Title : Full House
Main Cast : Kim Himchan, Bang Yongguk
Other Cast : Yoo Youngjae, Jung Daehyun
Additional : Moon Jongup, Choi Zelo
Author : The Shi Shi Mato's
Length : Chapter
Genre : Romance, Humor, Drama
saya buat cerita ini memang berdasarkan
Film fenomenal berjudul sama "Full House"
dasar cerita memang saya ambil dari situ tapi saya kemas dengan bahasa saya sendiri lagi..
mohon maaf jika ada kesamaan cerita, tapi saya akan berusaha untuk membuatnya dengan versi saya..
percayalah, lama kelamaan cerita ini pasti tidak akan sesuai dengan dramanya. hohoho
dari pada banyak bicara, mending langsung lanjut aja.
DON'T LIKE DON'T READ!
THIS STORY IS MINE, DO NOT BASHING
Happy Reading ^^
.
.
.
.
.
Review :
"Lagi-lagi hatinya terusik. Dia kemudian bangkit dari duduknya dan menyeret koper besarnya. Walaupun tidak ada lagi tempat untuknya saat ini, namun hatinya masih menuntunnya untuk menuju tempat itu.
Rumah yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Sedang seluruh memori dan kenangan yang sudah dibuatnya.
Langkah kakinya dengan mantap membawanya menuju "Full House"."
.
.
.
.
.
Sudah satu jam Himchan mondar-mandir di depan rumah artistik ini namun tidak ada hal yang bisa dilakukannya. Setelah memutuskan untuk membuang harga dirinya dengan memohon pada pemilik rumah yang baru yang tidak lain adalah Yongguk, Himchan masih resah. Pasalnya sang pemilik rumah yang baru tidak sedang di rumah saat ini.
Himchan menghembuskan nafas berat. Tidak ada pilihan lain kecuali menunggu. Tapi kakinya sedang tidak bisa diajak duduk, jadilah dia hanya mondar-mandir di depan rumah ini.
Mata Himchan tertuju pada ayunan yang dibuat oleh ayahnya ditengah taman besar halaman rumah mereka. Tempat yang tenang kesukaannya. Mereka memang tinggal disebuah komplek perumahan, namun di komplek perumahan itu hanya ada lima rumah mewah termasuk salah satunya adalah Full House.
Himchan berjalan menuju ayunan. Seketika hatinya terasa sedih mengingat dulu setiap sore dia dan kedua orang tuanya sering menghabiskan waktu ditaman ini. air mata sudah menggenang dipelupuk matanya, namun himchan berusaha menahannya. Bagi Himchan, ini bukan saat yang tepat untuk menangis.
Namja cantik itu kemudian mendudukkan dirinya di ayunan, menikmati bunyi decitan dari besi ayunan tersebut. Sudah lewat sepuluh tahun semenjak terakhir kali dia duduk diayunan ini.
Di iringi dengan angin yang bertiup lembut, Himchan kemudian tertidur.
.
.
Yongguk mengantar Zelo kembali ke butiknya. Yongguk masih ingin berlama-lama menghabiskan waktu bersama Zelo namun namja muda itu memiliki janji untuk pemotretan produk baru butiknya. Mau tidak mau Yongguk mengalah, dia akhirnya memutuskan untuk mengantar Zelo kembali.
Setelah berpamitan, Zelo masuk ke butik miliknya. Senyumannya kemudian terkembang setelah melihat sosok orang yang sudah memiliki janji dengannya sejak seminggu yang lalu.
"Kau sudah lama menunggu, hyung?" tanya Zelo.
"Tidak juga, mungkin sekitar sepuluh menit. Tidak masalah, aku senang menikmati keadaan butikmu ini.." jawab orang itu.
Zelo tersipu. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu seperti ini dan namja muda itu senang sekali.
"Mari Jongup hyung, biar aku tunjukkan koleksiku yang baru.." ajak Zelo. Namja yang tak lain adalah Jongup itu mengangguk. Dia mengikuti Zelo.
"Kulihat butikmu ini semakin lama semakin berkembang. Aku senang kau sudah bisa memilih apa yang kau inginkan, Zelo-yah.."
Zelo tersenyum mendengar ucapan Jongup.
"Ini semua karena hyung juga yang sudah mendukungku.."
"Benarkah? Aku hanya ingin kau berhasil, Zelo-yah.. dan aku senang jika kau bisa membuat dirimu menjadi sukses seperti ini.."
"Gomawo Jongup hyung.."
.
.
.
.
Yongguk benar-benar merasa lelah walaupun memang hari ini sangat menyenangkan untuknya. Zelo benar-benar menjadi penyembuh dan membuat hatinya terasa lebih damai. setidaknya memang itulah yang dipikirkannya.
Yongguk melajukan mobilnya menuju kantor, tapi entah kenapa pikirannya terus saja fokus pada rumah barunya. Ada sesuatu yang mengusik hatinya ketika bayangan rumah indah sekaligus mantan pemiliknya terlintas dipikirannya.
Yongguk sempat kagum dengan kecantikan Himchan, namun saat itu otaknya justru bekerja sangat lambat dan bekerja dengan tidak sebagaimana mestinya. Dia justru bersikap tidak ramah pada pertemuan pertama mereka.
Mobil mewah yang dikendarainya kemudian dibelokkan kearah yang berlawanan dengan kantornya. Yongguk melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah barunya. Dia berpikir untuk beristirahat saja hari ini.
Mobil mewahnya memasuki komplek perumahan sepi yang tak lain adalah komplek perumahan dari rumah barunya. Yongguk menurunkan kaca mobilnya. Sesuatu yang sangat disukainya dari lingkungan rumah ini adalah karena tempatnya yang begitu sejuk dan menenangkan.
Yongguk memasuki halaman rumahnya dan memarkir mobilnya tepat di sebelah taman yang sangat luas. kaki panjangnya hampir saja menyentuh teras rumah kalau saja dia tidak mendengar suara decitan halus yang terdengar dari arah taman. Suara decitan ayunan tua. Yongguk membelokkan tubuhnya dan berjalan menuju taman.
Dan ini adalah suatu pemandangan yang sangat indah dan mengejutkan untuk Yongguk. Darahnya berdesir cepat. Sosok cantik itu bagaikan malaikat penjaga taman yang sedang tertidur lelap. Yongguk menahan nafasnya. Pemandangan ini benar-benar membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
Dengkur halus yang terdengar dari sosok Himchan yang sedang tertidur lelap diayunan menambah harmonisasi sejuknya taman. Yongguk berlutut di depan ayunan, mengamati sosok yang tertidur lelap itu dalam diam. Tanpa sadar bibirnya membentuk lekukan kecil keatas. Yongguk tersenyum.
'bagaimana seorang namja bisa menjadi secantik ini? kenapa Tuhan begitu mencintainya?' batin Yongguk.
Tanpa sadar tangannya terulur dan menyibak poni panjang Himchan. Himchan menggeliatkan tubuhnya tidak nyaman. Dia begitu sensitif dengan sentuhan.
Himchan membuka matanya perlahan dan terkejut melihat wajah Yongguk yang saat ini sedang memandang lekat wajahnya. Wajah Himchan memerah.
"Ah, maaf.. aku membangunkanmu…" ujar Yongguk. Himchan masih tertunduk malu. Wajah Yongguk yang begitu dekat memandangnya itu membuat jantungnya berdetak cepat. Himchan bahkan sempat menahan nafasnya sedetik.
"Ah.. tidak apa-apa.. aku yang minta maaf karena sembarangan tertidur disini.." jawab Himchan. Namja cantik itu kemudian berdiri dari ayunan. Yongguk pun bangkit dari posisinya menjajarkan tingginya dengan tinggi Himchan.
"Apa yang kau lakukan disini, Kim Himchan?" tanya Yongguk. Dia melihat koper yang sebelumnya juga dibawa oleh namja cantik itu.
"Aku… Aku…"
"Kau kenapa?"
"Bang Yongguk.. bolehkah aku meminta sesuatu padamu?"
"Apa itu, Himchan-ssi?" tanya Yongguk balik. Keringat dingin mengucur deras dari kening Himchan. Dia semakin gugup setelah melihat ekspresi datar yang ditunjukkan oleh Bang Yongguk.
"Bang Yongguk.. maukah kau mengijinkan aku untuk tinggal disini?" akhirnya Himchan mengatakannya. Yongguk mengerutkan keningnya tanda ragu, dia heran dengan permintaan Himchan.
"Rumahku bukan tempat penampungan, Tuan Kim! Kau pikir aku akan dengan semudah itu mengijinkan orang yang tidak dikenal dengan seenaknya tinggal di rumahku!" jawab Yongguk datar. Himchan menelan ludahnya dengan susah payah. Dia sudah memprediksikan ini, Yongguk pasti akan mengatakan ini.
"Anggap sajalah aku tidak tinggal dengan gratis disini…"
"Apa maksudmu?" tanya Yongguk tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Himchan.
"Aku akan menyewa kamar disini.."
"Rumah ini bukan rumah kost, Himchan-ssi… aku tidak menyewakan kamar untukmu!"
"Ayolah Bang Yongguk-ssiiii.. aku mohon… aku akan mengerjakan apapun untukmu… aku bahkan akan membayar sewa kamar selama aku tinggal disini.. setidaknya biarkan aku tinggal selama aku mencari dimana keberadaan dua teman penghianatku itu.."
Yongguk terlihat menimbang-nimbang tawaran Himchan. Dia memang berencana akan menyewa pembantu untuk membersihkan rumahnya. Memikirkan tawaran Himchan membuat dia menyusun sebuah rencana untuk namja cantik itu.
"Kau yakin akan mengerjakan apapun untukku, Himchan-ssi?" tanya Yongguk. Himchan menelan ludah lagi. Sepertinya dia sudah salah bicara tadi.
"Apapun bukan berarti aku akan melakukan tindak criminal untukmu, Yongguk-ssi.."
"Aku tidak sejahat itu.. tapi aku memikirkan tawaranmu Himchan-ssi.. aku mengijinkan kau tinggal di rumahku dengan satu syarat.." Yongguk menggantungkan kalimatnya membuat sebutir keringat mengalir di pelipis Himchan.
"Apa syaratnya Yongguk-ssi?"
"Kau jadi pembantu di rumahku.."
.
.
.
.
Himchan sejujurnya tidak menginginkan ini, mengingat harga dirinya yang begitu tinggi. Dia sudah terlanjur melakukan penawaran dengan Yongguk. Dia sudah terlanjur menjual harga dirinya demi sebuah tempat tinggal.
Setelah membereskan barang-barang dikamarnya, namja berparas rupawan itu merebahkan dirinya yang sudah sangat lelah diatas kasur empuk miliknya. Walaupun rumah ini sekarang tidak lagi menjadi miliknya, setidaknya Himchan tidak meninggalkan satu-satunya harta yang sangat berharga untuknya.
Namja cantik itu memencet beberapa tombol diponselnya, menempelkan ponselnya ke telinga, namun nihil. Yang terdengar hanyalah nada sambung yang tersambung dengan mailbox. Himchan masih tidak menyerah untuk menghubungi kedua sahabatnya itu.
Himchan menghela nafas. Otaknya tidak bisa berpikir jernih karena dia sama sekali tidak mendapatkan ide untuk mencari dimana keberadaan Youngjae dan Daehyun. Kedua sahabatnya itu menghilang bagaikan ditelan bumi.
Himchan berusaha memejamkan matanya karena lelah, namun dia mengurungkan niatnya karena seseorang memanggilnya. Himchan menghela nafas dengan kasar, dia lupa bahwa ada orang lain juga yang tinggal serumah dengannya. Pemilik rumah yang baru. Bang Yongguk.
Himchan turun dari kamarnya kemudian dia melihat Yongguk sudah duduk dengan rapi di meja makan. Dia menampakan seringai licik dibibir tebalnya, membuat Himchan sedikit takut dengan seringai itu.
"Silakan duduk, Kim Himchan.."
Himchan menarik kursi makan di depan Yongguk sehingga posisi duduk mereka menjadi berhadapan. Dia melihat sebuah bolpoin lengkap dengan kertas seperti surat atau mungkin naskah diatas meja. Himchan mengira itu naskah karena kertas itu cukup tebal untuk dibilang surat.
"Ada apa Yongguk-ssi?" tanya Himchan. Dia sudah malas berbasa-basi karena dia masih merasa lelah.
"Aku ingin memberitahukan padamu tentang pekerjaanmu di rumah ini…"
Himchan mengerutkan keningnya. Yongguk berdeham kecil.
"Ini.. lembaran ini adalah isi kontrak selama kau tinggal di rumah ini.." Yongguk menyodorkan kertas yang sempat dikira naskah oleh Himchan. Kontrak kerja Kim Himchan. Himchan mengerutkan keningnya.
Mata tajam itu membaca satu per satu poin yang dituliskan Yongguk dengan seksama. 'ini gila..' batinnya. Dan kontrak yang ditentukan Yongguk untuknya tidak main-main. Tiga tahun menjadi pembantu di rumahnya sendiri.
"Apa-apaan ini Bang Yongguk-ssi.. kenapa sebanyak ini? apa kau pikir aku mau menjadi artis? Aku hanya ingin menumpang tinggal disini.." protes Himchan.
Yongguk hanya menyeringai.
"Kau tidak perlu membayar sewa, Kim Himchan. Karena aku yakin kau pasti tidak mampu. Jadi aku membuatkan kontrak ini dan melakukan penawaran denganmu. Terserah kau mau setuju atau tidak, aku tidak akan rugi.." ujar Yongguk. Himchan menelan ludah. Masalahnya isi kontrak yang ditawarkan Yongguk benar-benar menyiksa.
Yongguk membuat lima puluh hal yang boleh dilakukan Himchan dan lima puluh hal yang tidak boleh Himchan lakukan. Parahnya, ruang gerak Himchan hanya dilantai dua. Dia boleh menginjak lantai pertama hanya pada saat membersihkan rumah dan menyiapkan makanan untuk Yongguk. Selebihnya dia hanya boleh berada di lantai dua. Dan keluar masuk rumah pun hanya boleh dari pintu samping.
Himchan merasa ini sedikit tidak logis. Lalu bagaimana jika dia kelaparan dan haus? Yongguk tidak menuliskan itu dikontraknya.
"Yongguk-ssi, bagaimana dengan mandi, buang air, makan dan minumku?" tanya Himchan.
"Aku sudah menuliskan jam-jam kau boleh turun ke lantai satu, Kim Himchan. Kau bisa melakukannya disaat aku tidak ada…" jawab Yongguk santai.
"Tapi aku bukan narapidana! Bagaimana kalau aku kebelet? Bagaimana kalau penyakit maag-ku kambuh?" masih. Himchan masih melancarkan protes.
"Nanti itu bisa kita diskusikan. Kau bisa meminta ijin terlebih dahulu Kim Himchan." Jawab Yongguk datar.
Himchan hampir saja merobek kontrak itu kalau tidak mengingat saat ini dia memang butuh tempat tinggal. Yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah bersabar.
Himchan menghela nafas berat. Dia pasrah.
"Baiklah Bang Yongguk-ssi, aku akan menandatanganinya. Pastikan kau juga tidak melanggar kontraknya!"
Yongguk tersenyum puas saat melihat jari indah itu menggoreskan tanda tangannya diatas kertas yang bertuliskan namanya itu.
Dan hari-hari bagaikan neraka untuk Kim Himchan akan segera dimulai.
.
.
.
.
"Daehyun-ah… kenapa kau melamun?"
Itu adalah Youngjae. Saat ini mereka sedang dalam pelarian. Pelarian mereka dari Kim Himchan. Sahabat sekaligus orang yang sudah mereka khianati.
"Aku memikirkan bagaimana nasib Himchan saat ini.." Wajah Daehyun terlihat sedih. Menurutnya mereka memang sudah sangat keterlaluan. Tapi mereka juga dalam keadaan yang sulit. Dan inilah satu-satunya hal yang bisa dia dan Youngjae lakukan untuk membayar hutang mereka.
"Aku juga merasa bersalah padanya, Jung Daehyun. Tapi kita tidak punya pilihan.. aku berjanji kita bisa mengembalikan semua milik Himchan.."
"Tapi bagaimana Youngjae-yah? Kita saja sekarang melarikan diri seperti inikan?" tanya Daehyun.
Youngjae menghela nafas. Saat ini mereka sedang berada di rumah almarhum orang tua Youngjae di Jeju. Mereka tidak ke Busan karena tau Himchan bisa saja menemukan mereka berdua disana. Saat ini Youngjae masih belum ingin bertemu dengan Himchan.
"Kita akan berusaha bersama, Jung Daehyun. Himchan adalah orang yang bisa bertahan hidup dengan caranya sendiri… aku yakin sekarang pun dia pasti masih bisa makan seperti biasa.." jawab Youngjae.
"Hei bagaimana kau bisa begitu yakin, Yoo Youngjae? Kau taukan, kita mengecek rekening Himchan beberapa hari yang lalu dan rekeningnya kosong. Himchan tidak punya uang sepeser pun sekarang.."
Youngjae menghela nafas lagi. Dia mendekat pada Daehyun kemudian memeluk namja itu dari belakang.
"Aku yakin Daehyun-ah.. aku yakin Tuhan akan melindunginya… Himchan bisa bertahan, Aku yakin itu.." Youngjae berbisik pelan ditelinga Daehyun membuat perasaan namja yang begitu dicintainya itu merasa nyaman. Daehyun mengangguk kecil.
"Aku percaya padamu, Youngjae-yah… semoga saja Tuhan melindungi Himchan.." ujar Daehyun lirih.
.
.
.
.
To Be Continued
a/n : mohon maaf update-annya lama dan pendek sekali. banghim momentnya masih sedikit, yang kerasa malah YoungDae momentnya. Red minta maaf karena deadline skripsi Red bener-bener bikin Red lupa gimana harus melanjutkan FF ini *deepbow*
makasih banyak untuk readernim yang udah setia nunggu kelanjutannya. Red janji akan update lebih cepat..
review plis, karena review kalian adalah semangat Red :*
