Judul :

Emotion

Pairing :

Mintanya siapa? *plak*

Genre :

Romance/Drama and Friendship

Disclaimer :

Sasu-chan ma yang laen (yang udah di ubah gendernya) punya ling2! XD

Tapi yang aslinya punya Masashi Kishimoto. Huhuhu… :(

WARNING : typo dan banyak warning2 lainnya. Dan ling2 tidak lupa mengingatkan akan munculnya nama yang aneh dalam fict ini. Mohon di maklumi… -_-"

MEMO :

Yo. Chap. 4 apdet setelah sekian lama.

Ng? Nulis apa ya di memo ini? *plak* (tentu aja minta maaf)

Yah, pertama-tama Ling2 mau minta maaf karena apdetnya lama… Benar-benar minta maaf… Ling2 kehabisan ide dan mood untuk menulis. Sekali ide mentok, tetep ling2 gak bisa apa-apa. Benar-benar maaf… *sembah sujud*

Dah lama gak nyentuh fict ni. Kangen banget… XD

Ok. Langsung aja. Cekedot.

Selamat Menikmati…

XXX

Emotion by Ling-Ling Chinese

CHAP. 4 Sang kakak.

NARUKO'S POV

Mentari pagi muncul dari peraduaanya. Sinarnya yang masuk dari celah-celah tirai, membangunkanku dari tidurku. Aku menggeliat diatas kasur. Meregangkan seluruh ototku yang kaku. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali untuk membiasakan mataku.

Ku lihat sekeliling kamar yang lumayan asing bagiku.

'Kamar asrama.'

Aku teringat. Beberapa hari yang lalu aku baru saja pindah ke Asrama Konoha Gakuen. Dan hari ini kegiatan sekolah sudah di mulai.

Aku mendudukkan diri di tepi tempat tidurku. Ku pandang Sasuko yang masih terlelap. Wajahnya benar-benar cantik. Setiap lekuk wajahnya terpahat dengan sempurna.

Aku beranjak dari tempat tidurku dan kali ini duduk di tepi tempat tidur Sasuko.

Kupandangi wajahnya lekat-lekat. "Benar-benar mirip." Lirihku sambil menyentuh wajahnya.

FLASHBACK

Kami berjalan dalam diam dalam perjalanan pulang. Aku hanya mengikuti langkah Sasuko yang terburu-buru karena dia menggandeng tanganku.

Aku penasaran.

Aku ingin bertaya. Namun aku tidak ingin di benci Sasuko gara-gara terlalu ikut campur. 'Apa yang harus aku lakukan?' aku mengacak rambutku pelan dengan tanganku yang bebas.

Seperti dapat membaca kekalutanku, Sasuko berkata, "Dia adalah saudara kembarku." Katanya memecah keheningan.

Aku mendengarkan dengan seksama. Menanti kelanjutannya. Namun, sia-sia saja aku menunggu. Tak ada kalimat lain yang keluar dari mulutnya.

'Jika aku mati penasaran hari ini, aku akan mengutuk diriku sendiri.' kesalku dalam hati.

Kami kembali berjalan dalam keadaan diam.

END OF FLASHBACK

Mata onyx itu perlahan menampakkan keindahannya. Mungkin dia terbangun akibat kegiatanku membelai wajahnya.

"Ohayou." Sapaku-tak lupa dengan cengirannya.

"hn." Balasnya singkat.

'Dia sudah kembali seperti biasa rupanya.' Pikirku. Senyum kecil menghiasi wajahku.

"Ayo kita segera bersiap."

END NARUKO'S POV

XXX

Naruko dan Sasuko tiba di kelas mereka.

Siswa siswi baru telah memenuhi ruang kelas. Senyum terkembang di wajah Naruko. Dia senang bukan kepalang karena akan mendapatkan teman yang lebih banyak hari ini.

"OHAYOU!" serunya dengan lantang.

Seluruh penghuni kelas menatap Naruko dengan pandangan kaget. Tak lupa Naruko menambahkan senyuman yang manis di wajahnya-lebih tepatnya cengiran.

"Ohayou. Naruko-san." Lirih pemuda berambut lavender pendek dengan mata tanpa pupil yang senada dengan warna rambutnya dengan malu-malu tentunya. (Ih, cowok kok malu-malu. *di Jyuuken Niji*. Ups salah. Maksudnya Neji. *di kribo giring* piss… )

"Yosh. Ohayou, Naru-chan." Balas dari cewek rambut coklat yang dikucir ekor kuda dan sedikit berantakan tak kalah semangatnya. Dibawah matanya terdapat tato segitiga merah terbalik. Dia ikut nyengir kuda.

Tak lama kemudian kelas menjadi riuh membalas salam Naruko.

Sasuko terbengong melihatnya-namun tentu saja wajahnya tetap tenang-. Dia tak menyangka dalam satu hari Naruko sudah memiliki teman sebanyak ini.

Sasuko masih terdiam di dekat pintu. Dia memandang Naruko yang dengan riang mengobrol dengan teman-teman barunya. Seulas senyum kecil mengembang di wajahnya.

Namun, senyum itu memudar saat pandangan matanya bertemu dengan saudara kembarnya, Sasuke.

Dua pasang mata onyx bertemu.

Hitam bertemu Hitam.

Terpancar aura yang tidak menyenangkan dari mereka.

Suasana kelas yang awalnya ceria-lebih tepatnya berisik- dalam sekejap sunyi. Anak-anak sekelas mundur dengan teratur.

XXX

Di halaman belakang sekolah, seorang pemuda berparas tampan nan dingin tengah menikmati belaian angin yang membelai kulitnya. Matanya terpejam, seakan ingin menikmati kesendiriannya tanpa di ganggu.

Namun, sepertinya tidak seperti itu. Dari belakang Sasuke, Naruko mendekat. Sasuke membuka matanya. Dia menyadari datangnya seseorang.

"Hai." Sapa Naruto dengan cengirannya.

Tak ada balasan dari orang yang di ajak bicara. Dia bahkan tidak menoleh saat Naruko menghampirinya.

Dengan sedikit kesal, Naruko merebahkan diri di samping Sasuke. Ikut menikmati belaian sang angin.

Hening.

Naruko maupun Sasuke sama-sama menikmati keheningan yang ada.

"Argh!" teriak Naruko memecahkan keheningan. Ternyata hanya Sasuke saja yang menikmatinya. Naruko bangkit dari rebahannya.

Sasuke memberikan glare terbaiknya karena di ganggu ketenangannya. Sedangkan Naruko, sepertinya tidak peduli dengan glare itu.

Dengan kasar, Naruko mendudukkan diri di samping Sasuke. Disilakan kedua kakinya dengan seenaknya. Sehingga membuat rok pendeknya sedikit tersingkap.

Sasuke sedikit tidak nyaman dengan hal itu.

"Hei dobe, lipat kakimu dengan benar." Perintah Sasuke.

"Apa?" pekik Naruko protes. "Tidak kau, tidak Sasuko. Mengapa kalian selalu memanggilku 'dobe'!" kesal Naruko. "Pasti gara-gara kau, wanita secantik Sasuko mampu mengatakan kata-kata seperti itu. Dasar Teme!" teriak Naruko penuh rasa kesal.

"Mengapa kau sebut-sebut namanya?" kedua alis Sasuke saling di tautkan. "Lagipula kau memang seorang dobe."

"Argh! Kau menyebutnya sampai dua kali! " Naruko mengacak-acak rambutnya saking kesalnya. Rumput yang ada di sekitar kakinya pun menjadi korban tendangan sambil duduk Naruko. Dan itu membuat rok Naruko yang tadinya tersingkap, menjadi tambah tersingkap.

Sasuke semakin tidak tahan. Akhirnya, di paksalah kaki Naruko untuk menutup. Namun, karena salah pengertian, Naruko berontak. "Apa yang kau lakukan teme!" Mereka sedikit bergulat. Pergulatan yang didasari karena kesalah pahaman.

Karena Naruko terus berontak, Sasuke menjadi kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpa Naruko.

Biru bertemu hitam.

Hampir saja.

Tinggal beberapa centimeter lagi mereka akan berciuman. Jika salah satu fans Sasuke berada di posisi Naruko, mereka pasti akan berfikir, 'Cih. Tinggal sedikit lagi.' Atau 'kyaa! Kyaaa!' dengan wajah merah. Namun, Naruko beda.

"Gyaaaa~~~!" teriaknya. Dan,

'PLAK'

Dengan sadisnya, Naruko menampar wajah tampan nan mulus Sasuke. Saking kuatnya, telapak tangan Naruko sampai membekas di wajah Sasuke.

Sadar apa yang telah dilakukannya, Naruko bergegas pergi dari tempat itu dengan sekuat tenaga.

Sasuke masih berada di tempatnya. Tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dia kena tampar untuk sesuatu yang tidak jelas. Yah, tapi memang itulah yang dia pikirkan...

"Ckck… harus segera di kompres tuh. " kata seseorang menyadarkannya. Suara itu berasal dari atas pohon yang tak jauh dari tempat Sasuke berada.

Sasuke menautkan kedua alisnya. "Sejak kapan kau jadi tukang intip, Nara." Tutur Sasuke pada orang yang ada di atas pohon itu sambil memegang pipinya yang terasa perih.

"Aku yang berada di tempat ini dahulu." Orang yang bermarga Nara itu turun dari dahan pohon yang dia duduki tadi. "Lagi pula, suara berisik kalian yang membangunkanku dari tidur siangku yang damai." Katanya sambil menguap lebar. "Dasar, wanita memang berisik." Gerutunya sambil membersihkan roknya dari debu.

"Kau itu juga wanita, Nara… " kata Sasuke sedikit sweetdrop.

Anak perempuan bermarga Nara itu sedikit berfikir sebentar sebelum menjawab. "Oh iya. Aku lupa." Katanya dengan entengnya. "Tapi, aku bukan tipe berisik seperti mereka." Elaknya. "Sampai jumpa, Uchiha." Katanya lagi tanpa menoleh ke arah Sasuke. Nara Shikamari, pergi dengan gayanya yang cool sambil mengangkat sebelah tangannya singkat sebagai ganti lambaian.

XXX

Naruko berlari dan terus berlari. Melewati koridor-koridor dan siswa-siswi yang sedang berlalu-lalang. Sampai, dia berhenti di sebuah koridor yang cukup sepi dan jarang di lalui orang. Kaki Naruko lemas. Dia jatuh terduduk di tempat.

'Gyaa… apa yang terjadi tadi?' teriak Naruko dalam hati. Dia menutup mulutnya agar tidak berteriak saat itu juga.

Jantung Naruko berdegup dengan cukup cepat. Entah itu karena ia habis berlari atau karena kejadian tadi. Wajahnya pun menjadi panas. Apa memang hari ini sepanas itu? Sepanas apapun hari ini tak mungkin membuat wajah Naruko menjadi merah padam bukan? Lagipula, bulan ini masih bulan April. Sepanas-panasnya musim semi, tak mungkin membuat wajah seseorang menjadi merah padam dan panas.

'Apa yang harus kulakukan! Aku telah menampar wajahnya cukup keras.'

Naruko masih terduduk lemas di tempatnya.

"Sedang apa kau disini? Apa kau sakit?" Tanya seseorang dari belakang Naruko.

Naruko menoleh.

Yang telah menyapanya adalah ketua asrama putri, Uchiha Itako.

Wanita yang sangat cantik. Warna rambut, mata dan kulitnya sama dengan Sasuko dan Sasuke.

"Sepertinya kau terluka ya." Ucap Itako ketika melihat ada luka gores di punggung tangan Naruko.

"Ti… tidak kok." Balas Naruko sedikit grogi dan tidak menyadari lukanya.

Itako memegang tangan Naruko seperti seorang putri. Naruko semakin grogi dibuatnya. Diperlihatkannya luka gores yang ada di punggung tangan Naruto kepada si empunya.

"Oh." Gumamnya singkat.

"Harus segera di obati." Ucap Itako. Itako menarik lengan Naruko dan membawanya pergi.

"Eh… eh… " bingung Naruko.

.

.

.

"Ah, terima kasih." Ucap Naruko selesai di obati oleh Itako.

"Hn." Jawab (?) Itako sambil membereskan peralatan P3K yang telah selesai di gunakan.

Naruko sedikit tidak nyaman dengan keheniangan ini. "Ng…," Naruko mencoba membuka pembicaraan. Itachi menoleh. Menunggu kelanjutannya. "err…," Naruko jadi bingung apa yang ingin di bicarakan. Dia berusaha memutar otak dengan cepat. Mencari topik yang kira-kira tepat.

"Itako senpai kakak dari Sasuke dan Sasuko ya?" celetuknya, kehabisan akal.

'Plak'

Naruko menepuk keningnya sendiri.

'Bodohnya aku! Itu kan jelas-jelas terlihat.' Sesalnya.

Itako menatap Naruko dengan tajam.

'Apakah dia marah' khawatir Naruko.

"Kau mengenal mereka?" selidiknya.

Naruko menelan ludah, lalu mengangguk pelan.

"Hn." Katanya.

Naruko bingung. ''Hn' itu artinya iya atau tidak.' Pikirnya dalam hati.

"Seberapa dekat kau dengan mereka?" Tanya Itako.

"Eh." Celetuk Naruko kaget. " err… cukup dekat. Kami sudah beberapa kali ngobrol." Kata Naruko sekenanya.

"Hn."

'Lagi-lagi 'hn'. Apa sih itu artinya?' gerutu kesal Naruko dalam hati lagi.

"Sasuko dan Sasuke.." Itako membuka pembicaraan. "Bagaimana kabar mereka?" Tanya Itako tanpa mengalihkan pandangannya dari kotak P3K.

"Errr…" Naruko memikirkan kata-kata yang tepat. Namun sepertinya sulit. "Buruk. Setiap kali bertemu, mereka selalu mengeluarkan aura yang aneh. Orang-orang di sekitar mereka pun jadi ketakutan. Padahal… " Naruko menghentikan celotehannya. Dia merasa tidak enak dengan Itako, karena bagaimanapun juga mereka bersaudara bukan. "Maaf… " lirihnya.

"Hn." Lagi-lagi… "Dulu mereka sangat akrab. Entah sejak kapan mereka jadi seperti itu…," Itako menghentikan kata-katanya. "Aku telah gagal menjadi kakak…" gumamnya pelan. Sangat pelan…

Naruko hanya berdiri terdiam.

"Kak Itako…" lirihnya bagai sebuah bisikan.

"Kalau begitu, aku akan membuat mereka berbaikan." Tekad Naruko dalam hati dengan semangat membara.

~TBC~

Cukup sampai disini…

Mengecewakankah?

Gomen ne~ benar-benar maaf… Ling2 tidak tahu lagi harus berkata apa selain minta maaf.

Ling2 menunggu kritik dan saran untuk memperbaiki fict ini. Soal ide cerita, pemilihan nama, penulisan cerita, apapun yang dapat ling2 perbaiki, akan ling2 perbaiki. Namun kalau soal update… *nglirik kea rah laen* -ling2 gak bisa janji…

Terima kasih telah membaca. Tetap tunggu lanjutannya meski lama *plak*