Kagami terbangun karena alarm HP-nya berbunyi dengan sangat kencang. Denga enggan, ia bangkit dan melihat HP-nya yang ternyata masih tergenggam di tangannya. Jam empat…batin Kagami mengusap matanya, ngapain ya…? Minimarket dah buka belum ya..? Mau jajan…gak mau ke kantin…Kagami flashback-an ke waktu makan malam.
Ia bangkit dari kasurnya dan keluar kamar. Mendapati ruangan yang gelap gulita, Kagami mematung sedetik, masuk ke kamarnya, dan membantingnya dengan keras. Sedetik, dua detik berlalu.
"Ajsgkfnhahfelhusrghklawj," lidah Kagami kayaknya kelipat, "demi kancut dewa! Di luar gelap bangeeettt! Oh me gat! HP, HP, HP mana!? WOII HP GUE MANA!?" Kagami sibuk nyari HP-nya.
Setelah ketemu dan menyalakan senter, dengan secuil keberanian dan keharusan, Kagami membuka pintunya dan menyorot apapun di depan dengan senter di HP-nya. Dengan langkah hati-hati, ia berjalan menuju dapur.
Kenapa Kagami gak nyalain saklar? Karena dia gak tahu, dan dia gak mau nyalain, tapi sebenarnya mau…intinya dia takut buat nyalain karena gak tahu dimana letaknya.
Oke, kembali ke Kagami dan senter HP-nya.
Pemuda beriris crimson itu mendekati kulkas dan melihat ada makanan beku atau tidak, "Sialan…isinya cuman snack dan minuman doang."
Krieett…ia mendengar suara pintu terbuka, lalu tertutup. Sontak, bulu kuduk Kagami berdiri. Dia segera menyorotkan sinar ke arah pintu kamar di dekat dapur. Ia tak melihat siapa-siapa. Kagami merinding.
Demi bapak gue balapan kursi roda di rumah sakit waktu SMP, batin Kagami ketakutan setengah mati, lebih baik gue terjun bebas dari Empire State daripada kejebak di situasi ini.
Ia kembali fokus pada kulkas yang belum ia tutup. Kagami menutup kulkas, lalu menyorotkan sinar senter HP-nya ke arah kiri.
"Kau sudah bangun rupanya, Kagami-kun," dan muncul hantu berambut baby blue dengan wajah sedatar papan triplek.
"AAAAAAAAAAAAAAAA!" insting, Kagami berteriak sangat kencang.
Terdengar suara pintu dibuka secara kasar, dan entah kenapa Kagami malah menyinari arah suara itu.
"Kagamicchi! Kau tidak apa, ssu!?" dan muncul seorang hantu kuning berwajah hijau.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAA!" teriakan Kagami naik level.
Ayah, ibu, kakak, abang, Papa Kiyoshi, Pelatih, Hyuuga-senpai, Mitobe-senpai, Koganei-senpai, Izuki-senpai, Tsuchida-senpai, Fukuda, Furihata, Kawahara, Momoi, siapapun, maafin Taiga ya, karena mati dengan tidak elitnya karena ngelihat hantu papan triplek dan hantu kuning bermasker hijau.
XxXxXxX
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadashi
Red Light in Rainbow © AliceShotacon4Ever
Warning(!): OOC, Typo(s), AU, high school!Teikou, cousin!KagaMomo, sho-ai, GomxKagami, variousxKagami, genre menipu(?), gaya bahasa berubah-ubah, gak kena sensor KPI, etc.
-"…(dialog)…"
- [telepon]
-…(bicara dalam hati)…
|x|
IV.Bayam Bermata Empat, Hantu Putih, dan Abang Cantik
Hints: Teman Sebangku(hayo siapa? :v) x Kagami | slight! KuroKaga dan KiKaga | bro!MayuKagaMibu | bro!KagaMomo | KiyoKaga
XxXxXxX
"Mou, Kagamicchi, jangan bikin orang ketakutan, ssu," Kise memajukan bibirnya.
"Gue yang ketakutan, kampret!" seru Kagami sewot.
"Teriakan Kagami-kun begitu menggetarkan hati," lanjut Kuroko dengan tampang datarnya.
"Maksud lo paan!?" Kagami sewot kuadrat, "dan kenapa lo manggil gue dengan akhiran '-cchi'!? Kemarin pake '-kun'!"
"Kise-kun hanya memanggil orang dengan akhiran '-cchi' kepada orang-orang yang ia hormati," jelas Kuroko.
"Aku tersanjung karena kau menghormatiku Kise," Kagami menatap datar Kise, "tapi panggilannya menjijikkan."
"Heeee!? Menjijikkan darimana, ssu!? Itu bagus loh!" seru Kise dengan suara cemprengnya.
"Gak, gak, dan gak," Kagami menyilangkan tangannya.
"Walaupun begitu, aku tetap akan memanggilmu 'Kagamicchi'!" seru Kise ngotot.
Kagami menatap Kise sewot, yang terus memperjuangkan panggilan 'Kagamicchi' kepadanya. Akhirnya, cowok beralis belah itu menghela napas, "Terserah deh, aku pasrah."
"Yeaaahh!" Kise bersorak.
"Oh ya Kuroko," Kagami menoleh ke arah Kuroko, "bantuin aku beresin buku ya."
"Kagami-kun memang berada di kelas berapa?"
"Aku di kelas 1-B, ssu~" kata Kise.
"Sedangkan aku berada di kelas 1-E," sambung Kuroko.
"Hmm…1-C," jawab Kagami mengingat-ngingat.
JGLERR! Muncul petir di belakang Kuroko dan Kise. Entah kenapa mereka kecewa karena tidak sekelas dengan Kagami. Terlebih, di kelas 1-C itu ada…ada…ada…dia!
"Kalian kenapa?" tanya Kagami bingung.
"A-ah, ti-tidak apa, ssu," Kise mengibaskan tangannya.
"Lebih baik kau mandi dulu, Kagami-kun, lalu setelah aku mandi, baru kita bereskan buku dan sarapan. Kise-kun kalau mandi lama," usul Kuroko.
"Baiklah…" Kagami pergi ke kamar, mengambil peralatan mandinya, lalu pergi ke kamar mandi.
Kuroko dan Kise mengamati gerak-gerik Kagami hingga memasuki kamar mandi. Lalu mereka murung sama-sama. "Kise-kun…aku memercayakan Kagami-kun kepadamu…karena kelasmu lebih dekat dengannya."
"Serahkan padaku, ssu! Aku akan menjaga Kagamicchi dengan baik!" seru Kise bersemangat.
"Jangan sampai dia menyakiti Kagami-kun, Kise-kun," effect dramatis terlihat di scene ini.
"Aku tak akan membiarkannya melakukannya, Kurokocchi," dan mencakup scene ini juga.
"Kalian ngapain…?" Kagami menatap keduanya sweatdrop.
"Cepatnya!" seru Kuroko dan Kise berbarengan.
…
"Kagamin~" seru seorang perempuan berambut pink.
"Oh, Momoi," Kagami, Kuroko, dan Kise menoleh ke arah Momoi.
"Ohayou, Momoi-san," sapa Kuroko.
"Ohayou, Momocchi~!" sapa Kise.
"Ohayou, Tetsu-kun, Ki-chan," sapa Momoi riang, "kita ke ruang guru, Kagamin."
"Ha? Sekarang? Sarapan juga belum," kata Kagami keberatan.
"Udah, jajan di minimarket aja, ayo…" Momoi menyeret paksa Kagami, "sampai jumpa nanti, Tetsu-kun, Ki-chan," Momoi melambai ke arah kedua anggota tim basket Teikou, lalu memasuki minimarket.
Kuroko dan Kise memandangi kejadian tadi dengan perasaan aneh. "Momocchi kok tidak memelukmu seperti biasa, ssu?" Kise menoleh ke arah Kuroko.
"Oh, pantas saja rasanya aneh tadi, seperti ada yang hilang," Kuroko menoleh balik ke Kise.
Sementara itu, Momoi dan Kagami berada di rak berisi roti. "Napa sih tiba-tiba dateng?" bisik Kagami kesal sambil memilih-milih roti, "kalo mereka curiga kita ada apa-apa gimana?"
"Gak bakal, karena emang aku yang ngurus elo, 'kan?" bisik Momoi, "lagian, gue lupa ngomong sesuatu ama lo kemarin."
"Nape?" Kagami memasukkan roti isi ayam pedas.
"Kelas lo juga udah dirancang sama Yuichi-san. Lo masuk ke kelas 1-C, disana ada salah satu anggota Kisedai."
"Hm, hm, sudah kudagu," Kagami bingung memilih roti blueberry atau strawberry.
"Kuduga, bego!" Momoi memukul kepala Kagami yang meringis, "masalahnya, yang satu ini lumayan susah diatasi."
"Hm, hm, yang mana?" Kagami memasukkan roti isi hazelnut dan krim keju ke keranjang belanjaan-nya.
"Yang ijo, pake kacamata, Mirodin, Midorima Shintarou, ya―" ucapan Momoi diputus.
"WHAT THE FUCK!?" teriak Kagami melotot ke arah Momoi.
PLAK! Momoi menampar mulut Kagami, "Jangan ngomong kasar, bodoh."
"Paan, sih!? Lo juga sering ngomong gitu kok dulu," Kagami mengusap-usap bibirnya.
"Kita lagi di Teikou, Baka! Bukan Amerika!"
"Terserah," Kagami memutar bola matanya, "tapi, seriusan, gue sekelas sama si ijo empat mata itu!?"
"Iya," Momoi mengangguk, "dan, lo sebelahan sama Midorin, di bangku kedua dari depan, pinggir dekat jendela. Soalnya itu satu-satunya bangku kosong. Siswa sebelumnya dipindahkan ke kelas lain sebulan yang lalu."
"Shit!" umpat Kagami memasuki roti isi ambon ke dalam keranjang belanjaan dengan kasar.
"Yuichi-san juga udah bilang sama Watanabe-sensei untuk menyuruh Midorin menunjukkan sekolah ini, bersamaku saat istirahat nanti."
"Oh, God, why!?" Kagami meremas roti isi daging sapi lalu memasukkannya ke keranjang belanjaan.
"Lo itu musti mendekati seluruh anggota Kisedai dulu, berteman baik dengan mereka―semuanya. Setelah itu, kita masuk ke tahap kedua, mencari tahu permasalahan yang mereka hadapi dan berusaha memecahkannya."
"Uhh…" Kagami menatap roti pandan-nya.
"Masih untung loh Yuichi-san memasukkan lo ke kelas Midorin. Daripada Akashi-kun?"
"Akashi…yang…oh, si mata belang kampret yang nyuruh gak usah nyari Kuroko pas ngilang kemaren," Kagami tiba-tiba bete sambil memasukkan beberapa bungkus roti.
"Panjang amet julukannya," Momoi speechless, "yah, ayo kita ke ruang guru nyari Watanabe-sensei, dan Tai-chan…" Momoi menatap Kagami tidak yakin.
"Hm? Ya?" Kagami mengambil roti isi daging panggang lalu memasukkannya ke keranjang.
"Itu…apa gak kebanyakan…?" Momoi menatap horor keranjang belanjaan Kagami yang hampir penuh dan rak berisi roti yang tinggal kurang dari 10 bungkus roti disana.
"Hm? Ini 'kan porsi normal," jawab Kagami dengan watados.
"Normal pala lu, kampret!" Momoi memukul kepala Kagami dengan keras, dan pemuda beriris crimson itu meringis.
…
Setelah sarapan, Kise dan Kuroko berangkat bersama-sama ke kelas. Tetapi, karena kelas Kise di lantai satu, sedangkan Kuroko di lantai dua, mereka berpisah di tangga.
"Kise-kun, ingat, sebisa mungkin kau awasi Kagami-kun," kata Kuroko setelah naik 5 anak tangga.
"Iya Kurokocchi~" kata Kise tersenyum masam, "kayaknya Kurokocchi overprotective banget ya sama Kagamicchi…"
"Hm? Tentu saja. Kagami-kun tipe yang tidak bisa mengontrol emosinya dan akan ngomong blak-blakan, gak peduli dengan siapa dia. Kalau dia kenapa-napa dengan dia, bagaimana?"
"Daritadi ngomong 'dia' mulu…kenapa gak pake namanya aja?"
"Biar kesannya misterius gitu loh, Kise-kun kok bodoh ya, katanya mantan anak klub drama."
"E-eh…?" Kise gagal paham, "baiklah…sampai ketemu istirahat nanti, Kurokocchi~"
"Sampai jumpa nanti, Kise-kun," Kuroko tersenyum lalu berlari kecil menaiki tangga.
Kise menikmati suasana pagi di sekolah sambil bersiul. Banyak siswa yang berlalu lalang. Ada yang sendiri, berdua, berkelompok, dan lainnya. Banyak cewek yang menyapanya dan menghampirinya. Kise cuman bisa senyum―berharap ia segera ditinggakan dan menuju kelas.
Kise berhenti di depan kelas 1-C, melihat keadaan kelasnya, Tentu saja Kagamicchi tidak ada, dia 'kan sedang bersama Momocchi di ruang guru―mungkin.
"Kau sedang apa, nanodayo?" tanya seseorang di belakang Kise.
Kise segera menoleh ke belakang, "Pagi, Midorimacchi!" seru Kise riang.
"Tch, kutanya sedang apa kau disini, nanodayo? Kau menghalangiku masuk," Midorima membenarkan kacamatanya yang merosot.
"Midorimacchi tahu gak, ssu," Kise mendekati Midorima, "kau akan kedatangan murid baru, loh~"
"Hm? Aku sudah tahu."
"Eh!? Kau sudah tahu, ssu!?"
"Oha-Asa memberitahuku bahwa akan ada seseorang―yang baru di tempatku."
"Hee….Oha-Asa…ssu…" Kise tersenyum masam sambil mengangguk-angguk, lalu perhatiannya tertuju kepada barang yang di pegang tangan kiri Midorima, "itu...apa?"
"Tentu saja lucky item-ku hari ini, nanodayo. Oha-Asa bilang cancer hari ini berada di posisi ke-4 terbawah."
"E-eh…cat lukis…?"
"Itu tidak penting. Kau ada keperluan denganku lagi, nanodayo?"
"Ti-tidak kurasa…" Kise melirik ke arah lain, "ah! Teman barumu adalah teman sekamarku yang baru,ssu."
"Oh? Seperti apa orangnya?"
"Dia tinggi―mungkin 190 cm―lalu memiliki rambut gradasi merah-hitam di ujung. Terus, terus, matanya berwarna crimson, dan, tahu gak, ssu? Alis-nya kebelah! Itu…aneh banget, ssu! Lalu, dia―" Kise berhenti ketika tiba-tiba ia mengingat wajah tidur Kagami yang sempat potret, lalu memerah seketika.
"Hm? Kau terkena demam mendadak, Kise?" tanya Midorima menatap datar pemuda berambut kuning itu.
"E-eh…ti-tidak, ssu, hanya…" Kise mengibaskan tangannya, "aku ke kelas duluan, Midorimacchi! Baik-baik dengan teman barumu!" Kise langsung kabur ke kelasnya.
Ia duduk di kursi paling belakang, pinggir sebelah kanan. Kise melipat kedua tangannya di atas meja lalu membenamkan kepalanya disana. Beberapa saat kemudian, ia merogoh HP-nya dan memerhatikan lockscreen HP-nya―yang adalah gambar wajah Kagami ketika tidur.
Kise memandangi gambar itu, "Kagamicchi imut banget, ssu…" gumamnya lirih.
.
.
.
Kise blushing parah, Lo ngomongin apaan sih, Kise!? Kagamicchi 'kan wajahnya sangar-sangar―eh, tapi dia 'kan baik…peduli sama teman.. ―tapi, Kagamicchi itu 'kan setinggi Aominecchi―tapi wajah tidurnya imut banget, ssu…―eh, tapi, tapi―
Kise melempar HP-nya ke dalam laci mejanya, lalu memejamkan mata, menghadap ke meja, "Gue mikirin apa sih…?" Kise memposisikan kepalanya diatas lipatan tangan, dengan dagu menyentuh tangan, dan bibir maju 2 senti, "gara-gara Kagamicchi 'kan…pikiranku kacau."
…
Tiba-tiba bulu kuduk Kagami berdiri, ia melirik ke kanan-kirinya was-was, Kayaknya ada yang ngomongin gue nih…siapa ye…? Jangan-jangan si guru Biologi lama gue gegara gue belom ngumpulin makalah gue.
Sekarang dirinya sedang berada di ruang guru―yang suasananya serasa berada di kandang singa―bersama Momoi dan Watanabe-sensei. Watanabe-sensei berbadan tegap, besar, dengan otot-otot yang…mahabesar, dan perut roti sobeknya yang…mirip roti sobek. Dan ternyata dia penganut aliran Saitama-sensei―kepalanya mirip telur panggang(?) karena cokelat warnanya.
Watanabe-sensei guru yang ramah―tapi bisa jadi sadis, kata Momoi. Dia murah tersenyum dan suka tertawa serta bercanda. Dan, katanya dia satu SMP dulu sama ayahnya Kagami, Yuichi. Momen yang paling ia ingat adalah lomba balap kursi roda ketika mereka sedang mengajak salah satu sahabat Yuichi bersenang-senang karena terjebak di dalam rumah sakit―hingga dikejar para dokter, suster, dan security.
Kagami dan Momoi cuman bisa speechless dan tertawa garing. Dulu papa juga sering banget ceritain balapan kursi roda itu...gue cuman bisa mikir kalo bapak gue emang gak waras otaknya, pantesan kakak gue ekstrim, pantesan gue kayak gini, batin Kagami.
Tak lama bel berbunyi. Momoi pamit dan segera berlari menuju kelasnya. Sedangkan Kagami mengikuti Watanabe-sensei. "Nah…Taiga…" panggil Watanabe-sensei tanpa menoleh.
"Ya, sensei?" tanya Kagami.
"Lebih baik kalau kau tidak membuat onar berlebihan," Watanabe-sensei menoleh ke arah Kagami, "tapi, menikmati masa muda itu penting. Jika bisa memilih, aku juga tak akan mengajar di sekolah ini. Tapi, aku tidak tahu mau pindah kemana, dan anak-anak ini membutuhkan guru yang menyenangkan. Jadi, aku akan mengajarkan mereka bagaimana indahnya masa muda itu," Watanabe-sensei tersenyum.
Kagami tertegun. Guru ini cocok jadi mentor para Kisedai, batin Kagami, ternyata dia bijak juga ya.
"Aku mengatakan ini karena aku sudah mengenal ayahmu cukup lama dan tiba-tiba aku bersekolah di sekolah bergengsi. Rasanya seperti naik pesawat; ketika kau sedang enak-enak makan, tiba-tiba pesawat jatuh," Watanabe-sensei kembali berjalan.
Kagami cuman bisa tersenyum kecut, Tolong jangan ingatkan saya kepada metafora itu. Itu mengerikan.
"Oke, ini kelasmu," kata Watanabe-sensei berhenti dan menunjuk pintu di sebelahnya, "tunggu disini dulu. Aku akan memperkenalkanmu. Ketika kupanggil, masuklah."
Kagami hanya mengangguk. Watanabe-sensei memasuki kelas dan mengatakan beberapa kalimat. Lalu, Watanabe-sensei menyuruh Kagami masuk. Kagami mengambil napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Ia memasuki kelas dan berdiri disamping Watanabe-sensei.
Semua mata tertuju padanya. Dan, ketika matanya melihat Midorima, pemuda berambut hijau itu membulatkan mata tidak percaya. Kagami kembali meluruskan pandangannya ke depan. "Namaku Kagami Taiga, pindahan dari LA, salam kenal," kata Kagami.
…
Tadi pagi Midorima menonton acara wajibnya, Oha-Asa, yang mengatakan sesuatu mengenai kejadian yang akan dialami oleh seorang cancer. Zodiak Midorima cancer. Dan, Oha-Asa bilang, bahwa cancer akan kedatangan seseorang yang akan mengubah kehidupannya―plus, lucky item-nya kali ini adalah cat lukis yang akan membantunya menghadapi si 'orang pengubah hidup'-nya itu.
Saat Kise bilang bahwa kelasnya akan kedatangan murid baru, Midorima merasa bahwa orang itulah yang akan mengubah kehidupannya―yang ternyata teman sekamar barunya Kise. Wajah Kise tiba-tiba berubah menjadi merah ketika membicarakan si murid baru dan kabur.
Midorima cuman bisa bingung, berpikir Kise terkena demam dadakan atau murid barunya ini…sedikit berbahaya―dalam artian tertentu.
Dan, ketika Midorima tahu siapa murid baru itu―yang ternyata mantan musuhnya di Inter-high, yang bisa menghentikan tembakannya dan membuat Midorima keki―Midorima ingin mengatakan 'tidak mungkin', 'mustahil', 'impossible', 'Oha-Asa pasti salah', namun nyatanya, Oha-Asa itu selalu benar.
Tapi, kenapa harus dia? Lagipula, bagaimana si nomor sepuluh bisa mengubah hidupku? Bagaimana dia bisa disini? batin Midorima, lalu melirik ke samping kirinya, aku yakin seratus persen dia akan duduk di sampingku.
"Nah, Kagami, kau duduk di kursi kosong sebelah sana―sebelahnya Midorima," kata Watanabe-sensei melihat ke arah Midorima. Pemuda berkcamata itu kembali ke stoic face-nya, menatap Kagami.
Kagami terlihat gugup, namun tetap melakukan apa yang disuruh Watanabe-sensei. Dia duduk di bangku sebelah Midorima, lalu Watanabe-sensei memulai pelajaran.
"H-hai," sapa Kagami canggung.
"Halo," sapa Midorima meliriknya.
"Kagami Taiga."
"Aku sudah tahu, kau memperkenalkan diri tadi," kata Midorima, "namaku Midorima Shintarou."
Kagami cuman manggut-manggut. "Oh ya, Midorima," panggil Watanabe-sensei. Midorima dan Kagami langsung menoleh. "Saat istirahat nanti, kau antar dia keliling sekolah, oke?"
"S-saya sensei?" Midorima kaget, pemuda ini pasti benar-benar orang yang disebut Oha-Asa.
"Iya," Watanabe-sensei mengangguk, "kau pasti bisa melakukannya, 'kan?"
Midorima diam sebentar, lalu mengangguk pelan, "Bisa…sensei."
"Bagus," Watanabe-sensei tersenyum puas, "nah, mari kita lanjutkan materi kita minggu lalu. Hari ini kita hanya akan membahas materi dan tidak praktek."
"Yahhh…" satu kelas mendesah kecewa.
"Materi juga diperlukan di P.E tahu…" Watanabe-sensei mulai mengoceh.
Midorima memutar sedikit kepalanya ke kiri, memerhatikan Kagami. Wajah pemuda berambut merah-hitam itu memasang muka horor―pasti karena perkataan Watanabe-sensei tadi.
"Hei," panggil Midorima.
Kagami sadar, mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu menoleh ke arah Midorima, "Ya?"
"Apa zodiakmu?"
"Zodiak…?" Kagami mengerutkan kening, "L-Leo…"
Bagi cancer, leo mungkin akan merepotkanmu, tetapi dia akan membuatmu takjub nantinya, tapi dia benar-benar akan membuatmu repot loh, Midorima memutar ulang ucapan Oha-Asa, dan pemuda ini adalah Leo. Hebat.
…
Guru matematika mereka memberikan soal latihan. Midorima menyelesaikannya dalam 10 menit. Bosan, ia menoleh ke kirinya. Kagami tersenyum kecut sambil memandangi buku latihannya yang sama sekali belum ia isi.
Midorima mendapat ilham bahwa pemuda disampingnya sama idiotnya dengan Aomine dan pasti benar-benar merepotkan.
Kagami melirik Midorima lalu kembali menatap buku latihannya, melirik Midorima, dan menatap buku latihannya, begitu seterusnya selama beberapa menit. Lama-lama, Midorima risih dan akhirnya berbicara, "Ada apa?"
"A-ah…a-aku hanya berandai…jika kau bisa…menga…jarkanku…?" tanya Kagami gugup, melirik ke atas sambil menggaruk pipinya.
"Hah," Midorima menghela napas berat, "apa kau tidak memerhatikan ketika guru menjelaskan-nanodayo?"
"A-aku perhatikan cuman…" Kagami menggantungkan kata-katanya.
Midorima menghela napas lagi, mendekatkan sedikit kursinya ke Kagami, dan mulai mengajarinya. Midorima bingung bagaimana pemuda ber-zodiak leo ini bisa pindah ke Teikou yang bergengsi. Mungkin orang tuanya orang penting.
Beberapa menit kemudian, seluruh soal selesai dikerjakan, dan dikumpulkan karena bel istirahat sudah berbunyi. Setelah guru keluar, banyak siswa yang berhamburan. Midorima merasa malas ke kantin, lagipula ia sudah membawa roti sebagai bekal.
Midorima berdiri dan menatap Kagami, "Ayo."
"Oke," Kagami mengangguk, "sebentar," lalu mengambil sesuatu dari tasnya―sekantong plastik berisi roti berbagai jenis.
Midorima diam tak berkutik, "Kau akan memakan semuanya…?"
"Hm? Ya," Kagami berdiri sambil membawa kantong plastik itu dan memakan roti yang sudah dibuka.
Dia bisa mengalahkan Murasakibara di kontes makan, batin Midorima, "Baiklah, ayo kita selesaikan ini dengan cepat."
"Eh, tapi, katanya Momoi juga ikut…"
Midorima langsung menoleh ke arah Kagami, "Dia juga ikut?" Kagami hanya mengangguk.
"Kagamin~!"
"Kagamicchi!"
Tiba-tiba, terdengar dua suara yang menyakitkan telinga, menghampiri Midorima dan Kagami. "Momoi…Kise…" Kagami menatap bingung Kise, "kau sedang apa Kise?"
"Mou, aku gak boleh disini, ssu?" Kise langsung cemberut.
"Aku gak bilang gitu, cuman nanya," jawab Kagami.
"Tentu saja aku ingin mengantar Kagamicchi keliling, ssu~" seru Kise bersemangat.
"Karena kau sudah ada Kise sekarang―" ucapan Midorima dipotong.
"Tapi, Watanabe-sensei menyuruh Midorima yang mengantarku keliling," kata Kagami.
Midorima keki. Rencananya untuk menyerahkan segala urusan ini ke Kise dan Momoi batal karena pemuda disampingnya yang tiba-tiba nyerocos.
"Bukan berarti aku gak bisa ikut, 'kan, ssu?" kata Kise mengedipkan mata.
"Gross," balas Kagami melahap rotinya dan menatap jijik si surai kuning.
"Kok jijik sih!? Itu tuh―" ucapan Kise dipotong.
"Ayo Midorima, lebih baik kita selesaikan ini lebih cepat," ajak Kagami menoleh ke arah Midorima.
"Tentu saja, nanodayo," Midorima mengangguk, lalu mengambil cat lukisnya. Kagami memandangi cat lukis itu.
"Buat apa?" tanya Kagami.
"Ini lucky item-ku hari ini, nanodayo."
"Midorin seorang penganut Oha-Asa," jelas Momoi yang sedari tadi diabaikan.
"Oha-Asa?" tanya Kagami.
"Program tiap pagi yang memberitahu ramalan zodiak, ssu," jelas Kise.
"Ohh…" Kagami manggut-manggut, "ayo," Kagami jalan keluar duluan.
Midorima tidak berkutik, memandangi Kagami keluar kelas, Dia…tidak mengejekku, nanodayo?
"Ah, tunggu, Kagamin~" Momoi mengejar Kagami.
"Kagamicchi~" diikuti Kise.
"Tch," Midorima mendecih dan mengikuti ketiga remaja itu.
…
Diajak keliling oleh dua manusia paling berisik yang ia kenal, ditambah manusia pembawa cat lukis bukanlah pilihan yang bagus. Kagami lebih memilih untuk diajak keliling oleh Kuroko walau eksistensi-nya mirip hantu. Tapi sayang, Kuroko tak bisa menemani, karena suatu alasan.
Masih mending daripada kupingnya berdarah lebih banyak dan diacuhkan oleh si mata empat.
Sebenarnya tidak diacuhkan, hanya si mata empat bersikap dingin, dan itu membuat Kagami kesal.
Momoi bilang bahwa Midorima itu tsundere. Kagami tersenyum masam, Tsundere tuh apa, bego? Gue 'kan baru di Jepang.
Kise berkomentar bahwa Kagami makan terlalu banyak. Kagami membalas bahwa ini porsi normal, dan Kise langsung ribut bukan main―yang Kagami langsung sumbat dengan roti mulutnya.
Sekarang, Momoi dan Kise sedang menjelaskan serba-serbi di Teikou Academy, hingga dilihatin oleh orang-orang yang berlalu lalang. Bilang Kagami jahat, tapi dia sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan kedua insan yang kayaknya makan megaphone sewaktu kecil ini. Daripada tidak mendengar, kata 'tidak paham' adalah yang tepat untuk menamai situasi Kagami saat ini.
"Hei, nomor sepuluh Seirin," panggil Midorima tanpa menoleh.
"Namaku Kagami Taiga, bodoh!" seru Kagami sewot, "yang benar saja, ingat baik-baik namaku dong!"
"Tergantung," jawab Midorima, membuat Kagami sewot bukan main, "kau akan masuk klub apa nanti, nanodayo?" lanjutnya.
"Klub seni kurasa," jawab Kagami.
Midorima menoleh, "Kau tak akan masuk ke klub basket? Dengan talenta seperti itu?"
"Tidak…tak ada gunanya jika Kiseki no Sedai ada di klub basket," jawab Kagami, "lagipula, nanti aku dikira ingin cari gara-gara karena dikalahkan saat Inter-High kemarin."
Midorima diam sebentar, sepertinya dia tidak senang dengan keputusan Kagami. Kagami mengerutkan kening, Emangnya si ijo ini siapa gue sampe masang muka gak seneng gitu?
"Jadi, kau tak akan main basket lagi, nanodayo?"
"Aku tak pernah bilang begitu," jawab Kagami, "aku hanya tidak ingin masuk ke klub basket. Aku akan tetap melatih tubuhku dan bermain basket di lapangan kosong belakang Gedung C. Aku suka basket, jadi aku tetap memainkannya."
Midorima memandangi Kagami, "Lalu, kenapa kau memilih klub seni, nanodayo?"
"Karena ibuku seorang pelukis. Aku pernah diajarkan melukis oleh-nya. Kata Momoi, klub seni tinggal dua orang, bukankah klub harus terdiri minimal oleh lima orang?"
"Klub seni dan klub basket pengecualian," jawab Midorima, "dari dulu, klub seni dan klub basket adalah dua klub yang paling banyak memberi tropi kepada Teikou Academy. Makanya, walaupun klub seni hanya memiliki dua anggota saat ini, mereka tetap berdiri, nanodayo."
Kagami manggut-manggut, "Aku berencana untuk mendaftar nanti, apa kau…keberatan kalau kau menemani aku…?"
"Setelah sekolah, aku ada latihan basket, nanodayo."
"Oh ya…"
Midorima melirik Kagami, lalu menaikkan kacamatanya dan melirik ke arah lain, "Tapi, aku bisa minta izin sebentar dan menemanimu, nanodayo."
"Benarkah?" mata Kagami berbinar, menatap Midorima.
Midorima jadi salah tingkah, dan hanya mengangguk-angguk. Kagami tersenyum lebar, "Terima kasih, Midorima," menunjukkan deretan gigi putihnya.
Wajah Midorima jadi merah padam, dan segera menolehkan kepalanya ke arah lain, "A-aku melakukan itu bukan karena aku mau, nanodayo, a-aku hanya menjalani tugasku sebagai pe-pengawasmu…"
"Tentu," Kagami masih tersenyum.
"Nah, Kagamicchi, yang satu ini ruang musik," seru Kise menarik lengan baju Kagami dan menunjuk ke arah ruangan yang pintunya setengah terbuka, "ketika kau belajar musik, kau akan belajar disini."
"Ketika aku belajar seni?" tanya Kagami.
"Bukan, Kagamin," Momoi mengibaskan tangannya, "seni dan musik disini dibedakan. Seni lebih merujuk ke melukis dan seni rupa, sedangkan musik ya musik. Gurunya juga beda. Kalau tidak salah, kalian akan diajarkan oleh…Arima-sensei untuk pelajaran musik."
Kagami manggut-manggut dan melihat ke dalam ruangan musik, melebarkan mata. Ruangan itu terlihat luas. Kagami hanya bisa melihat sebuah piano, dengan dinding kaca dibelakangnya dan tirai merah. "Megahnya…" gumam Kagami.
"Kagamin, ingat, ini Teikou," kata Momoi.
"Kau bersekolah di sekolah elit sekarang, Kagamicchi," sambung Kise.
"Oh ya," Kagami tersadar. Midorima sweatdrop.
"Nah, nah, ayo kita lanjut, di sebelah sana ada…" Kise menarik lengan Kagami dan Momoi mendorongnya. Midorima menghela napas dan mengikuti dari belakang. Kagami hanya bisa tersenyum geli melihat Kise dan Momoi yang bersemangat.
…
Bel pulang telah berbunyi. Murid-murid bersiap pulang. Shimazaki-sensei berbicara sesuatu mengenai 'tugas' atau sejenisnya, Kagami tidak mendengar. Ia mendekatkan diri ke Midorima, "Jangan ninggalin aku loh, kamu udah janji."
Midorima melirik Kagami dengan tatapan sinis, "Aku mengerti, nomor sepuluh."
"Ingat namaku, napa!?" seru Kagami sewot.
"Namamu susah diingat, nanodayo."
"Susah diingat apaan!? Cuman tiga silabel doang! Nama lo, empat silabel!"
"Tch, berisik, nanodayo."
"Dasar, nanodayo."
Midorima melototi Kagami, yang membalas dengan menjulurkan lidah. Tak lama, Shimazaki-sensei meninggalkan kelas, dan murid-murid berhamburan. "Ah, Shimazaki-sensei," panggil Kagami mengejar Shimazaki-sensei. Midorima bangkit dan mengikuti Kagami.
"Shimazaki-sensei!" Kagami meraih lengan Shimazaki-sensei, yang langsung menoleh ke belakang.
"Oh, ada apa, Kagami-kun, Midorima-kun?" tanya Shimazaki-sensei.
"Dia ingin masuk ke klub seni, nanodayo," jawab Midorima.
"Kau ingin masuk ke klub seni!?" seru Shimazaki-sensei terkejut.
"I-iya…" Kagami mengangguk, mengusap tengkuk lehernya, terlihat ragu.
"Baiklah, baiklah, ayo ikut aku," Shimazaki-sensei langsung menarik lengan Kagami, "bagaimana denganmu, Midorima-kun?"
"Di-dia menemaniku, sensei," jawab Kagami sebelum Midorima menjawab.
"Oke, oke, ayo kita ke ruang guru dulu, mengambil formulir pendaftaran, lalu kau bisa menjadi anggota resmi klub seni!" seru Shimazaki-sensei girang dan berlari ke ruang guru, sambil menarik lengan Kagami, yang menarik lengan Midorima.
"Aku tak perlu ditarik juga, 'kan, nanodayo!?" seru Midorima kesal.
"Kau juga harus merasakan bagaimana rasanya ditarik oleh guru kelewat girang," jawab Kagami menyeringai. Midorima mendecih.
Mereka sampai di ruang guru, menuju meja Shimazaki-sensei. Setelah mengisi formulir pendaftaran, Kagami dan Midorima dibawa ke ruang klub seni yang berletak di sudut gedung, di lantai empat.
Shimazaki-sensei sedari tadi mengoceh bagaimana senangnya dia ketika Kagami berkata ingin bergabung ke klub seni, bagaimana anak zaman sekarang menghina seni dan mengatakan seni adalah hal yang tidak penting. Kagami hanya tersenyum, sedangkan Midorima pura-pura tidak peduli.
"Jumlah anggota klub seni semakin sedikit ya, dari tahun ke tahun?" tanya Kagami.
"Iya…" Shimazaki-sensei tersenyum sedih, "yang tersisa adalah satu anak kelas tiga, dan satunya anak kelas dua. Mereka seorang seniman yang hebat! Apalagi siswa kelas tiga-nya!"
"Siapa saja, nanodayo?" tanya Midorima.
"Yang kelas tiga bernama Mayuzumi Chihiro, yang kelas dua Mibuchi Reo. Ah, Reo-chan suka dipanggil 'Reo-nee' oleh orang lain," jawab Shimazaki-sensei.
"Mibuchi Reo…?" tanya Midorima terlihat terkejut.
"Iya," Shimazaki-sensei tersenyum sambil mengangguk.
"Siapa dia?" tanya Kagami penasaran.
"Dulu dia adalah salah satu dari Uncrowned Kings, pemain basket yang, bisa dibilang, setara dengan Kiseki no Sedai. Kudengar, dia keluar dari klub basket di akhir semester kemarin, nanodayo," jawab Midorima.
"Dia pasti keluar karena kalian," kata Kagami tersenyum mencibir.
"Kenapa kau menyalahkan kami, nanodayo?" Midorima terlihat tidak senang.
"Seperti yang kubilang sebelumnya, tak ada gunanya masuk ke klub basket kalo ada Kiseki no Sedai," Kagami mengulang kalimat yang sering kali ia ucapkan.
Midorima ingin mengucapkan sesuatu, namun dipotong oleh Shimazaki-sensei, "Reo-chan bilang, ia lebih senang melukis dan memasak, jadi dia keluar dari klub basket dan masuk ke klub seni dan klub memasak."
"Ohhh…" Kagami mengangguk-angguk, "bagaimana dengan yang kelas tiga?"
"Chihiro-kun? Ah, dia lumayan pendiam. Tapi, lukisannya begitu indah, walaupun aku tidak mengerti apa yang ia lukis. Jarang sekali ada yang bisa mengerti lukisannya. Hanya ketua klub seni sebelumnya yang mengerti, namun dia sudah lulus," jawab Shimazaki-sensei, "dan sekarang Chihiro-kun yang menjadi ketua klub seni."
Shimazaki-sensei berhenti, begitu juga Kagami dan Midorima. "Kita sudah sampai," kata Shimazaki-sensei, menggeser pintu di sebelahnya, "selamat datang di klub seni, Kagami-kun."
Kagami dan Midorima melihat isi ruang klub seni. Mereka melihat banyak kanvas yang sudah dilukis, patung-patung dari tanah liat, atau yang diukir, dan karya-karya seni lainnya yang memukau. Mereka juga melihat sosok pemuda cantik sedang mengangkat kardus, dan seorang lagi sedang melukis, tidak menghiraukan kedatangan Kagami, Midorima, dan Shimazaki-sensei.
"Ah, konnichiwa, Haru-chan~" sapa pemuda cantik itu.
"Konnichiwa, Reo-chan," sapa Shimazaki-sensei memasuki ruang klub, diikuti oleh Kagami dan Midorima.
"Siapa itu?" tanya Mibuchi melihat ke belakang Shimazaki-sensei, "aku tahu yang berkacamata itu Midorima-kun, sampingnya siapa?"
"Ini Kagami-kun, dia baru pindah ke Teikou," jawab Shimazaki-sensei.
"Na-namaku Kagami Taiga, a-aku ingin bergabung ke klub seni," Kagami membungkuk kaku, lalu menunjuk ke arah Midorima, "Midorima hanya menemaniku. Dia pengawas sementara-ku."
Mata Mibuchi berbinar, "Kau ingin bergabung dengan klub seni!?" Kagami mengangguk.
"Chiho-chan! Chiho-chan! Kita kedatangan anggota baru!" seru Mibuchi berlari ke arah pemuda yang sedang melukis dan menarik-nariknya. Pemuda itu terlihat kesal.
Midorima tiba-tiba seperti menyadari sesuatu, Kagami menoleh ke arahnya. "Kenapa?" tanya Kagami.
"Aku tak menyadari keberadaannya tadi, nanodayo," jawab Midorima menaikkan kacamatanya, "hawanya tipis, seperti Kuroko."
Seperti Kuroko? batin Kagami. Pasalnya, dia tadi menyadari pemuda berambut putih itu―tunggu, rambut putih? Kagami memerhatikan pemuda yang diseret oleh Mibuchi untuk menemuinya. Mata Kagami membulat.
"Shiro-senpai!"
Pemuda bersurai putih itu menatap Kagami, lalu matanya sedikit melebar, "Anak Baru…"
Ketiga orang lain yang berada di ruangan itu terdiam, menatap Kagami dan pemuda itu―Mayuzumi―bergantian. "Kalian saling kenal?" tanya Shimazaki-sensei.
"Bertemu dengannya kemarin," jawab Mayuzumi.
"Dimana?" tanya Mibuchi penasaran.
"Lapangan basket," jawab Kagami.
"Lapangan basket?" tanya Shimazaki-sensei bingung.
"Di belakang Gedung C. Kebetulan bertemu, kami one-on-one entah sampai kapan," jelas Mayuzumi singkat, padat, jelas.
"Kau bermain basket, nanodayo?" tanya Midorima.
"Hanya hobi. Tak tertarik masuk ke klub basket," jawab Mayuzumi.
"Chiho-chan, jawabnya yang niat dong," kata Mibuchi menatap datar senior-nya.
"Aku tak ada niatan," jawab Mayuzumi melirik Mibuchi, lalu berpaling ke Kagami, "jadi, kau ingin menjadi anggota klub seni?"
"Ya," Kagami mengangguk dengan mantap, "aku tak pernah menyangka kita akan bertemu secepat ini, Shiro-senpai."
"Namaku Mayuzumi, Anak Baru."
"Namaku Kagami Taiga, senpai," Kagami tersenyum menantang.
"Bagaimana kalau kau melukis sesuatu di…" Mayuzumi pergi, mengambil salah satu kanvas, lalu balik dan menyerahkannya kepada Kagami, "disini."
Kagami menerimanya, "Tapi, aku tak membawa alat gambarku," lalu menoleh ke arah Midorima, "pinjam punyamu, dong. Gak dipake juga, 'kan?"
Midorima ragu-ragu, "Ini lucky item-ku, nanodayo."
"Pinjem sebentar doang buat ngelukis, mata empat."
"Siapa yang kau panggil 'mata empat', nanodayo, nomor sepuluh Seirin?"
Muncul perempatan di pelipis Kagami. Pemuda beriris crimson itu mengambil paksa―"Hei!" seru si empunya―menuangkan cat hitam ke wadah, mengambil kuas yang terlihat, lalu balik lagi ke depan Midorima.
Midorima menatap bingung Kagami, menjadi waspada dengan setiap gerakan Kagami. Tiba-tiba, Kagami mengambil tangan kiri Midorima, dan menuliskan sesuatu di telapak tangannya. "Dah, tuh, baca baik-baik, dan hafalkan!" seru Kagami tersenyum puas.
Rasa dingin menyeruak ke tubuh Midorima ketika Kagami menulis sesuatu di telapak tangannya. Ia segera melihat apa yang ditulis pemuda berambut merah-hitam itu. Mata Midorima berkedut.
Kagami Taiga, mata 4
Bukan nomor sepuluh Seirin lagi
Bodoh :P
Dan gue pinjem cat-nya :P
Midorima mendongakkan kepalanya, namun Kagami sudah tidak ada disana. Matanya mencari-cari sosok itu, mendapatkannya sedang duduk, memulai untuk melukis sesuatu. Di belakangnya sudah ada Mayuzumi, Mibuchi, dan Shimazaki-sensei.
Midorima menatap kesal telapak tangan kirinya yang dicoret-coret oleh anak asuhnya. Tapi, bibirnya mengkhianatinya, dengan sudut yang terangkat sedikit. Ia mendekati Kagami dan yang lain, melihat apa yang dilukis Kagami.
Kagami melukis dengan cepat. Midorima sudah bisa melihat sosok empat remaja dengan seragam Teikou Academy―dengan rambut warna-warni. Satu perempuan dan tiga laki-laki. Perempuan, dan salah satu laki-laki mengajak dua laki-laki di belakang mereka dengan senyum riang. Laki-laki di samping kanan tersenyum, sedangkan di samping kiri tersenyum kecil sambil menaikkan letak kacamatanya. Latar sudah sedikit jelas―sebuah lorong sekolah.
Tunggu…Midorima memerhatikan lukisan itu kembali. Perempuan itu berambut merah muda, mengingatkannya kepada Momoi. Laki-laki disampingnya berambut pirang―Kise. Laki-laki di bagian kanan belakang, memiliki rambut merah bergradasi hitam―Kagami. Dan, laki-laki disampingnya memiliki rambut hijau, dan parahnya berkacamata―Midorima.
Midorima terhenyak. Kagami sedang menggambar kami? batinnya tidak percaya. Kagami hampir menyelesaikan gambar itu. Suasananya terlihat hangat dan nyaman. Senyumannya terlihat bahwa mereka bahagia dan ceria sekali. Seperti teman lama yang sudah lama tidak berjumpa.
Tak lama kemudian, Kagami meletakkan kuasnya dan berbalik ke arah Midorima dan yang lain, "Sudah."
"Wow, Tai-chan, gambarmu indah sekali," komentar Mibuchi terpukau.
"Jadi, Mibuchi-senpai akan memanggilku Tai-chan…?" tanya Kagami terlihat tak nyaman.
"Yup! Dan, kau harus memanggilku Reo-nee," jawab Mibuchi.
"Aku akan berusaha," Kagami tersenyum masam sambil mengangguk-angguk.
Shimazaki-sensei kagum dengan kemampuan Kagami, lalu tersenyum bangga. Ia menoleh ke arah Mayuzumi, yang sedang mengamati gambar itu dengan serius.
"Kau menggambar teman-teman barumu, Anak Baru?" tanya Mayuzumi dengan tampang serius, tangan bersilang di depan dada.
"Ya, tadi saat istirahat, Momoi, Kise, dan Midorima mengantarku keliling," jawab Kagami mengangguk.
Mayuzumi mengangguk pelan, mengamati gambar itu. Serasa berjam-jam, akhirnya Mayuzumi selesai menilai, tangan di masukkan ke saku, "Lumayan. Kau belajar dari siapa?"
"Ibuku. Dia seorang pelukis. Mungkin kau tahu, Garnetta Fay K.?" jawab Kagami memainkan kedua telunjuknya.
Mata Mayuzumi membulat, "Kau anaknya…!?" serunya tak percaya. Kagami mengangguk. "Aku tak percaya bidadari seperti Garnetta memiliki anak sepertimu," Mayuzumi menggelengkan kepalanya, memegang kening.
"Hei!" seru Kagami tidak terima.
"Baiklah…" Mayuzumi memandang Kagami dengan wajah datar, "apa kau bisa mengartikan lukisan yang kubuat hari ini?" katanya sambil berjalan menuju lukisannya.
Kagami mengikutinya, diiringi oleh yang lain. Pemuda beriris crimson itu mengamati lukisan yang dibuat Mayuzumi. Gambar seorang wanita, sampai perut, tanpa baju―tapi dada-nya terhalangi oleh kedua lengan wanita itu. Kulitnya berwarna abu-abu.
Kagami blushing, gambar itu membuatnya malu. Tapi lukisan memang kebanyakan begitu.
Lengan kiri wanita itu menutupi sebagian wajahnya, sehingga tidak nampak. Di lengan kirinya terlihat aliran air yang memutari lengan. Lengan kanannya seperti baru membuka sebagian wajah yang lain, ingin menunjukkan seperti apa ekspresinya. Menurut Kagami, ekspresi itu cukup mengerikan. Wanita itu tersenyum mengerikan, dengan bibir merah merekah, lalu mata melebar dengan pupil mengecil, yang berwarna amber.
Dari keningnya, terlihat cairan berwarna merah stoberi membasahi pinggiran wajahnya. Mendekati mata, cairan itu berubah menjadi gambar tato, lalu menetes di dagu. Alisnya menekuk tajam, berwarna cokelat dengan sedikit warna merah.
Rambut wanita itu bergelombang, berwarna cokelat dengan di campur merah dan sedikit emas. Kagami memerhatikan lengan kanan. Sebagian lengan itu tertutupi warna merah stoberi―sama seperti yang diwajah. Latar lukisan itu berwarna abu-abu pekat, semakin ke pinggir, semakin memudar warnanya.
Di perut wanita itu terdapat gambar bunga yang diketahui Kagami sebagai dianthus, sedangkan di latar terdapat beberapa gambar bunga calendula, daffodil, dan begonia.
"Menurutku seperti quotes; broken inside, OK outside," gumam Mibuchi yang diikuti anggukan Shimazaki-sensei.
"Mungkin dia merasa bersalah karena melakukan sesuatu, nanodayo," sambung Midorima.
"Bukan," kata Kagami dengan tampang serius, semuanya menoleh kearahnya, "wanita itu gila."
"Hah?" Midorima, Mibuchi, dan Shimazaki-sensei bingung. Mayuzumi melebarkan matanya, "Bagaimana kau mengetahuinya?"
"Eh, tunggu, jadi itu benar?" Shimazaki-sensei menoleh ke arah Mayuzumi tidak percaya. Mayuzumi mengangguk.
"Sebenarnya apa yang dibilang Mibuchi-senpai," Kagami langsung dipelototin Mibuchi, "maaf, maksudku, Reo-nee, itu hampir mendekati. Tapi, wanita itu broken inside, broken outside. Mentalnya rusak. Dia seorang yang sering berhalusinasi. Bunga dianthus berarti imajinasi, calendula berarti kesedihan, daffodil berarti tidak berperasaan, dan begonia berarti kekhawatiran.
"Berarti, karena kesedihannya, mungkin orang-orang disekelilingnya yang tidak berperasaan, dia menjadi khawatir dan gila lalu berhalusinasi, berimajinasi. Jika kita tahu apa bunga itu dan maknanya, kita bisa langsung tahu makna lukisan ini. Tapi, jika kita tidak tahu, kita bisa melihat ekspresi mengerikan wanita ini."
"Mengerikan?" Midorima melirik Kagami.
Kagami blushing karena malu, "A-aku menganggapnya mengerikan, diamlah mata empat!" serunya mengibaskan tangannya di dekat Midorima, "senyum wanita itu mengerikan, matanya melebar, pupilnya mengecil. Itu bisa bertanda bahwa dia gila, frustasi, khawatir. Lalu, gambar yang seperti cairan berwarna merah itu mungkin darahnya, begitu juga di tangannya. Mungkin si wanita ini telah membunuh orang.
"Dan, seperti kata Midorima, dia merasa bersalah melakukan itu, atau mungkin itu penanda kesedihannya. Seperti mengungkapkan…ng…dia tidak ingin melakukannya, namun kalian yang membuat dia melakukannya. Ya, seperti itu."
Kagami menoleh ke arah Mayuzumi. Pemuda bersurai putih itu memandang Kagami tidak percaya, lalu mengangguk-anguk setuju, "Wanita ini gila. Dia sering berhalusinasi karena perlakuan kejam yang tidak berperasaan orang tuanya yang ia lihat. Dia menjadi khawatir, bahwa dia akan dilakukan seperti itu juga. Akhirnya, dia membunuh orang-orang yang mencoba mendekatinya, tapi sebenarnya dia tidak mau."
"Kau terinspirasi dari apa, Chihiro-kun? Mengerikan sekali," tanya Shimazaki-sensei.
"Novel yang akhir-akhir ini kubaca," jawab Mayuzumi.
Kagami merinding, "Kau tidak takut dengan itu, Mayuzumi-senpai?" memeluk dirinya sendiri.
"Kau takut…?" Mayuzumi menyeringai.
"Itu 'kan mengerikan!" seru Kagami.
"Chiho-chan baca novel yang seram-seram ya…" gumam Mibuchi.
"Novelnya bagus kok, cuman ya gitu ceritanya," kata Mayuzumi.
"Oh ya, Midorima," Kagami menoleh ke arah Midorima.
"Apa, nanodayo?" tanya Midorima bingung.
"Tunggu," Kagami berlari ke tempat ia melukis tadi, membereskan cat lukis, lalu berlari ke depan Midorima dan menyerahkan set lukis itu ke pemuda di depannya, "nih."
"Oh, kau mengembalikannya, nanodayo," Midorima menerimanya.
"Tentu saja," Kagami menatap datar Midorima, "nanodayo."
Muncul perempatan di pelipis Midorima, membuat Kagami tertawa dalam diam. "Kau tidak akan kena marah pelatih atau Akashi? Kau sudah lama menemaniku, loh," kata Kagami spontan.
Midorima mematung di tempat. Merasa nyawanya sedang terancam bahaya. Demi Oha-Asa, aku lupa ada latihan hari ini.
"Hayoloh~ hayoloh~ Nanti kena gunting si mata belang loh~" Kagami menggoda Midorima. Yang lain pada tercengang mendengar godaan Kagami, karena berani menyebut Akashi 'mata belang'.
"Aku pergi dulu, nanodayo," Midorima menaikkan kacamatanya, "permisi," lalu segera pergi dari ruang klub seni. Kagami cekikikan melihat Midorima ketakutan.
"Kau sepertinya tak takut pada Sei-chan, Tai-chan," kata Mibuchi.
"Huh?" Kagami menoleh ke arah Mibuchi, "ngapain takut sama orang pendek, matanya belang lagi."
Ketiga manusia selain Kagami di ruang klub seni mematung mendengar penuturan Kagami. Tak ada seorangpun yang berani menyebut Akashi seperti itu secara terang-terangan. Bisa-bisa kita dibunuh oleh si empunya nama.
"Kagami-kun, Akashi-kun itu…ketua OSIS loh…jangan diejek seperti itu…" ujar Shimazaki-sensei.
"Bodo'," balas Kagami dengan wajah datar. Yang lain langsung mingkem, menganggap Kagami makhluk yang ajaib.
"Oh ya, aku mau lihat lukisannya Mibuchi-senpai, dong!" seru Kagami.
"Reo-nee, Tai-chan," kata Mibuchi.
"Iya, Reo-nee," ulang Kagami.
"Kau tidak ingin melihat lukisan sensei?" tanya Shimazaki-sensei.
"Emang sensei bisa melukis?" tanya Kagami.
"Bisa dong, kalo gak, sensei gak mungkin jadi pembina klub seni," jawab Shimazaki-sensei cemberut.
"Gitu…" Kagami manggut-manggut. Klub seni menjadi lebih berisik dari biasanya, terima kasih kepada anggota baru mereka, Kagami Taiga, yang anak baru di Teikou, yang pandai melukis, yang merupakan anak dari pelukis terkenal, dan orang yang berani bilang Akashi 'orang pendek bermata belang' secara terang-terangan.
Mayuzumi tersenyum simpul, memandangi anggota barunya. Lalu, dia terperangah. Melihat senyum lebar Kagami, mengingatkannya ketika mereka sedang one-on-one kemarin, saat Kagami melakukan dunk.
Saat itu, Mayuzumi terperangah. Dia melihat cengiran bodoh milik si surai merah, dan sekilas, ia melihat sepasang sayang di belakang tubuhnya. Ketika pemuda itu mendarat, Mayuzumi tersadar dari halusinasinya.
Anak dari Garnetta Fay K.;Kagami…, pantas saja, pemuda ini mirip sekali dengan ibunya, malaikat seindah permata merah, batin Mayuzumi, memejamkan matanya dan tersenyum.
…
Midorima berlari sekuat tenaga menuju gym. Dia tidak ingin dicincang oleh pelatih atau kaptennya. Tapi, entah kenapa, ia masih ingin berada di klub seni, menemani Kagami.
Seseorang yang mengubah hidupmu, mengingat pesan Oha-Asa membuat wajah Midorima merah padam, lalu ia memandang telapak tangan kirinya, si bodoh yang otaknya tidak bekerja untuk matematika? Yang benar saja.
Namun, Midorima tersenyum.
…
Pulang dari kegiatan klub, Kagami langsung menelepon Kiyoshi.
[Halo, Taiga?]
"Papa, dengar," seru Kagami bersemangat, "aku masuk ke klub seni! Dan ternyata, Shiro-senpai ada disana! Ada juga anggota Uncrowned Kings bernama Mibuchi-senpai. Ah, tapi aku disuruh panggil dia Reo-nee."
[Mibuchi?]
"Papa tahu dia?"
[Ya, lumayan dekat sebenarnya. Dan, selamat Taiga, sepertinya kau senang sekali.]
"Tentu saja! Oh ya, Pa, aku sekelas dengan Midorima―yang pake kacamata, rambutnya hijau. Kata Kuroko, dia itu tsundere, tapi aku gak ngerti, jadi kubiarkan aja asalkan sifatnya bukan psikopat."
[Yang rambut ijo itu ya…?]
"Walikelas-ku guru P.E! Dia menyenangkan banget! Terus, pembina klub seni, namanya Shimazaki-sensei. Dia juga menyenangkan! Kesannya, dia itu masih mahasiswa, Pa."
[Wah, seru deh kayaknya. Papa dan yang lain udah kangen loh! Sepi kalau gak ada Taiga.]
Kagami tertawa kecil, "Aku juga kangen Papa dan yang lain. Gimana hubungan Papa dengan Hyuuga-senpai?"
[Baik-baik aja kok~ Dan, tadi Riko nyaris menjejalkan hasil masakannya ke mulut kami.]
"Hahahaha, ya ampun, dan Papa dan yang lain selamat?"
[Yeah…untungnya.]
Kagami tertawa lagi, "Oke Pa, nanti kutelpon lagi. Salam untuk semuanya."
[Oke, Taiga, jangan lupa kerjakan PR.]
"Sip!"
Klik! Kagami mematikan sambungannya, menyapa Nakamura-sensei yang sedang mengawas, dan mengisi agenda.
…
Sementara itu, Kiyoshi dan seluruh anggota Seirin minus pelatih mereka sedang makan di Majiba. Kiyoshi sedari tadi tersenyum menatap HP-nya, membuat Hyuuga curiga.
"Hoi, lo abis ngapai? Senyam-senyum mulu," tanya Hyuuga menyipitkan matanya.
"Tadi, Taiga telpon aku," jawab Kiyoshi tersenyum lebar, "dia titip salam."
"Gimana kabarnya?" tanya Izuki.
"Baik, katanya dia masuk ke klub seni. Ada Mibuchi disana," jawab Kiyoshi.
"Salah satu Uncrowned Kings?" tanya Koganei. Kiyoshi mengangguk.
"Kok dia tidak masuk ke klub basket?" tanya Furihata.
Kiyoshi menggeleng, "Tidak tahu. Kagami tidak memberitahu apa-apa."
"Kau terlihat senang sekali karena Kagami menelepon, Kiyoshi," kata Tsuchida.
"Hahahaha," Kiyoshi hanya tertawa, habisnya, dia manggil aku Papa tanpa aku suruh. Siapa sih yang gak senang pas calon anakmu memanggilmu 'Papa'?[]
A/N: Uwaaahhh selese akhirnya dengan deadline yang Alice tentukan~
Lumayan susah menulis chap ini sebenarnya, karena susah menuangkan isi pikiran Alice ke dalam tulisan. Imajinasi itu luar biasa hebat, tapi kalau dituangkan kadang jadi abstrak XD
MidoKaga, MayuKagaMibu, dengan sedikit KuroKaga dan KiKaga dan KiyoKaga di ending~ Perasaan banyak amet ya…ah, biarkan, namanya juga harem!Kagami XD
KuroKaga dan KiKaga kayaknya nyaris bakal ada di setiap chapter karena KiKuro teman sekamarnya Kagami, bukan berarti endingnya jadi salah satu dari mereka loh, ending masih abstrak(?)
Yosh! Besok Alice ulangan bindo dan agama dan belum sama sekali belajar :v jadi, karena berhubung ada UAS, Alice tidak bisa meng-update minggu depan―entahlah, tak tahu.
Terima kasih buat semuanya yang udah baca, follow, fav, dan review fic ini, I LUV YA~~ REALLY, REALLY LUV YA ALL 'v')/
Dan, chapter depan kita akan masuk ke MuraKaga zone XD
Ngomong2, Alice coba bikin cover buat fic ini dan satu lagi yang isinya Papa Kiyo dan Son Gami judulnya 'Father and Son' bisa di cek di profile Alice/promosi/dan hasilnya lebih memuaskan dengan cover 'Father and Son'~ '-')~
