My Boy, My Neighbour, My Sunbae
Main Casts:
Kim Taehyung
Kim Seokjin
Other Casts:
Jeon Jungkook
Park Jimin
Enjoy~
Taehyung hampir menyerah sekarang.
Menurutnya, Seokjin terlalu sulit ditaklukan. Ketahuilah, sudah 1 tahun lamanya Taehyung berusaha untuk membuat dirinya akrab dan dekat dengan tetangganya sendiri. Segala cara telah ia lakukan untuk membuat Seokjin jatuh hati. Namun kerja kerasnya selama ini sama sekali tak membuahkan hasil yang manis. Seokjin tetap bersikap dingin, cuek dan menyebalkan.
Taehyung bahkan tak yakin akan berhasil membuat satu kenangan yang manis untuk Seokjin.
Kini, Taehyung menatap sendu pada sebuah kalender sedernana berebahan kertas sedikit keras yang menempel pada dinding kamarnya itu.
Ia menghitung kemudian melingkari penanya tepat pada sebuah angka yang tercetak di kertas berbahan sedikit keras tersebut.
Bukan hari ulang tahunnya, bukan juga hari ulang tahun orangtuanya, bukan juga adik-adiknya, apa lagi jungkook.
Tapi ia melingkari sebuah angka yang tak lain adalah hari yang selalu membuatnya bersedih. Hari itu adalah perpisahannya dengan Seokjin.
Bibir tipinya bergerak menggumam dan menghitung beberapa angka, kemudian ia menghela nafas kecewa.
"huft. 13 hari lagi" desah Taehyung kecewa.
Jika dihitung-hitung, sudah 8 hari lamanya Taehyung melakukan misinya, itu berarti hanya 15 hari lagi waktu yang ia miliki, 2 minggu kurang sehari. Oh ayolah Kim Taehyung. Waktumu tak banyak. Jangan menyia-nyiakan waktumu jika kau benar-benar menyukai Seokjin. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Akan sulit jika Seokjin sudah tidak lagi satu sekolah denganmu. Aku bahkan khawatir Seokjin akan sulit bertemu denganmu jika ia sudah mendapatkan status sebagai seorang mahasiswa. Ingat! Mahasiswa selalu dilanda kesibukan.
Taehyung menghempaskan tubuh berpostur mungilnya mendarat dengan kasar di kasur empuk itu. Dibalik kedua mata yang terpejam itu, terputar gambaran tentang Seokjin.
Seokjin yang bermain basket, Seokjin yang sedang membaca buku, Seokjin yang menatapnya cuek, dan Seokjin yang lainya. Pikirannya terlalu dipenuhi Seokjin.
Namun.
Haruman.. haruman.. neowa naega hamkke halsu itdamyeon~
Lantunan lagu tertangkap oleh gendang telinga Taehyung. Suara itu bersumber dari smartphonenya yang tergeletak tak jauh dari sana. Jemari Taehyung mulai bergerak untuk meraba permukaan nakas yang Taehyung ketahui smartphonenya memang tergeletak disana.
"Jimin?" dahi itu sedikit mengkerut keheranan setelah menyadari seseorang yang telah mengiriminya pesan adalah mantan kekasihnya itu, Jimin.
From: Jimin~
Kau sibuk? Tak ingat? Jahat sekali. Hari ini hari ulang tahunku. Kau mungkin bukan lagi kekasihku, tapi setidaknya ucapkan selamat ulang tahun padaku, pabbo.
Baru saja jari itu bergerak untuk mengetikkan pesan balasan, sebuah pesan masuk membuat gerakan jemari itu terhenti.
From: Jimin~
Aku ada di depan rumahmu. Keluarlah. Pakai sweatermu.
Mata Taehyung seketika terbalak setelah membaca pesan terakhir Jimin. Tubuhnya terlonjak melompat dari kasur dan berlari menuju balkonnya. Benar saja, ia menemukan Jimin yang bersandar pada motornya yang terparkir disana.
.
"Pakai sweater saja lama sekali" protes Jimin. Dan Taehyung hanya berdecak sebal
"Selamat ulang tahun" Taehyung berucap setelahnya.
Jimin mengulum senyumnya mendengar sebuah kalimat yang Taehyung lontarkan barusan.
"Terima kasih" kekeh Jimin senang kemudian mengusak surai halus kecoklatan milik Taehyung.
"Pakai helmmu" ucap Jimin seraya memberikan sebuah benda pelindung kepala itu pada Taehyung.
"Mau kemana Jimin?" Tanya Taehyung yang penasaran kemana Jimin akan membawanya pergi.
Jimin hanya menampilkan sebuah cengiran seraya memasangkan helm itu sehingga menutupi kepalanya. Sedikit membenarkan letaknyanya, kemudian menatap Taehyung yang masih berdiri menatapnya dalam diam.
"Ada apa denganmu? Cepat naik"
.
.
My Boy, My Neighbour, My Sunbae
.
Taehyung mengalihkan perhatianya ketika seorang pramusaji berparas manis itu datang dan memberikan sebuah buku menu pada mereka.
Taehyung fokus membolak balik halamannya, menatapi satu persatu gambar hidangan yang akan ia pesan nantinya. Bibirnya terkadang mengerucut sambil menggumamkan tulisan-tulisan yang tercantum jelas pada buku itu.
"Jimin" panggil Taehyung tanpa mengalihkan arah pandangnya dari buku menu itu
Jimin menggumam sebagai jawaban.
"Kenapa kau membawaku ke restoran rusia? Kau tahu kan aku tidak suka hidangan khas eropa" bisik Taehyung pelan karena tak ingin si pelayan itu mendengar kalimat Taehyung barusan.
Jimin terkekeh pelan mendengarnya.
Ia menutup buku menu itu dan disimpannya buku itu.
"2 beef stroganoff" Jimin berujar pada si pelayan itu.
Taehyung terkesiap kebingungan mendengar kata asing yang ia dengar dari bibir tebal milik Jimin barusan.
"makanan apa itu?! Awas saja kalau kau memberiku daging kelelawar lagi Jimin!" protes Taehyung sambil melemparkan tatapan tajamnya.
Kemudian Jimin beserta si pelayan terkekeh geli mendengar penuturan Taehyung tadi.
"Tenanglah ini hanya daging sapi" ujar Jimin enteng. Dan Taehyung mendengus sebal dibuatnya, namun akhirnya ia mengangguk tanda ia setuju dengan menu pilihan Jimin. Pelayan muda itu langsung saja mengangkat sebuah papan berukuran tak terlalu besar itu dengan kertas yang menempel pada benda tersebut. Papan itu topang dengan lengannya sediri, jemarinya yang menggenggam pulpen kecil itu mulai tergerak menuliskan pesanan tersebut. Setelah selesai, pelayan itu tersenyum ramah sambil merendahkan kepalanya sekedar membungkukkan tubuhnya.
"mohon tunggu sebentar"
.
.
Rahang Jimin sedikit mengeras, ia menghela nafas sedalam-dalamnya saat ia melihat Taehyung tak kunjung menatapnya juga.
Lelaki manis itu tetap saja asyik dengan permainan buah-buahannya itu dengan serius.
"Yak! Kim Taehyung! Bisa tidak berhenti bermain game itu?" ucap Jimin kesal, namun Jimin masih berhasil menahan emosinya.
"Apel apel apel!" gumam Taehyung heboh sendiri menghiraukan Jimin yang sedari tadi menahan kekesalanya karena Taehyung.
"Kim Taehyung!" bentaknya.
Semua mata kini tertuju pada pemuda yang tiba tiba saja berteriak dan membuat keributan dalam ruangan yang tak begitu luas itu.
Jimin tersenyum kikuk merasa semua mata tertuju matanya dengan berbagai macam ekspresi.
Kemudian Jimin mendengus seraya mencoba menormalkan ekspresi bodohnya, dilihatnya Taehyung sudah meletakkan dengan rapi ponsel menyebalkannya-bagi Jimin- itu dan menatap Jimin dengan cengiran.
"Baiklah ada apa?" jawab Taehyung sambil melipatkan lengannya diatas meja itu, wajahnya tersenyum manis dan terkesan polos. Taehyung sungguh menggemaskan.
Jimin salah tingkah dibuatnya. Wajah manis Taehyung selalu membiusnya dan selalu membuat dirinya jatuh dalam pesona Taehyung.
Baru saja Jimin membuka kedua bibirnya itu untuk mengatakan sesuatu, si pelayan menginterupsi.
.
Sekarang mata indah itu berbinar dan terbalak kagum melihat hidangan yang kini tersaji di hadapanya.
2 buah hidangan russia lengkap dengan segelas bubble tea dan secangkir americano.
"Selamat makan" Taehyung memekik girang.
Belum sempat Jimin menjawab sebagai tanda kesepakatan untuk makan bersama, Taehyung sudah lebih dulu memainkan sendok dan garpunya membentuk gerakan memotong pada daging itu.
"Jimin ini enak!"
Jimin hanya tersenyum simpul dibuatnya. Taehyung, mantan kekasihnya itu memang, benar-benar polos. Namun perlahan senyuman itu memudar seketika ia mengingat kembali sesuatu yang membuat hatinya berdenyut nyeri.
.
My Boy, My Neighbour, My Sunbae
.
Sekarang, kedua mata itu terasa sudah sangat berair bagi Taehyung. Mungkin sekali saja ia berkedip, bulir bening di pelupuk matanya itu akan menetes kemudian mengalir turun melewati pipi putih halus tanpa cacat itu. Matanya tak pernah lepas menatap sepasang insan dihadapannya, bercengkrama, saling berangkulan dan terlihat sedikit, romantis?
Sepasang insan itu terlihat semakin romantis saja ketika salah satu dari keduanya mengusapkan ibujarinya untuk menghapus sebuah noda kecil yang menodai tepi bibir pasangannya, kemudian saling melemparkan senyuman hangat dan kembali menikmati ice-cream conemya masing-masing.
"Hyung berbohong padaku" lirih Taehyung hampir tak bersuara dengan tatapan kosongnya masih saja menatap 2 pasang manusia itu.
"Kukira Seokjin hyung memang benar benar tak memiliki kekasih"
Rahangnya mulai mengeras. sesekali ia menarik nafas dalam untuk mendinginkan emosinya yang sudah tersulut itu.
Taehyung menjatuhkan kotak makan bergambar kartun singa lucu dari genggamannya hingga kotak itu membentur tanah aspal. Ia berlalu dari sana, membiarkan semua makanan itu tumpah dari dalamnya.
Kesal, marah, sedih, benci. Semua berpadu menjadi satu. Dan semua perasaan itu kini menyelimuti kesendirian Taehyung.
Taehyung terduduk dalam keheningan pada sebuah bangku kayu tepat ditengah taman sepi disana.Hanya ada Taehyung disana. Mungkin hanya beberapa orang yang lewat. Taman ini bukan taman kota yang selalu ramai dikunjungi orang-orang setiap saat. Tapi taman ini merupakan taman yang sangat sepi dan hampir mati karena tak terurus. Namun Taehyung sering memanfaatkan suasana sepi itu untuk menyendiri karena tak ingin diganggu siapapun.
.
Namja berseragam sekolah yang sudah tak terlalu rapi itu berjalan santai di sisi kanan jalan. Pandangannya terfokus pada layar yang menyala dari sebuah benda persegi canggih yang digenggamnya.
Park Jimin, tulisan itu akan terbaca jika kita melihat sebuah name-tag yang menempel pada seragamnya.
Jimin berjalan tanpa menatap lurus kedepan, sesekali tubuhnya tertabrak pejalan lainnya yang berjalan berlawanan dengan arahnya saat ini.
Jimin mendengus sekali sebelum memasukkan benda persegi tipis itu dalam saku celananya. Sepertinya kesibukannya dengan smartphone kesayabgannya itu telah berakhir. Ia sedikit memutar kepalanya untuk menatap sekitar. Dan gerakkan kepalanya berhenti ketika menangkap sosok pemuda lain yang terduduk sendiri pada sebuah bangku taman disana.
Jimin mengenalnya. Tentu sangat mengenalnnya.
"Taehyung?" batin Jimin. Otaknya kini memberi impuls motorik sehingga kakinya melangkah kembali. Kini arahnya sedikit berbelok, Jimin menuju taman itu untuk menghampiri Taehyung yang duduk kesepian disana.
"Hey taetae. Sedang apa kau disini hm?" tanya Jimin seraya membawa tubuhnya terduduk pada ruang yang kosong di bangku itu.
Taehyung menolehkan wajahnya setelah pikirannya terkumpul membuatnya kembali sadar. Menyadari pria itu adalah Jimin Taehyung sontak melemparkan dirinya untuk memeluk Jimin dengan erat. Tangisannya meledak dan Taehyung mulai terisak. Jimin membulatkan matanya terkejut dengan pelukan erat yang tiba-tiba itu. Jimin perlahan membalas namja yang tengah menangis dipelukannya itu.
"Jimin. Soal.. hiks yang kemarin. Aku mau" ujarnya sesenggukan.
Jimin mengerutkan dahi itu seketika, tak perlu waktu lama matanya terbalak terkejut karena mengetahui Taehyung menerimanya sebagai kekasihnya.
.
.
Ya. Gambaran seperti itulah ternyata yang membuat senyuman manis Jimin memudar.
Jimin tulus mencintai Taehyung. Tetapi Jimin kesal. Sungguh kesal, setelah lama menyelidiki mengenai mantan kekasihnya itu.
Intinya Jimin menarik kesimpulan bahwa Taehyung memanfaatkan Jimin untuk menghapuskan rasa sakitnya, karena Seokjin.
"Jimin kurasa aku menyukai hidangan ini" kata Taehyung membuyarkan lamunan Jimin.
Jimin yang terkesiap kemudian tersenyum simpul.
"Ah ya. Aku belum membeli hadiah untukmu" lanjut Taehyung sembari mengerucutkan bibir mengkilat itu. Membuat Jimin terdiam menatap pada lipatan daging kenyal yang berkerut tersebut. Jimin menjilat bibirnya sendiri hanya untuk membuatnya tidak kekeringan lagi.
"kalau begitu aku tahu tempat yang bagus" ujar Jimin meyakinkan.
Jimin telah mematikan mesin motornya yang berderu itu. Dilepaslah helm yang sedari tadi dikenakannya dan diletakkan pada salah satu spionnya. Taehyung sekarang berdiri di pada tanah jalan itu sambil melepas helm yang ia kenakan juga. Dahinya berkerut kebingungan dengan keberadaanya dan Jimin saat ini. Jimin membawanya ke sebuah taman yang tak asing lagi bagi Taehyung. Sebuah taman yang sepi, dan terbengkalai.
"Jadi.." Taehyung memberi jeda.
"Dimana aku bisa membelikan hadiah untukmu?" tanya Taehyung masih dengan dahinya yang berkerut heran.
Jimin hanya menatapnya dalam diam. Tanpa ada niatan membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, Jimin menarik lengan itu, dan membawa tubuh Taehyung yang terseret menuju sebuah bangku kayu tua kusam disana.
Taehyung semakin heran dibuatnya. Ia masih tidak mengerti apa alasan Jimin membawanya kemari. Namun Taehyung tak berontak, ia hanya menuruti apapun yang Jimin inginkan, seperti menyuruhnya duduk di bangku itu, tepatnya.
Taehyung memang tak asing dengan tempat itu. Karena taman sepi ini merupakan tempatnya menenangkan pikiran, tempat yang selalu didatanginya ketika ia ingin menjernihkan pikirannya, dan Taehyung ingat tempat ini adalah tempat dimana ia menerima Jimin menjadi kekasihnya tepat setelah Taehyung mengetahui jika Seokjin sudah memiliki kekasih.
"Kau ingat kejadian 3 bulan lalu? Saat aku menyatakan perasaanmu padaku?" akhirnya Jimin mulai berucap.
"dan kau menerimaku sebagai kekasihmu, di bangku ini" lanjutnya.
Taehyung mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata yang keluar dari bibir manisnya. Matanya menatap Jimin dengan penuh rasa penyesalan. Jimin kini menatapnya juga, sehingga sepasang bola mata mereka saling bertemu. Taehyung dapat menangkap jelas raut kesedihan yang terpancar dari wajah tampan Jimin.
"Bolehkah aku meminta hadiah yang belum kudapat selama kita berpacaran dulu tae?" Jimin bertanya lembut.
"katakan saja Jimin" balas Taehyung tak kalah lembut.
"Ciumanmu, Taehyung"
Kepala Taehyung berdenyut seketika mendengar pernyataan Jimin barusan. Jimin meminta sebuah ciuman. Ini sungguhan! Sebuah ciuman. Asal kalian tahu saja, jika Taehyung benar benar menciumnya, maka Jimin adalah ciuman pertamanya. Taehyung terlihat begitu ragu, sangat ragu. Namun disisi lain, Taehyung merasa semakin bersalah saat ia menatap kembali wajah sendu dihadapannya itu. Taehyung menggigit bibirnya sedangkan pikirannya masih bergelut untuk menentukan pilihan. Setelah berpikir cukup panjang, Taehyung meletakkan telapak tangan halus itu hingga menyentuh rahang Jimin. Matanya mulai terpejam seketika saat Taehyung semakin menghapus jarak antara keduanya. Jantung Taehyung berdesir ketika bibir itu berhasil menyentuh sebuah daging kenyal hangat yang menempel di bibirnya. Taehyung bingung bagaimana ia mendeskripsikan perasaannya saat ini. Yang pasti otaknya sekarang memikirkan Seokjin.
Jimin merasakan bibir manis itu menyapu permukaan bibir tebalnya dengan lembut. Seulas senyum terukir di bibirnya ketika ia merasakan bibir itu benar benar menempel dengan bibirnya. Tanpa ragu Jimin membalas ciuman Taehyung, ia memulai dengan sebuah pergerakan lembut. Jimin memejamkan matanya saat ia semakin menggerakkan bibirnya membelai bibir Taehyung. Oh ini nyata. Jimin merasa seperti terlempar keatas awan sekarang. Setelah sekian lama ia menginginkan ini, akhirnya ia dapatkan juga. Sebuah ciuman manis dari Taehyung, mantan kekasihnya. Tapi ketahuilah Jimin, jika kau membuka matamu sekarang. Kau akan langsung menarik kepalamu menjauh hingga ciuman kalian terlepas. Kau Tahu kenapa?
Karena setetes bulir air mata bening yang jatuh dari pelupuk mata terpejam Taehyung. Taehyung sedang menangis dalam ciuman itu.
.
.
"Hyung. Kau sakit?" tanya Jungkook, terdengar nada kekhawatiran didalamnya.
Taehyung menggeleng lemah kemudian tersenyum singkat menatap Jungkook yang masih saja melemparkan tatapan khawatirnya. Jungkook menghela nafasnya dalam.
"Hyung. Kau tampak sangat buruk. Mau cerita?"
Lagi-lagi Taehyung menggeleng lemah. Membuat Jungkook menghela nafasnya lebih dalam, tangannya meraih untuk merampas sendok yang Taehyung genggam. Taehyung mengangkat wajahnya dan menatap datar namun menusuk. Jungkook rasa Taehyungnya benar-benar dalam mood yang buruk sekarang. Jungkook tersenyum bodoh sekedar menghibur Taehyung lalu kembali meletakan sendok itu dengan hati-hati.
"Hyung tak biasanya tak mau cerita padaku. Ada apa?" tanya Jungkook untuk kesekian kalinya.
Taehyung menghela nafasnya kemudian tertunduk. Setelah beberapa saat mulut yang bungkam itu akhirnya berbicara.
"Kemarin, aku mencium Jimin" jawabnya
.
To Be Continue
.
a/n: Halo haloo hai! Ketemu lagi dengan saya! gimana chap ini? Pendek? Iyaa pendek TT maafin maafin u.u
hadooh udah masuk masa liburan nih~ saatnya berkarya (?) ff yeaaay, sebelum agustus nanti aku bakal sibuk lagi sama kuliah u.u tpi tetep kok! Tetep nulis ff xD
ah ya~ jadi jimin kan mantannya taetae. Itu ada flashbacknya kalo taehyung nerima jimin untuk pelampiasan doang TTv
Oh iya tenang aja yah~ jimin ga bakalan ngejones kok~yaa mungkin ketemu primadona yang lebih cantik #eaa
Yaaa segitu sih komen author di chap ini~ kemungkinan ff ini tamat 2 chapter lagi~ tunggu aja yaa
Dan.. Review kalian akan sangat membantu untuk (?) kelajutan chapter berikutnya~~
Jadi.. Review juseyooooo ^^
Terakhir~ Happy Holiday!
