DOR!
"MATI KAU, DASAR MAHKLUK PEMBAWA SIAL..!"
.
DOR!-DOR!-DOR!-DOR!-DOR!-DOR!-DOR!-DOR!-DOR!-DOR!-DOR!
"MATI KAU, TAO! A-HA-HA-HA-HA-HA-HA-HA...! A-HA-HA-HA-HA...!"
.
DOR!-DOR!-DOR!-DOR!-DOR!-DOR!-DOR!-DOR!-DOR!-DOR!-DOR!
"AH-AHA-HA-HA-HA-HA...! A-HA-HA-HA-HA-HA-HA-HA-HA-HA...!"
.
DOR!-DOR!-DOR!-DOR!-DOR!-DOR!-DOR!-DOR!-DOR!-DOR!-DOR!
"AH-HA-HA-HA-HA-HA-HA-HA-HA..!"
Malam itu yang belum terlalu larut, saat langit kelam terlihat mendung dan sesekali awan kabut melewari eksistensi bulan sabit yang terlihat membentuk seringaian;
Diatas salah satu gedung pencakar langit di kota, terdengar suara tembakan dan lengkingan nyaring yang saling berbaur dan bersahut-sahutan. Berasal dari salah satu makhluk bersayap putih yang memiliki keping mata kuning berspiral. Mata yang berpendar menyilaukan; berkilat-kilat penuh kebencian.
Memperlihatkan spekulasi beragam begitu melihat raut wajah bahagia ketika sosok yang identik dengan warna kuning itu menembak sang target timah panas.
Kepala sosok itu menunduk rendah, memposisikan matanya di balik scope bening. Pasang mata kuningnya menatap jijik pada tempat dimana target berlangsung. Alisnya mengerut, namun mulutnya masih terbuka lebar-lebar mengeluarkan suara tawa melengkingnya.
Suaranya memekakkan telinga mahkluk hidup lain. Menggema di langit dan memecah angkasa rasa yang sedang dalam proses merasakan waktu malam.
Makhluk bersayap itu tidak mempedulikan suara-suara histeris dari orang-orang dibawahnya yang terdengar ketakutan karena suara tembakan membabi buta, dan hanya membiarkan emosi juga kesadarannya terhanyut dalam dunia akan keinginannya untuk membunuh sang target senapan tersayang.
.
Bab 4 :: Malaikat Jatuh; Sama
.
Fallen Angel
.
Screenplays!Kristao with other official pairing
.
I don't own anything, except storyline
.
Akai Momo (c) 2015
.
T - M
.
Fantasy-Supranatural-Suspense-Mystery-Romance-Psychological
.
Yaoi/ BL/ Be eL/ Boys love/ Alternative Universe with typo(s)
.
No like, don't read!
.
Summary! : Yifan Wu yang seorang pengusaha sukses merasa bahwa kehidupan sempurna tanpa celanya terasa membosankan. Karenanya, ia selalu berharap jika setiap ia bangun dari bunga tidur, ia akan mendapatkan sesuatu yang akan merubah poros hidupnya. Lalu, apa yang akan terjadi jika ia menemukan sesosok manusia bersayap yang jatuh di rooftop apartemennya saat senja hari?
/ "... Tao. Hanya itu yang Tao ingat."/
/ "Dengar, aku memang berharap jika sesuatu yang menarik datang di kehidupan-sempurna-tanpa-cela-yang-terasa-membosankan-bagiku; tapi, bukan berarti jika itu adalah aku harus menjadi baby sitter mahkluk sepertimu, Tao!"/
(My first fantasy multichapter-fiction!)
.
.
Cuping telinga Minseok bergerak-gerak.
Bergerak kecil namun terus-menerus. Tampak seperti radar penangkap suara.
Minseok yang saat itu sedang berbelanja makanan basah di gerai pinggir jalan, ikut menoleh ke sumber suara tembakan beruntun berlangsung. Orang-orang di sekitarnyapun seperti itu. Bergerombol di sekeliling Minseok yang sedang memakan salah sebuah bakpau daging yang ia beli.
Mereka saling berbisik-bisik dan berbicara dengan nada suara rendah. Semuanya saling berasumsi dan berspekulasi. Ada yang berspekulasi bahwa suara tembakan itu adalah efek suara dari game action di salah satu ruang gedung sekitar; dan ada yang menganggap bahwa sedang terjadi peringkusan penjahat berbahaya oleh beberapa pihak kepolisian; ada pula yang menganggap bahwa suara tembakan itu adalah suara tembakan pembunuhan massal.
Namun diantara banyak spekulasi yang ada, satu raut wajah yang mereka tunjukan,
—ketakutan dan kebingungan.
Mendengar bahwa tembakan beruntun itu berasal dari rooftop gedung perusahaan akuntansi di wilayah itu, orang-orang pun berpindah arah pandang. Yang semula mereka hanya mencari dan memcari berasal dari mana suara itu berlangsung, akhirnya orang-orang dari berbagai macam usia dan profesi itu menatap kearah yang sama dengan arah tatapan Xiumin.
Seorang gadis muda yang memakai hoodie merah muda dan rok jeans pendek dengan memakai sepatu boot hitam, menunjuk kearah rooftop gedung itu. Tepat dimana di mata gadis itu melihat siluet seseorang yang sedang memegang senjata senapan. Gadis itu berteriak: "Ada seseorang di sana! aku tak bisa melihatnya karena aku hanya bisa melihat siluetnya; tapi aku pikir seseorang yang membuat suara tembakan adalah orang itu!"
"Panggil polisi! hubungi polisi, cepat! Sepertinya orang itu sedang membunuh seseorang!" lanjut pria setengah abad bersetelan jas lengkap. Mendengar itu, ibu-ibu pemilik gerai makanan di pinggir jalan mengeluarkan ponselnya dari apron dan menelpon dengan ucapan tergesa-gesa.
Dari awal gadis itu menyadari sosok siluet di rooftop gedung, hingga sang ibu-ibu penjual makanan di pinggir jalan dan beberapa orang yang berlari kearah gedung itu untuk meringkus sang pelaku, Minseok hanya menatap dengan tatapan biasa. Matanya berkedip polos beberapa kali. Dan pipinya yang sedikit menggembung itu bergerak-gerak; tanda ia sedang mengunyah makanan. Minseok memeluk kantung kertas belanjaan berwarna coklat yang isinya terdapat beberapa makanan dan minuman ringan.
Mulutnya masih sibuk melahap bakpau yang untuk yang kesekian kali. Tetapi tatapan matanya menyiratkan tatapan santai; seolah-olah bahwa kejadian penembakan membabi buta itu hal yang sering—bahkan selalu dia anggap hal biasa. Merasa bahwa itu adalah kejadian yang sudah harus terjadi apa adanya.
Dengan tanpa mengucap kata sedikit pun, Minseok melangkah mundur perlahan. Melewati orang – orang yang masih bergerombol di tempat itu dengan mudahnya.
Minseok membalikkan tubuhnya membelakangi mereka dan mulai berjalan menjauh. Membiarkan angin malam yang mengantar kepergiannya dari tempat itu. Membiarkan angin malam berdansa mesra bersama guguran daun yang bermain di sekelilingnya. Pria berparas manis tersebut tak acuh dengan keadaan itu, alih-alih pada korban penembakan Baekhyun.
Dan di langkah yang kelima, mata coklat Minseok berkilat-kilat aneh dan kemudian berpendar. Cahaya pendar itu makin menyilaukan dan warna iris matanya pun berubah menjadi ungu muda.
Ungu muda dengan garis spiral oval yang tampak cantik di tengah kegelapan gang sempit tempat dia berada. Jauh dari orang-orang yang sedang sibuk dengan suara tembakan yang dilakukan oleh Baekhyun.
Dalam hati, Xiumin bersyukur jika malam ini terjadi bulan sabit dan langit sedikit mendung. Menyamarkan penampakan Baekhyun yang sedang beraksi brutal diatas rooftop gedung sana.
.
.
"Tch!" Baekhyun memandang garang kearah pintu rooftop yang sedang didobrak oleh beberapa orang yang menyadari aksinya.
Dengan gusar, ia membuang senapan laras panjangnya pada kenampakan bayangan diri. Lalu memicingkan mata kuningnya yang berpendar lebih nyala; memeriksa apakah Tao—target butralnya terkena tembakan atau tidak.
Angin malam dan kabut awan yang menyadari keinginan Baekhyun, bahu membahu membantu Baekhyun untuk memeriksa balkon salah satu kamar apartemen di gedung sebrang. Angin bergerak dari segala arah dan berkumpul di balkon itu untuk menyingkirkan asap yang timbul akibat tembakan Baekhyun yang sesekali mengenai dinding balkon. Sedangkan kabut awan tak lagi berarak melewati bulan sabit yang hari ini menyala lumayan terang. Membiarkan sedikit cahayanya untuk menghajar satu balkon itu.
Mengetahui bahwa targetnya tidak ada di tempat dan meninggalkan balkon yang terkotori oleh beberapa serpih kaca dan serpihan dinding di sekitar balkon. Serpihan berbagai macam ukuran itu berserakan; dibiarkan seperti itu oleh Tao yang entah menghilang kemana.
Baekhyun menngeram kasar dan menghentakkan kaki kanannya dengan keras. Ia merautkan wajah kesal dengan giginya mengigit kuku ibu jari kanan. Lalu, Baekhyun melotot dan berkacak pinggang dengan mulut yang dipoutkan. Tampak lucu dengan wajah merajuknya sekarang.
Dengan kesal, Baekhyun berjalan kearah pintu rooftop. Mengambil langkah lebar agar cepat sampai ditempat yang dituju untuk segera pergi mencari keberadaan Tao yang menghilang lagi.
DUAK!-DUAK!-DUAK!-DUAK!-DUAK!
Baekhyun menendang pintu aluminium itu berkali-kali. Dengan amat keras hingga tendangannya terjiplak pada permukaan pintu. Membuat beberapa orang yang saat itu akan mendobrak kembali pintu jadi terdiam. Orang-orang saling bertatapan. Lalu dengan bodohnya, mereka kembali mencoba mendobrak pintu.
Baekhyun jengkel. Setelah ia kembali menendang pintu itu berkali-kali, Baekhyun berteriak dengan suara yang terdengar berat dan nyaring di saat yang bersamaan.
"BERISIK SEKALI...! PERGI SANA, PERGI! PERGI..!"
Salah satu pria di balik pintu itu membalas dengan geraman. Tak takut dengan bentakan Baekhyun yang terdengar seperti orang yang sedang merajuk.
"SEDANG APA KAU DI SANA..?! APA KAU SEDANG MEMBUNUH SESEORANG, HAH..?! TUNJUKAN DIRIMU..!"
Baekhyun menyeringai sinis. Ia mendesah kesal dan meniup kuku-kuku cantik tangan kanannya yang berwarnakan kuning terang. Lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat dan tak menghiraukan ucapan orang yang membalas perintah sepihak yang ia katakan. Membiarkan orang itu terus bermonolog dengan pintu rooftop di hadapannya.
Baekhyun berjalan dengan langkah lebar-lebar kembali menuju tempat yang ia gunakan untuk menembak Tao. Baekhyun menyelipkan rambutnya ke belakang telinga sambil memicingkan matanya lagi. Mencari tahu kemana arah Tao pergi. Tak lupa, ia mengendus aroma udara kota untuk mencari keberadaan bau khas Tao.
"Hmph!" gumamnya sambil melompat ke atas pagar pembatas. Kedua tangannya direntangkan dan begitu pula dengan sepasang sayapnya. Baekhyun menghirup udara malam dalam-dalam. Lalu terkikik sinis dan menatap nyalang ke balkon yang berkondisi buruk di gedung seberang.
Lebih tepatnya, matanya menatap tajam ceceran darah yang tersembunyi di sana. Ceceran darah yang mengarah ke dalam kamar balkon itu.
Baekhyun bersiul riang. Pantas saja samar-samar ia mencium bau anyir darah. Dan itu ternyata berasal dari sana. Baekhyun bersiap diri untuk terbang keatas langit malam. Ia akan pergi ke kamar apartemen tempat Tao melindungi diri saat ini. Berharap jika di kamar itu tidak ada seorangpun kecuali Tao. Dan berharap pula Tao terkena tembakan di bagian vitalnya agar ia tidak lagi melarikan diri dari jangkauan Baekhyun.
Namun sebelum pergi, dengan jengkel karena suara bising yang masih ada; memekakkan telinganya; Bakhyun mengambil pot besar yang dijangkau oleh sang tali temali sang bayangan-fleksibel. Pot besar itu dililit erat oleh tali bayangannya; kemudian pot itu terangkat tinggi-tinggi.
Baekhyun melemparkan pot besar itu tepat ke tengah pintu yang telah penyok di beberapa tempat. Menimbulkan suara benturan yang cukup keras dan menggema.
Bersamaan dengan terbukanya pintu itu, Baekhyun melesat terbang keatas langit. Bersembunyi di balik kabut awan jauh dari jangkauan mata. Baekhyun menatap orang-orang yang sedang kebingungan mencarinya. Sambil berkacak pinggang, Baekhyun terbang menuju kamar balkon apartemen kamar dimana tao bersembunyi.
"Dasar orang-orang bodoh. Idiot." cercanya dari mulut plum Baekhyun.
Namun Baekhyun membiarkan orang-orang beragam usia itu mencarinya. Ia membiarkan saja, bahkan berharap orang – orang itu terus mencarinya hingga kematian menggerogoti nyawa mereka.
Baekhyun terbang menuju balkon tempat dimana sebelumnya Tao berada. Ia terbang agak tinggi agar orang – orang yang masih berkumpul di jalanan tidak menyadari eksistensinya. Ia berpikir, kira-kira apa yang akan makhluk 'normal' katakan atau responkan jika mereka melihat mahkluk sepertinya. Mahkluk yang memiliki sepasang sayap putih membentang di punggung, memiliki mata berwarna dengan garis spiral oval di dalamnya,
—dan yang lebih penting, menganggap bahwa mahkluk yang serupa dengan Baekhyun dianggap malaikat.
Oh ya, tentu saja.
Baekhyun sedikit risih jika rupanya disebut sebagai malaikat—
—dia lebih suka disebut oleh nama bangsanya. Nama bangsanya yang berbeda dari malaikat pada umumnya,
—karena bangsanya, berbeda jauh dengan bangsa yang manusia katakan malaikat.
TEP!
SRAAAKK!
Baekhyun mendarat di permukaan pagar pembatas balkon. Sayapnya dikatupkannya. Matanya bergerilya ke kanan ke kiri, mencari Tao di tengah remangnya cahaya kamar apartemen seseorang. Namun tak ada. Baekhyun mendapati bahwa kondisi kamar ini kosong. Tanpa sadar, Baekhyun mendengus nafas lega. Setidaknya, jika ia tertangkap basah, ia tidak perlu menggunakan kemampuan hipnotisnya untuk merubah pikiran orang-orang.
Samar-samar, dibalik aroma parfum maskulin seorang pria yang menguar di udara kamar itu, Baekhyun merasakan bau darah. Setelah ditelisik lebih rinci, ia baru menyadari bahwa ceceran darah itu menuju pada satu tempat di kamar. Membentuk jalur patah-patah di lantai dan mengarah pada ranjang.
Di tengah ranjang itu menggembung. Seperti ada sesuatu atau seseorang yang bersembunyi di balik bed cover tebal itu. Di beberapa bagian, terlihat titik – titik darah yang merembes keluar; membasahi permukaan bed cover.
Baekhyun menyeringai senang. Dengan langkah berjingkat-jingkat dan sepasang sayap yang membentang cukup lebar, Baekhyun mendekati ranjang itu. Semakin dekat dengan ranjang, ujung sayap Baekhyun berubah menjadi katana tajam berwarna kuning cerah. Mengkilat – kilat di terpa bias cahaya lampu meja nakas yang telah menyala.
Baekhyun memandang datar dan jijik pada sosok yang ada di balik bed cover itu. Bibirnya terkatup erat; membentuk garis tipis. Kedua telapak tangannya terkepal keras-kencang; bergetar. Mengesankan bahwa ia membenci sesuatu yang bersembunyi di balik bed cover tersebut.
Maka, tanpa basa-basi dan kepalang tanggung, ia mengangkat tinggi-tinggi katana sayapnya dan—
JREB!-JREB!-JREB!-JREB!-JREB!-JREB!-JREB!-JREB!-JREB!-JREB!
—Baekhyun menujamkan pisau belatinya pada gundukan itu. Matanya menyipit membentuk bulan sabit; dengan cahaya kuning yang berpendar dari mata berspiral oval cantiknya. Tak lupa, seringai lebar kini terpampang di wajah manis Baekhyun.
JREB!-JREB!-JREB!-JREB!-JREB!-JREB!-JREB!-JREB!-JREB!-JREB!
Baekhyun mulai merasa ganjil. Padahal tusukan katananya cukup keras dan kasar; namun, entah kenapa tak ada cipratan darah dan teriakan rasa sakit.
Lantas ia mengernyit curiga manakala justru kapuk dan bulu-bulu bantallah yang keluar dari gembungan itu. Merasa kecurigaannya memuncak, dua katana kuning itu terangkat keatas. Terdiam sesaat untuk kemudian diluncurkan kebawah dengan sangat cepat.
JREB! JREB!—
—SRAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKK!
Ranjang berukuran king size itu terlihat kacau. Kapuk dan bulu-bulu angsa pengisi bantal bertaburan hingga ke lantai kamar. Kain-kain bed cover, sprei ranjang, sprei bantal-guling yang berbagai macam ukuran ikut menghiasi ranjang yang kini telah rusak dibagian tengahnya. Bahkan kawat pegas ranjangpun ada yang menyembul keluar.
Mata kuning Baekhyun melotot hebat.
Tubuhnya yang berdiri tegap penuh keangkuhan, kini sedikit membungkuk lemah. Matanya berkaca-kaca dan kepalanya terasa pusing. Mulut Baekhyun menggumamkan sesuatu yang diucapkan dengan cepat. Perlahan tapi pasti, kedua tangan Baekhyun menuju surai kuningnya, mengacak-acak helai demi helai; kepalanya menggeleng ke kanan ke kiri dengan gerak gelisah.
Tanpa ia sadari, sepasang sayapnya yang masih berkatana bergerak kasar kesegala arah. Menghancurkan properti yang dapat dijangkau pisau khas jepang yang berwarna seperti keping matanya. Menghancurkan vas bunga, jam weker, bingkai foto sang pemilik kamar; bahkan hingga menghancurkan meja nakas.
"Tidak! Tidak! Tidak! Tidak mungkin! Tidak mungkin! Bagaimana bisa, hah..?! Bagaimana bisa?! Bagaimana bisa?! Tidak mungkin—"
CKRAK!
Baekhyun menoleh ke belakang. Kearah balkon kamar tempat suara itu berasal.
Dengan air mata yang masih mengalir di pipi dan menggenang di pelupuk mata, Baekhyun melihat Tao yang sedang menyentuh bahunya yang berlumuran darah. Tao berada di depan lemari pakaian samping balkon kamar. Tak lupa dengan sebuah remot air conditioner yang tak sengaja terinjak oleh kaki kanannya yang masih diperban.
Tao mengejangkan tubuhnya ketika ia tahu bahwa Baekhyun menyadari keberadaannya. Tao meringis manakala ia mendapat tatapan tajam membunuh yang Baekhyun layangkan.
Namun, tatap menatap itu tak berlangsung lama, karena Baekhyun memutuskannya dengan melempari Tao dengan bulu sayapnya yang berubah menjadi pisau belati.
Tao yang sedikit menahan rasa sakit akibat tubuhnya tergores peluru Baekhyun sebelumnya dan sambil menahan rasa bingung yang bersarang di otaknya, menghindari serangan mendadak Baekhyun dengan susah payah.
Tao terpaksa merubah sayap kirinya menjadi tameng untuk menghalau pisau Baekhyun. Ia ingin berkata pada Baekhyun tentang alasan dibalik Baekhyun menyerangnya yang merupakan mahkluk satu jenis, namun karena Baekhyun yang tidak hentinya melempari belati tajam, membuat Tao mengurungkan niat.
Perlahan dengan sedikit kesulitan, Tao berjalan menuju balkon; dan dengan insting kewaspadaannya, Tao melempar bongkahan dinding yang cukup besar kepada Baekhyun yang ia ambil di balkon—
SYUT!
SRAAAK!
WHOOOOSSSHH!
—Tepat saat Baekhyun lengah, Tao memaksakan diri untuk terbang menghindarinya.
"AAARRRGGGHHHH!" Baekhyun berlari menuju balkon. "KAU BRENGSEK-KAU BRENGSEK-KAU BRENGSEK, DASAR MAHKLUK PEMBAWA SIAL..!"
Melihat Tao yang telah terbang cukup jauh, membuat Baekhyun melompati pagar pembatas. Terbang menyusul Tao yang mengarah ke kanan, ke rooftop apartemen.
"Brengsek!" umpat Baekhyun.
Baekhyun mendecih kesal, ia mengigit kuku ibu jarinya lagi sambil menambah kekuatan kepakan sayapnya agar bisa menyusul Tao. Matanya melengkung tajam, mematai-matai Tao yang berhasil ia susul. Sesekali, ia mengetahui bahwa gerak terbang Tao tidak beraturan; menandakan bahwa Baekhyun berhasil melukai setidaknya di beberapa titik di sepasang sayap Tao yang terlihat kumal.
Baekhyun melihat ke sekitar. Banyak pohon-pohon rindang yang berdiri gagah dengan jarak yang beragam. Di balik pohon bermacam jenisnya, ada beberapa binatang liar yang terlihat bermain riang di bawah atau ranting pohon. Berdecak, namun mata Baekhyun memandang mereka dengan sorot lucu. Terlihat bahwa Baekhyun menyukai binatang-binatang itu. Ia berpaling menoleh ke belakang, dengan mata yang sedikit disipitkan karena kebetulan angin malam berhembus bersama beberapa helaian daun.
Gedung-gedung semakin mengecil, dan kebisingan khas kota semakin tidak terdengar. Ternyata Baekhyun telah sangat jauh dari kota. Dan Baekhyun menyimpulkan jika ia mengejar Tao yang terbang kearah hutan.
"Huh! bagus; itu bagus sekali~" gumamnya bahagia. "dengan begini, aku bisa menjadi lebih mudah untuk membunuh dia! Tak ada pengganggu!"
Baekhyun memandang sinis dan jijik pada Tao yang telah kehilangan konsentrasi terbangnya. Tak lama, Tao melayang jatuh kebawah dengan sayapnya yang mengembang kaku. Baekhyun terkikik senang saat melihat tubuh Tao berbenturan dengan tanah lembab hutan. Menimbulkan ringisan dan lirihan tangis yang cukup di dengar oleh Baekhyun yang bertelinga tajam.
Dengan terbang turun perlahan, bayangan Baekhyun yang sedikit terpantul dari sinar bulan bergerak kecil lagi. Bergerak seperti air yang beriak. Kembali keluarlah beberapa tali bayangan-fleksibel yang yang jumlahnya kini sedikit lebih bayak dari sebelumnya. Namun tali bayangan itu sedikit lebih tipis. Menari-nari diudara bersama pusaran angin kecil, lalu bergerak mengarah satu sama lain. Hingga pada akhirnya membentuk dua buah revolver otomatis.
Baekhyun menggenggam dua revolver itu erat-erat; seolah mengirimkan aura kebencian kepada revolver itu ketika melihat Tao yang terduduk menyandar pohon tak berdaya. Baekhyun melebarkan seringainya dan memelototkan sedikit keping mata kuning cerahnya.
Tao menunduk ketakutan. Ia ingin pergi dan berlari menghidari Baekhyun. Namun mengingat kondisi tubuhnya yang kesakitan karena jatuh menghantam tanah, luka di beberapa titik sayapnya; hingga darah yang mulai mengucur dari luka sebelumnya di balik kasa, menjadikan Tao tak bisa melakukan apapun.
Keringat menyembul dari pori-pori kulitnya. Dan tao merasakan jika suhu tubuhnya memanas-lemas-tak bertenaga. Matanya menatap keping mata Baekhyun dengan pandangan bertanya-tanya. Maka, dengan rasa penasaran yang menyelubungi hati, dan dengan nafas yang tersengal-sengal; Tao bertanya dengan nada lirih: "K-ke-kenapa kau menembakku..?"
"Apanya yang kenapa? Itu hal wajar untukku, 'kan?" Baekhyun menaikkan sebelah alisnya.
Tao terdiam membisu. Bibirnya meringis kesakitan ketika angin membelai lukanya yang mengucurkan darah segar.
"T-ta-tapi apa salahku..? Dan bukankah kita berdua sama—jadi, kenapa kau melukaiku..?"
Baekhyun terdiam. Kepalanya menunduk perlahan. Membiarkan keheningan malam di hutan mendera mereka. Tao menatap Baekhyun ketakutan. Air matanya mengalir merangsek dari pelupuk mata. Tao memanggil nama Yifan dalam benak berulang kali, berharap jika pria Wu itu datang kemari dan menyelamatkannya bagai pahlawan kebenaran.
Terdengar kukukan burung hantu dan suara koakan burung-burung nokturnal yang lain. Memecahkan angkasa malam di hutan yang terletak agak jauh dari kota. Langit malam kian menggelap, selain karena waktu mulai menunjuk larut, kemungkinan jika sebentar lagi tumpahan air bah akan jatuh menghantam bumi.
Bulan sabit tak lagi menampakan diri—acara menonton drama dua mahkluk bersayap terganggu oleh ulah nakal awan kelabu yang bermuram durja. Menyerah dan menyingkir, bersembunyi di belakang tirai pekat malam. Dengan kemungkinan kecil bulan sabit akan bertanya pada awan kelabu itu jikalau mereka akan bersua nanti.
Beberapa kemudian, Baekhyun mendongakkan kepalanya. Bersamaan dengan itu, dua buah revolver yang telah tersistem otomatis untuk menembak mengarahkan moncongnya pada wajah Tao.
Tao tekejut. Memekik tertahan dan mulai ketakutan. Tubuhnya bergetar dan mulutnya mulai mengeluarkan isak tangis lirih. Namun Baekhyun tak acuh; ia justru menikmati tangisan Tao.
Baekhyun tersenyum lebar; lalu menyeringai memamerkan deret giginya.
"Sama?
Aku dan mahkluk pembawa sial sepertimu dianggap sama?
Hah! Maaf saja ya, bahkan jika mereka bersujud padaku dan memohon-mohon sambil menangis darah pada kami—"
set!
Baekhyun mulai menekan pelatuknya kedua revolvernya perlahan.
"—aku tak akan sudi mengakui bahwa kalian adalah bagian dari kami..!"
—DOR!-DOR!-DOR!-DOR!
.
.
Yifan Wu terkejut ketika ia melihat beberapa anggota kepolisian dan para tetangga berkumpul di depan pintu rumah apartemennya. Berlalu lalang keluar masuk ke dalam rumahnya; membawa beberapa peralatan yang diperlukan seorang polisi ketika sedang menyidik tempat kejadian. Yifan tak mau tahu alat apa itu, yang ingin ia tahu adalah: ada apa yang sudah terjadi sebelum dirinya pulang ke rumah..?
Dadanya berdebar kencang ketika otaknya memproses asumsi negatif. Yifan menggelengkan kepalanya sedikit. Tangan kanannya menopang dahinya. Ia tidak mempedulikan bisikan orang-orang yang membicarakan dirinya yang masih diam di tempat. Tak ada yang mau mendekat, seolah Yifan adalah orang jahat yang patut dijaga jaraknya. Namun, ada salah satu dari beberapa tetangga itu menghampiri Yifan. Dengan mendesah lega, tetangganya yang merupakan seorang wanita paruh baya namun tetap terlihat awet muda tersebut berlari kecil kearah Kris.
"Syukurlah do'aku terkabulkan, Yifan anakku." lirih wanita setengah abad itu. Ia memeriksa kondisi Yifan yang masih terkena trans-mind dengan meraba dan membalikkan tubuh semampainya. "Kau baik – baik saja, sayang! Syukurlah, oh, benar-benar membuatku ketakutan saja!"
Yifan mulai mengambil kembali kesadarannya yang melayang-layang disuatu tempat, Kris tersenyum dan meundukkan sedikit tubuhnya. Memeluk lembut wanita yang telah ia anggap sebagai ibu kedua selama ini.
"Yes, mam. I'm fine now, so don't worried. Jangan menangis lagi, bu." Tangan Yifan mengusap punggung ringkih wanita dalam pelukannya yang gemetar. Ia merasakan bahwa tulang selangkanya basah.
"Ngomong – ngomong, ada apa dengan apartemenku? Kenapa banyak polisi dan tetangga berkumpul di sini?" Yifan menuntun wanita yang masih terisak untuk menemaninya berjalan mendekat ke rumah apartemennya..
Wanita itu menghela nafas sedikit untuk menenangkan diri, "Tadi terdengar suara tembakan dari tempatmu, sayang. Suara tembakan yang sangat brutal. Membuatku takut saat aku tahu bahwa suara itu berasal dari kamarmu. Karenanya aku berdo'a semoga kau baik – baik saja." Wanita itu tersenyum lega. Ia menepuk dada Yifan pelan.
"Fan..? Yifan..? Ada apa denganmu, sayang?" Wanita berambut pendek ikal itu menepuk lagi dada dan bahu Kris. Menyadari Kris yang tak lagi menuntunnya dan justru terhanyut dalam lamunan dunianya sendiri.
Mata Kris menatap lurus satu titik imajiner. Keping matanya bergerak-gerak gelisah. Kembali untuk kesekian kali akhir-akhir ini, nadinya berdenyut keras bersamaan dengan detak jantungnya yang berpacu.
Wanita itu terpekik kaget. "Yifan, ada apa..?! wajahmu pucat sekali, anakku!"
Yifan mencengkram dadanya yang terbalutkan t-shirt bergaris vertikal coklat abu-abu dengan erat. Nafasnya mulai memburu dan tercekat. Dalam pikirannya yang kembali mengalami trans-mind, sayup-sayup terdengar sebuah lagu yang ia dengar saat ia mengalami kehilangan kesadaran di bar tempat temannya mengadakan reunian—
"Yifan, ayo kita ke klinik! Sepertinya kau tidak sedang baik-baik saja! Ayo cepat, anakku!" wanita itu mencoba menarik Yifan untuk pergi. Namun ia masih bergeming.
—Lagu yang terdengar sendu, lirih, menyedihkan dan menakutkan di saat yang bersamaan. Bahkan kikikan sang penyanyinya pun ikut terbawa dan ikut menghiasi trans-mind–nya.
"... Tao..." bisik Kris dengan raut wajah khawatir, takut, dan sedih.
.
.
.
("is a sweet-heart sleep now..?
I want dancing with you,
Underneath the stars and the crescent moon,
Above the shadows, beside the fairy-trees,
With our pleasure, with our pleasure,
My love.")
.
.
.
See you next time!
.
Special thanks! a) readers b) reviewers c) favers-followers
