Bel istirahat berbunyi, semua murid berhamburan keluar kelas. Ada yang ke kantin, toilet, perpustakaan, kabur, dan lain-lain. Alfred terduduk di bangkunya, ia masih memikirkan tentang gosip yang mencangkup tentang dirinya dan Arthur. Buku yang dipegangnnya sama sekali tidak di lirik, ponselnya di diamkan begitu saja di atas meja dengan lagu yang terus melantun.

"Bengong aja! Ke sambet setan baru tahu rasa!" seru Mathias menepuk pundak Alfred.

"Ganggu aja. Gak ada kejaan lain apa?" kesal Alfred.

"Lagi mikirin Arthur ya? Cieeeeee!" Mathias ribut sendiri. Alfred hanya menghela nafas, kapan semua ini akan berakhir?

"Woy! Pada mau lihat battle crew sekolah kita gak!" teriak Yong Soo pemuda asal Korea di depan kelas. Tak lama seluruh kelas kosong lompong untuk melihat battle breakdance dari layar lebar di aula. Alfred menembus kerumunan, berusaha mendapat tempat paling depan.

Battlepun dimulai, para siswi berteriak memanggil-manggil idola mereka. Para siswa juga tidak mau kalah termasuk pula para guru. Sekolah yang kompak. Alfred berusaha memperhatikan gerakan-gerakan yang dilihatnya. Ia mencatat setiap gerakan yang rasanya perlu untuk dia catat.

"Cie Alfred tuh Arthurnya lagi battle!" teriak satu kelas sastra minus Alfred dan Ludwig tentunya saat Arthur maju untuk battle. Jelas saja itu membuyarkan konsentrasi Alfred.

"Apa sih! Berisik kalian semua!" kesal Alfred membuang muka.

"Malu-malu kucing tuh!" seru Mathias membuat yang lain tertawa, sementara para siswi mulai berbisik-bisik dan tertawa.

'Apa-apaan sih mereka? Mana di depan guru lagi! Kalau Arthur tahu aku pasti kena damprat!' kata Alfred dalam hati. Dia pun berusaha tidak peduli dan kembali memperhatikan setiap gerakan, tapi bukan gerakan yang diperhatikan Alfred. Dari tadi yang dia perhatikan adalah Arthur bukan gerakannya.

'Aku ini kenapa sih!' Alfred pun pergi dari aula menuju kelas.

'Gara-gara gosip itu jadi begini kan!' Alfred teriak di dalam hati, ia berusaha mengendalikan dirinya sampai-sampai ia tidak sadar kalau jam istirahat telah berlalu dan para murid masuk ke dalam kelas.

Pulang sekolah, Alfred masih terdiam di kelas. Padahal kelas sudah kosong dari satu jam yang lalu. Alfred hanya terbengong-bengong, ia tidak tahu harus berfikir bagaimana. Seakan dibangunkan oleh sesuatu, Alfred tersadar dan melihat jam dari layar ponselnya.

"Sial aku kan di ajak latihan sama Arthur!" Alfred pun membereskan barang-barangnya, dan berlari kencang keluar kelas. Tapi.

'BRUK'

Alfred menabrak sesuatu atau seseorang dan terjatuh lumayan keras ke lantai.

"Dasar bodoh! Kau tidak punya mata apa!" sebuah suara seperti memarahi Alfred, Alfred pun membuka matanya dan mendapati Arthur duduk di hadapannya memegangi kepalanya.

"Ah! Maaf Arthur aku tidak sengaja!" Alfred pun berdiri dan membantu Arthur berdiri walau Arthur menolaknya.

"Tidak punya mata apa kau, git?" marah Arthur lagi masih mengelus bagian belakang kepalanya yang terbentur pintu kelas.

"Maaf aku buru-buru, kau kan mengajakku latihan jadi aku berlari saja. Lagipula kan tidak kelihatan ada orang kalau dari arah pintu" Alfred membela diri.

"Siapa suruh kau lari! Sudah ayo latihan!" Arthur pun membalikkan badannya dan pergi duluan. Di belakang Alfred mengikuti Arthur.

Taman yang dimaksud Arthur adalah taman yang tidak terlalu luas, tapi karena di bagian lingkaran tidak di tanami pohon jadi taman itu terlihat luas. Taman ini bukanlah semen seperti taman biasanya, di sana alami seperti belum tersentuh manusia. Alfred agak heran karena biasanya para breaker latihan di taman yang ada semen atau aspal.

"Kita latihan di sini?" tanya Alfred.

"Kalau latihan di tempat bersemen akan sakit kalau jatuh." jelas Arthur seraya mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

"Pertama, apa kau punya alat pengaman?" tanya Arthur.

"Pengaman? Aku tidak punya. Habisnya setiap aku melihatmu battle kau tidak pernah pakai pelindung." jawab Alfred dengan polosnya.

"Dasar bodoh! Jadi selama ini kau latihan tanpa tahu aturan dan peralatannya, git!" geram Arthur marah lalu menjitak kepala Alfred.

"Bagitulah." cengir Alfred tanpa dosa.

"Dasar bodoh! Malah nyengir lagi! Kau ini anak-anak apa yang masih harus di dikte? Bodoh! Bodoh! Bodoh!" kali ini Arthur memukul Alfred dengan tasnya yang masih berisi peralatan keamanaan.

"Ampun! Ampun! Sakit!" erang Alfred kesakitan.

"Haah. Pakai punyaku dulu." tiba-tiba Arthur menjadi tenang, nada bicaranya juga melembut dan memberikan perlengkapan keamanan pada Alfred. Alfred keheranan.

"Kenapa kau begitu marah?" tanya Alfred mengambil peralatan tersebut dari tangan Arthur. Arthur terdiam, ia mengusap sebelah lengannya sendiri lalu membalikkan badan. Alfred seperti merasa bersalah mengucapkan kalimat itu.

"Tidak ada alasan khusus hanya saja aku tidak ingin ada yang cedera!"nada bicara Arthur meninggi. Arthur pun kembali pada tasnya yang sekarang sudah kosong, ia memasukkan tas itu ke dalam tas sekolahnya.

Alfred mulai ke geeran, ia berfikir Arthur khawatir Alfred akan terluka dan semacamnya. Tapi Alfred tidak berani bilang karena ia tidak mau di sembur kata-kata 'mutiara' Arthur lagi. Alfred berusaha memakai peralatan tersebut sampai harus membolak-balik di depan matanya.

"Apa cara pakainya begini?" tanya Alfred. Arthur menoleh pada Alfred, Arthur tersenyum lalu menutup mulutnya, tiba-tiba ia mulai tertawa dan tawanya semakin kencang.

"Kenapa sih?" tanya Alfred heran sekaligus kesal.

"Bukan begitu cara pakainya, git." Arthur menghampiri Alfred, ia melepas pelindung tangan dan memasangnya dengan benar, lalu melepas pelindung kaki yang sebelumnya di pasang terbalik oleh Alfred, dan membenahi letak helm.

"Begini baru benar." kata Arthur.

"Bisa kau lepas kacamatamu? Itu bisa mengganggu nanti." pinta Arthur.

"Tapi aku tidak bisa melihat dengan jelas tanpa kacamataku." jelas Alfred melepas kacamatanya. Arthur mengambil tasnya dan merogoh isi kantong samping tasnya.

"Aku sudah menduga jadi...ini." Arthur memberikan sebuah softlense berwarna biru saphire persis warna mata Alfred. Alfred pun menerimanya dengan senang hati.

"Tapi kau memakainnya hanya pada saat latihan. Mengerti?" Alfred hanya mengangguk lalu memakai softlense.

Setelah semua persiapan selesai, Arthur memulai pemanasan sedikit untuk mencegah kemungkinan cedera. Setelah itu Arthur mulai menjelaskan step demi step. Alfred mendengarkan dengan seksama dengan muka seperti orang bodoh karena senyam-senyum sendiri. Beginilah yang namanya jatuh cinta.

"Kita mulai dengan toprock dan downrock dulu. Karena itu adalah tarian pembuka dalam breakdance" jelas Arthur, Alfred mengangguk pertanda mengerti.

"Pada tarian toprock, di utamakan gerakan tubuh bagian atas sementara downrock mengandalkan kecepatan kaki." Arthur pun memperagakan beberapa gerakan mudah, dengan stepnya secara rinci.

"Sekarang kau coba." seru Arthur. Alfred pun mencoba perlahan-lahan, tapi gerakannya masih berantakan dan ia harus terjatuh beberapa kali.

"Bukan bagitu. Bahumu harus lebih relaks jadi tidak kaku." Arthur menekan sedikit bahu Alfred, tiba-tiba jantung Alfred berdebar, kenapa begini?. Alfred pun mengulanginya lagi, tapi ia tetap salah. Arthur pun memegang kedua tangan Alfred dan memperagakannya lagi. Wajah alfred memerah, Alfred sendiri tidak tahu kenapa. Alfred berusaha konsentrasi dengan latihannya.

"Sekarang coba." seru Arthur melepaskan tangan Alfred. Alfred mencobanya lagi dan kali ini ia bisa.

"Sudah bagus, lakukan itu berulang-ulang." pinta Arthur. Alfred menurut ia melakukannya berulang-ulang.

Setelah kurang lebih satu jam mereka latihan, Arthur mencukupkan latihan. Ia melepaskan pengaman dari Alfred dan memasukkannya ke dalam tas. Sejak latihan selesai Alfred selalu memperhatikan Arthur, matanya serasa tidak mau meninggalkan pandangannya barang sedetik pundari pemuda di hadapannya itu.

"Kau sudah lebih baik dari kemarin, latih saja terus dengan lagu yang agak slow. Pr-mu adalah latihan mendapatkan irama, bukan hanya hari ini tapi seterusnya." kata Arthur seraya memakai jaket dan memasang headset di telinganya.

"Terimakasih ya untuk hari ini. Menyenangkan sekali bersamamu." Arthur terkejut mendengar perkataan Alfred. Melihat keanehan di wajah Arthur, Alfred gelagapan.

"M-maksudnya, latihannya menyenangkan." Alfred tertawa hambar, Arthur hanya tersenyum. Ini bukan senyum seperti yang kemarin, senyumannya berbeda sekali dengan biasanya.

"Besok siapkan fisikmu, git!" kata Arthur seraya pergi meninggalkan Alfred.

"Terimakasih Artie!" teriak Alfred melambaikan tangan. Arthur terhenti dan membalikkan badannya.

"Artie?"

"Kau kan memanggilku git. Berarti aku boleh dong memanggilmu Artie." kata Alfred senyam-senyum sendiri.

"Tidak boleh!" seru Arthur.

"Memang kenapa? Git itu panggilan sayang kan?" Alfred keceplosan, ternyata dari tadi ia ke geeran sendiri dengan panggilan 'git' yang diucapkan Arthur.

"Kau ini benar-benar bodoh ya! Itu ejekan tahu bukan panggilan sayang! You bloody hell of git!" timpal Arthur mempercepat langkahnya meninggalkan Alfred.

"Sampai jumpa Artie!" teriak Alfred. Arthur menggeram marah, ia membalikkan tubuhnya dan berlari ke arah Alfred. Merasa ada bahaya Alfred kabur secepat kilat.

"Jangan lari kau git!" teriak Arthur mengejar Alfred. Alfred hanya tertawa senang.

Sampai rumah Alfred membaringkan tubuhnya di sofa, ia mengingat moment-moment tadi. Alfred pun cekikikan sendiri, ia tertawa mengingat wajah Arthur yang marah padanya, entah kenapa ia senang melihat sebuah senyuman Arthur, dia juga tidak tahu kenapa ia ingin selalu bersama Arthur.

"Haah... Apa aku jatuh cinta ya?" Alfred bicara sendiri membenamkan wajahnya ke bantal.

"Apa Arthur juga menyukaiku ya? Tapi kalau dilihat dari tingkahnya sepertinya iya." Alfred bangun dan menyeret kakinya menuju kamar.

"Eh? Bodohnya aku! " Alfred baru terbangun dari ruang khayal tingkat tingginya, pipinya serasa di tampar dengan kencang.

"Kalau aku suka pada Arthur maka gosip itu benar! TIDAAAAK!"

"Alfred jangan teriak!" seru Matthew dari kamarnya. Ternyata perkataan Arthur benar kalau Alfred itu memang bodoh.

Sementara itu Arthur sedang duduk di bangku taman, hari mulai gelap tapi ia sama sekali tidak berniat untuk pulang. Arthur memandang langit yang semakin menggelap, tatapan matanya kosong. Tiba-tiba teringat sebersit sebuah ingatan di kepala Arthur, segera Arthur menggelengkan kepalanya menghapus pemikirannya itu. Arthur terdiam sejenak merasakan angin yang berhembus sepoi-sepoi.

"Dimana malaikat datang, iblis akan mengganggu." Arthur memejamkan matanya.

"Aku harus siap dengan berbagai kemungkinan bahkan..." Arthur membuka matanya, sorot matanya berubah tajam dan dingin.

"Sampai nyawa taruhannya." Arthur tersenyum sinis dan berjalan pulang di susul angin yang bertiup kencang membelai rambut pirangnya dan menerbangkan bagian belakang jaketnya. Dibalik pohon sang iblis terdiam menatap kepergian Arthur dengan rasa benci dan dendam.

~To Be Continue~

Oke ini chap 4nya~
Aduh makin gaje aja nih cerita...
Gak nyambung dan makin aneh plus OOC abis.

RnR... ^^