diclaimer. One Piece © Eiichiro Oda-sensei. No profit was made from this work. Format © frustrated fireworks, title ©Daughter
warning. Full of headcanons. Trafalgar Law-centric.
note. alurnya agak maju-mundur.
;
[ the reckless, the wild youth ]
—
"Why do you choose him, Law? Even as a child you were more ruthless, more cunning."
— Donquixote Doflamingo, ch. 752
;
xxxi—
"Law, begitu caramu bicara pada bosmu setelah tak bertemu lebih dari 10 tahun?"
Mungkin pada satu titik Donquixote Doflamingo akan selalu menganggapnya sebagai anak laki-laki dengan granat di sekujur tubuh yang berkata akan menghancurkan seluruh dunia dan seisinya. Anak laki-laki dengan kepribadian suram yang nekat mendatangi markasnya untuk bisa bergabung. Anak laki-laki sebatang kara dari Kota Putih dengan amber lead di tubuh yang mengatakan bahwa ia sudah tidak percaya pada apa pun lagi.
Mungkin Doflamingo akan selalu melihatnya sebagai anak laki-laki itu.
Tapi anak laki-laki itu sudah tidak ada.
Kapten bajak laut Heart. Dokter bedah kematian. Shichibukai dengan bounty 440 juta berry. Satu dari sebelas bajak laut berlabel 'generasi terburuk'. Itu, itu adalah Trafalgar Law yang sekarang.
Dan ia masih bisa berdiri di sini, saat ini juga—tengah menantang dan bersiap untuk menghancurkan mantan bosnya—ia berterima kasih seumur hidup pada Corazon.
Law tidak berutang apa pun pada Doflamingo.
—;—
xxxii—
Trafalgar Law berumur 10 tahun ketika pertama kali bertemu dengan Donquixote Doflamingo. Sebagai satu-satunya orang yang mampu bertahan dari tragedi Flevance, ia menanggung semua duka dan amarah dari tiap penduduk kota di dalam dirinya. Bocah yang sudah tidak memiliki harapan untuk hidup dengan tatapan penuh kebencian pada seluruh dunia—ada sesuatu di matanya yang membuat Doflamingo tertarik.
Tidak butuh waktu lama bagi Law untuk diterima sebagai bagian dari Donquixote Family dan diperlakukan layaknya keluarga.
Doflamingo bilang ada kemungkinan dirinya bisa sembuh dengan menggunakan semua jaringan bisnis pasar gelapnya. Doflamingo juga bilang ia akan dilatih untuk menjadi tangan kanannya 10 tahun ke depan.
Bagi seorang anak yang sudah kehilangan segalanya dan telah meyaksikan begitu banyak kematian, apa lagi yang bisa ia harapkan lebih baik daripada diberikan rumah untuk tinggal dan dijanjikan kehidupan yang layak?
—;—
xxxiii—
Law sudah memutuskan, di usianya yang hanya tersisa 3 tahun 4 bulan ini akan ia dedikasikan sepenuhnya untuk Donquixote Family. Doflamingo adalah orang yang paling ia hormati sekaligus panutannya.
Seandainya—hanya seandainya—ia bisa hidup melewati angka 13 tahun, setidaknya Law sangat bersemangat dengan kemungkinan akan menjadi tangan kanan sang kapten.
—;—
xxxiv—
Beberapa tembakan terdengar dan semuanya mendadak gelap.
Di momen-momen terakhir sebelum kesadarannya hilang, kenangan-kenangan itu muncul kembali. Masa-masanya yang singkat bersama Donquixote Family. Kenangan itu muncul dengan begitu samar, berputar secara acak dan cepat, meninggalkan dirinya satu pertanyaan—
"Torao, kenapa kau bisa bersama Mingo?!"
—apa ia memang sudah kelewatan?
"Bocah ini terlalu terbawa suasana..."
Ia telah menghancurkan pabrik SAD, berencana melakukan hal yang sama pada pabrik SMILE, menculik Caesar Clown, secara tidak langsung menghancurkan bisnis gelap mantan bosnya, berniat memprovokasi yonko, menjebak Doflamingo agar terkena amukan Kaido, memporak-porandakan Dressrosa—walau yang satu ini di luar rencananya dan murni improvisasi kru Topi Jerami.
Law sudah melakukan banyak hal untuk membuat Donquixote Doflamingo naik pitam dan ingin membunuhnya saat ini juga.
Seperti bocah yang baru saja berbuat kenakalan dan tengah pasrah menunggu orangtuanya memberi hukuman—perasaan itu terlalu absurd, dan anehnya justru itulah yang Law rasakan sebelum kesadarannya sepenuhnya hilang.
"TORAO!"
—;—
xxxv—
Doflamingo memberikannya setumpuk buku-buku baru tiap hari. Berasal dari keluarga dokter membuat Law punya minat membaca yang tinggi dan kecerdasan di atas rata-rata anak-anak seusianya. Ia selalu menyukai tiap buku yang dibawakan dan tidak sabar untuk mendapatkan pengetahuan baru dari buku yang ia baca.
Baby 5 dan Buffalo kompak menyebutnya 'membosankan' atau 'kutu buku' karena ini. Padahal mereka selalu melongo penuh takjub tiap kali mendengarkan Law menjelaskan pada mereka asal usul dinosaurus.
"Payah, ceritamu membosankan, dasuyan."
"Kau yang memaksaku menceritakan teori transplantasi organ!"
"Tetap saja payah, kau terlalu banyak tahu hal-hal yang aneh. Di antara cerita kita bertiga, ceritamu yang paling tidak seru, dasuyan. Kau harus mentraktirku es krim, Law!"
"Baiklah, Baby 5, pinjami aku uang."
"E-eeh, aku dibutuhkan!"
Hanya satu hari yang biasa bersama Donquixote Family.
—;—
xxxvi—
Tiap malam, jika ia tidak terlalu sibuk dan sudah menyelesaikan semua urusannya, Doflamingo akan selalu menyempatkan diri mampir ke kamar Law untuk mengawasinya belajar. Sesibuk apa pun, ia selalu meluangkan waktunya untuk sesi belajar bersama Law. Biasanya, buku-buku yang ia berikan di pagi hari sudah dilahap habis oleh Law pada malamnya. Doflamingo akan menyiapkan buku-buku baru tiap kali datang.
"Hm, Lao-G benar-benar membuatmu babak belur." Suara Doflamingo terdengar bersamaan dengan bunyi derit pintu kamar Law.
Law yang sedang menekuni bukunya menoleh sekilas ke arah sang kapten, wajahnya yang babak belur kini memasang ekspresi cemberut. "Kakek tua bau tanah itu menyebalkan!" Ia tidak habis pikir bagaimana bisa pria seuzur Lao-G masih punya tenaga untuk meninjunya sedemikian sakit, sudah beberapa hari terakhir ia dijadikan objek bully kakek tua satu itu. Law kemudian ganti memasang wajah penuh harap seperti anak kecil yang minta dibelikan sesuatu oleh orangtuanya. "Doflamingo, aku ingin buku baru."
Pria itu menyeringai tipis, di tangannya sudah ada beberapa buku yang kemudian ia letakkan di meja belajar Law. "Untuk itu lah aku datang ke sini."
Law nyaris memekik girang dan menyuarakan 'terima kasih' dengan cepat seraya sibuk mengecek buku-buku itu satu per satu. Doflamingo masih berdiri di sebelahnya, mengamati bocah yang sudah asyik berada di dunianya sendiri, dan ia tersenyum—tipis, sangat samar, Law mungkin tidak akan bisa melihatnya, tapi ada ketulusan di dalam senyum itu.
Tangan Law berhenti bergerak ketika menyentuh salah satu buku.
Doflamingo mengerutkan kening, heran dengan perubahan tiba-tiba bocah itu yang awalnya sangat bersemangat. Ia lalu ganti melirik buku apa yang dipegang oleh Law, dan ia kemudian menyadari kesalahannya.
Kenapa buku itu bisa terselip!
Buku sejarah Flevance yang seharusnya adalah koleksi pribadinya pasti tercampur ketika ia hendak memilih buku untuk Law baca malam ini.
Dengan gerakan cepat dan cenderung kasar, Doflamingo merebut buku itu dari tangan Law. Sementara Law sendiri tidak bereaksi apa-apa dan hanya diam saja. Ia berdehem, mencoba mencairkan suasana. "Hei, Law—"
"Buku sejarah raksasa Elbaf ini sepertinya menarik. Buffalo pasti tidak akan bilang ceritaku membosankan lagi." Law berbicara memotong ucapan Doflamingo seraya mengambil buku lain di tumpukan itu.
Doflamingo hanya memandangnya dengan ekspresi sulit dijelaskan, yang ia lihat adalah seorang anak laki-laki berumur 10 tahun yang menjadi korban dari sebuah tragedi mengenaskan. Bercak-bercak putih amber lead mulai menjalar ke wajahnya yang kini babak belur, membuat Doflamingo mendadak memiliki dorongan aneh untuk menyentuh pipi bocah itu.
Itu bukan penyakit yang harus membuatnya dijauhi dan dianggap menjijikkan oleh orang-orang, itu tidak seharusnya menjadi penanda bahwa usia anak ini sudah tidak lama lagi.
Doflamingo keluar dari kamar Law lebih cepat dari biasanya.
—;—
xxxvii—
Berada di kursi 'Heart' dengan borgol laut tepasang di kedua tangan, Law merasa seluruh kejadian ini sungguh ironis.
Donquixote Doflamingo banyak mengatakan kebohongan, tapi sampai akhir ia tidak pernah berdusta ketika mengatakan akan menjadikan Law sebagai tangan kanannya. Dan di sini lah ia sekarang, duduk di kursi 'Heart', sebuah kursi yang sudah dijanjikan untuknya sejak lama. Sebuah jabatan yang dulu akan membuatnya bersemangat. Anak laki-laki dari Kota Putih itu mungkin akan bersemangat.
Tapi dirinya yang sekarang justru merasa muak hanya dengan menduduki kursi ini.
Doflamingo bukan bosnya, tidak akan pernah lagi menjadi atasannya.
—;—
xxxviii—
Trafalgar Law adalah pria yang penuh dengan rencana. Ia selalu mempertimbangkan berbagai kemungkinan pada rencana yang sudah ia susun, mengoreksinya agar bisa sesempurna mungkin, membuang hal-hal yang dianggap hanya mengganggu. Tapi sepertinya ia perlu meninjau ulang keputusannya menjadikan bajak laut Topi Jerami sebagai aliansi. Memasukkan mereka ke dalam daftar rencananya yang sudah matang terasa seperti kesalahan besar ketika menyadari betapa sembrononya sang kapten.
Selalu berbuat seenaknya, spontan, tidak pernah mendengarkan sekalipun kata-kata Law, hanya bisa merusak rencana yang sudah disusun, ikut campur dalam pertempurannya, asal menyebut dirinya nakama tanpa berpikir, tidak terima dan malah marah ketika Law memutuskan aliansi mereka, dan yang paling parah—menggotong dirinya kemana-mana dalam keadaan terborgol setelah lepas dari kursi sialan itu.
Itu, itu benar-benar... memalukan!
Ia bersumpah setelah borgol ini lepas orang pertama yang akan ia bunuh adalah Monkey D. Luffy!
(Law tidak akan mengakui ia semacam bersyukur Luffy mau menggotongnya dan membuat dirinya bisa menghemat energi. Law tidak akan mengakui ia sama sekali tidak keberatan berada sedemikian dekat dengan Luffy. Law tidak akan mengakui bahwa tangan karet Luffy ternyata cukup lembut dan sesuai dengan seleranya. Law tidak akan mengakuinya, ingat itu.)
—;—
xxxix—
Law tidak pernah menceritakannya pada siapa pun mengenai orang itu, orang yang paling ia sayangi sekaligus dewa penyelamatnya yang membuatnya masih bisa hidup sampai sekarang. Orang yang telah memberikannya kehangatan yang tidak pernah bisa lagi ia dapatkan. Orang yang sudah direbut secara paksa darinya 13 tahun lalu oleh Doflamingo. Orang itu, Corazon.
Cora-san.
Law tidak pernah menceritakannya pada siapa pun, bahkan tidak pada krunya sendiri. Corazon adalah orang terpenting dari masa lalunya, dan menceritakannya hanya akan membuka semua luka lama yang sudah ia tutup rapat selama ini. Law tidak mau, tidak mau, merasakan lagi semua perasaan itu. Semua duka, amarah, serta rasa sepi yang ia rasakan setelah Corazon tiada—Law tidak mau kembali menjadi anak laki-laki itu.
Anak laki-laki yang lemah dan hanya bisa menangis itu.
Tapi sekarang Law menemukan dirinya menceritakan apa arti Corazon untuknya pada Monkey D. Luffy.
Ia bahkan tidak tahu kenapa ia melakukan itu. Mungkin karena ia pikir Luffy—dari semua orang yang ada—yang paling bisa memahami ini. Mungkin karena Luffy berhak untuk tahu alasan sebenarnya di balik rencananya untuk menghancurkan Doflamingo. Bukan untuk menantang yonko, bukan untuk membalaskan dendam semata, ini semua ia lakukan untuk memenuhi permintaan terakhir Corazon.
"Kedengarannya dia orang yang penting sekali untukmu, ya, Torao?"
"Dia orang yang paling kusayangi di dunia ini."
"Ketika orang yang paling kita sayangi direbut dari kita, yeah, aku bisa memahami perasaan itu."
Law tidak berkomentar pada ucapan Luffy barusan. Ia teringat kakak pemuda itu yang tewas di markas Angkatan Laut, ia melihat sendiri bagaimana efek kematian Portgas D. Ace berdampak pada Luffy, dan ia merasa tidak perlu bertanya apa-apa lagi.
Ia tahu Luffy memang pasti bisa mengerti.
"Aku akan menghajar Mingo untukmu juga, kalau begitu!"
"Aku yang akan menghajarnya!"
—;—
xl—
Pada satu titik, pada satu masa, entah bagaimana prosesnya—Law tahu Doflamingo pernah peduli padanya. Peduli pada eksistensinya sebagai manusia, sebagai anak laki-laki dari Kota Putih yang telah kehilangan segalanya, sebagai bawahannya yang begitu senang membaca, sebagai calon tangan kanannya di masa depan kelak.
Bukan hanya sebagai alat yang akan memberikannya keabadian dan harus mati pada hasil akhirnya.
Law berpikir bahwa dulu pun ia pernah begitu menghormati Donquixote Doflamingo. Ia pernah bermimpi berdiri di samping pria itu sebagai tangan kanannya. Itu bukan perasaan palsu, ia hanya anak laki-laki 10 tahun yang merasa telah menemukan panutan hidup.
Lalu Corazon menyelamatkannya dari semua itu dan segalanya pun berubah total.
Kadang Law pun bertanya-tanya bagaimana bisa mereka berdua berakhir pada posisi berlawanan seperti sekarang. Bagaimana bisa pria yang selalu memberikan buku-buku baru padanya dan menemaninya belajar tiap malam kini ingin membunuhnya? Bagaimana bisa pria yang sudah mengizinkannya bergabung dengan keluarganya dan memberikannya tempat tinggal kini begitu bernafsu untuk ia hancurkan?
Cora-san, Cora-san, Cora-san—dan semua ini akhirnya masuk akal.
"Jika insiden itu tidak terjadi, saat ini aku takkan berdiri melawanmu!"
"Jika insiden itu tidak terjadi, harusnya kau sudah menjadi Corazon ketiga dan berdiri tepat di sisiku!"
—;—
xli—
Suatu hari di masa lalu mereka pernah berada di meja makan yang sama, makan malam bersama anggota keluarga yang lain sambil tertawa.
Law tidak merindukan masa-masa itu sedikit pun.
Ia sudah membuat pilihannya sendiri, Doflamingo adalah musuh yang telah merebut orang yang paling ia sayangi. Pria ini akan ia hancurkan dengan tangannya sendiri. Law harap satu kali saja sejak aliansi mereka berjalan, Monkey D. Luffy tidak melakukan hal spontan yang merusak semuanya. Satu kali saja ia tidak perlu menyesal sudah menawarkan pemuda karet itu untuk beraliansi bersamanya.
Ia memang sudah memutuskan untuk mengakhiri aliansi mereka—tapi Luffy tidak akan sudi mendengarkannya saat ini. Jadi biarkan saja dirinya berguna.
"Mugiwara-ya, kau yang terburuk!"
"Heh, kau juga bagian dari generasi yang sama, kan?"
Mereka berdua adalah 'D', bagaimanapun juga. Dan 'D' akan mendatangkan badai lagi.
—;—
{ end of chapter four }
—;—
note. Kenapa Corazon hanya disinggung sedikit dan lebih banyak DofLaw? Karena Cora berhak dapet full 3 chapter abis ini #BIAS part terakhir dimasukin cuma karena suka sama dialog LawLu yang itu ehehe
