Part Of Soul

.

.

.

Genre :

Romance, Drama, Hurt/Comfort, Angst(?), Friendship, Family.

Warn :

Messing EYD, typo(s), cerita gaje, OOC, slash/yaoi/BL (Boys Love) and many imperfections that's you can find from my story.

Rated :

T - M(?)

Cast :

Lu Han as Wu Luhan

Oh Sehun as Oh Sehun

Wu Yifan as Wu Yifan/Kris

Pair :

HunHan

ChanBaek

KaiSoo

Kris Tao

And other.

...

..

.

Chapter : 3

Luhan menatap ragu pada pemandangan di hadapannya, ia lalu menatap gegenya yang berada di sebelah nya.

"Gege yakin?" Luhan bertanya tak yakin pada gegenya, mata rusa miliknya bergerak - gerak gelisah. Ia menggigit bibir bawahnya, saat rasa gugup melumuri jari jemarinya.

"Tentu." Jawab Kris, ia tersenyum geli melihat tingkah rusa so tampan ini. Kemarin saja, ia dengan kukuh ingin cepat - cepat memulai kuliahnya. Tapi saat ini? Ckckck. "Kka, sekarang turunlah. Gege akan mengantar mu."

"Ania, ge. Aku akan mengurusnya sendiri."

"Ck, kau ini keras kepala sekali, eoh. Jja gege antar. Dan tak ada penolakan." Kris lalu membuka pintu mobilnya. Ia melihat kepada Luhan yang masih tetap diam. "Ayo Lu, kau takut eoh?"

Luhan memincingkan matanya tak suka, lalu mengerucutkan bibirnya.

"Baiklah. Adik gege yang tampan, ayo cepatlah turun."

Dengan tak rela Luhan turun dari mobil sport berwarna metalik itu, wajahnya menunduk menyembunyikan paras manisnya. Tangannya memegang ujung kemeja yang dikenakan Kris erat. Kepalanya hanya menunduk, ia terlalu malu saat beribu pasang mata menatap heran kearahnya.

"Lu, soal permasalahan administrasi telah gege urus. Kau hanya perlu masuk ke kelas."

"Hem." Jawab Luhan seadanya.

"Baiklah. Ayo, gege antar."

Luhan menggeleng tak mau, ia masih menunduk kedua tangannya masih memegang ujung kemeja berbahan denim yang dikenakan oleh Kris.

"Aniya, aku bisa sendiri. Gege urus saja urusan gege." Luhan mencoba menghentikan langkahnya, ia lalu memandang Kris dengan tatapan kukuhnya.

"Tak ada. Bagaiman jika kau tersesat, kau terlalu ceroboh untuk ku tinggalkan sendiri. Dan umma akan memanggangku hidup-hidup jika kau kenapa-kenapa."

Luhan mengerutkan alisnya, ia tak suka dengan apa yang ditentukan oleh gegenya.

"Aniya." Luhan menggeleng tak mau. Ia berhenti berjalan dan menatap gegenya tajam. "Aku akan melakukannya sendiri. Dan aku tak peduli, itu urusan gege dan umma jangan libatkan aku."

Dan Luhan pun melangkah menjauhi tempat Kris berdiri. Ia berjalan dengan langkah tergesa dan kepala yang tertunduk karena rasa malu. Ia berjalan menyusuri tiap lorong yang ia lewati, kini ia berjalan diantara sebuah bangunan yang terasa sepi. Berjalan di sebuah bangunan besar yang tak ia kenal untuk mencari satu kelas entah mengapa terasa menyulitkan baginya. Seharusnya ia mendengarkan apa yang dikatakan oleh gegenya, tapi ia terlanjur kesal jadi tak ia hiraukan apa yang gegenya katakan.

Tanpa sadar Luhan terus berjalan semakin dalam memasuki area kampusnya. Banyak pintu yang ia temukan namun ia tak kunjung menemukan kelas nya juga. Haa'h... ini di mana, Luhan sungguh tak tau di mana ia berada ia bahkan tak ingat di posisi nya pertama kali. Ia memang payah mengenai menentukan arah. Seandainya saja gegenya disini... tapi tidak. Ia bisa melakukannya sendiri, ia tidak akan tergantung pada gegenya.

Luhan masih berjalan dengan hening yang menemani. Ia terus berjalan sampai kedua matanya melihat satu objek yang begitu ia kenali. Langkahnya terhenti saat ia melihat sosok itu sedang berjalan bersamaan dengan sosok namja lainnya. Sosok itu, Oh Sehun terlihat tumbuh dengan baik, ia semakin tampan saja dengan rahang tegasnya juga tubuh tetapnya. Luhan semakin merapatkan dirinya ke tembok saat Sehun terlihat begitu bahagia bersama dengan temannya dulu bahkan saat bersamanya Sehun tak pernah sebahagia itu. Oh, Luhan lupa bahwa Sehun tak pernah bahagia jika bersamanya.

Rasa rindu kian membuncah di dadanya. Memberikan debaran kencang yang bertalu-talu seakan mampu merobek kulitnya. Rasa hangat Luhan rasakan bersarang pada pipi tembamnya. Namun...

Matanya memanas, hatinya teriris pedih melihat bagaimana dekatnya mereka. Luhan sadar bahwa ia mungkin tak berarti apa-apa lagi di mata seorang Oh Sehun, tapi mengapa ini begitu menyakitkan. Dua tahun sudah berlalu tapi mengapa ini masih terasa sama. Luhan tak mampu terlepas dari jerat Oh Sehun.

Air matanya tanpa bisa dibendung mengalir begitu saja. Ia hanya mampu memandang mereka di balik tembok dengan lelehan air mata yang terasa pedih. Tanpa Luhan duga Kyungsoo berbalik dan menatap kearahnya, Luhan yang saat itu tak tau apa yang harus ia lakukan hanya mampu bersembunyi di balik tembok dan kemudian berlari. Berlari menjauh. Menjauh dengan hati yang tercecer jatuh berserak tak berbentuk lagi, bongkahan rasa yang perlahan ia bangun kini kembali terurai, jatuh terhempas dan kembali hancur.

Luhan berlari dengan lelehan air yang mengalir di pipi mulusnya. Luhan berlari tanpa memperdulikan apapun lagi, bahkan ia tak peduli saat beberapa orang menatap heran dan berdecak kesal kearahnya. Luhan kemudian terdiam saat sadar ia sudah berada jauh dari tempat awal ia berdiri, tanpa ia sadari ia terlalu jauh memasuki kawasan kampus dan Luhan tak tau kini ia berada di mana. Setelahnya Luhan hanya melangkah pelan sambil mengusap matanya yang basah. Terus berjalan sambil menunduk sampai ia tak menyadari seseorang berlari kearahnya dan menabrak dirinya.

"Omo! Maafkan aku! Aku benar-benar tak sengaja." Sosok itu memekik heboh saat melihat Luhan yang terduduk pasrah di lantai dengan ringisan yang samar terdengar.

"Maafkan aku! Kau tak apakan, aku sungguh-sungguh minta maaf."

"Aniya... aku tak apa." Luhan menjawab sambil melemparkan senyumannya yang seolah mengatakan aku baik dan tenang saja. Luhan kemudian bangkit dibantu sosok yang menabrak dirinya.

"Syukurlah..." Sosok itu menghela lega. "Eum... aku tak pernah melihat mu sebelumnya. Apa kau baru?"

"Ne" Luhan mengangguk-nganggukkan kepalanya. Dengan mata rusa yang berbinar penuh kepolosan.

"Kyaaa! Kau manis sekali! Siapa namamu, eoh?" Sosok itu kembali memekik heboh.

"A.. Luhan. Dan aku tidak manis." Luhan mempout kan bibirnya sebal.

Sementara sosok itu malah tertawa melihat tingkah Luhan membuat kerutan samar di sekitar pelipis Luhan.

"Ne..ne... aku paham." Sosok itu berdehem kecil untuk menetralkan suaranya. "Baiklah Luhan-ah, perkenalkan aku Byun Baekhyun."

"Aku Luhan, salam kenal Baekhyun-ssi. Eum.. Baekhyun-ssi, bolehkah aku meminta bantuan?"

"Tentu Luhan-ah. Apapun untuk mahluk menggemaskan seperti mu." Baekhyun melemparkan senyum indahnya untuk Luhan. "Memang apa yang bisa kulakukan untukmu?."

"Tolong antar aku ke kelas. Aku tak tahu dimana kelas ku berada, dan sepertinya aku tersesat."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun kini sedang berada di kafetaria kampus. Ia berjalan ringan dengan sosok lain yang hanya menundukkan kepalanya malu.

"Ayo Luhan-ah, kenapa kau malu-malu seperti itu eoh?" Baekhyun menarik lengan Luhan penuh semangat menuju meja di ujung sana di dekat jendela.

Sebenarnya Baekhyun tak menyangka bahwa mahluk menggemaskan ini ternyata satu kelas dengannya. Saat melihat Luhan pertama kali Baekhyun mengira bahwa Luhan adalah adik kecil yang sedang tersesat di kampusnya dengan bibir bergetar, mata sembab dan pipi memerah, tapi ternyata Luhan satu angkatan dengannya malah berada di kelas yang sama dengannya.

"Jadi Luhan, kau adalah namja asal China?" Baekhyun bertanya, kedua lengannya menarik bangku untuk ia duduki.

"Ne." Luhan menganggukan kepalanya. "Aku memang berasal dari China, tapi aku juga pernah tinggal di Korea untuk beberapa tahun."

"Woo! Benarkah? Aku juga memiliki beberapa teman berasal dari China dan hampir semuanya menyebalkan. Aku harap kau mau menjadi temanku yang menggemaskan. Kau tau aku seringkali merasa terintimidasi bila berada di dekat mereka, mereka terlalu kolot untuk ku ajak bercanda."

Luhan tersenyum pelan mendengar penuturan dari teman beberapa saat yang baru dikenalnya ini. Ia masih saja gugup dan yang ia lakukan hanya menunduk sambil memainkan jari jemari tangannya.

"Benarkah?" Luhan lalu mendongakkan kepalanya dan mata coklatnya menatap Baekhyun.

"Benar!" Seru Baekhyun semangat. Ia kemudian mengambil buku

menu yang berada di hadapannya. "Luhan, mengapa kau manis sekali eoh? Aku benar-benar ingin memakan mu. Kau sungguh-sungguh yeoppo."

Luhan mengerucutkan bibirnya sebal. Ia menatap Baekhyun tak suka.

"A..aku tidak manis, Baekhyun-ah. Aku.. aa..aku tampan." Lanjut Luhan pelan, ia lalu kembali menatap Baekhyun serius. "A..aku tampan dan berkarisma. Tidak manis dan menggemaskan."

Baekhyun tertawa melihat wajah Luhan yang lucu dengan pipi menggembung dan bibir tipis yang mengerucut. "Haah... terserah kau saja wahai tuan tampan. Baiklah aku akan pergi memesan, kau ingin makan apa?"

"Mungkin pasta dan dua cup bubble tea."

"Eh, mengapa dua?"

"Karena aku menyukainya." Ujar Luhan senang.

"Buble freak." Tanggap Baekhyun singkat. "Baiklah, tuan ku yang berkarisma ini tunggu saja di sini. Aku akan memesankan untukmu." Dan Baekhyun pun hanya terkekeh melihat bagaiman lucunya Luhan yang mengangguk setuju dengan mata yang berbinar penuh semangat.

Baekhyun melangkah memesan makanan saat ia akan kembali ia tersenyum senang melihat sahabatnya yang tampak berjalan menghampirinya.

"Kyungie!" Seru Baekhyun semangat, "kau tau, aku menemukan teman baru. Ia pindahan dari China. Ia sangat menggemas— ekhmm.. maksudku tampan dan berkarisma seperti bayi rusa."

"Eum... Benarkah? Kau selalu bilang bahwa Yeolli mu itu yang paling tampan. Tapi kali ini aku mendengar kau memuji ketampanan seorang bayi rusa."

"Tapi itu berbeda Kyungie. Ia sangatlah manis, tapi ia tetap bersikukuh bahwa dirinya tampan. Aku tak habis pikir dengannya. Nanti akan ku kenalkan Kyungie ku yang manis ini padanya."

"Eum.. memang sekarang ia di mana?"

"Ia di sini. Ayo!" Baekhyun menarik lengan Kyungsoo menuju satu meja yang kini di tempati oleh satu namja yang saat ini sedang sibuk memainkan smartphone miliknya.

Kyungsoo menggeleng pelan. "Maaf Baek tapi tidak sekarang. Ada hal yang harus ku urus." Kyungsoo lalu melemparkan senyum manisnya pada Baekhyun. "Mungkin lain kali, aku juga penasaran terhadap bayi rusa yang tampan itu."

"Baiklah, mungkin lain kali saja. Kau tau ia sangat menggemaskan sepertinya ia akan sangat cocok dengan mu."

"Ya, aku harap kami bisa berteman dengan baik." Ia menatap Baekhyun. Baekhyun hanya tersenyum manis, ia pun melambaikan tangannya lalu berjalan menghampiri satu namja mungil yang nampak sibuk memainkan smartphone miliknya.

"Nah tuan tampan pesananmu sudah sampai. Dua cup bubble tea ukuran jumbo untuk rusa mengge— ekkhm... maksudku yang berkarisma ini." Baekhyun menyengir saat melihat rusa bulat itu menatap tajam dirinya saat ia tanpa sengaja mengucap kata manis.

"Ne, terimakasih Baekhyun-ssi, maaf merepotkan mu." Luhan berujar pelan.

"Tak apa. Apapun untuk rusa manlyku."

"Luhan.."

Luhan mendongak saat suara Baekhyun memanggil namanya. Ia kemudian menatap Baekhyun dengan tatapan heran.

"Luhan apa hobi mu? Kau mungkin saja bisa memilih klub yang kau inginkan."

"Aku sebenarnya menyukai sepak bola." Ujar Luhan pelan. Jari jemarinya menyendokan pasta pada bibir mungilnya, mengunyahnya dengan mulut mengembung penuh.

"Benarkah?"

"Tapi tidak lagi." Ujar Luhan lirih.

"Eh, kenapa?" Tanya Baekhyun heran.

"Mungkin karena aku mulai menyukai musik." Luhan tersenyum manis kearah Baekhyun dengan pipi yang mengembang membentuk eye smile indah.

"Wah! Bagaimana jika kau ikuti klub musik saja bersama kami."

Luhan menggeleng pelan, menjawab tawaran Baekhyun.

"Ehh, lalu kau akan memilih apa?" Tanya Baekhyun heran.

"Entahlah, mungkin sepak bola."

"Tapi, kau bilang kau sudah tak menyukainya."

"Emm.. mungkin tidak untuk kali ini."

"Ya.. terserah kau.." Baekhyun menatap Luhan aneh. "Tapi, boleh kan aku mengantar mu? Kau tau kan, tadi saja kau tersesat seperti anak hilang. Tak menutup kemungkinan kau akan tersesat lagi, lagipula aku mengenal manajer tim sepak bola ini."

"Eum.. tentu Baekhyun-ssi, aku sangat senang kau membantu."

Luhan tersenyum manis. Ia senang bisa bermain lagi, tak ia pedulikan bagaimana nanti tanggapan Kris gegenya. Yang penting ia senang saat ini, dan gegenya itu urusan nanti.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Di sebuah lapang sepak bola terdapat empat sosok namja yang sedang berbincang ringan di tepi lapangan. Dua diantaranya; Chanyeol dan Kim Jongin, nampak terengah-engah dengan peluh memenuhi tubuhnya, membuat basah jersey yang mereka kenakan. Sementara dua orang lain; Sehun dan Kyungsoo, nampak santai dengan pakaian kasual mereka. Sehun terkekeh pelan sambil sesekali mengacak surai Kyungsoo gemas.

Baekhyun melambaikan tangannya, ia menghampiri keempat orang yang berkumpul di tepi lapang sana.

"Yeoll!" Seru Baekhyun, ia tersenyum senang lalu menghampiri pria jangkung itu.

"Ada apa Baek, apa kau mencariku?" Tangan pria itu mengusap helai Baekhyun lembut, tak memperdulikan bagaimana reaksi menyebalkan dari teman-temannya.

Sehun memincingkan matanya melihat satu sosok mungil yang merapatkan diri pada sisi tubuh Baekhyun. Entahlah ini hanya perasaannya saja atau bukan, tapi entah mengapa jantungnya terasa berdegup cepat.

Luhan?

Apakah mungkin itu dia, tapi mengapa sosok itu terlihat berbeda. Sehun memperhatikan dalam diam, tak ia pedulikan Kyungsoo yang menepuk lengannya pelan memberikan satu pancaran signal atas spekulasi yang berkecamuk dalam kepalanya.

Aku tahu.

Gumam Sehun pelan, sebagai hipotesa awal yang ia dapatkan dari apa yang ia lihat melalui hitam kelam tajam retina matanya.

"Aniya, Yeoll..." Baekhyun menggeleng pelan. "Aku memang sengaja pergi ke sini untuk mengantar temanku."

Luhan yang berada di sebelah Baekhyun hanya menunduk, kedua tangannya mengepal erat.

"Perkenalkan ini Luhan, teman baruku. Ia ingin mengikuti klub sepak bola."

Luhan melangkah maju, tangannya mencengkeram erat lapisan fabric yang membalut kakinya. Dengan gugup gemetar dan tangan basah ia mencoba bersuara. Membungkuk sejenak, sebagai salam dan membuka suara miliknya.

"Lu.. Lu..han imnida." Gemetar, pelan dan nyaris berbisik. Mata bulat bening itu bergerak-gerak gelisah tak mampu menemukan satu titik objek sebagai kunci utamanya, jelas ia gugup. Terlalu gugup. "A..aku Luhan, a..aku ingin mengikuti klub ini. Eeum.. senang berkenalan dengan kalian."

"Apa kau yakin akan mengikuti klub ini?" Namja berkulit tan eksotis, berwajah rupawan yang memiliki stok libido berlebih angkat bicara. Bukannya ia meremehkan atau apa, tapi dilihat dari segi fisik yang ia tangkap jelas namja ini tidak mencukupi, kurang mencukupi tepatnya. Ia tak yakin tubuh kurus kering yang dilapisi kulit berwarna pucat itu mampu menerjang mengambil hati si kulit bundar dan menggiringnya menuju mulut gawang.

"Ne..." kepala itu mengangguk pelan, lalu ia mendongak menatap Kai— namja berkulit tan, dengan raut serius. "Aku yakin akan mengikuti klub ini."

"Baiklah, baiklah. Syarat mu mudah saja. Kau, giring bola itu dari sisi sebelah selatan menuju utara dan memasukannya kedalam gawang. Tapi," Jeda sejenak. "Aku, Chanyeol dan anggota tim ku yang akan menghadang mu. Tepatnya, kau akan bermain dengan kami sebagai lawannya. Apa kau sanggup?"

Luhan meneguk ludahnya, entah kenapa liquid itu kini terasa begitu berat tersangkut dalam tenggorokannya saat melihat beberapa tubuh bongsor bercetakan otot itu tengah berlatih ringan di tengah lapangan. Ia kemudian kembali berbalik menatap Kai dan mengangguk yakin.

Luhan melangkah menuju lapangan diikuti Kai dan Chanyeol, meninggalkan tiga sosok di belakangnya.

"Kyung, dia adalah orang yang ingin aku kenalkan padamu. Bagaimana, ia manis bukan?"

Kyungsoo tak menjawab, ia hanya terdiam melihat bagaimana tubuh mungil itu bergerak lincah memainkan bola bundar itu. Ia terdiam memperhatikan sosok Luhan, Luhan yang ia kenal adalah namja manis bertubuh mungil dengan tas lusuh dan baju kebesarannya, ia mengenal Luhan sebagai seorang siswa beasiswa yang selalu dibuli, Luhan adalah namja baik dengan hati malaikat sebagai daya tariknya dan paras manis serta tingkah menggemaskan menjadi magnet tersendiri bagi namja itu. Kyungsoo memandang Sehun. Laki-laki itu terdiam, tak bergeming sama sekali.

Luhan berusaha memasukan bola, tubuh kecil itu dengan lincah melewati beberapa pemain. Lima menit sudah berlalu namun Luhan belum juga mampu memasukan bolanya pada gawang, peluh sudah memenuhi tubuhnya, nafasnya sudah terengah, dan tenaganya sudah di ambang batas. Luhan mencoba menggiring bola bundar itu, ia menatap gelisah melihat Kai dan Chanyeol berada di depan akan menghadang dirinya. Luhan berfikir sejenak mencoba melihat cela, ia menendang bola itu membiarkan benda bulat itu berputar melayang melewati Kai dan Chanyeol, setelahnya ia berlari cepat memanfaatkan tubuh kecilnya dan kembali menangkap bola lalu menggiringnya, hingga sampai kira-kira satu meter dari kotak pinalti Luhan menendangnya. Dan berhasil.

"Goaaalll!Kau hebat Luhan-ah!" Baekhyun menghambur kelapangan berteriak heboh dan menerjang Luhan, memeluk pria mungil itu erat.

"Kau hebat, Luhan. Jjang!" Baekhyun menciumi pipi Luhan, dan ia dengan gemas akan mencubit pipi gembil milik Luhan. "Kyaa! Kau menggemaskan, aku menyukaimu!"

Luhan hanya mengangguk, matanya berbinar senang. Ia tertawa senang, rasa lelah miliknya menguar entah kemana.

Chanyeol dan Kai menghampiri Luhan.

"Selamat, kau lolos. Dan Baek, kau bisa melepaskan pria itu." Baekhyun hanya nyengir, ia lalu menerjang Chanyeol memeluknya erat.

"Channie~~ aku menyayangimu." Baekhyun mengecup bibir Chanyeol, Chanyeol hanya terkekeh pelan dan mengusak rambut lembut Baekhyun.

"Nado..." bisik Chanyeol, ia lalu mengecup kening Baekhyun dan memeluk pria kesayangannya erat.

"Bisakah kalian menghentikan opera sabun kalian, ini bukan tempat yang tepat untuk bermesraan!" Kai mendelikan matanya tak suka melihat tingkah pasangan menyebalkan itu, ia lalu tersenyum manis menatap sosok mungil Luhan yang masih sibuk mengatur nafasnya.

"Dan selamat untukmu, manis. Kau hebat, meskipun tubuhmu kecil dan emm— sedikit meragukan, tapi kau berhasil melewati kami dan memasukan bolanya." Kai lalu mengulurkan tangannya disertai senyuman hangat miliknya. "Perkenalkan aku Kim Jongin, kau bisa memanggilku Kai. Itu sahabatku dan kekasihnya; Park Chanyeol dan Byun Baekhyun,"

Chanyeol menghampiri Luhan dan menjabat tangannya. "Park Chanyeol imnida."

Luhan tersenyum tipis dan mengangguk pelan. "Luhan imnida."

"Dan mereka berdua," Chanyeol menunjuknya dengan tatapan mata pada arah Sehun dan Kyungsoo berdiri. "Sahabatku yang lainnya, Oh Sehun dan Do Kyungsoo."

Luhan berjalan dengan ragu menghampiri Sehun, kepalanya menunduk dengan gemetar ia mengulurkan tangannya.

"Luhan imnida." Luhan berucap pelan.

Tak ada balasan. Tangan mungil itu tetap mengambang hampa di udara. Sehun masih terdiam menatap datar pada lengan mungil yang terulur padanya. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun, ia tetap membiarkan lengan itu mengembang, dan tanpa kata Sehun meninggalkan Luhan.

Kyungsoo gelagapan, ia tak tau harus melakukan apa melihat tingkah Sehun. Ia lalu menatap Luhan dan Sehun bergantian.

"Ah... maaf..." Kyungsoo sedikit membungkuk kemudian berlalu mengejar Sehun, meninggalkan Luhan yang hanya berdiri terdiam dengan tangan yang masih terulur.

Baekhyun tertawa kikuk, ia lalu menghampiri Luhan.

"Tak apa Lu, mereka memang seperti itu. Jangan terlalu dipikirkan." Luhan hanya mengangguk samar.

"Ya, aku mengerti. Mereka mungkin merasa tak nyaman karena kedatangan orang asing seperti ku." Luhan melemparkan senyum manisnya pada Baekhyun, "tak apa, Baekhyun-ah, aku mengerti."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Luhan berjalan sendiri, mukanya merenggut sebal, bibirnya mencebik kesal tubuh mungilnya terus berlalu melewati koridor yang kosong.

"Ish menyebalkan! Jika ingin pergi pacaran jangan ajak aku untuk ikut menunggu. Dia sendiri yang mengajakku pergi bersama, tapi dia juga yang meninggalkanku! Menyebalkan!" Luhan kesal pada Baekhyun, namja itu sendiri yang menyuruhnya menunggu untuk pulang bersama tapi namja itu juga yang meninggalkannya karena ada kencan dadakan.

"Lain kali aku takan tertipu lagi,"

Ponselnya bergetar pelan ada sebuah pesan masuk dari gegenya.

From: Awesome Gege

Lu, Gege akan pulang agak terlambat karena ada sesuatu yang harus Gege urus. Lulu tak apakan jika menunggu Gege. Gege janji, tak akan lama. Dan bagaimana keadaan mu, kau ini pergi begitu saja tanpa memberitahu gege, kau tak apa kan, kau tak tersesat kan, tak bertemu dengan berandal kan? Aku sungguh akan menghajar mereka jika mengganggumu, Lu. Ingat, jangan berulah, atau akan Gege adukan pada Umma.

Ps: pakai jaketmu dan jangan terlalu memaksakan diri, Gege tak mau mengurusmu bila kau kembali sakit.

Luhan tersenyum membaca pesan miliknya, sesekali alis tipisnya berkerut samar membaca rangkaian frasa yang menyebalkan. Sambil melangkah jari-jari lentiknya ia gunakan untuk mengetik membalas pesan.

To: Awesome Gege

Gege~~ jangan teerlalu berlebihan. Aku tak apa, tidak tersesatterlalu jauh, tidak ada yang mengganggu ku. Aku baik-baik saja Gege, dan Yak! Jangan adukan pada Umma, ish, Gege menyebalkan. Dan Gege tenang saja, aku bisa pulang sendiri Gege. Aku masih hapal jalan untuk pulang. Dan ya, aku memakai jaket milik ku, karena aku tau betapa cerewetnya Gege tampan ku ini. Dah Gege! Sampai jumpa di rumah Gege, Lulu menyayangi mu :* :*.

Send.

Ok.

Luhan tersenyum cerah, ia lalu menatap smartphone miliknya dan segera mematikan smartphonenya. Dengan begini Gege tak bisa protes, kkkk.. kikiknya dalam hati.

Luhan berjalan pelan, hari sudah sore matahari hampir pulang keperadabannya. Luhan terkesiap saat seseorang menarik tangannya kencang dan menubrukan tubuh mungilnya pada dinding dengan keras, ia mengerang punggung dan kepalanya terbentur keras.

"Kau!"

Belum juga Luhan bernafas dengan benar, ia merasakan bahunya dicengkeram dengan erat, dan seseorang mendesis tajam tepat di wajahnya.

Oh Sehun.

Ya, itu Oh Sehun. Berdiri memojokkan dirinya, berdiri dengan raut tak bersahabat miliknya.

"Apa maksud semua ini, Luhan?" Matanya memincing tajam menatap bengis pada Luhan. "Jelaskan!"

"Apa maksudmu, hah?!" Teriak Sehun marah.

Luhan tersentak, gelagapan, ia mencoba bersuara meskipun semuanya terasa sulit dan parau.

"Menjelaskan apa? A-apa yang harus aku jelaskan, apa— a..aku tak mengerti."

"Jangan pura-pura bodoh!" Bentak Sehun. "Apa maksudmu hah?! Kenapa kau kembali?"

"Kenapa kau kembali setelah begitu saja pergi, hah?! APA MAKSUDMU?!" Sehun meraung keras meneriaki Luhan.

"A..Aku tak tau..." Luhan kehilangan kata-kata miliknya, ia mencoba meneguhkan hatinya, "a-aku tak mengerti," bisiknya, "aku tak tahu dan aku tak mengerti karena aku tak pernah meninggalkanmu! Aku tak tahu dan aku tak mengerti karena memang aku tak pernah pergi darimu, aku tak pernah pergi darimu, Oh Sehun."

"Aku tak pernah pergi, karena kau yang meninggalkanku, aku tak pernah pergi karena kau yang mendorong ku jauh darimu, aku tak pernah pergi karena kau yang membuatku menyerah atas dirimu."

"Aku tak pernah pergi Sehunna... hiks, tak pernah... tidalk sekalipun." Luhan terisak pelan, menunduk menatap ujung sepatu miliknya. Ia tak tau harus bagaimana lagi, ia bingung harus berkata apa lagi.

"Tatap aku Luhan."

"Tatap aku!"

"Hiks.." dengan masih terisak, Luhan menatap Sehun dengan sayu. Ia tak bisa terus menatap mata hitam yang mengintimidasi dirinya tajam.

"Dengar." Sehun berbisik pelan, terasa beku dan dingin. Kedua tangannya menangkup pipi Luhan.

"Kau masih menjadi bagian dari ceritaku, aku tetap berhak atas dirimu. Aku tak peduli baik itu kau ataupun aku yang pergi meninggalkan kau tetap milik ku. Ingat Luhan kau milik ku!"

Luhan menggeleng, tidak. Ini tidak boleh. Ia dan Sehun tak memiliki hubungan apapun, tidak setelah apa yang terjadi selama ini.

"Tidak..."

"Aku bukan bagian dari kisah mu lagi. Semua telah selesai. Semua telah selesai Oh Sehun, dan seharusnya kau mengerti itu!"

"Tidak, Luhan! Kau adalah milik ku! Tak peduli apapun yang terjadi kau tetap milik ku, milik Oh Sehun!"

"Kau tidak mengerti Oh Sehun! Kau tidak mengerti. Kau tidak mengerti bagaimana tersiksanya aku bersamamu, kau tidak mengerti bagaimana sulitnya aku bertahan dengan sisi egoismu. Kau egois! Kau egois hiks..."

"Aku tak peduli!" Teriak Sehun. "Aku tak peduli, kau milik ku sialan!"

"Aku bukan milk mu la— hmmppff ha- emppfftt.." Sehun memotong ucapan Luhan dengan ciuman kasar miliknya. Sehun melumat bibir Luhan keras, menghisap dan mengecup liar. Ia gigit keras bibir Luhan, menerobos masuk. Terus memagut menumpahkan segala emosi yang ada. Tak ia pedulikan Luhan yang meronta keras, tak ia pedulikan air mata yang mengucur deras dari pipi Luhan menerobos masuk melewati celah-celah pagutan mereka memberikan rasa asin diantara anyir karat besi dan hangat mint yang bercampur aduk dalam redupnya cahaya jingga yang menyorot hangat di langit barat. Tangan kekar miliknya ia gunakan untuk menarik rambut lembut Luhan sementara tangan lainnya ia gunakan untuk menekan bahu mungil Luhan.

Sehun melepaskan pagutannya. Ia menatap Luhan yang kini terengah dengan kaus basah oleh saliva rambut tak beraturan dengan peluh membasahinya dan wajah memerah padam dengan jejak air mata yang memenuhinya.

"Kau milik ku Luhan." Serak, dingin dan rendah itu berbisik tepat di telinga Luhan, "Kau milik ku! Dan takan ada yang membantahnya."

Sehun kembali membenturkan Luhan pada dingding batu yang keras dan dingin, lalu beranjak pergi meninggalkan Luhan yang jatuh terduduk lemas dengan isakan lirih bentuk frustasi miliknya.

.

.

.

.

Luhan berjalan dengan lemas, duapuluh menit ia menunggu bus tapi tak kunjung datang juga. Jadi, keputusan terakhirnya adalah berjalan pelan menyusuri jalanan dengan gelapnya langit malam dan bekunya udara. Ia terisak samar, dadanya terasa berdenyut nyeri. Tak ia pedulikan tangan mungil miliknya yang sudah kebas.

Dingin. Tapi hatinya lebih mendingin. Sakit. Tapi hatinya jauh tersakiti lebih dalam. Sampai di apartemen, Luhan hanya berjalan gontai menuju kamarnya, mengunci pintu, mematikan lampu dan menangis terisak.

Ia menghabiskan malamnya dengan meringkuk di balik selimut yang menenggelamkan tubuh kurusnya.

Tok.. tok.. tok.

"Lu, apa kau di dalam?"

"Apa kau sudah tidur Hannieya?"

Tok... tok.. tok..

"Luhan.. Kau sudah makan?"

"Luhan... Luhan..."

Luhan tetap terdiam, ia tak mau menjawab. Luhan terisak pelan dan menenggelamkan kepalanya di bantal. Luhan meringkuk memeluk tubuhnya, ia menangis tersedu sampai tengah malam, ia menangis tersedu sampai ia lelah, ia menangis tersedu sampai matanya memberat sampai ia tertidur lelap.

Luhan terbangun, ia mengerang keras saat pening menyerang kepalanya. Ini masih pagi. Terlampau pagi. Bahkan langit masih gelap, udara masih berhembus beku. Dengan langkah terseok Luhan berjalan menuju kamar mandi. Luhan berdiri di bawah guyuran shower, kepalanya menempel lemas pada batu marmer dinding kamar mandi. Ia memejamkan matanya, merasakan dingin yang menjalari tubuh mungil miliknya.

"Mengapa Sehun? Mengapa hiks, mengapa? MENGAPA?!" Luhan jatuh terduduk pasrah.

"Mengapa kau begitu menyebalkan, mengapa kau begitu egois, mengapa kau menjadikan ku sebagi obsesimu, hiks?! Kau sialan! Menyebalkan! Tapi mengapa aku terus jatuh terperosok dalam sosok mu?! MENGAPA, HAH?! hiks.. hiks.. hiks.. Aku tak mau hiks, aku tak bisa.."

Luhan terduduk pasrah di lantai, terus menangis dan terisak di tengah guyuran dingin shower, Luhan menangis sampai tanpa sadar tubuhnya melemas dan matanya terpejam.

.

.

.

.

.

.

Kris menatap Luhan heran, "Luhan, kau baik-baik saja, kan?"

"Ada apa hem? Kau begitu pucat? Apa kau sakit? Kau tak perlu masuk hari ini jika sakit, jangan terlalu memaksakan diri."

Luhan menggeleng. "Aku tak apa Gege, jangan terlalu berlebihan." Luhan menatap Kris dan tersenyum manis. "Aku tak apa Gege ku yang tampan, dan aku akan pergi masuk ke kelas."

"Ha-ah... dasar kepala batu. Nah, habiskan sarapan mu, dan minum obatnya. Jangan terlalu lelah, dan makan yang benar. Kita berangkat."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Lu, kau membawa perlengkapannya kan?"

Luhan tersenyum manis, "tentu Baek, ini hati pertama latihan ku. Aku akan mempersiapkannya dengan baik."

"Baiklah kita pergi cepat, kau tau Channieku bukan termasuk tipe orang yang memiliki toleransi tinggi terhadap waktu. Baginya waktu sangat berharga, jangan biarkan waktu mengalir lolos begitu saja melewati sela jari-jarimu." Baekhyun berbinar sembari membayangkan betapa mengagumkannya Chanyeol.

"Terserah kau.." Luhan masuk kedalam rest room untuk mengganti baju miliknya.

"Baek, menurutmu ini bagaimana?" Luhan keluar menghampiri Baekhyun dan menatap prihatin pada baju longgar yang ia kenakan.

Baekhyun memekik senang, ia berjingkrak-jingkrak tak jelas melihat Luhan yang begitu manis tenggelam dalam kaus sepak bola yang ia kenakan. Benar-benar manis, tak ada manly-manly nya sama sekali.

"Kyaa! Astaga kenapa kau manis sekali, eoh? Aku benar-benar ingin menggigit mu Lu. Kyaaa! Kau manis!"

Luhan merenggut tak suka, "Ish Baek, aku tidak manis? Kau lihat," Luhan memperlihatkan bisep miliknya yang sebesar ranting dahan dan tertelan ratanya tulang. "aku manly Baekhyun-ah... Manly.. Man-Ly!"

"Ahahaha... Baiklah tuan tampan, aku akan memberikan sentuhan terakhir agar kau terlihat lebih memukau."

"Apa itu Baek?"

"Kemarilah Lu, aku akan menguncir rambut mu?"

"Yak! Mengapa menguncir rambut ku? Aku ini manly!"

"Ck, kau ini. Memang siapa bilang jika menguncir rambut itu tidak manly. Kau tau kan Steven Seagal, ia selalu nampak begitu 'pria' saat memainkan perannya, ah! Atau Matt Damon? Aktor itu bahkan menguncir rambutnya dalam film barunya, atau Genji si mafia Jepang kejam itu selalu menguncir rambutnya. Bahkan rata-rata Duke macho di Inggris hampir semuanya menguncir rambutnya, kenapa kau tak mau? Sini biar aku ikatkan."

Luhan menurut saja saat Baekhyun menyisir poninya dan mengikat rambutnya.

"Bagaimana?" Tanya Luhan penasaran. "Apakah aku semakin tampan? Baek, apa kau merasakan aura yang semakin berat tidak, atas ketampanan ku ini?"

"Kemarikan kacanya Baek. Ish, aku ingin bercermin... kemarikan." Luhan mencoba meraih cermin yang Baekhyun pegang. Tahu itu akan sia-dua Luhan melepaskannya. Ia berjalan menuju kaca yang tertempel apik di dinding.

Tapi tunggu. Apa ini. Apa maksudnya ini. Di depannya berdiri namja pendek kurus dengan kulit putih pucat berdiri dengan jersey yang menenggelamkan tubuhnya, rambut halus miliknya di ikat dengan gaya Apple's hair. Apanya yang manly, Luhan bahkan hampir menjatuhkan rahang miliknya, ohh... Ia sungguh tak sanggup melihat pantulan dirinya.

"Baek!" Jeritnya tak terima. "Kau tipu aku! Hiks, kau bilang aku akan manly seperti Matt Damon. Tapi apa ini? Hiks.. hiks.. Aku ini manly Baek, bukan seperti anak perempuan berusia lima tahun dengan kunciran duriannya!"

"Kau tega! Aku akan melepasnya."

Baekhyun berteriak heboh saat Luhan akan melepas ikatan rambut miliknya, "Jangan! Jangan dilepas, Lu. Cup... cup... cup... Jangan menangis Lulu tampan kok, jadi jangan dilepas ok? Nah sekarang kita pergi, yang lain sudah menunggu."

.

.

.

.

"Baek, kenapa kau baru kemari?"

"Channie~ aku pergi mengantar Luhan dan menemaninya sebentar."

"Hn." Gumam Chanyeol malas.

"Eh, Lu. Kau kenapa? Kau habis menangis?" Kai bertanya heran melihat Luhan yang terus menunduk dengan wajah basahnya.

"Aku dibodohi Baekhyun, Kai."

"Ehh.. memangnya kau diapakan olehnya Lu?"

"Aku dibohongi, Baekhyun bilang aku akan manly jika menurut apa yang ia katakan, tapi manly apanya bahkan sepanjang koridor banyak yang menertawai ku."

"Ahahaha... pantas saja. Ah, Lu! Sebaiknya kita cepat ke lapang, ada monster merah yang sudah menunggu kita."

Luhan merenggut sebal, dengan gemas ia menghentakan kakinya menuju lapang, ia bergabung dengan anggota lainnya melakukan pemanasan, peregangan dan dan latihan penguasaan bola. Hampir empat puluh lima menit ia melakukannya dan ditambah dua puluh menit untuk melakukan sparing. Luhan berjalan gontai menuju pinggir lapangan, ia sungguh lelah, tubuh mungil miliknya tak pernah berhenti bergerak selama lebih dari satu jam.

"Apa yang kau lakukan di sini albino?" Kai bertanya heran melihat Sehun yang berdiri berdampingan bersama Kyungsoo di pinggir lapangan. Kai merasa heran sebab untuk apa albino cadel itu datang kemari, kemarin saja jika bukan ada urusan yang penting Sehun takan mau datang ke sini.

"Tidak ada. Aku hanya ingin melihat sejenak perkembangan kalian. Apa itu salah?"

"Tidak juga sih.." jawab Kai ragu, Sehun hanya mendengarnya pelan, ia lalu mengedarkan matanya melihat seorang namja pendek kurus dengan baju kebesaran juga rambut yang diikat seperti pohon kelapa sedang berdiri di samping Baekhyun memalingkan pandangannya mencoba menghindari Sehun.

"Hyung!" Seru Sehun keras, ia menyeringai saat Luhan mulai diam memperhatikan. Sehun lalu merangkul bahu Kyungsoo lembut dan membawanya dalam dekapan miliknya. "Menurut kalian kami— aku dan Kyungsoo, cocok tidak jika bersama?"

"Menurut ku kalian tampak begitu serasi." Ujar Baekhyun penuh antusias. "Apa kalian tengah berhubungan?" Tanyanya penasaran.

"Tidak hyung, aku dan Kyungsoo akhir-akhir ini tampak begitu dekat."

Lalu Chanyeol membuka suara sambil merangkul Baekhyun. "Kau harusnya meresmikannya albino, apa kau tega menggantung hubungan kalian dengan status pertemanan; sahabat sejiwamu itu?"

"Aku hanya ingin menjalani dulu hyung," Sehun tersenyum tipis. "Tapi akan ku coba." Lanjutnya sambil mengecup pipi Kyungsoo.

"Kyaa! Kau memang harus melakukannya Oh Sehun. Kyungie manisku memang cocok dengan mu, ya meskipun kau menyebalkan, tapi aku menyetujuinya. Bukankah kalian memang sangat dekat, sekalian saja kalian resmikan hubungan kalian bukankah itu lebih baik? Iya kan, Lu?" Baekhyun memekik heboh, ia lalu menatap Luhan dengan mata berbinar. Luhan hanya tersenyum manis, dan mengangguk pelan. Luhan lalu menatap pada Sehun dan Kyungsoo.

"Kalian memang serasi, kalian pantas bersama." Ucap Luhan pelan. "Emm... Baekhyun, Kai dan Chanyeol, sepertinya aku tak bisa berlama-lama di sini. Aku ingat aku ada janji dengan Mr. Park untuk melakukan matrikulasi tentang mata kuliahnya. Dan sekali lagi selamat untuk kalian, semoga kalian bahagia." Luhan membungkukkan badannya, ia lalu meraih tas perlengkapan miliknya dan segera pergi beranjak dari lapang.

Punggung kecilnya bergetar pelan menahan isakan, ia berlari-lari kecil hingga sampai belokan koridor pertama Luhan berhenti, ia terisak pelan sambil memukul-mukul dadanya.

"Mengapa ini terasa sesak hiks, mengapa hiks... mengapa begitu sakit... harusnya... harusnya aku baik-baik saja.. harusnya aku menerimanya... tapi kenapa hiks.. Aku tak bisa.. kenapa..hiks.." Luhan terus terisak, ia lalu mengerang pelan saat kepalanya terasa begitu sakit dan dadanya terasa sesak, benar-benar sesak. Semuanya terasa benar-benar kosong dan perlahan pandangannya mengabur, namun sesaat sebelum semuanya menggelap ia melihat sesosok namja yang menghampirinya.

.

.

.

.

.

TBC

.

Ok... saya tahu saya telat. Sangat telat. Saya tak berharap lebih dari ff ini, masih ada yang inget dan mau baca aja saya udah sukur. Untuk chap ini saya no komen... dan saya mau ucapin banyak terimakasih bagi readernim yang baik hati mau mengingatkan saya untuk melanjutkan ni ff. Emang sih di sini Luhan kesiksa tapi tenang aja saya termasuk tipe orang yang gak suka ending yang tragis... jadi kayanya ini bakalan happy end... ya meskipun saya gak tau kapan ending nya.. yang pasti saya akan berusaha untuk melanjutkan dan menamatkan ff saya.

Sekali lagi terima kasih.

And see ya!

.

.

.

.

Akhir kata

.

.

.

.

Mind to Review?