"Halo? Lud sayang…?"
Dan Felicia pun terkejut. I-itu suara perempuan yang masih muda!
Il Ciclo della Vita
(Hetalia: Axis Powers © Hidekazu Himaruya)
A-Aku tidak percaya… apakah benar 'Lud' yang dimaksud adalah Ludwig Beilschmidt yang kukenal itu? Secara… bukankah nama 'Ludwig' adalah nama Jerman yang cukup umum…? Tapi, kalau itu benar, apakah itu berarti… semua yang dilakukan Lud untukku hanyalah sebuah kebohongan belaka yang disebabkan oleh kasihan? Benarkah? Tunggu, aku tahu aku tidak boleh membuat asumsi sendiri, tapi…
…Semua ini mulai maksud akal. Apakah pertemuanku dan Ludwig hanyalah salah satu cobaan Tuhan dalam hidupku? Maksudku, Dios Mio! Aku sudah mendapat banyak tantangan darimu, Tuhan. Apakah itu belum cukup? Sampai-sampai kau menambahkan kesulitan lagi untukku?
Anyway, setelah menghela napas, aku mulai menenangkan diri. Bukan seperti diriku yang biasanya saja. Ayo, Felicia Nuvola! Kau harus seperti biasa! Tersenyumlah, melihat hal-hal positif, dan melupakan hal-hal yang buruk! Oh! Dan memasak dan menikmati sepi—oh, itu kurang! Beberapa piring pasta!
Saat aku memutuskan untuk berjalan kembali ke ruang tengah dimana ada Lud..wig, aku pun memutuskan untuk mencari udara segar. Dengan mengendap-endap, aku menaikki tangga dan mengganti pakaianku dengan one piece berwarna putih dengan motif Daisy di bawahnya, dan mengambil jaket berwarna hijau terang—ya, aku dibelikan oleh Ludwig kemarin.
Entah kenapa, aku merasa tidak enak saat memanggil Ludwig 'Lud' seperti biasanya… mungkinkah aku masih merasa tidak enak mengenai voice note tadi? Um… aku tidak tahu… sepertinya aku memang harus mencari udara segar. Dan… oh! Mengunjungi Bibi Elizaveta dan Paman Roderich! Oh! Dan Viola juga! Ah, aku baru mendengar kalau Aria baru pulang juga! Aku harus melihat perkembangan menggambarnya sampai sekarang. Mungkin, sekarang dia juga fokus dalam sculpturing?
Dengan langkah mengendap-endap, aku pun keluar dari rumah Ludwig, dan berjalan ke stasiun bis terdekat. Kenapa? Karena rumah Ludwig terletak di pinggiran kota, alias surburbs, dan toko Bibi Elizaveta terletak di daerah pusat kota, hampir ke perbatasan pinggir kota yang satunya lagi. Cukup jauh, bukan?
Berbekal 10 dollar, aku pun menaikki bis setelah membeli karcis tiketnya. Diperkirakan aku akan sampai dalam waktu 20 menit. Cukup untukku berpikir, dan mengosongkan pikiran-pikiran negatif milikku.
Yak. Itu cukup.
~##**''**##~
"Felicia!" Kupanggil-panggil nama orang itu. Ja, orang yang mengubah hidupku dalam waktu sesingkat ini. Gott, kalau saja orang seperti itu—orang yang membuat dampak besar dalam hidup seseorang—datang lebih cepat dalam hidup vater, mungkin dia akan lebih kurang berandal dari dulu dan menjadi presiden direktur yang lebih bertanggung jawab sekarang. …Tapi, semua itu bukankah sudah diserahkan ke dalam tangan Tuhan? Vell, tidak ada yang bisa kulakukan, no?
Tapi, yang aku tidak percaya itu dulu vater merupakan Putra Altar. Iya, aku tidak percaya. Dengan segala sifat berandal dan iseng dan—ARGH! Intinya aku tidak percaya, oke?! Baiklah, back to topic: mencari Felicia. Dia tidak ada di dapur, di dekat telepon, di ruang kerja dan baca, di taman belakang sambil bermain dengan trio anjingku, di kamarnya, di kamar mandi, di kamarku, heck. Intinya dia tidak ada di mana-mana. Dan dia pun meninggalkan telepon genggamnya.
Ngomong-ngomong, aku mendengar kalau ada yang berkata kalau aku itu ngegalau. Memang kapan aku galau, hah?! Dan apa itu galau lagian?! Huft. I've made up my mind, people. Between 'her'…
…and Felicia.
"Felicia, di mana kamu?" Aku bertanya-tanya, dan coba mengingat-ingat. Apakah dia ada di taman pertama kami bertemu? Kemungkinan besar dia ada di sana. Secara taman itu secara tidak langsung ada di dekat pusat kota, dan juga dekat dengan pinggiran kota, sebuah tempat yang strategis jika berpergian yang tidak jauh seperti—mungkin—contohnya, yaitu sekarang. Setelah mengambil jaketku, aku pun memanaskan mobil dan segera melaju ke taman itu.
Bisa dibilang, kali ini kali pertama aku melakukan sesuatu tanpa rencana matang atau keyakinan akan suatu hal. Yaitu di mana letak seorang Felicia Nuvola-Vargas. Mungkin, ini yang dari dulu dikatakan oleh vader, yaitu adrenalin.
Apapun itu, aku harus menemukan Felicia. Jangan sampai dia terluka atau apapun.
~##**''**##~
'Bis sudah sampai di Stasiun Flinders Street." aku mendengar pengumuman itu dengan seksama. Aku pun turun dari bis dan berjalan menuju toko milik Bibi Elizaveta. Angin sepoi-sepoi yang kencang itu membuatku memeluk tubuhku yang dipeluk oleh jaket hijau sederhana. Itu dia, sebuah toko boneka kecil di dekat pusat Kota Melbourne, sebuah toko boneka sederhana bagi orang-orang lain, tapi bagiku, ini merupakan toko boneka dengan banyak kenangan di dalamnya. Aku tersenyum kecil, dan mendorong pintu toko itu, dan seperti biasa, Bibi Elizaveta—dan Violet serta Aria, jika mereka ada—akan berkata: "Selamat datang di toko kami!"
Ah, iya. Seperti dulu.
"Sorella! Senang bertemu denganmu lagi! Lihat, kak! Kak Felicia datang!" Violet dengan wajah tersenyum lebarnya berlari dengan dress ungu dan sepatu berwarna putih. Rambut berwarna coklatnya—yang dia dapat dari Tuan Roderich?—melambai-lambai ditiup angin yang menghembus melewatinya.
Aria, yang mendapatkan rambut kesilveran dari kakek Tuan Roderich—iya, aku tahu karena Tuan Roderich pernah menunjukkan foto keluarganya kepadaku suatu sore karena kami sedang tidak ada pekerjaan, dan Bibi Elizaveta menutup toko karena dia sedang berbelanja bahan baku untuk pesanan berikutnya—hanya menatapku dengan wajah datarnya, "Ah. Sudah lama tidak bertemu, Kak Felicia. Apa kabar?" tanyanya dengan sopan.
Aku tersenyum manis. "Aku baik seperti biasanya! Dan kalian?" tanyaku kembali sambil berjalan mendekati Aria. "Vater dan Mutti sehat seperti biasa. Dan Violet… vell, kau bisa melihatnya sendiri, bukan? Dia sehat dan aktif seperti biasa.
Aku tersenyum makin lebar mengenai hal itu.
This place… feels like home itself.
.
.
.
Fortzusetzen – Essere Continuata
Chapter 4: La Casa
A/N::
Akhirnya...saya update... oke, aku tahu ini chapter yang sangat pendek, 2/5 dari panjang tulisanku yang biasanya...aku tahu. Chapter ini cuma filler. Sekaligus warming up untukku karena sudah lama tidak menulis. Iya, sekolah sangat menyita waktuku, dan semoga, kalian masih memiliki minat dengan cerita ini:D dan, saya harap, aku dapat update chapter berikutnya dengan lebih cepat lagi! Targetku itu ... minggu depan. YEAH. Sebelum aku memulai 1-bulan-penuh-ulangan-mematikan. Doakan bisa, ya?
Nah, sekarang untuk membalas review...
Pertama untuk lucem ferre 123, yang sekarang mengganti namanya menjadi zephyrus 123 (Terima kasih atas semua komentar, saran, dan pujiannya! Saya akan usahakan dalam karya saya selanjutnya, untuk membuat alur yang lebih slow pace! Wish me luck, okay?). Kedua untuk Sindy Beilschmid (Hehe~ sabar, yaa!). Ketiga untuk Lady Raven (Ibunya? Ya, si anuuuuu(?), aiyah. Nanti anda akan tahu... SETEI TUN! (?)). Keempat untuk Kuroneko Lind yang aktif banget menulis (dan sebelum membuat chapter ini, saya membaca FFicnya dulu, lho!) (O-Oke...fem!Norway jadi intel juga bayangan saya, kok...entah kenapa jari saya ga mau bekerja sama... /sigh/ iya! Mungkin cerita mama Noru ada di side story, lhooo! Iya, kecepetan,.. ;w; Yay! Sehati!). Kelima untuk TeQuiero (Ubanan... pfft... aiyah... nanti anda juga tau di chapter berikut! SETEI TUUUUN! (?))
Oh ya, saya update FFic ini karena hari ini ulang tahunnya temenku, si xXTiKToK-TimeMachineXx ! (Semoga nulisnya bener...)
Dan, ini bikinnya ngebut. 1 jam jadi. Efek karena data kehapus semua gegara cerpis dulu... /sigh/
Oke!
Yume, Feli. Lud: Review, per favore?
