ANYEONG YEOROBEUN!
HOPE YOU ENJOY TO READ IT
NO FLAME | NO BASHING | PLEASE COMMENT
.
.
Title
Koizora - Sky of Love 4
Length
N - CHAPTER
Rating
PG-18 (M)
Genre
ROMANCE, ANGST, DRAMA, VIOLENCE, YAOI
(DON'T LIKE, DON'T READ)
Author
RUKA17
Main Cast
DAEHYUN, YOUNGJAE
Support Cast
ALL MEMBER BAP AND EXO
Disclaimer
THIS FANFICTION IS MINE
Warning
A lot of typo *ngaks*
.
.
.
"appa...eomma...aku ingin pindah jurusan. aku ingin menjadi seorang dokter." ujar yongjae.
Kedua orang tua youngjae saling beradu pandang. "apa kau yakin nak?" tanya sang ayah.
Youngjae menganggukkan kepalanya. "Fakultas kedokteran yang akan kumasuki bersebelahan dengan rumah sakit tempat daehyun dirawat. Jadi aku bisa dengan leluasa menjaganya."
Ayah youngjae menghela nafasnya. "Baiklah, kalau itu kemauanmu."
"Gumawo appa...eomma..." ujar youngjae seraya tersenyum.
.
.
.
Ruangan serba putih itu terlihat suram. Padahal matahari bersinar terang siang itu. Bagaimana tidak suram kalau saja orang yang menghuni kamar itu terlihat cemberut dengan efek awan hitam yang bertengger diatas kepalanya.
"Daehyunnie...kau harus makan. Kau belum makan sejak kemarin." rayu sang eomma.
"Tidak...aku tidak lapar..." ujar daehyun seraya memalingkan wajahnya menghindari suapan nasi yang terarah kemulutnya.
Wajah eomma daehyun terlihat sangat kusut. Pasalnya anak kesayangannya itu tidak mau makan sejak kemarin karena daehyun beralasan kalau ia akan muntah jika ada makanan dimulutnya. Ya, itu dikarenakan efek dari obat-obatan yang diminumnya. Eomma daehyun pun menyerah dan akhirnya ia pergi keluar ruangan untuk mencari dokter yang menangani daehyun.
Graakkkk...
Terdengar suara pintu kamar bergeser. Menampilkan seorang namja dengan jas putihnya dan stestoskop yang menggantung dilehernya. Daehyun menolehkan kepalanya kearah pintu, memasang wajah cemberut karena eommanya memanggil seorang dokter hanya karena ia tidak mau makan.
"Uisa-"
Suara daehyun tercekat ketika melihat namja yang memasuki kamar rawatnya.
"Youngjae-ah..."
Namja itu tersenyum, memperlihatkan pipi apa yang ada dihadapan daehyun kali ini membuat jantungnya berdesir. Pasalnya beberapa hari ini ia tidak bertemu dengan youngjae.
"Kau...kenapa kau berpakaian seperti itu?" tanya daehyun dengan raut wajah bingung.
Yongjae melangkahkan kakinya mendekati daehyun. "Kau suka dengan apa yang kau lihat daehyunnie?"
Yah, memang daehyun akui, youngjae terlihat sangat tampan dengan balutan jas putih itu.
"I'm your doctor right now," ujar youngjae seraya tersenyum manis. "Dan tadi aku sempat diberitahu oleh perawat kalau kau tidak mau makan sejak kemarin heum?"
Daehyun memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan sifatnya yang mungkin terlihat kekanak-kanakan. "Aku tidak bernafsu untuk makan."
Youngjae mengangguk-anggukan kepalanya, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. "Kau mau?" ujarnya seraya menyodorkan sepotong permen lemon dihadapan daehyun.
Daehyun menaikan alisnya, menatap permen lemon dan youngjae secara bergantian. "Lemon sangat baik untuk mengembalikan nafsu makan." ujar youngjae.
Tak ada respon. Hanya wajah kebingungan daehyun yang muncul disana.
"Ya sudah kalau kau tidak mau, aku akan memakannya sendiri." ujar Youngjae seraya membuka bungkusan permen dan memasukkan permen kedalam mulutnya. Menyesap rasa lemon yang tajam. Tapi sedetik kemudian, youngjae merasakan tangan daehyun meraih tengkuknya dan membawanya semakin dekat dengan daehyun. Ia dapat merasakan hembusan nafas daehyun yang menerpa pipinya dan juga benda hangat yang menyentuh bibirnya. Daehyun mencium youngjae, membuat youngjae merasakan desiran yang hebat menjalar diseluruh tubuhnya. Tak hanya itu saja, lidah daehyun kini bergerak dengan lihai menyapu bibir plum youngjae, berusaha membuka belahan bibir itu, lalu menangkap sesuatu yang berada didalam mulut youngjae. Kini permen lemon itu berpindah tangan kemulut daehyun dan benang saliva yang panjang terlihat dengan jelas saat daehyun memutuskan hisapannya pada bibir youngjae. Daehyun menyesap permen lemon yang sudah bercampur dengan saliva milik youngjae dan juga miliknya.
"D-daehyun-ah..."
Daehyun menyeringai melihat rona merah yang menjalar diwajah kekasihnya itu.
"Ini enak. Bawakan aku permen lemon setiap kau datang kemari." ujar daehyun dengan tersenyum membuat wajah pucatnya tidak terlihat seperti orang yang sedang sakit.
.
I just wanna see your smile
I don't want that smilling will have gone
.
Cuaca hari ini benar-benar ccerahdan hangat meskipun sebentar lagi musim semi akan berakhir dan berganti menjadi musim panas. Hari yang sangat bagus untuk menghirup udara luar.
"Youngjae-ah...apa aku boleh menghirup udara luar? Aku sangat bosan harus mengurung diri terus menerus dikamar ini." rajuk daehyun
"sepertinya udara segar sangat baik. Tunggu sebentar. Aku akan meminta ijin pada uisanim." ujar youngjae seraya beranjak dari samping ranjang daehyun
Grep
Daehyun menahan tangan youngjae. "Kau kan juga dokterku. Jadi kau tidak perlu minta ijin pada dokter yang menanganiku."
"Tapi-."
Daehyun menggenggam erat tangan youngjae, berharap youngjae mengabulkan permintaannya.
"Baiklah...aku akan mengambil kursi roda." ujar youngjae seraya berjalan keluar untuk meminjam kursi
.
.
.
Disinilah daehyun dan youngjae sekarang berada. Duduk berdampingan sambil menatap padang ilalang dengan lukisan awan putih dan langit biru yang terpantul dari sorot mata mereka.
"Haahhh~ udara disini sangat menyegarkan." teriak daehyun membuat youngjae tersenyum. "Apa aku bisa terus merasakannya?" senyum youngjae tiba-tiba memudar. Ia menolehkan kepalanya, menatap kearah namja yang dicintainya itu. Daehyun sedang tersenyum. Melihat senyuman daehyun membuat youngjae sesak. Ingin rasanya ia menyimpan senyuman itu agar tidak pernah memudar. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Tidak ada selain menemaninya dan menjaganya.
"Tentu saja..." ujar youngjae membuat daehyyn kembali tersenyum. "Daehyun-ah..."
"Hmm?"
"Apa dikehidupan selanjutnya kita akan bertemu kembali?"
Daehyun menolehkan kepalanya, menatap youngjae yang menerawang jauh keatas langit biru.
"Apa dikehidupan selanjutnya kau akan tetap mencintaiku seperti sekarang?"
Daehyun terkekeh. "Kau ini bicara apa? Tentu saja aku akan selalu mencintaimu. Sekarang maupun dikehidupan selanjutnya."
Youngjae tersenyum dan menolehkan kepalanya menatap kearah daehyun. "Daehyun-ah...mau kah kau berjanji padaku?"
"Janji apa?" Daehyun balas menatap kedua obsidian coklat youngjae.
"Berjanjilah untuk selalu berada disampingku dan berjanjilah untuk menjadikan ku mempelaimu."
Saat ini daehyun sedang berdoa pada Tuhan untuk bisa menghentikan waktu. Tapi tentu saja itu mustahil. Waktu akan terus berjalan dan tidak akan pernah berhenti.
"Aku berjanji." ujar daehyun seraya tersenyum yang dibalas dengan senyuman oleh youngjae.
Daehyun meraba-raba ilalang yang ada disampingnya. Mencabut beberapa tangkai ilalang, lalu menguntainya menjadi sepasang cincin dengan hisan bunga ilalang. Ia pun menghadap kearah youngjae seraya menggenggam kedua tangan youngjae.
"Ehem..." daehyun sepertinya akan memulai pidatonya. Ia menarik nafas panjang sebelum mengucapkan sesuatu.
"Yoo youngjae. Bersediakah kau akan selalu bersama Jung daehyun dalam keadaan suka maupun duka dalam sakit maupun senang sampai maut memisahkan kalian."
Jantung daehyun berdegup kencang menunggu jawaban dari sang mempelai. "Ya, aku bersedia." ujar youngjae mantap
Sekarang giliran youngjae yang mengucapkan janji itu. "Jung daehyun. Bersediakah kau akan selalu bersama Yoo youngjae dalam keadaan suka maupun duka dalam sakit maupun senang sampai maut memisahkan kalian."
Tanpa menunggu lama, daehyun pun menjawab pernyataan youngjae. "Ya, aku bersedia."
Daehyun tersenyum seraya memasangkan cicin dari ilalang kejari manis milik mempelainya, begitu pula dengan youngjae. Dan merekapun terkekeh melihat cincin yang terpasang manis dijari-jari mereka.
"Aku akan menukar cincin ini dengan cincn yang asli saat kita didepan altar nanti." ujar daehyun mantap membuat younfjae tersenyum lebar.
"Tidak perlu tuan jung. Aku lebih suka dengan cincin buatanmu ini." balas youngjae.
Youngjae mendekatkan dirinya, menatap dalam kedua obsidian milik daehyun. "apa sekarang aku boleh mencium mempelaiku?" ujarnya antusias.
Terlihat anggukan dari daehyun dan tanpa banyak kata youngjae pun menciumnya. Ciuman lembut penuh makna. Mereka berdua saling menyalurkan perasaan mereka. Rasa cinta yang tidak akan pernah pudar meskipun matahari terbit dari arah barat ataupun bulan muncul dipagi hari.
.
.
.
TIT..TIT..TIT..TIT
Terdengar suara bunyi kardiogram yang terpasang disekitar tubuh daehyun. Nafas daehyun terdengar memburu. Dengan bantuan selang oksigen, daehyun meraup banyak-banyak oksigen untuk bisa ia tampung kedalam paru-parunya yang terasa sesak. Pendengarannya sedikit berkurang dan penglihatannya kabur.
"Daehyun-ah...kuatkan dirimu nak." ujar sang eomma seraya menggenggam erat tangan daehyun
Terlihat banjir air mata dipipi eomma daehyun. Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya agar anak kesayangannya itu merespon teriakannya.
"Youngjae...telepon dia cepat," ujar sang eomma pada Kris, kakak daehyun.
Kris pun mematuhi perintah ibunya. Ia menekan tombol skype lalu mengarahkan ponsel miliknya dihadapan daehyun.
"Daehyun-ah...daehyun-ah...kau dengar suaraku?" ujar youngjae dibalik layar ponsel Kris
"Youngjae-ah.." gumam daehyun seraya mencoba memperjelas penglihatannya pada layar ponsel.
"Bertahanlah...tunggu aku. Aku akan segera sampai disana." Youngjae terlihat sedang berlari dengan tangan menggenggam ponsel. Raut wajahnya terlihat sedang mencemaskan keadaan daehyun sekarang. Dan tanpa disadarinya, youngjae meneteskan air matanya.
"Youngjae-ah..." suara serak daehyun memecah keheningan. "Uljima... aku ingin melihat mu tersenyum."
Youngjae menghentikan langkahnya. Menatap layar ponselnya dan... Tersenyum
"Tunggu aku...aku mencintaimu Jung Daehyun."
Itulah ucapan terakhir youngjae sebelum menonaktifkan skype-nya.
Sepatah kata yang akan selalu diingat daehyun nantinya. Selamanya.
Daehyun pun memejamkan matanya. Setetes air mata kebahagiaan meluncur disudut matanya. Dan seulas senyuman terukir manis diwajah pucatnya.
"Nado saranghae Yoo youngjae..."
TIIIIIIIIIITTTTTTTT
Terlihat garis panjang pada kardiogram dan suara nyaring kardiogram yang memenuhi kamar ICU.
.
.
.
2 years later
.
Angin sepoi, membawa bunga sakura berterbangan. Seorang namja berdiri diatas jembatan, menatap kearah padang ilalang hijau. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kotak merah ditangannya. Ia pun membuka kotak merah itu. Terpampang untaian cincin dari bunga ilalang yang terlihat sudah layu dan juga sebungkus permen lemon. Namja itu mengulas senyumannya, menatap bunga-bunga yang berterbaran dan merasakan angin yang membelai lembut diwajahnya.
.
Aku yakin...dikehidupan selanjutnya kita pasti akan bertemu kembali. Dan aku yakin dikehidupan selanjutnya kita pasti akan bersatu kembali. Daehyun-ah...semoga kau bahagia disana. Tunggu aku disana.
.
Youngjae membalikkan badannya dan berjalan menuruni jembatan kecil. Senyuman tak henti-hentinya ia lontarkan membuat setiap orang yang melihatnya pasti akan berpikir bahwa ia sedang merasa sangat gembira. Youngjae pun sedikit mempercepat langkahnya dan tanpa disengaja olehnya, ia menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Kotak merah yang digenggamnya pun terjatuh. Youngjae tersadar. Ia panik dan segera mencari kotak itu.
"Ini milikmu?" suara berat memecah kepanikan youngjae
Youngjae menatap uluran tangan orang itu lalu menengadahkan kepalanya. Youngjae terdiam sejenak sebelum sebuah suara kembali menginterupsinya.
"Ini milikmu kan?"
Youngjae mengambil kotak merah yang disodorkan padanya.
"Gumawo..." youngjae ingin berterima kasih pada orang itu tetapi ia tidak tahu siapa orang yang berdiri dihadapannya sekarang.
"Taehyung. Namaku taehyung." ujar namja itu seraya tersenyum dan menampilkan eyesmilenya.
Namja itu berjalan melewati youngjae dengan senyum yang masih terpatri dibibirnya. Youngjae membalikkan badannya, menatap punggung namja asing itu yang semakin lama semakin menghilang.
Apa aku sedang bermimpi? Ia mirip sekali dengan daehyun - batin youngjae
.
.
.
END
.
.
.
Yeeeeee...akhirnya selesai juga xD maaf readernim kalau akhirnya ga sesuai dengan harapan kalian hehehe. Author mau main tebak-tebakan. Pasti nanti ada yang minta sequelnya wkwkwk *author narsis *ditabokin reader
Kamsa~
Mind to review?
