Disclaimer : Naruto Milik Om Masashi Kisimoto..
.
.
Chap Kali ini agak panjang dan membosankan... maaf kalau jelek dan typo, serta hilang katanya...
"Hoaammm..."
Nona Shion menguap. Dia baru terbangun dari tidur indahnya semalam. Pagi hari yang indah itu hatinya terasa ringan sekali. Dia memandangi kamarnya sejenak, merenung tentang kejadian yang terjadi padanya. Dua sudut bibirnya terangkat ke atas, rasanya seperti mimpi ketika mengingat kejadian semalam.
Tak lama kemudian dia bangkit dan bergegas untuk mandi. Dia membuka kancing baju tidurnya satu persatu. Menanggalkan pakaiannya dan yang tersisa hanya pakaian dalamnya saja.
Bentuk tubuhnya bagus. Pinggulnya ramping. Bokongnya yang montok serta kencang dibalut celana dalam berwarna kuning bergaris-garis hitam bergoyang secara bergantian. Dan bentuk kaki jenjangnya yang sedang berjalan tampak begitu indah. Cara berjalannya anggun dan tidak cepat.
Dia berhenti di depan meja riasnya sebentar. Diambilnya ikat rambut yang ada di atas meja rias, kemudian menyatukan rambutnya dan mengikatnya, memperlihatkan lehernya yang putih tak bercacat. Dia memfokuskan pandangannya pada telinga kirinya di cermin. Ah, semalam lidah Naruto bermain di sana, menggelitikinya. Mendadak wajahnya menjadi memanas dan jantungnya kembali berdebar-debar. Warna merah pipinya semakin melebar.
Dia menyentuh bibir tipisnya yang merah muda dengan ujung jari telunjuk dan jari tengahnya, mengusap-usapnya pelan sembari mengingat lagi untuk pertama kalinya dia berciuman. Tapi dia sama sekali tak menyesalinya, karna memang dia menginginkan Naruto yang mendapat ciuman pertamanya. Dan hal itu terkabul juga.
Dia tersadar dan segera meraih handuk dan berjalan memasuki kamar mandi yang ada di kamarnya.
XXXXXX
Di ruang makan, Hiruzen sudah duduk dengan tenang sambil membaca koran. Di depannya sebuah teh yang masih panas tersuguh menemani pagi indahnya, juga sarapan dengan salad, yah apapun itu namanya untuk mengganjal perut.
Tepat ketika dia akan meraih cangkir gelasnya, Shion muncul dari pintu yang tidak jauh dari tempat duduknya lengkap dengan seragamnya yang setengah lengan, berwarna putih berhiaskan pita biru di dadanya, serta rok selututnya yang berwarna biru.
"Selamat pagi, Tou-sama." sapa Shion sopan sembari mengambil tempat duduk di dekat sang ayah yang duduk di ujung. Di hadapannya sudah tersedia sandwich yang tampak menggiurkan bagi orang yang tak punya alias kere.
"O iya," Hiruzen berkata tiba-tiba sambil melipat-lipat koran di tangannya. "Ayah jadi penasaran dengan kekasihmu itu..."
Shion mengernyitkan dahinya sambil memandang ayahnya. "Kekasih? Kekasih yang mana, Tou-sama?"
"Ah! Ya, aku lupa... Namanya Naruto 'kan?" kata Hiruzen sambil meletakkan koran itu di atas meja.
Seketika itu juga wajah Shion langsung memerah. 'Kekasih?' batinnya senang hati, tapi dengan wajah ditundukkan.
"Apa kau tahu tentang orang tuanya, Shion?" tanya Hiruzen.
Shion sedikit terkesiap dan memandang Hiruzen bingung. Tanyanya, "Memangnya kenapa, Tou-sama?"
"Tidak ada," jawab Hiruzen. Kemudian melanjutkan, "Ayah hanya ingin tahu siapa orang tuanya."
"Nama Ibunya Tsunade dan Ayahnya Jiraiya, Tou-sama." jawab Shion cepat-cepat.
Hiruzen tak menanggapinya. Lelakì itu mengangkat tangannya dan memperhatikan jam yang melingkar di tangan kirinya. "Sudah selesai sarapannya, Shion?"
Shion menganggguk seraya mengelap mulutnya dengan sapu tangannya.
"Nanti saja kita lanjutkan pertanyaan tentang pemuda itu."
"Baik, Tou-sama."
.
.
***o***
.
.
Pada sebuah rumah megah di kota Uzushio sebelah barat, berwarna putih dan beratap rata maksudnya datar. Memiliki balkon di sisi kirinya, penyambung dengan ruang kerja dan sebuah kamar. Di sisi kanannya juga ada balkon kecil, cukup untuk tiga kursi.
Di sana, di balkon kecil itu ada pintu, penghubung dengan sebuah kamar yang terletak di lantai dua sudut bangunan itu. Seorang gadis berambut merah panjang dan lebat, duduk termenung dengan wajah murung di depan meja riasnya. Matanya sembab karna banyak menangis.
Seseorang mengetuk pintu, gadis itu pun cepat-cepat menghapus jejak air matanya dan bersegera berjalan menuju pintu kamarnya. Dia berhenti di ambang pintu, kemudian menarik napas pelan dan menghembuskannya.
Dia membuka pintu. Di hadapannya berdiri seorang lelaki berambut pirang, umurnya sekitar empat puluh tahunan lebih, tapi wajahnya tak terlalu mengalami penuaan sehingga dia tampak lebih muda sepuluh tahunan dari usianya yang sebenarnya. Dagunya lancip dan kulitnya berwarna putuih ke merah-merahan. Matanya yang biru mirip seperti batu safir itu, menunjukkan suatu rasa iba ketika memandang gadis di hadapannya.
"Kau baik-baik saja, Karin?" tanya Minato penuh simpatik.
Tapi gadis itu malah menunduk. Menghindari mata biru pria itu. Dia berbalik dengan kekecewaan yang amat dalam tanpa menjawab pertanyaan pria itu.
"Tou-san harap kau bisa mengerti ke―"
"Aku mengerti," Karin memotong. Matanya kembali berair. Mengingat-ingat apa yang dikatakan ibunya semalam, sangat menyakiti hatinya. Lalu dia melanjutkan kata-katanya dengan suara tersendat-sendat. "s-selama ini aku berusaha m-mengerti sikap Kaa-san yang tidak pernah m-menganggap keberadaanku...Tapi, kali i-ini... Kaa-san keterlaluan. Seakan aku ini tidak pernah ada di hidupnya..." Karin mulai menangis.
"Jangan membenci Kaa-sanmu, Karin..." kata Minato sedih. Kemudian mendekati Karin dan memegangi bahu Karin. Karin pun semakin terisak.
"Hiks... K-kenapa, Tou-san? Kenapa Tou-san selalu menyuruhku untuk tidak m-membenci, Kaa-san. Hiks, hiks..."
"Karna," Minato berhenti. Mata birunya mulai menerawang dan kembali melanjutkan kata-katanya dengan lemah. "semua ini salah, Tou-san. Seharusnya yang kau benci adalah Tou-san, karna Tou-sanlah penyebab semua ini..."
Karin tersentak. Ini pertama kalinya dia mendengar jawaban berbeda dari lelaki itu. Jawaban yang sama sekali berbeda dari yang sebelumnya. Ketika dia hendak bertanya, Minato melepaskan pegangannya pada bahu Karin dan melangkah ke arah meja rias Karin. Menghampiri sebuah bingkai foto keluarga yang ada di atas meja rias itu.
Minato memegangnya, lalu mengangkatnya dan memandangi foto seorang wanita berambut merah yang ada di foto itu dengan kesedihan mendalam.
"K-kenapa Tou-san berkata seperti itu?" tanya Karin tidak mengerti.
Minato menarik napas panjang. "Karna Tou-san yang telah menghancurkan hidup Kaa-sanmu, Karin..."
Flashback mode on
Plak
Sebuah tamparan keras diberikan oleh Kushina pada Minato yang sedang berdiri di depannya.
"K-kenapa, Minato?" tanya Kushina dengan raut wajah benci dan marah. Matanya yang memancarkan kepedihan itu menatap wajah datar lelaki itu.
"KENAPA KAU LAKUKAN INI PADAKU, BAJINGAN?!" teriak Kushina sambil menggunjangkan tangannya yang menggenggam kerah baju Minato.
"Ku harap kau mengerti, Kushi-chan... Hubungan kita hanya sampai di sini," jawab Minato pahit. "orang tuaku sudah menjodohkanku dengan perempuan lain..."
Tenggorokan Kushina tercekat. Cengkraman ke dua tangannya di kerah baju Minato pun terlepas. Dia mundur sambil memandang lelaki itu dengan kepedihan yang tak tergambarkan. Semua suaranya tertahan di napas pun terasa sulit baginya.
Dalam sekejap saja hati Kushina hancur. Mimpi-mimpinya untuk bersama lelaki itu telah pupus. Semudah itukah lelakì di hadapannya memutuskan hubungannya. Setelah semua yang ia berikan pada lelaki itu, termasuk mengorbankan tubuhnya hanya demi kata cinta yang selama ini didengung-dengungkan lelaki itu. Apakah di mata lelaki itu cinta itu hanyalah sebatas pergumulan di atas ranjang? Apakah dia hanya menjadi pelampiasan nafsu bejatnya?
Minato menarik napas pelan tanpa berkeinginan menahan tubuh Kushina. Mata birunya menatap nanar puncak kepala perempuan itu yang sudah menjatuhkan dirinya di lantai apartemennya sambil terisak. Dalam hatinya, Minato mengutuk dirinya sendiri yang telah menghancurkan perempuan itu. Sekuat tenaga ia tahan air matanya yang terus berdesakan ingin berhamburan dari kelopak matanya. Akhirnya dengan berat hati ia berbalik dan memandangi perempuan itu penuh sesal melalui sudut matanya. "Mulai sekarang kita tidak akan bersama lagi... Lupakan aku, Kushi-chan. Jalan yang kita lalui telah berbeda... Takdir tidak menginginkan kita bersama. Maafkan aku. Ku harap kau menemukan lelaki yang lebih baik dariku..." ujar Minato berat sembari melangkah cepat-cepat meninggalkan perempuan itu sendirian.
Flashback off
"T-tapi kenapa Tou-san tidak berusaha untuk memperjuangkan hubungan Tou-san dengan Kaa-san?" tanya Karin.
"Ya," jawab Minato. "seharusnya Tou-san bisa memperjuangkannya... Tapi Tou-san tak pernah bisa melakukan itu. Tou-san sangat menyayangi Baa-sanmu, Karin. Waktu itu Baa-sanmu sedang sakit-sakitan dan meminta Tou-san menikah dengan wanita pilihannya..."
"Lalu apa yang terjadi setelah itu?"
"Kami menikah. Tak lama setelah itu Baa-sanmu pun pergi dengan tenang... Setiap harinya Tou-san selalu dihantui rasa bersalah. Kehidupan Tou-san terasa seperti neraka... Tapi beruntung wanita itu bisa mengerti tentang keadaanku. Kami pun berpisah... Aku kembali pada Kaa-sanmu, tapi setelah melihat keadaannya, yang ku lihat pada mata Kaa-sanmu hanyalah kebencian, dan penderitaan... Bukan lagi mata yang memancarkan ke teduhan dan kehangatan...,"Minato berhenti sejenak. Air matanya mulai berjatuhan. "...setelah mendengar ceritanya. Baru ku tahu waktu aku meninggalkannya dulu, dia telah hamil dua bulan. Ke dua keluarganya yang masih hidup pun meninggal karna mengetahuinya hamil di luar nikah. Kaa-sanmu menghadapi penderitaan itu sendirian. Menjalani hari-harinya penuh cibiran dan cemoohan dari orang-orang. Karna tidak sanggup menahan malu, Kaa-sanmu meninggalkan bayinya di kota Kumo..." kali ini Minato berhenti. Tak sanggup lagi membayangkan yang telah terjadi pada wanita itu.
Karin berjengit dan hampir-hampir memekik setelah mendengar cerita Minato. Tanpa berkata apa-apa setelah itu ia berlari meninggalkan Minato sendirian di kamar itu. Derai air matanya terus mengalir deras dari kelopak matanya. Dia merasa bersalah telah berprasangka buruk pada ibunya. Kenyataan di balik sikap ibunya itu adalah karna masa lalu ibunya yang begitu pelik.
Ya, sekarang dia mengerti. Mengerti dengan keadaan ibunya yang sering sakit-sakitan dan sering marah-marah jika ada yang menyinggung tentang anak pertamanya.
Setelah sampai di depan pintu kamar yang ditempati ibunya, Karin mencoba membuka, tapi terkunci. Dia mengetuk pintu itu berkali-kali dengan terburu-buru dan berteriak memanggil ibunya seperti seorang anak yang sedang ketakutan.
"Kaa-san, ku mohon bukakan pintu untukku! Karin minta maaf, k- karna sudah salah paham dengan Kaa-san… Kaa-san... Bukakan Karin pintu..."
Beberapa saat kemudian pintu pun terbuka. Di depannya seorang wanita berambut merah dengan wajah murung berdiri memandangi Karin.
Karin pun langsung berlutut dan memeluk ke dua kaki Kushina sambil terisak.
"Maafkan, Karin... Kaa-san maafkan, Karin... Maafkan, Karin..." gadis itu terus berkata berulang-ulang dengan suara nyaring.
Kushina memandangi Karin yang terisak-isak beberapa lamanya. Akhirnya ia pun membungkuk sembari mengangkat tangannya untuk mengusap kepala Karin.
"Bangun, Karin." katanya sambil memegang ke dua pundak Karin dan memandangi Karin dengan mata berkaca-kaca. "Kaa-san sudah memaafkanmu. Sekarang bangun, maafkan Kaa-san juga karna telah memarahimu."
"Maafkan, Karin... Hiks, hiks... Maafkan, Karin..." kata Karin dengan suara pilu sambil menggelengkan kepalanya.
"Ayo, bangun anak Kaa-san..." bujuk Kushina dengan nada keibuan sembari menarik Karin dengan pelan.
.
.
XXXXXXX
.
.
Shion keluar dari mobil hitam milik ayahnya. Dia berbalik dan memandang pria yang ada di dalam mobil.
"Sudah ya, Shion. Ayah berangkat dulu. Jaga dirimu baik-baik," pesan ayahnya sambil tersenyum menatap Shion.
Shion mengangguk, lalu menjawab perkataan ayahnya dengan sopan. Katanya, "Baik, Tou-sama," dia membungkuk hormat pada sang ayah.
"Bisa tolong tutup pintunya buat ayah," pinta ayahnya dengan lembut.
"Baik, Tou-sama," patuh Shion sembari meraih pintu mobil dan menutupnya pelan.
Brrummm brummm
Mobil itu meninggalkan Shion di depan gerbang sekolah. Siswa-siswi yang menjadi murid sekolahan itu satu persatu memasuki sekolahan tersebut. Ada yang naik motor, ada yang naik mobil, dan tak jarang pula ada yang jalan kaki.
Gadis itu pun beranjak memasuki sekolahannya. Di sebelah kanannya adalah tempat parkir di mana motor-motor dan mobil-mobil berjejer rapi. Di sebelah kirinya ada pepohonan rindang yang sering dijadikan tempat bersantai pada waktu jam istirahat. Lalu lapangan basket tempat para siswa bermain basket.
Nyyeeengg
Tiba-tiba sebuah motor melaju dengan kencang dari arah belakangnya dan mengagetkannya. Pengendara motor itu sedang membonceng seorang gadis di belakangnya. Mereka berbelok ke tempat parkir.
Ckiiit.
Si pengendara memarkirkan motornya dengan cekatan.
Srreeettt
pengendara itu membuka helm yang membungkus kepalanya. Memperlihatkan seorang pemuda berambut mirip pantat ayam, warna hitam dan tampak menarik. Kulitnya putih dan tampangnya diatas normal. Mimik wajahnya tampak santai dan terkesan meremehkan. Tubuhnya tinggi dan ukurannya sedang.
Dia adalah Uciha Sasuke, siswa kelas tiga sekolahan kece itu. Anak bungsu dari pengusaha kaya raya Uciha Fugaku dan Uciha Mikoto. Dia tipe orang yang santai, penuh dengan kebebasan. Kadang-kadang suka konyol dan marah-marah kalau ada laki-laki yang berani merayu gadis di sebelahnya. Dia tidak pernah mengerti kenapa dia bisa menyukai gadis berdada rata ini. Padahal ada begitu banyak gadis yang jauh lebih cantik darinya. Tapi dia menyadari satu hal tentang gadis ini bahwa gadis ini bisa membuat jiwa santainya berubah liar.
Dia menyandarkan pantatnya pada motornya sambil merogoh saku celananya.
Srett
Si gadis melepaskan helm yang dikenakannya. Rambutnya berwarna merah muda, sangat indah dengan kornea mata berwarna hijau yang berkilauan seperti batu jamrud. Tubuhnya tegap seperti laki-laki maskulin bukan banci. Dia adalah gadis berdarah panas, dan emosional. Mudah tersulut emosìnya hanya karna sebuah hal sepele. Sifatnya suka mengatur, sangat membenci orang yang ingkar janji. Tapi orangnya setia kawan.
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk menggoyang surai pinknya yang layu. Dia mengenakan rok mini yang membalut sebagian pahanya.
"Sakura-chan!" Shion memanggil nama gadis itu dengan berteriak sembari melambai-lambaikan tangannya.
"Shion-chan!" Sakura tersenyum manis sambil membalas lambaian tangan Shion. Sakura berpaling seraya menajamkan tatapannya pada Sasuke.
"Sasuke! Sudah ku bilang untuk pelan-pelan. Kenapa kau terus mempercepatnya baka!" omel Sakura sambil berkacak pinggang.
Haruno Sakura, Siswi kelas tiga di Konoha Senior High School. Primadona sekaligus kekasih dari si bungsu Uciha di dekatnya.
"Ck, mengganggu saja," decak Sasuke yang sedang menyandarkan pantatnya di motornya, lalu ia mengambil tiga batang Sampoerna Mild dari bungkus rokoknya dan menyesapkannya ke tiganya ke mulutnya. Kemudian mengambil korek di saku celananya dan membakar rokok-rokok itu.
Syuuup fuuhh.
Dia menghembuskan asap rokoknya. Sakura pun langsung jengkel dibuatnya.
"Grrrrr, sudah ku bilang jangan merokok di sekolah baka!"
bletak.
"Ittaiii!" Sasuke merintih sambil mengelus kepala ayamnya yang dijitak Sakura. "Kusho... berhenti menjitak kepalaku!"
"Terus kau mau apa, hah?" tanya Sakura dengan penuh tantangan dan mengepalkan tinjunya, lalu mengangkat kerah baju Sasuke.
Si bungsu Uciha ini bukannya takut, dia malah tersenyum tipis menatap Sakura. "Kau berani menantangku ha?" tanya Sasuke menyeringai sambil membuang rokok di mulutnya.
Krep.
Sasuke langsung merangkul pinggang Sakura, lalu menariknya hingga tubuh mereka berhimpitan. "Jangan macam-macam dengan ku," kata Sasuke mengejek.
"Mau ap-mmmmpphhf." belum selesai kalimat yang diucapkannya. Tiba-tiba Sasuke langsung membungkam bibir Sakura. Melumatnya, membuka paksa mulut Sakura, lalu menelusupkan lidahnya ke dalam mulut gadis itu.
"Sasu-mmmmpfff.. ke-mmppff.. henti-mmpppff.. kan.."
Gadis itu berusaha memberontak dan berbicara, tapi Sasuke dengan sigapnya menahan kepalanya. Beberapa lama kemudian perlawanannya melonggar. Pipinya sudah merona merah karna mulai bergairah. Tangannya yang semula berada di dada Sasuke sudah berpindah ke belakang kepala Sasuke. Meremas-remas rambut ayam pemuda itu dengan liar. Lain di mulut lain di hati.
Mulut mereka terus bergumul, saling lahap. Lidah mereka bertaut saling melilit. Tubuh mereka semakin berhimpitan.
Adegan panas itu membuat siswa-siswi di sekolah langsung memperhatikan pemandangan vulgar di hadapan mereka. Beda dengan Shion yang sudah memalingkan wajahnya ketika melihat adegan itu.
Namun, tidak ada seorang murid pun yang berani menegur aksi kedua orang itu karena mereka tidak mau berurusan dengan Sasuke Uciha.
Sasuke semakin beraksi. Tangan kanannya memegangi paha putih nan mulus bagian dalam Sakura. Kemudian menariknya sehingga sebelah kaki gadis itu melingkari pinggangnya. Setelah itu dijejalkannya telapak tangan ke selangkangan gadis itu, menyusupkan jari-jarinya ke dalam celana dalam gadis itu. Sementara tangan kirinya terus mengapit pinggang Sakura.
Seerrt.
Bagai ke setrum listrik saat jari-jari tangan Sasuke menggelitiki kemaluannya, Sakura menjadi semakin liar. Gerakan pantatnya sedikit di maju mundurkan. Seolah ingin agar tangan itu memasuki semakin memainkan kemaluannya.
"Mmmmpphf... Mmmnggh...," Sakura melenguh keenakan. Telapak tangan kirinya mengelus manja rahang Sasuke.
Jemari tangan Sasuke makin tak terkendali. Tangan kirinya mengangkat paha kiri Sakura sampai ke dua kaki Sakura melingkari pinggangnya. Ia mengangkat tubuh Sakura lalu mendudukkannya di jok motornya. Jari-jari tangan kanannya yang ditindih selangkangan Sakura, kembali mengaduk-aduk belahan kemaluan Sakura. Selangkangan Sakura sudah mengeluarkan cairan-cairan yang sedikit membasahi celana dalamnya.
Orang-orang yang melihat kejadian itu ikut tegang. Yang main siapa? Yang tegang siapa?. Dan karna hal itu juga membuat salah seorang satpam langsung menghampiri ke duanya. "Hei, kalian!" bentak si satpam setengah emosi melihat adegan hot di depannya.
Ke duanya pun menghentikan kegiatan mereka dengan wajah yang memerah. Sakura sedikit mendesah kecewa karna Sasuke melepas ciuman serta menarik tangannya keluar dari selangkangannya. Napas Sakura terengah-engah dengan mulut sedikit terbuka.
Merasa terganggu dengan teriakan si satpam, Sasuke berbalik dengan tampang kesal menatap satpam yang ada di hadapannya. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet miliknya, lalu membukanya dan menarik tiga lembar uang seratus ribuan. Si bungsu Uciha itu meremas tiga lembar uang tadi dan melemparnya ke arah satpam itu, "Itu uang tutup mulutmu. Nikmatilah."
Tapi sebelum satpam itu meraih uang itu, sebuah mobil masuk ke tempat parkir dan menggilas uang tersebut. Pandangan Sasuke pun menajam memandangi mobil itu.
Mobil itu berhenti. Tiga pintu mobil terbuka, memperlihatkan tiga orang kembar. Wajahnya mereka pucat, warna mata mereka sama, lavender. Ekspresi mereka juga tak jauh berbeda, dingin dan angkuh. Hanya warna rambut mereka yang tampak berbeda.
Pemuda rambut coklat, namanya Neji. Dua gadis lainnya yang bersamanya adalah Hanabi dan Hinata, sepupunya. Hanabi berambut hitam panjang dan agak kurusan. Penampilannya seperti anak smp. Padahal umurnya hanya selisih beberapa dari kakaknya. Lalu yang rambutnya sebahu berwarna hitam kebiruan itu adalah Hinata. Lekuk-lekuk tubuhnya indah. Cara berjalannya anggun dengan dagu yang sedikit diangkat. Dalam sekejap saja semua perhatian langsung tertuju ke arah Hinata.
Mereka terlibat mengobrol singkat sebentar. Hinata mengalihkan pandangannya pada Shion, terbesit rasa tidak suka terpancar dari pandangannya. Cepat-cepat ia alihkan pandangannya lagi, lalu melangkah dipimpin pemuda berambut coklat itu.
Sasuke membalik tubuhnya, lalu memandang wajah Sakura. Ia kemudian menangkup pipi kanan gadis pink itu dengan tangan kanannya, "Nanti kita lanjutkan lagi ya, sayang." pinta Sasuke seraya mencium pipi kiri gadis pinky itu agak lama. Setelah itu ia pergi sambil menenteng tas hitamnya di sebelah bahunya.
Untuk beberapa saat Sakura masih diam, rasanya ciuman hangat dari Sasuke membuatnya mabuk. Birahi yang tadi menguasainya pun sirna seketika saat bibir Sasuke menyentuh kulit pipinya. Hatinya menghangat menjalar ke pipinya. Dia membuka matanya. Sedetik kemudian dia menunduk malu dengan wajah merah padam.
Sakura tersadar, dia telah ketinggalan jauh dari Sasuke. "Sasuke-kun!" panggil Sakura seraya melangkahkan kakinya untuk mengejar Sasuke. Langkah kakinya terhenti ketika ia sudah di samping Sasuke. Ia pun merangkul lengan Sasuke sambil tersenyum menatap Shion, "Aku duluan ke kelas ya. Shion-chan!" pamit Sakura.
Brumm
ckiitt..
Sebuah mobil Marcedez Benz memasuki sekolah dan berhenti di dekat Shion. Seseorang ke luar dari dalam mobil, parasnya cantik, matanya indah berwarna biru seperti batu aquamarine. Pandangannya tajam, model rambutnya diikat ekor kuda. Julukannya di sekolah itu adalah si Barbye cerewet. Suka mengamat-amati orang. Sebagian waktunya ia gunakan untuk berdandan dan shopping. Dan beruntung sekali dia tidak bertemu dengan Hinata, karna jika hal itu terjadi, naka selama berjam-jam waktunya akan habis berceloteh tentang Hinata. Bentuk tubuhnya langsing dan montok.
Gadis pirang itu tersenyum sebentar, lalu berpesan, "Pak, nanti jemput saya ya sepulang sekolah,"
"Baik, Nona Ino."
Ino pun menutup pintu mobil. Setelah mobil itu pergi, dia berbalik menghadap Shion dan menyapanya, "Selamat pagi Shion-chan!" ucap Ino sambil berjalan mendekati Shion.
"Selamat pagi juga, Ino-chan" balas Shion sambil tersenyum pula. "ayo, kita masuk kelas."
"O iya, kemarin kenapa tidak masuk?" tanya Ino sambil menatap Shion penuh tanda tanya.
"Lagi tidak enak badan." jawab Shion berbohong.
Tep
Tiba-tiba lengannya di genggam dari belakang oleh seseorang sehingga membuatnya terkesiap. "Kyaaaa!" dia pun menjerit histeris.
Ino langsung menoleh, terkejut mendengar jeritan Shion. Manik aquamarinenya melihat Sasori sedang mencengkram lengan Shion.
"Hei, payah! Jangan apa-apakan temanku!" hardik Ino dengan mata melotot tajam.
"Cerewet." ejek Sasori sambil menatap malas Ino.
Wajah Ino langsung merah padam mendengar perkataan Sasori, "Apa katamu?!" tanya Ino dengan suara melengkingsembari mendekati pemuda itu.
"Ino-chan, sudah. Biar aku saja yang mengurus anak manja ini," ujar Shion menyela.
Click
Wajah Ino kembali lagi menjadi putih. Kemudian mengatakan, "Oke, tapi kalau dia berani menyakitimu. Biar aku yang akan meninju wajahnya yang memuakkan itu!" Ino berkata mengancam, lalu melengos pergi meninggalkan ke duanya menuju kelasnya di lantai tiga.
Setelah bayangan Ino sudah menghilang dari pandangan mereka, Sasori menarik lengan Shion kembali, "Ikut aku." Katanya memaksa.
"Lepaskan aku! Kau tidak perlu menarikku seperti itu. Aku bisa jalan sendiri!" bentak Shion sambil menepis kasar tangan Sasori.
Sasori mendengus, detik berikutnya ia pun mengikuti Shion yang melangkah mendahuluinya.
Mereka berjalan menuju gudang sekolah yang ada di dekat halaman parkir dan berhenti di samping kanan gudang itu, atau lebih tepatnya celah yang tidak terlalu sempit.
Setelah itu Sasori menarik lengan Shion hingga punggung Shion menyentuh dinding, lalu berdiri di hadapan Shion dan mengangkat ke dua tangannya lalu memposisikannya di antara kepala Shion.
"Siapa dia?" tanya Sasori tajam.
Shion merasa kesal karna mendapat perlakuan orang itu. Lalu ia berkata dengan suara stengah membentak, "Dia kekasihku. Tidak ada urusannya denganmu!" ujarnya sambil mendorong tubuh Sasori.
Sasori berdecak. "Aku tidak percaya kau lebih memilih berandal itu daripada aku." sombongnya meremehkan Naruto.
"Dari yang ku lihat tidak ada kelebihan yang ada padamu yang bisa menyaingi Naruto-kun kecuali hartamu saja anak manja."
Duagh.
Shion meninju perut Sasori sampai membuat Sasori membungkuk. Gadis itu mengangkat kerah baju Sasori sambil berkata dengan nada mengejek. "Biar ku beritahu ya. Tadi malam aku sengaja tidak melawan, karna ada Naruto-kun di sana, tapi karna sekarang dia tidak ada. Jangan pernah berani macam-macam dengan ku," selesai mengucapkan itu dia menjulurkan kakinya ke samping kaki Sasori, lalu menarik tubuh Sasori ke kanannya membuat Sasori terjerembab ke lantai. "sudah dulu ya. Aku mau ke kelas." pamitnya sambil mengangkat dagunya, lalu menepuk-nepuk ke dua telapak tangannya. Dia pergi meninggal Sasori yang sedang bersujud sambil memegangi perutnya di lantai.
"Sial! Akan ku balas brandal sialan itu! Argh!"
Dini harinya pada hari minggu di kamar Naruto. Dia terbangun dan membuka kelopak matanya, mengerjapkannya beberapa kali menatap langit-langit kamarnya yang tampak gelap gulita, satu-satunya penerangan yang ada hanyalah dari jendela kamarnya yang tampak sangat buram. Tenggorokannya terasa kering kerontang. Dia bangkit dan mendudukkan dirinya di tepi kasur.
Dia merasakan ada yang sedang memperhatikannya dari arah jendela kamarnya. Ia pun menengok, walaupun samar-samar, dia masih bisa melihat dengan jelas sesosok bayangan hitam sedang berdiri menghadap jendelanya.
"Siapa di sana?" tanyanya. Tapi bayangan hitam itu tak menjawab. Naruto bangkit, lalu melangkah untuk memeriksa jendela itu.
Srek srek
Suara gesekan sendalnya terdengar jelas menggema di kamar itu. Semakin dekat dia dengan jendela itu semakin jelas terlihat bayangan hitam itu.
Klek
Jendela itu pun dibukanya dan tak ada seorang pun yang tampak di matanya. Dia memajukan tubuhnya sampai kepalanya ke luar dari jendela itu.
Tidak ada siapa-siapa. Dahinya mengernyit bingung. "Aneh." katanya sambil menutup jendela itu lagi.
'Mungkin hanya perasaanku saja.' batinnya dalam hati.
Dia berbalik. Meski tampak samar-samar, tapi cukup untuk melihat tepat dua meter di sampingnya berdiri sesosok perempuan, berpakaian putih dengan banyak bercak darah di bajunya, rambutnya panjang berwarna hitam pekat, menutupi hampir semua wajahnya.
"Guah hah!" Naruto melompat ke belakang karna kemunculan mendadak perempuan itu. Punggungnya sampai menabrak dinding kamarnya dengan keras.
Klip
Naruto mengedipkan matanya dan sosok perempuan itu sudah menghilang dari pandangannya.
Dia menoleh ke sana ke mari mencari-cari sosok perempuan itu. 'Ke mana dia?' tanyanya dalam hati.
"Hah, kenapa akhir-akhir ini aku sering mengkhayal ya?" gumamnya sembari melangkahkan kakinya meninggalkan kamarnya untuk menyegarkan tenggorokannya. Tak disadarinya sosok itu sedang berdiri di belakangnya, mengikutinya dalam diam.
Naruto ke luar kamarnya menuju dapur. Sementara sosok itu terus mengekori Naruto sambil menyeringai.
Bulu kuduk Naruto mulai merinding. Mata birunya bergerak-gerak gelisah. Dia mencoba menengok ke belakang tetapi sama sekali tak ada orang yang didapatinya. Jantungnya mulai berdebar-debar kencang.
Sret sret
Naruto terkesiap. Suara gesekan kaki di lantai itu langsung membuatnya memasang sikap waspada. Dia bergerak cepat ke arah tombol lampu yang berada dua meter di depannya.
Klek
Dia menyalakan lampu dan berbalik menghadap ruang tamu itu. Mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu. Mungkin saja pencuri atau perampok pikirnya. Tapi sama seperti sebelumnya, kosong, hanya itu yang didapati penglihatannya.
"Huh..." dia menghembuskan napas lega sembari melangkah lagi ke arah dapur melewati pintu Tsunade.
Dia sampai di dapur yang hanya diterangi dengan cahaya yang agak buram. Berhenti di depan kulkas. Membukanya, lalu membungkuk untuk mengambil sebotol minuman.
Ting!
Sebuah sendok jatuh dari atas rak. Membuat Naruto kaget dan langsung membalik tubuhnya ke belakang. Tapi, tetap tak ada orang di sana, yang ada hanya sebuah sendok yang tergeletak di lantai. Dahinya mengkerut bingung memandangi sendok itu. Dia maju, kemudian memungutnya sambil memandanginya dengan alis menyatu. Mana mungkin yang jatuh cuma satu? Seharusnya kan semuanya... Ah sudahlah. Dia pun meletakkan sendok itu ke dalam wadah yang ada di rak paling atas. Kembali dia menghampiri kulkas untuk mengambil minuman.
Tepat ketika dia kembali membungkuk, terdengar lagi suara langkah kaki terseret-seret dari ruang tengah. Naruto menjadi jengkel. Timbul keinginannya untuk mengagetkan orang usil itu. Dia berpura-pura mencari sesuatu di dalam kulkas sambil memusatkan perhatiannya pada pendengarannya. Semakin lama semakin terdengar jelas suara langkah kaki itu memasuki dapur.
Sreet sret
Naruto bersiap-siap untuk mengejutkan orang itu.
Sreet
Suara itu hilang tepat dua meter di belakangnya. Naruto menyeringai setan. Pikirnya, dia harus lebih cepat sebelum dia yang dikagetkan duluan. Palingan juga ayahnya yang usil.
Dia membalik tubuhnya secepat kilat, tapi begitu dia menghadap ke belakang, dia disambut wajah ibunya yang hanya berjarak beberapa centi saja dari wajahnya.
"Guagh!"
Naruto melompat ke belakang, dan menabrak kulkas di belakangnya dengan punggungnya.
"Aduh... Aduh..." rintih Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya yang terasa sakit. Sedang wanita itu hanya diam dengan ekpresi dingin dan pandangan mata menyayu.
"Kaa-san! Jangan mengagetkanku!" kata Naruto sewot setelah keadaannya sudah tenang. Namun wanita itu hanya mematung, matanya yang kosong itu hanya terpaku pada mata biru Naruto.
Naruto memandangnya heran beberapa saat. Ada yang aneh dengan ibunya ini. Biasanya dia yang akan duluan bertanya inilah, itulah.
"Kaa-san, baik-baik saja?" tanya Naruto lagi.
Wanita itu mengangguk beberapa kali. Naruto semakin terheran-heran dibuatnya.
"Kaa-san sakit?" tanyanya lagi. Wanita itu menggelengkan kepalanya.
Naruto mengamat-amati wajah ibunya beberapa lamanya. Tapi kemudian dia mengangkat tak mau ambil pusing. Ia berbalik mengambil sebotol minuman, lalu membuka tutup botol di tanganya dan meminumnya.
Setelah tenggorokannya tidak kering lagi. Ia pun kembali memandang sang ibu.
"Kaa-san tidak tidur?" wanita itu menggeleng.
"Ya sudah, aku tidur dulu ya, Kaa-san. Jangan bergadang." kata Naruto ragu-ragu sebentar. Wanita itu hanya mengangguk saja dan tetap mematung di tempatnya.
Setelah kepergian Naruto, tiba-tiba saja perempuan itu tersenyum lebar, menampakkan gigi-gigi putihnya yang tampak menyeramkan. Wajahnya berubah mengenaskan dan rambut pirangnya berubah hitam, menutupi seluruh wajahnya.
Jam enam pagi Naruto sudah bersiap-siap, dia mengenakan jaket berwarna hitam dengan gambar tengkorak di punggungnya. Baju kaos berwarna putih dan celana selutut berwarna hitam. Sebelum itu dia mau minta izin pada orang tuanya bahwa ia akan datang terlambat ke toko hari ini. Setibanya di kamar orang tuanya. Ia hanya mendapati ibunya a.k.a Tsunade sedang bersiap-siap untuk mandi.
"Kaa-san, Tou-san di mana?" tanya Naruto.
"Aku tidak tahu si mesum itu ada dimana. Memangnya ada apa, Naruto?" Tsunade balik bertanya sambil menenteng handuk di tangannya.
"Mmm.. Kaa-san, mungkin hari ini aku akan terlambat ke toko," jawab Naruto yang sedang berdiri di bingkai pintu kamar orang tuanya.
"Kau ini. Memangnya kau ada urusan apa, Naruto?" Tsunade bersidekap.
"Aku mau olahraga Kaa-san lagipula Kaa-san 'kan bisa berduaan dengan Tou-san tanpa gangguan ku, Hehehehe." ujar Naruto menggoda Ibunya.
"Jangan banyak alasan! Sudah, minta izin sama Tou-sanmu sana." omel Tsunade dengan pipi bersemu merah.
"Eh, Tou-san dimana, Kaa-san?" tanya Naruto tersadar dari acara menggodanya.
Tsunade mengendikkan bahunya tidak tahu. "Cari saja di belakang rumah, mungkin saja si mesum itu sedang berlatih. Kaa-san mau mandi dulu, sudah sana." ucap Tsunade sambil berlalu ke kamar mandi.
Awalnya Naruto ingin perihal tentang kejadian semalam, tapi melihat ibunya sudah memasuki kamar, ia mengurungkan niatnya. Ia pun segera berlalu untuk mencari Jiraiya seiring dengan masuknya Tsunade ke kamar mandi.
XXXXXX
"Oi! Tou-san mesum!" seru Naruto kepada Jiraiya yang sedang berjongkok di depan jendela di samping rumah itu.
Jiraiya pun panik, kemudian menengok ke kiri dengan cepat. "Sssssttt," dia meletakkan jari telunjuknya di ujung mulutnya. "Baka!" ucapnya dengan setengah berteriak sambil menggelar telapak tangannya menghadap ke Naruto.
Ckliiit.
"Sedang apa kau?" tanya Tsunade yang mengenakan handuk untuk menutupi tubuh bugilnya sambil berdiri di jendela yang sudah terbuka. Jiraiya menggerakkan kepalanya ke kanan dan wajahnya berubah pucat pasi melihat sang istri sedang berdiri sambil menatap horor dirinya.
Bletak.
"Gik." Jiraiya sampai cekukan menahan sakit di kepalanya. Di sudut matanya tampak airmatanya hampir jatuh.
"Huh,…" Naruto membuang napas panjang sambil memicingkan matanya. "Baka, Tou-san..." Kemudian melengos pergi meninggalkan Jiraiya.
Tsunade mengangkat kerah baju Jiraiya lalu membanting tubuh sang suami ke dalam kamar mandi.
Buggh..
Tubuh Jiraiya terhempas ke lantai dengan kerasnya. Kemudian Tsunade menduduki perut Jiraiya sambil berkata, "Baka! sedang apa kau tadi?" ujarnya kembali memegang kerah baju Jiraiya.
"Aku s-sedang m-mencabuti rumput, Hime." kata Jiraiya panik sehingga mengucapkan apa saja yang terlintas di kepalanya.
Seet..
Lilitan handuk Tsunade melorot sehingga memperlihatkan sesuatu yang membuat Jiraiya makin banyak mengeluarkan darah.
Tik.
Jiraiya pun pingsan karna hal itu.
.
.
XxX
.
.
Naruto mendongak, memandang ke arah langit mendung yang memayungi kota Konoha. Sesaat dia merasa ragu, tapi dia sudah terlanjur berpakaian. Dia pun mengambil sikap masa bodoh dan mulai berlari sambil menyelipkan Earphonenya ke telinganya dan memutar sebuah lagu di ponsel jadul miliknya. Dia terus berlari dengan langkah santai di trotoar jalanan. Seiring dengan berputarnya lagu di telinganya, dia pun mulai berkhayal.
Tempatnya berubah menjadi padang tandus. Pakaiannya berganti menjadi baju rompi ketat berwarna hitam. Sebuah ikat kepala berwarna merah, dua buah kunai di ke dua genggaman tangannya, celana hitam panjang dan sebuah sepatu boot yang membalut kakinya serta dua sabit yang dirantai di punggungnya.
Lima belas meter di depannya ada lima orang. Wajah mereka seperti kakek-kakek, tak punya rambut. Mengerikan dengan senyum lebar yang memperlihatkan taring-taring gigi mereka. Kelopak mata mereka menghitam memancarkan kebengisan dan haus akan membunuh. Masing-masing dari mereka memegang dua bilah pisau panjang. Mereka tertawa dengan suara serak yang sumbang.
Fight!
Naruto merentangkan tangannya, lalu melesat ke arah lima makhluk itu. Mereka pun juga ikut berlari ke arah Naruto. Mereka berlima melompat secara serentak sambil mengayunkan senjata mereka ke arah Naruto.
Push
Tapi dengan cepat Naruto melompat dan lebih dulu menghantam dagu orang yang ada di tengah-tengah lima makhluk itu dengan lututnya. Kemudian menikam wajah orang itu dengan salah satu kunainya. Dicabutnya kunainya, lalu memegang tangan makhluk itu dan melempar tubuh makhluk itu ke arah dua orang di kanannya.
Brukk bussh
Mereka bertabrakan, lalu menghantam tanah dengan tubuh mereka. Naruto lalu melempar ke dua kunai yang digenggamnya ke arah dua orang yang tadi ada di sebelah kirinya.
Jleb jleb
Ke dua makhluk itu mengerang kesakitan saat kunai-kunai Naruto bersarang di tenggorokan dan kepala mereka. Dua lainnya terbangun, lalu melompat dan menerjang Naruto dengan senjata mereka. Tapi dengan cekatan, Naruto memutar tubuhnya menghindari pisau yang hampir saja menyobek dadanya. Dia mencabut sebuah sabit yang ada di punggungnya, lalu menyabet tengkuk makhluk itu, hingga kepala makhluk itu terpisah dari tubuhnya.
Dia mencabut sabit yang satunya. Lalu mengayunkan ke dua senjatanya dari bawah ke atas, menyambut kedatangan makhluk yang satunya yang ingin menikamnya.
Jleb
Ke dua sabit itu menancap dalam ke perut makhluk itu. Dari perut makhluk itu berhamburan darah hitam yang banyak. Belum selesai dengan itu, lelaki itu menarik ke dua sabitnya ke samping, menyobek perut makhluk itu, hingga isi perutnya ke luar berhamburan ke pakaiannya.
Saking terhanyutnya Naruto dengan khayalannya, dia sampai tidak menyadari bahwa dia sudah berada terlalu pinggir.
Dugh
"Guakh!" dia menabrak sebuah tiang listrik yang ada di pinggir jalan. Pemuda itu naik pitam, kemudian dengan wajah garang ditendangnya berkali-kali tiang listrik yang ditabraknya tadi.
Di jalan sebuah motor yang dikendarai oleh Sasuke sambil membonceng si rambut merah a.k.a Gaara langsung menertawakan tingkah laku Naruto.
"Orang gila!" teriak mereka berdua dengan nada mengejek.
Dan karna hal itu membuat Naruto langsung menoleh dan menatap ke duanya dengan garang. Dia kemudian memungut sebuah batu dan melempar salah seorang dari ke duanya.
Tok
Kepala Gaara digetok batu yang Naruto lemparkan sehingga muncul benjolan di kepalanya.
Gaara menggertakkan giginya sambil menatap kesal Naruto.
"Brengsek!" umpatnya sembari menggaruk-garuk kepalanya yang nyut-nyutan. Awalnya dia ingin turun dan menghajar lelaki berambut pirang itu. Tapi, begitu melihat tampang sangar Naruto, ia segera mengurungkan niatnya dan malah menyuruh Sasuke mempercepat kendaraannya.
"Payah!" kata Naruto jengkel sembari melanjutkan acara lari paginya yang sempat tertunda. Awan mendung yang semakin menggelap tak memberhentikan langkahnya yang sedang berlari di tepi jalanan itu.
Setelah lama dia terus berlari, akhirnya ia pun berhenti seraya membungkuk untuk mengatur napasnya yang terengah-engah.
Tap tap tap
Seorang lelaki bertubuh jangkung mendekatinya. Badannya besar dan tegap. Dia memakai topi lebar yang senada dengan warna pakaiannya, yaitu kuning pucat. Stelan jas yang agak lusuh dan celana panjang serta sepatu pantopel yang menutupi kakinya.
Usianya sekitar empat puluhan ke atas. Rambutnya yang berwarna abu-abu itu dikuncir ke belakang. Sedang wajahnya yang putih kemerah-merahan itu menunjukkan keramahan yang sama sekali tak dibuat-buat. Janggutnya pendek tersambung dengan kumisnya melingkari mulutnya yang terkatup rapat, warnanya senada dengan warna rambutnya.
"Butuh minuman, anak muda?" kata bapak itu sambil menyodorkan sebuah botol minuman ke pada Naruto. Nada suara berat dan rendah.
Naruto mengangkat wajahnya dan menatap botol yang tersodor padanya. Dia tak langsung menjawab dan menerimanya. Dia mengalihkan mata birunya ke mata hitam lelaki itu. Sekilas terlihat di matanya ekspresi terkejut yang ditujukan bapak itu. Tapi hanya sebentar, karna wajah bapak itu kembali tenang.
"Um... Paman siapa?" tanya Naruto.
"Oh ya, aku lupa. Perkenalkan, namaku Baek. Aku dari luar negeri..." kata bapak itu ramah sambil tersenyum.
Naruto mengamatinya sebentar dengan tatapan penuh selidik. Tiba-tiba bapak itu langsung menjawab apa yang ada didalam kepalanya.
"Kau tak perlu curiga, anak muda. Aku bukan orang jahat. Aku ke sini hanya untuk bersantai dan ingin bertemu kerabat jauh."
Mendengar jawaban bapak itu wajah Naruto pun berubah merah karna malu. Tapi tiba-tiba seseorang menginterupsi obrolan mereka dari belakang bapak itu.
"Paman, ternyata ada di sini. Sedang apa paman? Dan siapa dia?" tanya orang itu. Tubuhnya tinggi dan atletis. Wajahnya di atas standar alias tampan. Matanya sipit berwarna hitam seperti mata orang-orang asia kebanyakannya. Rambutnya putih ke abu-abuan dibelah dua dan belakang rambutnya mirip seperti pantat ayam. Penampilannya terkesan seperti penampilan geng bermotor dengan baju ketat berwarna biru dan celana panjang ketat berwarna hitam. Kulitnya putih mulus, berdagu lancip, dan rahangnya tampak kokoh.
"Oh, kau rupanya Lee." kata bapak itu. Dia memandang Naruto lagi. "perkenalkan dia keponakanku namanya Lee."
"Salam kenal." kata Lee seraya menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Naruto tampak kikuk mendapat perlakuan seperti itu, tetapi akhirnya dia pun mengangkat tangannya menjabat tangan orang itu sambil memperkenalkan diri.
"Salam kenal, Lee-san. Namaku Naruto." kata Naruto. Setelah berjabat tangan, Naruto langsung pamit pada dua orang itu.
"Maaf paman. Ku rasa aku harus pulang..."
"Secepat itukah? Padahal kami ingin mengajakmu sarapan bersama." ucap bapak itu agak kecewa.
"T-tidak usah p-paman," tolak Naruto dengan gugup. "aku harus cepat-cepat pulang. Nanti orang tuaku mencariku."
"Yah sudah. Mungkin lain kali saja. Haha," kata orang tua itu sambil tertawa.
"Sampai jumpa lagi, paman." pamit Naruto, lalu berbalik dan secepat mungkin meninggalkan dua orang aneh itu.
"Paman, kenal dia?" tanya Lee.
"Tidak. Tapi ku rasa aku pernah melihat wajahnya."
"Di mana?"
"Kurang ingat. Mungkin dalam suatu lukisan kuno. Aku tidak terlalu ingat lukisan siapa itu."
"Paman memang sudah tua. Ku rasa paman terlalu banyak berkhayal. Ayo paman, kita kembali ke penginapan. Sepertinya akan turun hujan."
Tik tik tik
Rintik-rintik hujan mulai berjatuhan. Beruntung Naruto sudah duluan menyelamatkan ponselnya dari guyuran hujan dengan sebuah kantong plastik yang ia temukan di jalan tadi.
Dia tidak mencari tempat berteduh. Malah dengan senang hati ia menyambut guyuran hujan itu.
Dia tersenyum sumringah sambil menengadahkan wajahnya ke atas langit, menerima rintik-rintik hujan dengan wajahnya. Semua perasaan-perasaan yang membebaninya selama ini luntur mengalir bersama bulir-bulir air hujan yang menuruni tubuhnya.
Dia berjalan lagi dengan hati riang gembira. Tingkahnya mirip seperti bocah kecil yang sedang bermain hujan. Melompat ke sana ke mari sesuka hatinya. Apa pun yang orang katakan tentang dirinya dan bagaimana pun penilaian mereka tentang tingkahnya, dia tak peduli.
.
.
xxx
.
.
Hinata mendengus sebal. Di kafe kecil yang terletak di pinggiran jalan itu dia duduk diam dengan ekspresi murung. Sedangkan ayah beserta adik dan sepupunya sedang asyik mengobrol dengan berbagai macam topik.
Bukan keinginannya untuk berada di sini, di tempat kampungan norak ini. Ini semua adalah keinginan ayahnya yang selalu rutin mengunjungi kafe ini dengan alasan-alasan yang selalu sama, ingin bernostalgia dengan masa mudanya dan menyantap makanan favoritnya.
Dia mengalihkan pandangannya ke arah luar tempat itu, memandangi jalanan yang sedang diguyur hujan. Dalam rinai hujan yang bergemericik mengguyur jalanan itu, tiba-tiba Hinata terpaku pada sosok seorang pemuda yang sedang melintas di trotoar jalan. Gerakan pemuda itu begitu ringan, berputar dan menendang arus air yang bergerak di atas trotoar jalanan. Sesekali dia menginjak-injak arus air itru, Senyum sumringah yang ditampakkan orang itu begitu tulus. Hinata tertegun pada sosok pemuda itu yang bermain-main dengan rinai hujan.
Sangat indah, dan mempesona matanya. Hinata menahan napasnya, karna melihat pesona keindahan yang ditampakkan Tuhan pada salah satu karyanya tersebut.
Hinata mengamati wajah pemuda itu. Senyum yang begitu polos dan ke kanak-kanakan yang sering disaksikan pada wajah anak kecil, wajah yang tak memiliki beban sama sekali. Mendadak jantungnya terasa berdentum lebih cepat. Pipinya pun mulai mengeluarkan rona kemerah-merahan. Kehangatan yang dipancarkan orang itu mencairkan segala kebekuan hatinya. Hingga dia tidak menyadari perlahan air matanya bermunculan dan berkumpul di sudut matanya.
Tapi semua pemandangan indah tersebut pudar ketika bahunya ditepuk oleh adiknya, Hanabi. "Nee-san, jangan melamun terus. Hujannya sudah agak reda. Ayo berangkat. Hari ini kita akan bersenang-senang bersama, Tou-san."
"Jangan mengagetkanku, Hana." ujar Hinata dengan alis bertaut. Dia menengok ke arah jalanan di mana pemuda itu berada, tapi hatinya kecewa ketika pemuda sudah hilang dari pandangan matanya.
.
.
XXXXX
.
.
"Huh..." Naruto menghembuskan napas kasar. Sudah dua belas hari berlalu sejak peristiwa malam itu, tatkala pertama kalinya ia berciuman.
Dia sedang bersantai di atas sebuah jembatan sambil memandangi sungai yang ada di bawahnya dengan perasaan gundah. Sesekali matanya melirik burung-burung yang melayang di udara. Langit senja yang ke merah-merahan melukis suatu pemandangan indah di kota itu, namun sama sekali tak menghibur hati gundahnya.
Dia merindukan Shion. Rindu dengan sikap manjanya. Rindu senyumnya, dan pipi pucatnya yang sangat menggemaskan. Tiap kali dia memikirkan bayangan gadis itu, entah kenapa hatinya merasa bergetar.
"Sebaiknya aku pulang saja." gumamnya sembari menurunkan tangannya yang sedang bersandar di pembatas sisi jembatan itu. Dia pun melangkah sambil memasukkan ke dua tangannya dalam saku celananya. Berjalan sendirian dengan pandangan menerawang jauh ke depan.
Jauh dari arah depannya, sebuah motor melaju dengan cepat. Si pengendara yang bernama Sasuke Uciha itu memperhatikan dengan seksama orang yang berjalan di tepi trotoar itu. Kemudian setelah dengan jelas mata onyxnya yang hitam mengenali pemuda itu, ia pun memanggil dan berkata pada orang yang sedang diboncengnya. "Hei, hei, Gaara. Lihat. Itu 'kan orang yang waktu itu melemparmu dengan batu." Sasuke memberitahu pemuda di belakangnya. Namanya Gaara, pemuda tanpa alis mata.
Yang dipanggil pun langsung celingak-celinguk menatap daerah sekitarnya sambil meletakkan tangan kanannya di atas keningnya. "Mana, mana, Mana? coba liat?"
"Itu di depan, bodoh!" kata Sasuke kasar sambil menunjuk Naruto dengan jari telunjuknya.
"Oh itu dia!" sahut Gaara. Kemudian lanjutnya. "ayo hajar si brengsek itu!" tambah Gaara sembari mengepalkan tinjunya kuat-kuat. Mata biru pucatnya yang penuh dendam menyorot tajam Naruto. "dendam lama belum terbalaskan." tambahnya lagi.
Ckiiittt
Motor itu berhenti, ke duanya pun turun dari motor itu dan berdiri menghadap Naruto.
Kretek kretek
Mereka mulai membunyikan tulang-tulang leher dan tangan mereka sambil tersenyum sinis memandang Naruto.
"Hei, orang gila!" seru Sasuke sambil memukul-mukul telapak tangannya.
Naruto berbalik ke belakang, lalu menatap marah dua pemuda itu. "GRRRRR." dia menggeram. Lalu katanya. "kalian lagi!" serunya.
Wajahnya berubah merah padam. Urat-urat dipelipisnya berkedut-kedut. Kobaran bara api yang besar menyelubungi seluruh tubuhnya. Giginya mirip seperti gergaji dan matanya berkilat-kilat tajam memandang dua orang itu.
Dia berjalan menghampiri dua orang itu dengan menghentak-hentakan kakinya ke jalan sambil menggulung lengan jaketnya.
"Heh..." Sasuke mendesah. "bocah sepertimu harus diberi pelajaran." katanya santai sambil tersenyum angkuh.
"Anak ini belum tahu siapa kita." Gaara menimpali dengan nada sama angkuhnya.
CIIIAA CYIIAAA CIIYAAA.
Naruto melompat dan menerjang ke duanya.
Buagh buagh bletak bletak bletak
Sasuke dan Gaara tergeletak di jalan dengan wajah babak belur.
"Sial! kuat sekali dia." ujar Sasuke dengan wajah bonyok-bonyok.
"Ayo kita kabur! Dia sedang lengah." usul Gaara sambil menatap Naruto yang tengah melakukan Moonwalk dance. Setelah melakukan Moonwalk dance, pemuda pirang itu kemudian melakukan Jump Style Dance, lalu dilanjutkan dengan Shuffle Dance.
Mereka berdiri, lalu menghampiri motor itu dan menaikinya dengan terburu-buru.
Tangan Sasuke meraih kunci motor yang masih tertinggal, lalu memutarnya dengan cepat. Tapi sayang, motor itu tidak mau menyala sama sekali sehingga membuat emosi Sasuke tersulut. "Ayo menyala, brengsek!" Sasuke mengumpat geram saat berusaha menyalakan motornya tersebut. Dia kemudian turun dan menendang motor itu.
Braakk
Motor itu jatuh ke aspal.
Brummm
"Yuhuu! Yuhuu! Yuhuu!" Sasuke loncat-loncat kegirangan begitu mendengar suara mesin motor itu berbunyi. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi segera diangkatnya kendaraan roda dua itu lalu menaikinya. Mengalihkan pandangannya menatap Gaara sembari berkata, "Ayo Gaara! Cepat sebelum orang gila itu sadar."
Gaara langsung loncat dan mendarat tepat di belakang Sasuke.
Naruto menyadari aksi ke duanya yang ingin kabur. Dengan kecepatan kilat ia melesat menghampiri Sasuke dan Gaara.
"Mau kemana kalian?" tanya Naruto dengan nada menusuk setelah berada tepat di belakang Gaara. Kilatan-kilatan kecil bermunculan di bola matanya yang terlihat memutih. Dengan sedikit sunggingan senyuman, Naruto menjambak rambut Gaara sehingga membuat Gaara mendongakkan kepalanya.
"Shit! Cepat sekali dia!" ucap Sasuke panik. Tanpa babibu lagi pemuda berambut raven tersebut langsung tancap gas dengan gigi satu meninggalkan Naruto. Bagian depan motornya pun bahkan naik sampai 90 derajat saking ngebutnya dia. Beruntung saja dia bisa mengendalikan keadaan sehingga motornya tidak jatuh.
.
.
XXXXXXX
.
.
Shion
Pagi hari yang cerah itu dia tampak murung. Mata violetnya yang sayu sedang memperhatikan bolpoin yang ia putar-putar dari tadi di meja belajarnya. Tangan kirinya setengah digenggam, dan bagian bawah telapak tangan kirinya, ia gunakan untuk menyangga dagunya. Sesekali ia meniup-niup poni yang mengitari keningnya.
Hatinya merana karna rindu. Hari-harinya terasa begitu berat selama seminggu ini. Tidak bertemu dengan Naruto hampir dua minggu ini sangat menyiksa perasaannya. Dan dia juga tidak tahu tentang kabar Naruto sedikit pun. Karena terlalu asyiknya bersama Naruto malam itu, dia sampai lupa lagi menanyakan nomor ponselnya. Belum lagi sang Ayah yang selalu tak mengizinkannya untuk keluar rumah.
Gadis yang duduk di sebelahnya yang sedari tadi memperhatikan gerak geriknya hanya bisa mengernyitkan dahi menyaksikan wajah murung sahabatnya.
"Shion-chan, kau sakit 'kah? Kenapa selama seminggu ini kau murung sekali?" tanya Ino keheranan. Biasanya Shion selalu tersenyum cerah. Tapi, sudah seminggu Shion seperti tak punya gairah hidup. Macam zombie saja.
Shion menghentikan permainan tangannya, lalu melirik Ino tanpa minat. Dia menghembuskan napas kasar sebelum dia mengalihkan wajahnya lagi menatap bolpoinnya. "Tidak." jawabnya singkat dan kembali memutar-mutar bolpoinnya lagi, sambil menggoyang-goyang kakinya ke depan dan ke belakang.
Ino menjadi bertambah penasaran setelah mendengar jawaban Shion. Sifat ingin tahunya yang kelewat gede itu terusik. "Aneh. Sepertinya ada sesuatu yang Shion-chan sembunyikan dariku." selidik Ino sambil mengamati wajah pucat gadis itu.
"Hn." jawab Shion malas menanggapi ke cerewetan sahabatnya.
"Benar-benar di luar binasanya. Aku akan mencari tahu."
.
.
XXXXXXXX
Naruto galau. Di dalam kamarnya, ia berbaring di sambil memutar lagu instrumental cinta. Tangan kanannya sedang menggenggam enam belas batang rokok yang sudah menyala. Asap rokok yang mengepul di kamar tersebut membuat ruangan itu di penuhi oleh asap rokoknya. Untung saja dia sudah membuka jendela kamarnya, dan kepulan asap rokok itu bisa minggat ke luar. 1 jam setelah rokoknya habis, ia pun tertidur dengan sendirinya tanpa menutup jendela kamarnya.
Tepat jam satu malam sosok perempuan itu kembali berdiri di dalam kamarnya yang masih terang benderang. Matanya sudah berubah menjadi merah menyala serta wajahnya terlihat hancur berantakan. Dia melayang mendekati Naruto yang sedang tertidur sambil mengigau. Ia pun duduk di atas tubuh Naruto yang dibalut selimut. Ke lima jari tangannya yang terlihat setengah menampakkan tulang jari-jarinya itu menelusuri wajah Naruto sambil bergumam menyebut nama seseorang dengan suara serak yang sama sekali tidak enak didengar.
Tebece
An : nnnnjiiirrr... :V entahlah mungkin akan crosover dengan Mortal Kombat atau Tekken... Tka tahulah ntar... Maaf ya kalau agak panjang... Keberatan Review?
Balasan Review :
Bloody Dark Flame : Kurang tahu gan... Soalnya sering terhambat karna kepala koslet...
NaMiKaZe Lucifer Phoenix : Haha Maaf gan... Masak langsung ikeh ikeh... bertahap-tahap dong...
QioQio P : Oh! Gitu ya... selama ini ane ngira yang baca cuma dikit... hahahaha... Mistery dan Supranaturalnya cuma nyempil doang... nanti ada side storynya. iya kalo gak ke serang virus WB duluan...
Lincoln Abe8479 : Thanks Vroh...
Ryuuki Namikaze Lucifer : IYa, Iya. Thanks vroh... panggil Beko aja... ane bukan senpai...
Crucufix : Harem? kayaknya nggak, mungkin. Lemon ada sih, tapi agak lama... Iya ada supranaturalnya... Ente punya akun fb gak...
Sopian : terima kasih...
a316i : maaf agak lambat... tanks ya...
deriputra19 : Terima kasih, terima kasih... iya, lihat aja ntar... akan jadi seperti apa? ... ngapain ente nguntit ane?
Samangga Otosaka : yah, memang begitulah sekolah gan... kadang merepotkan... tapi tetap sabar saja... yang namanya sekolah memang tak pernah lepas dari kata sibuk... hahahaha Semangat!
BIG THANKS TO : Bloody Dark Flame, NaMiKaZe Lucifer Phoenix, QioQio P, Lincoln Abe8479, Ryuuki Namikaze Lucifer, Crucufix, Sopian, a316i, deriputra19, Samangga Otosaka dan buat yang udah fave and follow fic ini...
