Immortal Life (Sekuel My Mortal Mate)
Disclaimer : Naruto belong to Masashi Kishimoto. But This Story is Mine!
Pair : Uchiha Sasuke x Haruno Sakura (Slight YahikoSaku)
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Tragedy, Mistery
Rated : T+
Warning! : Typo, Gaje, OOC, dan Sebangsanya! Diharapkan membaca fic saya yang berjudul 'My Mortal Mate' terlebih dahulu!
-Happy Reading! Dilarang mengcopas tanpa seijin author-
.
.
Chapter 4
.
.
"Uchiha Sakura. Namanya adalah Uchiha Sakura." Ucap Sasuke tegas memotong kalimat Sakura.
Sakura menyikut pelan lengan Sasuke. Tampak tersipu malu dengan ucapan Sasuke barusan. Naruto dan Hinata tersenyum melihat kemesraan kedua pasangan itu.
"Ehm. Baiklah, aku Haru- maksudku Uchiha Sakura. Kau bisa memanggilku Sakura." Lanjut Sakura menyelesaikan acara perkenalan dirinya.
"Salam kenal Sakura-chan. Selamat datang di pesta kami." Sakura tersenyum ramah menanggapi ucapan Hinata.
"Ayo kita berkeliling Sakura-chan. Aku akan memperkenalkanmu pada teman-temanku." Tawar Hinata pada Sakura. Sakura tersenyum lebar mendengar ajakan Hinata. Segera saja kedua gadis manis ini pergi menjauh dari kedua sahabat berbeda bangsa yang tengah menatap mereka dengan senyuman lembut.
"Ah! Hime!." Panggil Sasuke pada gadisnya yang hendak berjalan semakin jauh dari sisinya. Sakura berbalik dan berjalan menghampiri Sasuke.
Cup
Sebuah kecupan Sasuke berikan untuk gadisnya. Naruto yang melihat aksi sahabatnya itu, menyeringai nakal sembari memandang Sakura.
"Sa-sasuke-kun! Ini didepan umum!." Sungut Sakura sebal melihat tingkah frontal Sasuke. Gadis itu memalingkan wajahnya saat melihat seringai nakal Naruto.
"Hahaha tidak usah malu begitu Sakura-chan. Aku sudah biasa melihatnya kok." Canda Naruto dengan cengiran lebarnya. Sasuke yang mendengar perkataan Naruto hanya memutar bola matanya bosan.
"Kau ternyata agresif sekali ya Teme! Hahaha!." Goda Naruto pada Sasuke. Naruto adalah salah satu orang yang mengetahui sisi gelap Sasuke. Menurutnya, Sasuke yang termakan sisi gelapnya bisa menjadi sangat agresif. Bahkan lebih agresif dari sensei mesumnya itu.
"Aku pergi Sasuke-kun." Ucap Sakura buru-buru sebelum dirinya terlibat dalam obrolan nista kedua pemuda ini. Telinganya memanas mendengar kata-kata Naruto yang sungguh blak-blakan itu.
"Tunggu dulu Hime. Kau tidak boleh berdekatan dengan lelaki manapapun yang kau temui ditempat ini. Apalagi dengan si merah Sabaku itu. Jangan jauh-jauh dari Hinata. Kau mengerti?." Perintah Sasuke tegas. Sakura sebenarnya ingin memprotes kebijakan pasangannya itu. Tapi ia tahu, sekeras apapun ia berusaha, perintah Sasuke adalah mutlak.
"Baiklah Sasuke-kun."
"Jangan melanggarnya Sakura-chan. Si Teme ini tipe pencemburu yang ganas." Celetuk Naruto memperingati Sakura. Sementara Sakura, hanya terbengong mendengar celetukan Naruto. 'Ganas apanya?.' Batinnya polos.
"Sakura-chan!." Panggil Hinata dari jauh. Sakura segera berlari kecil menghampiri teman barunya itu.
"Maaf membuatmu menunggu Hinata." Sesal Sakura. Hinata tersenyum lembut memaafkan. Gadis itu segera menarik lembut tangan Sakura untuk segera berjalan mengikuti langkahnya. Mereka berjalan menghampiri sekelompok gadis yang tampak sedang berbincang-bincang. Salah satu gadis berambut pirang menyadari kedatangan Hinata.
"Hinata-chan!." Sapa gadis pirang itu dengan senyuman lebar. Tangannya melambai semangat memberi isyarat pada kedua gadis ini untuk bergabung dalam pembicaraan mereka.
"Temari-chan. Aku membawa teman baru." Ucap Hinata pelan. Gadis pirang itu menengokkan kepalanya kesamping kiri Hinata. Ia tersenyum ramah melihat Sakura yang tengah tersenyum kikuk itu.
"Teman-teman, Hinata membawa teman baru!." Soraknya pada gadis-gadis disekitarnya. Seketika gadis-gadis itu mengerubungi Sakura dan Hinata. Semua gadis di pesta ini tersenyum ramah menyambut Sakura.
"Perkenalkan. Namanya Uchiha Sakura. Ia datang bersama Sasuke-san." Jelas Hinata pada teman-temannya. Sakura tersipu malu mendengar Hinata memperkenalkan dirinya dengan nama 'Uchiha Sakura.'
"Yo-Yoroshiku minna." Sakura berkata dengan gugupnya. Seorang gadis bercepol dua tampak berjalan mendekat dan merangkulnya akrab.
"Selamat datang di kelompok kami Sakura-chan! Aku Tenten! Senang bisa berkenalan denganmu!" Ucap gadis itu bersemangat. Sakura perlahan menampilkan senyum tulusnya melihat keantusiasan gadis-gadis di pesta ini.
"Ah Sakura-chan adalah seorang Uchiha. Itu berarti dia adalah seorang vampire. Hei Hinata-chan! Kau mendapatkan teman baru yang sebangsa denganmu." Celetuk salah seorang gadis dengan surai merahnya. Gadis itu memiliki mata senada dengan rambutnya yang tampak berkilau dimalam hari.
"Benar Karin-chan. Jarang-jarang aku bisa menemukan teman seorang vampire dihutan ini." Ucap Hinata dengan wajah berseri-seri. Sakura mengernyit heran mendengar percakapan kedua gadis itu.
"Etoo, apa maksud Hinata-chan dengan teman sebangsa?." Tanya Sakura dengan raut wajah yang mengundang kikikan geli dari gadis-gadis disekitarnya.
"Ah! Sakura-chan kau manis sekalii~ aku jadi gemas melihatmu." Puji Temari. Tangannya seolah siap untuk mencubit pipi Sakura. Gadis-gadis lain tertawa riang mendengar pujian Temari.
"Hihihi Gaara saja sampai terpesona dibuatnya." Goda salah satu gadis pirang disana. Temari yang mendengar nama adiknya disebut segera saja bertanya meminta penjelasan.
"Gaara terpesona? Ah syukurlah kukira adikku adalah penyuka sesama jenis!." Canda Temari menanggapi godaan temannya itu. Seketika tawa gadis- gadis itu meledak mendengar candaan Temari.
Hinata tertawa kecil mendengarnya. Sementara Sakura tertunduk malu saat ini.
"Tapi.. Gaara salah gadis." Gumam Temari sedih. Ia sungguh menyayangkan pilihan Gaara. Jika Sakura bukan pasangan Uchiha, gadis itu pasti sudah mendukung adiknya. Tapi kali ini sasaran Gaara kurang tepat. Ia bisa menghancurkan hubungan baik antara kaum siluman rubah dan kaum vampire Uchiha.
"Ah jangan bersedih Temari-chan. Aku yakin Gaara bisa mengendalikan perasaanya." Hibur Tenten. Temari perlahan kembali mengembangkan senyum lebarnya. Sakura masih saja menundukkan kepalanya. Sebersit rasa bersalah hinggap di hatinya saat melihat kesedihan yang terpancar di wajah Temari tadi.
"Sakura-chan, kau tak perlu merasa bersalah seperti itu. Cinta memang terkadang mengambil jalan yang salah. Tetapi cinta itu sendiri tak bisa disalahkan." Ucapan bijak Temari perlahan memudarkan perasaan bersalah di hati Sakura.
"Arigatou Temari-chan." Sakura terenyum tulus menanggapi kata-kata bijak Temari. Hinata tersenyum lega melihat betapa baiknya teman-teman siluman rubahnya ini. Walaupun tingkah mereka agak bar-bar dan penuh emosi, tetapi Hinata sangat nyaman berada disekitar mereka. Gadis-gadis ini tak akan pernah membohongi satu sama lain. Itulah yang Hinata sukai dari mereka.
"Ne, ayo kita berkeliling lagi Sakura-chan." Ajak Hinata. Kedua gadis itupun segera berpamitan untuk melanjutkan acara mereka.
"Hinata-chan, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Jadi kau sebangsa denganku?." Ucap Sakura memecah keheningan. Kedua gadis ini berjalan beriringan mengitari tanah lapang tempat pesta ini berlangsung.
"Aku adalah seorang vampire Sakura-chan. Sama sepertimu. Dan Naruto-kun adalah mate-ku." Jelas Hinata pelan. Mata lavendernya memandang lembut Naruto yang tampak sedang bercengkrama dengan Sasuke. Sakura segera mengalihkan tatapannya mengikuti arah pandang Hinata.
"Mereka sangat kontras." Komentar Sakura melihat Sasuke dan Naruto. Hinata tertawa pelan mendengar komentar Sakura.
"Yah, kaum vampire dan siluman rubah sangat berbeda. Kaum vampire lebih pendiam dan misterius. Tetapi kaum siluman rubah sangat blak-blakan dan cenderung melibatkan emosi di setiap tindakannya. Mereka juga terkadang memiliki sifat licik. Tetapi.. perbedaan itulah yang menyatukan kita bukan?." Hinata berucap sembari menatap Sakura yang masih saja tersenyum memperhatikan kedua pemuda itu.
"Perbedaan jugalah yang membuat kita merasa sempurna." Lanjutnya lagi dengan pandangan mata menerawang jauh. Sakura hanya menganggukkan kepalanya setuju.
"Bagaimana bisa kau berada disini Hinata-chan?." Tanya Sakura mengalihkan atensi Hinata. Gadis lavender itu tersenyum.
"Sama seperti alasan Sasuke-san mengubahmu menjadi vampire." Sakura tersentak mendengar ucapan Hinata. Gadis lavender itu ternyata mengetahui masa lalunya.
"Kaum vampire tak akan bisa hidup tanpa mate masing-masing. Kami akan dengan setia menunggu reinkarnasi dari mate kami yang tak abadi. Sama seperti kisahmu dan Sasuke-san. Dulu Naruto-kun juga adalah seorang manusia biasa. Aku selalu menuggu reinkarnasinya dan sebisa mungkin mendekatinya. Dan akhirnya penantianku berakhir beberapa ratus tahun yang lalu saat aku mengetahui bahwa Naruto-kun merupakan anak dari seorang siluman rubah yang menikah dengan seorang manusia." Kenang Hinata. Sakura tersenyum lembut mendengarnya. Terbayang beberapa keeping kisah masa lalunya bersama Sasuke dulu.
"Aku… bahagia bertemu Sasuke-kun lagi." Gumam Sakura pelan. Hinata tersenyum tulus menanggapi gumaman Sakura. Dalam hati, gadis itupun mengumamkan hal yang sama.
Kedua gadis itupun terlarut dalam kenangan indah mereka. Hinata dan Sakura berjalan dengan anggunnya mengelilingi hutan ini. Aura mereka penuh cinta dan kasih sayang. Menciptakan getaran aneh pada setiap mahkluk yang dilewatinya. Tak terkecuali pada sang rubah merah yang sedari tadi mengekori kedua gadis –atau lebih tepatnya salah satu gadis itu.
.
.
.
"Teme.."
"Teme.."
"Teme.."
"Diamlah Dobe!."
"Kau sedang apa Teme?."
"Menurutmu?"
"Memikirkan misimu ."
"Tidak. Aku malas menjalankan misi."
Naruto terkejut mendengar pengakuan Sasuke. Kedua pemuda yang sedari tadi memandangi langit ini tampak saling berpandangan serius.
"Kau.. malas?." Ulang Naruto penuh keraguan. Ia tak menyangka teman karibnya ini akan menambahkan kata 'malas' dalam kamusnya.
"Hn." Gumam Sasuke sekenannya. Pemuda itu memejamkan mata sejenak dan menghembukan nafas pelan. Ia berdiri dari posisi duduknya dan berjalan menjauhi Naruto.
"Ayo kembali. Hinata dan Sakura sudah selesai berkeliling."
.
.
.
"Ne, terimakasih atas pestanya Hinata-chan, Naruto." Naruto menganggukkan kepalanya antusias menanggapi perkataan Sakura. Saat ini mereka semua sedang mengantar kepulangan Sasuke dan Sakura.
"Kau harus kesini lagi Sakura-chan!. Tapi jangan bawa-bawa Teme ya!." Seru Naruto mengabaikan tatapan maut Sasuke. Sakura hanya tersenyum manis melihat interaksi Sasuke dan Naruto.
"Ayo Sakura." Ucap Sasuke tak sabar melihat Sakura yang tampak akrab dengan para siluman rubah itu. Sementara Naruto hanya tersenyum geli melihat raut Sasuke yang tampak kesal karena terabaikan.
"Iya Sasuke-kun. Jaa ne minna." Para siluman rubah itu melambaikan tangannya antusias membalas perkataan Sakura. Kedua vampire itupun menghilang dalam kegelapan.
.
.
.
'Terimakasih Sakura-chan. Kau telah mengubah Teme dan membuatnya melupakan dendam bodohnya itu.'
.
.
.
.
CKLEK
DOR!
"ARGHH!" jeritan sarat akan rasa sakit menggema di gedung tua ini. Sepasang manusia tampak saling menatap tajam dengan darah mengucur dari tubuh salah satu manusia itu.
"Khh.. kau?!" geraman rendah penuh tanda bahaya mengacaukan keheningan yang terjadi. Seorang pemuda tampak menyeringai sembari memasukkan pistol peraknya.
"Itulah akibatnya jika kau berurusan denganku-
.
.
-vampire sialan."
.
.
.
TAP TAP TAP
KREEKKK
"Permisi Bos, ada surat penting untuk anda." Seorang pria bertubuh kekar penuh bekas luka sayatan tampak menggengam sebuah surat. Sang 'bos' membuka sebelah matanya dan memberi kode kepada anak buahnya agar meletakkan surat itu.
"Saya permisi bos." Ucap pria kekar itu patuh pada 'bos'nya. Sang 'bos' menegakkan posisi duduknya dan menyelipkan sebatang rokok disela-sela bibir tipisnya. Jemari kekarnya membuka perlahan surat berbalutkan amplop merah darah itu.
'Aku butuh bantuanmu. Datanglah ketempatku sore ini. Jangan kirim anak buahmu padaku.
U.S'
"Singkat sekali. Ck. Mendokusai."
.
.
.
.
Sepasang kaki berhenti didepan gerbang sebuah mansion tua yang berada di tengah-tengah hutan. Mata hitamnya nampak memandang bosan kearah pintu gerbang yang kini dibuka oleh seorang pelayan. Pelayan itu membungkuk hormat dan memberi isyarat kepada tamunya untuk mengikutinya.
Sesekali pria itu menguap bosan ditengah perjalanannya menuju bagian belakang mansion ini.
"Kau akan belajar menggunakannya hime."
"Siapa yang akan mengajariku?"
KREKK
"Permisi Uchiha-sama. Tuan Nara ingin bertemu dengan anda." Kedua mahkluk yang sedari tadi tampak sibuk kini mengalihkan atensinya kearah seorang pemuda yang berdiri malas diambang pintu. Sang pemuda yang disebut 'Uchiha-sama' menghampiri 'Tuan Nara' dan memberinya tepukan di bahu.
"Akhirnya kau datang Shika." Ucap pemuda Uchiha itu. Pemuda Nara itu tersenyum menyeringai membalas sapaan sang tuan rumah a.k.a Uchiha Sasuke.
"Jadi apa yang kau inginkan dariku Sasuke?" Pemuda Nara a.k.a Shikamaru mengalihkan pandangannya kearah seorang gadis yang tampak menggenggam sebuah pistol perak.
"Kupikir kau sudah tau alasanku memintamu kemari." Ucap Sasuke mengikuti arah pandang Shikamaru. Pandangan matanya melembut sejenak menatap gadisnya. Shikamaru memutar matanya bosan melihat gadis merah jambu yang kini tersenyum ramah kearahya.
"Aa. Jadi kau ingin aku mengajari gadis ini, hm?" Ucap Shikamaru mengalihkan pandangannya kearah rimbunan hutan disekelilingnya.
"Hn. Tak ada penolakan." Balas Sasuke menatap Shikamaru. Pemuda Nara itu menghela nafas panjang dan mengangguk menyetujui permintaan teman lamanya.
"Jadi kapan aku bisa memulainya?" tanya Shikamaru menatap Sasuke. Yang ditatap justru mengalihkan pandangannya kearah gadis cantik yang sedari tadi mengamati Shikamaru.
"Kau mau memulainya kapan Hime?" tanya Sasuke lembut. Sakura –gadis merah jambu itu tersenyum meyakinkan seraya berkata-
"Hari ini."
.
.
.
.
"Jadi kau teman lama Sasuke-kun?" suara merdu Sakura memecah keheningan. Shikamaru memandang malas kearah Sakura dan menganggukkan kepalanya pelan sebagai balasan.
"Jadi.. berapa umurmu?" Shikamaru menaikkan sebelah alisnya heran mendengar pertanyaan gadis merah jambu disampingnya ini.
"Umurku? Menurutmu berapa?" tanya Shikamaru balik. Sakura nampak berpikir sebelum menjawab dengan asal.
"Ratusan?" Shikamaru mendengus mendengar jawaban Sakura.
"Jadi kau pikir aku sebangsa denganmu hm? Aku ini manusia." Jelas Shikamaru. Sakura terkejut mendengarnya. Bagaimana..
"Aku monster hunter. Dan bangsamu termasuk dalam buruanku." Sakura seketika bergerak menjauh dari Shikamaru. Ia sontak merasa terancam saat Shikamaru menodongkan pistol kearahnya, dan-
.
.
DOR!
.
.
.
'Aku.. apa yang terjadi?' batin Sakura sesaat setelah suara letusan itu memasuki indra pendengarannya. Perlahan gadis itu membuka matanya dan menampilkan emerald indahnya. Perasaannya was-was saat tak menemukan Shikamaru didepannya.
"Keluar." Suara datar namun penuh ancaman milik Shikamaru memaksa Sakura untuk menolehkan kepalanya kebelakang. Tampak dari balik semak-semak seekor rubah muncul dengan ekspresi yang menyiratkan kewaspadaan.
'Mata itu…"
"Temari-chan!" panggilan Sakura sontak mengalihkan perhatian kedua mahkluk yang saling bertatapan itu. Rubah itu perlahan mengubah wujudnya menjadi seorang perempuan cantik dengan pakaian khasnya.
"Jadi rubah ini temanmu eh Sakura?" ucap Shikamaru sinis. Ia memandang tak suka kearah Temari. Sementara Sakura, ia memandang waspada kearah Shikamaru yang kini mulai mendekat kerahanya.
"Berhenti disitu!" pekik Sakura. Shikamaru memutar matanya bosan.
"Jadi kau mengira aku akan memangsamu? Kau salah nona. Kau memang buruanku, tetapi semua mahkluk yang memiliki hubungan dengan Uchiha tak termasuk kedalamnya." Ucap Shikamaru santai. Sakura bernafas lega mendengarnya. Namun rasa penasaran masih menghinggapinya.
"Hei Nanas! Kau hampir membunuhku!" geram gadis pirang yang kini berdiri dihadapan Sakura. Matanya memandang tajam kearah Shikamaru.
"Membunuh monster sepertimu adalah tugasku." Ucap Shikamaru santai. Ia tak menyadari bahwa ucapannya barusan telah menyulut amarah gadis pirang itu.
"Kau?!"
"Sudahlah Temari-chan. Ia hanya mencoba untuk menjalankan tugasnya. Lagipula apa yang kau lakukan disekitar sini?" Ucap Sakura menenangkan Temari. Gadis pirang itu mendengus mendengarnya.
"Ini termasuk kedalam wilayahku. Jadi bukan salahku berkeliaran di sekitar sini." Ucap Temari masih memandang tajam Shikamaru.
"Tunggu!" ucap Sakura saat melihat Shikamaru hendak berjalan meninggalkannya. Shikamaru berhenti dan menatap Sakura malas.
"Apa?" sahutnya.
"Bagaimana dengan la-"
"Lanjutkan saja besok. Aku malas." Sahut Shikamaru memotong kalimat Sakura. Pemuda itu perlahan menghilang dibalik rimbunnya pepohonan.
.
.
.
.
"Mana Sakura?" tatapan tajam langsung menyambut Shikamaru kala ia menginjakkan kaki di mansion Uchiha.
"Bersama dengan seekor rubah betina berambut pirang." Sahut Shikamaru malas. Sasuke mengernyit mendengarnya.
"Maksudmu Sabaku Temari?" ucap Sasuke. Shikamaru mengendikkan bahu mendengarnya.
"Jadi ia sekutu Naruto. Hampir saja aku membunuhnya." Gumam Shikamaru. Ia merasa sedikit bersalah terhadap gadis pirang itu.
"Tak heran kau jarang melihatnya. Ia baru tiba di hutan ini beberapa bulan yang lalu." Jelas Sasuke. Shikamaru hanya menganggukkan kepalanya malas.
"Hoammm.. aku pulang Sasuke." Ucap Shikamaru meninggalkan mansion Uchiha.
.
.
.
.
Sesosok pemuda tampak terdiam memandangi hamparan pepohonan dibawah sana. Netra ungunya tak terfokus pada arah matanya tertuju. Tampak kosong dan.. mati.
Whushh
Semilir angin seolah menyadarkannya. Netra itu tertutup, dan kembali terbuka menampilkan pantulan sosok lain di mata ungu miliknya.
"Kau.. meratapi nasibmu?" ujar suara feminim itu. Sosok itu tampak memandang lekat pemuda dihadapannya. Terpancar kekhawatiran dan rasa peduli dibalik kilau oranye mata indah itu.
"Apa yang kau lakukan disini Konan?" Yahiko tak menjawab. Netranya memandang dingin Konan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan." Tukas gadis itu. Manik oranyenya tak bisa lepas dari wajah Yahiko. Mata itu menelusuri setiap lekuk wajah pemuda tampan dihadapannya. Tangannya terangkat. Menyentuh lembut pipi Yahiko. Berharap perlakuannya sedikit membuat pemuda itu terbuka padanya.
"Aku hanya.. memikirkan adikku." Konan tersenyum, setidaknya Ia berhasil membuat pemuda ini terbuka padanya walau hanya sedikit.
"Kau mengkhawatirkannya?" Yahiko bergumam kecil menanggapi Konan. Ya, dirinya benar-benar megkhawatirkan adik tercintanya itu. Meski gadis itu telah membuat takdirnya menjadi seperti ini, ia tak akan pernah bisa membencinya.
"Kau mirip dengan Sasori." Yahiko memandang heran Konan yang berdiri disampingnya. 'Apa maksudnya menyamakanku dengan Sasori?'
"Sasori juga sangat menyayangi adiknya." Pandangan mata Konan menerawang jauh ke langit malam.
"Aku tak tahu ia memiliki adik." Konan mengendikkan bahunya menanggapi komentar Yahiko. 'Wajar saja ia tak mengetahuinya.'
"Ya itu sudah lama sekali. Adiknya sudah meninggal." Yahiko mengangguk paham. Tak ada sedikitpun niat untuk bertanya lebih lanjut lagi. Pandangannya kembali tertuju pada Konan kala gadis itu menepuk bahunya.
"Jangan khawatir. Kurasa Uchiha itu tak akan menyakiti adikmu." Perkataan Konan berhasil membuat perasaan Yahiko sedikit lega. Bagaimanapun juga, adiknya kini bersama dengan orang yang cukup kuat untuk melindunginya. Walaupun orang itu sendiri adalah musuhnya. Tak apa, asalkan saat ini Sakuranya aman. Soal rencananya untuk merebut Sakura kembali, akan ia laksanakan nanti.
'Aku akan merebutmu dari Uchiha itu nanti imouto. Tunggu aku'
.
.
.
.
TAP TAP TAP
"Permisi Uchiha-sama" seorang pria berbadan kekar membungkuk rendah memberi salam kepada sosok didepannya. Sosok itu memandang dingin salah satu bawahannya itu.
"Bagaimana?" ucap sosok itu tenang. Wajahnya tak menunjukkan emosi sedikitpun.
"Sampai saat ini belum ada pergerakan yang berarti tuan." Pria berbadan kekar itu sedikit melirik tuannya yang tampak diam tak menanggapi. Ia sedikit terkejut kala mata hitam tuannya menangkap lirikannya itu.
"Baiklah. Kau boleh pergi." Ucapan sang tuan membuat pria itu melangkah meninggalkan ruangan ini. Sementara itu, sosok 'tuan' itu melangkah mendekati satu-satunya jendela di ruangan itu. Netranya memandang bulan dengan pandangan menerawang. Matanya terpejam, dan ingatan masa lalunya kembali berputar.
'A-aku mohon.. Lindungi Sasuke apapun yang terjadi.'
'I- ini permintaan seumur hidupku. '
Pria itu membuka matanya, menunjukkan kepada langit malam, keteguhan yang terpancar dari netra semerah darahnya itu.
"Tanpa kau memohon, aku pasti akan melindunginya… Hime-chan"
.
.
.
.
-TBC-
Yosh! Chapter 4 sudah di update! Terimakasih untuk para reader yang sudah mereview, memfollow, dan mem fav fic ini~ maaf kalau alurnya kecepetan yaa *plak
Balasan review untuk guest :
Hinamori Hikari (Guest) : Hoho iyaa arigatou atas reviewnya~ saya juga mau kok digituin sasu hihi *plak
un (Guest) : iyaa arigatou atas reviewnyaa~ maafkan saya atas ketidakjelasan sifat Yahiko *dilempar. Disini dia sayang sm saku. Ya mirip2 sasu lah sifatnya. Ini udah kilat kan updatenya? hihi
Rnr?
