Sorry for the long wait... Beware! Cerita ini makin lama makin parah ke-abal-annya~!

Enjoy! ^^


Annasthacy Chashyme (c) 2010

Pandora Hearts (c) Mochizuki Jun

A Pandora Hearts FanFiction

Supernatural/Mystery, T

Warning: Gaje, OOC parah.

RENAISSANCE


Jumat, 13 Oktober pukul 23.21

Oz, Jack dan Elliot berkumpul di rumah keluarga Rainsworth, rumah Sharon. Neneknya menyuruh mereka berkumpul. Mereka semua duduk dengan sikap rikuh karena harus berhadapan langsung dengan direktur Pandora Gakuen. Selain itu mereka juga keheranan, apa gerangan yang membuat mereka dipanggil malam-malam begini? Apakah ada masalah yang sangat serius?

Cheryl, nenek Sharon, memasuki ruang tamu tempat ketiga pemuda itu menunggu, ia duduk di kursi roda yang didorong oleh Sharon. Gadis belia itu menunjukkan ekspresi khawatir sekaligus bingung, sehingga Oz bisa menyimpulkan bahwa Sharon sendiri belum tahu apa yang terjadi.

"Selamat malam, Oz, Jack, dan Elliot," sapa Cheryl ramah. "Maaf memanggil kalian datang setelah larut seperti ini..."

"Bukan masalah, Cheryl-sama," balas Oz. "Boleh kami tahu, ada masalah apa sampai-sampai kami dipanggil dengan penuh buru-buru begini?"

Cheryl tersenyum pahit. Dengan satu lambaian tangan, pintu di seberang ruangan terbuka, menampilkan dua sosok lelaki dewasa. Yang satu berambut hitam kelam dan iris emas, sementara satunya lagi berkacamata dengan rambut cokelat pendek. Keduanya berjalan mendekat, dan Elliot menyadari lambang yang mereka kenakan di pakaian mereka.

"Pasak perak yang dililit ular...?" gumamnya. "Itu kan..."

"Ah, jadi kamu sudah pernah mendengarnya?" tanya Cheryl.

Elliot mengangguk. "Ayahku kadang menyebut lambang itu sebagai lambang khusus... Tapi aku sendiri tidak mengerti maksudnya."

"Kalau begitu kami akan menjelaskan," kata lelaki yang berkacamata. "Lambang ini adalah lambang bagi anggota Crimson Shell, organisasi khusus yang bertugas untuk menjaga keamanan dunia... Dari hal-hal gaib."

"Hal gaib?" Sharon setengah berseru.

"Benar," si rambut hitam menjawab. "Meskipun apa yang orang awam sebut sebagai hal gaib, sebenarnya adalah makhluk dari Abyss." Dia berhenti sebentar untuk mengambil napas. "Sementara Abyss adalah dimensi penuh kegelapan... Abyss terhubung dengan dimensi ini hanya saat bulan pertama. Jadi kami biasanya hanya beraksi di malam bulan purnama."

Jack mengangkat tangan. "Oke, oke... Kami mengerti. Tapi, apa hubungannya Crimson Shell, Abyss, dan lain-lain ini dengan kami?"

"Liam, Gilbert, biar aku yang menjelaskan dari sini," kata Cheryl lembut. Mereka berdua hanya mengangguk patuh, lalu mundur beberapa langkah dengan hormat. "Anak-anak," lanjut Cheryl. "Insiden yang sangat menggemparkan belakangan ini... Menarik perhatian Crimson Shell. Mereka menginspeksi sekolah kemarin, dan hasilnya sungguh mengejutkan."

Sharon dan ketiga kawannya menaikkan sebelah alis.

Wanita tua itu mengambil napas panjang sebelum melanjutkan. "Dari kelas kalian, terdapat jejak Abyss yang sangat kuat. Bisa dipastikan seseorang dari kelas kalian adalah salah satu makhluk Abyss, dan kemungkinan besar merupakan dalang dari insiden tersebut."

"Lebih tepatnya lagi, kami tertarik karena menerima sepucuk surat dari seorang murid Pandora Gakuen miggu lalu," potong Gilbert, si rambut hitam. Dia mengacungkan surat yang dimaksud. "Murid ini menyatakan kecurigaannya akan eksistensi seorang makhluk dari Abyss di sekolah. Kami tidak tahu dari mana dia tahu masalah Abyss, tapi yang pasti ia bisa menyimpulkan siapa – atau apa – yang menyebabkan insiden ini."

"Murid... sekolah kami?" tanya Oz kebingungan.

"Murid yang mengirim surat ini berhasil menyimpulkan modus operandi si pelaku... Juga identitasnya. Dan kalau dipikir-pikir, sebenarnya semua sangat mudah," ujar Liam. "Coba pikirkan. Kapan insiden murid menghilang ini dimulai?"

"Bulan lalu," jawab Oz dan Jack serentak.

"Benar. Padahal sebelumnya, tidak ada masalah apa pun di Pandora Gakuen. Itu artinya pasti ada 'sesuatu' yang berbeda sejak bulan lalu."

Keempat anak di ruangan itu mengerutkan kening. "Rasanya... tidak ada kok ..." gumam Elliot.

"Kalau begitu, mungkin sedikit lebih lama lagi...," pancing Liam terus.

"Tunggu dulu! Oke, mungkin benar ada jejak Abyss di kelas kami, tapi bukan berarti penghuni kelas kami yang melakukannya kan? Apa bukti lainnya?" protes Jack keras.

Liam dan Gilbert saling bertukar pandang. "Pandora Gakuen adalah sekolah elite... Tidak sembarang orang bisa masuk. Sementara pelakunya bisa dengan mudah memasuki dan berkeliaran di dalam sekolah. Itu artinya ia sudah familier dengan sekolah tersebut kan?" kata Liam.

Sebelum Jack bisa menyuarakan protesnya lebih lanjut, Gilbert segera menyambung. "Belum lagi, ketiga korban bukanlah tipe orang yang mudah diajak pergi bersama orang asing. Pasti seseorang yang memang sudah mereka kenal baik. Apakah kalian, sebagai orang-orang terdekat mereka, mau menyangkal hal ini?"

Oz, Jack, Elliot dan Sharon terdiam. "...M–memang masuk akal."

"Lalu...," suara Sharon tak lebih dari bisikan. "Siapa?"

Oz meletakkan jari di dagu. "Orang yang 'berbeda' sejak – paling tidak – bulan lalu..."

Kali ini Elliot yang menyambung. "Dan akrab dengan ketiga korban..."

"Seseorang yang berbeda... Bukankah cuma 'dia'?" gumam Jack.

Dan serentak wajah mereka memucat. Mereka menggeleng, menolak untuk mengakuinya. Tapi mau menyangkal bagaimana? Karena memang seluruh bukti mengarah padanya!

"Lama juga kalian menangkap maksud kami," Gilbert mendengus.

"Karena aku seperti lupa... akan kehadirannya," ujar Oz, memegangi kepalanya.

Sharon mengangguk. "Padahal tiap hari kami bertemu... Tapi begitu berpisah, aku seolah lupa sama sekali kalau dia 'ada'..."

Liam melepas kacamatanya, dan menggosoknya dengan suara keras menggunakan saputangan. "Itu memang wajar, karena makhluk Abyss tidak seharusnya ada di dunia ini. Kalian hanya sadar keberadaannya saat ia ada di depan hidung kalian. Tapi jika tidak, eksistensinya akan terhapus sedikit demi sedikit dari memori kalian..."

Sharon terus-terusan memijiti dahinya yang terasa sakit karena dipaksa mengingat seseorang yang tidak seharusnya ia ingat. Ia bangkit dari sofa, bermaksud membasuh muka di wastafel yang terletak di luar ruangan. Saat itulah ia baru sadar bahwa di kantong bajunya ada selembar kertas yang diremas sehingga tidak berbentuk. Awalnya ia mengira kertas itu hanya sampah, sampai ia melihat sepotong tulisan di atas kertas itu. Gadis itu pun membuka, meluruskan kertas tersebut agar bisa membaca tulisannya.

Dan ia memekik.

Semua orang terkejut, Liam bahkan sampai menjatuhkan kacamata yang sedari tadi dipegangnya. Perhatian mereka langsung teralih pada Sharon. Gadis itu memandang kertas di tangannya seperti melihat hantu. Ketiga temannya merebut kertas itu, dan mereka ikut-ikutan terbelalak.

"...L–Liam? Si–siapa murid yang mengirimkan surat itu?" tanya Oz terbata.

Liam mengangkat alisnya, dan menyebutkan sebuah nama. Nama yang amat mereka kenal. "Xerxes Break."

Sontak saja keempat anak itu berdiri, berlomba ke arah jendela, lalu melihat keluar. Dan mereka semua bisa merasakan hati mereka mencelos. Malam itu cerah, bahkan tidak ada setitik awan pun di langit. Dan bulan bersinar terang. Bulan purnama.

"Nenek! Kami pergi ke sekolah dulu!" Sharon berkata pada Cheryl yang terkaget-kaget, lalu berlari menyusul Oz, Jack dan Elliot yang bahkan tidak repot-repot pamit. Kertas yang tadi mereka pegang terjatuh ke lantai. Dengan penuh keheranan Gilbert memungutnya, lalu membacanya.

Bulan purnama, saat paling tepat untuk berburu.

Di mana kegelapan menampakkan diri,

serta mencari jalan kembali.

Kelinci memang paling mudah untuk dipancing,

kau hanya perlu memberinya daging.

Aku tahu, aku mengerti.

Bahwa seekor kelinci pun bisa menggigit

jika diganggu

Maka sebelum darahku mengering,

biarkanlah aku memaksanya masuk dalam kurung.

Agar keelokannya yang menipu

tak lagi membuat kalian tersedu

X Break.


Ya ampun... Puisi yang gaje sekali! Dan kehadiran Liam serta Gilbert hanya cameo di sini, sorry to disappoint you! :3

Haha, terungkap sudah siapa pelakunya, bukan? Siapa bisa menjawab~?

Reviews, please?

Thanks! ^^