Dua hari sejak pemotretan di kampus sang calon istri, dan Kim Taehyung menyeringai lebar saat ia melihat nominal yang masuk ke rekening tabungannya melalui e-banking. Terlepas dari gaji-nya sebagai fotografer untuk Smart, ada jumlah tambahan yang masuk ke sana. Ya, bayaran Jeon Jungkook sebagai model dadakan. Perusahaan mengirimkannya kepada pria Kim karena mereka tidak memiliki nomor rekening sang model. Tentu dengan pesan agar uang itu diberikan kepada Jungkook.
Taehyung yang kala itu tengah tiduran di kamarnya sambil menonton siaran Law of The Jungle episode Kota Manado menolehkan kepalanya ke arah pintu yang menghubungkan kamar dengan ruang cuci-cuci dan jemur-jemur. Sesosok makhluk gembul berkaos buntung warna hitam dengan gambar Pikachu plus celana kolor putih sejengkal diatas lutut masuk dengan wajah kusut. Bibirnya mengerucut menggemaskan, poninya dikuncir dengan karet yang dibeli di minimarket tempo hari.
"Badanku pegal, celana jeans-mu yang sobek-sobek tadi tidak sengaja kutarik saat menjemur, sobeknya makin lebar." keluh Jungkook seraya menjatuhkan dirinya ke kasur. Ia langsung menarik salah satu bantal dan memeluknya erat. "Aku mau kita beli guling. Nii-nii tidak punya guling, itu menyebalkan. Badanku juga sakit tidur di daybed, malam ini gantian ya?"
Bujang 29 tahun menelan ludahnya kasar. Ia menatap horor sosok kelinci yang mengintip dari balik bantal dengan mata bulatnya yang mengerjab lucu. Sejenak, Taehyung merasa ia tengah berhadapan dengan Juiy sang pujaan hati yang manis dan memaksa si penggila kamera untuk selalu menahan diri.
Kim junior menggeleng ringan. Ia berdehem sekali. "Aku tidak mau tidur di daybed. Salahmu sendiri menolak tawaran untuk tidur di kasur bersamaku."
"Tapi nanti Nii-nii melakukan hal mesum padaku. Aku tidak mau."
Perempatan imajiner muncul di pelipis kiri sang calon suami. Ucapan polos barusan menusuk harga dirinya hingga ke ulung hati seolah Taehyung adalah bujang lapuk tak tahu diri yang tak laku walau telah diobral dengan diskon yang menggoda hati. "Kau terlalu banyak nonton anime hentai. Lagipula kelinci gendut sepertimu… mana aku doyan?"
"Uhh! Dasar om mesum!" pekik Jungkook sambil memukul bantal ke kepala yang lebih tua. Ia bangkit lalu menindih tubuh Kim Taehyung yang tengah berbaring, menduduki perutnya asal sebelum menutup wajah mesum itu dengan bantal. Jeon muda menekannya main-main, berharap Nii-nii-nya mengaduh dan minta ampun, lalu tidak mengatainya gendut lagi. Jika beruntung, Tae nii-nii akan menambahkan uang jajan extra plus ordinaru, but still part of this world dengan sedikit terpaksa.
Namun yang terjadi di luar dugaan. Tubuh kerempeng si bujang lapuk kejang-kejang. Tangannya menggapai-gapai udara dengan dada yang naik-turun secara dramatis. Jungkook kira, si homo Kim hanya main-main, namun ketika tangan itu terjatuh dan tubuh yang didudukinya melemas, perasaannya berubah kacau.
"Nii-nii…" gumamnya ragu. Dengan tangan yang bergetar, Jungkook menyingkirkan bantalnya. Jantungnya berdetak menggila kala ia melihat wajah mengerikan calon suaminya.
Matanya setengah terpejam dengan mulut yang setengah terbuka. Saat Jeon muda mendekatkan jarinya ke lubang hidung pria Kim. Ia tak merasakan aliran udara. Tiada yang berhembus, benar-benar tenang bagai beruang yang tengah hibernasi. Jeon Jungkook tentu merasa panik.
"Jangan bercanda!" sebuah tamparan ia layangkan ke pipi Kim Taehyung.
Begitu keras dan tak berperasaan.
Tidak ada respon.
"Nii-nii! Banguuuunn!" Jungkook berteriak. Ia mengguncang-guncangkan tubuh pria berbalut kaos kedodoran warna biru buluk itu. Sepasang mata indahnya mulai berkaca-kaca ketika Kim Taehyung sama sekali tidak memberikan respon kepadanya.
"Ja -jangan mati…" bisiknya lirih. Putra angkat keluarga Park benar-benar mulai terisak. Wajahnya memerah menahan tangis. Ia begitu takut jika benar Taehyung mati karena itu akan membuat statusnya menjadi seorang penjahat di usianya yang masih sangat muda. "Kumohon… jangan mati."
Tanpa aba-aba, Jungkook memeluk erat pria di bawahnya, menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher dan bahu lebar putra tunggal Kim, lalu menggumam ketakutan. "Aku tidak mau ke kampus tanpa uang saku. Nii-nii kalau mau mati, beri tahu aku pin ATM-mu dulu."
Lalu setelahnya, jitakan gemas mendarat di kepala si mahasiswa.
Tentu saja Jeon muda langsung menjauhkan tubuhnya, melepas pelukan erat di tubuh kerempeng si bujang. Setelahnya, sepasang netranya bergetar seolah tak percaya kala mendapati wajah menyebalkan Kim Taehyung yang memelototinya penuh dendam.
Walau begitu, tetap tampan dan berani.
"Dasar omnivora! Uang saku saja yang ada di dalam kepala kelincimu!"
"Hwaaaa… Nii-nii!" bukannya marah seperti biasanya kali ini pemilik surai copper dengan highlight berwarna merah muda malah menghamburkan dirinya untuk kembali memeluk yang lebih tua. "Kupikir kau mati sungguhan. Uhh… kupikir kau mati.. wajahmu jelek sekali, aku takut kau gentayangan…"
Kim Taehyung, pria bebas berusia 29 tahun yang tengah terjebak dalam sebuah perjodohan karena mengaku homo, saat ini tengah memijit pangkal hidungnya karena merasa mumet. Entah karena omongan sang calon istri yang ia bingung apa maknanya walau jelas-jelas ada ejekan jelek untuknya, atau karena lelah dengan sikap menggemaskan si kelinci montok yang hampir membuatnya teler karena overdosis sesuatu yang manis. Yang manapun itu, tangan kirinya malah berkhianat dengan mengusap lembut tengkuk mulus Jeon Jungkook.
Dan tanpa dugaan, mulutnya ikut melakukan kudeta hati dengan bergumam penuh perasaan.
"Jangan menangis, maafkan nii-nii, hm? Nii-nii hanya bercanda, tidak bermaksud membuat bunny bersedih seperti ini."
Tolong, siapapun…. sadarkanlah Kim Taehyung bahwa tujuan awalnya adalah untuk mengacaukan perjodohan yang direncanakan oleh orangtuanya yang jahat, bukan malah menikmati kemontokan calonnya.
.
.
Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung
Genre: Romance, Humor
Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Rated: Not sure about the genre, but let's say it's M for the language and some progress later
Warning:Ambigu, typo tak tertahankan, mention of m-preg (?)
Hyperbolic sentences, and more (probably makes you wanna puke)
mention of some brands (I'm not paid for this, *sobs)
.
.
"Sorry, Not Sorry"
Part IV: How to Enjoy Life
Kim Taehyung menatap horor ke arah sebuah kotak kardus.
Bukan. Tentu bukan karena ia lelaki kardus, melainkan karena empuk-empuk yang ia remas dan belai dengan kedua tangannya.
Montok dan menggemaskan.
Tapi sungguh membuat pria Kim bergidik ngeri.
Bukan apa-apa, sekitar lima menit yang lalu, sesosok pria tambun memencet bel apartemennya, mengantarkan sekotak kardus, atau sekardus kotak, berwarna coklat susu untuknya.
Benar-benar untuknya karena KIM TAEHYUNG sebagai nama penerimanya tertulis CAPSLOCK dengan kombinasi sempurna format bold, italic, dan underline. Tentu pria berusia dua puluh sembilan itu langsung membuka kiriman itu karena mengira dirinyalah target dari bingkisan misterius yang diserahkan.
Ternyata, ia malah berakhir dengan si gembul montok berwarna putih halus yang membuat sekujur tubuhnya bergetar hebat.
"Tidak mungkin… ini pasti bukan dirimu."
"Nii-nii, siapa yang datang?"
Niatnya, Taehyung ingin melempar sesuatu di tangannya, membuangnya keluar jendela dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Naas, Jeon Jungkook telah melihat segumpal kemontokan yang berada di tangan sang calon suami. Mahasiswa baru itu langsung setengah berlari lalu melompat dan melakukan superhero landing di hadapan pria Kim. Tangan kanannya menyambar buntalan gembul di tangan yang lebih tua.
Setelahnya ia memeluk-meluk benda itu sambil tersenyum lebar. "Nyanko-sensei gembulku… aku merindukanmu sampai-sampai aku susah makan dan selalu memimpikanmu."
Susah makan…
Jeon Jungkook, pendusta ulung.
Kim Taehyung menatap horor ke arah pemuda gembul yang mengatai bonekanya gembul padahal mereka sama-sama gembul. Yeah, dengan Jeon muda yang lebih menggemaskan tentunya. Kehororan terjadi bukan karena boneka dan pemiliknya sama-sama gembul, bukan juga karena otak jenius Kim muda yang menyimpulkan bahwa sensei yang digumamkan Jeon Jungkook dalam tidurnya, kemungkinan besar adalah sensei yang kini dipeluk si calon istri Namun karena sesosok boneka gembul yang tersenyum dengan ekspresi komuk-nya mengingatkan Taehyung akan suatu kejadian beberapa bulan yang lalu.
Sungguh, ia pernah membeli sebuah boneka kucing berwarna putih dengan teplokan yang membujur dari jidat hingga ke pungung. Warna teplokannya setengah orange atau coklat muda, atau apapun itu… dan setengah abu-abu. Boneka itu dibelinya melalui situs online, dikirim langsung dari Jepang ke apartemen miliknya di Korea Selatan, lalu dibungkusnya kembali dengan kemasan yang lebih menggemaskan, plus ucapan selamat ulang tahun untuk seseorang yang lahir tanggal 1 September. Setelahnya, boneka kucing overweight itu ia kirim kembali ke Jepang, dengan harapan si penerima nantinya akan balik mengiriminya sesuatu.
Dan sekarang… boneka itu kembali ke Korea Selatan? Kembali ke apartemennya?
Gila.
Si kucing kelebihan berat badan pastu mumet karena mondar mandir kesana kemari mengunjungi alamat yang itu itu saja.
"Lutuna Nyanko-sensei sayangku…" Jeon Jungkook masih heboh. Kini malah melompat ke sofa, lalu memeluk bonekanya erat-erat sambil berguling dan ndusel-ndusel sudut sofa. Untungnya tidak menggelinding lalu melakukan landing karena pasti tubuhnya akan mengenai meja pendek di depan sofa. "Sekarang aku bisa tidur nyenyak karena hadiah dari kesayangan akan menemaniku sepanjang malam."
Jantung Taehyung berdetaknya lebih kencang seperti genderang mau perang.
Hadiah dari kesayangan.
Faktanya, pria Kim pernah memberikan sebuah hadiah berupa boneka kucing dengan ekspresi komuk yang menggemaskan kepada Bunny Juiy tersayang.
Fakta tambahan, Jeon muda bilang bahwa bonekanya, yang secara misterius juga ber-komuk, merupakan sebuah hadiah, dari kesayangan.
Jika A sama dengan B, dan B sama dengan C. Maka, A sama dengan C.
Tidak, rumus itu tidak bisa digunakan dalam situasi seperti ini. Kalimatnya saja melenceng jauh. Maka untuk menghindari kesalahpahaman juga praduga yang menyesatkan, Kim muda memutuskan untuk bertanya to the point.
"Beli dimana? Jelek sekali bonekanya."
"Ishh… jelek apanya? Nyanko-sensei tampan dan berani! Dia juga menggemaskan seperti aku." pemuda bermata bulat menggembungkan pipinya, bibirnya ber-pout kesal, alisnya bertaut. Niatnya ingin menunjukkan wajah marah, namun berakhir dengan ia yang berevolusi menjadi kelinci manis berpipi gembil.
Yang lebih tua menelan salivanya dengan susah payah. "Menggemaskan dari mana? Untuk apa juga kau membeli kucing yang bahkan bentuknya saja seperti bantal duduk? Mana leher, mana ekor… bulat semua seperti tahu."
"Nii-nii cerewet! Lagipula aku tidak membelinya! Reo memberiku Nyanko-sensei untuk hadiah ulang tahun. Makanya aku sayang sekali sama…" Jeon Jungkook menghentikan ucapannya. Mendadak ia mengingat sesuatu, bahwa temannya di dunia maya, Reo adalah orang yang sama denga lelaki menyebalkan yang kini menatapnya. "Re -Re.. Re…mpah-rempah yang digunakan dalam masakan Thailand sangat beragam."
Terbukti.
Boneka kucing dari seri Natsume Yuujinchou yang dibelikan Kim Taehyung untuk cosplayer idolanya ekuivalen dengan Nyanko-sensei kesayangan Jeon Jungkook.
Ingin rasanya Kim Taehyung mengulang waktu.
Kalau tahu akan begini, ia tidak akan nge-fans dengan Bunny Juiy. Tapi mau bagaimana? Mata Bunny Juiy melemahkan Kim Taehyung saat pertama kali melihatnya di explore SNS miliknya. Ia tak pernah merasa begitu terpesona dan ohh…. pria Kim merasakan cinta pada pandangan pertama. Maksudnya, nge-fans pada pandangan pertama.
Namun perjodohan ini sungguh memberikan beban pikiran tersendiri. Bayang-bayang memiliki istri yang cerewet setiap pagi mengomel, juga banyak bicara saat ingin dinafkahi membuatnya bergidik ngeri.
Kalau tahu Juiy-nya adalah Jeon Jungkook si omnivora yang digadang-gadang akan menjadi istrinya, ia tidak akan pernah memberikan hadiah apapun saat sang cosplayer berulang tahun.
Ia tidak menyesal karena telah mengatai jelek boneka yang ia pilih sebagai kado si manis Juiy, tapi… pengakuan Jungkook barusan entah bagaimana membuat ia sulit bernafas. Bukan karena membayangkan pedasnya tom yum dan aroma cabai yang menyeruak ke dalam indera pernafasannya, namun karena mendadak dadanya menghangat hingga ke kedua pipinya kala mengetahui Juiy kesayangannya sangat menjaga hadiah yang pernah ia berikan.
Sayangnya, Juiy adalah orang yang sama dengan Jeon Jungkook sang calon istri.
Mereka sama-sama terdiam, tenggelam dalam lautan the moment of silence tanpa bisa dikendalikan.
Diam-diam Jungkook menyembunyikan wajahnya ke perut empuk boneka kucingnya, merasa luar biasa payah kala mengingat betapa memalukan pengakuannya.
Taehyung sendiri masih berdiri di samping meja, memasang ekspresi blank andalannya kala sepasang mata elangnya menangkap tingkah menggemaskan Jeon Jungkook yang masih setia menguselkan wajahnya.
Di luar dugaan, pemuda manis menggelindingkan tubuhnya dari sofa, mendarat dengan sebelah kaki ditekuk setelah melompati meja, lalu bangkit dan berlari masuk kamar. Setelahnya, Jeon muda membanting pintu kamar lalu menguncinya dari dalam.
Dan Kim Taehyung baru menyadari sesuatu.
Jeon Jungkook. Membanting. Pintu.
"Shit!" umpatnya penuh perasaan. Ia berjalan cepat ke arah kamarnya, lalu dengan penuh kehati-hatian membelai pintu yang terbuat dari kayu. Ditariknya nafas dalam-dalam, sebelum scream his lungs out. "JEON JUNGKOOK! UANG JAJANMU KUPOTONG SETENGAH KARENA MEMBANTING PINTUKU! DASAR BOCAH! TIDAK SADAR TENAGAMU SEPERTI BANTENG BETINA, HUH!?"
"TIDAAAAAKKKK!" dan teriakan pilu menggema di apartemen seorang pria lajang bernama Kim Taehyung yang tinggal dengan pemuda manis tanpa terikat status pernikahan.
Sebut saja kumpul kebo.
Kumpul kebo yang hambar karena tiada anuanu ketika malam menjelang.
.
.
.
.
.
Pukul setengah tujuh malam, takut-takut Jeon muda membuka pintu kamarnya, tengok kanan kiri seakan ingin menyeberang hanya untuk mendapati calon suaminya duduk di sofa bersama seorang pria yang dikenalnya sebagai Jung Hoseok. Mereka berdua tengah sibuk menatap layar laptop. Sepertinya milik pria Jung karena laptop Taehyung ada di kamar.
"Sudah bangun?" tanya sebuah suara bernada rendah mengagetkan Jungkook.
Pemuda yang terlihat segar karena habis mandi itu tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia mengangguk singkat. "A -aku akan memasak makan malam."
Taehyung hanya diam, kembali fokus ke laptop temannya yang masih menyala. Tangan kanannya menggerak-gerakkan mouse yang terhubung melalui jaringan bluetooth.
"Jangan hiraukan dia, Kook." Hoseok bangkit dari duduknya. Ia berjalan mendekati Jungkook lalu merangkul pundaknya dan berbisik. "Kau masaklah, Taehyung bilang dia kelaparan."
Yang lebih muda mengangguk patuh. Ia bahkan diam saja saat penyandang marga Jung menyeretnya ke daput. Seolah berada di rumah sendiri, si wajah oval mengambil sebuah botol minuman isotonik dari kulkas, lalu menunjukkannya ke Jungkook.
"Aku ambil ini. Selamat memasak untuk calon suamimu." gumamnya tersenyum lebar sambil kembali berjalan ke tempat pemilik apartemen duduk. Ia setengah berteriak tanpa menoleh ke arah Jungkook. "Masak untuk kalian berdua saja. Aku akan pulang begitu urusanku selesai."
Pemuda Jeon tidak bisa menghindari rona kemerahan yang tiba-tiba muncul di pipinya. Ia cepat-cepat menggunakan apron, lalu mulai memasak dengan bahan yang sempat dibeli Taehyung saat ia mencuci tadi. Rencananya, si gigi kelinci akan membuat sup ayam dan fried ham and cheese rolls sebagai sampingan.
Tanpa diketahui siapapun, Jungkook sesekali melirik sang calon suami yang begitu serius memperhatikan apa yang dikatakan pria Jung. Mereka bahkan berdebat kecil dengan Kim Taehyung yang mengumpat dengan wajah kesal, lalu Hoseok akan membalasnya sambil tertawa.
Tak berapa lama, pria yang memakai bomber berwarna hijau itu lalu merapikan gadget-nya, memasukkannya ke dalam tas sebelum pamit.
"Pokoknya aku tidak mau tahu. Besok minggu, kau gantikan aku di event. Aku bisa dicincang habis oleh ketua panitia kalau sampai meninggalkan tugasku di sana."
Pria bersurai tembaga mendengus, "Kenapa juga kau terima pekerjaan itu kalau ternyata kau tidak bisa?"
"Ayolah Tae…" rengek pria yang lebih tua. Ia merangkul pundak Kim muda saat melewati Jungkook yang sibuk memasak. Bergelayut manja, ia tersenyum begitu manis menunjukkan lesung pipinya. "Aku lupa kalau aku sudah menyanggupi untuk menjadi dance tutor tamu untuk unit kegiatan dance di kampusku dulu. Lagipula tugasmu hanya mengambil gambar peserta dan guest star di photo booth. Ketua panitia sudah oke, rundown juga sudah kujelaskan padamu. Kau tidak usah mencari moment, mudah kan?"
"Aku sedang malas."
Jungkook mengeryit di dapur. Ia masih bisa mendengar percakapan kedua pria lainnya yang sepertinya sudah berada di depan pintu. Walau begitu, ia sama sekali tidak mengerti.
"Free pass, snack, makan siang dan makan malam. Masih kurang apa lagi? Untuk acara kecil dan tugas gampang begini, gajinya lumayan. Kau bahkan bisa mengajak Jungkook, dan kalian bisa bersenang-senang di sana."
"Apalagi bersamanya. Aku jadi semakin malas."
Di dapur, Jeon muda mematikan kompor, mengangkat supnya yang sudah jadi.
Setelahnya, ia menyentuh dadanya sendiri. "Uhh… kenapa di sini sakit."
Cepat-cepat ia menggelengkan kepalanya, menata makan malam yang telah siap ke atas meja makan, mencoba mengabaikan pemandangan yang sempat tak sengaja dilihatnya.
Jung Hoseok mengacak rambut calon suami Jeon Jungkook sambil tersenyum lebar, dan Kim Taehyung hanya terkekeh ringan saat menyuruhnya pulang.
"Oh! Kook! Aku pulang dulu!"
Yang dipanggil hanya menoleh, lalu tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Taehyung yang sedari tadi masih memasang wajah ramahnya saat berbicara dengan Hoseok langsung memakai topeng stoic-nya begitu menghadap Jungkook. Ia berjalan angkuh, bahkan ketika melewati meja makan, Kim muda mengabaikannya.
"Nii-nii makan dulu!" tegur namja bermata bulat saat melihat Taetae nii-nii berjalan masuk ke kamar. Padahal jelas-jelas Jungkook sedang menata makan malam mereka.
"Aku kenyang."
Hanya itu, dan Kim Taehyung langsung masuk ke kamar, menutup pintunya dan meninggalkan Jungkook di meja makan sendirian.
Bibir putra angkat keluarga Park mengerucut. Ia mendudukkan dirinya di meja makan, menatap miris masakan yang barusan ia buat.
"Padahal aku sudah membuat yang enak-enak." helaan kasar lolos dari bibir Jungkook.
"Bercanda. Aku hanya mau mandi sebentar." ucap sebuah suara mengikuti derit pintu yang terbuka. "Kau boleh makan dulu kalau sudah kelaparan."
Dan permuda ber-highlight merah muda tersenyum lebar. Ia buru-buru melepas apron panjangnya, menyimpannya di dapur. Sepasang onyx-nya berbinar kala menyiapkan air minum untuk mereka berdua, padahal cuma air putih.
Oh!
Jungkook mengurungkan niatnya untuk duduk. Ia kembali ke dapur untuk membuka kulkas, mengambil sekaleng milkis kesukaan Kim muda.
Setelahnya, ia bersenandung ringan sambil menggoyang-goyangkan kakinya saat duduk menunggu Taehyung yang sedang mandi.
Tidak sampai sepuluh menit, pria yang dinanti tiba dengan kaos putih lengan panjang dan kolor berwarna hijau tua. Ia langsung duduk di hadapan Jungkook. Sang calon istri yang begitu pengertian langsung mengambilkan nasi untuknya, juga menuang sup ayamnya di mangkuk kecil yang telah ia ambil sebelumnya.
Tanpa sepengetahuannya, Kim Taehyung tengah keheranan dengan tingkah girang si gembul. Bukan apa-apa, hanya saja mereka berdua berada di posisi saling memunggungi. Tapi kini, Jeon muda malah seakan menikmati situasi yang diciptakan oleh kekejaman para orang tua yang ngebet ingin memiliki cucu.
"Selamat makan." ucapan bernada ceria Jungkook membuyarkan pikiran putra tunggal Kim.
Ia berdehem sekali sebelum bergumam. "Selamat makan."
Setelahnya, mereka makan dalam diam. Hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring atau mangkuk, juga deru nafas kelewat halus yang menyelimuti mereka. Dan Kim muda berinisiatif untuk menjadi yang pertama bicara.
"Uang hasil kau menjadi model tempo hari sudah masuk ke rekeningku. Besok kuberikan."
Sejujurnya Taehyung ingin sekali melakukan tindak korupsi, namun ia tak sampai hati. Putra angkat keluarga Park barangkali membutuhkan beberapa barang yang ia ingin beli, namun tidak meminta uang ekstra kepada Kim muda karena tidak berani.
Benar saja, mata Jeon Jungkook berbinar senang. Bibirnya tersenyum lebar hingga gigi kelincinya terlihat jelas. Susah payah ia berusaha menelan nasi dan lauk yang ada di mulutnya sebelum bicara. "Hyung kirimkan ke rekeningku, ya? Nanti kuberitahukan nomor rekeningku."
Taehyung hanya mengangguk sebelum kembali fokus ke makanannya. "Besok aku ke kampusmu untuk menemui seseorang. Kau kuliah jam berapa?"
"Umm.. sebentar." yang lebih muda memasukkan sesuap penuh nasi dan potongan ayam ke dalam mulutnya, lalu menaruh sendok. Setelahnya, ia berlari kecil ke kamar untuk mengambil ponsel. Setengah berteriak dari dalam kamar, Jungkook berucap. "Aku masuk jam delapan, lalu jam sebelas aku sudah selesai. Soalnya hanya ada satu mata kuliah."
"Bagus." gumam pria Kim tanpa menoleh ke arah namja bermata obsidian. Ia sibuk mencomot fried ham and cheese rolls lalu memasukkannya ke dalam mulut. "Besok kita beli almari, lalu ikut aku melihat-lihat kamera."
"Untukku?"
Kalimat tanya penuh minat dari pemuda yang kini telah kembali duduk di hadapannya sukses menyedot seluruh atensi seorang Kim Taehyung. Ia mengeryit saat melancarkan kalimat yang mempertegas sesuatu. "Almarinya. Hero 4-nya milikku."
"Ishh! aku juga tidak mau kamera seperti itu. Untuk apa?"
Pria bermata tajam tidak mempedulikan. Ia lebih memilih untuk menyelesaikan makan malamnya sebelum beranjak dan mencuci peralatan kotornya sendiri.
"Lain kali jangan pakai terlalu banyak mayo di fried ham and cheese rolls."
"Hmm, tapi aku suka mayo." penyandang marga Jeon malas membalas karena tentu saja, Kim Taehyung merupakan calon suami yang banyak minta. Jungkook mulai terbiasa.
"Mayo-ku sudah banyak. Malahan harus segera dikeluarkan."
"Huh? Apanya yang banyak?"
"Tidak."
"Tadi Nii-nii bilang sesuatu."
"Kau salah dengar."
"Ada mayo-nya pokoknya."
"Mayo yang ada di roll ini terlalu banyak."
"Ohh…"
Kim Taehyung, sepertinya otaknya sudah konslet. Ini untuk pertama kalinya ia bicara ngawur tanpa melewati filter terlebih dahulu. Parahnya, ia seolah curhat kepada bocah bau kencur macam Jeon Jungkook. Ralat, bocah bau bedak bayi macam Jeon Jungkookk.
Apapun itu, malam ini ia tidak akan bisa mengeluarkan mayonnaise dengan bebas karena Jeon montok memutuskan untuk tidur di ranjang bersama Kim muda. Tentu dengan posisi saling memunggungi karena jika Taehyung melihat sedikit saja wajah menggemaskan si kelinci saat sedang terlelap tanpa pertahanan, mayo miliknya akan berlomba-lomba untuk muncrat dari botolnya.
.
.
.
.
.
Pagi harinya, Jungkook bangun dengan jantung yang berdetak kencang, bukan lagi seperti genderang mau perang. Malahan, jantungnya seolah sedang berusaha untuk menjebol tulang rusuknya, melompat keluar dari rongga dada montoknya dan ber-break dance di lantai.
Ia ingat semalam tidur dengan posisi saling memunggungi dengan si ganteng calon suami. Dan entah apa yang terjadi, sekarang ini ada sesuatu yang berat melingkar di pinggangnya. Ralat, seluruh tubuhnya seolah tertindih sesuatu.
Pandangannya gelap dengan aroma maskulin yang memeluk tubuhnya. Sebenarnya ia merasa nyaman karena ini sungguh hangat. Tapi ini sungguh membuat wajahnya bersemu dan nafasnya memburu.
Bukan, bukan lengan yang melingkar di pinggang Jeon Jungkook, melainkan sebuah kaki. Dan, jika otaknya tidak salah mengingat bagian-bagian tubuh manusia, saat ini wajahnya tenggelam di sebuah perut.
Lebih tepatnya, perut agak ke bawah sedikit.
Yang paling penting, ada sesuatu yang mengganjal dan terasa hangat, sangat hangat dan keras, yang menempel di dagunya.
Jeon Jungkook menelan saliva dengan susah payah. Ia bahkan tak berani untuk sekedar bernafas. Tubuhnya terasa kaku. Bahkan untuk memindah lengannya yang memeluk kaki itu, ia tidak berani.
Ketika kaki itu semakin erat memeluk tubuh Jungkook, mau tak mau ia bertindah karena dadanya mulai merasa sesak.
"Nghhh…" Jeon Jungkook melenguh lirih. Sesuatu yang hangat yang menempel di dagunya, entah bagaimana terasa semakin keras, seolah begitu ingin mengusel wajah manisnya, atau malah melesak ke dalam mulutnya.
Apapun itu, membuat tubuh Jungkook memanas.
"Nii… Nii-nii…" gumamnya lirih. Ia takut membangunkan seseorang yang menempel dengannya, yang dicurigai sebagai Kim Taehyung sang calon suami. Tapi membiarkan posisi mereka seperti ini sungguh tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
Kalau jumlah detak jantung seorang manusia sudah ditentukan, pasti Jungkook akan mati muda gara-gara pria Kim sialan yang sangat tampan selalu membuat jantungnya berdetak menggila.
"Nii-nii!" pekiknya dengan suara yang meninggi. Tangannya dengan kurang ajar mencubit pinggang pria yang lebih tua.
Dadanya kian sesak, entah karena tubuhnya memanas atau karena jantungnya yang bekerja terlalu keras, atau karena sesuatu yang menempel di dagunya. Walau terhalang kolor berwarna hijau, tetap saja Jeon muda bisa merasakan teksturnya dengan sangat baik.
"Uhh." keluuh penyandang nama panggung Juiy, ia memantabkan hati untuk membangunkan calon suami atau dirinya sendiri yang akan mati.
Maka dengan tekad sekuat baja, ia membuka mulutnya, perlahan menempelkan bibirnya ke benda hangat dan keras yang maish terbungkus celana, dan dengan besar gaya yang ia perkirakan tak terlalu berbahaya, Jungkook mengatupkan mulutnya, menggigit sosis dewasa Kim muda.
Pria bersurai tembaga mendorong tubuhnya sendiri ke belakang hingga ia terjengkang dan jatuh dengan kaki mengangkang di atas lantai.
"Bangsat!" umpatnya sekuat tenaga. Kedua tangannya sudah memegangi selangkangannya, membelai-nya penuh sayang sambil meringis menahan sakit. "Keparat, siapa yang berani pagi-pagi membangunkan Jack dengan cara yang keji?"
Perlahan tapi pasti, tubuh berbalut kaos putih itu mendudukkan diri, menilik pemuda kelinci yang menatapnya dengan sepasang onyx yang bergetar penuh arti.
Kim Taehyung langsung tahu, Jeon Jungkook adalah tersangka penggigitan terhadap Jack, nama yang ia berikan kepada tytyd perjaka miliknya.
Sepasang manik kecoklatan itu memicing, menatapnya tajam bagai elang yang siap memangsa seekor kelinci kelaparan yang dengan kurang ajarnya mencoba untuk memakan si perkasa Jack.
"Kau cari mati, bayi…" gumamnya dengan suara rendah yang bergetar menahan amarah.
Perlahan tubuh berkulit eksotis itu merangkak ke atas ranjang, mencoba menerjang Jungkook yang langsung kabur, melompat dari kasur dan berlari masuk ke kamar mandi.
"Jeon! Berani kau padaku? Ingin uang jajanmu kupotong, atau kupotong yang lainnya. Atau kukempeskan tubuhmu yang montok itu? Jawab!"
Kim muda menunggu di depan pintu kamar mandi. Ia tak berani menggebrak, apalagi menggedor pintu berulang kali dikarenakan wajah marah eomma-nya yang selalu menghantui.
"Jeon Jungkook!"
Terdengar suara benda jatuh dari dalam sana, dan Kim Taehhyung bungkam seketika. Sejujurnya ia merasa takut kalau-kalau si gembul terpeleset atau malah koprol dengan sengaja.
Kalau ada perabot yang rusak, pria Kim akan repot nantinya.
"Kook..?" panggilnya lagi. Kali ini dengan nada yang lebih tenang. Rasa khawatir tak dapat dipungkiri karena bagaimanapun, jika goresan kecil saja tercipta di tubuh mulus dan berisi Bunny Juiy, Kim Taehyung bisa dikebiri.
Butuh kurang lebih lima menit sebelum sebuah suara lembut menggema dari ruang sempit kamar mandi. "Maafkan aku…"
Taehyung menghela nafas berat. Kemarahannya sudah menguap selama menunggu Jungkook bicara sesuatu. Sepasang manik kecoklatannya melirik ke bawah, menatap nanar tangan kanannya yang membelai sayang gundukan di selangkangan.
Pria Kim beruntung karena yang didapatnya hanya gigitan ringan.
"Ya sudah. Mandi yang bersih lalu buatkan sarapan. Kita berangkat bersama." ucapnya pasrah. Ia menuju salah satu almari untuk mengambil cargo pants panjang dengan warna putih gading, juga sebuah long sleeve hitam polos. Tentu dengan trunks miliknya juga.
Setelah itu, pria Kim meninggalkan closet untuk membersihkan diri di kamar mandi luar. Pastinya ditambah kegiatan menidurkan Jack.
Biasanya, Kim Taehyung hanya butuh lima sampai sepuluh menit untuk mandi, namun pagi ini ia menghabiskan lebih dari dua puluh menit. Ia bahkan keluar masih dengan rambut setengan basah dan handuk kecil yang mengalung di lehernya.
"Nanti ingatkan untuk membeli sabun." gumamnya seraya mengusak rambut kecoklatan miliknya dengan tangan kiri saat menghampiri sesosok gembul yang sedang menata roti panggang di atas meja pantry. Ia langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Jungkook, malas duduk di meja makan.
Kalau boleh jujur, pria Kim malu setengah mati karena kejadian barusan. Bisa-bisanya ia kecolongan dan membiarkan kelincinya kelaparan, sampai-sampai memakan Jack kesayangan.
Ia memutuskan untuk menjaga kejadian ini rapat-rapat, tak ingin membahasnya karena jika memori itu mencuat, ia sendiri yang akan sekarat karena overdosis rasa malu.
Yang diajak bicara hanya mengangguk, semakin menundukkan kepalanya. "A -aku mau beli beberapa kebutuhan juga."
"Hn."
Setelahnya, hening.
Jungkook menyiapkan sosis panggang dan telur goreng untuk menemani roti mereka. Ia sedikit banyak mengutuk dirinya yang malah memasak sosis. Walau sudah ia potong-potong benda itu sungguh dengan suksesnya mengingatkan pemuda Jeon kepada sosis milik Kim Taehyung.
Mencoba menepis ingatan mengenai kejadian memalukan, jeon muda memilih untuk menambahkan banyak mayo di piring miliknya. Menghormati sang calon suami, ia meletakkan botol mayonnaise di meja, lalu membuatkan kopi untuk Taehyung sebelum mengambil sekotak susu melon untuknya sendiri.
Setelahnya, ia duduk di kursi, tepat di sebelah Kim taehyung karena pria yang lebih tua darinya duduk di kursi tengah, menyisakan masing-masing satu kursi di sebelah kanan dan kirinya
Mereka makan dalam diam.
Jungkook yang masih merasa sangat malu, sekaligus merasa bersalah karena kejadian gigit sosis tadi pagi belum mau menatap putra tunggal keluarga Kim. Sementara si bujang dua puluh sembilan tahun menganggap dirinya bodoh karena selama kejadian mengosongkan mayonnaise di dalam kamar mandi, wajah dan tubuh seorang pemuda kelinci lah yang secara ghaib muncul di pikiran Kim Taehyung sebagai pemicunya. Mereka berdua bungkam, sampai akhirnya Jungkook memutuskan untuk angkat bicara.
"Nanti aku pulang sendiri atau Nii-nii akan mejemputku?"
"Kujemput. Lagipula aku hanya mengunjungi gedung di belakang fakultasmu untuk sebuah urusan. Hemat ongkos."
"Ohh…"
"Aku selesai." gumam Taehyung meninggalkan piring dan cangkir yang telah kosong. Ia lalu berjalan masuk ke kamar.
Setelahnya, yang Jungkook dengar hanyalah suara hair dryer.
"Pergi seenaknya. Aku belum dapat uang saku." pemuda yang mengenakan polo shirt dengan motif garis-garis hitam-abu-abu tua yang dimasukkan ke dalam celana hitam yang pas di kaki jenjang sexy berdecak kesal. Ia berdiri, merapikan ikat pinggangnya lalu berjalan menghentak ke sisi lain pantry untuk mencuci piring dan cangkir yang kotor.
Diambilnya tas punggung yang telah ia letakkan di sofa. Setelahnya ia memakai sneakers warna hitam.
Kim Taehyung berjalan dalam diam sambil membuka dompetnya. Ia menyodorkan beberapa lembar won untuk Jungkook, langsung dibalas dengan senyum lebar dan ucapan terima kasih yang begitu tulus karena jumlahnya sama seperti jumlah yang ia terima kemarin.
Dengan kata lain, uang sakunya tidak dipotong.
Setelah sang calon suami memakai sepatunya, mereka meninggalkan apartemen untuk berangkat ke kampus.
.
.
.
"Hubungi aku kalau kelasmu sudah selesai. Aku ada perlu sebentar."
Jungkook mengangguk ringan. Ia segera membuka pintu di sisinya, lalu berlari ke arah gedung fakultasnya. Sementara itu, Taehyung tancap gas untuk menemui seseorang yang berjanji akan menemuinya.
"Harus minta uang transport karena aku yang datang menemuinya." gumam Kim Taehyung sesaat setelah menginjak gas. Ia menuju ke gedung yang berada tepat di belakang fakultas sang calon istri untuk menemui seseorang.
Sementara itu, Jungkook berjalan santai di koridor. Masih ada sekitar lima belas menit sebelum kelasnya, jadi ia merasa tak perlu terburu-buru. Menaiki tangga pun ia lakukan sambil melompat-lompat seperti kelinci. Untung saat itu tangga dalam keadaan sepi, jadi tidak ada yang memekik gemas dan menarik pipinya.
Ia menyapa teman-temannya yang sudah terlebih dahulu berada di kelas, lalu memilih untuk duduk di barisan tengah, kursi paling ujung dekat jendela. Baru saja ingin mengajak temannya ngobrol, ia mendapati sebuah siluet yang familiar di bawah sana.
Seorang pria dengan celana berwarna putih gading dan kaos hitam berjalan dari area parkir ke area gazebo tempat mahasiswa biasa nongkrong. Jeon Jungkook berada di lantai tiga, tapi ia sangat yakin bahwa pria yang tadi pagi ia gigit sosisnya itu tengah tersenyum lebar, menunjukkan rectangle smile yang sepertinya tidak pernah Jungkook lihat.
Melambaikan tangan kanannya ke arah seseorang, sementara tangan kirinya menempelkan ponsel ke telinga, seorang perempuan tiba-tiba berlari kecil menghampirinya.
Taehyung segera menyimpan ponsel pintarnya. Mereka lalu saling sapa, saling tertawa. Setelahnya, sosok yang memakai rok berwarna baby blue dan kemeja putih yang begitu pas di tubuh itu terlihat anggun saat menyeret Kim Taehyung ke sebuah gazebo yang sudah ditempati oleh beberapa orang. Dari tempat Jungkook, terlihat dua orang yeoja dan satu orang namja sudah terlebih dahulu berada di sana.
Dengan lengan yang diseret seperti itu, pria Kim malah tertawa dan mengikutinya dengan santai.
"Semalam Hobi hyung, sekarang josei tidak jelas berambut panjang. Uhh…"
"Apa?"
Jungkook menoleh saat sebuah suara tertuju padanya. Dengan mata bulat yang mengerjab, ia menunjukkan wajah bingungnya? "Huh?"
"Kau tadi bicara apa? Kupikir kau bicara padaku."
"Ohh…" pemuda bergigi kelinci menggeleng ringan, ia tersenyum tipis. "Tidak. Aku hanya bergumam tidak jelas."
Setelahnya Jungkook tertawa canggung. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal untuk menghilangkan groginya. "Oh, kita belum sempat berkenalan. Namaku Jungkook."
Namja dengan surai berwarna abu-abu silver itu tersenym lebar, menjulurkan lengannya untuk menyambut tangan Jungkook, mereka bersalaman.
"Panggil aku Bambam. Senang berkenalan denganmu, Kook."
.
.
.
Pukul sebelas kurang sepuluh menit, kelas Jungkook diakhiri. Ia langsung membereskan buku dan pulpen yang tadi ia gunakan untuk membuat sketsa tidak jelas selama proses pembelajaran berlangsung.
Ia sungguh tidak bisa berkonsentrasi karena Kim Taehyung yang terlihat begitu akrab dengan orang lain membuat pikiran penyandang marga Jeon terganggu.
Saking sibuknya dengan pikiran sendiri, bahkan ia tidak menyadari teman barunya telah mengajaknya pulang bersama sebanyak lebih dari tiga kali.
"Ehehe.. maaf, aku dijemput. Mungkin lain kali saja."
Namja dengan bibir tebal yang sedari tadi coba mengajaknya bicara hanya mendengus kesal. Walau begitu, mereka tetap berjalan bersama saat keluar dari gedung. Jungkook yang memang pemalu lebih banyak diam, apalagi ia dan Bambam baru mulai bicara hari ini. Sementara Bambam yang memang easy going menceritakan banyak hal, terutama tentang tempat-tempat menyenangkan di Korea Selatan mengingat Jungkook menghabiskan waktu sekolahnya di Jepang.
"Kau pulang dengan siapa?" tanya namja bersurai abu-abu. Ia mencoba memastikan karena sejak tadi Jungkook begitu sering melihat ponsel pintarnya. Sebenarnya, ia merasa penasaran.
Bukan apa-apa, dirinya sempat melihat penyandang marga Jeon diantar menggunakan mobil tadi pagi. Dan dari siluet yang ia lihat, pria yang duduk di belakang kemudi memiliki postur tubuh sempurna dan wajah bak seorang raja muda.
"Umm… itu." sejujurnya Jeon muda bingung harus menjelaskan seperti apa.
Sebenarnya, apa hubungan antara dirinya dengan Kim Taehyung?
Tunangan? Tapi mereka bahkan tidak memakai cincin pengikat.
Kekasih? Tentu tidak mungkin.
Teman? Mereka saja saling mengibarkan bendera perang. Yah, walau mereka selalu tidur sekamar, bahkan tadi malam menggunakan ranjang yang sama.
Musuh?
Dan suara klakson membuyarkan lamunan pemuda Jeon. Mobil Subaru Forester sudah berhenti di depan gedung kuliahnya, dengan pintu penumpang yang dibuka kasar dari dalam.
"Bocah! Masuk dalam hitungan ketiga atau kutinggal."
Suara yang setengah berteriak itu membuat Jungkook buru-buru pamit kepada temannya, lalu berlari dan masuk ke dalam mobil.
Tanpa menunggu pintu penumpang tertutup sempurna, Kim Taehyung sudah terlebih dahulu menjalankan mobilnya.
"Kakaknya Jungkook lumayan juga." gumam Bambam menjilat bibir bagian bawahnya yang terasa kering.
Di dalam mobil, Taehyung menggerutu. Ia tengah berbicara dengan seseorang melalui sambungan telefon. Tentu menggunakan wireless earphone di telinga kanannya agar ia tetap aman saat mengemudi.
Pemuda Jeon hanya diam, sesekali melirik pria Kim yang memukul stir mobilnya atau mengumpat menggunakan bahasa Korea dan bahasa Inggris yang begitu fasih. Terkadang sumpah serapah dalam bahasa Jepang lolos juga dari mulut kotornya.
Efek menonton anime, hafal kata-kata kasar dalam bahasa Jepang.
"Hyung, kau tidak bilang ini acara Cultural Day, katamu aku hanya mengurus foto untuk lomba cosplay. Brengsek!"
Mereka masih sama-sama sibuk dengan dunianya maisng-masing, Jungkook memutuskan untuk bermain ponselnya, wajahnya cemberut saat membaca pesan dari teman barunya,
.
Kakakmu keren, lain kali kenalkan padaku.
.
"Kuso!" Jeon muda mengatai.
"Harusnya mereka bisa menggunakan jasa anak kuliahan sebagai panitia. Tidak perlu menyewa fotografer profesional kan? Ini buang-buang waktu."
Jungkook melirik ke arah Taehyung. Memang benar calon suaminya keren. Tapi, apa yang menarik darinya? Tidak ada! Jadi Bambam tidak sebaiknya berkenalan dengan si menyebalkan yang hobi mengumpat.
"Apa katamu? Bukan acara kampus? IU akan datang? Tunggu.. tunggu sebentar." Taehyung menepikan mobilnya, ia lalu mengambil sebuah poster yang disimpannya di laci dashboard.
Kertas glossy yang sudah dilipat hingga berbentuk abstrak itu perlahan dibukanya dengan kedua tangan. Matanya langsung menjelajah dari sudut ke sudut hingga sebuah nama terperangkap di sorot mata tajamnya.
"Holy cow! IU-ku yang manis menjadi guest star.. juri untuk cosplay! Astaga… kenapa kau tidak bilang dari kemarin?"
Penyandang marga Jeon mengeryitkan dahinya, ia melirik poster yang berada di tangan Kim Taehyung, sementara pria yang lebih tua sibuk ngobrol dengan entah-siapa di seberang sana, mengatakan kalimat IU menggemaskan, IU manis, IU ini IU itu bla bla bla
Jeon Jungkook tidak suka mendengarnya.
Ia kenal IU, tentu saja. Perempuan cantik itu pernah berkunjung ke Jepang, bahkan Jungkook menjadi guide pribadinya selama seharian penuh. Sebagai sesama cosplayer, tentu mereka sering berbincang walau hanya lewat ketikan atau pesan suara. Bisa dibilang, Jungkook cukup akrab dengan sosok mungil berpipi tembam itu.
Berbeda dengan pemuda bergigi kelinci yang saat itu masih sekolah, cosplayer wanita yang barusan dibicarakan Kim muda berstatus mahasiswa, jadi waktu liburnya lebih fleksibel. Ia juga bisa menjadi guest di negara tetangga dengan mudah karena sudah terbilang dewasa. Yeah, memang pada dasarnya IU terkenal sih… lebih terkenal dari Bunny Juiy. Dan setiap kali IU berkunjung ke Jepang, ia pasti akan mengajak Juiy, juga beberapa cosplayer yang cukup dekat dengannya untuk berkumpul, mereka bahkan pernah melakukan sesi foto bersama.
Ia sendiri sangat setuju jika ada yang mengatakan bahwa IU adalah sosok yang manis, tapi mendengar kalimat itu keluar dari bibir calon suaminya dengan nada penuh puja, entah bagaimana putra angkat keluarga Park benar-benar merasa jengah.
Kupingnya terasa panas, wajahnya memerah karena kesal.
"Katanya Juiy yang paling menggemaskan… tapi barusan malah bilang IU menggemaskan. Tch!" Jungkook bergumam, lebih kepada dirinya sendiri. Mata bulatnya memicing saat mendapati wajah masam Kim Taehyung berubah ceria hanya dengan mengucapkan nama IU.
Sepertinya Kim memiliki kesempatan untuk bertemu dengan sang idola, makanya ia terlihat begitu bahagia.
"Aku mau pulang." ucap Jungkook begitu Taehyung menutup sambungan telefonnya.
Ia merasa kesal. Sangat kesal.
Bagaimana bisa Kim Taehyung sebahagia ini hanya karena akan bertemu IU?
Ia ingat, pemegang akun the_king1230 itu mengutarakan betapa besar rasa kagumnya kepada Bunny Juiy, betapa Bunny Juiy menjadi cosplayer yang sangat ia kagumi. Bahkan berkali-kali Reo mendeklarasikan bahwa Juiy akan menjadi cosplayer nomor satu yang ia sukai.
Tapi nyatanya?
Bunny Juiy ada di sampingnya, namun Kim Taehyung dengan tidak tahu diri malah fan-boying ketika membicarakan cosplayer lain.
"Kenapa? Sabunku bagaimana? Kau juga bilang akan membeli sesuatu kan?"
"Nanti kutuang separuh dari sabun yang ada di kamar mandi dalam. Belinya lain kali saja." Jungkook menjawab ketus. Ia melipat tangannya di depan dada. Sepasang mata bulatnya lurus menatap jalanan di depan mereka.
"Pokoknya beli sekarang. Sekalian mau beli gift untuk IU. Mumpung bisa ketemu." ucap Taehyung final. Ia juga masih fokus ke jalan raya, mengabaikan wajah Jungkook yang benar-benar memerah.
Penyandang marga Jeon tidak tahu kenapa, tapi dadanya bergemuruh ribut, matanya pun memanas tanpa aba-aba. Ia benar-benar ingin pulang karena kesal dan Kim Taehyung malah akan menyeretnya untuk membeli hadiah.
Lebih tepatnya, hadiah untuk seseorang yang bukan Jeon Jungkook.
"Pulang atau aku turun di sini."
Taehyung tidak peduli, namun ia memastikan pintu mobilnya terkunci sempurna
Ia sibuk mengemudikan mobilnya menuju ke salah satu pusat perbelanjaan ternama.
Sesekali ia melirik wajah Jungkook, namun enggan mengeluarkan komentar apapun walau ia sadar betul bahwa wajah menggemaskan itu memerah. Sepasang mata bulatnya berkaca-kaca dan itu sungguh membuatnya resah.
Kalau sampai bunda kesayangannya tahu Kim Taehyung membuat sedih sang calon menantu, mulutnya bisa langsung dijejali sepatu.
Maka ketika ia berhasil memarkirkan mobilnya di basement, Taehyung segera meleas sabuk pengamannya.
Menghela nafas kasar, bujang yang hobi menjepret moment itu langsung menghadap Jungkook, melepas seat belt si pemuda kelinci, lalu perlahan memutar tubuh montoknya agar mereka berdua saling berhadapan.
"Kook. Jangan kekanakan. Kita sudah sepakat akan berbelanja."
Mungkin Kim muda sedang kesurupan. Suara beratnya terdengar begitu lembut dan penuh pengertian.
Ini mengerikan.
"Kita beli keperluan kita, setelah itu baru pulang, hm?"
Jungkook menggeleng ringan, ia menundukkan kepalanya.
"Ayolah… jangan membuatku marah dengan sikap kekanakan seperti ini."
Dada montok Jungkook terasa nyeri. Suaranya bergetar saat bicara. "Ya.. aku memang bocah kekanakan."
Pria Kim menggeram frustasi. Jeon muda biasanya akan balas mengatai, bahkan sering mengomel dan marah-marah juga. Tapi kini yang terjadi malah si kelinci mengakui tuduhan keji yang dilontarkan tanpa bukti.
"Kook…" Taehyung berusaha mengendalikan diri. Ia menarik dagu yang lebih muda, membuat mata mereka saling bertatapan. Dengan nafa serius ia berkata. "Katakan padaku apa yang membuatmu seperti ini. Kenapa kau tiba-tiba marah?"
Butuh lebih dari satu menit bagi Jungkook untuk bisa kembali bicara.
Dan Kim Taehyung bersumpah. Sepertinya dirinya sudah kesurupan parah, atau ia mengalami penuaan dini karena telinganya tiba-tiba bermasalah.
Ya. Pendengarannya pasti eror karena yang ia dengar adalah,
"Bunny Juiy.. tidak. Aku dan IU, lebih manis dan menggemaskan siapa?"
.
.
.
TBC
.
.
Ini adalah kisah paling tidak jelas yang lahir dari imajinasi Tiger… sorry for taking a long time to update.
.
.
Review please
With love, Tiger
Line: kimtaemvan
Ig: kim_taemvan
