Gakuho menatap dinding kaca sebuah restoran. Bayangannya dan juga pemadangan diluar sana nampak jelas, terekam baik dengan kedua iris violetnya.
Semenjak anaknya selalu menyiapkan makan malam, sudah jarang dia pergi keluar rumah hanya untuk makan. Tapi, jika yang mengajaknya adalah orang yang hebat— Seperti; gurita kuning yang akan menghancurkan bumi dalam waktu dekat tidak masalah bukan?
Koro-sensei memakai setelan jas kantoran dan juga memakai hidung palsunya. Mau dilihat dari sisi manapun, makhluk itu sangat mencurigakan.
"Nurufufufu...Mengenai anakmu pak kepala dewan," gurita tersebut memulai pembicaraan, mengantarkan pandangan Gakuho kearahnya. "Bagaimana keadaannya setelah Karma-kun mengalahkannya?"
"Jika dia tidak bisa merebut kembali posisinya dia akan keluar dari rumah"
"A—APA!?"
"Tentu saja tempat tinggalnya yang selanjutnya akan kupersiapkan. Aku tidak sekejam itu pada anak sendiri Koro-sensei"
"Oh..Oh" Koro-sensei mulai tenang lalu mengangguk kecil "Tapi bukannya itu terlalu keras?"
Kali ini Gakuho tidak langsung menjawab. Dengan elegannya dia menuangkan botol wine ke gelas tinggi miliknya dan juga milik gurita di hadapannya. Dia merenung untuk sejenak lalu meyuarakan pikirannya "Entahlah. Tapi..." dia memberi jeda "Untuk beberapa alasan, ancaman seperti itu sangat efektif untuknya"
"Maksudmu...Dia tidak ingin meninggalkan rumah?" tanya Koro-sensei sebelum menghisap winenya. Gelengan pelan sebagai jawaban pertanyaan tersebut, tapi memang Gakuho sendiri tidak tahu alasannya. Alasan kenapa ancaman keluar dari rumah begitu mempan untuk menakuti anaknya.
Gakushu anak yang mandiri, itu juga berkat didikannya. Setelah menginjak jenjang Sekolah menengah anak itulah yang mengurus segala masalah rumah tangga. Mencuci dan memasak adalah basik dari rumah tangga juga kemandirian, dan Gakushu melakukan semua itu!.
Tidak ada alasan baginya untuk tidak melepaskan anaknya tersebut, membiarkannya hidup mandiri. Disisi lain, seharusnya ancaman tersebut sama sekali tidak berbahaya bagi Gakushu.
Sebagai seorang ayah. Gakuho jarang memperhatikan anaknya sebagai orang tua, tapi kalau sebagai guru itu lain cerita.
Secara emosi, Gakushu tidak punya seorang ayah.
Lalu...kenapa 'pergi dari rumah' menjadi ancaman yang bagus?
"Hmm...Apa kau pernah mengancamnya dengan hal lain sebelum ini?" tanya Koro-sensei, sudah menghabiskan anggur dalam gelasnya.
"...Mungkin karena tidak ingin aku marah. Dia selalu melakukan hal-hal hebat untuk anak seumurannya"
Kedua mata kecil gurita tersebut, tidak bisa membulat tak percaya. Tapi dia tidak percaya, kalau baru saja dia melihat; monster yang mengendalikan Kunugigaoka tersenyum tulus, hanya karena menceritakan anaknya.
"Ehem.." Koro-sensei berusaha menghilangkan kepanikannya—karena melihat sesuatu yang seharusnya mustahil— "Jadi, bagaimana hubunganmu dengan anakmu?" apa sedekat itu? terka Koro-sensei dalam hati
"...Itu," Seorang Asano Gakuho terlihat kebingungan, entah ada hal buruk apa yang nanti terjadi dengan bumi selain ancaman gurita kuning. Tidak tahu bagaimana menjawabnya, pria tersebut lebih memilih meminum anggurnya terlebih dahulu. "Hubungan kami sedikit berbeda"
"Menaklukan dan ditaklukan. Mungkin seperti itu..." lanjut Gakuho. "Bocah itu selalu berjuang keras untuk menaklukanku, mengalahkanku. Tapi setelah dia kalah dengan Akabane, kelihatannya dia begitu kecewa"
"Maka karna itu kau memilih mengancamnya dengan...hal yang paling dia tidak ingini?"
"Aku tidak tahu apakah dia mau atau tidak mau meninggalkan rumah. Ancaman tersebut cukup ampuh. Cukup aneh tapi akan kupakai lagi jika aku membutuhkannya kelak"
"Nurufufufu..." entah kenapa Koro-sensei tertawa. Kepala bulat yang seharusnya berawarna kuning kini berubah warna menjadi merah muda, padahal dia belum melihat perempuan seksi hari ini. "Pak kepala dewan. Tanpa anda sadari, anakmu sangat mencintai anda"
Cinta
Gakuho terkekeh pelan "Meskipun dia memanggil ayahnya sendiri dengan sebutan monster?"
"Anak-anak memang suka menyembunyikan sesuatu Nurufufu"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 04:
Setelah penantian yang cukup mendebarkan. Akhirnya pintu terbuka, dan menampakan si tuan rumah. Atau lebih tepatnya anak si tuan rumah.
Karma tersenyum padanya plus memeluknya dengan erat seolah mereka bertemu setelah sekian lama.
"O—Oi!"protesnya berusaha menjauhkan badan Karma dari dirinya. Karma mendongak melihat wajahnya yang mulai memerah.
"Boleh aku menciummu?" tanya Karma seraya menyeringai jahil
"Tidak!," tolaknya mentah-mentah "Aku datang untuk belajar ingat? Kau sendiri yang mengajakku!"
Akhirnya bocah itu menjauh lalu mengangguk malas "Iya sih. Ya sudahlah, kau lama sekali sih" gerutunya lalu masuk ke dalam rumahnya.
Yang bertamu hanya mengikuti si pemilik rumah, mengekor di belakang Karma.
Karena hanya mengikuti seperti anak ayam. Gakushu tidak sadar kalau Karma telah membawanya ke ruang makan.
Posisi segala perabotan hampir sama dengan rumahnya. Hanya saja dapur dan ruang makan tidak menjadi satu. Untuk memasuki ruangan tersebut tidak ada pintu hanya dinding yang berlubang, pertama masuk akan melihat ruang makan. Satu meja besar dengan empat buah kursi, di sisi lain ruangan adalah dapur yang disekat dengan dinding putih yang juga tak diberi pintu.
Di ruang makan terdapat banyak jendela yang terhubung dengan teras. Pot gantung maupun biasa terletak disana, kelihatan nyonya Akabane suka memelihara bunga.
Pemikiran tersebut membuat Gakushu bertanya-tanya 'dimana anggota keluarga yang lain?'
"Kau mau kopi? " tawaran Karma membuyatkan pikiran Gakushu. Remaja yang tinggal di rumah tersebut menarik salah satu kursi, mempersilahkan tamunya untuk duduk.
"...Tentu" jawab Gakushu diikuti senyuman tipis.
Diatas meja telah tersaji dua piring spaghetti yang hampir mendingin. Karma benar-benar menyiapkannya, siapa sangka?
Gakushu masih saja memperhatikan ruangan tersebut, dia juga tertarik pada bunga-bunga yang berada diteras. Sampai akhirnya dia berhenti melakukannya ketika Karma datang, meletakan sebuah mug di hadapannya. "Jadi, apa kau ingin aku mengajarimu?"
"Aku hanya membawa buku pelajaran bahasa Jepang," jawab Gakushu mulai mengerakan garpunya dan memutarnya, membiarkan benang-benang pasta melilit alat makannya "Aku tidak butuh kau mengajariku Matematika"
"Apa maksudmu?," Karma melakukan hal yang serupa sebelum memasukan buntalan pasta ke dalam mulutnya "...Kita hanya bersaing dalam pelajaran tersebut!" ujarnya setelah menelan.
"He eh. Bisa kau diam?"
"Kenapa?"
Pertanyaan tersebut membuat Gakushu tidak jadi melakukan suapan pertamanya "Kita sedang makan!," serunya seolah Karma adalah terbodoh di dunia, yang tidak mengerti tata krama "Sudahlah. Yang lebih penting lagi, bisa kau diam saat kita makan?"
"Apa masalahnya?," Karma berhenti di tengah suapan ketiganya "Karena kita bersama, kenapa tidak kita menikmati waktu kita bersama?"
Menikmati waktu kita bersama. Gakushu terhenyak pada kalimat tersebut. Meskipun dia makan bersama orang yang disukainya, tidak sekalipun dia benar-benar menikmatinya. Dia hanya senang Gakuho memakan masakannya, dan hanya itu.
Sekalipun mereka tidak pernah saling berbicara. Bahkan komen mengenai masakannya saja tidak.
"Menikmati waktu bersamamu?," tanya Gakushu sinis lalu memakan suapan pertamanya "Tidak akan pernah". Untuk sekali ini sja dia akan melanggar etika yang diajarkan ayahnya.
"Hei Hei. Setidaknya aku senang Shuu-kun datang kerumahku," balas Karma sambil tersenyum polos dan tulus, tidak seperti biasanya "Orang tuaku jarang ada dirumah sih"
"...Oh"
Rasanya seperti Karma itu sedang bersinar, Gakushu tidak tahan melihatnya. Menyembunyikan rona merah di pipinya, dia menunduk dan kembali memakan makanannya.
Jadi dia memanggilku karena kesepian atau apa?
...
Acara makan malam telah selesai. Di ruangan tengah mereka duduk dilantai berhadapan-hadapan dengan meja di tengah mereka. Karma membuka buku pelajaran bahasa Jepangnya sambil mengerutu. Mereka sepakat akan belajar mata pelajaran tersebut sebelum ke Matematika.
Gakushu dibuat kebingungan dengan kanji-kanji asing, dan kiasan yang sama sekali dia tidak mengerti maknanya. Melirik ke tempat Karma, kelihatannya si peringkat satu juga memiliki masalah yang sama.
"Nah Shuu-kun," Karma meninggalkan bukunya dan fokus melihat Gakushu di depannya "Bagaimana kalau kita menerapkan belajar sambil bermain?"
"...Belajar sambil bermain?"
"Kita buat taruhan!"
Mendengar taruhan disebutkan, kali ini Gakushu juga meninggalkan bukunya dan fokus ke Karma. "Taruhan huh," ulangnya sambil bersedekap di depan dadanya "Biasanya aku yang membuatnya." tambahnya di ikuti senyuman tipis juga sinis.
"Siapa yang bisa menjawab benar terbanyak, dia yang menang. Kalau aku menang kau harus menuruti segala permintaanmu selama...24 jam" Karma memberi senyuman meyakinkan, dan juga tatapan tajam seolah menantang Gakushu.
'kalau kau tidak mengikuti permainanku, berarti kau takut' Setidaknya itu arti dari tatapan menantang tersebut. Yang merasa di tantang menghela nafas lalu juga memberika senyuman yang sama "Baiklah, kau memang licik Akabane"
Waktunya 10 menit, dan bahannya adalah bab yang belum dijangkau penjelasan guru di sekolah. Dengan khidmat mereka berdua mengerjakan 10 butir soal yang bisa membawa mereka ke penghinaan atau kemenangan.
Begitu sibuk dengan soal-soal tersebut, akhirnya waktu telah habis. Gakushu tipe yang berhati-hati dan disaat bersamaan terlalu banyak berpikir, dia hanya bisa menjawab 8 nomor essay. Sementara Karma adalah tipe berandalan yang mengerjakan sesuka hati dengan motto 'asal semua diisi', jadi dia bisa mengerjakan semuanya.
Kedelapan soal yang dikerjakan sang ketua OSIS memang benar semua, tapi di sisi lain Karma juga punya 8 nomor yang benar.
Sisanya dua soal, jika salah satunya benar tamatlah riwayat Gakushu.
Kedua remaja itu duduk bersandingan, melihat buku yang dikerjakan Karma.
Setelah mereka berdua menemukan jawabannya dan ternyata keberuntungan berada di pihak Karma. Gakushu menoleh cepat pada remaja tersebut dan protes "Hei, kau hanya mendekatinya!"
kedua mata emas mengkerling senang lalu tertawa terbahak-bahak, dia bahagia sekali sekarang "Hahaha Setidaknya aku menjawabnya benar!...Meskipun setengah"
"Kau hanya hampir menjawabnya, aku sama sekali tidak terima!"
"Setidaknya aku benar 8 setengah dan kau hanya 8"
Dengan begitu Gakushu sama sekali tidak berkutik. Yang bersurai jingga duduk dengan kepala menunduk, rasanya kesal sekali "Jadi..Apa yang kau mau?" tanyanya langsung ke inti "24 jam huh. Pastikan kau tidak membunuhku"
Semakin cepat 24 jam habis dipakai, itu akan labih baik.
"Truth or Dare?"
"Ha?," Gakushu menaikan wajahnya melihat si penanya. Apa mereka akan memainkannya? "...Da..Dare?" jawabnya lambat, sebenarnya tak yakin dengan pilihannya.
Memilih Dare karena takut rahasianya terbongkar. Tentu saja musuhnya Karma yang cerdik, mungkin saja pertanyaan remaja tersebut akan membuatnya mati.
Mati karena memberitahu sesuatu yang tidak seharusnya.
Jadi dia memilih Dare, apa dia akan baik-baik saja?
Karma terlihat senang sekali. Dia mendekatkan wajahnya ke Gakushu dengan senyum evil melekat di wajahnya "Then kiss me Shuu-kun~"
"A...Apa itu tantangannya?"
Hanya anggukan yang menjawab pertanyaan gugup tersebut.
Tanpa melihatnyapun, Gakushu tahu kalau wajahnya memerah padam. Mencium orang yang disukainya saja tidak berani, apalagi orang lain!—Tidak bukan itu masalahnya bukan!
"Jangan lakukan hal yang aneh-aneh," Gakushu masih ragu, tapi memberanikan dirinya untuk mengulurkan tangannya "Hanya ciuman, janji?" tangan yang diulurkannya mencengkram kaos yang dikenakan Karma.
"...Tentu aku tidak akan melakukan hal yang aneh"
Dengan kikuk si ketua OSIS mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya dengan bibir rivalnya. Bukan Karma namanya kalau puas hanya dengan itu. si kepala merah mendorong kepala Gakushu, memasukan lidahnya.
"A! Akabane.." Gakushu berniat mendorong Karma sekuat tenaga, tapi tangannya ditahan. Karma berhasil membuatnya luluh dalam kenikmatan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
OXO
Suara desahan Gaksuhu yang manis dan erotis terdengar ke seluruh sudut ruang tengah keluarga Akabane. Si pemilik rumah berada di bawah remaja bersurai jingga tersebut, menikmati pemandangan seksi diatasnya.
Sementara satu tangannya berada di pinggang Gakushu, tangannya yang lain meraba dada, lalu memainkan salah satu puting yang mulai menegang.
"S..Stop..Akabane! you promiss—Ah!"
Si pelaku atau lebih tepatnya sang pemenang meminta yang kalah agar berbicara dengan bahasa inggris selama dia mendesah di permainan ini. memberi kesan hot dan mesum sekali.
"Ah..ngg..You you...promissee j..just kkiss!.."
"Hmm..Aku hanya berjanji tidak akan melakukan hal yang aneh " kali ini lidah Karma turut andil. Menjilati area perut lalu naik ke dada, sementara tangannya masih bermain dengan benjolan mungil yang terus menegang. Merasa dia harus bermain dengan tempat yang lain, dia melihat area bawah.
Kalau seperti itu terus Gakushu akan mengotori celananya. Berlahan Karma membuka resleting jeans. Si pemilik celana mau saja protes tapi mulutnya yang sedari tadi bersuara erotik dibungkam dengan mulut Karma.
Adu lidah terjadi lagi, tapi kali ini Gakushu hanya pasrah saja. Kedua iris violet tersebut menjadi sayu dan meneteskan air mata , itu manis sekali pikir Karma.
Kali itu Cuma sebentar.
"This little one is getting hard, Shuu-kun," ujar Karma tersenyum polos, seolah dia tidak sedang memijat penis lelaki lain "Aku akan membantumu dengan senang hati"
"A..Apa!?," mau saja Gakushu berteriak protes tapi dia sudah tidak punya tenaga lagi, yang keluar hanya ucapan lirih "A..Aku tidak butuh bantuanmu!" rona merah padam terus timbul di wajahnya seolah tidak akan hilang.
"With english shuu-kun~"
"A...Aku..tidak m-mau meladenimu lagi. Lepaskan aku Akabane!" meskipun niat hati memberontak, tetap saja tubuhnya menikmati sentuhan dari lawannya. Karma juga sudah berhenti berbicara dan mulai mengocok dengan cepat.
"Ah..He..Hentikan..aku akan..hah hah Ber berhenti!.." untuk menahan desahannya dia mengigit bibirnya sendiri. Matanya terpejam erat, antara menikmati tapi juga tidak mau melihat situasi memalukan tersebut.
"Maa...Padahal aku yang menang tapi malah aku yang memberimu kenikmatan huh " komen Karma saat merasakan cairan hangat dan putih di tangannya. Semua sperma dia tampung ditangannya, tentu saja agar celana Gakushu tidak kotor.
Dada Gakushu naik turun, aktivitas yang tadi itu sangat melelahkan sekali. Baru saja berpikir semuanya sudah usai, Karma menarik dirinya dan mereka berpindah posisi.
Karma berada diatas, berdiri dengan kedua lututnya. Wajah Gakushu memucat, takut apa yang dia bayangkan akan terjadi.
Sesuatu yang buruk baginya memang terjadi, tapi perkiraannya agak meleset.
"Not gonna put in it, but help me Shuu-kun"
Milik Karma berada di depan wajahnya, di depan matanya. Dia tahu benar apa yang dimaksud 'membantu' tapi...Apa dia bisa melakukannya?
"Dasar mesum" oloknya sebelum membuka mulutnya. Dimulai dari menjilat, setelah rasa ragunya hilang dia memasukannya kedalam mulut. Hisap, Hisap, tapi itu tidak cukup bagi Karma.
Tangan remaja tersebut mendorong kepala jingga tersebut, memasukan semuanya ke dalam tenggorokan yang hangat dan basah.
"Umph...Umm.."
"Hahaha...Hati-hati gigimu"
Ketika mencapai klimaksnya, Karma menarik mundur miliknya. Dia tidak akan membiarkan spermanya menyemprot masuk kedalam tenggorokan orang yang disukainya, karena itu akan membuatnya tersedak.
Sayangnya, tetap saja cairan putih tersebut menyembur ke arah Gakushu. Bau khas yang sangat menyengat seolah mematikan indera penciuman lelaki tersebut. Baunya dengan bau miliknya sendiri hampir tidak berbeda, tapi tetap saja membuatnya sedikit jijik.
"Kau.." geram Gakushu seraya berusaha membersihkan wajahnya dengan tangan "The worst!"
"Jika kau memilih Truth mungkin ini tidak akan terjadi. Hanya satu atau dua rahasia yang kau berikan padaku, bahkan kau bisa berbohong" ujar Karma cepat. "Tunggu sebentar"
Karma melepas kaosnya dan dipakainya untuk membersihkan cairan miliknya dari Gakushu.
Karma mengusapkan kain tersebut ke wajah Gakushu pelan dan lembut, seolah dia merasa bersalah karena memaksa Gakushu melakukan hal sebelumnya. "Kau tahu, Kalau kau tidak merubah pola pikirmu. Mungkin orang selain aku juga akan melakukan hal yang sama"
Tidak biasanya Gakushu menurut dan tidak memberontak. "...Apa maksudmu?" tanyanya pelan, tidak berani melihat wajah Karma untuk saat ini.
"Bisa saja Truth and Dare itu kelemahan terbesarmu. Kalau aku, aku akan memilih Truth. Seperti yang kukatakan tadi, satu atau dua rahasia terbongkar lebih baik daripada..seperti ini bukan?"
"Kurasa Cuma kau yang akan membuat Dare seperti tadi..."
"Maksudku," Karma menekan nadanya "Sebenarnya apa masalahmu? Kau terlihat menjauhi sosialitas karena rahasiamu itu. Bahkan aku setidaknya memiliki beberapa teman"
Remaja tersebut sudah selesai dengan tanggung jawabnya untuk membersih wajah Gakushu. Kaos yang dipakainya tadi diletakkan seenaknya lalu dia berdiri "Aku akan mengambil buku Matematikaku" katanya memberitahu sebelum beranjak pergi ke arah kamarnya.
"...Orang sepertimu memiliki teman huh," Gakushu berbisik menundukan kepalanya. Apa aku seperti itu, seperti yang dikatakan Akabane?, tanyanya dalam hati. "Dan lagi..Memangnya kita sudah selesai belajar bahasanya?"
Walaupun begitu, apa yang dikatakan Karma tadi benar-benar mengganggu pikirannya. Terutama karena rivalnya itu membuat wajah seperti dia sangat mencemaskannya.
Tidak lama kemudian Karma datang dengan kaos baru, membawa bukunya. Ekpresinya tidak bisa dibaca saat dia melihat Gakushu yang masih termenung dengan kedua kaki dipeluknya. Menghela nafas dia meletakan semua bukunya dia atas meja.
"Aku mencintai ayahku"
Sejenak kedua mata emas Karma melebar, cukup terkejut dengan pengakuan yang tiba-tiba. Mata emas tersebut melembut lalu dia tersenyum "Aku tahu," jawabnya jujur "Kau mencintai ayahmu berbeda dengan yang lain"
Gakushu melihat Karma, kedua iris unggunya itu sudah hampir basah. Rasanya ingin menangis, dari semua orang dia akan terbuka dengan rivalnya. "Bagaimana kau mengetahuinya?"
"Pembicaraan kita di kafe. Aku mencoba mencari topik mana saja yang bisa kau jawab dan juga kau hindari, setelah itu menyimpulkannya"
"...Aku tidak akan memujimu hebat"
"Tapi aku memang hebat," Karma tertawa garing lalu membuka buku catatannya "Jadi bagaimana bisa kau datang kesini. Kupikir kau akan lebih memilih pak kepala dewan"
"Dia tidak ada dirumah," jawab Gakushu "Makan malam bersama orang lain"
Karma bisa merasakan kalau Gakushu semakin galau tiap kali membicarakan ayahnya, apalagi sekarang ini pria itu sedang bersama dengan orang lain. "Kalau begitu dia pasti bersama Koro-sensei," katanya lalu menghela nafas berat "Setelah aku dikorbankan untuk keluar dari kelas, tetap saja kami tidak bisa mengelabuinya dan akhirnya dia minggat. Masih sempat-sempat memberitahu kami kalau dia punya acara makan malam." jelasnya terdengar malas.
"Akabane aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau coba jelaskan," Gakushu bersweat-drop, kegalauannya hilang entah kemana "Ya—yang lebih penting lagi, apa hubungannya Koro-senseimu itu dengan ayahku?"
Pertanyaan tersebut membuat Karma tersenyum jahil, walau sebenarnya inginnya ngakak. "Ehem...Sebenarnya," nadanya terdengar serius "Pak kepala dewan memberikan coklat pada Koro-sensei bahkan katanya akan memberikan perasaannya"
"Ha!?," tanda siku-siku memenuhi wajah Gakushu. Kegaluan tergantikan oleh kemarahan sekarang. Dengan kasar remaja itu menarik kerah rivalnya lalu menguncangnya sekuat tenaga "Gurumu yang satu itu yang punya hidung pesek dan berpakaian aneh itu bukan!? Kalau misalnya wanita cantik aku masih bisa ikhlas tapi-tapi kalau seperti itu!"
"Hen-hentikan Shuu-kun! Mungkin itu hanya candaan, mungkin ayahmu hanya bercanda!"
Akhirnya Gakushu berhenti, wajahnya memerah karena malu akan perbuatannya. Berdehem dia segera merebut buku dari tempat Karma "Ka-kalau begitu lupakan mereka dan kembali ke tujuan semula"
Karma tertawa kecil melihat tingkah manis dari ketua OSIS yang biasanya tenang. Ternyata seorang Asano juga bisa membuat keributan dan panik karena dia kalah dari orang yang menurutnya tidak pantas bersanding dengan orang yang disukainya.
Aku benar-benar kalah dari si pak tua itu
"Aku jadi tidak ingin memilikimu" gumam Karma yang jelas menarik kekesalan lagi dari Gakushu. "Aku juga tidak mau jadi milikmu!"
"Kau pikir aku apa? Barang?" gerutu remaja tersebut sambil mencorat-coret buku catatannya.
"Hahaha...Aku sudah tidak punya kepercayaan diri lagi"
Gakushu menghentikan segala aktivitasnya, melihat remaja bersurai merah dengan heran. Menaikan salah satu alisnya dia bertanya "Apa-apaan sih?" dia sama sekali tidak mengerti kenapa orang seperti Karma kehilangan rasa pecaya dirinya.
"Tapi kalau kau bilang seperti itu. Rasanya aku tidak akan bisa mengalahkanmu"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be Continue...
A/N:
Waw saya sendiri gak percaya apa yang telah saya buat. Apalagi si Karma itu katanya mau menyerah, beneran gak tuh? /bicaraapakmunakkmuygbuat/
Baiklah, kali ini KaruAsa muncul banyak. Untuk kapan si om lipan ikutan, kita percayakan pada Koro-sensei. /kenapa?/
Maa... langsung ke Reply Time:
To Karushuucchi otp-san:
Terima kasih buat Reviewnya : ) eh iya ini akhirnya KruAsa muncul.
To Dita338-san :
Terima kasih buat Reviewnya : ). Ini saya langsung datang dengan Ch 04.
Mengenai berapa kali sehari, saya juga gak tahu. Bukan tipe yang bisa menentukan hari sih hahaha...
Iya Karma punya ide nakal, pakai banget malah.
