Disclaimer : J.K Rowling
Pair : Harry Potter/Draco Malfoy
Rate : T
Genre : General/Romance
Warning : OOC, Slash, Typo, MPreg!
The Third Prophecy
by
Nara Shevandra
Chapter 4
Harry berjalan perlahan menyusuri koridor sekolah yang tak terlalu ramai dilewati oleh siswa, tepat setelah jam pelajaran berakhir. Remaja itu berjalan dengan kepala menunduk dan bibir terkatup rapat. Ia membawa langkahnya melewati jalan lurus berlantaikan keramik kelabu yang memanjang sepanjang koridor, lalu meniti satu demi satu anak tangga menuju ke ruang Kepala Sekolah. Tujuan remaja itu sesungguhnya adalah ruangan lain yang tepat berada di sisi ruangan Albus Dumbledore. Sesekali Harry mengangkat kepala dan membalas sapaan beberapa murid lain yang ia temui di sepanjang koridor dengan anggukan dan seulas senyum manis yang tersungging dari bibirnya. Ketika jarak antara dirinya dan ruangan Kepala Sekolah semakin dekat, Harry tampak menggigit bibir bagian bawahnya, berusaha meredam letupan-letupan kecil yan menghadirkan sensasi aneh di dadanya. Entah mengapa, semenjak pertemuannya dengan putra angkat Kepala Sekolah tempo hari, Harry tak mampu sedikitpun untuk mengenyahkan paras rupawan remaja lelaki berambut pirang yang berusia dua tahun lebih muda darinya itu dari pelupuk mata dan pikirannya. Remaja pemilik sepasang mata berwarna silver dengan segala pesona dan keindahan yang ada pada dirinya itu mampu memerangkap seluruh ruang di benak Harry.
Harry menghentikan ayunan langkah kakinya ketika ia telah berada tepat di depan pintu kamar Draco yang tertutup rapat. Bibirnya setengah bergetar ketika menyebutkan kata sandi untuk memasuki kamar remaja lelaki yang memiliki rambut pirang terindah yang pernah ia lihat. Kata sandi yang diberikan oleh Albus Dumbledore pada Harry tadi pagi sebelum acara makan pagi dimulai merupakan nama sebuah kota di Perancis dimana putra angkatnya itu tinggal selama ini.
"Avignon."
Sebuah pintu besar berdaun dua dengan ukiran begitu indah di hadapan Harry yang terbuat dari kayu ek tebal seperti halnya sebagian besar pintu-pintu lain yang terdapat di seluruh bangunan sekolah Hogwats perlahan-lahan terbuka tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Aroma vanilla bercampur lavender seketika menyeruak ke permukaan dan langsung menyergap indera penciuman Harry. Dengan langkah pelan, Harry mengayunkan langkahnya memasuki ruangan tidur yang sangat luas itu, setelah sebelumnya menutup kembali pintu yang terbuka lebar di belakangnya. Kamar tidur putra angkat Albus Dumbledore itu merupakan kamar tidur terluas yang pernah Harry lihat seumur hidupnya. Pencahayaan di dalam ruangan tersebut berasal dari langit-langit ruangan yang didesain sedemikian rupa sehingga menghasilkan pantulan-pantulan sinar matahari yang berpendar indah sesuai dengan perubahan waktu dan terlihat sangat terang. Kondisi itu membuat Harry bisa melihat seluruh isi ruangan dengan jelas.
Sur le pont d'Avignon
L'on y danse, l'on y danse
Sur le pont d'Avignon
L'on y danse tous en rond
Les beaux messieurs font comm' ça
Et puis encore comm' ça
Sur le pont d'Avignon
L'on y danse, l'on y danse
Sur le pont d'Avignon
L'on y danse tous en rond
Les bell' dames font comm' ça
Et puis encore comm' ça
Bait-bait lagu bernada riang yang diyakini Harry dinyanyikan dalam bahasa Perancis mengalun indah dari ruangan berlantai keramik yang didominasi oleh warna hijau cerah tersebut. Tak jauh dari tempat Harry berdiri, tepatnya di sisi kanan perapian yang menyala dengan api kecil, Draco terlihat duduk manis di atas sebuah sofa tunggal berlapis beludru lembut yang menghadap ke arah sebuah jendela besar. Remaja mempesona itu duduk sambil mengelus telinga seekor kucing mungil berbulu putih yang berada di atas pangkuannya. Bibir remaja itu tampak bergerak-gerak perlahan, sehingga Harry mengetahui dengan jelas bahwa remaja di hadapannya itulah yang menyenandungkan kidung indah tersebut dengan suara yang terdengar begitu merdu dan menggoda di gendang telinga Harry. Sukmanya seolah dibawa terbang, menyatu dalam nada-nada ringan yang Draco dendangkan. Tak berbeda jauh dengan Harry yang masih berdiri mematung dan larut dalam kekagumannya, kucing kecil berbulu putih yang berada di atas pangkuan Draco terlihat memejamkan sepasang matanya yang berwarna kebiruan, seolah ikut terhanyut dalam keindahan suara sekaligus elusan remaja rupawan yang memangkunya tersebut.
Untuk beberapa saat Harry masih tetap dalam posisinya yang mematung bagaikan sebuah arca batu, menikmati alunan suara Draco yang begitu memukaunya. Matanya hampir tak berkedip memandangi remaja berkulit pucat itu. Dan Draco yang rupanya merasakan aura sihir lain di dalam kamarnya segera menyadari bahwa ia tak sendirian. Putra angkat sang Kepala Sekolah itu segera mengangkat kepalanya sehingga sepasang mata silver-nya langsung beradu dengan sepasang emerald milik Harry. Remaja berambut panjang yang mencapai pinggang itu tersenyum lebar ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
"Harry!" seru Draco seraya bergegas berdiri setelah meletakkan kucing putihnya di sofa yang ia duduki. Draco yang mengenakan celana bahan berwarna hitam yang terjahit rapi dan kaos berkerah berwarna biru langit tanpa jubah itu segera menghampiri Harry dan memegang kedua lengan remaja berkacamata itu sehingga membuat Harry sedikit salah tingkah. Raut wajah penyihir muda yang memiliki rambut berantakan itu tampak merona.
"Ummm, hai, Draco," balas Harry dengan canggung sehingga membuat Draco terkikik kecil. Senyuman yang menghiasi wajah rupawan Draco semakin lebar ketika melihat raut wajah sosok remaja yang ditakdirkan untuk menjadi penyelamat dunia sihir itu sedikit memerah. Dengan gerakan perlahan namun meyakinkan, Draco berjalan di depan Harry seraya menarik sebelah tangan remaja lelaki berparas tampan tersebut. Harry tanpa berkata apa-apa mengikuti langkah kaki Draco yang menuntunnya ke satu set sofa lain yang pernah ia duduki di malam pertemuan mereka untuk kali pertama.
"Aku senang sekali kau memenuhi janjimu untuk menemuiku, Harry. Ayo, silahkan duduk!" ajak Draco sambil terlebih dahulu menghenyakkan tubuhnya di atas sofa tersebut. Harry mengambil posisi duduk tepat di samping kanan Draco sehingga aroma vanilla yang berasal dari tubuh remaja berambut pirang tersebut semakin nyata tercium. Kucing putih bertubuh mungil yang meringkuk di sofa sebelumnya beringsut turun dan kembali melangkah ke arah kedua remaja tersebut sebelum akhirnya kembali bergelung manja di pangkuan Draco.
"Anak kucing yang manis. Siapa namanya?" tanya Harry. Tangannya ikut mengelus cuping telinga hewan kecil itu.
"Terima kasih, Harry. Namanya Cassy. Daddy memberikannya padaku tadi pagi," sahut Draco dengan memamerkan senyum manisnya.
"Bagaimana perasaanmu setelah berada di Hogwart, Draco?" tanya Harry lagi seraya mengarahkan pandangannya lurus ke depan, ke arah jendela besar di depan sofa yang sebelumnya diduduki oleh remaja berambut pirang di sampingnya itu. Ia merasa tak sanggup jika harus berlama-lama memandangi keindahan paras remaja berkulit pucat itu sehingga memutuskan untuk memusatkan perhatiannya pada barisan pepohonan tinggi menjulang dan menghijau yang tampak jelas dari posisi duduknya saat ini.
"Sejujurnya, di satu sisi aku sangat senang berada di sini, Harry. Itu artinya aku bisa bertemu Daddy setiap hari. Tapi di sisi lain aku merindukan suasana tenang yang kudapatkan di Dumbledore Manor. Kau tahu, di Perancis kami memiliki perkebunan anggur dan zaitun serta ladang gandum yang sangat luas. Aku bisa berlarian di sana dengan bebas, tanpa mengkhawatirkan apapun. Ya, pendek kata Perancis adalah rumah sesungguhnya bagiku. Dua belas tahun usiaku kuhabiskan di sana. Meskipun aku yakin kalau Daddy sudah mengatakan padamu bahwa Hogwarts adalah tempat dimana aku dilahirkan. Iya, kan?" Draco menghentikan sejenak ceritanya, sehingga Harry kembali mengarahkan pandangannya pada remaja yang duduk di sisinya itu, lalu mengangguk. Membenarkan ucapan Draco. "Well, aku memang tidak bisa langsung mengatakan bahwa aku tak betah berada di sini, karena pada kenyataannya aku baru sehari berada di Hogwarts. Tapi bisa kukatakan, waktu sehari itu sudah membuatku merindukan banyak hal yang kutinggalkan di Perancis. Aku merindukan kamar tidurku yang menyajikan pemandangan indah yang bisa kusaksikan dari balik jendela di setiap pergantian musim. Aku merindukan bukit kecil yang biasanya kugunakan untuk melukis keindahan Avignon bersama binatang-binatang hutan yang selalu setia menemaniku. Dan aku juga merindukan teman-teman muggle-ku. Namun sesungguhnya yang paling kurindukan adalah lab mini yang dibangun Daddy untukku sejak aku masih kecil karena ketertarikanku yang sangat besar di bidang ramuan. Aku tak yakin Uncle Sevvy akan sukarela meminjamkanku lab-nya jika aku ingin meneliti sekaligus mencoba meracik ramuan di sini." tutur Draco panjang lebar. Harry menatap takjub pada remaja berkulit halus tersebut. Kekagumannya akan putra angkat sang Kepala Sekolah itu semakin besar. Meskipun begitu, kening Harry tetap berkerut mendengar kalimat terakhir remaja rupawan yang masih asyik mengelus bulu-bulu lembut kucing putihnya yang mungil itu
"Hemmm, Draco, apakah Uncle Sevvy yang kau maksud itu adalah Professor Snape?" tanya Harry dengan nada tak yakin. Sungguh, jauh di dasar hati Harry sangat berharap agar Draco menggelengkan kepala dan mengatakan tidak. Namun, harapan Harry memudar ketika yang terjadi malah sebaliknya. Draco menganggukkan kepala, membenarkan perkiraan Harry sebelumnya. Damn! batin Harry.
"Ya. Kau benar, Harry. Uncle Sevvy atau Professor Snape itu adalah ayah baptisku. Hey, kenapa wajahmu memucat begitu, Harry ?" goda Draco ketika paras remaja tampan di sampingnya itu tampak sedikit memutih. Tawa Draco berderai indah, sementara Harry hanya mendengus kecil. "Kalau dilihat-lihat, Uncle Sevvy memang memiliki tampang galak. Raut wajahnya juga begitu dingin. Tapi sesungguhnya ia adalah orang yang sangat baik. Dia begitu menyayangiku, bukan karena aku adalah putra angkat seorang Albus Dumbledore. Selain itu, Uncle Sevvy adalah satu-satunya orang yang sering kuajak bertukar pikiran mengenai penelitianku tentang ramuan. Tentu saja, dia Guru Ramuan terbaik sedataran Britania Raya."
Harry hanya tersenyum kecut mendengar penjelasan dari putra angkat sang Kepala Sekolahnya itu mengenai Severus Snape, Guru Ramuan yang justru sangat dibencinya. Harry yakin bahwa ia akan tertawa terbahak-bahak hingga jatuh berguling menahan tawa jika kemarin ada seseorang yang mengatakan bahwa Snape adalah orang baik . Namun hari ini, karena yang mengatakan hal tersebut adalah putra angkat Dumbledore sendiri, maka Harry mau tak mau terdiam sambil mencerna kembali perkataan remaja tersebut. Meskipun begitu, Harry masih juga tak habis pikir ketika Draco mengatakan bahwa lelaki berhidung bengkok bak paruh elang itu adalah satu-satunya orang yang diajaknya bertukar pikiran. Bukankah Albus Dumbledore sendiri adalah seorang penyihir yang memiliki kekuatan dan kepandaian yang luar biasa? Lalu mengapa Draco hanya mengajak Snape untuk bertukar pikiran mengenai ramuan, bukan ayah angkatnya? batin Harry penuh tanda tanya.
Di dalam hati, Harry juga mengira-ngira sejauh mana kepandaian serta kekuatan remaja berparas rupawan itu. Harry yakin, di balik penampilannya yang tak ubah seorang putra bangsawan manja tanpa kemampuan apa-apa, tersimpan kekuatan sihir yang maha dahsyat. Harry mampu merasakan aura sihir yang menyelimuti remaja berambut pirang itu sedemikian kuat. Harry juga bisa membayangkan sejauh mana kemampuan remaja itu dalam bidang ramuan. Jika seorang Snape yang terkenal dingin bisa menjadi rekannya bertukar pikiran dalam hal ramuan, maka Harry bisa memastikan bahwa remaja berkulit pucat itu memang memiliki kemampuan yang sangat istimewa.
"Baru kali ini aku mendengar ada seseorang yang mengatakan bahwa Snape adalah orang baik." tutur Harry setelah beberapa waktu terdiam, bermain dengan alam pikirnya. Draco yang duduk di sampingnya tampak sedikit terkejut dengan pernyataan Harry, namun akhirnya ia kembali tertawa kecil dan mengangkat bahu, seolah tidak terganggu dengan ucapan Harry. "Oh ya, mengapa Professor Dumbledore tidak memasukkanmu menjadi murid Hogwarts saja? Dengan kemampuanmu, tak kuragukan kalau dalam waktu singkat kau akan menjadi murid kesayangan para pengajar di sini." tanya Harry lagi sambil menyeruput segelas teh yang tinggal setengah. Beberapa saat sebelum mereka telibat dalam percakapan, Draco memang telah memerintahkan peri rumah yang diketahui Harry bernama Gippy untuk menyediakan jamuan kecil untuk mereka berdua.
"Kau tentunya tidak lupa bahwa keberadaanku selama ini dirahasiakan, bukan?" Draco balik bertanya. Remaja dengan rambut pirang mencapai pinggang itu juga turut mengangkat cangkir keramik berisi teh di depannya, lalu menyeruputnya dengan perlahan. Harry yang mendengar pertanyaan itu tampak meringis. Dalam hati ia merutuki ketololannya yang telah mengajukan pertanyaan bodoh itu.
"Oh, maafkan aku, Draco," sahut Harry. Wajahnya memerah seperti tomat matang. "Aku terkadang suka bicara tanpa berpikir lebih dahulu," sambungnya. Draco hanya menanggapi perkataan Harry dengan menghadiahkan senyuman manisnya untuk kesekian kali.
"Kau tak perlu meminta maaf, Harry. Seperti yang pernah Daddy katakan, ia sedang memikirkan cara terbaik agar aku betah di sini. Tak menutup kemungkinan bahwa Daddy akan membiarkanku turut menjadi murid Hogwarts, kan? Hei, tidakkah kau merasa bahwa sejak tadi sepertinya isi pembicaraan kita hanya tentang aku? Mengapa kau tak bercerita mengenai dirimu, Harry? Ayolah, aku juga ingin mendengarkan cerita tentang seorang Harry Potter," bujuk Draco. Ia tampak memiringkan posisi duduknya dan menyamankan diri sehingga ia bisa menatap wajah Harry dengan jelas.
"Apa yang ingin kau ketahui dariku, Dray? Kurasa tak ada yang istimewa dariku yang bisa kuceritakan padamu," sahut Harry sambil turut memiringkan posisi duduknya hingga ia dan Draco saling berhadapan.
"Dray?" Kening Draco tampak berkerut mendengar Harry memanggilnya dengan panggilan kecil itu. Namun tak lama, senyum manis kembali terukir di sudut bibirnya.
"Ah, lagi-lagi aku minta maaf, Draco. Bibirku ini terlalu lancang memanggilmu seperti itu. Entahlah, aku hanya merasa lebih nyaman menyebutmu dengan nama itu. Aku benar-benar minta maaf," Harry merasa wajahnya memanas.
"Kenapa kau malah meminta maaf, Harry? Aku kan tidak bilang bahwa aku tak suka kau memanggilku seperti itu. Justru sebaliknya, aku suka kau memanggilku Dray. Dan aku sama sekali tidak keberatan kalau mulai dari sekarang kau memanggilku Dray. Tapi itu berlaku hanya untukmu." sahut remaja pemilik sepasang mata berwarna kelabu itu. Harry tampak sumringah mendengar perkataan Draco. Bibirnya mengembangkan sebuah senyuman manis.
"Thanks, Dray."
"Nah, sekarang kau bisa menceritakan padaku tentang dirimu, Harry. Kau tidak keberatan, kan?" tatapan yang diberikan Draco membuat Harry tidak bisa menolak. Lagipula, siapa yang bisa mengatakan tidak pada tatapan membius remaja berambut pirang itu?
"Baiklah, jika kau memaksa. Aku akan mulai dari masa kecilku. Hanya saja, masa kecilku tidaklah seindah yang dibayangkan oleh orang-orang yang hanya memandangku dari nama dan gelar yang kusandang, Dray. Setelah kedua orangtuaku meninggal, aku diasuh oleh Paman dan Bibiku. Mereka adalah satu-satunya keluarga yang masih kumiliki, dan mereka memperlakukanku dengan kejam. Perlakuan mereka terhadapku sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan perlakuan mereka terhadap Dudley, putra tunggal mereka. Paman dan Bibi membenci penyihir. Mereka sering menyalahkanku jika ada hal-hal aneh yang terjadi di rumah dan tak akan segan-segan untuk menghukumku, atau membiarkanku kelaparan untuk beberapa hari." Harry menghentikan ceritanya untuk sejenak, dan hanya tersenyum ketika melihat Draco yang terperangah, seolah tak mempercayai pendengarannya. "Aku baru mengetahui bahwa aku adalah keturunan penyihir ketika usiaku sebelas tahun. Usia dimana aku menerima surat dari Hogwarts untuk pertama kalinya. Andai kau melihat raut wajahku yang penuh tanda tanya ketika namaku dipanggil untuk mengikuti seleksi pembagian asrama oleh Topi Seleksi. Bagaimana mungkin ada seseorang yang tidak mengetahui bahwa sesungguhnya namanya begitu terkenal dan menjadi bagian dari sejarah itu sendiri? Kenyataannya, itulah aku. Aku terbengong-bengong ketika melihat reaksi orang-orang yang mendengar namaku." Harry tertawa miris, menertawakan dirinya. Draco yang duduk di sampingnya tampak terdiam, namun menatap lurus pada sepasang emerald milik Harry, dengan pandangan yang penuh makna tak terjabarkan.
"Aku memiliki dua orang sahabat baik di sini. Atau bisa kukatakan bahwa mereka berdua adalah teman pertama yang kumiliki sejak aku dilahirkan. Yang pertama adalah Ronald Weasley, atau yang lebih sering kupanggil Ron. Ya, keluarga Weasley merupakan keluarga penyihir berdarah murni yang terkenal dengan rambut merah mereka. Aku yakin kau sudah membaca mengenai hal itu, kan? Ron begitu piawai dalam permainan catur. Sangat sulit untuk mengalahkannya. Ron merupakan temanku bertukar cerita mengenai Quidditch. Keluarga Weasley sudah seperti keluarga kandung bagiku. Aku mengenal anggota keluarga mereka dengan baik. Aku sangat menyayangi mereka, begitu juga sebaliknya," tutur Harry. "Sahabatku yang lain adalah Hermione Granger. Gadis cantik kelahiran muggle, tapi memiliki otak yang sangat cemerlang. Ia murid terpandai di Hogwarts sejak tahun pertama. Aku dan Ron memanggilnya 'Mione. Menurut pengamatanku selama ini, dua orang sahabatku itu menaruh hati satu sama lain, hanya saja terlalu gengsi untuk mengakuinya. Suatu saat nanti, jika keberadaanmu di sini bukanlah rahasia lagi, aku akan sangat senang memperkenalkanmu kepada mereka berdua." papar Harry. Ia melihat pijar bahagia berpendar di sepasang mata berwarna kelabu tersebut. Senyuman manis yang seolah tak pernah beranjak dari bibir tipis Draco membuat Harry menelan ludah. Pandangannya kembali diarahkan ke depan, menatapi rerimbunan pepohonan hijau yang terhampar di luar jendela besar tak jauh dari tempatnya duduk.
"Sound like a plan. Sepertinya mereka teman yang menyenangkan." Sahut Draco di antara senyumnya yang terukir indah. Harry mengangguk mantap, membenarkannya.
Untuk beberapa saat, kedua remaja berbeda usia tersebut hanya diam. Akan tetapi, pandangan keduanya bertemu di satu titik. Dalam jarak cukup dekat itu, Harry mampu merasakan hangatnya deru napas remaja di hadapannya. Aroma napasnya yang lagi-lagi menyebarkan keharuman vanilla membuat raut wajah Harry memanas. Harry akhirnya hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah, berusaha mengusir pikiran-pikiran aneh yang tiba-tiba merasuki pikirannya.
"Harry…," panggil Draco memecah kesunyian yang tercipta di antara mereka berdua sehingga Harry kembali menatap wajahnya. Baris-baris kecil tampak di antara kerutan kening Harry. "Apakah aku boleh menjadi sahabatmu?" sambung remaja berparas rupawan itu dengan nada lirih. Ia tampak menggigit bibirnya perlahan, jemari di kedua tangannya tampak bertaut, dan ia menatap Harry penuh harap. So cute, pikir Harry di antara keterkejutannya mendengar permintaan Draco.
"K-kau mau?" Harry berupaya meyakinkan diri, di antara pikiran-pikiran aneh yang kembali berkelebat di benaknya. Entah mengapa, suara-suara dari dasar hati Harry mengirimkan pesan yang mengindikasikan bahwa ia sebenarnya ingin remaja berambut pirang itu menjadi lebih dari sekedar sahabat baginya.
"Tentu saja aku mau. Tahukah kau, aku teringat satu kejadian ketika usiaku lima tahun. Pada saat itu Daddy sedang bercerita mengenai seorang anak bernama Harry Potter." Draco menghentikan sejenak ceritanya untuk melihat reaksi Harry. Draco kembali membuka suara untuk melanjutkan ceritanya ketika Harry menganggukkan kepala, sebagai isyarat agar ia menyelesaikan kisahnya. "Pada saat itu aku berkata kepada Daddy bahwa jika suatu hari aku bertemu dengan Harry Potter, aku akan menjadi sahabat baiknya. Dan sejak hari itu aku terus menyemai harapan agar bisa bertemu denganmu. Aku sungguh tak menyangka jika hari yang kunantikan itu datang begitu cepat dalam kehidupanku. Aku memang tidak memiliki sahabat dekat selama ini, tapi aku berjanji untuk menjadi sahabat terbaik untukmu, Harry. "
Harry nyaris tak mampu mengeluarkan sepatah katapun demi mendengar ucapan yang terlontar dari bibir tipis remaja berparas rupawan itu. Segala rasa bercampur aduk di hatinya. Untuk sesaat Harry masih tidak mempercayai kenyataan bahwa putra angkat Kepala Sekolah itu ingin menjadi sahabatnya.
"A-aku, ah, Dray. Kau membuatku tak mampu berkata-kata. Tentu saja aku akan senang sekali jika kau menjadi sahabatku. Tak bisa kulukiskan perasaan bahagiaku saat ini. Kau membuatku seperti mendapat sebuah kehormatan tak terkira ketika kau menyatakan keinginanmu itu. Dan aku merasa ucapan terima kasih saja tak akan cukup mewakili rasa senangku atas kebaikan hatimu, Dray." Draco menghentikan ucapan Harry dengan mendekatkan jari telunjuk kirinya ke bibir remaja berkacamata tersebut. Sementara itu, tangan kanannya ditangkupkan di atas punggung tangan kiri Harry, menenangkan remaja tampan berambut hitam tersebut. Kepala Draco tampak menggeleng perlahan sehingga rambut pirang panjangnya turut bergerak gemulai.
" Kau tak perlu berterima kasih padaku, Harry. Aku yang merasa sangat beruntung bisa kau terima menjadi sahabatmu. Friend?" Draco yang telah melepaskan telunjuk kirinya dari bibir Harry lalu memberikan jari kelingking kirinya. Harry tersenyum merekah seraya menautkan jari kelingking kanannya kepada jari kelingking Draco.
"Friend."
Kedua remaja tersebut tak berkata-kata lagi, kembali terdiam dalam jerat sunyi yang menyelubungi keduanya. Masing-masing larut dalam pemikirannya sendiri. Angin semilir yang berhembus melalui jendela-jendela besar yang terbuka lebar mempermainkan rambut pirang Draco yang panjang dan sebagian menutupi wajahnya yang terlihat mulai memejamkan mata. Harry baru menyadari betapa lentiknya bulu mata Draco yang ternyata berwarna kecoklatan ketika remaja itu terpejam, sehingga keindahan parasnya terlihat semakin nyata.
Tak berapa lama, kepala remaja rupawan itu tampak rebah di atas pundak Harry, terlelap dalam deraan kantuk yang menyerangnya. Dengan hati-hati, Harry menggeser sedikit posisi duduknya dan kemudian berdiri sambil mengangkat tubuh putra angkat sang Kepala Sekolah yang tertidur pulas itu ke dalam gendongannya. Ia melingkarkan kedua tangan Draco di lehernya, lalu berjalan perlahan menuju tempat tidur besar milik Draco yang dilapisi kain satin berwarna hijau lembut. Dengan perlahan juga, Harry merebahkan tubuh ramping remaja dalam gendongannya itu ke atas ranjangnya yang berukuran besar setelah lebih dulu mengatur beberapa buah bantal. Draco hanya menggeliat kecil ketika tubuhnya telah menyentuh ranjang. Harry tersenyum tipis memandangi paras rupawan Draco yang terlihat begitu damai dalam tidurnya, lalu menarik selimut di ujung kaki remaja itu untuk menutupi tubuhnya. Harry juga tak lupa mengatur posisi rambut Draco yang terasa begitu lembut di antara jemarinya. Senyuman Harry merekah semakin lebar ketika melihat sebuah boneka naga berukuran sedang tergeletak tak jauh di sudut ranjang. Harry meraih boneka naga tersebut, lalu mendekatkannya dalam dekapan Draco yang kemudian tampak begitu erat mendekap boneka miliknya itu.
Kucing putih bertubuh mungil yang sejak tadi berada di atas pangkuan Draco ternyata mengikuti Harry. Harry lalu mengangkat hewan kecil itu dan meletakkanya di atas salah satu bantal yang berada tak jauh dari tubuh Draco. Dalam waktu sebentar, kucing mungil itu juga terlihat merapatkan kedua bola matanya. Harry akhirnya menarik sebuah kursi kayu yang terletak di depan meja hias Draco yang berukuran besar. Sambil meluruskan kedua kakinya di atas meja kayu kecil di depannya, Harry tampak memejamkan matanya. Kedua tangannya bersidekap di depan dada. Sapuan angin yang berhembus perlahan menyapa wajahnya sehingga menimbulkan rasa kantuk yang turut mengantarkannya menyusul Draco, sahabat barunya yang telah terlebih dahulu berlayar di samudera mimpi.
-ooo0ooo-
Malam kembali merambat, menyelimuti seluruh bangunan kastil tua Hogwarts. Seperti malam-malam sebelumnya, malam ini angin bertiup begitu kencang, sehingga menyebarkan hawa dingin yang menggigilkan tulang. Langit masih tertutup rapat oleh awan hitam yang menebal dan bergulung-gulung menghalangi pancaran cahaya rembulan. Namun keadaan malam dalam balutan warna pekat dan arakan awan yang menghitam di penghujung Oktober itu seolah tidak dipedulikan oleh seluruh penghuni sekolah penyihir tertua di Britania Raya tersebut. Lampu-lampu tampak menyala di setiap setiap sudut bangunan kastil, termasuk dari menara-menara tinggi yang mengelilinginya. Seluruh murid Hogwarts dari tahun pertama hingga tahun terakhir tampak berdiri berjajar di setiap koridor terbuka yang terdapat di seluruh bangunan kastil. Beberapa murid tahun terakhir tampak bergerombol membentuk kelompok-kelompok kecil menurut asramanya masing-masing, saling bercengkerama dan berbincang-bincang dengan tatapan tertuju lurus ke depan gerbang utama sekolah.
Albus Dumbledore selaku Kepala Sekolah juga tampak berdiri gagah di depan bangunan sekolah yang menyerupai kastil itu. Jubahnya yang panjang tampak berkibar-kibar dipermainkan angin malam. Sementara di belakangnya, barisan staf pengajar Hogwarts juga tampak berdiri berjajar, bersiap menyambut kedatangan delegasi dari dua sekolah sihir lain yang akan ikut ambil bagian dalam Turnamen Triwizard.
Tak jauh dari koridor timur, di suatu sudut yang agak menyendiri dari keberadaan murid-murid lain yang berdiri berjajar dan bersiap menyambut kedatangan dua peserta turnamen tahunan tersebut, Harry tampak bersembunyi di balik Jubah Gaib pemberian ayahnya. Di sisi kanannya, berdiri seorang remaja rupawan yang tak lain adalah Draco, putra angkat sang Kepala Sekolah. Paras remaja berambut pirang itu tampak cerah, dan senyum manis mengembang di sudut bibirnya. Harry yang sejak beberapa waktu belakangan memang telah bersahabat akrab dengan Draco akhirnya mengetahui cara untuk mengajak remaja berparas rupawan itu untuk keluar dari kamarnya tanpa perlu terlihat oleh orang lain. Ia teringat akan Jubah Gaib miliknya, dan akhirnya menceritakan rencananya pada Draco yang disambut oleh remaja berkulit pucat itu dengan antusias. Dan akhirnya di sinilah mereka berdua, berdiri merapat di antara murid-murid yang lain dalam keadaan yang tak terlihat oleh orang-orang di sekitarnya.
"Daddy pasti akan marah besar jika ia tahu aku keluar dari kamar tanpa meminta persetujuan darinya, Harry." bisik Draco tepat di telinga Harry yang memusatkan perhatiannya ke arah gerbang utama sekolah.
"Aku akan membelamu sekaligus meminta maaf padanya jika memang ayahmu memarahimu, Dray. Lagipula, ini memang ideku untuk mengajakmu keluar, kan?" sahut Harry, sambil turut berbisik. Draco mengangguk kecil dan memilih untuk berdiri di depan Harry sambil ikut memusatkan perhatiannya ke gerbang sekolah. Ia merasakan napas Harry yang hangat di tengkuknya, namun tak memperhatikan ekspresi wajah Harry yang tampak gelisah. Raut wajah remaja berambut hitam berantakan itu terlihat memerah di belakangnya.
Tanpa sepengetahuan Harry, Draco ternyata memasang mantera pelindung dalam jarak beberapa kaki dari posisi mereka berdiri yang membuat orang lain dengan kemampuan ssihir rendah tak akan mampu mendeteksi keberadaan mereka berdua. Mantera pelindung dalam bahasa Inggris kuno yang nyaris punah itu ia ucapkan tanpa menggunakan tongkat sihirnya karena memang remaja berambut pirang itu memiliki kemampuan untuk mengucapkan mantera tanpa tongkat. Sebuah kemampuan yang tak sembarangan bisa dimiliki oleh seorang penyihir, apalagi dalam usia semuda dirinya.
Delegasi dari Beauxbatons merupakan peserta pertama yang menginjakkan kaki di bangunan kastil tersebut. Kedatangan mereka yang menaiki kereta kuda raksasa membuat takjub seluruh murid Hogwarts . Harry yang bersembunyi di balik Jubah Gaib tampak tak kalah takjub ketika barisan gadis-gadis cantik dalam balutan seragam biru dari sutera itu melakukan gerakan-gerakan indah bak tarian perkenalan para bidadari. Di belakang barisan murid-murid perempuan jelita itu, berdiri seorang wanita dengan ukuran tubuh terbesar yang pernah dilihat oleh Harry. Perempuan yang tak lain adalah Madam Maxime, Kepala Sekolah Beauxbatons dari Perancis itu nyaris menyamai ukuran tubuh Hagrid, meskipun ia tampil lebih elegan. Harry mengalihkan pandangannya dari rombongan murid-murid Beauxbatons itu ketika mendengar suara desisan dari arah depannya. Ia melihat Draco membalikkan tubuhnya sehingga membuat posisi mereka berdua saling berhadapan. Di depannya, remaja berparas rupawan itu tampak memijit kedua pelipisnya dengan kening berkerut, seolah sedang menahan rasa sakit.
"Dray, kau tidak apa-apa?" bisik Harry cemas sambil memegangi kedua pergelangan remaja tersebut. Draco menggelengkan kepalanya. Kedua kelopak matanya tampak menyipit. Tanpa berpikir panjang, Harry meraih pinggang ramping remaja berkulit pucat di depannya itu, lalu mendekatkan tubuh Draco ke dalam dekapannya.
"Aku tidak apa-apa, Harry. Sungguh," ujar Draco dengan nada pelan sehingga nyaris tak terdengar oleh Harry. Dalam terpaan cahaya lampu yang menembus ke dalam Jubah Gaib, Harry bisa memastikan bahwa kedua belah pipi remaja berkulit pucat itu tampak merona. Harry yang baru menyadari bahwa dialah yang menyebabkan rona merah jambu menjalar di pipi Draco buru-buru melepaskan pelukannya. Wajahnya juga tampak memerah. Senyuman kikuk tampak tersungging dari bibirnya.
"Maaf," bisik Harry. Draco yang masih merona membalasnya dengan senyuman indahnya. Tak lama ia kembali membalikkan tubuhnya. Draco tampak menundukkan kepala sambil menghela napas panjang. Kekuatan sihirnya langsung bereaksi ketika merasakan sebuah aura sihir yang sedikit aneh berasal tak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri. Veela, ya, ada dua orang Veela di antara gadis-gadis dari Perancis itu. Aku bisa merasakannya dengan jelas. Auranya begitu berbeda, batin Draco.
Tak lama setelah kedatangan murid-murid dari sekolah sihir Beauxbatons yang disambut dengan hangat oleh Albus Dumbledore dan staf pengajar Hogwarts, murid-murid Hogwarts kembali dikejutkan dengan kedatangan delegasi dari Durmstrang yang menggunakan sebuah kapal besar yang secara ajaib muncul dari danau. Barisan murid lelaki yang gagah itu dipimpin langsung oleh sang Kepala Sekolah, Igor Karkaroff. Decak kagum juga seruan kaget sontak terdengar ketika seluruh murid Hogwarts menyaksikan Viktor Krum, Seeker terkenal dari Bulgaria itu turut berada dalam rombongan murid-murid Durmstrang.
"Itu Viktor Krum, kan? Seeker terkenal itu?"
"Oh, Merlin! Dia gagah sekali…!"
"Aku tak menyangka kalau Viktor Krum turut dalam rombongan Durmstrang. Kalian pernah menyaksikan aksinya di lapangan Quidditch, kan?"
"Aku rela pindah ke Durmstrang demi dia jika ia mau menjadi kekasihku!"
Seruan kekaguman masih saja terus terdengar meskipun rombongan dari Durmstrang itu telah beranjak memasuki bangunan kastil. Harry yang bersembunyi di balik Jubah Gaib-nya memutuskan untuk berdiri di samping Draco. Ia mengamati ekspresi wajah Draco yang tampak tenang dan lurus ke depan. Harry turut memandangi objek yang menjadi perhatian Draco dan sedikit terkejut ketika mendapati kenyataan bahwa Draco sedang memandangi Viktor Krum yang sedang menjadi bahan pembicaraan hampir oleh seluruh murid Hogwarts. Perasaan tak suka tiba-tiba merambat di hati Harry, namun remaja berkacamata itu segera menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan perasaan ganjil yang tidak dimengerti olehnya. Aneh, kenapa aku tidak suka jika ada orang lain yang menarik perhatian Draco? batin Harry.
"Laki-laki itu memiliki aura sihir yang sangat kuat, Ry. Ia seorang penyihir hebat," ucap Draco setengah bergumam. "Ia akan menjadi salah satu lawanmu dalam turnamen nanti." sambung Draco yang membuat Harry tertawa pelan, namun ia buru-buru mendekap mulutnya.
"Bukan maksudku menertawakanmu, Dray. Hanya saja, Turnamen Triwizard hanya boleh diikuti oleh peserta yang telah cukup umur. Karena usiaku baru empat belas tahun, itu artinya aku tidak akan menjadi peserta dalam turnamen tersebut. Lagipula, sesuai dengan namanya, turnamen itu hanya diikuti oleh tiga peserta," jelas Harry, masih dengan berbisik. Draco memutar matanya, lalu mengangkat pundak sambil kembali memusatkan perhatiannya ke arah pintu gerbang Hogwarts yang telah ditutup. Dari posisinya berdiri, ia bisa melihat dengan jelas ayah angkatnya memerintahkan seluruh murid beserta tamunya untuk masuk ke dalam kastil.
-ooo0ooo-
"Aku sama sekali tidak memasukkan namaku ke dalam Piala Api! La-lagipula apa untungnya aku melakukan itu? Aku sama sekali tak habis pikir kenapa namaku malah keluar sebagai peserta terakhir, persis seperti ucapanmu tempo hari. Saat ini, bukan hanya teman-teman seasramaku yang memusuhiku, malah hampir seluruh Hogwarts mengecamku!" gerutu Harry untuk kesekian kalinya setelah peristiwa mengejutkan di malam pemilihan para juara yang akan mengikuti Turnamen Triwizard. Secara tak terduga, namanya muncul sebagai peserta terakhir mendampingi Cedrig Diggory, sang juara yang terpilih mewakili Hogwarts.
Semenjak kejadian itu, Harry lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Draco di kamar remaja tersebut, atas ijin dari Albus Dumbledore. Terpilihnya Harry sebagai juara keempat yang merupakan sebuah peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya memang sangat mencengangkan semua orang. Berbagai spekulasi beredar mengenai keberadaannya sebagai peserta termuda dalam turnamen itu. Albus Dumbledore sendiri selaku Kepala Sekolah tercengang menyaksikan peristiwa langka tersebut. Kekhawatiran merasuki benaknya. Meskipun begitu, penyihir tua tersebut yakin bahwa Harry tidak akan gegabah dan bertindak sejauh itu dengan memasukkan namanya ke dalam Piala Api.
Hanya saja, cuma segelintir orang yang memiliki pemikiran sama seperti sang Kepala Sekolah. Hampir sebagian besar murid Hogwarts mencibir pada Harry dan mencemoohnya, bahkan termasuk teman satu asramanya. Sahabat baiknya sendiri, Ron Weasley bahkan jelas-jelas memusuhinya dan mengatakan bahwa ia telah berlaku curang sehingga terpilih sebagai peserta dalam Turnamen Triwizard. Tak sedikit yang mengolok-oloknya dan meminta rahasia keberhasilannya sehingga namanya muncul dari Piala Api. Kecaman dan cemoohan yang semakin hari semakin bertambah itu membuat Harry akhirnya memilih untuk menenangkan diri di kamar Draco dengan persetujuan ayah angkat remaja rupawan tersebut. Diakui Harry, berada di sisi putra angkat sang Kepala Sekolah itu mampu membuatnya merasakan ketenangan dan kedamaian luar biasa. Draco dengan segala kelembutan dan kesabarannya mampu meredam kemarahan Harry yang meledak-ledak akibat cemoohan murid-murid sekolahnya karena keikutsertaannya dalam Turnamen Triwizard. Draco bahkan sepertinya tahu betul bagaimana cara mendinginkan dan meluruhkan hati Harry yang panas karena perbuatan Ron.
"Hey…," sapa Draco. "Kau masih memikirkan soal sahabatmu, si Ronald itu?" tanya Draco ketika melihat Harry hanya terbaring membisu berbantalkan kedua lengannya di atas ranjang berukuran besar miliknya. Remaja berkulit pucat itu menghempaskan tubuh di sisi Harry sambil memainkan helaian rambut hitam Harry yang berantakan. Harry hanya menghembuskan nafas panjang, lalu mengangkat kepalanya dan merebahkannya di atas pangkuan Draco. Perasaan damai kembali menyelimuti Harry ketika remaja berparas rupawan itu menghadiahkan senyuman manisnya. Harry meraih tangan remaja berkulit mulus tersebut, lalu mendekatkannya di atas dadanya, dan Draco sama sekali tak menarik tangannya. Ia hanya membiarkan saja ketika remaja yang memiliki bekas luka berupa sambaran petir di keningnya itu menggenggam erat tangannya.
"Ron tetap menganggap aku sengaja memasukkan namaku ke dalam Piala Api. Hell, aku tidak peduli jika seisi sekolah ini menganggapku begitu. Tapi aku sama sekali tak menyangka kalau Ron, sahabatku sendiri juga turut berpikir demikian. Demi Merlin, dia mengenalku lebih baik dari yang lain. Saat ini, hanya 'Mione yang percaya bahwa bukan aku yang memasukkan namaku ke dalam piala itu," keluh Harry.
"Aku juga percaya bahwa bukan kau yang melakukan itu, Ry. Begitu juga Daddy dan Uncle Sevvy. Mereka mengatakan padaku bahwa kemungkinan ada seseorang yang memasukkan namamu ke dalam Piala Api dengan tujuan untuk mencelakakanmu. Siapapun orangnya, yang pasti ia bermaksud tak baik padamu. Dan itu artinya, kau harus lebih berhati-hati. Dan soal Ron, aku yakin nantinya dia akan menyadari kesalahannya. Berikan ia waktu untuk berfikir, Ry. Aku yakin, pada akhirnya kalian akan kembali menjadi sahabat baik. Saat ini Ron sedang tersulut emosi, jadi apapun yang kau katakan padanya tak akan ia terima, malah membuatnya semakin marah. Biarkan saja dulu untuk beberapa waktu," tutur Draco dengan suaranya yang lembut. Hati Harry seolah mencair mendengar suara remaja tesebut. Ia semakin erat menggenggam tangan Draco.
"Kau benar, Dray. Memang sebaiknya aku mendiamkan Ron dulu. Terima kasih banyak untuk saranmu."
"Never mind. What a friend for? Oh iya, Daddy berpesan padaku agar aku menyampaikan padamu bahwa ia memintamu untuk selalu memakai Jubah Gaib setiap kau akan ke kamarku. Peristiwa Piala Api itu membuat kita semua harus lebih waspada. Akan sangat berbahaya jika ada orang lain yang mengetahui keberadaanku di sini, apalagi jika mereka tahu kau ada bersamaku, Harry. Kita berdua sama-sama dalam bahaya besar jika hal itu sampai terjadi," tutur Draco sambil tetap bermain-main dengan rambut hitam Harry yang berantakan itu dengan tangan kirinya.
Harry beringsut bangun dari posisi berbaringnya dan duduk di atas ranjang dengan posisi berhadapan dengan Draco. Digenggamnya kedua belah tangan remaja yang merupakan putra baptis dari Guru Ramuannya itu. Matanya menatap lurus ke dalam bola mata kelabu remaja tersebut. "Maafkan aku yang tidak berpikir sejauh itu, Dray. Aku begitu egois dengan hanya memikirkan diriku sendiri dan melupakan keselamatanmu," ucap Harry, pelan.
"Kau tidak perlu bilang begitu, Ry. Keberadaanku di sini sebenarnya sudah berbahaya jauh sebelum kau terpilih untuk menjadi peserta di turnamen itu. Tak usah terlalu kau pikirkan, ya?" balas Draco seraya tersenyum lebar.
Kedua remaja tersebut begitu larut dalam perbincangan sehingga tidak menyadari sosok Albus Dumbledore yang berjalan perlahan menuju ke arah mereka berdua. Bahkan Draco yang memiliki kemampuan mengenali seseorang berdasarkan aura sihir itu seolah melupakan kemampuannya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa ayah angkatnya sedang berdiri dengan jarak tidak begitu jauh dari mereka berdua.
Albus terbatuk kecil, seolah sedang berusaha menjernihkan tenggorokannya ketika jarak antara ia dan ranjang putra angkatnya tinggal selangkah. Suara yang keluar dari tenggorokannya sontak membuat kedua remaja yang berada di atas ranjang itu terkejut. Wajah Draco bersemu merah ketika melihat ayah angkatnya memergokinya sedang berduaan di atas ranjang bersama Harry, dimana Harry sedang memegangi kedua lengannya. Dengan segera ia melepas tangan Harry dan beringsut dari ranjang, menyambut lelaki tua yang selalu memakai kacamata bulan sabit itu. Harry sendiri merasakan pipinya memanas. Ia turut turun dari pembaringan, dan berdiri di samping Draco dengan kepala menunduk.
"Daddy…," suara remaja berparas rupawan itu seolah tersangkut di tenggorokannya. Ia menghamburkan diri ke dalam pelukan ayah angkatnya dan membenamkan wajahnya di dada lelaki tua itu. Albus hanya tersenyum bijak sambil balas memeluk tubuh putra angkatnya itu. Penyihir beraliran putih itu turut memberikan senyumannya pada Harry yang baru mengangkat kepalanya ketika Albus menyapanya. Ia memaklumi jika benih-benih rasa suka mulai tumbuh di hati Harry terhadap putranya itu. Dan ia sama sekali tidak akan melarang jika ternyata Harry jatuh cinta kepada putranya, meskipun itu berarti remaja tampan tersebut harus berhadapan dengan dirinya, Lucius bahkan Severus untuk menjelaskan keseriusannya dalam mengikat putra mereka itu. Meskipun begitu, Albus juga menyadari bahwa putranya tidak akan sembarangan menambatkan hatinya kepada seseorang, sebab sebagai seseorang yang memiliki darah Veela dan bangsa Elf di dalam tubuhnya, putra angkatnya itu telah ditakdirkan untuk memiliki seorang mate. Dan seandainya Harry adalah mate putranya, maka mereka akan menjadi pasangan yang sangat serasi.
"Professor, a-aku minta maaf. Aku bisa menjelaskan…," Albus mengangkat sebelah tangannya ketika Harry berusaha untuk menjelaskan sesuatu padanya. Remaja berusia empat belas tahun itu segera membungkam suaranya ketika melihat isyarat tangan itu. Albus membimbing putra angkatnya dan Harry untuk kembali duduk di atas ranjang berukuran besar itu. Hanya saja, kali ini Draco duduk di atas pangkuan ayahnya, sambil masih menyembunyikan wajahnya di dalam dekapan Albus.
"Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa padaku, Harry. Aku sama sekali tidak marah padamu, ataupun pada putraku. Aku menyadari bahwa kejadian akhir-akhir ini sangat mengganggu pikiranmu. Kedatanganku ke sini hanya untuk menyampaikan sebuah berita baik untuk kalian berdua," papar Albus. Draco mendongakkan wajah, menatap ayah angkatnya dengan rasa penasaran. Albus menganggukkan kepala, dan mengelus rambut pirang putranya itu.
"Berita baik apakah itu, Daddy?" tanya Draco lembut sambil bermain-main dengan jenggot putih keperakan milik sang ayah.
"Kau masih ingat dengan pesta dansa di malam Natal nanti, Son?" Draco mengangguk. "Daddy telah berbicara dengan ayah baptis juga pamanmu, dan Daddy memutuskan untuk mengijinkanmu pergi ke acara pesta dansa itu bersama Harry. Hanya saja, kau harus berpura-pura menjadi keponakan Madam Maxime. Kau mengenalnya, kan? Perempuan bertubuh besar yang kau lihat ketika delegasi dari Beauxbatons tiba di sini?" pertanyaan itu tak hanya membuat Draco yang tersentak, namun juga Harry yang duduk tak jauh darinya. Draco akhirnya hanya meringis sambil kembali menyembunyikan wajahnya di dada sang ayah.
"Maafkan aku, Daddy. Aku memang salah telah keluar dari kamar ini tanpa meminta ijin darimu. Aku berjanji untuk tidak akan mengulanginya lagi," Albus menepuk-nepuk punggung putranya itu. Ia lalu menundukkan wajahnya untuk menciumi kening putra angkat yang sangat disayanginya itu.
"Daddy memaafkanmu kali ini, Son. Kau juga, Harry. Untung saja ayah baptismu tidak mengetahui hal ini. Tapi sudahlah, lupakan masalah itu. Dan jangan mengulanginya kembali. Daddy telah berbicara dengan Madam Maxime, dan ia setuju untuk mengakui bahwa dirimu adalah keponakannya dari Perancis yang baru saja tiba dan tidak akan lama berada di Hogwarts. Dengan kemampuanmu berbahasa Perancis, Daddy yakin rencana ini akan berjalan mulus. Itu artinya, untuk beberapa waktu kau bisa keluar dari kamar ini. Bukankah itu adalah kabar bagus untuk kalian berdua, hemmm?" papar Albus yang membuat senyuman manis merekah dari bibir putra angkatnya. Remaja itu memeluk ayah angkatnya dengan erat setelah sebelumnya mendaratkan ciuman masing-masing di pipi kiri dan kanan lelaki tua itu hingga membuat sang ayah terkekeh. Harry yang melihat kemanjaan Draco turut tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya, sebagai ungkapan terima kasihnya atas ijin dari Kepala Sekolahnya itu.
"You're the best, Daddy," bisik Draco pada ayah angkatnya itu. Ia lalu membalikkan tubuhnya dan menatap Harry yang saat itu juga tengah memandanginya. Harry bisa melihat binar-binar bahagia terpancar dari sepasang mata kelabu di hadapannya itu. Perasaan Harry yang sebelumnya masih kesal karena teman-temannya mencemoohnya pada akhirnya berubah menjadi rasa bahagia yang susah diungkapkan melihat kebahagiaan remaja berambut pirang itu. Sebuah senyuman tulus terlihat mekar di sudut bibir Harry yang langsung disambut dengan senyuman manis dari remaja berkulit pucat itu. Remaja yang diam-diam telah memikat hatinya tanpa ia sadari.
-ooo0ooo-
Aula Besar yang berukuran sangat luas tampak megah dan penuh dengan hiasan pada malam Natal. Pita-pita warna-warni menggantung di setiap langit-langit ruangan yang seakan tembus pandang, sehingga seolah-olah menyajikan pemandangan langit malam dengan ribuan bintang yang berkerlipan. Bunga-bunga beraneka warna dan aroma menghiasi setiap sudut ruangan yang ada. Setelah didaulat untuk menjadi tempat perjamuan makan malam sekaligus pesta dansa, peri-peri rumah yang menghuni Hogwarts bekerja keras untuk menghiasi ruangan yang luas itu seindah mungkin. Sebuah pohon Natal berukuran besar dengan hiasan begitu indah tampak berdiri menjulang tinggi tak jauh dari pintu masuk menuju ruangan tersebut, tepatnya di samping kiri sebuah perapian besar yang menyala dengan api sedang. Meja-meja besar yang disediakan untuk keperluan makan malam seluruh murid Hogwarts, staf pengajar dan para tamu tampak dipenuhi aneka makanan yang menggugah selera. Sebuah kue cokelat bertingkat tujuh dalam ukuran besar yang mampu membuat air liur menetes hanya dengan memandanginya saja tampak berdiri kokoh di tepian meja besar di sudut ruangan.
Harry yang telah sejak beberapa waktu lalu berdiri di salah satu sisi anak tangga yang menuju ke Aula Besar tampak gelisah. Beberapa kali ia terlihat membetulkan posisi dasi yang menjadi padanan setelan jas resmi yang ia gunakan untuk membalut tubuh atletisnya, ataupun membenahi posisi jubah peninggalan ayahnya yang ia kenakan saat ini. Pandangannya merayapi raut-raut bahagia dari murid-murid lain yang mulai memasuki Aula Besar bersama pasangan mereka masing-masing. Kemeriahan Malam Natal dan pesta dansa seolah membuat semua orang melupakan peristiwa munculnya nama Harry dari dalam Piala Api. Bahkan Ron saja sudah mulai kembali berbicara pada Harry setelah sehari sebelumnya meminta maaf kepada remaja berkacamata tersebut.
Tak lama setelah Fleur Delacour, sang juara yang cantik dan mempesona dari Beauxbatons bersama pasangan dansanya memasuki Aula Besar, Cedrig Diggory tampak berjalan perlahan melewati Harry dengan menggandeng Cho Chang, Seeker cantik dari asrama Ravenclaw yang pernah menarik hatinya. Harry menganggukkan kepalanya kepada kedua orang tersebut sambil memuji keserasian pasangan itu di dalam hati. Di dalam balutan jasnya, Cedrig terlihat begitu tampan. Begitu pula dengan Cho, dalam balutan gaun Shanghai merah marun yang ia gunakan, gadis Asia yang memiliki rambut hitam lurus itu terlihat semakin cantik.
Remaja berkacamata itu kembali menganggukkan kepala ketika Viktor Krum, juara dari Durmstrang berdiri tepat di sampingnya tanpa pasangan. Walaupun begitu, dari posisinya yang berdiri di sisi anak tangga sama seperti Harry, remaja itu yakin bahwa Viktor juga sedang menunggu pasangannya. Tak ada tegur sapa di antara mereka selain isyarat tubuh yang menyiratkan basa-basi singkat. Harry yang penasaran akan pasangan dansa Viktor Krum akhirnya menemukan jawabannya ketika seorang gadis cantik dalam balutan gaun satin berwarna merah jambu yang disusun bertingkat dengan belahan dada sedikit rendah tampak berdiri di atas anak tangga tertinggi yang menuju ke Aula Besar. Gadis yang mengenakan gaun yang menutupi mata kakinya itu menggunakan sepatu dengan warna senada. Rambutnya tampak disanggul sebagian lalu sisanya dibiarkan tergerai melewati pundak kanannya yang terbuka sehingga memperlihatkan leher jenjangnya yang mengundang decak kagum hampir semua mata yang melihatnya. Dan Harry membutuhkan beberapa saat untuk menyadari bahwa gadis cantik yang perlahan-lahan menuruni anak tangga dalam gerakan yang anggun dan segera menyambut uluran tangan Seeker terkenal dari Bulgaria itu tak lain adalah Hermione Granger, sahabat baiknya sendiri !
Hermione tampak memberikan senyuman manisnya ketika ia berjalan melewati Harry yang hanya mampu terpana melihat penampilan gadis penyihir keturunan muggle itu yang begitu berbeda dari biasanya. Harry pada akhirnya turut memberikan senyum canggungnya kepada gadis itu dan kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, hingga pandangannya bertemu di satu titik dengan sorot mata Ron yang tampak terluka. Harry sedikit terkejut melihat ekspresi sahabatnya itu, namun mengurungkan niatnya untuk menemui Ron ketika dilihatnya sahabatnya yang berambut merah itu membalikkan badan, dan memasuki Aula Besar bersama Padma Patil.
Harry yang berjanji untuk menunggu kedatangan Draco yang menjadi pasangan dansanya di sisi anak tangga itu akhirnya dengan resah mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Pandangannya lurus ke arah Aula Besar yang mulai dipenuhi murid-murid Hogwarts dan para tamu dari dua sekolah sihir lainnya. Sekitar lima menit remaja berambut hitam itu duduk, ia mendengar suara-suara berbisik dan decak kekaguman yang kembali terdengar di belakangnya. Harry akhirnya memutuskan untuk berdiri dan mengikuti tatapan semua orang yang tampak terperangah dan memusatkan perhatian mereka ke anak tangga teratas.
"Astaga! Siapa dia? Oh, Merlin, dia begitu mempesona!"
"Sepertinya dia bukan berasal dari Hogwarts. Aku belum pernah melihatnya sebelum ini."
"Betul-betul rupawan. Lihat rambutnya yang pirang itu…!"
"Tatapannya membuat jantungku seakan ingin berhenti berdetak. Demi Merlin, aku belum pernah melihat seseorang dengan tatapan yang membius seperti itu!"
"Siapa yang menjadi pasangan dansanya? Aku sama sekali tak keberatan jika ia menjadi pasanganku."
Apa yang Harry lihat membuatnya seolah mengalami kesulitan bernapas untuk sesaat. Di puncak anak tangga, dalam balutan jubah sutera panjang berwarna hijau muda, Draco, sang putra angkat Kepala Sekolah itu tampak berdiri anggun dengan senyuman manis menghiasi bibirnya yang tipis. Di balik jubah tipisnya, remaja berusia dua belas tahun itu mengenakan pakaian khas bangsa Elf berbahan sama, namun dengan warna yang lebih tua. Rambutnya yang pirang dan mencapai pinggang dibiarkan lepas tergerai dan tampak berayun indah setiap kali ia menggerakkan sepasang kakinya yang jenjang. Sebuah kalung tipis yang tersusun dari batu-batuan langka yang berkilauan dengan liontin berupa lonceng kecil yang menimbulkan suara indah tampak tersemat di atas rambut remaja berparas elok tersebut. Liontin kecil itu jatuh tepat di atas keningnya. Keindahan paras Draco terlihat semakin nyata dalam balutan pakaian yang begitu sempurna memetakan tubuh indahnya. Kulitnya yang putih pucat menyatu dalam keserasian warna yang ia padukan. Aroma vanilla yang menyebar dari tubuhnya merasuk ke dalam setiap indera penciuman orang-orang yang berdiri di sekelilingnya. Sorot matanya yang berwarna kelabu terlihat begitu lembut hingga membuat semua mata seakan tak ingin mengalihkan pandangan mereka dari remaja yang memang memiliki darah bangsa Elf di dalam tubuhnya itu.
Draco mengayunkan langkahnya perlahan, menuruni satu demi satu anak tangga yang menuju ke Aula Besar dan lonceng kecil yang bertengger di atas kepalanya berayun perlahan, memperdengarkan musik terindah yang pernah Harry dengar seumur hidupnya. Tangannya terjulur ke depan, menyambut uluran tangan Harry yang menunggunya ketika ia mencapai anak tangga terbawah. Harry menarik punggung tangan remaja itu, lalu mendekatkannya ke bibirnya. Perlahan ia menundukkan kepala dan menciumi punggung tangan remaja berambut pirang itu. Senyuman manis tersungging dari bibirnya ketika ia menggandeng remaja itu untuk memasuki Aula Besar. Senyuman manis juga tampak menghiasi sudut bibir Draco ketika melihat ayah angkatnya menganggukkan kepalanya dari kejauhan. Bahkan lelaki tua itu tampak mengedipkan sebelah matanya pada putra angkatnya yang menjadi pusat perhatian malam itu. Sementara Severus Snape, ayah baptisnya terlihat mengangkat gelas wine-nya dari kejauhan, seolah memberikan ucapan selamat padanya. Draco yang membuat hampir setiap orang seolah berhenti berkedip dan bernapas untuk beberapa saat itu akhirnya tampak melenggang anggun, mengimbangi gerak langkah Harry yang berada di sisinya. Dan ketika pasangan juara terakhir itu telah memasuki ruangan, musikpun mulai mengalun perlahan memenuhi ruangan, pertanda pesta dansa telah dimulai.
Sebagai pembukaan, keempat juara beserta pasangannya diberi kehormatan untuk berdansa, di antara pasangan-pasangan lain yang membentuk lingkaran mengelilingi mereka. Sebelah tangan Harry tampak melingkar di pinggang ramping Draco. Mereka mengikuti pesta dansa itu dengan gerak yang sempurna, seirama dengan gerak ketiga pasangan lainnya. Napas Draco yang mengeluarkan keharuman memabukkan terasa hangat di leher Harry ketika remaja berkulit pucat itu tampak menyembunyikan wajahnya di dalam dekapan Harry. Aroma vanilla yang memancar dari tubuhnya seolah menyebar hingga ke setiap sudut ruangan, menghadirkan sensasi indah di hati setiap orang yang berada di ruangan tersebut.
"Kau terlihat begitu mempesona malam ini, Dray. Teramat sangat mempesona," puji Harry sambil berbisik di telinga Draco, di antara gerakan-gerakan dansa mereka yang menyatu dengan irama musik yang mengalun. Wajah Draco menyemburat merah dadu, dan ia semakin dalam menyembunyikan wajahnya di dada Harry. Remaja berambut pirang itu memang merasakan kalau sikap Harry terhadapnya kebelakangan ini sangat aneh. Ia sering memergoki Harry yang sedang memandanginya diam-diam jika mereka sedang berduaan di kamarnya. Harry yang cepat-cepat mengalihkan pandangannya dengan pipi merona jika kebetulan pandangan mata mereka bertemu tanpa sengaja. Hanya saja, Draco tidak ingin berpikiran macam-macam. Ia merasa perlu membicarakan hal itu dengan ayah angkatnya suatu saat nanti, namun saat ini ia memutuskan untuk menikmati kebebasan yang diberikan sang ayah dengan menjadi pasangan dansa yang baik untuk Harry, dan meresapi kehangatan yang dirasakannya ketika Harry mendekapnya erat.
Pesta dansa terus berlangsung. Setelah dansa pembukaan selesai, acara semakin meriah dengan masuknya pasangan-pasangan lain ke lantai dansa. Setelah melewati tujuh atau lebih gerakan dansa, beberapa peserta dansa mulai berganti pasangan masing-masing. Dalam satu kesempatan, Draco tampak dengan gerakan indah berdansa di dalam pelukan ayah angkatnya yang tampak membisikkan sesuatu di telinga remaja berambut pirang itu sehingga membuat tawa kecil terdengar dari bibir tipisnya. Untuk sesaat Draco menghentikan gerakannya lalu berjinjit dan balas membisikkan sesuatu di telinga sang ayah yang membuat senyuman sang Kepala Sekolah melebar. Tak lama ia kembali berada di dalam dekapan ayah angkatnya itu, dan kembali menggerakkan kakinya sesuai dengan musik yang mengalun.
Setelah menghabiskan satu lagu dengan berdansa bersama sang ayah, Draco tampak bergerak perlahan dalam pelukan ayah baptisnya, Severus Snape. Beberapa pasang mata tak mampu menyembunyikan raut keterkejutan mereka ketika melihat remaja berparas rupawan itu tampak tertawa-tawa riang di dalam dekapan Guru Ramuan itu. Tangan Severus tampak posesif mendekap putra baptis yang sangat ia sayangi itu. Harry yang berdiri tak jauh dari pasangan yang berbeda usia itu tampak tak mampu membendung perasaan cemburu yang merambat di relung hatinya melihat kedekatan kedua orang itu. Harry juga menyadari bahwa begitu banyak perempuan maupun lelaki yang berharap untuk berada pada posisi Snape saat ini. Siapa yang tak ingin menikmati pesta dansa dengan remaja berparas luar biasa itu? Harry berani bertaruh, bahwa mereka bahkan tak akan segan-segan untuk berduel demi mendapatkan kesempatan untuk berdansa dengan remaja tersebut.
Pada akhirnya, setelah melewati beberapa gerakan, Draco kembali ke pelukan Harry. Harry tersenyum bahagia melihat rona kebahagiaan yang terpancar dari sorot mata kelabu remaja yang menjadi pasangan dansanya itu. Harry yang sesungguhnya penasaran dengan hal yang dibisikkan Albus di telinga remaja itu memutuskan untuk tidak bertanya pada Draco. Ia memilih menikmati dansanya dengan remaja itu. Harry masih larut dalam pemikirannya di antara gerakan-gerakan dansa mereka ketika tiba-tiba merasakan sebuah tepukan kecil di pundaknya. Remaja berambut berantakan itu menghentikan gerakannya, lalu membalikkan tubuhnya dengan lengan melingkar di pundak Draco yang berdiri sejajar dengannya. Ia mendapati seseorang tengah berdiri di hadapannya dengan pandangan menatap tajam ke arah remaja berparas rupawan yang berada di sisinya itu.
"Princess?"
bersambung…
-ooo0ooo-
Catatan Penulis:
Kembaliii, berjalan tertatih untuk menghadirkan chapter ini (halah). Semoga tidak mengecewakan. Selamat membaca, dan sekali lagi, jangan sungkan meninggalkan jejak yaaa... Ehm, mohon bimbingannya juga...
