Huah.. gara2 ngejar fic-ku yg judulnya Summer, yg Insomnia jadi nggak keurus.. saia memang author g bener, nggak becus ngurus fic.. harus atu2.. =.=

Ok, ga usah banyak omong deh, sok atuh, dibaca!

INSOMNIA

Chap 3: Insomnia!

Tidak…. Jangan sekarang!

"Ah, Shiro-nii!" sapa Rukia menepuk bahu Hitsugaya.

"Ng… hai Hitsugaya, hai Naia" sapa Hinamori yang datang bersama Rukia. Hitsugaya dan gadis yang bernama Naia menoleh. Mata bulat Naia membesar, sesekali melirik ke arah Hitsugaya.

"Eh? Kau sudah kenal Shiro-nii, Hinamori?" tanya Rukia kaget, tapi omongannya dipotong oleh Naia.

"Haaii… Hinamori!!" sapa Naia. "Dan ini pasti sepupumu itu, Shiro!"

Hitsugaya menyodok Naia. "Jangan. Panggil. Aku. Shiro!!"

"Aku Rukia, salam kenal!" ucap Rukia membungkuk. Naia terkejut dan salting sedikit.

"E-eh, jangan menunduk seperti itu!!" katanya. "Kalau berkenalan di Indonesia, cukup bersalaman saja."

"Eh, iya," Rukia menyodorkan tangannya dan Naia menjabatnya.

"Aku Naia Isuramukyou, salam kenal ya," ujar Naia, tersenyum. Tampak lesung pipi di pipi kirinya.

"Ah, maaf ya, Rukia, Hinamori, Shiro aku harus pergi dulu. Sepertinya sebentar lagi kelasku masuk. Duluan yaa!!" Naia terbirit-birit pergi.

"Hh… dia itu. Selalu saja berisik," keluh Hitsugaya. "Jadi? Ada apa?"

"Eh? Tidak kok, aku hanya menyapa Shiro-nii. Memangnya kenapa?" tanya Rukia balik, bingung.

"Ooh. Ya, nanti pulang langsung ke parkiran. Kita langsung pulang!" ujar Hitsugaya yang langsung berlalu begitu saja.

"Eh… iya," jawab Rukia yang menatap punggung Hitsugaya aneh.

"Kenapa, Rukia?" tanya Hinamori.

"Ah, tidak…. Eh, kau kenal dengan Shiro-nii ya?"

"Siapa yang tak kenal dengannya?" ucap Hinamori dingin.

"Sepertinya ia tak seperti biasa ya?"

"Hm? Bukannya biasanya seperti itu? Sudahlah, ayo kita menuju kelas berikutnya. Sebentar lagi bel!" ujar Hinamori. Rukia menatap Hitsugaya yang sudah menjauh dan Hinamori di sebelahnya, bingung. Sepertinya ada yang aneh dengan dua orang ini…

Midnight, 00.00

Rukia mondar-mandir di kamarnya. Penyakit lamanya kambuh lagi; insomnia. Kalau di ruamahnya yang dulu—di Jepang—ia biasa mengendap-endap menuju dapur, membuat green tea panas. Mungkinkah ia bisa membuatnya lagi disini?

Rukia membuka pintu kamarnya, mengendap-endap keluar. Ia menuruni tangga tanpa bersuara, berjalan menuju dapur.

Rukia membuka satu-persatu toples yang berderet di meja, mencari toples yang berisi teh. Ia ragu tantenya mempunyai green tea yang biasa ia minum di Jepang. Ah, ketemu. Toples itu bertulis 'TEH GOPEK MIX TEH DANDANG'

Rukia mengerutkan dahinya. Teh Dandang campur teh Gopek? Apa itu? Ia tau kata 'teh' tapi ia tak tau kata 'dandang' dan 'gopek'. Sedetik kemudian ia mengangkat bahunya, tak peduli.

Ia mulai mengambil cangkir, piring, sendok, dan meraih toples berisi gula. Ia mencampurkan gula dan campuran teh itu, lalu mengisinya dengan air panas. Baru ia ingin mengaduknya, suara seseorang mengagetkanya.

"Sedang apa kau?"

Rukia menoleh, terkejut, bahkan saking terkejutnya ia hampir melompat. "S-Shiro-nii…."

Hitsugaya melihat cangkir Rukia. "Teh? Kau suka teh?"

Rukia mengangguk. Ia kembali mengaduk tehnya.

"Yakin kau akan terbiasa? Teh disini bukan green tea seperti yang biasa kau minum," kata Hitsugaya mengambil cangkir dan menggapai toples berisi bubuk kopi. Rukia melirik, toples itu berisi bubuk kopi yang masih kasar, bukan yang halus seperi yang ada di sachet.

"Apa? Kopi ini?" tebak Hitsugaya. "Ini namanya kopi bebek."

"Ko-kopi bebek?" Rukia berkata. Hitsugaya hampir membangunkan semua orang dengan tawanya yang untung ia tahan. Begitu sampai diatas, ketika mereka yakin takkan ada orang yang mendengar, Hitsugaya tertawa keras-keras.

"Bacanya be-bek, seperti rujak bebek. Bukan bebek hewan," jelas Hitsugaya.

"Rujak bebek? Apalagi tuh?"

"Bebek itu artinya di tumbuk. Kau tau kan maksudnya?"

Barulah Rukia mengangguk walaupun masih rada bingung. Mereka duduk di sofa, menghadap jendela. Secara bersamaan, mereka menyeruput minuman mereka masing-masing sambil memandangi malam.

"Shiro-nii suka kopi? Kopi kan pait," ujar Rukia tanpa menatap Hitsugaya.

"Memang kenapa? Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau suka teh?" balas Hitsugaya.

"Teh itu punya cita rasa sendiri. Rasanya khas dan enak. Apalagi kalo panas-panas begini, hmmm…," Rukia mencium aroma tehnya.

"Apa?" tanya Hitsugaya penasaran. "Kalo panas emang kenapa?"

"Kalo panas-panas, rasanya panas itu menjalar keseluruh tubuh kita, sensasi rasa hangat dan nyaman. Pas banget kalo pagi-pagi atau saat hujan turun. Mmm…," Rukia memejamkan matanya merasakan tehnya.

"Kopi juga punya cita rasa yang khas. Baunya menusuk, tapi enak. Jujur, gue nggak suka kopi sachetan yang biasa dijual di supermarket. Bubuknya udah halus pake mesin. Nggak enak. Lebih enak kopi ini, walaupun kasar, tapi eenak dan baunya khas kopi," jelas Hitsugaya. Ia menyorongkan cangkir kopinya ke bawah hidung Rukia. "Mau cium?"

Rukia menjauh, menggeleng. Mereka terdiam lagi. Lama sekali…. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Shiro-nii nggak ngantuk? Kok nggak tidur?" Rukia memulai percakapan.

"Kau sendiri?"

Rukia menggeleng. "Insomniaku kambuh lagi."

Hitsugaya menolehnya kepalanya dan menatap Rukia sepenuhnya. "Kau… insomnia juga?"

"Eh? Shiro-nii juga?"

Hitsugaya mengangguk. "Kalo insomnia gue kambuh, biasanya gue turun ke bawah, bikin kopi ini, dan duduk disini sambil memandangi malam, sambil bengong. Jarang—nggak pernah malah—ada yang temeninn gue ngobrol."

Rukia tersenyum. "Kita senasib. Dulu waktu di Jepang, aku juga kaya gini, tapi bedanya aku sambil browsing internet leawt laptop."

"Sama. Kadang-kadang gue sambil main Niitendo atau PS."

"Tapi sekarang ada kau," ucap Rukia dan Hitsugaya bersamaan. Mereka saling berpandangan, lalu tertawa.

"Aku suka kalo Shiro-nii kaya gini…. Ramah, enak diajak ngomong…."

"Hah?" Hitsugaya bengong denger penjelasan Rukia.

"Yaah… soalnya tadi di sekolah…," ucap Rukia ragu. "Shiro-nii dingin banget…."

"Err… itu…."

"Kenapa?" Rukia menatap Hitsugaya, sok membaca gerak-gerik Hitsugaya. Sepupunya itu jadi gelisah, sambil menggaruk-garuk tengkuknya, dan yang teraneh, wajahnya memerah!

"Shiro-nii kenapa?" ulang Rukia.

"Aahh… nggak kenapa-napa!" elak Hitsugaya, menoleh ke arah lain, berusaha menyembunyikan wajahnya. "Lagipula kau juga berbeda. Di sekolah kau terlihat tegar dan mandiri. Tapi dihadapanku? Jadi manja dan blak-blakkan."

"Ah? Iyakah?" Rukia blushing. "Ha-habis aku nggak punya kakak dan nggak punya temen curhat…."

"Lalu kau pikir aku siapa?" Hitsugaya menyuruput kopinya.

Rukia tersenyum ceria. "Tentu saja Shiro-nii kakakku!"

"Oh ya kudengar kau bersama Ichigo ya?"

"Ah? Iya, kami bertabrakan, lalu berkenalan dan ternyata sekelas!" cerita Rukia bersemangat.

"Kau suka dia?" tembak Hitsugaya langsung.

"E-eh??" muka Rukia memerah.

"Hah. Ketebak langsung," ujar Hitsugaya cuek.

"Uuuh…, Shiro-nii curang…," Rukia menundukkan wajahnya malu. "Mana mungkin aku menyukainya? Baru juga ketemu tadi."

"Hmp…, begitu ya?" jawab Hitsugaya tak jelas.

"Uh… Shiro-nii aneh!" kata Rukia kesal. Tiba-tiba ia mengerti sesuatu. "Aaah…, aku tahu. Shiro-nii jaim di sekolah apalagi di depan Hinamori ya? Ada apa dengan Hinamori? Shiro-nii suka?"

"DIAM SAJA KAU!!"

"Ukh!"

Hari Minggu, Seminggu kemudian.

"Rukia! Bangun!"

"Engh?" Rukia mengucek-ngucek matanya. Di hadapannya Hitsugaya membangunkannya kesal. Ia melirik jendela, matahari bersinar terang membuat Rukia memejamkan mata silau. Seingatnya, semalam ia ketiduran di sofa bersama Hitsugaya (di sofa yang lain tentu) karena abis main PS, gara-gara insomnia itu. Di meja masih ada 2 gelas kopi dan the yang kosong dan di bawahnya masih ada PS yang belum di beresin. Rukia segera mengambil kesimpulan kalau Hitsugaya juga baru bangun. Apalagi muka Hitsugaya masih kusut.

"Lihat sekarang jam berapa?" ujar Hitsugaya menunjuk jam dinding.

"Jam 10… emang kenapa? Sekarang kan hari minggu!" elak Rukia.

"Masih untung kau kubangunin! Sana mandi!" suruh Hitsugaya sambil melempar handuk Rukia.

"Sarapan dulu deh," Rukia mengulur waktu.

"Heeeii… udah sarapan belom??" sebuah suara menggema dari tangga. Muncul gadis manis yang Rukia temui di sekolah beberapa hari yang lalu. '

"Naia?"

"Yap! Baru pada bangun kan? Nih, kubawain serabi…," Naia tersenyum, membuka tisu di atas piring sedikit.

"Serabi??" Rukia melirik Hitsugaya dan Naia bingung.

Naia tertawa kecil, duduk di sebelah Rukia. Ia membuka tisu tadi sepenuhnya. Tampaklah beberapa serabi di tumpuk rapi berserta bubur sumsumnya.

"Ini apa? Pancake? Kok warnanya ijo?" tanya Rukia memperhatikan serabi itu dengan seksama.

"Hahaha…. Bisa dibilang itu pancake dari Indonesia. Namanya serabi," jelas Naia. "Shiro, ambil mangkok sana!"

"Yee… ini kan rumah gue, kenapa jadi lo yang nyruh-nyuruh gue?" Betawinya Hitsugaya keluar.

"Mo makan ga lo? piringnya kan cuma ada atu!" terlihat jelas dari tadi Naia berusaha berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

"Iye dah. Berisik lu," Hitsugaya mengalah.

"Tengkyu, Shiro! Gila, kok lo baik banget ya?" Naia memuji-muji Hitsugaya yang (sayangnya) nggak mempan. "Tiga ya!"

"Lho?"

"Kan buat gue, elu, sama Rukiaa…," kata Naia lagi sambil merangkul Rukia. Hitsugaya Cuma ngedumel sambil turun ke bawah.

"Enak!" kata Rukia.

"Ehehe… makasih. Ini bikinan keluarga ku, lho," kata Naia bangga.

"Naia-chan tinggal dimana?" tanya Rukia.

Naia yang masih makan menunjuk dengan dagunya. "Di sebelah rumah ini."

"Lho? Tetanggan?"

"Iya. Kamu baru tau?"

"I-iya."

"Jahat banget, lo, Shiro. Ga ngasih tau sepupu sendiri," tuduh Naia cuek.

"Panggil gue Hitsugaya!" seru Hitsugaya kesal.

"Iye iye. Berisik lu."

"Elu yang berisik!"

"Elu itu apa sih?" sela Rukia.

"Hoh? Elu atau lu, atau lo, atau elo, itu sama aja," ujar Hitsugaya.

"Artinya?"

"Kamu."

"Aku?" Rukia mengerutkan alisnya.

"Arti elu, lu, lo, atau elo itu kamu, say!" jelas Naia terkikik.

"Kalo 'Say' yang tadi Naia-chan bilang artinya apa?"

"Itu singkatan dari kata 'sayang'," jelas Hitsugaya.

"He?" Rukia menatap Naia aneh.

Naia tertawa kecil. "Bukan berarti aku penyuka sesama jenis ya, tapi itu di artikan sebagai nama panggilan. Mirip orang Inggris yang suka ngomong 'oh, dear,' 'oh love,'. Kaya gitu deh."

Rukia mengangguk paham. Ia bertanya lagi. "Kalo… gue?"

"Gue atau gua itu artinya aku."

"Wah… kayanya ada yang mau les privat bahasa nih," Naia tersenyum geli, menggoda Rukia.

Hitsugaya sontak punya ide. "Eh, lu ikutan juga, Nai! Temenin gua ajarin Rukia!"

"He?"

***

Naia itu OC asli dari saia!! nih biodatanya~!

OC saya: Naia Isuramukyou

Ciri-ciri: rambut hitam sepunggung, wajah oval, mata hitam bulat, mukanya Indonesia banget, hobi nguncir rambutnya pake 2 karet ungu yang di pelintir, suka pake baju warisan, demen pake baju/ celana gombrong/ kebesaran, seneng pake sandal jepit.

Sifat: meledak-ledak, ceria, kalo ngomong asal nyablak (baca; berisik), cuek, moody (sekali ada kejadian yang nyebelin, moodnya langssung jelek sampe besok), multi-sifat (maksudnya bisa marah, bisa baik, bisa cengeng, sesuai mood dan tergantung pada siapa ia bersikap) paling nggak suka di bilang tomboy (walaupun cara pakaian mirip cowok sih) atau feminim, maunya biasa aja. Paling nggak suka olah raga kecuali berenang.

Keterangan: rumahnya sebelahan sama Hitsugaya, anak bungsu tapi keluarganya ngambil anak lagi. Punya kakak cowok yang hobi nge-warisin semua kaosnya bernama Nalia dan adik angkat cewek, Dinia yang feminim, kebalikan dari Naia.

Hyaa~ gitulah OC aneh saya.. multi-sifat.. emang ada gitu??

Balesan repiu yg ga log in:

Ruise: original maksudnya? yg ga belang gitu? eng.. (author bingung sendiri)

Ruki_ya: ah, iya.. gitu deh.. Ukitake ngajar juga di JIS khuhuhu..

Sunako-chan: hah?? sepupuan? ya ampuun.. pantesan.. enak bgt kalian udah sepupuan, sehati lagi =.= (ngiri karena sepupunya g ada yg sehati) HitsuRuki ya?? gimana ya?? *ngindarin Sunako ngamuk*

Promosi: ehm.. saia mo promosi fic saya yg judulnya Summer.. tolong dibaca n di repiu ya.. ^^

Yosh! repiu pleaseeee....