PAIR : YUNJAE gs dll sebagai pendukung
WARNING : cerita ini dari NOVEL berjudul
The Proposal
(The Proposition #2)
By
KATIE ASHLEY …
ini asli kopy paste dan replace untuk nama tokoh (yang berubah nama pemeran) ,,, …. Entah ada nya perubahan tidak nya tergantung Mood ….. toh saya tidak bias mengarang … jd sepertinya tidak ada perubahan ..
YANG TIDAK SUKA TAK USAH BACA OKE !
.
.
Bab 2
Tiga Minggu Kemudian
"N, tiga belas," suara penyiar Bingo berdengung.
"Apa yang dia bilang, sayang?" Mrs. Petersen bertanya pada Jaejoong, sambil melirik kartunya.
Mengetahui Mrs. Petersen praktis tuli, bahkan dengan alat bantu dengarnya, Jaejoong mengambil nafas panjang dan berteriak, "N, TIGA BELAS!"
Mrs. Petersen tersenyum dan menganggukkan kepala abu-abunya.
Ketika Ji-hon tertawa kecil di sebelahnya, Jaejoong menaikkan alis matanya. "Apa?"
"Ayolah, Jaejoong, kau wanita muda yang cantik dan bersemangat.
Apa yang sebenarnya kau lakukan di sini di VFW denganku dan sekelompok orang tua lainnya?"
Jaejoong terkikik.
"Apa kau bercanda? Bagaimana bisa aku melewatkan Bingo hari Sabtu? Bagaimana dengan hadiah luar biasa yang dapat aku menangkan? Kotak besar Depend (merek popok dewasa) itu memanggil namaku."
Ketika dada Ji-hon bergetar karena geli, Jaejoong menggoyangkan jari padanya. "Hey, kau tak seharusnya tertawa. Kau pernah punya seorang istri yang hamil dan anak perempuan. Kau tahu, ketidakmampuan mengontrol kandung kemih adalah masalah yang serius."
Mata Ji-hon melebar. "Kau benar-benar menyebalkan, ya? Mulut luar biasa yang kau punya untuk seseorang yang seharusnya gadis manis."
Jantung Jaejoong terhenti saat dia mendengar suara dalam Yunho menggema di telinganya, "Mulutmu itu adalah masalah." Rasa sakit yang membara membakar dadanya, dan dia berjuang untuk tetap bernapas. Mencoba untuk mendorong jauh kenangan menyakitkan itu, dia menggelengkan kepalanya.
"Well, kau tahu alasan yang sebenarnya aku di sini adalah karena kau baru saja mengalami sakit kepala dan tidak seharusnya menyetir."
Ji-hon merengut. "Sungmin mengambil dua set kunci mobilku sebelum dia dan Liz keluar kota!"
"Sekarang liburan musim gugur untuk anak-anak mereka, dan mereka hanya akan pergi ke Disney World selama 4 hari. Itu bukan salah mereka jika mereka cukup mengkhawatirkanmu untuk mengambil kunci-kuncimu. Itu salahmu sendiri untuk membiarkan kekeraskepalaan Jung menahanmu pergi ke dokter."
"Aku sudah buat janji minggu depan." Ketika Jaejoong menaikkan alisnya tidak percaya, Ji-hon mengusapkan jarinya di atas jantungnya dan bersumpah, "Janji pramuka."
"Jika kau bilang begitu. Aku tetap akan mengantarkanmu sendiri untuk memastikan kau sampai di sana."
Ji-hon mengerang. "Bagus. Sekarang aku punya anak perempuan tukang khawatir lainnya di sampingku setiap saat."
Hati Jaejoong menghangat pada gagasan dianggap sebagai anak perempuan Ji-hon. Terlepas dari apa yang dia rasakan tentang Yunho, dia tak akan pernah bisa menjauhkan diri dari Ji-hon dan cintanya.
Setelah wanita dengan hiasan rambut berwarna biru bertepuk tangan dengan hebohnya dan berteriak, "Bingo!" Ji-hon mencondongkan tubuh ke depan di kursinya, sebuah ekspresi serius tergambar di wajahnya.
"Jadi kita tidak akan membicarakan tentang hal itu?"
Jaejoong melempar pandangan padanya dan menyeringai. "Maksudmu kenyataan bahwa satu diantara hadiah itu adalah sebuah tas enema?"
Menyilangkan kedua lengan di depan dadanya, Ji-hon mendengus, "Bukan itu yang aku bicarakan, dan kau tahu itu."
Jaejoong menundukkan kepalanya, menatap kartu Bingo-nya seakan
itu adalah hal yang paling menarik yang pernah dia lihat. "Aku sebaiknya tidak membicarakannya," dia berbisik.
"Lihat, Jae, aku yakin kau telah mengalami rasa cinta yang mendalam yang orang tua miliki untuk anak mereka. Yunho adalah putraku, dan aku mencintainya dengan seluruh hatiku."
Ketika Jaejoong menyentakkan kepalanya ke atas untuk melotot padanya, Ji-hon mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Tapi itu tak berarti aku memaafkan apa yang dia telah lakukan padamu. Percayalah padaku, aku ingin melakukan sesuatu yang bisa melukai tubuhnya." Sebuah kilatan geli bersinar di matanya yang gelap. "Well, anggap saja aku sudah melakukannya."
Jaejoong terkesiap. "Apa yang telah kau lakukan?"
Ji-hon tertawa kecil. "Percayalah padaku, aku memberikan padanya sesuatu yang layak ia dapatkan, atau tubuh tua 72 tahunku ini mampu lakukan!"
"Kau benar-benar mengerikan!" Jaejoong menjawab, tetapi ia tak dapat berhenti tertawa cekikikan.
Ji-hon meletakkan tangannya di dalam tangan Jaejoong. "Aku hanya ingin kau tahu aku netral dalam semua masalah ini, oke? Aku mencintaimu dan cucuku, seperti aku mencintai Yunho."
"Terima kasih. Aku menghargai itu." Jaejoong meremas tangan Ji-hon. "Dan aku harap kau tahu aku tak akan pernah memintamu untuk memihak atau menjauhkanmu dari bayi ini karena apa yang terjadi dengan Yunho."
"Aku tahu itu, sayang. Sejak hari pertama aku bertemu denganmu, aku tahu gadis seperti apa kau ini, dan tidak ada satupun tulang jahat di dalam tubuhmu." Ji-hon berhenti sejenak dan menggelengkan kepalanya. "Tapi jika aku tak mengatakan apa yang ada di hatiku, aku akan meledak."
Sambil menggigiti salah satu kukunya yang sudah sedikit rusak, Jaejoong menahan nafasnya, memberanikan diri untuk apa yang akan Ji-hon katakan.
"Aku benar-benar khawatir dengan Yunho. Ini sudah 3 minggu, dan dia benar-benar sengsara, Jaejoong. Dia tidak tidur, dan dia nyaris tidak makan."
Sisi jahat dan dendam pada diri Jaejoong menikmati pemikiran tentang penderitaan Yunho. Dia memberikan Ji-hon pandangan tidak percaya. "Aku benar-benar meragukan itu. Dia mungkin hanya berusaha mendapatkan simpatimu dan mencoba untuk membuatmu berpaling dariku."
"Tidak, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dia sedang tinggal denganku karena dia tidak tahan berada dalam kesendirian."
Mata Jaejoong melebar saat hatinya terasa perih untuk Yunho.
Walaupun bagian yang sangat besar dari dirinya merasa gembira karena berpikir dia terluka separah dirinya, bagian lain dirinya mengasihaninya. Seberapa besarnya dia ingin merendahkan Yunho, dia tidak bisa. Setiap saat selama 3 minggu yang lalu, Jaejoong berusaha untuk mengubur perasaannya dan menerima kenyataan bahwa Yunho tidak akan pernah benar-benar ada secara emosional.
Untuk membiarkan dia kembali ke hidupnya akan seperti berjalan tanpa alas kaki di atas kepingan hatinya yang hancur lebur. Yunho akan melukainya lagi – itu tak terelakkan.
Tapi dari lubuk hatinya yang paling dalam, Jaejoong masih mencintainya. Ada bagian dari dirinya yang dia khawatirkan akan selalu mencintainya–sama seperti bagian dari dirinya yang masih mencintai Kangin. Jaejoong membenci dirinya sendiri untuk merasakan itu.
"Dapatkah kau dengan jujur mengatakan bahwa tak ada satupun yang telah dia lakukan di beberapa minggu terakhir yang telah melembutkan hatimu untuknya?" Ji-hon bertanya.
Helaan nafas penuh dengan rasa tersiksa keluar dari bibirnya. Saat Sungmin mengatakan Yunho akan mencoba untuk memenangkannya kembali, dia tidak bercanda. Bahkan tak ada satupun peringatan yang bisa mempersiapkan diri Jaejoong dari rentetan telepon, pesan, dan email. Yunho bahkan mencoba mendatangi kantornya, tapi Jaejoong telah meminta petugas keamanan untuk mengusirnya. Itu menjadi sebuah tontonan saat Yunho berkelahi dengan keamanan karena mencoba mendekati Jaejoong. Yunho kemudian diberi peringatan oleh manager Jaejoong untuk jangan pernah datang ke lantainya lagi.
Lalu Yunho merubah taktik. Rumah Jaejoong segera berkembang menjadi dua untuk toko bunga dengan semua bunga yang Yunho kirim. Setiap buket dan setiap lusin mawar yang dikirimkan mempunyai kartu yang terpisah yang penuh dengan kata-kata penuh penyesalan, betapa dia merindukannya, dan seberapa besar dia peduli padanya dan bayinya. Karena masih tidak ada pengakuan cinta, Jaejoong hanya mengabaikannya.
"Jae" Ji-hon bertanya, menarikknya keluar dari pikiran-pikirannya.
Jaejoong memainkan keliman bajunya dengan jarinya. "Tak tahukah kau bagaimana beratnya hal itu dengan perasaanku, dikalikan dengan hormon kehamilanku, untuk mengacuhkannya?"
"Aku akan berbohong jika aku bilang aku tak terkesan dengan kegigihannya. Bahkan dengan Uee, dia tidak melakukan hal yang setulus buku puisi itu."
Jaejoong menutup matanya erat-erat. Buku sialan itu! Itu hampir menghancurkan tekadnya. Ketika Jaejoong membuka bungkus paket dan menemukan sebuah buku edisi lama tentang puisi cinta dari the Romantics, dia menangis terisak-isak selama 1 jam. Kilasan tentang John Keats, Percy Shelley, dan Lord Byron tidak hanya membawa kenangan pada keponakan laki-laki Yunho, tetapi juga fakta jelas dia mengingat bahwa Jaejoong menyukai puisi-puisi mereka. Dan sementara buku itu penuh dengan sentimen cinta, Yunho masih belum mengutarakan kata-kata itu secara langsung. Untuk Jaejoong, itu berarti segalanya.
"Aku benar-benar menyesal dia mengalami hal yang cukup berat.
Tapi aku juga tersakiti," Jaejoong akhirnya berkata.
"Aku tahu, sayang. Tapi jika aku memintamu hanya untuk berbicara padanya untuk beberapa menit, maukah kau menghibur orang tua ini?"
"Oh Ji-hon, tidakkah kau lihat. Aku takut."
"Bahwa dia…akan selingkuh lagi?"
Dia menganggukkan kepalanya. "Dengan Kangin, aku tak pernah harus khawatir tentang dia tidak setia. Dia benar-benar mencurahkan segalanya sejak pertama kali kami berkencan. Aku tidak sering berkencan atau pergi ke dunia luar, jadi aku tak tahu bagaimana caranya bersama seseorang seperti Yunho dan tetap waras."
Ji-hon mengusap dagunya. Jaejoong dapat mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak dia katakan-sesuatu yang memegang satu bagian dari teka-teki Yunho. "Aku tidak suka memohon, tapi maukah kau mempertimbangkan untuk hanya duduk dengannya dan coba mendengarnya? Aku tahu itu akan sangat berarti untuknya, dan kurasa itu akan berarti untukmu juga."
Udara kekalahan berhembus di dadanya. "Kukira aku dapat mencobanya."
"Itu dia gadisku," katanya, wajahnya menjadi cerah. "Bagus.
Sekarang aku sudah mengeluarkan hal itu, aku ingin beberapa makanan penutup. Mau sesuatu?"
Seakan mendapat isyarat, perut Jaejoong berbunyi, dan dia tersenyum lebar. "Walaupun aku seharusnya tidak mau, maukah kau membawakanku beberapa potong cake buatan rumah itu lagi?"
Ji-hon tersenyum. "Pilihan bagus. Aku juga akan mengambilnya untukku sendiri."
Dia meraih lengan baju Ji-hon. "Hanya pastikan itu bukan milik
Mrs. Forrester. Kupikir dia tanpa sengaja menaruh garam bukannya gula kali ini."
Ji-hon tertama. "Oh Tuhan. Aku percaya dia membuat satu atau dua kekacauan."
"Kau seharusnya tidak mengatakan itu. Kau tahu dia manis padamu," Goda Jaejoong.
"Dan jangan berpikir aku tak akan terus melarikan diri darinya. Dia mungkin akan membunuhku dengan keracunan makanan atau lainnya."
Jaejoong tertawa. "Kau tak harus lari terlalu cepat. Dia hanya satu dari sekian banyak penggemarmu."
"Terserah," dia menggerutu. Saat dia berdiri dari kursinya, Ji-hon meringis dan memegang dadanya.
"Kau baik-baik saja?" Jaejoong bertanya.
"Aku tak apa-apa." Dia menggumam. Tapi saat dia mengambil langkah ke depan mengitari meja, dia terkesiap dan lalu jatuh ke lantai.
"Ji-hon!" Jaejoong menjerit, melompat dari kursinya. Dia berlari ke arahnya dan berlutut, menggenggam tangan Ji-hon dalam tangannya.
"Jantungku," Ji-hon mengerang.
"Seseorang panggil 911!" Jaejoong berteriak, berusaha melawan rasa panik yang mulai melanda di dadanya.
"Aku!" penyiar Bingo menjawab, mengangkat teleponnya ke telinga.
"Ini, berikan dia ini," seorang wanita berkata, mendorongkan sebutir aspirin di depan muka Jaejoong. Dia mengambilnya dari tangan si wanita dan membawanya ke bibir Ji-hon.
"Telan ini."
Ji-hon mengangkat kepalanya dan membiarkan Jaejoong meletakkan pil itu di mulutnya.
"Kau tak punya obat lain yang harus kau minum? Seperti nitrogliserin?"
Ji-hon meringis. "Tertinggal di celanaku yang lain," dia mendesah. Melihat apa yang pasti menjadi ekspresi Jaejoong yang ketakutan, dia menggumam, "Maaf."
"Tidak, jangan meminta maaf. Tidak apa-apa."
"Berdoalah, Angel." Sebuah tangan gemetar dengan lembut menyentuh pipi Jaejoong.
Air mata terasa sakit di matanya. "Tentu, aku akan berdoa. Aku sedang berdoa. Dan kau juga! Katakan Hail Mary atau apapun yang kalian para Katholik lakukan!"
Ji-hon tertawa kecil dan lalu meringis. "Jangan membuatku tertawa."
"Maafkan aku." Jaejoong meremas erat tangan Ji-hon dan mencoba memberikan senyum menenangkan padanya.
"Jika ini tidak berjalan baik –"
Tubuh Jaejoong menegang. "Tidak! Jangan berani-beraninya kau berbicara seperti itu!"
Ji-hon menutup matanya sesaat sebelum membukanya. "Dengarkan aku. Jika aku tidak berhasil melalui ini, berjanjilah padaku kau akan memberi Yunho kesempatan lagi."
"Oh..Ji-hon," Jaejoong mengerang.
"Berjanjilah," dia memaksa.
Hal terakhir yang ingin Jaejoong lakukan di dunia adalah berbohong pada seorang lelaki yang berpotensi untuk meninggal. Entah bagaimana dia menemukan keberanian untuk menganggukkan kepalanya. "Okay, aku berjanji."
"Gadis pintar."
Ketika petugas pemadam kebakaran tiba, Jaejoong mengucapkan terima kasih pada Tuhan karena kantor pemadam kebakaran berada, tepat di seberang jalan VFW. Karena sebagian besar dari mereka mendapatkan pelatihan EMT, dia tahu mereka dapat menolong Ji-hon sampai ambulans tiba.
"Permisi, Ma'am," seorang pemuda berkata.
Jaejoong dengan enggan melepaskan tangan Ji-hon. Kedua pemadam kebakaran beringsut melewati Jaejoong dan berjongkok di sebelah Ji-hon. Menjalin jari-jarinya, Jaejoong membawa tangannya ke bibirnya yang menggumamkan doa-doa. Dia memperhatikan saat salah seorang pemadam memasangkan masker oksigen pada wajah Ji-hon ketika yang lain memeriksa denyut nadinya.
Hilang dalam pikirannya sendiri, Jaejoong bahkan tidak mendengar sirene ambulans. Hal berikutnya yang dia tahu anggota EMT tiba dan meletakkan Ji-hon di atas usungan. "Jae!" teriakan panik Ji-hon terdengar melalui maskernya.
"Aku ada di sini," Jaejoong menjawab, mendorong salah satu pemadam kebakaran dari hadapannya. Meraba-raba sepanjang brangkar, dia menyambar tangan Ji-hon. "Aku di sini. Kau akan baik-baik saja."
Brankar bergemuruh dan bergetar sepanjang trotoar yang tidak rata saat mereka mendorong Ji-hon menuju pintu ambulans yang terbuka. Jaejoong harus berjuang untuk menyusul mereka, dan dia kehabisan nafas saat mereka mulai memasukkan Ji-hon ke dalam ambulans. Wajah Ji-hon panik saat Jaejoong dipaksa untuk melepaskan tangannya.
"Aku masih di sini!" Jaejoong berteriak, menahan air mata membakar tenggorokan dan matanya.
Jaejoong merasa sebuah tangan di bahunya. Seorang petugas pemadam muda dengan sorotan mata baik hati tersenyum padanya. "Apakah kau mau berkendara dengannya?"
"Tolong, bisakah?"
"Tentu saja kau bisa. Kemarilah untuk duduk di depan denganku."
Jaejoong mendekat ke pintu ambulans, "Ji-hon, aku akan ada di depan. Aku tidak meninggalkanmu. Oke?"
Ji-hon menganggukkan kepalanya. "Aku mencintaimu dan aku akan ada di depan," Jaejoong berteriak lagi, saat petugas pemadam menariknya.
Jaejoong memposisikan dirinya di depan pintu dan mencoba menarik dirinya ke atas. Dengan adrenalinnya yang terkuras, dia terlalu lemah. Sepasang tangan muncul di pinggangnya dan mendorongnya ke depan. Dia terkesiap saat dia terduduk di jok kursi. Setelah dia menenangkan diri, dia berputar.
Pipi pemuda pemadam kebakaran itu merah merona. "Maafkan tentang hal itu."
"Tidak apa-apa. Terima kasih untuk bantuannya."
Dia menyeringai sebelum menutup pintu. Jaejoong berputar di kursinya untuk melihat petugas EMT bekerja pada Ji-hon. "Lihat, aku tidak meninggalkanmua," dia berkata.
Suara raungan sirene ambulans mulai menyala menyebabkan Jaejoong bergidik. Seperti badai listrik di musim panas, memori yang telah lama terkubur berkelebat di pikirannya.
Walaupun dia mencengkeram pinggiran kursinya, dia telah berada jauh dari kekacauan di sekitarnya.
Dengan tangannya menggenggam erat tangan ibunya, dia melewati kantor pemadam kebakaran. Saat melihat ayahnya, dia memekik dan lari ke depan. "Daddy! Daddy!"
"Hai sayang," katanya, mengangkat Jaejoong ke dalam pelukannya.
Jaejoong melilitkan kakinya di sekeliling ayahnya saat dia memeluknya erat. "Jadi kau akhirnya dapat melihat kantor baruku, ya?"
Jaejoong mengangguk. Dia belum mengerti kenapa mereka harus meninggalkan pegunungan untuk pindah ke kota. Kenyataannya, dia harus menangis kencang dari belakang kaca mobil saat dia melihat Granddaddy dan Grammy melambaikan tangan. Tapi Daddy telah mencoba menjelaskan kepadanya dia akan mendapatkan penghasilan lebih jika dia bekerja sebagai pemadam kebakaran di Atlanta, daripada di Ellijay. Mereka bisa mendapatkan barang-barang yang lebih baik. Dia bahkan membelikannya anak anjing untuk membuat segalanya lebih mudah.
"Biarkan aku memakai topimu! Kumohon Daddy!"
Ayahnya tertawa kecil, "Tentu saja kau boleh." Saat dia meletakkan visor pemadam kebakaran di kepalanya, leher Jaejoong gemetar dan tertunduk keberatan. Dia mengajak Jaejoong ke mesin berwarna merah api yang berkilauan. "Kau mau dengar suara sirene, Angel?"
Jaejoong menggeliat di lengan daddynya. "Oh iya!"
Dia memanjat ke dalam mobil pemadam dan mendudukkan Jaejoong di jok kursinya. Tangan Jaejoong otomatis memegang roda setir, dan dia memutarnya bolak balik, berpura-pura menyetir. Daddynya membunyikan klakson yang meraung. "Lagi, Daddy!" Dia menyeringai dan membunyikannya lagi sampai para pria di kantor pemadam siap untuk mencekiknya.
Seperti bayangan kabut tipis berputar-putar di sepanjang atap dan langit, pikiran Jaejoong meluncurkan memori lain hanya setahun kemudian.
Jaejoong sedang di sekolah dan duduk di karpet membaca. Dengan penuh perhatian dia mendengarkan gurunya membaca sebuah buku tentang beruang yang mengadakan pesta Halloween dimana popcorn memenuhi rumah mereka. Pintu ruang kelas berderit terbuka, dan Jaejoong menatap dalam keterkejutan pada Granddaddy yang berdiri di pintu masuk. Dia berlari untuk menemuinya, dengan senang hati menyambut tangannya. Di luar kelas, dia menarik Jaejoong ke dalam pelukannya dan membawanya keluar. Granny berada di mobil memeluk Nana, ibunya daddy. Jaejoong menghujani Granddaddy dengan beberapa pertanyaan. "Apa yang terjadi, Granddaddy? Kenapa kalian semua ada di sini di Atlanta? Dimana Mommy dan Daddy?"
Untuk pertama kalinya sejauh yang pernah dia ingat, ada air mata di mata Granddaddy yang gelap. "Joongie, ada kebakaran yang sangat besar, dan daddy-mu mencoba menyelamatkan anak-anak ini. Dia berhasil mengeluarkan mereka dengan selamat, tapi dia…" Suaranya tercekik oleh emosi. "Sayang, daddy-mu pergi untuk tinggal bersama para malaikat."
Satu pernyataan itu membuatnya menendang dan menjerit melepaskan diri dari pelukan Granddaddy. "Tidak, tidak, tidak!
Daddy tidak akan meninggalkanku! Dia akan membawaku ke sirkus akhir minggu ini." Tinjunya memukuli perut Granddaddy. "Kau bilang pada para malaikat untuk membawa daddy kembali!" Jaejoong menjerit.
Suara pintu ambulans yang berderak membuka menyentak Jaejoong ke memori yang lain.
Sekali lagi dia menggenggam tangan ibunya saat mereka berjalan di antara batu-batu nisan di pemakaman. Jaejoong tak pernah melihat begitu banyak orang di hidupnya. Semua orang menyebut ayahnya seorang pahlawan. Mereka duduk di salah satu kursi beludru di bawah tenda hijau. Menempel di sisi ibunya, Jaejoong akan terlonjak setiap ledakan senapan dari 21 tembakan penghormatan meletus.
Lalu seorang lelaki berlutut di depan ibunya dengan bendera yang dilipat. Dia melirik Jaejoong dan memberinya senyuman sedih. Dia tidak akan melupakan mata coklat penuh perasaanya.
"Ma'am?"
Jaejoong tersentak kembali ke masa kini. Melirik ke belakang bahunya, dia melihat brankar Ji-hon telah dikeluarkan dari ambulans. Petugas EMT, yang mengemudikan mereka ke rumah sakit, berada di sisi pintu penumpang yang terbuka, mengisyaratkan dengan tangannya.
"Mari aku bantu."
"Terima kasih," dia menggumam. Setelah dia melompat turun, dia mengarahkannya melewati pintu otomatis. Menunjuk ke arah lorong, dia berkata, "Mereka membawanya ke ruang dua."
Dia mengangguk. "Terima kasih untuk segalanya."
Jaejoong terhuyung melewati lantai ubin berwarna putih. Aroma antiseptik menyerang inderanya. Lelaki dan perempuan dalam pakaian rumah sakit biru dan hijau bergegas di antara ruangan dan pasien. Dia melirik sekilas ke pos perawat sebelum melintasi ke lorong dimana Ji-hon berada. Saat Jaejoong akan melangkah masuk ke pintu, seorang perawat menahannya.
"Tidak, Ma'am. Anda tak dapat masuk kesana. Anda harus menunggu di ruang tunggu."
"Bagaimana dia?"
"Kami belum tahu apapun. Mereka sedang menjalani beberapa tes."
Si perawat mencengkeram bahu Jaejoong. "Jika anda duduk menunggu, seseorang akan- "
Jaejoong menggelengkan kepalanya dengan marah ke kiri dan kanan.
"Aku mohon, ijinkan aku di sini. Aku tidak akan mengganggu, aku berjanji. Dia tak ingin aku meninggalkannya!"
Perawat itu melihat perut Jaejoong yang membengkak, dan ekspresinya melembut. Dia melirik melewati bahunya sebelum menghela nafas.
"Baiklah. Adakah orang lain yang harus kau telpon?"
Jaejoong telah begitu termakan oleh hantu masa lalunya bersama dengan kondisi Ji-hon, dia bahkan tidak terpikir untuk menelepon Yunho atau saudara-saudara perempuannya. Tangan Jaejoong terbang ke mulutnya. "Ya Tuhan, aku tak percaya aku tak menghubungi anak-anaknya!"
"Tidak apa-apa, sayang. Aku yakin banyak yang harus kau pikirkan.
Kenapa kau tak kesana?" perawat itu menunjuk ke meja dengan telepon hitam mengkilat di atasnya.
Jaejoong mengangguk dan berjalan meninggalkan pintu ruangan Ji-hon. Dia duduk di kursi plastik yang tidak nyaman. Dengan Sungmin dan Liz di Disney World dan Julia tinggal di luar kota, Yunho dan Angie adalah yang paling dekat untuk datang ke rumah sakit.
Jaejoong mencoba menghubungi Angie terlebih dahulu, berharap dia dapat membuat Angie menghubungi Yunho. Tapi dia tak mengangkat telponnya, jadi Jaejoong terpaksa meninggalkan pesan suara yang memintanya menghubungi Jaejoong sesegera mungkin.
Dengan jari yang bergetas, dia menekat nomor ponsel Yunho. Yunho menjawab di dering yang ketiga. "Ini Jung Yunho."
Suara Yunho yang dalam menggetarkan telinga Jaejoong membuat dadanya menegang. Untuk beberapa saat, dia tak dapat memproses pikirannya, dan pastinya tak dapat berbicara.
"Halo?" Yunho mendesak.
"Um, ini aku."
Yunho menarik nafas tajam di saluran seberang. "Jaejoong…" cara dia menyebutkan namanya membuat Jaejoong gemetar.
Suaranya berdengung dengan campuran antara kegembiraan dan penderitaan.
"Tuhan, benar-benar menyenangkan mendengar suaramu." Jaejoong tetap tidak bergerak, tidak bicara, dan tidak berkedip. Yunho membuatnya lumpuh hanya dengan suaranya. "Tolong katakan sesuatu. Tolong bicara padaku, Jae," dia memohon.
Segeralah sadar sebuah suara dalam dirinya berteriak. Dia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak menelpon karena itu semua.
Ini ayahmu. Kami di UGD di Wellstar."
Nada suara Yunho berubah dalam sekejap. "Tunggu, apa yang terjadi pada Pop?"
"Aku belum tahu. Dia merasa sakit di dadanya dan terjatuh di VFW.
Mereka sedang menjalankan beberapa tes. Dia sadar dan bernafas sendiri."
"Fa*ck, aku satu jam perjalanan ke Atlanta." Dia menggeram dalam rasa frustasi. "Aku akan secepatnya kesana."
"Oke," Jaejoong menjawab. Dia menutup telepon sebelum Yunho dapat mengatakan yang lainnya.
Jaejoong mengalihkan kembali perhatiannya ke pintu ruangan Ji-hon.
Sebuah keabadian yang lambat tampaknya berdetik saat Jaejoong menunggu berita. Dia berjalan mondar-mandir di luar ruangan.
Setiap kali dokter atau perawat masuk, Jantungnya terasa berhenti.
Meremas-remas tangannya, doa tak berhenti di dalam pikirannya.
Setelah tidak berhasil mencoba membujuk dua orang perawat untuk memberinya berita terbaru, dia mencegat orang berikutnya yang keluar dari pintu. Melilitkan jari-jarinya pada jas putihnya, Jaejoong memegangnya erat-erat saat air mata menggenang di matanya.
"Tolong, aku mohon kau harus memberi tahuku apa yang terjadi!" dia menuntut.
Dokter itu membawa tangannya pada tangan Jaejoong, tapi bukannya mendorongnya menyingkir, dia menggenggamnya dengan lembut dalam tangannya. Dia melihat ke atas ke dalam sepasang mata coklat penuh perasaan yang memancarkan empati. "Siapa namamu, sayang?" dia bertanya.
"Jaejoong."
Sebuah senyum hangat melintas di wajah tampannya-senyum yang bila terjadi di situasi yang lain akan menyebabkan jantung Jaejoong berdetak sedikit lebih cepat atau bahkan sebuah pergerakan di bawah pinggangnya. Rambut hitam legamnya jatuh bergelombang di atas dahinya, dan gigi putih mutiaranya kontras dengan kulit gelapnya.
"Jaejoong, Saya dr. Choi. Saya perlu Anda untuk mengambil nafas panjang dan tenang, oke?"
Jaejoong menggeleng dengan liar. "Tapi saya – dia – "
"Mr. Jung akan baik-baik saja. Kami telah menstabilkannya saat kami melakukan beberapa tes. Tapi tampaknya tidak ada yang membahayakan jiwanya. Dia di tangan yang baik. Saya berjanji."
Berita itu membuat lutut Jaejoong lemas, dan dia akan jatuh ke lantai jika dr. Choi tidak merangkulkan lengannya disekitar Jaejoong.
"Whoa, tenang." Dia melihat di balik bahunya. "Ikut denganku."
Dengan satu lengan melingkar erat di sekeliling pinggangnya, dia menuntun Jaejoong ke ruangan di seberang ruangan Ji-hon.
"Tidak, aku harus tetap bersamanya," Jaejoong protes saat dr. Choi menurunkannya di tempat tidur.
"Kau dapat melihat segalanya dari sini." Dia berlutut di depannya dan membawa jarinya ke pergelangan tangan Jaejoong. "Denyut nadimu terlalu cepat. Kau harus tenang. Bolehkah aku meminta tolong perawat untuk menelpon suamimu?"
Jaejoong mengernyit, "Aku tak punya suami." Ketika dr. Choi akan membuka mulutnya, dia menggelengkan kepalanya. "Atau kekasih."
"Aku tahu kau khawatir, tapi kau harus memperhatikan dirimu sendiri dan si Kecil." Pandangannya jatuh ke perutnya. "Berapa usia kandunganmu?"
"Dua puluh tiga minggu," Jawab Jaejoong.
"Ah, dan apakah kau tahu apa jenis kelaminnya?"
"Anak lelaki." Tangan Jaejoong menyentuh perutnya. "Seorang anak laki-laki yang sangat aktif dilihat dari caranya menendang saat ini."
Dr. Choi terkekeh. "Itu artinya dia kuat."
Jaejoong memutar matanya. "Aku tak tahu apakah dia anak yang sangat kuat atau anak yang berkemauan keras. Dia suka memberitahuku kapan dia pikir ini waktunya kami untuk makan."
membuka mulutnya, tapi dia diinterupsi oleh seorang perawat yang memunculkan kepalanya ke dalam. " , kami membutuhkanmu di ruang Tiga."
Dr. Choi melihat sekilas ke balik bahunya dan mengangguk. Dia lalu berbalik kembali ke Jaejoong. "Aku minta maaf, tapi aku harus pergi."
Jaejoong tersenyum. "Senang bertemu dengan Anda, dr. Choi."
"Tidak perlu terlalu formal. Aku Choi Seunghyun, tapi kau dapat memanggilku Seunghyun." Dia tersenyum lebar. "Sekarang aku mau kau berbaring dan taruh kakimu di atas sebentar. Tenang saja, oke?"
Menyentakkan ibu jarinya ke seberang lorong, Seunghyun berkata, "Dia akan baik-baik saja, dan aku yakin dia tidak akan mau kau khawatir di kondisimu."
Jaejoong tak dapat menahan tawanya. "Kondisiku? Aku hanya hamil."
Dr. Choi menggoyangkan jarinya pada Jaejoong. "Aku serius. Aku tak mau melihatmu berdiri lagi sampai aku kembali. Mengerti?"
"Kau benar-benar suka memerintah," dia menjawab saat dia mengayunkan kakinya ke atas tempat tidur dan merapikan bajunya.
"Mereka mengajarkan itu pada kami di sekolah kedokteran," dr. Choi menjawab sebelum dia mengarah keluar pintu.
Jaejoong menggelengkan kepalanya sebelum mengambil teleponnya dari dalam tasnya. Hanya ada sedikit jeda waktu antara pesan yang satu dengan yang lain. Julia, kakak tertua kedua Yunho, sedang dalam perjalanan pulang dari Alabama, sedangkan Sungmin dan Liz sedang bersiap-siap untuk memotong waktu perjalanan Disney mereka.
Seorang perawat melongokkan kepalanya ke dalam dan menyebabkan Jaejoong terkejut. "Maafkan aku. Dr. Choi bilang aku harus –"
Perawat itu tersenyum. "Tidak apa-apa, sayang. Aku hanya mengira- ngira kenapa Dr. Choi telah menandai bahwa ruangan ini digunakan, tapi tak ada catatan." Dengan pandangan memahami, dia menjawab, "Tapi aku dapat melihat alasannya sekarang."
"Dia sangat baik."
"Dia salah satu yang terbaik yang kami punya-dokter terbaik dan paling sopan." Dia mengedipkan sebelah mata pada Jaejoong. "Dan sejauh ini yang paling tampan."
Dengan pipi yang menghangat, Jaejoong menjawab, "Itu bagus."
"Jaga dirimu."
"Terima kasih."
Perawat itu belum pergi terlalu lama saat Seunghyun muncul kembali di pintu masuk. Jaejoong cepat-cepat mencoba menyembunyikan teleponnya. Terlebih lagi mengingat tanda yang memperingatkan-tidak boleh menggunakan ponsel- tepat di sampingnya.
Jaejoong memberinya senyum malu-malu. "Maaf. Aku harus memberi tahu semua orang tentang keadaan Ji-hon."
Seunghyun tertawa. "Tidak apa-apa, Jaejoong. Aku tak akan memanggil keamanan untuk menangkapmu. Aku hanya senang kau tetap di tempat dan tidak kembali mondar-mandir." Dia melangkah ke arah tempat tidur.
Dengan kikuk, Jaejoong menarik dirinya ke posisi duduk. Matanya tertuju pada tas plastik di tangan Seunghyun. Saat Jaejoong memberinya pandangan bertanya, Seunghyun membuka plastik dan memperlihatkan sebotol minuman soda, sebotol air mineral, sebungkus kraker selai kacang, dan sekantong keripik Doritos.
"Untuk apa semua itu?" Jaejoong bertanya.
"Sebagian dari simpanan makanan rahasiaku untuk memberi makan lelaki kecilmu."
Rasa panas membakar pipi dan leher Jaejoong, menyebabkan dia memainkan keliman bajunya. "Kau tak harus melakukan itu."
"Dia lapar, kan?"
"Well, iya, tapi–"
Seunghyun tersenyum. "Jadi ini. Aku tak keberatan berbagi."
Alih-alih rasa lapar, perut Jaejoong serasa berisi kupu-kupu saat dia mengambil biskuit dari Seunghyun.
"Ah, kau pasti penggemar selai kacang, ya?" dia memperhatikan, saat dia duduk di kursi di depan Jaejoong.
"Iya," Jaejoong bergumam, saat dia membuka bungkusnya. Mengintip pada Seunghyun lewat bulu matanya, dia berkata, "Aku harap aku tak menahanmu dari pasien-pasienmu."
"Kau beruntung. Ini benar-benar hari yang pelan untuk kami, mengingat sebagian besar pasien trauma telah di antar ke pusat kota."
Jaejoong mengangkat alisnya dalam keterkejutan, mengingat semua kesibukan yang dia lihat di lorong. "Benarkah?"
Seunghyun mengangguk. "Selain itu, kau mungkin belum secara resmi di opname, tapi dengan kau yang hampir pingsan dan denyut nadimu, aku khawatir denganmu. Sehingga, aku menganggap ini sebuah konsultasi."
Kebingungan melanda Jaejoong pada perasaan yang agak romantis yang dia rasakan mengenai kekhawatiran dan perhatian Seunghyun. Setelah dia menggigit krakersnya, Seunghyun menawarkan minuman soda dan air mineral untuk Jaejoong pilih. Saat Jaejoong mencoba meraih minuman soda, dia menjauhkannya.
"Sekarang Jaejoong, kau tahu lebih baik dari pada itu. Kafein tidak bagus untukmu."
"Tidak adil," Jaejoong menjawab, sambil menyeringai.
Seunghyun mengedipkan satu mata padanya. "Kau benar. Aku seharusnya tidak menggodamu dengan barang yang sudah jelas."
Sekali lagi pipi Jaejoong terasa terbakar, jadi dia menenggak air mineral untuk mencoba mendinginkan kepalanya.
"Bagaimana Ji-hon?"
"Lebih baik. Setelah kau selesai makan, kau dapat pergi menemuinya."
"Benarkah?" Jaejoong bertanya, melalui mulut yang penuh dengan kraker.
Seunghyun mengangguk. "Dia menanyakanmu."
"Dia menanyakanku?" Jaejoong lalu memenuhi mulutnya dengan kraker yang lain saat dia berdiri. Setelah dia menelan, dia berkata, "Okay, ayo pergi menemuinya."
Dengan menggelengkan kepalanya takjub, Seunghyun berkata, "Aku seharusnya tidak mengatakan apapun sampai kau selesai makan."
"Bagaimana jika aku berjanji untuk menghabiskan kraker ini saat aku bersama Ji-hon?"
"Kupikir itu terdengar adil."
Jaejoong tersenyum lebar saat mereka berjalan ke arah pintu. "Aku tak dapat cukup berterima kasih untuk makanan dan untuk merawatku… dan untuk Changmin."
Seunghyun memasukkan tangannya ke dalam saku jas prakteknya. "Ah, jadi lelaki kecil kita yang kuat ini akan dinamakan Changmin?"
"Iya, dinamakan setelah nama almarhum ayahku dulu."
Seunghyun tersenyum. "Dia akan sangat beruntung memilikimu sebagai ibu."
Jaejoong tak dapat menahan rasa panas yang menjalar di pipinya saat mendengar pujian Seunghyun. "Terima kasih. Aku akan mencoba yang terbaik untuknya. Aku dapat contoh yang terbaik pada almarhum ibuku dulu."
"Kau telah kehilangan kedua orangtuamu?"
Dia mengangguk.
Seunghyun menggelengkan kepalanya. "Terlalu banyak kesedihan." Tangan Seunghyun menyentuh bahu Jaejoong. "Tapi hanya dengan melihat wajahmu dan cinta di matamu, aku dapat mengatakan seberapa besar anak ini membawa kebahagiaan untukmu."
"Ya, memang," Jaejoong bergumam. Dia hampir merasa terlalu kewalahan dengan kesungguhan di wajah dan suara Seunghyun.
"Dr. Choi ke ruang periksa lima. Dr. Choi ke ruang periksa lima," sebuah suara terdengar dari pengeras suara.
"Kupikir kau sebaiknya pergi," Jaejoong berkata.
Seunghyun mengangguk. "Tidak boleh sampai kelelahan di sekitar sini." Jaejoong tersenyum. "Sangat menyenangkan bertemu denganmu."
Seunghyun menggenggam tangan Jaejoong di kedua tangannya, dengan lembut mengelus kulitnya dengan ujung jarinya. "Kesenangan itu milikku."
Sesulit apapun Jaejoong telah mencoba, dia tak dapat mengabaikan rasa merinding di tubuhnya karena sentuhan tangan Seunghyun di kulitnya. "Selamat tinggal," Jaejoong bergumam sebelum masuk ke dalam ruangan Ji-hon.
...
VFW = Veteran of Foreign War, rumah peristirahatan untuk para veteran perang.
- enema pengobatan laxative untuk konstipasi.
- EMT = Emergency Medical Technician, paramedis
...
