A/N : Telaaaaatttt... Gomenasai, minna-san! Kemarin, seharian koneksi internet saya ngambek... jadi hari ini sepulang ujian, dari kampus saya muter-muter cari wi-fi... setelah dapat dan nge-bales semua PM dan review reader-san sekalian, koneksinya putus! Jadi maafkan saya... terus saya pergi karaoke-an sama teman *info nggak penting banget*, jadi jangan bunuh saya kalau agak telat... oke?

Saya harap chapter ini cukup panjang dan memuaskan... silahkan review yakk, untuk menyemangati jemari saya menari di atas keyboard laptop!


Chapter 3


"A little reckless bravery may end up saving your life."
― Henry Chancellor


Sudah waktunya pulang. Naruto melangkah keluar dari ruang kelasnya dalam diam sementara teman-teman di sekitarnya saling berseru dan tertawa, membicarakan rencana mereka sepulang sekolah. Naruto tidak pernah begitu tertarik pada apa yang akan dilakukan teman-temannya mengingat dirinya tak pernah diundang sekali pun. Rasanya ingin tertawa, mengingat bagaimana dia dulu diejek dan dijauhi, namun setelah ia menyelamatkan Konoha, semua orang tiba-tiba berusaha akrab dengannya.

Bukannya ia membenci mereka. Ia menyukai semua penduduk desa, apa pun yang mereka lakukan terhadapnya. Namun Naruto tetap manusia, 'kan? Beberapa hal akan sulit dilupakan begitu saja.

"Dengar, dengar! Kemarin ayahku bercerita tentang peperangan yang terjadi di bukit belakang Akademi!" Naruto mendengar salah satu anak... Ranmaru? Bercerita penuh semangat pada temannya.

"Whoa! Keren sekali!" teman lainnya mendesah kagum.

"Yup! Ayahku salah satu tim yang melawan mereka. Dia kembali ke rumah menjelang pagi dengan tubuh penuh luka. Sepertinya pertempuran yang luar biasa! Kata ayah, mereka berhasil memukul mundur shinobi Kumo hingga mereka kabur ketakutan!"

"Ha! Ayahmu terluka setelah pertempuran itu? Ayahku hanya lecet sedikit!" seru anak lain yang dikenali Naruto sebagai Eikichi.

"Ayahmu tidak ikut di pertempuran itu, Eikichi! Dia Cuma chuunin biasa!" bantah Ranmaru.

"Jangan sembarangan! Ayahmu sendiri juga chuunin. Dan dia terluka parah dalam pertempuran ringan. Bukannya itu berarti ayahmu ninja yang jelek, harus terluka parah dalam pertempuran ringan?" ejek Eikichi.

"Enak saja! Ayahku melindungi rekan-rekannya! Ayahmu Cuma tergores sedikit, bukankah itu artinya ia menghabiskan lebih banyak waktu untuk bersembunyi, bukannya bertempur?"

"Tahu apa kau! Ayahku ninja yang hebat!"

"Ayahku lebih hebat lagi!"

"Tidak! Ayahku lebih hebat!"

"Ayahku!"

"Ayahku!"

"Ayahku!"

"Ayahku!"

"Baiklah!" kata Ranmaru akhirnya. "Kita akan buktikan kata-kataku. Kita akan pergi ke bukit dan melihat bekas pertempurannya. Akan kubuktikan kalau ayahmu tidak bisa apa-apa!"

Eikichi menyetujuinya.

"Ano... Bukankah bukit di belakang Akademi itu berbahaya? Bagaimana kalau ternyata masih ada shinobi Kumo di tempat itu?" Haruno Sakura berusaha menghentikan ulah bodoh kedua teman sekelasnya. Kedua anak itu hanya mendengus keras kepala.

"Biarkan saja, Sakura!" kata Ino. "Kalau mereka mau ke sana, biarkan saja. Kalau terjadi apa-apa pada mereka, toh bukan urusan kita!"

"Tapi Ino-chan..."

"Biarkan saja!" sambil berkata demikian Ino berbalik dan meninggalkan halaman depan Akademi.

Naruto tidak tertarik sama sekali mengenai pertengkaran dua orang itu. Ia hanya duduk di ayunan favoritnya dan mulai berayun pelan, menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Ia hanya menatap dikejauhan saat anak-anak yang lain bubar, dijemput oleh orang tuanya masing-masing. Naruto tahu Kakashi akan menjemputnya sebentar lagi.

"Naruto! Kau mau ikut ke taman bersama kami, tidak?"

Naruto dapat mendengar suara Kiba memanggilnya. Naruto menoleh. Kiba, Shikamaru dan Chouji berada di gerbang Akademi, melambaikan tangannya (hanya Kiba. Shikamaru tampak malas seperti biasa dan Chouji tengah makan keripik kentang favoritnya). Dibelakang ketiga anak itu, ia bisa melihat Inuzuka Tsume, ibu Kiba dan Nara Shikaku, ayah Shikamaru berdiri dan mengobrol sedikit. Mendengar anaknya memanggil nama Naruto, Tsume menoleh dan tersenyum pada Naruto.

"Sana! Pergilah bermain di taman bersama Kiba!" kata Tsume pada Naruto.

"Eh? Tapi Kakashi-nii akan menjemputku..." kata Naruto sambil menghampiri rombongan itu.

"Tidak apa!" kata Tsume. "Aku yang akan bilang pada Kakashi untuk menjemputmu di taman nanti."

Naruto tersenyum. Kebanyakan orang dewasa hanya mengernyit akan keberadaannya, namun beberapa shinobi tertentu menunjukkan sikap yang cukup bersahabat. Paling tidak, Tsume dan Shikaku mengizinkan Naruto bermain dengan putra mereka, tidak seperti orang tua murid lain yang berusaha menjauhkan anak-anak mereka dari Naruto si Monster.

Tsume menitipkan ke empat anak itu pada Shikaku (yang menerimanya sambil bergumam, "Merepotkan...") dan melesat mencari Kakashi. Keempat anak itu mengobrol dengan riang sepanjang perjalanan menuju taman. Setelah mereka mencapai taman yang dimaksud, Shikaku mengatakan ia harus ke ruang misi untuk menyelesaikan beberapa urusan dan meninggalkan Naruto, Kiba, Chouji dan Shikamaru selama beberapa waktu.


Tsume menemukan Hatake Kakashi tengah bersantai di salah satu atap gedung di Konoha dengan novel Icha Icha Paradise favoritnya. Kakashi menutup novelnya saat ia mendengar Tsume mendekat dan menoleh ke arah wanita itu.

"Tsume-san," Kakashi menyapa.

"Kakashi," jawab Tsume singkat. "Kau bisa menjemput Naruto di taman nanti. Ia bersama Kiba, Shikamaru dan Chouji."

"Ah? Sebaiknya aku menjemputnya sekarang saja. Dia baru keluar dari rumah sakit dan—"

"Berhentilah bersikap overprotektif seperti itu," Tsume memotong kalimat Kakashi. "Dia sudah delapan tahun, Kakashi, sampai kapan kau mau memperlakukannya seperti boneka porselen? Kau tahu ia lebih kuat dari itu."

Wajah Kakashi mengeras mendengar perkataan Tsume.

"Tsume-san, kalau Anda menganggap dia mons—"

"Apa kau pikir aku sedangkal itu, bocah?" Tsume melotot menatap Kakashi. "Bagiku dia hanya anak laki-laki yang terlalu hiperaktif. Kau beri makan apa dia sebelum tidur? Permen?"

Kakashi tersenyum mendengar jawaban Tsume. Respon penduduk desa yang selalu negatif terhadap Naruto membuat Kakashi selalu mencemaskannya. Hanya beberapa shinobi yang melihat Naruto sebagai anak laki-laki "normal" dengan segala keunikannya. Satu alasan kenapa Kakashi cukup menyukai keluarga Inuzuka adalah karena mereka berpikiran terbuka serta tidak takut menyatakan pikiran mereka secara terang-terangan.

"Kau sudah membesarkannya dengan baik, Kakashi," kata Tsume.

"Terima kasih, Tsume-san," gumam Kakashi.

"Sebaiknya jangan terlambat menjemput Naruto," tambah Tsume sebelum ia beranjak dari tempat itu. "Shinobi Kumo mungkin masih berkeliaran di hutan sekitar desa."

Kakashi mengangguk. Ia tidak ingin mengganggu waktu bermain Naruto dan teman-temannya. Kakashi ingin Naruto memiliki kehidupan yang normal seperti anak-anak lain seusianya. Melihat senyum di wajah Naruto saat ia menceritakan harinya bermain bersama Kiba atau Shikamaru selalu membuat Kakashi bahagia.

Tidak ada salahnya jika ia membiarkan Naruto menghabiskan waktu bersama anak-anak seusianya, bukan?


Sudah lama ia tidak merasakan ketenangan seperti ini. Naruto bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia merasa selega ini. Tidak ada tuntutan untuk menjadi lebih kuat. Ia hanya seorang bocah berusia delapan tahun, tanpa beban apa pun. Ia tidak harus membawa pulang Sasuke. Ia tidak harus menghentikan Akatsuki. Dia tidak harus melawan musuh-musuh hebat. Saat ini ia hanya seorang anak laki-laki, tanpa tanggung jawab apa pun yang harus diemban.

Kecuali mungkin menghentikan Perang Besar Shinobi Keempat.

Namun semua ada waktunya.

Saat ini, ia hanya ingin mengingat kembali masa kecilnya. Naruto tertawa bersama Kiba dan Chouji, sementara Shikamaru akan berbaring dibawah bayang-bayang pohon dan memandangi awan di langit.

Semuanya tampak begitu normal.

"Hey, ngomong-ngomong Ranmaru-kun dan Eikichi-kun sepertinya bertengkar tadi," kata Chouji saat ia membulat-bulatkan pasir basah di dalam kotak pasir untuk membuat dango. "Kenapa ya?"

"Paling-paling masalah shinobi Kumo yang kemarin bertempur dengan penjaga gerbang Konoha di bukit belakang Akademi," jawab Kiba. "Kaa-chan bilang sebaiknya kita tidak dekat-dekat ke bukit itu karena siapa tahu masih ada shinobi Kumo yang masih tersisa di tempat itu."

"Hah? Benarkah?" tanya Chouji.

"Iya. Kemungkinan besar mereka masih bersembunyi untuk mengatur serangan kembali," kata Kiba. "Sebentar lagi senja... Kaa-chan mungkin akan menjemputku sebentar lagi."

Pada awalnya, Naruto tidak terlalu memperhatikan cerita Kiba. Ia membuat catatan bagi diri sendiri untuk tidak mendekati bukit. Ia tidak mau membuat masalah bagi Kakashi atau pun Iruka-sensei. Namun, satu hal terlintas dipikiran Naruto. Pembicaraan yang tidak sengaja ia dengar sepulang dari Akademi tadi...

Ranmaru dan Eikichi!

Tiba-tiba Naruto melompat berdiri, mengejutkan Kiba dan Chouji. Bahkan Shikamaru duduk tegak saat mendengar gerakan tiba-tiba dari Naruto.

"Ada apa, Naruto-kun?" tanya Chouji.

"Ranmaru dan Eikichi!" seru Naruto.

"Kenapa dengan mereka?" tanya Kiba.

"Mereka pergi ke bukit di belakang Akademi!"

Tanpa pikir panjang Naruto sudah melesat meninggalkan taman dan berlari ke arah bukit yang dimaksud oleh Kiba tadi. Ia tahu dirinya harus memperingatkan kedua anak itu dan membawa mereka kembali ke Konoha sebelum sesuatu yang buruk terjadi.

"O-oi, Naruto!" seru Kiba berusaha menghentikan bocah berambut kuning itu. Namun Naruto tidak berbalik dan terus berlari secepatnya menuju bukit yang dimaksud.

"Aaa... merepotkan..." gumam Shikamaru. "Kiba, Chouji, kalian pergilah ke Akademi dan panggil Iruka-sensei. Aku akan mencari Kakashi-san."

Kedua anak laki-laki lain mengangguk.


Umino Iruka masih berada di kantornya, memeriksa essay para pre-genin mengenai kegunaan Bunshin no Jutsu. Keningnya berkerut saat ia berusaha membaca tulisan murid-muridnya yang cenderung berantakan, membuatnya bertanya-tanya apakah huruf kuno pada prasasti batu akan lebih mudah dibaca daripada coretan tidak karuan di atas kertas ini. Bahkan salah seorang siswanya tidak menggunakan kanji sama sekali. Hanya hiragana dan katakana yang membuat Iruka harus berjuang keras memecahkan "sandi" tersebut dan mengira-ngira maksud kalimatnya.

Apakah dia bermaksud menyebutkan 'katak' atau 'berubah'?

Iruka hanya menghela nafas dan memijit keningnya. Terkadang ia bertanya-tanya kenapa ia masih bertahan sebagai guru chuunin.

"Iruka-sensei! Iruka-sensei!"

Iruka langsung melesat ke arah pintu dan membukanya begitu ia mendengar dua suara yang amat familiar memanggil namanya.

"Eh? Kiba-kun? Chouji-kun? Ada apa?" tanya guru chuunin itu menatap dua orang muridnya yang berdiri terengah-engah di depan pintu kantornya, seolah-olah mereka berlari jauh dari suatu tempat.

"N-Naruto... Naruto pergi ke bukit belakang untuk menolong Ranmaru dan Eikichi!" kata Kiba.

"Ranmaru-kun dan Eikichi-kun?" tanya Iruka tak paham. Tiba-tiba, wajahnya memucat saat ia mendengar kemana mereka pergi. Bukit belakang Akademi... Bukankah tadi malam baru saja ada pertempuran dengan ninja Kumogakure di sana? Para siswa sudah diperingatkan tadi pagi untuk tidak mendekati bukit itu, namun tidak ada yang bisa menebak jalan pikiran anak-anak berusia delapan tahun yang dipenuhi rasa ingin tahu. "Kalian bilang Naruto-kun menyusul mereka ke sana?!"

Kiba mengangguk.

"Aku sudah mencoba menghentikannya, tapi Naruto sudah lebih dulu berlari ke arah bukit..." jelas Kiba.

"Apa Kakashi-san sudah diberi tahu?" tanya Iruka. Ia segera mengemasi essay-essay di hadapannya.

"Shi-Shikamaru-kun sedang menemuinya," jawab Chouji.

"Baiklah. Kalian pergilah ke ruangan Sachiko-sensei. Dia masih ada di kantornya, dan tunggu sampai ada yang menjemput kalian di sana. Jangan coba-coba berkeliaran sendirian, mengerti?"

Kiba dan Chouji mengangguk. Iruka mengantar mereka ke ruangan Sachiko-sensei dan menjelaskan dengan singkat apa yang terjadi. Tanpa buang-buang waktu, dia sudah berteleportasi ke kaki bukit. Iruka memulai pencariannya, berharap ketiga anak itu akan baik-baik saja.


"Ranmaru! Apa kau yakin ini jalan yang tepat?" tanya Eikichi untuk kesekian kalinya. Sudah beberapa waktu mereka berjalan mengelilingi hutan ini, namun tak sedikit pun terlihat bekas pertempuran yang dimaksud. Eikichi menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. Ia memandang berkeliling. Hutan terlihat setenang biasanya. Hanya gemirisik daun-daun pepohonan yang tertiup angin.

"Tenang saja, Eikichi! Sebentar lagi!" kata Ranmaru penuh percaya diri, meski ia sendiri tidak begitu yakin. Sudah hampir dua jam mereka berkeliaran di hutan ini, namun pencarian mereka tidak membuahkan hasil. Eikichi sudah mulai kelelahan, namun Ranmaru tetap memaksanya untuk masuk lebih jauh ke dalam hutan.

Akhirnya mereka tiba di sebuah tempat yang agak luas, dimana terdapat bekas-bekas ledakan, dan goresan serta patahan-patahan dahan dan ranting. Ranmaru menyeringai pada Eikichi melihat hasil temuannya. Kedua anak laki-laki itu bergegas memeriksa bekas pertempuran itu dengan seksama, berusaha mencari bukti bahwa ayah yang satu lebih hebat daripada ayah yang lainnya.

"Hei, Ranmaru! Lihat apa yang kutemukan!" seru Eikichi. Anak laki-laki berambut cokelat itu mengacungkan sebuah kunai pada rekannya. Ranmaru hanya mencibir.

"Huh! Itu sih, kunai biasa! Semua shinobi pasti punya!" kata Ranmaru.

"Jangan sembarangan! Aku tahu ini kunai ayahku. Dia selalu menandainya, lihat!" Eikichi menunjukkan pita merah yang terikat pada pegangan kunai. "Lalu lihat darah ini... Ayahku pasti berhasil membunuh seorang shinobi musuh!"

Ranmaru cemberut mendengar perkataan Eikichi. Ia kembali mencari-cari di sela-sela pepohonan untuk membuktikan bahwa ayahnya lebih hebat. Sebuah gerakan di semak-semak menarik perhatian Ranmaru.

Perlahan-lahan, anak itu mendekati semak-semak, beberapa meter dari tempatnya berdiri. Ia bahkan tidak menyadari sepasang mata yang mengawasi gerak-geriknya.


Naruto terengah-engah saat ia mencapai bukit belakang. Ia mengenali hutan di sekitar sini bagaikan telapak tangannya sendiri karena waktu yang ia habiskan untuk kabur dari kejaran gurunya di Akademi. Naruto tahu hutan ini bisa menyesatkan orang-orang yang tidak biasa. Ia harus menemukan Ranmaru dan Eikichi secepatnya.

Naruto berusaha mencari tanda-tanda kedua anak itu. Ia tidak berani berteriak memanggil mereka karena takut kalau benar shinobi musuh masih berada di area ini, mereka akan dengan mudah meringkusnya. Saat ini, Naruto hanyalah siswa akademi ninja berusia delapan tahun. Ia tidak memiliki cukup kekuatan untuk menggunakan ninjutsu-ninjutsu seperti yang dikuasainya di masa depan. Naruto hanya bisa menghela nafas dan meneruskan pencariannya.

Langkah Naruto terhenti saat sesuatu menarik perhatiannya. Dahan-dahan pohon yang patah... bekas goresan kunai... jejak kaki di tanah dan di pohon... Naruto yakin ia sudah semakin dekat ke tempat pertempuran. Naruto memelankan langkahnya dan mengendap-endap di balik bayang-bayang pepohonan dan semak. Ia menajamkan indra-indranya untuk memastikan tidak ada musuh di sekitarnya.

Naruto berhenti saat ia mendengar suara-suara saling berbicara satu sama lain. Gerakan Naruto semakin senyap. Ia berusaha bernafas sepelan mungkin dan mengamati situasi melalui celah-celah dedaunan. Naruto merogoh kantung kunainya dan menarik sebuah kunai saat ia menyadari sesuatu.

Kunainya tumpul.

Naruto memaki pelan di dalam hati. Sebagai siswa Akademi ninja, ia tidak diizinkan membawa kunai asli yang tajam. Ia bahkan sebenarnya tidak dibolehkan menggunakan senjata ninja apa pun, namun Kakashi memaksanya membawa kunai-kunai tumpul itu. Paling tidak itu bisa membantunya untuk membela diri.

Naruto menarik nafas dan berusaha bergerak mendekat. Tidak ada jalan kembali. Ia harus segera menemukan kedua anak itu dan pergi dari sini.


A/N : Ohohoho... Cliffhanger no Jutsu! Ingin tahu lanjutannya? Review dan simak chapter berikutnya! Ohohohoho! *musik dramatis*