"—Megurine Luki."

Dia tertawa, yang entah kenapa lebih mirip tawa setan di mata gue. "Halo semua," ucapnya sambil melambai kepada anggota klub. Gak lama, tangannya kembali ia masukkan ke saku.

Pandanggannya mengarah ke kami, tapi untuk sesaat gue merasa dia menatap gue. Dan dengan tegas, Luki berkata, "Mulai hari ini, gue adalah ketua baru klub sepakbola!"

Kemudian, gue adalah satu-satunya orang yang teriak di ruangan ini.


Disclaimer

VOCALOID – YAMAHA & Crypton Future Media

Genre: Humor, Romance, Friendship, Drama.

Warning: RINTO NARSIS, bahasa jaman sekarang, misstypo, semua judul film dan merk dagang di sini bukan milik saya. Humor garing, garing, garing.

Enjoy…


Aneh. Apa pendingin ruangan di sini rusak? Tapi dari sini, gue bisa melihat beberapa orang di hadapan gue menggigil karena mereka tepat terkena embusan dingin dari AC.

Terus, kenapa gue bisa merasakan setetes keringat mengalir di dahi indah gue?

"Ayo, mana visi dan misi lo? Cepetan!"

Suara dari Akaito yang berdiri di sebelah gue, membuat jantung gue berdetak dua kali lebih cepat. Dia menyilangkan tangan dan salah satu kakinya mengetuk lantai berkali-kali. Kelihatan jelas kalau Akai gak bisa nunggu lebih lama lagi.

"Kenapa, Rinto? Gak tau mau ngomong apa, ya? Pulang gih sana! Haha!" sarkas Luki di sebelah gue. Gue meliriknya tajam.

Sialan, masa gue disuruh pulang. Emang sih, kalau dibolehin, gue juga bakal pulang dari tadi dan tidur dengan nyenyak di rumah. Tapi sekarang bukan saat yang tepat. Kalau dia menghina Kagamine Rinto, maka dia harus tau konsekuensinya.

Berusaha tenang, gue yang sedang berdiri di hadapan anggota klub, menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.

Ini semua terjadi karena persoalan sepuluh menit yang lalu.

oOo

"HAAAAAAAHHHH?!"

Burung-burung kecil beterbangan setelah tadinya hinggap di ranting. Gue teriak sekeras-kerasnya. Gak peduli kalau suara gue bisa terdengar sampai ke ruang guru atau merusak pendengaran seseorang di sini. Yang jelas, gue sangat sangat kaget. Mungkin aja setelah ini gue pingsan karena shock berlebihan.

"Uwouwo… Rinto, lo kenapa?! Kaito, cepet bawa Rinto ke RSJ terde—"

"J-Jangan! Jangan bawa gue ke RSJ!" gue cepat-cepat memotong ucapan Akaito sebelum gue benar-benar digotong ke Rumah Sakit Jiwa.

Pandangan gue beralih ke manusia di sebelah Akai. "Apa maksudnya dia tiba-tiba jadi ketua baru klub kita?! Emangnya gak ada kandidat laen?!" perotes gue sambil menunjuk ke arah Luki.

"Oh… itu…," Akaito manggut-manggut, lalu menatap datar orang yang bersangkutan. "Iya juga. Ngapain lo tiba-tiba deklarasiin diri tanpa persetujuan gue, hah?!" gue bisa melihat kakak dari Kaito itu menarik telinga kiri Luki dengan penuh tenaga.

"Aaaaaakkk! Sorry! Ampun, ampun!" Luki meraung, dan berusaha melepaskan dirinya dari jeweran maut Akaito. Akaito melepaskannya.

"Emang kenapa," Luki menyibakknya rambutnya menggunakan tangan. "Setelah setahun gue pindah, kalian gak percaya lagi sama gue?" tanyanya.

"Bukan gitu. Gue tau, dulu lo itu termasuk bidak penting di klub ini. Tapi…,"

"Tapi…?"

Dahi Akaito berdenyut dan tangannya terkepal kuat. "Tapi jangan injek sepatu gue, dong! Ini masih baru, pret!"

Kemudian semua pandangan tertuju pada sepatu sebelah kiri Luki yang memang berada di atas sepatu baru nan kece Akaito. Sontak, kaki Luki berpindah posisi secepat mungkin.

"S-Sorry! Gak sengaja, kok! Ahaha—"

Hening. Seluruh anggota klub speechless.

Terlepas dari momen gaje yang baru saja terjadi, gue berusaha mengembalikan topik. "Pokoknya gue gak terima!" Gue menunjuk Luki. "Masa manusia abnormal penggila susu stoberi kayak dia jadi ketua?!"

Luki mempelototi gue. "Enak aja! Yang abnormal tuh elo!"

"Yeh! Sejak kapan gue abnormal. Gue ganteng tau!" Gue mengernyit tanpa mengindahkan Kaito yang menggumam, 'Rinto, itu gak ada hubungannya.'

Kedua tangan Luki melipat. "Emangnya yang suka ngelindur gak jelas tentang anak ayam kalo lagi tidur di kelas tuh siapa. Elo 'kan?!"

Gue terbelalak. "I-Itu 'kan dulu! Lo juga, demennya pake sempak motif pelangi. Dasar pinky!"

"Kenapa jadi ngurusin sempak gue? Lo stalker ya?! Kuning!"

"Idih, najis! Pinky!"

"Kuning!"

"Pinky!"

"Ku—"

"SESEORANG, BISA TOLONG AMBILIN GUNTING RUMPUT NGGAK? KAYAKNYA GUE PUNYA DUA TUMBAL BARU NIH!"

—Glek. Gue menelan ludah.

Kata-kata Akaito barusan seperti kutukan yang membuat gue dan Luki diam seketika. Cowok berambut merah itu menghela napas, kemudian tersenyum setan.

"Daripada berisik, mending tunjukkin visi dan misi kalian sebagai kandidat ketua klub, deh!"

Gue kedip-kedip. Berusaha mencerna maksud ucapan Akaito barusan. "Hah? Maksud lo… gue dan dia…," gue menunjuk Luki lagi. "calon ketua klub?"

"Iya. Daripada ada guru yang marah gara-gara debat absurd kalian kedengeran sampe luar, akhirnya gue ambil jalan tengah."

"Oke, gue setuju." Luki mengangguk santai.

"E-Ehh! Tunggu, tunggu, tunggu!" Gue segera mencegah Akaito dan Luki bicara lebih jauh. "Gue kan cuma perotes karena Luki tiba-tiba ngaku jadi ketua. Kenapa sekarang gue malah jadi kandidatnya?!"

"Iya, kalo nantinya Rinto yang kepilih, dia pasti bikin malu, lho!" Kaito yang masih duduk di sebelah gue tiba-tiba menyeletuk. Gue meliriknya tajam.

"Ho… jadi ceritanya lo takut, nih?" cibir Luki dengan tampang senga. "Harusnya lo berterimakasih sama Akaito karena udah di kasih kepercayaan, tau!"

"Iya, tapi 'kan—"

—tapi 'kan gue belom pernah jadi ketua sebelomnya. Kalo ketua piket mah pernah, walaupun cuma sekali.

"Hush, udah, udah… Rinto—" Akaito memberi gue isyarat untuk ke depan menggunakan jari telunjuknya. "—maju!"

Duh. Rasanya kayak lagi dipanggil sama malaikat maut.

Akaito berdehem sekali setelah gue sudah berada di sampingnya. "Urutannya dimulai dari Megurine Luki, kemudian Kagamine Rinto, lalu Kagene Rei, dan diakhiri dengan Suiga Sora. Silakan…."

Dua orang terakhir yang di sebutkan Akaito ikut menyusul ke depan. Kami berjejer sesuai urutan. Gue sempat bertatapan sengit dengan Luki sebelom orang itu maju selangkah dan memulai ucapannya.

"Saya Megurine Luki dari kelas sembilan… oke, sebenernya saya belom dapet kelas, tapi intinya saya kelas sembilan," semuanya sweatdrop, termasuk gue. "Mempunyai visi untuk menjadikan klub sepakbola sekolah ini menjadi ekstrakurikuler yang elit, bermutu dan berkualitas tinggi, sekaligus mengharumkan nama baik di dalam maupun di luar sekolah. Kalau perlu sampai ke luar negeri!" kata-kata Luki membuat gue mengernyit. Kenapa ya rasanya gue jadi inget seseorang.

"Dan untuk misinya!" Luki meninggikan suaranya. Tiba-tiba kaki kanannya sudah naik ke atas meja dan salah satu tangannya menunjuk ke atas. Sekarang gayanya sudah mirip superstar sakit punggung.

"Satu, membuat klub ini latihan rutin di stadion Voca!"

Ha?

Stadion Voca? Stadion besar yang ada di pusat kota gue itu?!

"Dua, meningkatkan fasilitas klub ini. Seperti 70 bola cadangan, sepatu Mike CTR 360 Maestro II Elite asli untuk seluruh pemain inti, dan bus eksklusif!" lanjut Luki.

"Uwoooohh!" seruan anggota klub mulai ramai. Gue menganga lebar sampe rasanya susah untuk ditutup lagi.

"Tiga, steak ikan mackerel dan yogurt disediakan setiap habis latihan demi mendukung metabolisme tubuh yang baik bagi para anggota!"

"Uwoooohhh!"

"Empat, untuk meningkatkan motivasi, pijat refleksi dan pemandian air panas di hotel bintang lima sudah menunggu jika tim ini menang dalam pertandingan!"

"Uwaaaaahhhh!"

"Hidup gue makmur kalo gini, coy!"

"Luki, gue cinta deh sama lo!"

"Sepatu impian gue! Akhirnya!"

Gila. LUKI UDAH GILA!

Jadi ini yang dia maksud dengan ekstrakurikuler yang keren, elit, bermutu dan berkualitas tinggi. Predikatnya sebagai anak pengusaha membuat dia bisa menambah fasilitas klub ini seenak jidatnya. Emangnya dia pikir semua itu gak butuh duit yang banyak, ya?! Dasar sarap! Kalo begini siapa yang gak mau?!

"Tenang aja, semuanya gratis dan disponsori oleh perusahaan Megurine. Jadi, pilih nomor urut satu, oke!" —cling. Luki nyengir lima jari dan mengibaskan rambutnya lagi sebelum akhirnya kembali ke posisi semula.

Applause dan sorakan anggota klub memenuhi ruangan. Gue gelagapan.

"Akai! Emangnya itu semua di bolehin?! Curang, ini namanya curang!" tuding gue pada Akaito.

Dia tersenyum dan mengangkat bahu. "Yang kayak gini bukan curang namanya. Asal bisa tanggung jawab, sih, boleh-boleh aja."

"K-Kok gitu?!"

Ah, gawat.

Gue gak punya uang sebanyak Luki.

Gue juga gak pinter nyusun kata-kata manis ala pidato Presiden.

Sekarang, gue harus gimana?

oOo

Tik. Tok. Tik. Tok.

Suara detik jam memasuki pendengaran. Suhu di sekitar gue terasa meninggi. Semua pandangan juga tertuju pada gue. Sekali lagi, gue menelan ludah.

Kayaknya orang-orang di sini udah pada bosen nungguin gue yang dari tadi cuma lirik sana-sini dan belum mengeluarkan sepatah katapun. Terbukti dari para manusia di barisan belakang sudah memasang tampang melongonya.

Tapi mau gimana lagi, gue emang gak tau mau bilang apa. Duh, apa sekarang gak ada siapapun atau apapun yang bisa ngeluarin gue dari situasi kayak gini? Kebakaran, munculnya titan, serangan robot dari mars—eh, kayaknya gak mungkin. Tapi gue gak peduli! Siapapun tolong gueeee! Gue cuma seorang jomblo berkharisma tinggi yang bercita-cita jadi—

Ah.

Gue tau.

Luki, lo bakalan kagum sama gue setelah ini.

"Ekhem. Woy, elo!" setelah berdehem, gue menunjuk seseorang di pojokan yang kelihatannya baru mau tidur. "Lo pasti belom punya pacar, 'kan?!"

Orang itu salah tingkah. "K-Kok lo tau?!"

Iya, soalnya tampang lo kayak orang gak punya tujuan hidup.

"Pake feeling, hehehe. Gimana dengan elo?!" Seseorang di barisan tengah yang lagi main game di HP menjadi sasaran gue berikutnya. "Lo belom punya pacar, 'kan?!"

"…belom." balasnya dengan tampang keheranan.

"Di sini ada lagi yang belom punya pacar? Elo, lo, lo, dan pasti elo! Iya, 'kan?!" Untuk orang yang gue sebut terakhir, gue menujuk Kaito.

Semua orang yang gue maksud mengangguk pelan. Mungkin mereka bakal mikir gue kurang kerjaan. Akaito dan Luki sendiri sampe ngeliat gue dengan ekspresi yang sulit dijelasin. Tapi sebenernya, ini adalah rencana gue! Hahaha!

Dengan senyum yang mengembang, gue menjentikkan jari.

"Nah! Karena itulah—" tanpa ragu, gue naik ke salah satu meja yang kosong. "Gue, Kagamine Rinto dari kelas 9 – A, memiliki visi untuk menjadikan anggota klub sepakbola sekolah ini menjadi siswa yang lebih keren, kece, dan kharismatik, agar terbebas dari kemungkinan NTR, friendzone, familyzone, supirzone, atau zone-zone lain, dan bisa mendapatkan gebetan yang diincar!" ucap gue penuh semangat.

"Woy, Rinto! Itu gak ada hubungannya, kali!" sahut seseorang. Tapi bukannya panik, gue malah semakin melebarkan senyuman.

"Pasti ada, dong. Kita sebagai anak cowok, pastinya punya keinginan buat dikagumi sama cewek-cewek cantik di luar sana, walaupun cuma sedikit. Demi mencapai keinginan itu, gue sebagai salah satu kandidat ketua klub, mempunyai misi—" gue mengarahkan jari telunjuk ke depan.

"Satu, menjadikan ekskul sepakbola sebagai pusat perhatian dari eksul lainnya demi mendapatkan notice dari gebetan! Dua, membuat tim ini lebih kuat dan menang dalam setiap pertandingan. Kalau sering menang, aura kebanggaan yang kita punya bakal lebih keluar dan kita jadi merasa keren, 'kan?!"

"Hah?"

"Itu serius?"

"Tapi emang iya sih."

Ruang klub mulai ramai dengan berbagai pertanyaan. Gue lanjut bicara lagi.

"Tiga, menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama. Contohnya, dalam ekskul ini kita harus rela berbagi tips dan solusi baik dalam bidang sepakbola maupun soal asmara!"

"Uwaaahhh!"

"Empat, menjaga hubungan komunikasi yang baik antar anggota klub demi memperkecil kemungkinan NTR!"

"Uwaaaahhh!"

"Dan lima, membuat kharisma yang di miliki para anggota menjadi lebih kuat dan membuat kagum banyak oraaaang!"

"Woooow! Bener juga!"

"Aoki bisa lebih sayang sama gue!"

"Semoga dengan cara itu gue gak jomblo lagi! Hamba lelah menyendiri, ya Tuhan!"

"Kadang lo bisa bener juga, Rinto!"

Sorak-sorai dan tepuk tangan anggota klub tidak kalah ramai dengan tadi. Gue seneng bukan main! Saat menoleh ke belakang, Luki sedang mangap dan terlihat kaget dengan kelakuan gue, sementara Akaito yang masih menyilangkan tangannya tersenyum puas.

"Rinto… Rinto—"

"—cara kayak gini memang khas lo banget."

oOo

Sekarang pukul setengah enam sore. Seluruh kandidat sudah menyampaikan visi dan misinya masing-masing. Gue sendiri masih berdiri di depan. Menunggu hasil penghitungan suara.

Momen kayak gini emang bikin gak tenang. Kepilih, enggak, kepilih, enggak. Kalo kepilih, berarti gue mulai punya tanggung jawab yang berat terhadap klub ini. Tapi kalo gue kalah,

Siap-siap dihadapkan dengan ketawa laknat dari Luki.

"Hasil perolehan suara akan segera diumumkan. Kai, bacain!" suruh Akaito pada adiknya yang saat ini juga ada di depan. Kaito mengangguk.

"Hasil perolehan suara pemilihan ketua klub sepakbola tahun ini. Di mulai dari kandidat nomor urut terakhir!"

Hening melantun. Semua menunggu ucapan Kaito selanjutnya.

"Suiga Sora, empat suara!"

"Oooooohhh~"

"Kagene Rei, tiga suara!"

"Oooooohhh~" Sora dan Rei saling berpelukan. Bukannya homo, tapi mereka saling memberi semangat. Oke, selanjutnya gue. Gue menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Berusaha tenang.

"Kagamine Rinto, delapanbelas suara!"

Gue senyum dan beberapa orang tepuk tangan. Mungkin mereka adalah para jomblo pendukung gue. Thanks ya, bro! Delapanbelas adalah hasil yang lumayan.

"Terakhir, Megurine Luki,"

Perolehan suara Luki adalah penentu kepilih atau enggaknya gue sebagai ketua. Gue dan Luki saling melirik sebelum akhirnya Kaito berbicara lagi.

Ayolah Kai, jangan buat temen lo ini malu!

"Megurine Luki mendapat delapanbelas suara. Total, empatpuluh tiga suara dari empatpuluh tiga anggota!"

Kali ini seluruh anggota termasuk gue, Luki, dan Akaito tepuk tangan.

18 – 18

Seri.

Gak ada yang menang maupun kalah di antara gue dan manusia pink ini.

Terus gimana?

"Nah, karena gue udah tau lebih awal tentang hasilnya, gue udah mikirin solusi buat keluar dari masalah seri ini," semua pandangan tertuju pada Akaito yang berjalan ke hadapan gue dan Luki. "Kalian masih inget Hibiki Lui?"

"Hibiki… Lui?" gumam Luki.

"Kalo gak salah dia masih seangkatan sama kalian. Hibiki Lui adalah kiper andalan kita sebelom dia memutuskan buat keluar dari ekskul ini, empat bulan yang lalu. Alasannya, mau move on."

"Gue tau kalo dia emang keluar, tapi… kok move on?!" tanya gue sambil mikirin apa hubungannya sepakbola dengan move on.

"Katanya, karena mantan dia masuk ekskul kaligrafi, dan memang ruang ekskul mereka bersebelahan sama ruangan ini." balas Akaito.

Ho… pantesan.

"Karena klub ini masih butuh kemampuannya, jadi… jika seseorang di antara kalian ada yang bisa ngebujuk dia buat masuk ke ekskul ini lagi, orang itulah yang akan jadi ketua!"

Dengan berakhirnya ucapan Akaito barusan, gue dan Luki saling bertatapan.

Challenge accepted!

oOo

Ramalan cuaca hari ini: 100% hujan di sore hari.

Kaa-san bilang, percayalah sama ramalan cuaca di televisi channel 6 yang tayang pagi-pagi, karena perhitungannya selalu bener. Yah… mungkin benernya plus-plus karena pembawa acaranya cewek dan cewek selalu bener. Haha.

Dan… yup. Sekarang lagi hujan. Nggak terlalu deras, tapi mampu buat lo basah kuyup jika keluar lima menit tanpa peralatan tempur apapun.

Seluruh anggota klub kayaknya udah pada pulang duluan. Termasuk Kaito, pastinya dia bareng sama Akai. Nah sekarang, kenapa gue masih ada di loker sepatu? Kebetulan aja tadi mau ke toilet dulu.

—klik

Setelah mengambil payung dan sepatu, loker gue kunci. Duh… dingin juga. Nyesel gak bawa jaket. Gue mau cepet-cepet pulang dan makan masakan Kaa-san!

Pintu keluar sudah ada di depan mata, tapi langkah gue mendadak berhenti sebelum mencapai ambangnya.

"—Lenka?"

Gadis kuncir satu yang tadinya diam menatap hujan, kini menoleh. Mata safir kami lagi-lagi bertemu.

"Oh, K-Kagamine-san!" Tertunduk, jari-jarinya menyisipkan helaian rambut pirang ke belakang telinga. "Aku tidak bawa payung. Ceroboh sekali ya. Ahahaha,"

Tawanya bagai dentingan lonceng kecil yang menghipnotis. Gue reflek melangkah ke arahnya.

"Kalo gitu," gue membuka lalu menyodorkan payung padanya. Lenka terlihat kaget.

Kesempatan buat pulang bareng Lenka gak dateng dua kali, 'kan?

Gue memasang senyum sekeren mungkin. "Mau pulang ber—"

Belum sempat mengutarakan maksud dan kata-kata gue, payung di tangan sudah disambar Lenka dengan cepat—

"Ah, terimakasih banyak, Kagamine-san! Aku berhutang padamu!"

—dan lari menerobos hujan. Meninggalkan gue,

"—sama…ku?"

Sendirian.

TBC


Omake

Pukul lima lebih sepuluh menit. Gumiya baru saja selesai mengerjakan PR matematika yang diberikan Maika-sensei. Dasar wali kelas penyiksa murid. Sudah menunjuk dia sebagai ketua kelas seenaknya, tambah PR tujuh halaman pula. Untung saja soal-soalnya masih lanjutan dari materi kelas delapan bab terakhir. Coba kalau materi baru yang tidak Gumiya mengerti, dia pasti nekat bunuh diri.

Saat ini ia ingin segera pulang dan sedang berjalan di koridor lantai satu bersama teman perempuan sekaligus tetangganya, Gumi. Mereka sudah sering pulang bersama. Saking seringnya, mereka pernah dikira anak kembar. Walaupun disebut begitu, sebenarnya Gumiya ogah punya kembaran tukang makan seperti Gumi. Alih-alih akur, nantinya dompet Gumiya yang ludes. Terimakasih.

Tadinya obrolan mereka biasa-biasa saja sampai suara (lebih mengarah ke teriakan) seseorang memasuki pendengaran. Setelah lihat sekeliling, ternyata mereka berada di depan ruang klub sepakbola.

Pintu ruang klub tersebut sedikit terbuka. Karena didorong rasa penarasan yang besar, Gumi akhirnya mengintip.

"—menjadikan anggota klub sepakbola sekolah ini menjadi siswa yang lebih keren, kece, dan kharismatik, agar terbebas dari kemungkinan NTR, friendzone, familyzone, supirzone, atau zone-zone lain, dan bisa mendapatkan gebetan yang diincar!"

"…he? Itu bukannya temen kamu, si Rinto?"

"Hah?" mendengar pertanyaan dari Gumi, Gumiya juga ikut mengintip dan mendapati teman kuningnya memang berada di sana. Tepatnya, di atas meja.

Perempatan muncul di kening Gumiya.

"E-Enggak! Aku gak punya temen bernama Kagamine Rinto yang sarap, gak tau malu dan takut sama anak ayam kayak dia! Udah ah, ayo pulang!"

Gumiya menarik tas Gumi dan pulang. Tanpa sadar pernyataannya tadi menandakan betul kalau dia memang berteman dengan Rinto.


A/N

*Mike CTR 360 Maestro II Elite: Parodi dari Nike CTR 360 Maestri II Elite.

Huaaaaaah! Chapter ini kepanjangan gak sih?

Maaf lama update, dan maaf juga karena gaya penulisannya beda lagi sama chapter kemariiiin! Huaaa saya khilaf! /nangis

Semoga kedepannya gaya penulisannya bisa konsisten karena saya juga gak sadar, pas baca ulang kok jadi gini (':

Gimana pendapat kalian tentang chapter ini dan omakenya? Oh ya, ada yang ngikutin Mikagura Gakuen series? /lahkokjadiitu

Berikan pendapat kalian di kolom review! X3

Salam,

-Kuzuryuuu