Ugh…sori telat ngelanjutin cerita "Taruhan" ini, soalnya mataku lagi ada masalah dikit. Akhir-akhir ini mata sakit banget, kepala nyeri minta ampun, ternyata emang ada masalah, dan itu gara-gara sering main komputer ampe kemalaman (saran: jangan begadang di depan komputer ;) ) jadi musti nahan gak lama-lama di depan internet gitu. Syukurlah kali ini udah agak baikan. Dan thanks buat yang ngereview!
Ah, kali ini, yang romancenya bakal kurang, karena aku mau masukin humor banyak. Dan pertandingan MU vs Liverpool akan dimulai. Sebagai informasi, pemain yang dipakai namanya diganti, hanya untuk menjaga respek saja, dan karena aku bukanlah komentator bola yang baik (terakhir kali dalam mimpi dilempari tomat XD) jadi maapin aja. Dan siapa yang bakal menang? Pasang taruhan kalian! *muka penjudi* *dikejar polisi*.
Disclaimer : I do not own Meitantei Conan, nor MU and Liverpool (-?)
Warning : OOC, gaje(nonsense), nama-nama pemain yang asli diganti jadi palsu.
"bla bla" berarti percakapan karakter.
'bla bla' berarti pikiran.
"bla bla" berarti suara/percakapan dari TV.
xxxxxxxxxxxx First Half : It Begins xxxxxxxxxxxx
"Aku yakin, Liverpool pasti menang." gumam Ai percaya diri. "Karena mereka terbiasa dalam Liga Champion."
Conan mengerutkan dahi, melirik ke arah Ai dengan pandangan heran. "Maksudmu apa? Memang iya, tapi sekarang kan mereka…"
"Sshh…jangan terlalu keras." kata Heiji memperingatkan.
Dan ketika Heiji selesai berkata, acara langsung masuk ke dalam sesi komentator.
"Selamat malam, para pecinta bola semuanya! Kali ini kami, Nichiuri TV, akan menyiarkan secara langsung pertandingan final Liga Champion antara Liverpool dan Manchester United, langsung dari Stadion Santiago Bernabeu di Madrid. Saya, Takahashi bersama teman saya Kanawa, akan memandu kalian dalam pertandingan ini."
"Dan berbicara soal pertandingan ini, suatu kebetulan bahwa dua klub Inggris bisa bertemu di final Liga Champion untuk kedua kalinya." gumam Kanawa. "Apalagi keduanya adalah klub yang memiliki sejarah kuat di Inggris."
"Ya, berbicara soal Inggris, kami saat ini kedatangan bintang tamu yang sangat hebat. Dia adalah mantan detektif SMU Jepang yang sangat terkenal di Eropa, khususnya Inggris dimana dia tinggal untuk bersekolah, dan telah bersedia datang ke studio ini untuk menganalisis pertandingan ini, tentu saja dengan membawan burung elangnya yang khas." kata Takahashi dengan ceria. "Kita sambut…"
'Tunggu!' batin Conan kaget. 'Detektif SMU Jepang hebat…'
'Tinggal di Inggris…' pikir Heiji.
'Dan memiliki burung elang…' kata Kid dalam hati dengan panik.
'Jangan-jangan…'
"Saguru Hakuba!"
"APAAA!" teriak ketiganya bersamaan, membuat yang lain langsung kaget, jantung hampir copot. Mereka tidak percaya begitu melihat pemuda usia 22 tahun dengan rambut pirang lurus, mata biru cerah, berpakaian rapi dengan jas tuxedo mahal yang menutupi baju bergaris-garis, burung elang gagah bertengger di pundak kirinya berada di studio itu. Ran dan Kogoro memberengut sesaat, namun langsung kaget ketika ingat bahwa pemuda ini pernah mereka temui di kasus rumah senja.
"Terima kasih." jawab Saguru ramah, sementara Conan, Heiji dan Kid masih mangap-mangap.
Ai yang heran melihat kelakuan Conan bertanya, "Kudo-kun, kau kenal orang itu? Kudo-kun?" namun tidak ada reaksi sama sekali. Kesal, Ai menyikut perut Conan dengan keras dan kasar.
"Auww!" jerit Conan kesakitan. "Apa yang kau lakukan, Haibara?"
"Lain kali menjawab kalau ditanya." tanggap Ai datar. Conan hanya menggerutu kesal. "Jadi, siapa pemuda itu yang membuatmu jadi seperti kucing kesetrum?" tanya Ai lagi.
"Dia Saguru Hakuba, detektif SMU juga, tapi tinggal di Inggris. Kadang dia datang ke Jepang, terutama kalau ada kasus Kid, mengingat katanya mereka berdua adalah rival…" Conan mengerling sedikit ke arah Kid, yang membalas dengan tatapan marah jangan-ungkit-ungkit-masalah-itu. "Aku dan Hattori-niisan sudah bertemu dengannya di…"
"Yah, dia orang yang menyebalkan sekali, beragak sok dingin, sombong, gaya bicara yang terlalu percaya diri, pokoknya menyebalkan." Heiji memotong pembicaraan Conan.
"Masa?" kata Kazuha menanggapi. "Menurutku dia tidak terlihat seperti orang yang angkuh, tapi agak keren, berwibawa, dan juga tamp…an…" Kazuha terdiam ketika menerima tatapan tajam dan cemburu dari tunangannya. Conan dan Ran terkikik kecil melihat tingkah teman mereka. Ketika semua terdiam, tampaknya pembawa berita sudah mulai berbincang dengan Saguru.
"Jadi, Sir Hakuba…"
"Panggil saja dengan Saguru," kata Saguru dengan ramah, "dan hanya karena aku tinggal di Inggris, tidak berarti kalian harus memanggilku dengan "Sir"" Lalu ketiganya mulai tertawa.
"Jadi, bagaimana analisis Saguru mengenai pertandingan malam ini?" tanya Takahashi lagi.
"Menurut pandangan saya…" kata Saguru dengan kepercayaan diri yang tinggi, yang membuat Heiji hampir mau muntah mendengarnya, "akhir-akhir ini kemampuan Liverpool mulai berkurang, namun bukan berarti bahwa mereka akan kalah, ini karena kita tahu bahwa mereka selalu memberikan kejutan di Liga Champion, apalagi striker mereka Sasuke (A/N : ya, aku minjem nama chara dari manga lain ^_^) mulai tajam lagi. Tapi kalau kita lihat persiapan MU, mereka bisa dibilang berpeluang besar memenangkan pertandingan ini karena rekor kemenangan beruntun mereka sampai sekarang. Mungkin analisisku ini tidaklah tepat, karena apapun bisa terjadi di atas lapangan, tapi aku cukup yakin, dengan kemampuanku yang sudah bisa dibilang setara Holmes – idolaku – bahwa…"
"Blah blah blah…" Heiji memotong pembicaraan Saguru di TV yang dianggapnya tidak menarik dengan suara keras. Ini membuat yang lainnya terganggu.
"Heiji, bisakah kau diam sedikit? Kita yang lain kan mau mendengarkan omongan di TV…" tegur Kazuha sambil memukul lengan Heiji sedikit.
Mendengar omongan Kazuha, Heiji agak kesal. "Memangnya kau mau mendengarkan omongan detektif sok hebat seperti dia?"
"Bukankah kau sendiri juga suka sok hebat begitu selesai memecahkan kasus?" tantang Kazuha balik.
"Tapi tidak seperti pemuda blasteran sombong itu…"
"Betulkah? Atau kau memang iri karena jarang masuk TV? Tidak seperti dia?"
"Apa!"
Sementara dua pasangan pengantin yang belum resmi menikah ini masih adu mulut satu sama yang lain, Conan dan yang lainnya mulai berbicara sendiri.
"Jadi, Araide-san, bagaimana menurutmu rumah kami?" tanya Yukiko dengan antusias yang tinggi.
"Hmm, rumahnya sangat bagus, dengan arsitektur Eropa yang cantik, pilar-pilarnya yang diukir dengan mewah, juga besarnya ini, pasti harganya sangat mahal kalau dijual."
"Hohoho…terima kasih." jawab Yukiko bangga. Conan memutar matanya melihat kelakuan okaasan-nya. Yukiko mau bertanya lagi ketika Kogoro memotong.
"Lalu, bagaimana tanggapanmu mengenai putri kami malam ini?" tanya Kogoro, melempar pandangan kesal ke arah Shinichi palsu, sayangnya Kid tidak menghiraukannya.
"Yah, kalau mau jujur, penampilan Ran malam ini sangat cantik…" kata Araide malu-malu sambil menggarukkan kepalanya. Muka Ran memerah mendengar hal itu. Memang malam itu Ran tampak cantik. Dengan baju gaun merah mawar yang berkerah putih dan renda-renda cantik di bagian bawah (sori, gak pintar dalam ngedeskripsikan penampilan). Conan yang melirik ke arah Ran tidak dapat berbuat apa-apa selain juga mengagumi kecantikan Ran, namun tetap saja dia marah karena buka dia yang bilang hal itu.
Conan melirik ke arah Kid, menunggu dia bereaksi, namun Kid tidak berbuat apa-apa. Terpaksa Conan memperingatkannya.
"Hei, Kid." bisik Conan.
"Hmm? Ada apa, meitantei-san?" tanya Kid dengan bosan. Dia tidak begitu antusias mengikuti percakapan ini.
"Kau 'kan sekarang jadi aku yang dewasa, jadi," muka Conan memerah sedikit, dan Kid hanya menyeringai melihat wajah rivalnya ini, "kau harusnya cemburu atau bagaimana ketika Ran dipuji sama orang itu – Araide – tapi kau malah diam…"
"Hoo, maksudmu aku harus cemburu dan menanggapi begitu, kalau ada yang menggoda pacarmu…" goda Kid.
"Ya, maksudku begitu.." muka Conan tambah merah padam.
"Hmm…" Kid berpikir sejenak, tiba-tiba dia dapat ide mempermainkan Conan sebentar, jadi dia menjawab, "tidak, maaf saja."
"Eeh?" Conan terperanjat mendengar jawaban Kid. "Naze?"
"Soalnya aku bukan pakar cinta atau semacamnya, jadi kalau soal yang begini bukanlah bidangku. Sabar saja, toh kan cuma semalam saja, setelahnya pacarmu tidak bakal dirayu lagi…"
"Uggh…kau sama sekali tidak menolong!" gerutu Conan. Kid hanya tertawa kecil.
Conan mulai pergi, bermaksud hanya menjauh dari Kid, namun ada suara yang berbisik di belakangnya.
"Shin-chan~~~"
'Ugh, okaasan…'
"Ada apa, okaasan?" tanya Conan dengan kesal. 'Lebih baik cepat, karena aku mau sendiri.'
"Jangan begitu, dong…aku mau tanya, apa pendapatmu? Mengenai Ran?"
"Ooh…dia yah…cantik…" muka Conan memerah.
"Hmm…lalu? Bagaimana? Dengan? Dia?" Yukiko berbicara dengan nada teasing yang khas, menunjuk ke arah lain.
Conan semula tidak begitu tertarik dengan apa yang ditunjuk ibunya, namun begitu berbalik, dia langsung menelan ludah. Gadis yang ditunjuk oleh Yukiko sedang berbicara dengan Ayumi. Rambut pirang keemasan yang berkilauan dan menjurai sampai bahu, ditambah dengan bola mata biru aqua cerah, wajah yang paras, bibir merah yang bergerak dengan indahnya, meski pakaiannya sederhana, hanya T-shirt hitam dan jeans biru, namun itu sudah cukup untuk menunjukkan lekuk tubuhnya yang indah dan sesuai pada tempatnya.
"Ma-maksud okaasan apa?" tanya Conan lagi, berusaha menyembunyikan rona merah yang mulai mekar di pipinya.
"Oh, jangan menyangkal, Shin-chan. Maksud okaasan, apa Haibara malam ini cantik? Atau bagaimana?"
Conan mulai memalingkan mukanya, berusaha agar Yukiko tidak melihat mukanya yang sekarang mirip tomat masak, yang sayangnya gagal karena Yukiko bisa melihatnya sekilas, dan sekarang nyengir kecil. "Y-ya, begitulah…" jawabnya malu.
Yukiko tersenyum lebar melihat tingkah anaknya. "Detektif hebat dari Kanto rupanya sedang mabuk cinta, yaa…" godanya, hanya dibalas dengan gerutu geram oleh Conan. "Namun," kali ini nada Yukiko berubah menjadi serius, "apa menurutmu itu baik?"
"Eh? Apa maksud okaasan?"
"Maksudku, antara Ran dan Haibara. Apakah kau harus tetap diam saja seperti ini, tanpa kepastian sama sekali kepada keduanya?"
Conan mengangkat alis, bingung dengan perkataan Yukiko, yang memang selalu tidak dimengertinya.
Yukiko menghela nafas, lalu melanjutkan. "Begini, kau kan suka – atau cintalah, katakan begitu – dengan keduanya. Dan kita berdua juga tahu, bagaimana perasaan mereka berdua kepadamu. Oh, jangan heran." kata Yukiko cepat-cepat, ketika dia melihat Conan mau menginterupsi. "Semua juga pasti tahu kalau Ran punya perasaan kepada kau, bukan perasaan sebagai seorang teman masa kecil, namun lebih daripada itu, dan itu sudah sejak lama. Dan Haibara…aku heran kenapa kau tidak dapat memperhatikannya, namun juga punya perasaan yang sama. Okaasan sudah memperhatikan ini sejak lima tahun yang lalu. Ingat pada saat kita di Studio Toho, apa yang okaasan bilang? Jelas Haibara juga menyukaimu, sama seperti Ran."
"Ya, lalu, apa masalahnya?"
"Kau ini memang telmi ya, kalau soal perasaan. Masalahnya adalah, ketika suatu saat keduanya mulai menyetakan perasaan itu secara terbuka. Sekarang masih aman saja karena mereka masih memendamnya, namun ketika saat itu tiba, kaulah yang harus membuat keputusan akhirnya nanti. Kau harus memilih salah satu, dan membuang yang lainnya. Itu akan menjadi momen yang sangat menyulitkan buatmu, mengingat kau juga ada perasaan kepada keduanya. Dan segalanya bisa menjadi buruk ketika kau terus membuarkannya berlarut-larut dalam mengambil keputusan, karena mereka berdua akan terus menunggu dan menunggu, dan ketika ada yang ditolak, dia akan menjadi sangat kecewa, dan mungkin kau akan dihantui oleh perasaan bersalah terus. Nah, kau mau itu terjadi?"
Conan langsung mengerti apa yang ingin dikatakan oleh Yukiko. Dia terdiam sejenak. Langsung muncul bayangan bagaimana wajah Ran dan Ai kalau saat itu tiba. Dia tentu akan merasa bersalah kalau menolak Ran, yang sudah dekat dengannya sejak kecil, menghancurkan harapannya. Namun disisi lain, dia juga benci melihat Ai dengan air mata…dia sudah berjanji tidak akan nmembuatnya menangis lagi sejak gadis penghianat itu meluapkan perasaan di bajunya ketika mereka pertama bertemu.
"Jadi, apa yang harus kulakukan?" tanya Conan pelan, hampir menyerupai bisikan.
"Saran okaasan, sebaiknya kau cepat-cepat membuat keputusan sebelum mereka yang memulai. Dengan begitu, mereka tidak perlu menggantungkan harapan kosong berlama-lama. Jika kau mengatakannya sekarang, mungkin mereka bisa mengerti dengan keputusanmu. Apapun itu, haruslah yang terbaik buatmu."
"Ya, tapi siapa yang harus kupilih? Ma-maksudku, aku sudah suka dengan Ran sejak lama, dan harusnya aku membalas perasaanya karena kami adalah kawan lama, namun kalau Haibara, aku hanya tidak mau dia menjadi tambah kecewa, setelah apa yang dialaminya, tapi…"
"Oh tidak, tidak, jangan kau menjadi bimbang hanya karena kau merasa kasihan. Cinta yang didasari oleh perasaan kasihan tidak akan berhasil. Ketika perasaan kasihan itu hilang, mudah bagimu untuk mengakhiri hubungan itu. Pilihlah mengikuti kata hatimu, ikutilah perasaanmu yang terbesar mengarah ke mana. Itu yang terbaik yang bisa kau lakukan."
Diam sejenak, lalu Conan memecah keheningan. "Wow, sejak kapan ibu jadi pakar cinta seperti ini?"
Yukiko mencubit kedua pipi Conan kuat-kuat. "Duuh…kau ini selalu meremehkan okaasan saja. Okaasan merasa sudah saatnya kau tahu, sebelum semuanya terlambat."
Conan berusaha melepaskan diri, dan ketika berhasil lepas, dia pergi, namun sebelumnya mengucapkan "Arigatou." Yukiko hanya tersenyum senang.
Ketika berjalan entah kemana, mata Conan tertuju ke arah Ran dan Ai. Dalam hati, dia mulai berkata, 'Apapun pilihannya, yang penting aku akan tetap membuat kalian bahagia…'
"Hei! Pertandingannya sudah mulai – Genta! Jangan makan kuenya terlalu banyak!"
Begitu mendengar perkataan Sonoko, mereka mulai duduk di posisi masing-masing.
"Yak! Saat ini kedua kesebelasan sudah memasuki lapangan dan berbaris. Kita bisa mendengarkan lagu Theme Song dinyanyikan sejenak. Suasana di stadion saat ini sangat ramai dengan dominasi warna merah di mana-mana, merefleksikan kesebelasan yang didukung. Yak, lagunya telah selesai dinyanyikan dan saat ini kedua tim dan official pertandingan saling bersalaman. Kedua kapten masing-masing tim saling berjabat tangan dan menentukan undian. Undian sudah dilakukan dan tampaknya MU mendapat kesempatan memilih lapangan yang berarti Liverpool yang memulai kick-off. Kedua tim bersiap di lapangan…"
"Cepat mulai pertandingannya!" teriak Genta dengan mulut penuh makanan, membuatnya menerima tatapan cela dari orang lain.
"Kedua pemain Liverpool sudah bersiap di tengah lapangan, dan yak! Pertandingan final Liga Champions antara MU vs Liverpool dimulai. Sasuke mengoper ke arah Ichigo. Kini bola dibawa ke tengah lapangan, di depan ada pemain MU yang menghadang, bisa dilewati dengan mudah. Bola dilepas, ke arah Naruto, ooh…tapi Zoro memotong bola itu dan sekarang membawanya ke gawang Liverpool. Operan panjang dilepaskan, di depan sudah menunggu Sanji, penyerang handal MU. Tidak off-side, sekarang dia sendiri di depan, membawa bola ke depan, hanya ada dua pemain yang menjaga di samping. Sanji langsung menendang dari luar kotak penalti, keras sekali, dan…"
Ai menutup mata keras-keras, tangannya menggenggam erat kedua lengan di sampingnya, tampak takut terjadi gol. Conan dan Mitsuhiko yang duduk di samping kiri-kanan Ai memerah begitu merasakan lengan mereka bersentuhan dengan kulit halus dari telapak tangan Ai.
"…namun penyelamatan luar biasa dari kiper Liverpool, Monta, mengagalkan kesempatan MU mencetak skor. Walaupun tampang pas-pasan, kemampuannya tidak perlu diragukan. Benar, Kanawa?"
"Benar. Oh, Monta melepaskan tendangan ke tengah lapangan. Ichigo dan kapten kesebelasan MU, Hiruma beradu di udara memperebutkan bola. Bola kini jatuh di kaki pemain Liverpool. Dioper bola ke arah Sena yang menunggu di sisi kiri lapangan. Dengan kecepatan yang luar biasa, bola dibawa menuju gawang. Chad bersiap menghadang, mengocek bola sebentar, Sena berhasil lolos. Bola dioper langsung ke depan gawang, ada Sasuke di depan, juga Killer Bee menghadang dengan badan kekarnya. Namun rupanya Sasuke berhenti, mundur ke belakang, menerima bola, rupanya tipuan, menahan bola sebentar sebelum melepaskan tembakan dan…GOOLL!"
"Yeahh!" teriak Genta yang memang mendukung Liverpool. Ai tersenyum senang melihat hal ini. Dia langsung melemparkan pelukan ke orang di sebelah kanannya tanpa sadar. Muka Conan memerah padam merasakan kontak fisik tubuhnya dengan Ai.
(Skip ampe babak 1 selesai, soalnya serunya nanti pas babak 2)
"Wasit telah meniup peluit panjang, menandakan selesainya babak pertama dengan keunggulan 1-0 untuk Liverpool berkat gol Sasuke di menit ke-6. Kita sekarang kembali ke studio…"
"Haah…seru juga pertandingannya." tanggap Heiji. Dia meraih kantomg snack, hanya untuk mendapati bahwa sudah kosong. "Hei! Makanannya habis!"
"Aahh! Pasti Genta yang menghabiskannya." celetuk Ayumi.
Genta hanya tersipu malu-malu, dan menerima pukulan dahsyat dari Sonoko.
"Auww!" teriak Genta marah. Kini dia dan Sonoko sedang berkelahi satu sama yang lain.
"Sudah, sudah, bagaimana kalau kalian beli saja makanannya lagi?" kata Yukiko, merogoh dompet di sakunya.
"Kalau begitu aku ikut." tawar Heiji.
"Aku juga." kata Kazuha.
"Baiklah, kita pakai mobil saja. Kogoro, bisa kau antar kami?"
Kogoro menggerutu mendengar permintaan Yukiko, namun dia berdiri juga. Mereka berempat kini keluar. Kelompok 'orang tua' kini asyik berbicara.
"Hei, apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Mitsuhiko.
"Tidak tahu, yang jelas aku lapar." jawab Genta.
"Huuh, Genta, pikirnya makan melulu." kata Ayumi, lalu tiba-tiba berbicara. "Hei, aku ada ide!"
"Hah? Apa itu?"
"Kita main…Truth or Dare!"
xxxxxxxxxxxx to be continued xxxxxxxxxxxxx
Cliffhanger! Nah..aku hanya ingin membuat kalian penasaran. Maaf ya, kalau chapter ini pendek, tapi aku jamin yang selanjutnya panjang dan menarik! Juga soal nama pemainnya…maaf ya kalau gaje atau aneh gitu, soalnya males mikirin nama, dan menurut guideline FFN, dilarang masukin nama selebritis ato orang terkenal, jadi yang…ikuti rule aja…
Review ya…supaya aku makin bersemangan ngelanjutinnya!
