MY TEACHER IS MY (EX)BOYFRIEND

Disclaimer : Belong to SM, God, and theirselves :D This story is mine. Not for commercial.

Author : Lee Rae Ra / Iqlima

Genre : General, Romance

Rate : T

Length : Sequel

Summary : (New) Guru baru di sekolah Jaejoong adalah pacarnya dulu! Belum sempat putus tapi sudah pergi. Dan kini mereka berusaha menjalin hubungan lagi tetapi diganggu oleh dua penganggu! YunJae!

MY TEACHER IS MY (EX)BOYFRIEND

Dengan langkah gontai Jaejoong berjalan menuju perpustakaan. Dia terus menunduk dan tidak memperhatikan jalan sampai-sampai dia menabrak seseorang.

"Ah, maafkan aku!" seru Jaejoong begitu melihat yang ditabraknya adalah Junsu.

Junsu bangkit dan mengumpulkan bukunya dibantu Jaejoong.

"Kenapa kau ada di luar? Bukankah 2A jam Fisika?" tanya Junsu. "Hei, bibirmu kenapa? Berdarah! Cepat ke Ruang Kesehatan!" kata Junsu khawatir.

Jaejoong menggeleng lesu. "Biar saja, songsaenim."

"Kau belum jawab pertanyaanku, kenapa kau ada di luar?"

"Yunho songsaenim menyuruh saya mengerjakan PR di luar. Padahal saya sudah mengerjakan dan karena Changmin menumpahkan kopinya ke buku saya, jadi saya tidak bisa mengumpulkan PR. Ya sudah, sekarang saya mau ke perpustakaan." Jawab Jaejoong jujur dan apa adanya.

"Anak itu, dasar ya.." kata Junsu gemas.

Jaejoong menunduk. Dikiranya yang dimaksud oleh Junsu adalah Changmin, padahal bukan. Junsu menepuk bahu Jaejoong pelan.

"Ya sudah, kau ke Ruang Kesehatan dulu saja. Baru setelah itu ke perpustakaan untuk mengerjakan PR mu. Baik-baik, ya." Kata Junsu sambil pergi meninggalkan Jaejoong.

Jaejoong kembali melanjutkan langkahnya ke perpustakaan. Karena dia berjalan sangat lambat, dia pun baru sampai ke perpustakaan lima belas menit kemudian. Jaejoong bergegas menuju meja yang ada di pojok. Meja itu adalah meja favorit Jaejoong karena letaknya tersembunyi. Bukannya mengerjakan PR, Jaejoong malah tertidur.

: MY TEACHER IS MY (EX)BOYFRIEND :

Setelah bel pelajaran kedua berakhir, Yunho bergegas keluar dari kelas 2A. Dia sangat terkejut begitu melihat Junsu sudah berdiri di depan pintu kelas 2A. Junsu menyeret Yunho ke depan deretan loker.

"Ada apa hyung? Aku ada urusan." Kata Yunho.

"Urusan apa?! Kau ini jahat sekali ya! Kekasihmu sendiri kenapa malah kau hukum?!" semprot Junsu kesal.

"Aku kan tidak boleh pilih kasih, hyung. Di luar memang dia kekasihku. Tapi di sekolah kan dia muridku." Kata Yunho sabar.

"Setidaknya beri dia keringanan! Kasihan sekali dia jalan sendirian sampai menabrakku. Dan kau tahu tidak? Matanya sembab! Dia menangis!"

Yunho terperangah. "Dia menangis?"

"Kau tidak melihatnya? Jelas sekali dia menangis! Mungkin dia sudah menangis saat kau memanggilnya untuk menghukumnya! Bukan hanya itu! Bibirnya berdarah! BERDARAH! Bibirnya sudah merah begitu ditambah darah jadi tambah merah!" kata Junsu kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya.

"Benarkah?"

Junsu menjitak kepala Yunho kesal. "Kau ini benar-benar orang yang tidak perhatian ya! Kasihan sekali Jaejoong yang jadi kekasihmu!" seru Junsu.

"Lalu sekarang dia di mana?" tanya Yunho khawatir.

"Di perpustakaan." Jawab Junsu, lalu meninggalkan Yunho.

Yunho bergegas menuju ke perpustakaan. Sesampainya di perpustakaan, dia meneliti, mencari Jaejoong. Tetapi tidak ketemu. Kemudian Yunho sampai juga di pojok dan melihat Jaejoong yang sedang tidur.

Yunho tersenyum melihat wajah damai Jaejoong yang sedang tidur. Polos seperti anak kecil, menurutnya. Tapi dia langsung tertegun begitu melihat cairan merah yang masih keluar dari bibir Jaejoong. Malah sudah menetes ke meja.

Yunho mengeluarkan sapu tangan dari kantong celananya dan perlahan mengusap darah yang ada di bibir Jaejoong.

Jaejoong yang merasa terusik pun menggeliat. Dia membuka matanya dan menemukan Yunho ada di depannya. Bukannya bangun, Jaejoong malah kembali menunduk.

"Boo.. Kau marah padaku?" tanya Yunho lembut.

Jaejoong menggeleng. "Tidak. Sudah sana pergi, aku ingin sendiri." Usir Jaejoong.

"Yaa.. Itu namanya kau marah padaku."

"Tidak! Kau pergilah sana! Aku mau tidur lagi!" seru Jaejoong.

"Tidak ikut pelajaran?"

"Kemarin songsaenim sudah bilang kalau dia ada acara dan meninggalkan tugas untuk hari ini."

Yunho mengusap rambut Jaejoong, tapi tangannya ditepis oleh Jaejoong.

"Boo, aku tahu aku salah, aku minta maaf ya?"

Jaejoong mendongak. "Songsaenin, kumohon tinggalkan aku sendirian. Aku hanya ingin tidur, kumohon." Kata Jaejoong tegas.

"Jangan tidur di sini, di Ruang Kesehatan saja. Ayo aku antar."

Jaejoong menggeleng. "Kau itu sekarang sedang berperan jadi guruku. Jadi bersikaplah yang wajar!" kata Jaejoong ketus.

"Boo, aku tahu aku salah tapi tolong jangan bersikap kekanak-kanakan. Kau sendiri yang bilang kalau aku harusnya bersikap yang wajar. Itu tadi sikap wajar bagi seorang guru." Kata Yunho tegas.

Jaejoong tak peduli. Dia mengambil buku dan tempat pensilnya lalu segera meninggalkan Yunho. Yunho hanya bisa menatapnya tanpa berbuat apa-apa.

Yunho beranjak dari meja dan menuju ke Ruang Guru.

"Ya, ada apa?" tanya Yoochun melihat wajah Yunho yang kusut.

"Jaejoong marah padaku." Jawab Yunho lesu.

"Ah, kau main mata dengan yang lain ya?" tebak Yoochun asal.

Yunho menggeleng. "Dia tidak mengerjakan PR jadi kuhukum. Kusuruh dia mengerjakan PR di luar."

Yoochun melongo. "Kau ini parah sekali! Jika kekasihku yang belum mengerjakan PR, kumaafkan saja! Kau ini bodoh sekali ya!"

"Aku harus adil, hyung. Di sekolah aku ini gurunya, bukan kekasihnya."

"Tapi tetap saja kan! Dia masih anak-anak, Yun! Masih labil! Jelas kalau dia marah padamu! Seharusnya kau mengerti porsimu. Kalau mau menghukumnya, yang wajar saja. Kau suruh dia mengerjakan soal di depan, misalnya. Bukan malah mengusirnya keluar. Yang kau hukum siapa saja?"

"Hanya dia."

"Nah! Itu malah lebih parah! Dia akan merasa malu, Yunho! Apa kau tidak mengerti dunia anak sekarang? Jika dihukum sendirian itu rasanya malu sekali!" kata Yoochun gemas.

Yunho menggeleng polos. "Aku sudah lupa rasanya jadi anak sekolah.."

"Makanya belajar lagi! Kita sebagai guru yang masih muda harusnya bisa membaca dan mengerti pikiran anak-anak! Kalau guru yang tua sih sudah kuno, para siswa juga tahu. Tapi para siswa berharap banyak pada kita, para guru muda!"

"Begitu ya?"

"Ah, dasar kau ini! Sudahlah, aku mau kembali ke lapangan! Sudah ditunggu kelas 1C! Pikirkan dulu perkataanku!"

Sepeninggal Yoochun, Ruang Guru pun jadi sepi. Di dalam Ruang Guru hanya ada empat guru, Yunho dan tiga guru yang lain. Yunho bersyukur tidak ada Ara, kalau ada, dia akan menderita karena tidak ada Yoochun atau Junsu.

Yunho mengeluarkan ponselnya dan membuka Twitter. Di timeline nya sudah muncul akun Twitter milik Changmin yang mengunggah sebuah foto. Yunho mendelik begitu membaca tweet Changmin.

ChoiKangMax Lihat ini Jae hyung sedang menangis! Gara-gara Yunho songsaenim kan! (pic)

Yunho segera membuka link foto dan menemukan gambar Jaejoong yang sedang menunduk dia atas meja. Sungguh, hatinya terasa sangat sakit melihat foto itu. Tadi saat di perpustakaan Jaejoong terlihat tegar dan di foto itu Jaejoong terlihat sangat lemah.

Yunho keluar dari Twitter dan menulis sebuah pesan untuk Jaejoong.

To : BooJae

Boo, maafkan aku :( Aku tidak bermaksud menghukummu. Maafkan aku..

Yunho menunggu. Satu menit, lima menit, sepuluh menit, tapi Jaejoong tak kunjung membalas pesannya. Yunho gusar. Jaejoong bukan tipe orang yang meninggalkan ponselnya di tas. Jaejoong selalu membawa ponselnya kemana-mana dan dia cepat sekali jika membalas pesan.

Yunho bangkit dan keluar dari Ruang Guru, menuju kelas 2A.

: MY TEACHER IS MY (EX)BOYFRIEND :

Jaejoong masuk ke kelas dengan malas-malasan. Begitu melihat Jaejoong, suara tinggi Changmin langsung berkumandang.

"Hyuuunng!" seru Changmin.

Jaejoong tidak membalas Changmin. Dia langsung duduk dan menelungkupkan kepalanya di atas meja. Sedetik kemudian, terdengar suara isakan.

"Hyung.. Kau menangis? Ada apa?" tanya Changmin khawatir.

Jaejoong diam tidak menjawab, malah isakannya menjadi semakin keras. Changmin yang kesal melihat Jaejoong menangis pun segera memotret Jaejoong. Dia tahu Jaejoong menangis gara-gara Yunho.

"Ini untuk aku unggah, biar semua tahu kalau hyung ku menangis gara-gara Yunho songsaenim!" geram Changmin.

"Kau ini apa-apan sih Changmin.. Orang nangis kenapa diunggah ke Twitter.." kata Jaejoong dengan suara serak.

"Biar Yunho songsaenim tahu!" kata Changmin kesal sambil menulis sesuatu di layar ponselnya.

Terdengar suara getaran ponsel. Jaejoong mendongak dan mengambil ponsel dari saku kemejanya.

"Siapa hyung?" tanya Changmin.

"Yunho songsaenim." Kata Jaejoong sambil membaca pesan dari Yunho, setelah itu dia langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas.

"Tidak dibalas?" tanya Changmin heran.

"Tidak mau. Biar saja. Malas."

Jaejoong kembali menelungkupkan kepalanya. Sedangkan Changmin sudah sibuk makan.

"Kau merampok kantin lagi ya?" tanya Jaejoong tanpa mendongakkan kepalanya.

"Tadi habis Yunho songsaenim pergi aku langsung ke kantin dan beli ini semua. Hyung mau?"

Jaejoong menggeleng. "Tidak mau.. Sudah kenyang makan hati.."

Kemudian Changmin dan Jaejoong sama-sama diam, sedangkan suasana kelas ramainya sudah seperti pasar.

Pintu kelas terbuka dan kelas yang tadinya ramai menjadi hening seketika begitu melihat siapa yang berdiri di depan pintu.

"Kim Jaejoong." Panggil Yunho.

Jaejoong yang mendengar namanya dipanggil pun mendongak. Dia mendengus kesal begitu melihat Yunho yang memanggilnya.

"Ikut saya." Kata Yunho tegas.

Changmin menyenggol lengan Jaejoong. "Sudah, turuti saja. Kalau kau tidak menurutinya, yang lain akan curiga."

Malas-malasan Jaejoong berdiri dan menghampiri Yunho. Yunho berjalan keluar dan Jaejoong mengikutinya.

"Ke mana?"

"Kantin. Yuk cepat." Kata Yunho sembari menggandeng tangan Jaejoong.

Jaejoong berusaha menepis tangan Yunho tapi karena Yunho terlalu kuat jadi usahanya sia-sia saja. Begitu mereka berdua sampai di kantin, Yunho segera membeli tteopoki untuk Jaejoong, karena itu adalah salah satu makanan kesukaan Jaejoong.

"Ada apa, songsaenim?" tanya Jaejoong.

"Boo, jangan marah ya? Maafkan aku, aku memang terlalu keras menghukummu tadi. Aku janji tidak akan kuulangi lagi, asal jangan marah ya?"

Jaejoong menggeleng. "Aku tidak marah, songsaenim. Aku hanya bad mood saja. Tadi aku sudah menyalin milik Hyoyeon tapi Changmin menumpahkan kopinya ke bukuku.." kata Jaejoong.

"Kenapa tidak bilang dari tadi, Boo? Tahu begitu kau tidak akan kuhukum."

"Biar saja lah, sudah terlanjur."

"Bagaimana bibirmu? Masih sakit?"

Jaejoong menggeleng. "Sudah baikan kok. Tidak usah khawatir. Songsaenim, aku kembali ke kelas dulu ya? Bel pelajaran keempat sudah mau berbunyi, pelajaran Junsu songsaenim. Aku tidak mau terlambat. Nanti Junsu songsaenim memarahiku." Kata Jaejoong seraya berdiri.

Yunho ikut berdiri dan meletakkan sebungkus tteopoki yang tadi dibelinya ke tangan Jaejoong.

"Baiklah, tapi makan ini ya? Ayo, harus semangat belajar. Hwaiting!"

Jaejoong tersenyum melihat tingkah Yunho. "Songsaenim kekanak-kanakan sekali." Komentarnya, lalu tertawa.

"Oh iya, Boo. Nanti aku mau makan siang bersama Yoochun hyung, Junsu hyung, dan Ara. Jadi, jangan cemburu ya.."

"Siapa juga yang cemburu? Dasar guru jelek." Cibir Jaejoong kesal.

Yunho mengacak-acak rambut Jaejoong gemas. "Dasar kau ini."

: MY TEACHER IS MY (EX)BOYFRIEND :

Bel istirahat berdering. Hampir seluruh penghuni 2A langsung berhamburan ke luar kelas. Bisa ditebak ke mana mereka semua pergi. Sebuah surga bagi siswa yang bernama kantin. Jaejoong yang sedang malas ke kantin pun diam saat Changmin mengajaknya ke kantin.

"Hyung tidak lapar? Aku saja sudah lapar."

"Kau ini kan food monster. Sudah sana ke kantin sendiri, aku mau tidur saja lagi." Kata Jaejoong.
"Ah, hyung ini. Kapan pun di mana pun hanya tidur saja. Ya sudah, aku ke kantin dulu ya." Kata Changmin seraya meninggalkan Jaejoong.

Alasan Jaejoong tidak mau ke kantin sebenarnya bukan karena dia tidak lapar. Jujur, dia lapar. Tapi dia tidak ingin melihat Yunho bersama dengan Ara. Dia tahu Ara itu playgirl dan sekarang pasti Ara sedang mengincar Yunho. Apalagi ditambah dengan statusnya dan Yunho yang pacaran tapi hanya sedikit yang tahu. Ara pasti mengira Yunho masih single dan straight.

Jaejoong mengepalkan tangannya kesal. Kalau nanti Ara menggoda Yunho dan mengejar-ngejar Yunho, dia akan bersaing dengan Ara bagaimana pun caranya. Tidak peduli kalau Ara itu adalah guru. Cinta adalah medan perang. Harus diperjuangkan.

Jaejoong merasakan ponselnya bergetar di sakunya. Dia mengeluarkan ponselnya dan ternyata pesan dari Yunho.

From : Yunnie

Boo, aku merindukanmu. Bosan sekali di sini, dari tadi Ara terus berbicara tanpa henti. Aku, Yoochun hyung, dan Junsu hyung sampai mengantuk mendengarnya.

Jaejoong tertawa kecil membaca pesan dari Yunho. Kemudian jari-jarinya menari di atas layar ponselnya, mengetikkan balasan untuk Yunho.

To : Yunnie

Itu namanya nasib. Terima saja, songsaenim.

"Jaejoong, kau bisa keluar tidak?" tanya Yoona.

"Ha? Apa?"

"Begini, kemarin aku sudah pesan inventaris kelas ke toko, seharusnya kuambil hari ini. Tapi nanti kan ada remidial ulangan Matematika dan aku remidial, jadi aku tidak bisa mengambil. Kau kan tidak remidial, apa kau bisa mengambilnya? Aku sudah minta surat izin, tapi tadi kutulis pakai pensil jadi bisa dihapus, namanya bisa diganti. Bisa ya? Bisa? Kumohon.." pinta Yoona.

"Tokonya di mana?" tanya Jaejoong.

Wajah Yoona berubah cerah. "Dekat kok. Itu, GG Shop. Kau tahu kan? Jalan kaki saja bisa kok."

Jaejoong mengangguk. "Ya sudah, mana nota dan surat izinnya? Sudah dibayar kan?"

Yoona mengulurkan dua kertas pada Jaejoong. "Sudah kok. Terimakasih, Jae!"

Jaejoong mengangguk. "Oh ya, jika Changmin mencariku, bilang aku ke GG ya. Nanti dia khawatir."

Yoona mengacungkan jempolnya. Jaejoong tersenyum dan kemudian keluar dari kelas. Di tempat guru piket Jaejoong menunjukkan surat izinnya. Kemudian di pos satpam dia juga menunjukkan surat izinnya.

Dengan langkah gembira Jaejoong berjalan menuju ke GG Shop. Jaraknya hanya seratus meter saja dari sekolah, bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Begitu sampai di GG Shop, Jaejoong langsung menunjukkan notanya dan karyawan toko mengambilkan semua barang yang dibeli Yoona kemarin. Jaejoong menelan ludah begitu melihat banyaknya barang. Dia tidak tahu bagaimana cara membawanya. Dia tidak membawa kendaraan dan tentu saja kapasitas dua tangannya tidak akan cukup untuk membawa itu semua.

"Hei, kau yang kemarin kan?" tanya sebuah suara.

Jaejoong membalikkan badannya dan melihat sosok seorang laki-laki tinggi besar berbadan atletis berdiri di depannya.

"Ah, kau yang menabrak gerobak es krim itu ya.." kata Jaejoong setelah mengingat-ingat.

Laki-laki itu tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Kau masih mengingatku, ternyata. Choi Siwon."

Jaejoong membalas uluran tangan Siwon. "Jaejoong, Kim Jaejoong."

"Kau sedang apa di sini? Ini masih jam sekolah dan tentunya kau ini pelajar. Seragammu." Tanya Siwon.

Jaejoong menunjuk tumpukan barang yang dibelinya. "Ini, temanku memintanya mengambilkannya. Kukira sedikit, ternyata banyak sekali. Padahal aku jalan kaki, aku tidak bisa membawanya." Kata Jaejoong sedih.

"Oh, kalau begitu kuantar saja sampai sekolah. Aku bawa mobil kok. Aku juga sudah selesai belanja." Tawar Siwon.

Mata Jaejoong berbinar-binar. "Benarkah? Terima kasih sekali."

Siwon membantu Jaejoong mengangkut barang inventaris kelas ke dalam mobilnya yang diparkir di depan. Setelah itu, Siwon mengantar Jaejoong kembali ke sekolah.

"Mau kuantar sampai depan sekolah saja atau kubantu membawakannya ke kelas?" tanya Siwon.

"Mobilmu parkir saja di depan gedung, lalu biar nanti aku bawa sendiri ke kelas. Dua kali bolak-balik pasti bisa kok."

"Kubantu membawakannya sampai ke kelas saja." Kata Siwon.

Siwon membelokkan mobilnya memasuki halaman sekolah. Siwon menghentikan mobilnya tepat di depan gedung sekolah. Jaejoong turun dan mengambil barang-barang inventaris diikuti oleh Siwon.

Jaejoong dan Siwon berjalan berdua di koridor menuju ke kelas Jaejoong. Sesampainya di depan kelas 2A, Jaejoong mengetuk pintu dengan kakinya karena tangannya penuh. Terdengar suara Junsu dari dalam. Jaejoong pun membuka pintu dengan cara mendorongnya dengan badannya.

Separuh isi kelas sedang sibuk mengerjakan remidial, tetapi separuhnya lagi sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Dan mereka semua spontan terdiam begitu melihat Jaejoong masuk bersama seorang laki-laki tampan.

"Yoona, taruh di mana ini?" tanya Jaejoong.

"Di pojok saja, Jae."

Jaejoong berjalan menuju pojok kelas diikuti Siwon. Mereka berdua meletakkan barang inventaris dan menatanya dengan rapi.

"Siwon-ssi, terima kasih ya. Kau cepat pergi, aku masih ada pelajaran." Bisik Jaejoong di sela-sela kegiatannya.

"Tentu saja. Kau jangan lupa hubungi aku ya? Kapan-kapan kita makan siang bersama. Ini kartu namaku." Kata Siwon seraya memberikan kartu namanya pada Jaejoong.

Jaejoong mengangguk. "Tentu, sekarang cepatlah pergi."

Siwon berdiri dan meninggalkan kelas 2A. Seisi kelas kembali ke kegiatannya masing-masing. Jaejoong kembali ke tempat duduknya. Dia melirik ke arah Junsu dan dilihatnya Junsu sedang menatapnya tajam. Jaejoong buru-buru menunduk.

"Hyung, itu tadi siapa?" tanya Changmin.

"Oh, dia itu yang menabrak gerobak es krim dulu itu, yang menyebabkan tanganku dijahit." Jawab Jaejoong.

"Tapi kok Junsu songsaenim menatapmu tajam begitu ya? Tadi saat kalian berdua di pojok dia juga menatap kalian."

"Ah, iyakah?"

Changmin mengangguk yakin. "Apa dia itu pacarnya Junsu songsaenim?"

Jaejoong menjitak kepala Changmin, membuat sang empunya kepala meringis kesakitan.

"Bodoh! Junsu songsaenim kan pacarnya Yoochun songsaenim!" kata Jaejoong.

"Ya maaf!"

Jaejoong mengeluarkan ponselnya dan menemukan pesan dari Ryeowook. Jaejoong memencet tombol "open".

From : Wookie hyung

Jae, nanti pulang sekolah aku jemput ya? Aku mau mengajakmu mencari hadiah untuk Yesung hyung. Aku ingin membelikannya kue. Di JJ Cake.

Jari-jari tangan Jaejoong bergerak di atas layar ponselnya, membalas pesan dari Ryeowook.

To : Wookie hyung

Yesung hyung kan sedang tidak ulang tahun.

From : Wookie hyung

Aish, tidak apa-apa. Sekali-kali aku ingin memberinya kejutan. Mau ya?

To : Wookie hyung

Oke kalau begitu. Kutunggu nanti.

Jaejoong memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tiba-tiba dia mendengar sebuah suara. Tepatnya suara perutnya yang kelaparan karena belum diisi sejak tadi pagi. Changmin yang mendengar itu langsung tertawa.

"Hyung sok sekali, tadi diajak makan tidak mau. Sekarang kelaparan, kan?" ejek Changmin.

Jaejoong mencibir. "Aish, kau ini. Kau punya makanan tidak? Aku lapar sekali." Keluh Jaejoong.

Changmin mengangguk seraya mengangkat atap mejanya ke atas, memperlihatkan lacinya yang dipenuhi makanan. Jaejoong melongo melihat isi laci Changmin yang penuh makanan itu. Laci Changmin begitu penuh makanan sampai makanan-makanan itu berdesakan di dalam laci.

"Hyung mau apa? Ada tteopoki, cumi goreng, keripik kentang, keripik tortila, roti keju, roti coklat.. Ada banyak, hyung mau apa?" Changmin mengabsen makanan yang ada di lacinya.

"Roti coklat, sini!"

Changmin mengulurkan sebuah roti pada Jaejoong. Jaejoong segera menelungkupkan kepalanya di atas meja agar Junsu tidak tahu kalau dia sedang makan. Changmin mati-matian menahan tawa melihat Jaejoong yang makan saja kesulitan. Beda sekali dengan dirinya yang selalu aman dan nyaman makan di mana pun.

: MY TEACHER IS MY (EX)BOYFRIEND :

Junsu memasuki Ruang Guru dengan tergesa-gesa, membuat Yunho dan Yoochun yang sedang asyik bercanda melihatnya heran.

"Ada apa? Kau seperti dikejar setan." Komentar Yoochun.

"Aku tadi melihat Jaejoong bersama seorang laki-laki!" seru Junsu.

"Siapa? Changmin?" tanya Yunho sambil tetap bercanda dengan Yoochun.

Junsu menggeleng. "Seorang lelaki tampan." Kata Junsu dramatis.

Yunho spontan berhenti bercanda dan menatap Junsu tajam, meminta penjelasan lebih.

"Tadi saat aku mengajar di 2A, Jaejoong tidak ada. Yoona bilang kalau Jaejoong sedang mengambil barang inventaris kelas di GG Shop. Lalu, saat Jaejoong kembali, dia bersama seorang laki-laki yang membantunya membawakan barangnya. Dia sangat tampan, atletis, uh pokoknya dia sempurna!" seru Junsu berapi-api, membuat Yoochun cemburu.

"Siapa dia?" tanya Yunho.

Junsu menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi dia sepertinya sudah bekerja. Dia memakai jas dan tadi kulihat dia memberikan kartu nama pada Jaejoong!"

Yunho terkesiap. "Untuk apa dia memberikan kartu nama pada Jaejoong?"

"Aku tadi sudah menginterogasi Jessica karena dia duduk di belakang sendiri, tepat di dekat Jaejoong dan lelaki itu saat sedang menata barang inventaris. Katanya lelaki itu menyuruh Jaejoong menghubunginya lagi karena dia ingin mengajak Jaejoong makan siang berdua. Dan kata Jessica, Jaejoong bilang tentu saja."

Amarah Yunho meledak sampai ubun-ubun. Dia bangkit berdiri dan tangannya terkepal. Yoochun bergegas menahan Yunho.

"Hei, sabar! Duduklah! Cepat!" kata Yoochun sembari membantu Yunho duduk.

"Siapa dia? Seenaknya saja mengajak kekasihku makan siang, hanya berdua pula!" kata Yunho geram.

"Kau sabar saja! Kita lihat saja apa yang terjadi nanti! Kau berpikirlah yang positif!" seru Junsu.

Yunho mengelus-elus dadanya, menenangkan dirinya sendiri. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan untuk Jaejoong.

To : BooJae

Nanti pulang sekolah mau kuantar sampai rumah? Aku mau bertanya sesuatu padamu.

Dua menit kemudian, Jaejoong membalas pesan Yunho.

From : BooJae

Tidak bisa, Yunnie. Ryeowook hyung (dia kekasih Yesung hyung, jangan berpikiran yang tidak-tidak) mengajakku membeli kue untuk Yesung hyung.

To : BooJae

Di mana?
From : BooJae

Di JJ Cake. Seperti biasa, kan di sana enak sekali.

To : BooJae

Ya sudah, nanti aku ke JJ Cake saja. Aku ingin berbicara padamu.

From : BooJae

Oke, baiklah.

Yunho menghela nafas. Jaejoong tidak tahu, kalau JJ Cake itu adalah toko kue milik Ibu Yunho, Jonghyun. Singkatan JJ sendiri adalah Jung Jonghyun. Yunho kembali membuka ponselnya, menghubungi seseorang.

: MY TEACHER IS MY (EX)BOYFRIEND :

Ryeowook dan Jaejoong memasuki JJ dengan gembira. Hembusan angin segar yang dipancarkan AC menyambut mereka. Jaejoong meninggalkan Ryeowook yang sedang sibuk memilih-milih kue.

"Bolehkah aku ke dapur? Aku ingin melihat proses pembuatan kue." Tanya Jaejoong pada seseorang yang di dadanya terdapat tag bertuliskan "MANAGER".

Manager itu tersenyum. Tadi Yunho sudah meneleponnya, memesan kalau ada anak sekolah SM High School yang berkulit putih, berambut hitam, dan berbibir merah seperti cherry datang, dia harus diberi perlakuan istimewa karena nanti Yunho akan menyusulnya.

"Tentu saja, lewat sini." Kata sang Manager.

Dengan gembira Jaejoong mengikuti sang Manager. Tapi di saat mereka sedang ada di dapur yang sangat luas itu, Jaejoong terpisah dari Manager. Jadilah Jaejoong berputa-putar sendiri melihat proses pembuatan kue.

Jaejoong berhenti di depan sebuah pintu berwarna biru. Karena penasaran, Jaejoong pun masuk lalu menutup pintunya. Jaejoong sangat terkejut ketika ruangan yang dimasukinya itu sangat sempit dan juga gelap. Jaejoong panik, dia baru akan membuka pintu ketika dia mendengar suara pintu dikunci. Jaejoong terkunci.

"Oh, tidak.."

: MY TEACHER IS MY (EX)BOYFRIEND :

Yunho memasuki JJ Cake. Semua karyawan yang melihatnya langsung membungkuk sopan. Yunho bergegas menghampiri Manager.

"Ahjussi, di mana anak itu?" tanya Yunho langsung.

"Tadi saya mengantarkannya ke dapur melihat proses pembuatan kue, tapi saya terpisah dengannya. Saya mencarinya tapi tidak ketemu." Jawab Manager.

Yunho terkesiap. "Dia tidak ada di mana pun?"

Manager menggeleng. Pada saat itu Yunho mendengar suara ribut dari pintu dapur. Yunho bergegas menuju asal keributan dan menemukan seorang namja cantik sedang menangis.

"Tapi tadi Manager nya bilang dia ada di dapur!" seru namja itu.

Yunho mendadak mengerti. Namja itu pasti Ryeowook, yang dibilang Jaejoong sebagai kekasih Yesung.

"Maaf, apakah anda Ryeowook? Kekasih dari Kim Yesung?"

Namja itu menatap Yunho. "Iya, anda siapa?"

"Saya Yunho. Di mana Jaejoong?"

Ryeowook menggeleng. "Aku mencarinya tapi dia tidak ketemu. Dia hilang. Aku tidak tahu dia di mana. Dia tidak mungkin keluar karena dari tadi aku ada di dekat pintu." tangis Ryeowook.

Yunho langsung bergegas menuju dapur. Dia mencari Jaejoong ke mana saja tetapi tidak ketemu. Dia berteriak-teriak memanggil nama Jaejoong tetapi tidak ada jawaban. Yunho benar-benar putus asa dan khawatir.

: MY TEACHER IS MY (EX)BOYFRIEND :

"TOLONG! TOLONG!" seru Jaejoong lemah.

Tentu saja Jaejoong tidak bisa berteriak. Ruangan yang sempit dan gelap telah melemahkannya. Jaejoong menderita klaustrofobia, yaitu takut pada ruangan sempit. Perlahan tubuh Jaejoong merosot ke bawah. Dia kekurangan oksigen karena ketakutannya telah mengalahkannya, jadi dia tidak bisa bernafas dengan benar.

"To..long.." kata Jaejoong lemah, sebelum akhirnya dia jatuh pingsan.

.

.

.

To Be Continued...

.

.

Maafkan kalau chapter-chapter sebelumnya tidak memuaskan :( Aku sudah coba perbaiki, jadi kumohon terus beri review agar aku tahu apa yang harus aku perbaiki..