Guns, Roses, and Babies
Plot Summary: Kim Taehyung,Seorang mahasiswa jurusan seni dan harus membantu perekonomian keluarganya dengan menjadi host di klub malam. Tetapi kemudian kehidupannya mengantarkan Kim Taehyung pada Jeon Jungkook, seorang boss mafia paling ditakuti di Asia Timur. "Aku butuh anak karena aku tidak bisa memprediksi kapan aku akan mati." KookV. Warnings inside.
Warnings: sex scene, ABO Universe, blood and some violence, incoming side pairings. Sex scenes plus OOC! Typos.
Cast: BTS, Exo, boyband lainnya mwaha
IV
Musim dingin membekukan seluruh jari jemari Taehyung setiap kali ia pergi keluar kediaman Jeon, atau lebih tepatnya ketika ia pergi ke taman pribadi milik Alpha muda Jungkook.
Pagi hari itu baru pukul 6 pagi, tapi Taehyung memaksakan dirinya untuk bangkit dari tempat tidur sambil membawa kanvasnya yang berukuran 60x90 senti sendirian ke arah taman. Chanyeol yang melihat Omega itu agak kesusahan membawa kanvas yang masih putih sekaligus membawa perlengkapan lukis lainnya, buru-buru menawarkan diri untuk membantunya. Taehyung menolak, mengatakan bahwa dirinya dapat membawa barang-barangnya sendiri.
Pagi itu langit biru, tanpa awan sedikitpun. Sedangkan danau buatan di taman pribadi milik Jungkook terhampar luas. Beberapa angsa peliharaan Alpha itu sedang sibuk berenang-renang di atas permukaan danau sambil berkoak-koak riang. Pepohonan yang sudah lama gugur dedaunannya, kini berdiri tegak dengan ranting-ranting kering dan kerontang, sementara beberapa pelupuk cabangnya dihinggapi oleh burung-burung gereja.
Taehyung hendak mencari posisi terbaik untuk mengabadikan pemandangan di hadapannya saat ia menyadari bahwa ia lupa membawa easel dan kursi untuknya duduk. Menggerutu di dalam hati mendapati dirinya harus kembali ke kamarnya untuk membawa kursi dan easel, Taehyung segera berdiri begitu mendudukkan barang-barang yang telah ia bawa sampai kepalanya menumbuk kepala lain.
Dilihatnya Jungkook—dengan rambut awut-awutan dan wajahnya masih mengantuk—berdiri di depannya. Di bawah kedua lengan gempal Alpha itu masing-masing terpasang kursi lipat dan easel.
"Kau pasti melupakan dua barang ini," kata Jungkook dengan suara beratnya—yang parau akibat rasa kantuk.
Taehyung memegangi dadanya dengan kaget. Ia sengaja bangun lebih awal dengan seawas mungkin terhadap Jungkook yang masih tertidur pulas di sebelahnya agar tidak membangunkan Alpha itu. Semalaman, ia dan Jungkook baru saja bersiteru kecil hanya karena mempermasalahkan hal sepele. Taehyung menghilang tiba-tiba sewaktu Jungkook pulang dari pekerjaannya, dan Alpha itu langsung kalang kabut mencarinya. Bahkan ia sampai mengerahkan penjaga pribadinya untuk mencari Omega itu.
Setelah hampir memakan waktu dua jam dan Jungkook nyaris mengira Taehyung diculik oleh kelompok mafia lain, Taehyung muncul dari dapur sambil memeluk satu toples berisi selai coklat kacang dengan wajah polos. Jungkook langsung menceramahi Omega itu habis-habisan, mempertanyakan kenapa Omega itu tidak meminta bantuan para koki atau pelayan lainnya membawakan toples tersebut ke kamarnya.
Tentu saja Taehyung membela dirinya, mengatakan bahwa ia bisa melakukan semuanya sendiri tanpa perlu menyuruh-nyuruh orang lain melakukan keinginannya yang dirasa terlalu ringan bahkan untuk dilakukan sendiri.
Mereka adu mulut selama beberapa menit kemudian, sampai Namjoon datang dan melerai keduanya, mengatakan kalau Taehyung sudah lewat dari waktu tidur yang ditentukan.
Pada akhirnya, Taehyung dan Jungkook tertidur di satu ranjang yang sama (karena Alpha itu memaksa untuk tidur bersama Taehyung akhir-akhir ini), tapi dengan kedua punggung mereka sama-sama saling membelakangi satu sama lain. Bahkan Taehyung harus menahan keinginannya untuk memakan makanan yang akhir-akhir ini ia idamkan—burger berisi buah-buahan dan saus tomat di atasnya. Kalau ia meminta pada juru masak untuk dibuatkan, pasti Jungkook akan menentangnya habis-habisan ("Memangnya kau mau membuat anakku mati dengan memakan makanan menjijikkan seperti itu?" ia bisa membayangkan ucapan Jungkook nantinya).
Tapi begitu melihat Jungkook kini berdiri dengan sikap tegak—meski ia masih mengenakan kaus putih dan celana piyama—Taehyung tetap merasakan dadanya bergemuruh dengan rasa jengkel melihat Alpha itu. Mulutnya tertekuk ke bawah, menampakkan kesan tidak suka melihat kehadiran Alpha itu. Ia langsung mengambil kursi dan easel dari Jungkook tanpa satu patah katapun.
Jungkook seperti tidak peduli dan kembali berkata, "Apa kau mau melukis pemandangan di depan itu?"
"Aku masih marah," pada akhirnya Taehyung meledak, "Dan kau berdiri di belakangku sama sekali tidak mengubah perasaanku saat ini."
"Aku hanya mau mengucapkan selamat pagi. Kau bangun hari ini lebih cepat dari biasanya."
"Seperti halnya dirimu yang selalu menghilang tiba-tiba kalau aku bangun dari tidur."
"Kenapa kau selalu marah-marah?" tanya Jungkook tanpa dosa, "Yang semalam kan memang kesalahanmu. Kau pergi tanpa sepengetahuan pelayan lain ke dapur. Padahal bisa saja kau meminta bantuan mereka untuk mengambilkan selai coklat. Bagaimana kalau kau terantuk lalu—"
"Kalau kau sekali lagi membawa urusan anak di dalam perutku ini, aku tidak akan mengajakmu berbicara sama sekali," ancam Taehyung jengkel.
"Ne, ne, aku akan pergi setelah ini," sahut Alpha itu tidak peduli. "Kau tidak lapar? Aku akan meminta Sehun membawakanmu sarapan setelah ini." Taehyung tidak menyahut, sampai akhirnya Jungkook kembali berkata, "Ngomong-ngomong, Jin-hyung akan berulang tahun besok, tanggal 1 Desember. Kau mau ikut makan malam besok?"
Kali ini Taehyung tampak tertarik. Wajahnya yang semula tampak muram kini berbinar-binar sewaktu ia menatap Jungkook, membuat Alpha itu nyaris terjungkang melihat perubahan ekspresi Omega itu.
"Huh? Jin-hyung ulang tahun? Tentu saja aku akan ikut!"
Jungkook menjetikkan jarinya, "Bagus. Akhirnya kau mau melihat ke arahku dengan benar," ia menyeringai lucu dengan kedua gigi kelincinya menyembul seperti biasa.
Taehyung yang menyadari perubahan sikapnya, langsung memalingkan wajah cepat-cepat, "Aku masih tetap membencimu."
"Andwae, kau tidak membenciku. Baru beberapa hari lalu kau bilang aku ini menggemaskan."
Taehyung tidak menjawab dan berusaha menyibukkan dirinya dengan kanvas barunya. Ia menggigit bibirnya sewaktu ia mendengar suara langkah Jungkook perlahan menjauh darinya.
Tetapi Taehyung tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya sewaktu Sehun datang membawakan sarapan disertakan sebuah surat dari Jungkook.
Aku minta maaf soal semalam kalau sudah terlalu keras. Tapi aku tetap yang paling benar. Jangan lupa habiskan sarapanmu. Tambahan lagi toples berisi selai coklat sebagai permintaan maaf. JK.
"Kookie babo," gumam Taehyung, tidak dapat menahan senyumannya.
IV
Pada hari ulang tahun Seokjin, Taehyung kelimpungan mencari pakaian yang hendak ia kenakan. Pada akhirnya, ia harus menyukuri pilihan Jungkook untuk membelikannya pakaian-pakaian mahal. Selepas ia mengganti pakaian piyamanya dengan sweater merah berbahan rajut kebesaran dengan paduan celana thermal berwarna krem serta long coat berwarna putih, Taehyung berlangsung keluar dari kamar yang sudah mulai nyaman ditinggalinya selama beberapa minggu belakangan.
Tetapi kemudian perhatiannya tersita oleh sosok Jungkook yang berdiri menghadap foto keluarga yang terpampang besar di dinding ruang tengah.
Jungkook begitu lama menyelami foto tersebut sambil menghisap dalam-dalam rokok di tangannya. Matanya masih melekat pada foto yang dibingkai dengan kayu jati yang dipelitur untuk menampakkan tekstur aslinya sewaktu Taehyung berjalan mendekat padanya.
"Ini foto keluargamu, kan?"
Jungkook terbatuk-batuk sama berusaha mengipas-ngipaskan asap rokok yang bertebaran ke mana-mana. Sewaktu ia melihat Taehyung, ia kembali mengibaskan tangannya, "Apa yang kau lakukan? Menjauh dariku kalau kau mendapatiku sedang merokok." Ia buru-buru meremas dan melemparkan puntung rokok ke dalam asbak terdekat secara sembarangan.
Taehyung mengernyitkan dahi, "Ini bukan pertama kalinya kau merokok di depanku." Sewaktu ia melihat Jungkook menunjuk ke arah perutnya, Omega itu berdecak jengkel sambil mengusap perutnya yang sudah sedikit menonjol meski ia mengenakan pakaian tebal, "Ah, diamlah, aku mengerti. Tidak perlu selamanya mengingatkanku akan keberadaan anak ini."
Jungkook hanya menawarinya dengan seringaian seperti kelinci dan berucap, "Ne. Ini foto keluargaku."
Taehyung tidak dapat menahan rasa keingintahuannya, "Apa ibumu masih hidup?"
Jungkook hanya memandang di kejauhan, seperti menerawang pikiran Taehyung. "Dia sudah tiada jauh sebelum ayah dan kakak laki-lakiku mati."
"Oh," kata Taehyung, menyesalkan pertanyaannya, "Aku turut menyesal."
Jungkook mengacuhkan ucapan terakhirnya dan langsung menarik Taehyung untuk ikut bersamanya. Sementara para pelayan lain mengucapkan selamat jalan pada tuan rumah. "Kita pergi sekarang. Jangan membuang waktu lebih banyak lagi."
Kali ini Jungkook mengendarai mobilnya sendirian sewaktu Alpha itu membawanya ke tempat makan yang dijanjikan oleh Seokjin di hari ulang tahunnya. Mobil Maybach yang biasanya dikendarai oleh Namjoon untuk mengantar Alpha itu, kini digantikan dengan mobil Bugatti berwarna perpaduan hitam dan putih dengan garis V memanjang ke tengah-tengah kap mobil. Taehyung nyaris tersandung oleh kakinya sendiri karena terlalu lama terperangkap oleh pemandangan menakjubkan mobil mewah yang selama ini hanya ia lihat penampakannya di internet.
"Namjoon-hyung tidak bisa mengantar kita untuk saat ini karena aku memaksanya untuk menemani Jin-hyung di hari ulangtahunnya," kata Jungkook memberitahu sambil membuka pintu mobil untuk Taehyung. "Karena itu hari ini biar aku yang mengendarai mobil."
"Kau punya berapa mobil?" tanya Taehyung masih takjub. Bahkan ia takut sekali akan menodai mobil mahal tersebut sewaktu ia harus mendudukkan diri di kursi depan.
"Ada sepuluh. Masing-masing koleksi pribadi yang kudapatkan dari kolega," kata Jungkook, "Sebenarnya aku lebih tertarik mengendarai sepeda motor atau naik sepeda listrik, tapi di musim dingin begini sama saja dengan mencari mati kalau mengendarainya."
Mobil tersebut melaju dalam keheningan. Jungkook memutar musik-musik yang disukainya, sementara Taehyung diam-diam menikmati pilihan musik yang diputar oleh Alpha itu. Ia tidak menyangka kalau Jungkook masih memiliki ketertarikan pada hal-hal yang sama sekali tidak diduganya. Selama ini ia berpikir Jungkook benar-benar membuang masa remajanya, tetapi nyatanya Alpha itu memiliki ketertarikan sama seperti anak-anak seumurannya.
Sewaktu ia mendengar Jungkook mulai melantunkan lagu bersama dengan iringan musik, Taehyung tertegun mendengar suara Alpha itu. Sayang sekali jika sebelumnya ia sedikit merendahkan kemampuan Alpha itu dalam bernyanyi, karena justru suaranya benar-benar memikat.
Selesai Alpha itu menyelasikan satu lagu, Taehyung mengomentari, "Kau punya suara yang bagus."
Jungkook mendengus dan berdeham untuk membersihkan tenggorokannya dengan agak kikuk sewaktu Taehyung memuji suaranya, "Tidak juga. Justru aku lebih menyukai suaramu."
Taehyung meringis, "Jangan ingatkan aku pada suaraku. Aku malah membenci suaraku," aku Omega itu sambil mengelus lehernya tanpa sadar, "Kau juga, pasti pada awalnya menganggap suaraku aneh karena tidak seperti Omega pada umumnya."
"Tidak juga. Justru suaramu yang unik itu juga menarik perhatian Alpha lain," kata Jungkook menambahkan sambil menatap lurus ke depan. "Suara baritone rendahmu itu menenangkan. Aku tidak akan bosan untuk mendengarnya."
Taehyung mengepalkan tangannya, berusaha untuk tidak tersenyum seperti orang bodoh mendengar pujian dari Alpha itu. Sekarang ia diselimuti rasa penasaran, apakah Alpha ini sama sekali tidak pernah menjalin hubungan dengan Omega atau Beta wanita manapun? Sudah jelas-jelas sifat terang-terangan, perhatian, dan sisi romantis Alpha itu yang selalu muncul tiba-tiba menjadi daya tarik utama bagi Jungkook. Mungkin kadang Jungkook kekanakan dan suka mengatur-atur Taehyung tanpa alasan jelas, tapi sifat menyebalkannya itu termaafkan dengan sisinya yang satu itu.
Beruntung sekali Omega atau Beta wanita yang pernah mendapatkan hatinya… batin Taehyung kecut.
Mobil Jungkook diparkir tepat di depan sebuah area pertokoan.
Sewaktu keluar, Taehyung kembali berkata, "Kurasa terlalu mencolok untuk membawa mobil semahal mobil milikmu ini ke tempat umum seperti ini. Bagaimana kalau ada yang berani menodainya?"
"Tenang saja, tidak akan ada yang berani mengganggu mobilku di sini," kata Jungkook dengan enteng. Ia melambai pelan pada sosok yang tidak terlihat. Sewaktu Taehyung menajamkan penglihatannya, ia melihat dua orang bertubuh besar siap siaga berlari ke arah mereka dan memberi salam pada Jungkook. "Ada dua orang ini yang akan menjaga mobilku, kau tidak perlu khawatir." Alpha itu langsung melingkarkan tangannya secara protektif ke tubuh Taehyung dan menariknya masuk ke sebuah pusat perbelanjaan bawah tanah.
Beberapa orang pejalan kaki melemparkan pandangan penasaran ke pasangan Alpha Omega yang sama sekali belum memiliki ikatan klaim tersebut. Taehyung berusaha menutupi wajahnya sewaktu Jungkook menggeram ke arah para Alpha yang tampak penasaran pada dirinya.
"Kau tidak bisa berbuat seperti itu pada orang yang tidak kau kenal!" bisik Taehyung kesal pada Jungkook.
"Mereka tidak bisa menahan diri untuk mendekatimu. Jadi lebih baik aku beri peringatan. Bisa jadi salah satu dari mereka kawanan dari kelompok Ssang Yong Pa," cetus Jungkook tidak peduli.
Alpha itu membawanya lebih cepat ke dalam sebuah restoran dan di dalam restoran fine dining bergaya mid century modern dengan galeri kecil di setiap dindingnya. Di tengah-tengah restoran tersebut, sebuah objek lampu gantung yang dibuat dari kumpulan kertas dan rotan menjadi daya tarik utama restoran tersebut. Di tengah-tengah lampu gantung, duduk Seokjin, Namjoon, Chanyeol, Irene, Yugyeom dan Sehun.
"Ah, ini dia boss kita!" seru Yugyeom bersemangat.
Seokjin menyuruh Beta muda itu untuk kembali ke tempat duduknya, "Kami sudah menunggu kalian! Hidangan utamanya baru saja akan disajikan!"
Jungkook melepas long coat hitamnya dan menyerahkannya pada seorang pelayan, diikuti oleh Taehyung yang menirunya. Keduanya duduk bersebelahan, dengan Jungkook duduk ujung meja satunya dan Taehyung duduk tepat di sebelahnya. Irene menawarkan Jungkook sebotol redwine yang langsung disambut antusias oleh Jungkook.
"Sayang sekali kau tidak bisa minum malam ini, V," kata Irene sambil masih tersenyum padanya. Sejak Beta wanita itu tahu kalau Taehyung adalah Omega yang dihamili oleh Jungkook, sikap ramahnya di balik perawakan dinginnya sama sekali tidak berubah.
"Aku memang tidak pernah suka minum," kata Taehyung mengakui sambil tersenyum sungkan.
"Eh? Tapi aku ingat kau memesan Martini sewaktu kau me—" Chanyeol langsung berdiam untuk mengoreksi ucapannya saat ia melihat Jungkook balas menatapnya dengan tajam. "Ah, ya, aku pernah mendengar dari uh—Namjoon kalau kau selalu minta Martini setiap kali melayani pelanggan di kelab tempat kau bekerja."
"Uhh, karena aku sudah terbiasa dengan rasa Martini. Tapi aku juga tidak pernah bisa meneguknya sampai habis," sahut Taehyung lagi.
"Sudahlah, makanannya sudah tiba," kata Namjoon menengahi.
Tepat seperti yang ia katakan, di hadapan mereka kini hidangan utama berupa lobster panggang dan berbagai macam makanan laut lainnya mulai dihidangkan. Taehyung merasakan mulutnya ikut berair melihat makanan mewah yang disajikan di depannya. Jungkook dengan sikap protektifnya seperti biasa, mengambil bagian lobster untuk Taehyung dan untuk dirinya sendiri. Ia juga meminta seorang pelayan untuk mengisikan gelas bening Taehyung dengan air putih.
"Begitulah caranya memperlakukan seorang Omega dan Beta wanita," katanya sambil mengerling pada Taehyung.
Taehyung hampir tersedak air minumnya sendiri saat ia menyadari apa yang dilakukan oleh Alpha itu diikuti oleh wajahnya yang merona pink. Di ujung kursi, Seokjin mencibir Jungkook sambil meneguk gelas berisi red wine.
"Apa maksudnya? Aku Omega tapi dia sama sekali tidak pernah berbuat begitu padaku!"
Makan malam berlangsung hangat, kebanyakan karena Seokjin tidak berhenti mengoceh yang selalu direspon oleh Chanyeol, Yugyeom dan Sehun.
Makan malam saat itu juga benar-benar terasa enak di lidah Taehyung, sampai perutnya tiba-tiba berkedut tidak nyaman. Taehyung langsung menghentikan makan malamnya untuk memegangi perutnya.
"V? Ada apa?" tanya Jungkook seperti melihat rasa sakit di wajah Taehyung.
Taehyung hanya mengangkat tangannya, menarik napas dan menggeleng, "Jangan pedulikan aku, lanjutkan saja makan malammu."
"Oh, iya, ngomong-ngomong, ke mana Yoongi-hyung?" tanya Sehun sambil mengunyah daging lobster, menyita perhatian Jungkook pada Taehyung.
"Dia mengatakan dia sedang menjemput Omega barunya di kelab. Dia baru akan bergabung dengan Omega barunya itu," kata Namjoon menginformasikan.
"Oh? Kukira dia tidak akan mencari pasangan lagi selain Suran…" Yugyeom mengomentari.
Tiba-tiba suara sentakan napas disertai dentingan sendok jatuh membuat fokus semua orang terpecah. Seisi meja makan langsung melirik ke arah Taehyung yang kini membungkukkan tubuhnya sambil memegangi perutnya. Seokjin langsung berdiri dari kursinya dan mengecek keadaan Omega itu, sementara Jungkook sudah siap sedia di sebelah Taehyung.
"V? kau tidak apa-apa? Bagian mana yang terasa sakit?" tanya Seokjin pada Omega itu.
Taehyung menelan ludahnya, "Perutku—"
"Perutmu kenapa? Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" seru Jungkook kalang kabut sambil melihat ke Taehyung dan Seokjin secara bergantian. Ia menunjuk ke arah makanan yang tersedia di atas meja makan, "Apa mungkin makanan ini mengandung sesuatu?"
Yugyeom mencicipi lobsternya lagi, "Tidak, tidak sama sekali. Atau mungkin makanan ini terlalu banyak kolestrol?"
Seokjin menepuk bahu Jungkook dan mendelik pada Yugyeom, menyuruh mereka diam, "Bisa kau deskripsikan rasa sakitnya? Kalau parah, aku harus membawamu ke rumah sakit—"
"Seperti sebelum heatku tiba," jawab Taehyung memastikan sambil memaksa tersenyum.
Seokjin menghembuskan napas lega, "Ah, rupanya hanya kram, eo?"
"Hanya kram? Dia terlihat begitu kesakitan, Hyung! Lakukan sesuatu!" seru Jungkook kembali, masih panik.
"Kalau kau tidak bisa menahan rasa sakitnya, mungkin sebaiknya kau pulang lebih awal, V. kalau kau beristirahat, mungkin rasa sakitnya akan berkurang," kata Seokjin pada Omega itu.
Taehyung tampak merasa bersalah, "Aku benar-benar minta maaf, hyung, di hari ulang tahunmu, aku malah—"
"Tidak masalah. Kalau kau memang tidak merasa lebih baik setelah pulang, telepon aku, biar aku memeriksa keadaanmu," Seokjin tersenyum penuh pengertian.
Jungkook membantu Taehyung untuk berdiri sambil berkata pada Seokjin, "Gomawoyo untuk makan malamnya, Hyung. Aku juga ikut menyesal kami harus pulang lebih dulu. Hadiahnya akan kukirimkan nanti."
Seisi meja makan langsung melambaikan tangan pada Jungkook dan Taehyung setelah pelayan memberikan keduanya long coat masing-masing. Jungkook mempererat rengkuhannya pada pinggul Taehyung, sementara Omega itu tetap memegangi perutnya sambil setengah menyandarkan kepala ke bahu Jungkook.
Jungkook merasakan tubuh Taehyung gemetar oleh rasa sakit sampai kemudian ia melihat Omega itu berusaha menghapus air matanya. "Oh, jjinja. Apa sebegitu sakitnya sampai kau harus menangis?"
Taehyung menggeleng, "Aku tidak menangis!"
"Kau menangis! Lihat, kau masih punya bekas air mata di sini!"
Omega itu menampik tangan Jungkook dengan sentakan kasar, "Aku tidak menangis!" ia bersikeras, "Aku hanya kesal saja karena terpaksa meninggalkan jamuan makan malam hanya karena perutku sakit! Aku menghancurkan hari ulang tahun Jin -hyung!"
Jungkook mendengus menahan tawa, "Aigoo, kau terlalu berlebihan, V! Lagipula pasti saat ini dia malah mengkhawatirkanmu," Alpha itu dengan hati-hati mengusap perut Taehyung, membuat kram di perutnya sedikit berkurang. "Dia tidak akan menyia-nyiakan nyawa anak ini meski hari ini hari ulang tahunnya."
Taehyung tetap merajuk, memagut bibir dengan tidak senang mendengar jawaban Alpha itu. Mereka sampai di depan mobil Jungkook—yang dijaga oleh dua orang Alpha bertubuh besar. Jungkook melemparkan berlembar-lembar uang won ke dua orang tersebut dan membantu Taehyung masuk ke dalam mobil. Tidak lama ia mengendarai mobil, ia melihat Yoongi berjalan keluar dari mobil miliknya sambil membantu keluar seorang Omega berambut pirang.
Jungkook memicingkan matanya, seperti pernah melihat Omega itu entah di mana. Tetapi begitu ia kembali mendengar Taehyung melenguh sambil memijat bagian pinggulnya, Jungkook sesegera mungkin menarik persneling dan menginjak pedal gas.
Mobil Bugatti tersebut melaju kencang di antara jalan raya Seoul yang sudah hampir sepi dari kendaraan lainnya.
IV
"Kalian terlambat," seru Yugyeom pada Yoongi yang baru datang bersama Omega barunya. "Hidangan utamanya baru saja selesai disajikan. Jungkook-sajangnim dan V baru saja pergi dari sini."
"Mian, mian," kata Yoongi sambil membersihkan kemeja putih di balik sweater tebalnya dengan sikap santai. Ia mengusap sedikit noda darah di kerah bajunya yang tidak mungkin hilang kecuali ia mencucinya hingga bersih. "Kami terjebak persiteruan di dalam kelab."
"Persiteruan apa, Hyung?" tanya Namjoon terkejut.
"Tampaknya kelompok Ssang Yong Pa terus kembali ke kelab tempat Omega ini bekerja," jawab Yoongi sama sekali tidak antusias. "Mereka seperti sedang mencari-cari seseorang di dalam sana, tapi tidak pernah menemukannya. Sewaktu aku mau menjemput anak ini—" ia menunjuk pada Omega di sebelahnya, "Salah satu dari mereka mengenaliku dan untungnya aku membawa pistol tangan dan pisau lipat."
Seokjin tampak tertarik dengan Omega baru Yoongi yang berdiri tegang di sebelah Alpha itu. "Mungkin sebaiknya kalian duduk. Masih ada satu hidangan lagi yang bisa kalian nikmati setelah ini."
Irene langsung menawarkan Yoongi dan Omeganya red wine seperti yang dia lakukan pada Jungkook dan Taehyung.
"Kuharap Omega ini bisa menjaga mulutnya tentang apa yang ia lihat juga tentang kita semua," celetuk Yugyeom masih mengunyah makanannya tanpa henti. Ia menatap tajam ke arah Omega baru itu sambil menyodokkan garpunya, "Kalau kau tidak bisa menjaga mulutmu tentang kelompok geondal kami, kemungkinan kau tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari sini."
Yoongi memukul permukaan meja dengan keras, "Kau juga jaga mulutmu di depan Omega ini, Gyeom-ah."
Yugyeom mengangkat bahunya dengan sikap tidak peduli.
Sehun berusaha mencairkan suasana, "Ah, ngomong-ngomong, kau belum memperkenalkan dirimu. Peraturan untuk bisa makan malam di sini adalah kita semua harus tahu nama satu sama lain."
Omega itu mengerjap-ngerjapkan matanya, tidak menyangka dengan apa yang diucapkan oleh Sehun. Ia menatap ke arah Yoongi dengan tatapan bingung, dan Alpha itu hanya mengarahkan tangannya. Dengan sikap gabir karena merasa tidak familiar dengan keadaan sekitarnya, Omega itu menatap lurus ke depan sambil memainkan tangannya di bawah meja, "Jimin. Orang-orang memanggilku Jimin."
IV
"Masih sakit?"
Taehyung hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan lemah sewaktu Jungkook dengan hati-hati merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Alpha itu dengan cekatan melepas mantel long coat yang ia kenakan dan membantu Taehyung membuka pakaian yang ia kenakan. Tapi Taehyung yang masih belum terlalu terbiasa dengan aktivitas yang terasa intim itu langsung menghentikan Jungkook dengan meremas pelan pergelangan tangan Alpha itu.
"Aku bisa melakukannya sendiri," ujarnya lemah sambil menggigit bagian bawah bibirnya, "Aku tidak selemah itu."
Jungkook menghela napas dan beralih untuk mengambil saluran interkom yang terhubung dengan beberapa bagian inti rumah. Ia menghubungi seorang pelayan untuk membawakan teh dan beberapa kudapan ringan. Alpha itu kemudian beringsut keluar kamar Taehyung dan kembali tidak lama kemudian sambil membawa heat pack.
"Pakai ini di perutmu," kata Alpha itu.
Taehyung mengambil barang tersebut tanpa ragu dan meletakkannya di balik piyama yang baru ia kenakan. Ia mendesah lega, "Gomawo," bisik Omega itu pada Jungkook.
Jungkook tersenyum samar. "Bukan masalah." Ia hendak meninggalkan Taehyung tetapi Omega itu menarik bajunya.
"Jangan tinggalkan aku sendirian."
"Eo? Ada apa kau tiba-tiba memintaku menemanimu?"
"Pokoknya jangan pergi."
Tidak punya pilihan untuk menolak Taehyung, Jungkook mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur. Setidaknya ia juga sering meminta Taehyung untuk tidur bersamanya, jadi tidaklah aneh kalau ia malah menuruti keinginan Omega itu.
"Padahal kau bilang kau membenciku," kata Alpha itu memecah kelengangan di antara mereka.
"Kau kira aku akan bersungguh-sungguh mengatakannya?"
"Apa kau tidak pernah serius dengan perkataanmu?"
"Memangnya kau kira aku ini apa? Anak kecil?"
"Terkadang kau memang seperti anak kecil, V."
"Aku lebih tua darimu, babo!" gertak Taehyung sebal sambil memukul Jungkook. "Aku akan berusia 2 tahun lebih tua darimu akhir Desember ini."
Jungkook memandang Taehyung cukup lama sampai kemudian ekspresinya berubah penuh tanya, "Kau berulang tahun akhir Desember ini? Kapan?"
"Lima hari setelah natal."
Jungkook menyumpah. "Kau tidak memberitahuku sama sekali!"
"Memangnya penting sekali kalau aku memberitahumu? Hubungan kita hanyalah sebatas ibu-Omega surogasi dan klien Alpha yang butuh anak. Aku bahkan juga tidak tahu kalau kau baru saja berusia 20 tahun September kemarin, yang artinya kau memalsukan umurmu sewaktu pertama kali berkenalan denganku!" protes Taehyung dalam satu tarikan napas.
"Karena aku sama sekali belum mengenalmu," kata Jungkook enteng, "Lagipula, kau sama sekali tidak ada keinginan untuk merayakan ulang tahunmu?"
Wajah Taehyung bertambah muram, "Tahun-tahun sebelumnya, kalau aku bisa pulang, aku akan merayakannya dengan keluargaku. Ayahku akan membelikanku kue, lalu adik-adikku menyiapkan kejutan. Ibu dan nenekku yang bergantian memasakkanku makanan favoritku," Omega itu bercerita panjang lebar. "Kalaupun aku tidak bisa pulang karena tidak punya uang atau waktu untuk pulang, teman-temanku akan memberiku kejutan dan hadiah. Kemudian kami menghabiskan waktu bersama-sama." Kini matanya telah dilapisi oleh air mata, tetapi ditahannya. "Tapi kalau aku terus-terusan di sini, aku tidak akan bisa melewatkan keduanya. Seberapa besarnya aku ingin melewatkan ulang tahunku bersama mereka, aku tidak mungkin muncul dengan aroma baru dan perut seperti ini…"
Jungkook menghapus air mata Taehyung dengan ujung jari telunjuknya dan berhenti sewaktu seorang pelayan meletakkan nampan berisi poci dan cangkir teh serta piring berisi kudapan kue kering. Sewaktu pelayan itu pergi, ia kembali menyahut, "Kenapa kau selalu menangis, eo? Kukira kau bukan tipikal Omega yang cengeng seperti ini!"
Taehyung melotot sambil memagut bibir dengan tidak senang, "Coba kalau kau seorang Omega dan kau punya anak di dalam perutmu! Kau harus merasakan perubahan hormonal yang sekarang sedang kurasakan baru kau bisa mengatakan itu padaku!"
Jungkook mengangkat tangannya, "Oke, oke, baiklah, aku minta maaf! Tidak perlu semarah itu!"
"Aku berubah pikiran, kau boleh pergi!"
"Kau tidak bisa mengusirku semudah itu. Ini adalah rumahku."
"Kalau begitu ambilkan cangkir tehku!" perintah Taehyung dengan nada meninggi hingga beberapa oktaf naik.
Jungkook menggerutu, berusaha menahan emosinya sementara ia menuruti keinginan Omega itu dengan patuh. Taehyung tampaknya mengapresiasi usahanya karena ia langsung tersenyum tulus sewaktu cairan kental berwarna coklat menyesap di dalam mulutnya sambil samar-samar kembali mengucapkan kalimat terima kasih.
Telapak tangan Jungkook terpangku tepat di bawah pipinya. Matanya sibuk memandangi Taehyung yang masih menikmati teh mint yang kini menenangkan perutnya untuk sementara. Pandangan matanya yang cukup lama menyelami wajah Taehyung, kini membuat Omega bersurai pirang pucat tersebut merasa salah tingkah.
"Sampai kapan kau mau memandangiku?"
"Sampai aku bosan," sahut Jungkook, tidak menyadari Taehyung berdeham untuk menyembunyikan rasa tersipu mendengar ucapannya, "Ngomong-ngomong, daripada merayakan ulang tahunmu, bagaimana kalau aku mengadakan pameran untuk menampilkan semua karya-karyamu?"
Taehyung menatap Jungkook dengan tatapan aneh, "Pameran?"
"Aku sudah bilang padamu sebelumnya, kan, aku punya banyak kenalan di bidang seni. Beberapa karya yang aku pajang di rumah ini, semuanya kudapat dengan harga mahal dari kolega-kolega kenalanku. Akan banyak orang terkenal yang bisa mengakses pameranmu ini."
"Tidak mungkin," desah Taehyung, "Kau bilang identitasku tidak boleh sampai diketahui oleh musuh-musuhmu, kan? Bagaimana kalau salah satu dari mereka ada yang menyelinap masuk? Atau mungkin akan ada media yang memberitakan tentang diriku kalau sampai mereka meliput pameran ini."
"Aku bisa memperketat penjagaan. Bukan hal yang susah. Aku juga hanya akan mengundang tamu-tamu penting milikku dan melelang hasil karyamu dengan harga mahal. Uangnya bisa kau gunakan sesuka hatimu tentunya."
"Tapi semua karya-karyaku—bagaimana mungkin aku hanya memamerkan 6 buah karya? Apalagi karya seseorang yang sama sekali tidak fenomenal."
"Aku akan mempercayakan orang lain untuk mengaturnya. Kau tidak perlu khawatir," Jungkook menerangkan, "Sekarang fokuskan dirimu pada lukisan yang harus kau selesaikan. Setelah itu, percayakan semuanya padaku. Anggap saja ini hadiah ulang tahun dariku untukmu."
Oke, jantung Taehyung nyaris melompat senang dari dalam rongga mulutnya mendengar pernyataan tulus Alpha itu. Selama ini, ia belum pernah bertemu dengan orang seperti Jungkook, yang benar-benar rela menghabiskan waktu dan tenaganya seperti Jungkook. Terdengar sederhana, tapi mengadakan pameran besar-besaran adalah cita-cita Taehyung. Ia benar-benar menghargai usaha besar Jungkook untuk menyenangkan hatinya.
"A-aku—aku tidak tahu harus berbuat apa—"
Jungkook tertawa, nyaring. "Apa perutmu sudah sembuh? Mungkin kita bisa mencoba untuk melakukan seks sekarang." Senyuman di wajahnya memudar saat ia melihat Taehyung meletakkan kembali cangkir teh dan benar-benar melepaskan celananya, kemudian membuka kancing piyamanya satu persatu dan melempar sembarang hot packs yang baru saja bertandang di atas perutnya. "Hei, aku hanya bercanda—"
"Perutku sudah tidak sakit lagi," kata Taehyung. "Dan kurasa aku akan senang hati berhubungan seks denganmu sebagai permintaan maaf sekaligus terima kasih. Permintaan maaf karena aku juga sudah bertindak merepotkan, juga berterimakasih karena kau mau melakukan semuanya untukku." Tangannya bergerak untuk membuka risleting celana jins Jungkook, sampai akhirnya ia terhenti sewaktu melihat ekspresi tercengang Alpha itu. Ia tertawa geli, "Oh, berhenti memasang wajah seperti itu! Aku bilang aku bersedia melakukannya!"
Jungkook menelan ludahnya. Jakunnya bergerak naik turun dengan ragu, "Kau serius? Kau benar-benar ingin melakukannya? Aku bisa pergi kalau kau memang tidak mau melakukannya—"
"Aku tidak akan memaksa untuk yang kedua kalinya, Kookie."
Taehyung menarik kerah sweater biru Alpha itu dan menarik wajah Jungkook ke wajahnya. Bibirnya bertumbukan pelan dengan permukaan bibir bagian atas Jungkook. Ia melumat bibir Alpha itu sampai kemudian ia merasakan tangan Jungkook bergerak masuk ke celana dalam yang ia kenakan. Taehyung menghentikan ciuman saat ia merasakan selangkangannya mulai basah akibat gejolak rangsangan yang disalurkan oleh tangan Alpha itu ke bagian lubang senggamanya.
Tangan kokoh Jungkook menahan tubuh Taehyung di atasnya. Satunya memegangi pinggul Taehyung—memijatnya dengan lembut, sementara tangan yang lainnya sibuk mempersiapkan lubang kemaluan milik Taehyung. Jungkook menjulurkan kepalanya di antara cerukan leher Taehyung, berbisik pelan ke telinga Omega itu.
"Katakan sekarang, V, apa yang kau inginkan dariku?"
"K-Kookieee…." Erang Taehyung setengah berbisik, "Aku ingin—kau melakukannya—"
"Melakukan apa?"
Taehyung meremas leher Alpha itu dengan gemas, "Lakukan saja apa yang harus kau lakukan, babo!"
Jungkook terkekeh dan melepaskan Taehyung untuk sesaat sehingga ia bisa membebaskan alat kejantanan miliknya. Batang miliknya tersebut sudah sepenuhnya bangun akibat mendengar suara rintihan Taehyung yang terdengar begitu menggoda di telinganya. Ia membetulkan posisi duduknya, sehingga Taehyung dengan nyaman dapat melingkarkan kakinya di sekitar panggulnya.
Ia melepaskan sebuah ciuman basah dan hangat ke leher Omega itu, berhati-hati agar tidak meninggalkan bekas. Hidungnya mengembang dan mengempis sewaktu ia menghirup aroma manis Omega itu sebanyak-banyaknya. Aroma yang sangat disukainya. Perpaduan aroma floral dan aroma stroberi. "Kau adalah milkku untuk saat ini, V."
"Taehyung," desah Taehyung lamat-lamat, memejamkan matanya sewaktu ujung penis Jungkook menyentuh mulut lubang senggama miliknya dengan gerakan hati-hati. "Namaku Taehyung. Panggil aku dengan nama asliku, Kookie."
Jungkook tertegun singkat, dan berbisik pelan, "Taetae. Aku akan memanggilmu Taetae."
Suara tawa Taehyung terdengar merdu dan renyah di sisinya, "Kalau begitu aku akan tetap memanggilmu dengan sebutan Kookie."
Sewaktu mata mereka saling bertemu, Jungkook memutuskan untuk segera menghantam bibir merah Taehyung dengan mulutnya.
IV
Hal yang diingat oleh Jungkook sewaktu ia terbangun adalah suara tawa Taehyung dan desahan yang terputus-putus Omega itu sewaktu menyebutkan namanya. Kini, sewaktu ia membuka matanya, ia melihat Omega itu masih pulas oleh sisa-sisa bunga tidur. Jungkook bersandar pada salah satu sikunya untuk memandang lebih dekat wajah Omega itu—yang begitu tenteram dan tenang. Jungkook menyeka helai rambut yang menghalangi mata Omega itu.
Sewaktu ia menyadari apa yang sedang ia lakukan, Jungkook langsung menarik tangannya dan melompat bangun dari tempat tidur Taehyung. Ia segera mengambil sisa-sisa pakaiannya yang dibiarkan berserakan di atas lantai vinyl. Selesai ia mengenakan kembali pakaiannya, ia mengendus aroma tubuhnya yang semula beraroma seperti campuran sitrus dan sedikit aroma kayumanis, kini ikut bercampur dengan aroma tubuh Taehyung.
"Apa sebaiknya aku tidak usah mandi?" gumam Jungkook pada dirinya sendiri.
Ia kembali ke kamarnya untuk mencuci muka, menyikat gigi, menyisir rambut, dan berganti pakaian yang lebih layak dari sebelumnya. Kemudian ia pergi untuk menelepon Namjoon yang akan mengantarnya ke tempat kerjanya seperti biasa.
Butuh waktu dua jam untuk Jungkook tiba di sana setiap kali Namjoon mengantarnya dengan mobil Maybach kebanggaannya ke tempat ia bekerja.
Tempat kerjanya berupa gedung yang dibangun dari beton bertulang dengan fasad terbuat dari metal dan kaca bertemper. Bohong jika di gedung berlantai 100 tersebut, Jungkook hanya menyebutkan kantor tempatnya bekerja hanya terletak di lantai teratas. Justru seluruh perusahaannya, mulai dari kantor biro hukum, perusahaan properti, perbankan, perhotelan, dunia hiburan, dan segala macam lainnya berada di dalam satu gedung yang sama. Bahkan terkadang, investor asing yang hendak menanamkan saham ke pabrik persenjataannya di Cina dan Vietnam ataupun pabrik obat-obatan terlarang dapat dengan aman berbisnis di gedungnya tersebut.
Di balik nama Jeon-dong Corporation Tower tersebut, tersembunyi banyak hal yang sama sekali tidak diketahui oleh masyarakat Korea Selatan.
Setiap harinya, Jungkook duduk di ruang kerjanya yang sebagian terbuat dari material kaca, metal, dan bahan konkret sambil memandang ke arah kota Seoul dengan rasa geli di dalam hatinya. Di balik perusahaan besarnya ini, tersimpan nama terkutuk keluarga Jeon yang sudah turun temurun berbisnis kotor sekaligus memimpin geondal terbesar di Asia Timur, Chil Sung Pa. bertahun-tahun ia memimpin kelompok geondal tersebut, Jungkook sama sekali tidak pernah merasa bangga untuk menyandang gelar boss mafia terbesar di Asia Timur.
Entah sudah berapa lama ia mengalirkan darah dengan kedua tangannya. Melihat orang-orang terdekat dan tersayangnya mati akibat persiteruan dengan kelompok mafia lainnya. Bahkan orang-orang berdosa yang seharusnya sama sekali tidak boleh terlibat dan terseret dalam bisnis kotor yang dijalaninya.
Jungkook menerawang di kejauhan, di atas puncak gedung yang sudah berpuluh-puluh tahun dibangun dan dikembangkan oleh keluarganya secara turun temurun.
Mungkin sekarang segala bentuk kekuasaan sekaligus bentuk material kekayaan ia miliki, tapi juga berarti bahwa ada ancaman mati yang telah melekat sama sekali di dalam dirinya. Jungkook sadar akan hal itu. Cepat atau lambat, para mafia lain akan mendapatkan nyawanya, meninggalkan nama keluarganya tanpa sosok pemimpin.
Kecuali jika anaknya lahir nanti.
Anak yang masih berupa gumpalan darah yang belum terjalin sempurna menjadi bongkahan daging dan kini sedang bertumbuh kembang di dalam perut Taehyung.
Suara pada mesin pengeras suara mengejutkan Jungkook.
"Sajangnim, Jeon Wonwoo-ssi ingin bertemu dengan Anda."
"Biarkan dia masuk."
Pintu berderit terbuka. Jungkook samar-samar mencium aroma manis delima menyeruak masuk ke dalam ruangannya—menandakan seorang Omega kini berada di dalam bersamanya. Sepupu Jungkook tersebut diikuti oleh seorang Alpha bertubuh tinggi yang bertugas sebagai penjaga pribadi Wonwoo; Kim Mingyu.
Sepupunya tersebut selalu terlihat dingin karena sorot matanya yang tajam, tetapi Jungkook selalu tahu kalau di balik perawakan kakunya tersebut, Wonwoo adalah orang yang paling pengertian dan sering menawarkan bantuan setiap kali Jungkook ada sedikit masalah di dalam perusahaan. Meski Wonwoo adalah seorang Omega, ia juga sangat terampil sebagai pembunuh panggilan. Omega itu sangat mahir menggunakan senjata jarak pendek dan menguasai banyak sabuk dalam bela diri.
Semasa kecilnya, Jungkook selalu berselisih dengan Wonwoo karena tidak ingin kalah saing dengan sepupunya tersebut.
Kini Wonwoo, sebagai penerus ayahnya yang menjadi pembunuh panggilan sebelumnya, telah banyak melakukan misi yang diberikan oleh Jungkook. Bahkan seorang Wonwoo yang terkadang bisa tampak hangat pun, juga memiliki sisi kelam karena telah terbiasa dimintai tolong oleh Jungkook untuk membunuh manusia lainnya yang tidak mereka inginkan di dalam sistem kehidupan di dunia ini.
"Ada apa kau ke mari, Wonwoo?" tanya Jungkook, tanpa embel-embel saat ia memanggil sepupunya yang lebih tua setahun darinya.
"Aku ingin menyerahkan produk baru hari ini," kata Omega itu dengan wajah datar. Di belakangnya, Mingyu segera menarik sebuah koper besar dan membentangkan isinya di depan muka Jungkook. "Senjata baru yang aku dapatkan dari Amerika. Kebanyakan senapan laras panjang, kalau kau tertarik untuk menanyakannya."
"Hmm, bagus. Mungkin lebih baik kau memberikannya pada Yoongi-hyung dan biar dia yang menjualnya. Dia selalu punya ide pemasaran yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya," kata Jungkook sambil menyentuh sebuah pistol tangan. Dilihatnya goresan nama pistol tersebut, Dessert Eagle.
"Kau tidak tertarik untuk mengambil salah satu dari barang-barang ini?" tanya Wonwoo penasaran. "Biasanya kau tampak sangat bersemangat setiap kali aku membawakanmu barang-barang kesukaanmu. Apalagi kau suka mengoleksi senapan-senapan aneh untuk berburu di ruang koleksimu."
Jungkook mengambil pistol tangan yang dipegangnya, "Kalau begitu aku akan ambil yang ini." Ia menerima sebuah kotak berisi muatan peluru pistol yang dilempar oleh Mingyu ke arahnya. "Ada yang lain?"
Wonwoo menjatuhkan beberapa bungkus berisi Kristal-kristal putih meth. "Aku juga menerima ini dari New Mexico. Katanya mereka sedang banyak memproduksi Kristal meth jenis baru. Dengan efek halusinogen dan stimulan yang lebih besar juga."
"Berikan itu juga pada Yoongi-hyung. Biar dia yang memasarkan semuanya. Kalau dia butuh ideku, nanti dia juga akan datang sendiri dan membicarakannya denganku."
Wonwoo melipat kedua tangannya melihat kelasak kelusuk Jungkook yang terasa janggal di matanya. "Ada sesuatu yang berbeda denganmu hari ini."
"Oh, ya? Apa?"
"Kau—kau seperti tidak fokus seperti biasanya," selidik Wonwoo penasaran, "Kau serius tidak ada apa-apa? Atau ini ada kaitannya dengan penerus keluarga Jeon yang dibicarakan oleh kelompok kita?"
Jungkook mengangkat alisnya, "Darimana kau dengar soal itu?"
Wonwoo mengangkat bahu, "Semua gossip di kelompok kita cepat menyebar di antara anggota yang lain, kau pasti tahu, kan." Omega itu kembali memandangi Jungkook, "Aku penasaran, Omega seperti apa yang saat ini mengandung anakmu. Biasanya kau juga tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan Beta wanita atau Omega lain setelah Yeri. Apa yang terjadi padamu, Jungkook-ah?"
"Aku tidak pernah mengira kau akan serba ingin tahu akan semua hal tentangku," gerutu Jungkook.
"Apa kira-kira aku akan bertemu dengan Omega ini?"
"Hmm, mungkin akhir Desember nanti."
"Oh," Wonwoo tidak bertanya lagi. Omega itu melihat penjaganya yang membereskan berbagai senjata yang mereka bawa ke dalam koper. Kemudian tangannya beralih ke balik jaket parka berwarna hijau yang ia kenakan dan mengambil satu kotak rokok yang diproduksi di Kuba—Cohiba Behike, "Ini juga ada hadiah untukmu dari Kuba. Kuharap kau menikmatinya." Ia melemparkannya pada Jungkook.
Jungkook menangkap barang tersebut dengan wajah sama sekali tidak berminat, "Rokok dari Kuba?"
"Kau sama sekali tidak tertarik, eo?"
Iris hitam Jungkook tidak berhenti memandang kotak rokok mahal yang hanya bisa ia dapatkan secara terbatas dari Kuba. Sebelum-sebelumnya, ia juga senang bisa memperoleh hadiah dari para koleganya berupa koleksi cerutu yang hanya bisa digocek dengan angka jutaan won. Tapi kini, melihat cerutu favoritnya hanya seperti seonggok barang yang sama sekali tidak bisa menyelamatkan pergolakan baru di dalam dirinya.
Jungkook teringat akan perkataan Yoongi, Mungkin lebih baik mulai saat ini kau mulai mengontrol pola hidupmu. Kau punya Omega yang sedang hamil. Jangan pernah merokok ataupun mengonsumsi meth di dekatnya.
Ia juga teringat beberapa kali merokok secara terang-terangan di depan Taehyung, meski ia sendiri tahu kalau Omega itu sedang mengandung anaknya.
Anaknya.
"Mungkin lain kali saja." Jungkook kembali melempar kotak cerutu kembali pada Wonwoo.
Senyuman misterius mengembang di wajah Wonwoo, "Kau benar-benar berubah, Jungkook-ah. Aku jadi tidak sabaran melihat Omega barumu itu."
Jungkook memasang wajah dan meniru gerakan sepupunya itu untuk mengejek, "Pergilah. Kau sudah cukup lama menjejalkan kaki di ruanganku."
Kali ini Mingyu yang berbicara, "Rasanya aku mencium aroma Omega lain di ruangan ini."
Wonwoo ikut mengendus mendengar kalimat Mingyu, "Hmm. Aroma ini—berasal dari tubuhmu." Ia berjalan menghampiri Jungkook untuk mencium tubuh sepupunya lebih dekat, "Kau sering menidurinya, eo?"
Untuk menyembunyikan rasa malunya, Jungkook mendecih tidak mau kalah dan berbalik menyerang, "Aku juga bisa mencium aroma tubuh Mingyu padamu. Apa kalian tidur bersama? Menghabiskan heat bersama-sama?"
Wajah keduanya langsung berubah merah, dan Jungkook menyesali ucapannya yang terlalu frontal. Rupanya sepupunya itu benar-benar tidur dengan penjaga pribadinya, ia menyadari.
Wonwoo, sebelum ia kehilangan kendali dirinya, langsung berbalik dengan rona merah masih menyebar di wajahnya dan menghilang dari ruangan pribadi Jungkook diikuti oleh Mingyu tanpa sama sekali berkata-kata lagi.
Setelah ruangannya kembali lengang seperti semula, Jungkook menjatuhkan dirinya di atas kursi kerja Herman Miller yang sangat dibanggakannya. Permukaan elastis kursi tersebut dan sandaran punggungnya yang fleksibel, memberikan kepuasan tersendiri bagi Jungkook setiap kali ia melewatkan hari-hari kerjanya yang membosankan. Sambil menatap keluar dinding kaca, Jungkook menghela napas panjang dan menerawang.
"Taetae."
Ia menyukai nama itu di telinga dan juga di lidahnya.
Tidak seperti biasanya, Jungkook merasa ingin cepat-cepat pulang ke rumahnya.
TBC
Ahaha, cuma 6000 kata untuk chapter ini, tapi semoga di chapter selanjutnya para pembaca akan terpuaskan dengan jalan cerita yang lebih banyak. Karena chapter selanjutnya mungkin akan lebih—menegangkan? Lebih banyak pengembangan karakter? Lebih banyak adegan kekerasan? Adegan seks? Apakah Jungkook dan Taehyung sudah saling mencintai? Semuanya mungkin dan akan mungkin tidak terjadi. Karena masih banyak plot hole yang belum saya sempurnakan setelah ini.
Btw, tidak disangka fanfic ini menarik minat banyak orang ya. Tapi saya bukan author yang suka mengikuti keinginan pembaca loh, jadi siap-siap saja ya jalan cerita fanfic ini akan saya bawa ke mana haha. Tapi saya jamin fanfic ini tidak akan se-dark Spring Days kok (Alhamdulillah buat kalian yang mengikuti Spring Days, ya, ada hiburan)
Tentu review, penambahan di kolom favorit, dan segala bentuk komentar lainnya akan menyenangkan hati saya. Yang sudah mengikuti cerita saya yang lain juga, terima kasih banyak huhu. Atau mungkin ada yang sadar kalau saya punya typo, silahkan protes di komen.
Terima kasih untuk yang telah mereview sebelumnya, lho: frveryoung, teman minum kopi, kaiarts, Kyunie, Skyfreeze, Mawar biru, vkookv, Minimini SyugaMin, noonim, tzuiyuchou, Rahayu, HuskyVL, Y BigProb, ThaliaTamara4
