Jingga dan Senja

Main Cast : Sehun, Baekhyun, Kai, Chanyeol dan kawan-kawan

Pairing: Kaihun?or Chanhun?

Genre : Drama, romance, slice of life

Disclaimer : saya repost cerita punyanya kak Esti Kinasih yang judulnya Jingga dan Senja, ada yang tau? Ini versi buat anak exo nya tapi.

Thanks banget buat review nya dan buat yang kasih saran juga makasih banget, jadi saya ada pertimbangan nih, karakter sahabatnya Kai nanti itu orangnya setia kawan banget, respect dan peduli banget sama Kai, dia juga termaksud anak buah Kai sekaligus sahabatnya, Sahabatnya juga termasuk pemuja Kai karena sosok Kai ini menurutnya keren banget, jadi saya ada pilihan, tolong saran ya, lebih cocok Luhan?Rapmon BTS?atau Zelo? Tapi sejujurnya kalau luhan kayanya agak aneh aja kalau ngebayangin dia mau nurut sama Kai, apalagi muka Luhan kurang mendukung jadi badboy gitu, tapi Entah kenapa saya pengen Luhan ini masuk ke cerita ini jadi Sahabatnya si Kai, jadi mohon dengan sangat saran menurut kalian yang cocok siapa.

Sehuniesm : Kris juga termasuk sahabat Kai kok tapi bakal beda orang^^

SUKA PAKE CAPSLOCK : LOPYUTU ATULAH, Moonkyu saya kurang paham banget karakter aslinya jadi masih bingung menyesuaikan buat masuk ke ceritanya

GYUSATAN : Sehun satu sekolah sama Kai di Seoul High School^^

Li : Aku ga nemu email kamu huhu, Nah aku juga sebenernya sepemikiran sama kamu gitu, sumpah kita sama kamu, aku pas baca ulang cerita ini langsung mikir yang jadi Ridho harus si Kris Cuma buat yang Oji aku masih belum yakin buat Luhan

Auliavp : Banyak banget yang harus diubah, semoga jadi ga menghilangkan karakteristik peran utama aslinya di novel ya hehe

Thanks buat semua yang udah nyempetin baca dan ngereview cerita ini^^

Part 4

Terpaksa Sehun menyingsingkan roknya lalu memanjat besi-besi pagar itu dengan bantuan Kai.

"Pegangan yang erat." Setelah Sehun berada di puncak pagar, Kai melepaskan pegangannya perlahan karena bisa dia rasakan tubuh gadis di sebelahnya itu gemetar. Kemudian dia melompat turun ke halaman sempit di dalam sekolah.

"Loncat!" perintah Kai sambil merentangkan kedua lengannya. Belum lagi Sehun sempat melompat, tiba-tiba terdengar bentakan keras.

"HEI, KALIAN BERDUA!" Seorang guru melangkah cepat ke arah mereka.

"Tsk, pas sekali!" desis Kai sambil menoleh sesaat ke asal suara.

"Cepat loncat!" Pria itu semakin merentangkan kedua lengannya lebar-lebar.

Tanpa berpikir panjang, Sehun melompat turun. Dengan sigap Kai menangkap tubuh yang melayang tanpa kestabilan untuk mendarat itu.

"Lari!" Perintahnya sambil meraih satu tangan Sehun.

"Itu Leeteuk Seongsaenim. Guru IPS. Kalau hanya dia sih masih aman. Dia rabun jauh."

"KAI! SAYA TAU KAMU KAI! BERHENTI!" Seru Leeteuk Seongsaenim.

"NE, SEONGSAENIM! INI SAYA!"Kai balas berseru, tapi tetap terus berlari.

"BERHENTI KAMU!" bentak Leeteuk Seongsaenim dengan suara makin keras.

"NE, SEONGSAENIM ! SEBENTAR! TANGGUNG!" Kai menjawab tanpa rasa takut.

"Tapi kenapa dia kenal sunbae?" tanya Sehun di sela napas yang tersengal.

"Siapa sih yang tak mengenalku?" Ujar Kai dengan membanggakan dirinya

Begitu mereka sampai di tempat yang cukup sepi dan Leeteuk Seongsaenim tertinggal di belakang, Kai menghentikan larinya. Sontak Sehun mengikuti. Gadis itu menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit karena kehabisan napas.

"Lepas semua pernak-pernik yang serba orange itu" Perintah Kai.

"Memangnya kenapa?" Sehun menatap Kai dengan kening berkerut.

"Mencolok, kau tau? Percuma saja dari tadi berusaha menghindar kalau akhirnya kau tercatat juga di black list."

"Katanya dia rabun jauh?"

"Iya. Tapi dia tidak buta warna. Kita tidak hanya ingin menghindari Leeteuk Seongsaenim, kita juga akan melewati ruang guru."

Sehun menurut. Dilepasnya semua pernak-pernik yang dipakainya. Kai terpaksa ikut turun tangan, setelah memperhitungkan akan makan waktu lama kalau ia tidak membantu gadis penggila aksesoris ini.

"Siapa wali kelasmu?" Tanya Kai setelah pekerjaan mereka selesai dan Sehun sedang memasukkan semua aksesoris miliknya ke dalam salah satu kantong tasnya.

"Jessica Seongsaenim."

Kai kontan bersiul.

"Kebetulan. Dulu Seongsaenim cantik itu juga wali kelasku. Tak masalah kalau begitu, biar aku yang akan berbicara padanya."

"Apa sunbae akan menemaniku sampai kelas?tak perlu" Sehun tercengang.

"Terus kau akan bicara apa? Masih membawa tas seperti itu. Kalau munculnya bersamaku, tuduhannya pasti akan ke aku. Kecil itu sih."

"Nanti saya bicara terus terang saja pada Jessica Seongsaenim, sunbae. Saya yakin dia akan mengerti." Sehun berusaha menolak dengan cara halus. Bukan apa-apa. Menurutnya, muncul bersama Kai justru urusannya akan lebih rumit daripada muncul sendirian.

"Sudah, ikut saja. Kau ini cerewet sekali." Kai tidak peduli penolakan Sehun, membuat Sehun menghela napas panjang-panjang.

"Jessica Seongsaenim pasti sudah mengenal dekat sunbae."

"Ya lebih tepatnya, sudah tobat!" Kai menyeringai lalu terkekeh geli.

Seisi kelas X-9 menatap dengan muka terpana, ketika terdengar ketukan pintu dan mereka mendapati Kai dan Sehun sudah berdiri di ambang pintu tersebut.

"Ada apa kamu kesini?" Tanya Jessica Seongsaenim dengan nada tajam.

"Mengantarkan anak Seongsaenim" jawab Kai dengan nada manis. Sehun melangkah masuk dengan kepala tertunduk dan muka pucat.

"Mian, Seongsaenim. Sehun…"

"Duduk!" perintah Jessica Seongsaenim dingin. Sehun langsung menutup mulut dan berjalan ke bangkunya dengan kepala tetap tertunduk. Kai menatapnya dengan senyum tipis.

"Ini salah saya, Seongsaenim. Bukan…"

"Saya sudah tahu kalau itu. Pasti ulahmu!" Jessica memotong ucapan Kai. Pria itu meringis lebar.

"Sepertinya seongsaenim mengerti banyak tentang saya, ya? Jadi terharu. Seongsaenim kenapa tidak mengajar kelas dua belas? Kan bisa jadi wali kelas saya lagi."

"Nanti kalau kau sudah lulus!" jawab Jessica Seongsaenim tegas. Kai jadi tertawa, pelan tapi geli.

"Kalau begitu saya tidak perlu lulus. Nanti ketika UAN jawabnya mengasal saja. Biar mengulang setahun lagi. Tapi janji ya, Seongsaenim harus jadi wali kelas saya?"

Jessica seongsaenim menatap Kai dengan tatapan dingin yang mulai menyimpan kemarahan. Dia tersinggung karena merasa wibawanya telah dilecehkan. Apalagi di depan murid-murid yang belum genap satu bulan bergabung di Seoul High School, yang menyaksikan peristiwa itu dengan terpana. Meskipun berusia muda dan masih lajang pula, statusnya tetaplah guru!

Kai menghentikan tawanya melihat muka marah guru cantik di depannya itu. Jessica seongsaenim memang terkenal di kalangan murid laki-laki. Selain cantik, Seongsaenim yang satu ini punya bentuk betis sempurna. Seperti bulir padi!

"Kalo gitu Kai permisi, Seongsaenim. Selamat pagi." Masih sambil menahan senyum, Kai membungkukan tubuhnya lalu berjalan keluar kelas dengan langkah tenang. Benar-benar tipikal murid pembuat masalah.

"Teruskan catatan kalian!" perintah Jessica Seongsaenim galak, ketika dilihat murid-murid di depannya masih terpana memandangi pintu. Satu setengah jam kemudian bel berbunyi. Pelajaran kimia itu berakhir.


"Lapaar," desah Sehun sambil menutup buku-bukunya. Tapi impiannya melahap kimbab di kantin langsung musnah begitu mendengar perintah Jessica seongsaenim.

"Sehun, kamu ikut saya ke ruang guru!"

Dan di ruang guru itu, Sehun kemudian diceramahi Jessica seongsaenim habis-habisan. Meskipun dia sudah menceritakan kejadian yang sebenarnya, alasan keterlambatannya, dan bahwa pertemuannya dengan Kai bersifat insidental, murni faktor kebetulan, wali kelasnya itu tidak peduli.

"Kalau kamu tak ingin mendapat masalah, kamu harus jaga jarak dengan Kai!" perintah Jessica seongsaenim dengan nada final.

"mengerti, Sehun?"

"Ne, Seongsaenim." Sehun mengangguk patuh.

Begitu Sehun keluar dari ruang guru, bel tanda jam istirahat telah berakhir berbunyi. Tak ada lagi kesempatan ke kantin untuk mengisi perut. Terpaksa dia harus menahan lapar sampai jam istirahat kedua tiba.

Istirahat kedua, sambil melahap kimbab, Sehun dipaksa menceritakan lagi kronologi kejadian tadi pagi. Kali ini di depan teman-teman wanita kelasnya dan beberapa teman laki-laki yang tertarik dengan peristiwa itu. Berbeda dengan Jessica Seongsaenim, teman-teman Sehun berpendapat kisah pertemuan keduanya dengan Kai yang lagi-lagi insidental itu keren banget. Dan romantis. Lebih romantis daripada cerita-cerita dongeng atau film.

"Gila! Ini lebih menggetarkan dibandingin film-film Korea. Aku sampai merinding mendengarnya" desah Minseok. Kedua tangannya tertangkup di depan dada. Yang lain langsung setuju.

"Terserah" ucap Sehun masa bodo. Dia masih shock dengan rentetan kejadian pagi tadi yang di luar dugaan. Sehun jadi malas memikirkan reaksi teman-temannya.

"Kau mau menceritakannya kan Hun?"

"Tidak Akan!"