Naruto © Masashi Kishimoto

REASON © Aqua Titania/Mbik Si Kambing

Warning: modified canon/AR, OOC, typo, Dark!Hinata

Chapter 3: Dealing With The Darkness

.

"Ah, ternyata hanya kau," ucap Hinata, tak lupa dengan seringai khasnya.

Dihadapannya berdiri sosok bertopi jerami. Tubuhnya dibalut hakama berwarna hitam dan selendang cokelat tua. Lehernya dihiasi untaian tasbih panjang, sementara tangan kanannya memegang tongkat panjang berwarna kuning tembaga.

Sosok itu berjalan, mendekati Hinata yang saat itu sedang berdiri di ambang pintu. Tangannya meraih ujung topi dan perlahan membukanya. Hinata dapat melihat wajahnya dengan jelas sekarang. Tak ada satu helai rambut pun yang menghiasi kepalanya, wajahnya terlihat kuyu dan lemah, mungkin karena termakan usia. Hinata dapat memprediksi usia pendeta tersebut, dilihat dari kerutan yang menghiasi wajahnya, kurang lebih pendeta itu berusia tujuh puluh tahun.

"Mata itu... Kau seorang Hyuuga?" tanyanya saat ia melihat warna dari mata Hinata yang sangat khas seorang Hyuuga, "Kenapa kau ada di sini? Dan apa maksudmu merusak segel itu?!"

Pendeta itu memberondong Hinata dengan banyak pertanyaan, ia sama sekali tidak menduga jika ada manusia yang datang ke desa tak berpenghuni ini, apalagi seorang Hyuuga dari Konoha.

Hinata memandang pria tua itu dengan malas. Ia sudah bukan lagi Hinata yang dulu, yang jika bertemu orang akan berbicara sopan dan tersenyum ramah. Hinata bukan lagi seorang yang lemah.

"Bukan urusanmu, Pak pendeta. Dan satu lagi yang perlu ditegaskan, aku bukan lagi seorang Hyuuga."

Hinata berbalik badan, ia ingin melanjutkan perkerjaannya yang tertunda. Namun, belum sempat ia mendekatkan tangannya pada segel kuning yang memenuhi pintu, suara keras dari belakang membuat pergerakan tangannya berhenti.

"Jangan!" teriak pendeta tersebut.

Hinata sedikit terkejut saat mengetahui pendeta itu tepat berada di belakangnya, mencengkram lengannya dengan kuat. Segera Hinata berbalik badan, melirik sang pendeta kuil dengan tatapan tidak suka.

"Lepaskan aku, pendeta," ujarnya dengan nada datar dan dingin. Tak ada satupun ekspresi yang dapat pendeta itu tangkap dari wajah Hinata. Pendeta itu sedikit gentar saat melihat ekspresi dan sorot mata Hinata yang dingin.

"Tidak akan kubiarkan kau menepaskan iblis tersebut. Leluhurku sudah susah payah mengurungnya di sana."

Bukannya melemah, cengkraman tersebut semakin kuat menekan lengan Hinata, membuat gadis itu mengernyit kesakitan.

"Kau terlalu mengganggu, Pendeta Tua!"

Hinata menghentakkan tangannya, memaksa pendeta tua itu melepas cengkraman tangannya. Sebenarnya ia tidak ingin melukai siapapun, tapi kalau terpaksa dan ada yang mengganggu rencananya, apa boleh buat, Hinata akan bertarung melawan siapa saja yang menghalangi rencananya.

"Bunuh saja dia, Gaki. Bunuh! Bunuh! Warnai tanganmu dengan darahnya!"

Bisikan itu. Bisikan itu terdengar lagi, menyebabkan getaran aneh pada liontin yang ia kenakan, dan sensasi panas terasa membakar saat liontin itu menyentuh kulitnya.

"Kau itu lemah, Pak pendeta, tapi kau masih berani melawan seorang kunoichi sepertiku. Wah, wah, aku hargai semangatmu itu."

Hinata tersenyum, atau lebih tepatnya menyeringai. Tangan kanannya entah sejak kapan sudah membawa kunai, siap menyerang musuh di depannya. Pendeta itu mundur beberapa langkah, menjaga jarak aman untuk bertarung. Keduanya memasang kuda-kuda, siap untuk bertarung.

"Uhuk."

Rupanya Hinata bergerak lebih lincah, dengan cepat ia sudah ada di depan pendeta dan memukul perutnya hingga bibirnya mengeluarkan darah. Sang pendeta jatuh tersungkur beberapa meter.

"Apa kau masih mau melawanku, Pak Pendeta?" tanya Hinata, masih dengan tatapan datar.

Pendeta itu meringis, tangannya memegang perutnya yang nyeri, sementara sebelah tangannya menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya, "Tidak akan pernah!"

Pria tua itu berteriak sambil berlari menerjang Hinata dengan tangan yang memegang tongkat. Suara gemerincing dari cincin-cincin yang ada di atas tongkat bertabrakan dengan suara derap langkah sang pendeta. Semangatnya tidak luntur, meski pendeta itu tidak begitu ahli dalam hal menyerang.

"Bunuh, bunuh, bunuh, bunuh."

Kembali Hinata mendengar suara dari dalam kuil. Suara dalam dan serak sedang menyemangatinya untuk membunuh. Tubuh Hinata merinding, membuat darahnya berdesir dan adrenalin berpacu cepat.

Entah mengapa, rasanya waktu bergerak sangat lambat. Di depannya ia datap melihat pendeta tersebut, menggerakkan seluruh otot kaki dan tangannya untuk sampai ke hadapan Hinata, namun dalam gerakan slow motion.

'Apa aku harus membunuhnya?' batinnya.

'Ya! Bunuh saja dia. Makhluk lemah memang tidak pantas hidup di dunia.'

Suara dari dalam kepalanya menjawab, memberi saran licik pada sang gadis Hyuuga.

'Jangan! Pendeta tua itu tidak salah, jangan kau bunuh dia.' Meski agak samar, Hinata bisa mendengar suara penolakan dari dalam dirinya. Terdengar pelan dan sayup, kemudian hilang. Tergantikan dengan bisikan 'bunuh-bunuh' berulang-ulang.

"Ayo bunuh dia, Gaki. Bunuh, bunuh, bunuh."

Suara dari dalam kuil makin membuat keruh suasana. Hinata menutup mata, menajamkan konsentrasi, berusaha menengkan pikiran dan menghilangkan suara-suara itu dari kepalanya.

Seketika itu juga matanya terbuka, menampilkan kilau perak. Tajam seperti mata elang, bersiap menerima serangan dari musuh.

Pendeta itu mencoba meninju kepala Hinata, namun gagal karena berhasil dielak Hinata dengan mudah. Hinata masih belum menyerang, ia hanya menghindari setiap serangan yang dilayangkan sang penjaga kuil. Beberapa menit berselang, tak ada hasil yang memuaskan. Keduanya masih sama-sama berdiri, tapi stamina keduanya sangat berbeda. Hinata masih terus menghindar, tenaganya tak berkurang sedikitpun. Berbanding terbalik dengan lawannya yang sudah ngos-ngosan dan kelelahan.

"Hah...hah... Berhenti menghindariku, wanita jalang!" maki sang pendeta. Ia sangat lelah, sampai-sampai ia mengucapkan sumpah serapah.

"Kalau itu maumu, pak tua. Akan kukabulkan," jawab Hinata ringan.

Tanpa ragu Hinata mulai mengaktifkan byakugan miliknya. Dengan mata warisan klannya ini, ia bisa melihat aliran chakra yang ada di tubuh lawan.

Set.

Hinata sudah ada di samping kiri sang lawan, dengan cepat tangan kanannya menotok salah satu saraf di bagian bawah ketiak, kemudian berpindah secepat kilat. Berputar mengelilingi tubuh lawan, sambil tangannya menotok beberapa titik-titik syaraf penting.

Kurang dari satu menit, akhirnya Hinata berhenti. Tubuhnya membelakangi lawan.

"A-a-apa yang kau lakukan padaku?" Suara pendeta itu terdengar patah-patah. Sang pendeta rupanya sudah dilumpuhkan oleh jurus andalan klan Hyuuga, pria tua itu berusaha menggerakkan tangan serta kakinya, namun semuanya sia-sia. Tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali.

Hinata berbalik badan, menatap tubuh kaku sang pendeta, "Aku hanya melumpuhkan syaraf motorikmu, pak pendeta. Berterimakasihlah karena aku tidak jadi membunuhmu," Hinata memberikan senyum terbaiknya, kemudian berbalik menjauhi tubuh sang pendeta tua.

"Kau wanita iblis. Kau sudah dirasuki rasa keputusasaan dan dendam, tujuanmu tidak akan tercapai," dengan sisa-sisa nafas, pendeta itu berbicara dan berhasil membuat langkah Hinata terhenti.

Hinata tersenyum, tanpa susah payah menoleh ke belakang, "Terima kasih atas pujiannya, Tuan pendeta."

Gadis itu sama sekali tidak peduli dengan ucapan si pendeta tua, ia terus melangkah, meninggalkan tubuh kaku si pria tua, dan kembali melanjutkan aktifitasnya yang tertunda.

.

.

.

"Hei, Gaki. Akhirnya kau kembali. Kenapa kau tidak bunuh pendeta tua itu?"

Hinata sama sekali tidak menjawab. Ia hanya memandang pintu kokoh di depannya, mengamati setiap kekkai berwarna kuning yang sudah rusak, akibat robekannya beberapa waktu lalu, kemudian beralih menatap liontin berbentuk tetesan air yang melingkar di lehernya.

"Hei, jawab aku, manusia!" suara itu terdengar murka karena diabaikan.

"Aku akan mengeluarkanmu, tapi dengan satu syarat."

"Apa?" tanya suara itu dengan tidak sabar.

.

.

.

"Hidupkan lagi Naruto dan Neji."

.

.

Hening.

Hinata tak mendengar jawaban dari balik pintu, namun ia tetap menunggu. Akan tetap menunggu meski bertahun-tahun lamanya.

"Baiklah, itu perkara mudah," akhirnya, suara berat itu menjawab.

Jawaban itu langsung saja membuat lutut Hinata lemas. Pundaknya terasa ringan, rasanya beban berat yang ditangungnya selama ini menguap entah kemana. Gadis itu menyandarkan keningnya di permukaan kasar daun pintu.

"Be-benarkah itu?" tanya Hinata dengan tidak percaya, bahunya bergetar, susah payah ia menahan air yang mulai mengalir di pelupuk mata.

"Hn. Yang jelas cepat buka segel ini, aku sudah tidak sabar menghirup udara bebas."

Hinata menuruti perintah―entah siapa atau apa yang ada di dalam sana. Hinata tidak peduli dengan sosok tersebut, meski itu iblis, setan, maupun monster sekalipun, asalkan bisa mengabulkan permintaannya, ia bersedia melakukan apa saja.

Hinata tidak bisa menstabilkan kinerja jantungnya yang berdetak liar, memukul rongga dadanya dengan keras. Keringat dingin mengucur deras di setiap pori saat tangannya merobek kertas jimat berwarna kuning.

"Kau harus tepati janjimu. Kalau tidak, aku tak segan-segan mengurungmu kembali," ucap Hinata dengan nada ancaman. Tangannya masih bergerak dengan cekatan merobek satu-persatu kekkai yang menghiasi pintu.

"Hahaha..."

Suara itu tertawa mengejek. Menertawakan ancaman Hinata. Tidak mungkin seorang gadis lemah bisa kembali mengurungnya, dulu saja butuh sedikitnya seratus orang lebih untuk mengurungnya di sini. Tapi, ia harus mengakui tekad Hinata yang besar itu.

"Kau gadis yang menarik. Siapa namamu?"

"Hinata. Panggil aku Hinata."

"Hmm. Nama yang bagus," suara itu sedikit memuji, "Bisa kau percepat? Aku sudah tak sabar lagi."

Hinata sebenarnya ingin membantah, ia sama sekali tidak tahu sosok asli suara yang ada di balik pintu, berikut juga dengan kekuatan yang dimilikinya. Tapi, ia sama sekali tidak menyangka sifat iblis yang terkurung itu terdengar amat menyebalkan di telinga Hinata. Namun, sekali lagi ia harus bersabar demi tujuan utamanya.

Hinata tetap bungkam, sementara tangannya sibuk bekerja.

"Yah, begitu. Sedikit lagi... sedikit lagi...aku akan bebas."

Kekkai terakhir akhirnya rusak di tangan Hinata, bersamaan dengan helaan nafas panjang Hinata.

"Sudah selesai, lalu aku harus apa?" tanya Hinata.

"Buka pintunya!"

Hinata mengangguk dan mendorong daun pintu dengan sekuat tenaga, rupanya butuh tenaga ekstra untuk membukanya. Mungkin karena sudah lama tertutup, pintu kayu itu susah dibuka.

Kriet.

Derit pintu terdengar, perlahan namun pasti daun pintu tersebut bergerak dan terbuka lebar. Sebuah pemandangan kuil tersaji di hadapan Hinata. Penuh debu dan tak terawat. Kayu-kayunya sudah dimakan rayap, cat dindingnya juga sudah banyak yang terkelupas. Meski terlihat bobrok dan tua, tidak ada yang aneh dari kuil tersebut. Aksen merah masih mendominasi warna di dalamnya. Ada tempat menaruh dupa, altar untuk memanjatkan doa, persis seperti kuil-kuil pada umumnya.

Namun ada yang berbeda. Hawa di sekitar Hinata terasa berat dan dingin. Aura kegelapan tersebut berasal dari kotak kecil di tengah-tengah altar.

"Kemarilah, Hinata."

Suara itu berasal dari dalam kotak, memanggil Hinata. Tanpa ragu, gadis berambut biru kelam itu mendekat, melangkahkan kakinya ke arah altar.

"Buka peti ini!" perintahnya.

Hinata berlutut. Tanpa rasa takut, tangannya terulur mengambil peti berukuran sedang tersebut. Dengan teliti ia melihat ukiran-ukiran yang tercetak dengan indah di permukaan peti. Berbentuk sulur-sulur dan terdapat kelopak bunga di bagian atas peti.

"Bagaimana caraku membukanya? Ini terkunci," ucap Hinata. Ia sudah mencoba membukanya namun kotak yang terbuat dari perak itu tetap tertutup rapat.

"Gunakan liontin itu. Itu satu-satunya kunci yang bisa membukanya."

Pandangan Hinata teralihkan ke bandul berbentuk air mata. Ah, ia ingat pembicaraan ayahnya dengan Tsunade-sama tempo lalu. Segera Hinata melepas kait yang berada di belakang lehernya, setelah itu ia mendekatkan bandul itu ke dekat peti.

Cahaya berwarna putih gading perlahan keluar dari dala liontin. Pendarannya mengenai permukaan peti, menyentuh ukiran-ukiran yang ada di sana.

Dapat Hinata lihat cahaya itu menjalar melalui sulur-sulur yang menghiasi kotak perak tersebut. Intensitas cahayanya sangat kuat, sampai-sampai Hinata harus memicingkan mata.

Sinar terang tersebut masih terus bergerak, sampai akhirnya tiba di tengah-tengah, tepat di inti dari kelopak bunga. Detik berikutnya, cahaya tersebut tersedot ke dalam dan membuat suasana kembali normal.

"Apa yang terjadi?" Hinata bertanya, matanya masih berkunang-kunang.

.

Sunyi tiba-tiba datang menghampiri. Hinata menunggu suara dari dalam kotak, wajah―atau lebih tepatnya kuping―ia dekatkan ke permukaan peti.

Ia menanti, namun tak ada sedikit suara pun yang terdengar di balik kotak perak tersebut.

Hinata mulai kehilangan kesabaran, ia mulai mengguncang-guncangkan kotak tersebut, berharap dengan tindakannya tersebut ada jawaban dari dalam sana.

"Apa yang kau lakukan, Hinata?" Suara itu terdengar di balik punggung Hinata. Refleks gadis itu menoleh dan mendapati sesosok pria tanpa busana berjongkok sambil menatap Hinata.

"Hai, Hinata," pemuda asing itu tersenyum, memamerkan deretan gigi putihnya, "Terima kasih sudah membebaskanku."

Hinata sama sekali tidak merespon, matanya bahkan lupa ia kedipkan. Ia terlalu terkejut saat melihat sosok yang ada di hadapannya saat ini.

Bagaimana bisa? Bagaimana bisa wajahnya bisa begitu mirip dengannya.

"Ti-tidak mungkin ini terjadi. Ke-kenapa?" ujar Hinata. Lidahnya kembali susah ia gerakkan dan membuatnya terbata-bata.

Sosok itu masih tetap tersenyum.

Rambutnya, warna matanya, wajahnya, suaranya, bahkan senyuman itu―kenapa, kenapa sangat mirip dengan―

.

.

.

.

"Naruto-kun?"

.

.

.

.

.

To be continued

Ok, akhirnya chapter ini sudah selesai. Huhuhuhu... Sudah amat sangat lama saya menelantarkan fic ini, apa ada yang masih setia menunggu fic ini?

Mohon maaf atas keterlambatannya. Otak saya teralihkan dengan ide-ide baru dan untuk fic ini dan fic MC yang lain, harus saya sesali saya terkena WB #hiks

Bagaimana chapter kali ini, semoga kalian tidak kecewa, dan saya masih kebingungan dengan nama untuk OC saya. Mungkin kalian ada ide? Silahkan berikan saran, kesan, kritik dan pendapat anda semua di kotak review. Saya akan senang sekali mendapatkannya :)

Sampai jumpa lagi di chapter berikutnya.

Salam bau,

MsK