Title : Drabble
Author : XiuMinSeok
Length : Drabble ber Chapter/?
Genre : YAOI
Cast : Kim Nam Joon dan Min Yoongi BTS
Rate : T
Warning :
Yaoi, BL, Typo, No Siders
so don't like don't read!
XiuMinSeok
present
DRABBLE : Feelings
DO NOT COPY MY FF
.
.
.
.
.
DISCLAIMER
PRINCE JIN PUNYA AUHTOR.
BYE!
DRABBLE ini tercipta KARENA author sedang dilanda krisis keuangan/? Hubungannya/?
THANKS TO : VkookieRW qyraaa Phylindan U hee AviorSecretum KkamCon Penjahat FanFic TaeKai En Ice Rakun Yohohot savEarth suyanq GUEST! DAN SEMUANYA! Gak bisa balas review billing, tidak memungkinkan/?
.
.
.
HAPPY READING :3
"Jadi ada apa, Yoongi?" Mata hitam Nam Joon melihat ke arah seorang Pria Kecil yang duduk di sampingnya di atas sofa.
.
.
.
.
.
"Ahh, anou –" Pria Kecil atau Yoongi menundukkan kepalanya. Bibir penuhnya ia gigit, mata bulatnya tertutup oleh poni yang mulai panjang. "Aku –" Yoongi tidak tahu harus mulai dari mana. Ia tidak berani menatap Nam Joon—seseorang yang telah dikenalnya semenjak Junior High School—karena Yoongi akan menjadi aneh nantinya.
.
.
.
.
.
Aneh seperti sesak napas.
.
.
.
.
.
Jantung berdetak tidak normal, dan Yoongi merasa akan memuntahkan semua isi perutnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mata sipit Nam Joon seakan bisa melihat diri Yoongi yang paling dalam. Itu lah yang Yoongi rasa.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hah –" Nam Joon mendesah berat, bibir bawah yang sedikit tebal itu bergerak. Ia mendecih. "Kau seperti anak gadis saja!"
.
.
.
Yoongi mendongak, matanya yang bulat itu melebar sempurna, seperti mata kucing di malam hari.
.
.
.
.
.
.
Nam Joon tertegun beberapa saat. Kemudian ia berdeham dan menggelengkan kepalanya.
"Tuh kan!" Nam Joon tergelak. "Benar-benar seperti anak gadis."
.
.
.
.
.
.
"Kalau begitu?" Yoongi memicingkan matanya tidak suka. "Apakah aku cantik?" Ia bertanya dengan nada mengejek.
.
.
.
.
.
.
.
Ehh?
.
.
.
Nam Joon kembali tertegun. Pertanyaan macam apa itu tadi? Tentu saja Yoongi kelewat manis untuk ukuran seorang laki-laki. Tapi Yoongi masih punya sesuatu di bawah sana—sama dengan yang Nam Joon punya—dan kata cantik sangatlah tidak pas.
.
.
.
.
.
.
"Jadi sebenarnya ada apa?" Nam Joon kembali menanyakan hal yang sama alih-alih menjawab pertanyaan Yoongi tadi.
.
.
.
.
DEG!
.
.
.
.
.
Yoongi menunduk lagi, hatinya tiba-tiba mencelos. Agak egois memang, ketika kau—dengan paksa—mentitah seorang teman untuk datang ke Apartemenmu pada jam 10 malam. Tapi Yoongi ingin segera memastikan perasaannya terhadap Nam Joon—teman satu sekolahnya di Senior High School. Yoongi harus memastikannya sekarang juga!
.
.
.
.
.
Yoongi menarik napas panjang lalu menghembuskannya pelan. Ia mendongakkan kepalanya sekali lagi dan menatap lurus ke arah mata itu. Mata yang selalu berhasil membuat seorang Min Yoongi merasa – aneh.
.
.
.
.
.
Nam Joon mengangkat sebelah alisnya. Hidungnya mengendus, tanda ia merasa ada yang ganjil pada temannya malam ini. Toh, Nam Joon tidak ambil pusing. Ia merebahkan badannya di sandaran sofa.
"Jadi ada Apa Yoongi?" Tanya Nam Joon lagi.
.
.
.
.
.
.
"Izinkan aku menatapmu!" Yoongi menjerit.
.
.
.
.
.
.
.
"Apa?" Nam Joon tidak mendengar jelas apa yang Yoongi kata—jeritkan—barusan. Ia memijat pelipisnya, lelah juga meladeni temannya ini.
.
.
.
.
.
.
.
"Izinkan aku menatapmu, Nam Joon – ah." Yoongi berkata dengan pelan sekarang, membuat Nam Joon memberikan perhatiannya secara penuh.
.
.
.
.
.
"KAU –" Nam Joon menjadi tegang di posisi duduknya sekarang. "Apa?!" Nam Joon mengira kalau Yoongi sudah gila.
.
.
.
.
.
Min YOONGI ORANG GILA!
.
.
.
.
.
"Boleh atau tidak?" Yoongi menatap datar ke arah Nam Joon. Reaksi Pria tinggi itu terlalu berlebihan menurut Yoongi.
.
.
.
Yah! Menatap teman lelakimu memang hal yang biasa.
.
.
.
.
.
Nam Joon yang melihat Yoongi seperti itu mengedikkan bahunya. "Baiklah."
.
.
.
.
.
.
Yoongi dan Nam Joon saling bertatapan. Seperti mencari sesuatu dari masing-masing pihak. Yoongi selalu merasa kalau Nam Joon adalah namja yang sempurna. Nam Joon memiliki senyum yang lebar, mata sipit, dan hidung mancung. Tubuhnya tinggi dan ia jago rapp.
Yoongi selalu berpikir kalau ia hanya iri pada apa yang dimiliki Nam Joon. Karena itu lah Yoongi bersimpati. Tapi apakah debaran itu juga wujud dari simpati?
Yoongi menatap ke dalam bola mata hitam Nam Joon. Seperti sumur tanpa dasar. Seperti sebuah gang tanpa ujung. Tanpa penerangan. Benar-benar hitam. Bukan seperti sebuah kegelapan yang menakutkan, tapi menggelitik.
Yoongi berdebar dengan sangat kencang dan tidak terkontrol saat ia mendapati bibir Nam Joon yang merah
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Nam Joon – ah?" Yoongi sadar rasa yang dimilikinya bukan sekedar simpati atau rasa iri akan fisik Nam Joon. Bukan juga perasaan kagum karena sifat wibawa yang seringkali Nam Joon tampakkan. Melakukan berbagai macam hal bersama semenjak di Junior High School menumbuhkan perasaan yang lebih kuat dan menuntut dari sekedar rasa simpati pada diri Yoongi untuk Nam Joon.
.
.
.
.
.
.
"Ne?" Nam Joon mengkerutkan dahinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Saranghae!" Yoongi mencium bibir Nam Joon. Karena ia mencintai Pria itu lebih dari apapun.
.
.
.
.
AND MY LAST WORDS
THANKS FOR READING :)
AND REVIEW PLEASE
#AEGYO BARENG XIUMIN
