.
CHAPTER THREE
THE BREACH
But you've gone to let your demons tear us apart
Can't you see that you need a little moment of clarity
.
Sepasang tangan tiba-tiba menutup erat kedua mata Kyungsoo. Ia tersenyum, sudah dapat menebak apa yang akan terjadi selanjutnya; satu kecupan di punggung, tawa terkikik, kemudian gigitan kecil pada tempat yang sama.
"Most people simply say 'hai', Jongin." dengusnya sambil tertawa.
Tangan yang menutup penglihatannya beranjak turun, menampilkan Kim Jongin yang tergelak senang di bawah terik matahari siang.
"Well most people are not fun, so excuse you."
"Oh, you think you're fun?"
Jongin mengangkat setengah alis, seakan Kyungsoo baru saja mengungkapkan sesuatu yang sudah jelas jawabannya. Menangkap itu, Kyungsoo menahan tarikan bibir—berpura-pura tidak menyetujui pernyataan lelaki di hadapannya.
Jongin lalu mendekat cepat sebelum menerjangnya hingga mereka jatuh ke tanah. "Kau yang membosankan, Do Kyungsoo."
Jemari Jongin mencari pinggang Kyungsoo, menggelitik seraya menahan tubuh Kyungsoo yang mulai meronta. Untaian tawa lelaki itu terdengar bahagia, berkebalikan dengan Kyungsoo yang hampir menangis karena geli.
"Okay! Okay!" Kyungsoo berteriak menerima kekalahannya. "You're fun, i'm boring."
Merasa menang, Jongin menghentikan aksinya. Akan tetapi ia tidak menyingkirkan diri dari atas Kyungsoo, membuat dada mereka yang masih naik turun sesekali bersentuhan setelah terisi gelak.
"Sampai kapan kita akan terus bertingkah konyol semacam ini?" Kyungsoo bertanya, ia memperhatikan Jongin yang menumpukan kedua lengan di samping bahunya.
"Asal bersamamu," lelaki itu menyahut, wajah dengan mimik kekanakan terhapus seiring nada serius yang terlontar, "selamanya pun aku mau."
-o-o-o-
"Please kill me."
"Luhan..."
"No, i was stupid. Please, kill me."
Do Kyungsoo tersenyum tipis menatap sahabatnya yang kini berjongkok sembari menyodorkan ujung ikatan dasi yang melilit leher lelaki itu. Ini merupakan entah kesekian kalinya Luhan memintanya untuk membunuhnya.
Alasan yang mendasari selalu sama—belum berubah, "aku merasa sangat bersalah, Kyungsoo."
"Kau tidak tahu, tidak apa-apa." Balas Kyungsoo tenang, meskipun dalam sanubarinya perih itu masih menggelayut, namun ia tahu Luhan tidak akan melakukan sesuatu yang menyakitinya dengan sengaja. "Lagipula dia tidak memperkenalkan diri sebagai Jongin, 'kan?"
"But, still..." Luhan menyerah, lelaki itu berdiri di hadapannya dengan mimik masih diliputi sungkan. "Bagaimana mungkin aku tidak bisa menebak bahwa dia adalah seseorang yang sering kau ceritakan?"
"It's okay," Kyungsoo mengibaskan tangan, berharap Luhan akan segera menghentikan topik ini karena bayangan di dalam otaknya mulai berkelana pada tubuh berpeluh Luhan dan Jongin.
Dadanya mendadak berdentum diinjak rasa cemburu, namun ia telah terbiasa meredamnya. Toh, ini bukan yang pertama kali. Ia mungkin membutuhkan usaha lebih sebab ia mengenal Luhan, akan tetapi ia paham bagaimana cara melipat lara dan menggenggamnya erat.
Mendeteksi diamnya, Luhan menghembuskan napas panjang. Tangan halus lelaki itu menepuk pundaknya simpatik seraya sang pemilik berujar, "kau berhak mendapatkan yang lebih, Kyungsoo."
"I know." Kyungsoo tersenyum getir. "But i won't."
Ia melirik ke Luhan yang menggelengkan kepala, lelaki itu jelas kehilangan cara untuk meyakinkannya. Memberengut, Luhan menyandarkan kepala pada pembatas kubikel.
"Lalu apa yang terjadi di antara kalian setelahnya?" tanyanya.
"Pertengkaran besar," jawab Kyungsoo segera.
Ia menceritakan detail pertengkaran yang dimaksud dengan teliti. Mulai dari setiap perkataan awal Jongin hingga konklusi yang diucapkan oleh lelaki itu di ujung seteru.
"Dia berkata," Kyungsoo mengingat wajah berang Jongin malam itu, mengingat bagaimana Jongin mendadak mendekatkan wajah mereka sebelum mendesiskan, "you want a relationship? I'll bring you a relationship."
Luhan tampak mengernyitkan kening, ada kekhawatiran yang berenang di sana. "Jangan katakan bahwa kau menyetujuinya. Aku mohon jangan kata—"
"Aku menyetujuinya."
"Oh, Kyungsoo." Luhan menghentakkan kaki frustasi. "Kau tahu dia hanya akan mencari cara untuk lebih leluasa menyakitimu."
Kyungsoo tertawa kering. Mengetuk-ngetukkan pulpen di genggaman ke permukaan meja, ia menimbang mengapa firasatnya menuntun bahwa pertengkaran silam justru akan mendatangkan cahaya lain ke hubungan mereka yang carut marut.
Tetapi itu tidak menutup kemungkinan bahwa Jongin akan berhenti membuatnya terluka.
Faktanya, lelaki itu pasti akan melancarkan berbagai cara demi membuatnya setuju bahwa Kim Jongin bukan seseorang yang pantas mendapatkan hatinya.
Mendongak, Kyungsoo meloloskan dengusan lemah. "Jadi menurutmu, siapa yang lebih bodoh sekarang?"
Luhan berdecak gusar, mencondongkan badan ke arahnya demi mempertegas poin.
"Ini bukan perlombaan, Do Kyungsoo." Lelaki itu menusukkan telunjuknya ke dada Kyungsoo. "Kau sedang bermain-main dengan hatimu sendiri."
-o-o-o-
Itu sedikit aneh—melihat Jongin masih mondar-mandir di dalam apartemen sementara waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.
Biasanya, pada waktu ini, Jongin telah memakai pakaian terbaiknya, rambut ditata ke atas, aroma parfum menguar tertinggal pada tiap langkah yang lelaki itu ambil menuju pintu.
Mengerutkan kening, Kyungsoo berjalan ke arah Jongin yang duduk nyaman di depan televisi.
"Kau tidak keluar hari ini?" ia bertanya ragu, berdiri menjaga jarak dari Jongin yang terlihat menatapnya bosan.
"Kita sedang dalam sebuah hubungan. Ingat?"
Kyungsoo membohongi diri jika tanggapan tersebut tidak membuatnya terkejut. Ia mengira apa yang menjadi keputusan Jongin kemarin hanya gertakan semata.
"Aku tidak pernah memiliki hubungan resmi." Jongin melanjutkan, lelaki itu meletakkan bantal di antara kepala dan sandaran sofa sebelum membuang muka. "Jadi aku tidak mengerti bagaimana ini bekerja."
Dalam situasi ini, Kyungsoo mendadak menemukan sisi lain Jongin.
Kim Jongin yang merupakan sahabat kecilnya.
Seseorang yang mengikutinya kemanapun ketika mereka berada di sekolah dasar. Seseorang yang mudah tertawa sesederhana saat menceritakan kebodohannya—untuk yang kesekian kali, ketika ia menggunakan nail polish sebagai pelembab bibir. Seseorang yang menyukai makanan manis dan begitu mudah tertidur dengan lengan memeluknya erat walaupun usia mereka telah menginjak tujuh belas tahun.
Menjilat bibir, Kyungsoo berusaha menggerus serpihan memori itu agar rasa rindu di hatinya musnah.
Jongin mungkin dekat, namun mereka tetap bersekat.
"Kau ingin aku memutuskan bagaimana hubungan ini berjalan?" ujar Kyungsoo tidak lama kemudian, ia menahan getaran suara yang dihasilkan oleh adrenalinnya.
Kyungsoo takut ia salah bicara.
Kyungsoo takut satu kata akan menghancurkan jembatan yang mulai terbangun saat ini.
Jongin menoleh, memindainya sejenak seolah meneliti keseriusan dibalik ucapannya. Lelaki itu mendesah antipati seraya mengutarakan, "terserah."
Ada senyum lega yang Kyungsoo sembunyikan diam-diam.
Ia akhirnya memberanikan diri mendekat, mengambil posisi tepat di depan Jongin agar dapat menangkap ekspresi lelaki itu.
"Baik, yang pertama," Kyungsoo menjeda, "aku ingin kau memperlakukan sebagaimana ketika kau mendapatkan incaranmu."
Pupil Jongin membesar, mulutnya sedikit menganga selagi tubuhnya menunjukkan reaksi bimbang yang akut.
"Aku ingin pengalaman yang sama."
Kyungsoo menantang, walaupun dadanya tertampar sembilu ketika mengungkapkan kalimat itu. Namun, ia harus mendapatkan kesempatan ini.
Bagaimanapun caranya.
Jongin tampak menimang sekilas. Menatap Kyungsoo dalam keheningan yang perlahan menciptakan aura mencekam, seakan mencoba meyakinkan Kyungsoo untuk menarik kalimat sebelumnya.
Akan tetapi Kyungsoo lebih keras kepala, sehingga beberapa detik selanjutnya situasi berubah menjadi kontes adu pandang yang intens.
Menarik pandangan terlebih dahulu, Jongin lalu mengedikkan bahu tak acuh.
"Okay." Lelaki itu menyetujui, Kyungsoo menepis antusiasme yang bergelung di tubuhnya. "Aku akan lakukan apa yang kau mau."
-o-o-o-
Asap rokok membumbung menghalau pandangan. Layaknya kabut putih, mereka menari, menelusup ke pernapasan dalam hitungan detik yang cepat. Pendengaran berubah bising saat sorak sorai kerumunan di lantai dansa melepaskan derai tawa bersahutan.
Terdapat banyak aroma yang menembus penciuman Kyungsoo dalam satu waktu; tembakau, alkohol, keringat, lemon, garam, tetapi tidak ada satupun yang mampu memabukkannya seperti aroma Jongin saat ini.
Maskulinitas yang pekat berpadu aura dominan terpancar nyalang di setiap hisapan lelaki itu pada puntung. Kelopak mata yang membuka lambat mengkajinya, dari kepala hingga mata kaki seolah ia adalah objek penelitian.
Do Kyungsoo mencoba menggiring napasnya agar tetap teratur. Ia menggenggam gelas berisi alkohol yang masih utuh—sebuah upaya kecil agar dapat terlihat membaur dengan suasana sekitar.
"Kau tahu," Jongin memulai, seringainya merendahkan. "Jika ini benar situasi nyata, aku tidak akan menetapkanmu sebagai target."
"Oh," Kyungsoo melepaskan kekecewaan.
Ia telah berusaha mengerahkan insting paling liarnya untuk memilih celana kulit ketat yang membuat pahanya terlihat penuh, bahkan menyapukan sedikit eyeliner sebagai riasan mata, namun tampaknya itu belum cukup mencapai standar keinginan Jongin.
"Apa itu karena penampilanku?"
"Tidak. Bukan penampilanmu." Bantah Jongin. "It's just you. Gerak tubuhmu tidak mengundang."
"Okay..." Kyungsoo menyahut kikuk, ia mencerna penjelasan Jongin sembari menatap bongkah es yang berenang di dalam alkoholnya.
Mungkin minuman yang seharusnya hanya berfungsi sebagai kamuflase ini—pada akhirnya, sedikit berguna. Maka dengan niat penuh, tanpa mempertimbangkan ulang, ia meneguk beberapa kali, membiarkan senyawa itu membakar kerongkongannya.
Menghapus sisa alkohol di mulut menggunakan tangan, Kyungsoo berpikir strategi apa yang harus ia ambil selanjutnya. Sugesti telah mengalir di nadi—pengaruh alkohol yang mungkin belum bekerja, tetapi telah berhasil mengusir kegugupan.
Menangkap lantai dansa sebagai potensi, Kyungsoo beranjak ke tempat tersebut. Tangan berkeringat mengepal-ngepal kecil, beberapa ludah tertelan saat ia menerobos lautan manusia yang berisik.
Semasa hidupnya, Do Kyungsoo tidak pernah menari. Ia bahkan tidak tahu apakah bakat itu mengalir di keluarganya.
Jadi ketika kakinya mencapai lantai dansa, Kyungsoo harus berdiam diri sejenak. Menangkap cermat iringan musik yang mengalun, sebelum menggerakkan tubuhnya—ayunan lambat yang kaku, satu, dua, tiga, hingga empat kali sebelum ia menemukan ketukan yang sesuai.
Diperlukan sedikit waktu ekstra untuk membuat ia perlahan larut dalam musik, menari dengan lebih berani bersama orang-orang asing yang terlihat sangat menikmati.
Kyungsoo yang mulai rileks tersenyum, menggoyangkan tubuh tanpa mempedulikan sekitar.
Lengan bersentuhan dengan kanan kiri, peluh menetes bersama setiap gerakan, beberapa pasang mata mulai melirik, bahkan terang-terangan seperti sedang berusaha menelanjangi.
Sebuah sentakan melawan pundak tiba-tiba membuat tubuhnya berbalik, ia dihadapkan oleh Jongin yang mencengkeram lengannya kasar.
"What are you trying to pull, Do Kyungsoo?"
Kyungsoo tertawa, sebab bukankah itu jelas, tidak ada jawaban lain selain, "you. What else?"
"Ah, ini benar-benar konyol." Jongin memiringkan kepala—terlihat berang, "Okay, aku turuti kemauanmu."
Dominasi yang lelaki itu pancarkan sebelumnya menggandakan diri, tangan kekar menarik Kyungsoo dekat—tetapi tidak cukup rapat. Bisikan seduktif lalu membelai telinganya, rendah dan menggoda.
"Pretty thing, aren't you?"
Kinerja tubuh Kyungsoo seolah kehilangan pengemudi untuk sementara. Ia membayangkannya—kejadian serupa, kalimat serupa, hanya ditujukan kepada orang-orang yang berbeda.
Membuang pemikiran itu jauh, Kyungsoo berusaha menetralkan hatinya dengan menganggapi, "oh, ya?"
Jongin menggumam menyetujui.
Lelaki yang lebih tinggi kemudian menguburkan hidung ke ceruk lehernya. Memaksa jemarinya mengerut bersamaan dengan hela napas yang bermain di sana—menghirup, meniup, mengecup singkat.
"You smell nice too." Jongin menggeram, bibir yang masih melekat memahat kata-kata itu di leher Kyungsoo. "It's a pity there are lot of people right now."
Kyungsoo tahu ia tidak seharusnya terbawa suasana. Ini hanya simulasi, gambaran bagaimana Jongin mengirim incarannya masuk ke perangkap.
Akan tetapi reaksi tubuhnya mengkhianati, membuat ia semakin mendongak agar Jongin lebih leluasa menciumi lehernya.
"Apa yang akan kau lakukan jika kita hanya berdua?"
"Tergantung," Jongin menjawab, rangsang peraba di kulit Kyungsoo mengindikasikan bahwa lelaki itu tengah menyeringai, "aku punya banyak pilihan."
"Seperti?"
Mengangkat wajah, Jongin menjulurkan lidah ke samping. Lelaki itu memandangnya seperti seseorang yang ingin menerkam.
"If you prefer tender," ibu jari menelusuri wajah Kyungsoo, mengusap pada pipi sebelum bermain tepat di bibir bawah, "then i'll make a sweet," tarik kecil, "sweet love to you."
Perlakuan itu membuat sistem pernapasan Kyungsoo berantakan. Terlebih ketika Jongin mendekat, hingga jarak bibir mereka tidak lebih dari satu jengkal.
"But if you like it rough," tangan di punggungnya lalu berpindah turun ke sela paha, meremas sensual, "then you could be my little fuck doll."
Seusai mengucapkan itu, Jongin tampak puas. Kyungsoo menerjemahkan apa yang ia tangkap sebagai pesan tersembunyi yang menyatakan bahwa kau tidak akan sanggup melanjutkan lebih dari tahap ini.
Namun Kyungsoo melakukan ini bukan serta-merta untuk membuat dirinya sendiri terluka.
Ia ingin membuktikan sesuatu.
Maka sebelum Jongin sempat menarik diri, Kyungsoo terlebih dulu menahannya di tempat. Ia melingkarkan kedua lengannya di leher Jongin, memaksa lelaki yang lebih tinggi untuk menunduk.
Berbisik, Kyungsoo berujar, "kau boleh melakukan apapun yang kau mau."
Sirat di lensa Jongin berubah gelap. Tangan lugas yang masih berada di paha kini kaku tidak bergerak dan Kyungsoo yang mengamati itu menambahkan, "bukankah ini seharusnya menjadi momen yang tepat untuk mencium targetmu?"
Jeda panjang terjadi.
Kyungsoo tidak mengira Jongin mendadak berubah gelisah. Lelaki itu berusaha melepaskan diri dari Kyungsoo, tapak melangkah mundur terburu-buru.
"Aku rasa ini sudah terlalu larut," dalih Jongin. "Kau harus bekerja besok. Sebaiknya kita pulang."
Kim Jongin mungkin tidak menggenggam tangannya ketika mereka keluar dari klub, lelaki itu juga tidak berbicara sepatah katapun ketika mereka berada di dalam mobil, bahkan bergegas masuk ke ruang tidur tepat ketika mereka tiba di apartemen.
Akan tetapi, sepanjang malam yang tersisa, Do Kyungsoo tidak mampu mengulum senyum yang terpatri di bibirnya.
-o-o-o-
Berbicara mengenai keanehan, Jongin melakukannya untuk yang kedua kali.
Daftar belanjaan mereka selalu berisi bahan pokok yang tidak berubah. Bagaimanapun, kemarin, lelaki itu melupakan beberapa bahan penting ketika berbelanja.
Perihal itu membuat Kyungsoo terpaksa datang ke salah satu supermarket di perjalanan pulang kantornya. Ia menjelajah ke etalase-etalase pendingin untuk menemukan makanan beku sebelum memasukkannya ke dalam troli.
Kembali berjalan, Kyungsoo menghentikan langkah tepat di depan etalase buah kalengan. Jongin tidak pernah menyukai buah yang diawetkan, namun karena sekian alasan Kyungsoo memilih untuk menambahkannya kali ini.
Ia tengah sibuk membandingkan dua buah kalengan ketika merasakan lengannya ditepuk pelan.
Menoleh, Kyungsoo mendapati sosok seorang gadis dengan wajah berbinar, senyumnya terlihat begitu lebar saat berseru, "Kyungsoo Oppa!"
Kyungsoo membeku sepersekian detik. Ia meletakkan kaleng di genggamannya hati-hati ke tempat asal karena gelombang keterkejutan yang menguasainya.
Gadis itu tampak jauh berbeda.
Rambut sebahu kini mencapai setengah punggung, rok selutut serta blouse feminin berganti dengan jeans dipadu kaus longgar yang jauh terlihat lebih nyaman.
"J-Jennie?" Kyungsoo tergagap pelan sementara gadis itu terkekeh riang. "hey, apa yang kau lakukan di sekitar sini?"
"Menemui kakakku, apa lagi?"
"Ah," Kyungsoo menjawab kaku, sebab ia masih berusaha memindahkan gambaran masa lalu ke masa sekarang. "Jongin yang memintamu datang?"
Jennie mengangguk, masih dengan ekspresi yang sama. Gadis itu lalu meraih satu kaleng yang baru saja Kyungsoo pilih seraya menuturkan bahwa merek tersebut terasa lebih manis.
Kyungsoo hanya mendengarkan dalam diam, menyaksikan Jennie mendorong troli, sembari mengikuti kemana gadis itu melangkah. Telinganya disodorkan informasi mengenai pertemuan singkat antara Jennie dan Jongin, akan tetapi apa yang berputar di benak Kyungsoo justru adalah hal lain.
Kim Jennie tampak bahagia.
Kim Jennie yang berbicara di depannya bukan Kim Jennie yang ia kenal tiga tahun silam.
Tidak ada raut murung, tidak ada senyum sedih, tidak ada luka yang berusaha gadis itu tutupi dengan kerah maupun baju lengan panjang.
Sebuah pertemuan singkat ternyata bisa menjadi mesin waktu yang mendamparkan kenangan tepat di depan mata.
Selagi Kyungsoo berupaya memfokuskan perhatian ke Jennie, ia teringat bagaimana Jongin seringkali menyisihkan uang saku demi membelikan sesuatu yang Jennie inginkan di luar sepengetahuan orangtua mereka.
Jongin menyayangi Jennie lebih dari apapun dan Jennie menghormati kakaknya selayaknya sosok paling penting di kehidupan gadis itu.
Mendeteksi pikirannya yang melayang, Jennie menjetikkan jari di depan wajahnya. Gadis itu tidak tersinggung, justru tersenyum kecil seolah memaklumi saat ia meminta maaf.
Tanpa ada balasan dari Jennie, mereka berjalan menuju ke kasir berteman hening, meresapi suara roda troli yang berputar sebagai satu-satunya pengisi sunyi.
Lewat pandangan periperal, Kyungsoo dapat mendeteksi bahwa Jennie sedang mengamatinya. Nada gadis itu terlalu lembut saat bertanya—dan mungkin itu adalah pertanyaan paling esensial dalam pertemuan mereka saat ini.
"Dia masih bersikap sama?"
Kyungsoo menegakkan punggung, getir tiba-tiba merambat ke lidahnya. "Ya, aku rasa."
Jennie mendesahkan kombinasi antara penyesalan dan rasa bersalah, gadis Kim itu menunduk sambil memutar-mutar ujung sepatu ke lantai.
"Oppa, aku minta maaf."
"Hey, hey," Kyungsoo seketika meraih dagu Jennie, ia melihat pelupuk gadis itu mulai basah. "Kau tahu itu bukan salahmu."
Jennie seolah menutup telinga rapat atas pernyataan Kyungsoo sebelumnya. Gadis itu menyentuh tangan Kyungsoo yang berada di dagu, menurunkannya, kemudian menggenggamnya.
"Oppa," tangan mengepal erat, Jennie terisak kecil, "aku minta maaf."
CHAPTER THREE: TO BE CONTINUED
.
Author's Note
Hey, hoo!
Karena kemarin dimarahin update-nya kelamaan jadi aku bayar pake update cepet sekarang?
Tapi setelah ini aku sibuk jadi maaf kalo chapter depan bakal lama lagi. huhuhu.
Tapi lagi, tapi lagiii, makasih banget semua review-nya, aku seneng kalian bisa kebawa bahkan ada yang sampe marah-marah di Instagram.
Kalian tuh... terbaik.
Pokonya sayang.
Eniwei, sudah kumpul prompt buat KFF2K18 beyum?
Go, go, go kumpulin! Kalian bisa cek caranya di Instagram kff2k18!
Terakhir, jangan lupa saran, kritik, dan review-nya yaah :3
XOXO
Sher.
