri di belakangnya. Luka menatap lelaki itu dari sudut ekor matanya.
"Eh? Tentu saja," Luka kini menatap Kaito. "Bagiku, pernikahan adalah bisnis. Kalau aku bisa mendapatkanmu, mana nama keluargaku juga bakal terangkat 'kan?" kata Luka dengan nada formal. Sementara Miku dan Kaito hanya bisa sweatdrop dan speechless mendengarnya. Benar-benar, deh! Gadis itu seperti seorang iblis pedagang saja!
"Haha, begitulah," Luka berbalik kembali menatap bunga-bungaan di sana dengan takjub. "Sebenarnya, baru belakangan ini aku berpikiran seperti itu," gadis cantik itu menghela nafas. Sinar mata aquanya sedikit meredup.
"Dulu, aku pernah benar-benar jatuh cinta… tapi," dia tersenyum tegar. "Aku nggak diizinkan menikah dengan orang yang tidak bisa memberi keuntungan apa-apa… aku baru merasa lega setelah menyerah," satu tarikan nafas terdengar. "Yah, mungkin beginilah nasibku…," Luka kini menatap Miku yang sedari tadi mendengarkan ceritanya dengan saksama.
"Kalau Miku?" tanya Luka tiba-tiba.
"E-eh? Sa-?"
"Adakah orang yang kausukai?" binar aqua itu kembali bersinar jahil. Ditembak begitu, kontan saja Miku gelagapan. Orang yang disukainya jelas-jelas berada dekat sekali dengan mereka 'kan!
"E-eh?! A-anu… i-itu… it—"
Mana bisa bilang!
"Eeeeehhh~? Ada, yaaaa?!" goda Luka sambil memeluk Miku dengan sikap gemas karena menurutnya, wajah blushing Miku sangatlah manis. "Siapa orangnya? Aku akan membantumu!" seru Luka ceria.
"E-eh… a-aku… i-itu…"
"Jangan malu-malu!" Luka terkekeh. "Aku selalu memihak gadis cantik, lhooo~"
Miku terdiam. Mendadak dia menyadari sikap ceria, dan senyuman manis Luka terlihat sedikit tersirat kepahitan di sana. Mungkinkah karena cinta lamanya dulu?
Gadis itu menyadari, ada yang berbeda dari dirinya dengan Luka Megurine. Gadis berambut merah muda itu memilih untuk menyerah saja pada perasaannya dan memasrahkan diri pada nasib yang akan membawanya. Dia jatuh cinta, tanpa berusaha mewujudkannya. Dan semua itu, lagi-lagi karena kasta. Karena status. Berbeda dengan Miku yang masih berdiri dalam puing-puing mimpinya untuk bisa melampaui tulisan-tulisan picisan karya penulis pasaran yang berkata bahwa status bukanlah segalanya.
Tetapi kini?
Dilihatnya, Luka tengah berbicara dengan Kaito di pinggiran taman, di depan matanya. Miku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Namun dia melihat sebelah tangan Luka memegangi pundak Kaito. Wanita cantik itu tetap tersenyum lembut. Begitu cantik… begitu anggun.
Berbeda dengan Miku.
Tidak…
Miku memejamkan matanya. Menahan buncahan di dadanya yang bergelora.
Aku tidak berhak untuk merasa terluka. Perasaanku berbeda!
Lalu dilihatnya Luka tertawa pelan, sementara Kaito hanya tersenyum kecil.
Ah…
Benar. Sebab… Luka Megurine, tetap saja tunangan resmi Kaito yang sangat dicintainya itu 'kan?
Ya, Miku. Kau benar-benar tidak punya hak untuk merasa terluka. Sama sekali tidak ada.
"Eh, Miku," masih mengenakan baju mandinya, Luka tersenyum lalu memperlihatkan kedua gaun yang sangat cantik dan indah di atas tempat tidur berselimut sutra. Yang satu adalah gaun berwarna merah marun dengan aksen putih, perak, dan manik-manik kecokelatan sebagai penghias di ujung baju dan bagian lehernya yang berenda-renda, dan yang satu lagi adalah gaun berwanra violet yang lembut dengan gradasi berurutan dari yang termuda, dan renda-renda putih di sekitar bajunya.
"Gaun mana yang menurutmu bagus, untuk acara makan malam besok?" tanya Luka meminta pendapat. Miku menatapi kedua gaun cantik itu dengan wajah terperangah.
"Waah… indah sekali!" komentar Miku takjub.
"Hihi, iya dong!" Luka tersenyum. "Penampilanku harus seperti seorang Countess."
Miku terdiam. Menyadari kenyataan bahwa… 'seorang Countess' berarti… istri dari Kaito Shion yang seorang Count 'kan?
"Ah… kalau begitu…"
BRAK!
Kedua gadis manis itu terlonjak kaget. "Bunyi apa itu? Dari kamar sebelah, ya?" tanya Luka. Gadis itu bangkit dari tempat tempat tidurnya, lalu mengintip diam-diam ke kamar sebelah lewat celah pintu, lalu memberi isyarat bagi Miku untuk mengikutinya.
"Makanya… sudah kubilang, aku nggak bisa menerima pertunangan ini!" suara bentakan Kaito terdengar disertai gebrakan meja. "Kenapa aku harus selalu mematuhi kalian?!"
Miku menelan ludahnya. Ada rasa khawatir menderanya melihat bara biru gelap itu sangat teramat marah dan emosi.
"Perlakuan pada para pelayan juga sama!" lanjut Kaito belum selesai dengan amarahnya. "Aku ingin memperlihatkan rasa terima kasihku pada mereka," matanya menyipit pada Gumone yang masih menatapnya tenang. "Tapi kau malah… memecat pelayan yang berbicara denganku!" sentak Kaito teringat pada seorang maid malang yang menyenangkan saat dirinya masih berumur tujuh tahun.
"Jangan berlaku sesuka hatimu!"
Gumone menghela nafas panjang lalu menutup buku yang dipegangnya. "Anda masih muda," katanya diplomatis. "Karena itu Anda tidak mengerti, seorang bangsawan harus menjaga jarak dengan pelayan," katanya. "Saya hanya meneruskan kehendak kedua orangtua Tuan yang sudah meninggal, demi melindungi keluarga Shion."
Tidak mempedulikan tatapan Kaito yang menatapnya tajam, Gumone kembali melanjutkan. "Pertunangan inipun… hal yang sangat menguntungkan bagi keluarga ini. Tolong jangan egois, dan patuhilah kata-kata saya." Gumone membungkukan badannya sedikit sebagai penghormatan bahwa dirinya akan undur diri. "Permisi."
Blam.
"Haduhh, pria yang malang," suara Luka membuat Kaito menoleh dari posisinya. "Kalau kamu memang kepala keluarga ini, katakan keberatanmu tegas, dong! Malah diam saja mendengarkan perkataannya. Benar-benar payah!" maki Luka sambil menyandarkan tubuhnya di bibir pintu.
"… Puri ini adalah sarang mereka," suara Kaito terdengar dalam dan Miku belum pernah mendengar nada seserius itu keluar darinya. "Karena mereka suka main paksa, kekuatanku jadi tertutup dengan mudah."
"Hmm, kalau begitu, kau akan mengikuti kata-kata mereka begitu saja, ya?" sindir Luka.
"Enak saja!" bantah Kaito sambil berbalik. Hendak meninggalkan ruangan itu. Namun dia menyempatkan diri membalikan kepalanya sebanyak tigapuluh lima derajat. "Ini puriku. Aku tidak akan selamanya membiarkan mereka berbuat seenaknya."
Dari tatapannya yang tajam itu, Miku sudah tahu bahwa Kaito sudah bertekad dengan bulat.
"Hmm," suara Luka terdengar tertarik. "Kamu… ternyata memang seharusnya menikah denganku, ya."
"Apa?"
Luka mendekat kepada lelaki biru itu. "Aku bisa memberikan kekayaan yang sangat melimpah bagi keluarga ini. Dengan begitu, mereka tidak akan berlaku seenaknya lagi kan?" Luka menepuk pundak Kaito. "Aku akan membantumu merebut kembali rumahmu. Kamu cukup memberikanku kedudukan sebagai Countess. Kita pasti bisa menjadi pasangan terbaik." Hasut Luka lalu membalikan badan kepada Miku.
"Kamu juga sependapat denganku 'kan, Miku?"
Sependapat…?
Apa…? Apa yang harus dikatakannya? Haruskah dia jujur? Tidak mungkin. Haruskah dia berkata sebaliknya? Walau itu berarti menusuk hatinya sendiri? Walau itu berarti dia harus menampung air matanya sekali lagi? Walau dia, sama sekali tidak berhak untuk merasa terluka?
Mana? Mana, Miku? Jawaban mana yang akan kauberi?
Mata biru itu tidak berani menatapnya. Semakin ragu pula Miku untuk menjawabnya.
Dia tidak tahu apa-apa; apa yang dipikul, dan apa yang seharusnya dilakukannya… dia benar-benar tidak tahu!
Akhirnya, Miku membungkukkan badannya. "Ya. Saya sependapat dengan Anda."
Pagi hari datang menyingsing. Seorang maid manis berambut hijau toska dikuncir dua membawakan nampan berisi kue manis dan earl gray tea yang mengepul. Langkahnya berhenti di depan sebuah kamar dan memutar kenop pintunya.
"Selamat pagi, nona Luka," sapa Miku sambil tersenyum lemah. Dia masih belum bisa menyeimbangkan kestabilan mental dan perasaannya sejak kemarin. "Saya membawakan teh untuk Anda."
"Terima kasih," jawab Luka yang sedang menata diri di depan kaca besar dibantu beberapa pelayan lain. "Lho, wajahmu kok pucat, Miku? Kau baik-baik saja?" tanya Luka khawatir dengan bibir putih dan mata sayu Miku yang kini membentuk sebuah senyuman lemah lagi.
"Saya baik-baik saja kok," dusta Miku. Luka nampak skeptis lalu menyesap pelan tehnya.
"Oh ya, Miku. Bisa tolong ambilkan kalungku? Kurasa aku lupa menaruhnya di ruang tamu karena jamuan makan malam kemarin," kata Luka. Miku mengangguk patuh dan berjalan keluar kamar mewah itu.
Sebenarnya ada banyak sekali hal yang membebani pikirannya. Mengenai status, tunangan, cinta, dan dia benar-benar dibuat tak berdaya!
Hiks...
Tap, tap, tap...
Langkah kaki!
Segera saja gadis itu membalikkan badannya ke tembok dan menundukkan wajahnya. Dia tahu suara langkah kaki siapa itu. Jelas dia sangat tahu bahwa suara langkah kaki itu secara tak langsung telah menjadi jarak antara dirinya dengan si pemilik suara langkah kaki. Bahwa, suara langkah kaki itu mengingatkannya sekali lagi bahwa statusnya hanyalah seorang maid yang rendah. Bahwa Miku, bekerja di puri itu sebagai tulang punggung keluarganya dan ayahnya yang telah tua renta.
Tapi...
Bagaimanapun Miku tahu, selamanya dia takkan pernah pantas berada di sisi seorang Count Kaito Shion yang-
GREP!
"Waa!" Miku tersentak kaget saat tangan kokoh orang di belakangnya menariknya kuat-kuat ke dalam sebuah ruang besar yang berisikan buku-buku tua dan perapian yang mengering. Lalu terdengar suara pintu dibanting di belakangnya.
Astaga!
"T-Tuan Kaito?!" seru Miku tak percaya kepada orang yang menariknya tadi. Kaito menatapnya sekilas. "K-kenapa..."
"Begitu aku lihat sosok belakangmu, aku langsung tahu itu kamu," kata Kaito, dia lalu meraih gadis yang disukainya itu ke dalam pelukannya. "Kamu nggak perlu takut. Aku takkan menikah dengannya."
Deg!
Miku memang mengharapkan perkataan itu. Memang dia sangat butuh diyakinkan oleh laki-laki itu bahwa hanya dirinyalah yang bisa berada di sisinya. Memang penjelasan itu yang ingin didengar Miku.
Tapi...
"Tidak...," Miku melepaskan pelukan laki-laki itu lemah. "Menikahlah dengannya..." pinta Miku lemah.
Dia tahu, dia takkan pernah bisa. Sebesar apapun rasa sayang dan cintanya...
Dia tetap tidak akan bisa.
Terjadi keheningan sebentar sebelum—
JEDUK!
Kaito membenturkan kepalanya sendiri ke tembok di belakangnya.
"E-eeeehh?! T-Tuan Kaito?!" seru Miku kaget. Kaito tampak tidak peduli dan malah memegangi kepalanya yang benjol besar.
"Anu... barusan itu aku ditolak?" tanyanya dengan nada dan wajah merana. "Gadis yang kusukai menyuruhku menikah dengan orang lain. Segitu ingin membunuhku, ya?"
"A-ah! B-bukan begitu!" gagap Miku mendapati wajah 'anak anjing' Kaito. "Ha-habis...," Miku mengambil nafas. "Saya tidak punya apa-apa... untuk diberikan kepada Anda. Saya juga tak memiliki kekuatan finansial seperti Nona Luka...," Miku memejamkan matanya. "Saya hanyalah seorang maid."
Di luar dugaan, Kaito kembali meraih gadis itu ke dalam pelukannya. "Makanya... aku bilang," suaranya terdengar lembut. Membuat Miku lupa caranya bernafas untuk sesaat. "Tidak punya apa-apa juga tak masalah." Kini Kaito menatap mata Miku dalam-dalam. Ekspresinya serius. "Puri ini telah dipenuhi berbagai macam kebohongan. Aku nggak minta balasan apapun. Di dalam puri ini, hanya kamu yang memikirkan keadaanku yang sesungguhnya,"
"—Aku mohon, Miku. Aku ingin kau berada di sisiku..."
Deg!
Seperti itukah, perasaan Kaito padanya?
"Tuan..."
Grieet...
Suara pintu di belakang mereka terbuka.
"Apa yang kalian lakukan?" suara itu menyadarkan keduanya dan menghadap ke belakang—
—Dan terlihatlah Luka Megurine yang memandangi mereka dengan wajah kaget dan marah.
To be continue
HAHAHAHAHAHAHAHA apa coba ini wkwkwkwk ngetiknya ngebut #dijambak.
Sip, mind to RnR? :)
V
V
