Disclaimer © Masashi Kishimoto
This fic is mine
Rated © T
Warning © OOC berkepanjangan, Bahasa nggak baku, alur secepat kecepatan cahaya, typo tak kasat mata dan teman-temannya.
Summary © Status jomblo dan malam minggu yang tak dirindukan membuat Sasuke, Gaara, Shikamaru, Naruto, Sai dan Kiba melakukan perjalanan di akhir pekan, bagaimana kisah perjalanan absurd mereka?
Note © Hanya ff samvah yang ingin sekedar menghibur :v/Banyak scene nggak penting dan garing banget! Daripada dongkol, mending klik tombol back aja kaka :v
Don't Like Don't Read
.
.
.
Ngetrip
Chapter 4
.
.
.
"Kita bisa numpang di rumahnya Hinata-chan nggak?" Gaara, dengan tidak tahu malunya bertanya.
"Bisa kok tapi rumahnya sederhana sekali..." Hinata tahu persis, meski penampilan 6 cowok di depannya lagi super berantakan tapi keliatan kalo mereka dari kota. Cuma nggak enak aja kalo Hinata ngeluarin statement 'Sok jaim padahal nyasar'.
.
.
.
Hinata berjalan paling depan masih lengkap dengan kemben yang mengekspos bahu, lengan dan kaki jenjangnya sementara sekumpulan calon tamu 'nggak tahu diri' berjalan santai di belakangnya.
Nggak usah ditanya, matanya Sasuke nggak bisa lepas dari Hinata. Bukannya otak bokep, man, ini normal bagi cowok yang emang normal. Jangan tanya juga Kiba kayak gimana, matanya sih nggak se-jelalatan matanya Sasuke tapi matanya Kiba seakan dipasangi kacamata kuda, doi nggak bisa ngeliat pemandangan lain selain rambut panjang Hinata yang tergerai bebas menutup sebagian punggungnya.
"Tuh mata dijaga..." kata Shikamaru sambil menjotos kepala Kiba.
Ngomong-ngomong soal Shikamaru, setidaknya cowok berambut gonrong ini masih memiliki kadar 'tahu diri' dibanding temen-temennya yang lain. Doi rela membawa keranjang cucian Hinata yang belum sepenuhnya tercuci bersih.
Sai, Naruto dan Gaara berjalan menikmati pemandangan alam yang begitu hijau, desa kecil yang dikelilingi oleh jejeran gunung yang seolah ditutupi oleh lautan awan *apaansih*. Tidak cuma Hinata, ada begitu banyak gadis yang berlalu lalang dengan tampilan yang tidak jauh beda dengan Hinata. Benar-benar perpaduan keindahan ciptaan Tuhan.
"Seger beneeerrr..." Sai geleng-geleng memandang gadis-gadis yang lewat.
"Apanya yang seger?" tanya Gaara, polos.
"Pemandangan alam beserta isinya" sahut Naruto yang tak kalah 'geleng-gelengnya' dari Sai.
Jarak rumah Hinata dari sungai tempatnya mencuci nggak jauh-jauh amat kok. Setidaknya masih lebih dekat dari jarak antara Bumi dan Matahari tapi masih lebih jauh kalo dibandingkan jarak antara aku dan kamu.
Sebuah rumah kecil nan sederhana beserta kebun hijau disekelilingnya.
Itulah rumah Hinata.
"Kalian istirahat aja dulu" ucap Hinata membuka pintu.
"Hinata..." panggil Sasuke dengan nada suara pelan nan sexy.
"A-apa?" berhubung Hinata cuma cewek normal yang matanya juga masih normal, dia nggak bisa mangkir dari kenyataan bahwa Sasuke tuh cowok yang bisa bikin gregetan. Gregetan pengen cubit misalnya, atau yang lebih ekstrim dikit gregetan pengen meluk, atau yang paling ekstrim gregetan pengen nyium.
"Sebaiknya Hinata pake baju atau rok atau apa gitu, jangan pake kemben ya" ucap Sasuke dengan tatapan penuh arti. Penuh arti dalam artian mesum level maximum.
"Me-memangnya kenapa?" tanya Hinata heran.
"Aduh, mending Hinata-chan nurut aja. Sasuke tuh anaknya suka main khilaf seenaknya kalo liat pemandangan yang unyu di depannya" sahut Gaara sambil membuka sepatunya kemudian meletakkan backpack-nya.
Hinata mengangguk kemudian melangkah memasuki ruangan yang dicurigai sebagai kamarnya. Shikamaru meletakkan keranjang cucian Hinata di bale-bale teras rumah Hinata, Naruto duduk disamping Shikamaru lalu membuka bajunya, gerah. Sedangkan, Sai masih melakukan observasi disekitar rumah Hinata.
Sementara Kiba?
"Lo mau kemana?" tanya Sasuke dengan nada nggak suka pas ngeliat Kiba nyelonong masuk ke dalam rumah. Perasaan Hinata belum mengucapkan 'anggap aja seperti rumah sendiri' tapi Kiba udah main nyelonong aja.
"G-gue cuma haus kok, pengen minum" kata Kiba sok kehausan.
"Nggak sopan masuk rumah orang, apalagi di dalem ada cewe unyu begitu" Sasuke pun melepas kaosnya yang mulai lusuh, kaos malang itu sudah lulus seleksi untuk dijadikan 'kain lap'
"Tapi kan gue haus, ettaaaannn~" sekedar info, 'etan' itu panggilan sayangnya Kiba ke Sasuke, diambil dari kata 'setan' yang disebut sedemikian unyu sehingga menjadi 'etan'.
"Alesan lo, kalo haus ini minum gue" Gaara datang menghancuran rencana Kiba untuk ngedeketin Hinata.
"Kayaknya ni cewek tinggalnya sama anak kecil deh" Sai masuk rumah setelah menyelesaikan observasinya.
"Lo peramal ya? Kok sok tau amat" Naruto pun nyusul Sai masuk rumah diikuti Shikamaru.
"Iya, tadi gue sampe ke belakang dan gue nemu jemuran. Di sono jemurannya kayak baju anak kecil semua" Sai pun melepas sepatu dan kaosnya.
"Jangan-jangan, Hinata udah punya anak lagi" celetuk Shikamaru.
"Terus ditinggal mati suaminya" Naruto menambahkan.
"Jadi intinya, Hinata itu..." Sai menggantung kalimatnya.
"Janda muda beranak satu" terima kasih kesimpulannya, Gaara.
"NGGAK MUNGKIINNNN...!" oke, jelas aja yang teriak protes ini Kiba sama Sasuke.
"Kali aja adeknya, ya kan?" Sasuke minta dukungan Kiba.
"Iya, kali aja Hinata baik hati, dia nyuci di sungai terus nemu anak kecil nyasar terus dia pelihara gitu" Kiba pun ber-stay positive thingking.
Mereka berenam kemudian larut dalam perdebatan siapakah sebenarnya pemilik baju anak kecil yang berada di jemuran belakang rumah Hinata. Entah pengaruh ikut-ikutan atau emang karena kepanasan, keenam anak muda nyasar nan jomblo itu udah pada topless semuanya.
Tau topless kan? Bukan tempat kue lebaran loh ya tapi itu loh cowok-cowok yang pada pamer body bagian atasnya.
Oke. Kita absen satu-satu.
Ada uchiha Sasuke, mahasiswa fakultas Ilmu Sosial dan llmu politik ini memiliki body yang kece punya. Udah putih, mulus dan ototnya nggak nyeremin plus jangan lupakan tangan kekarnya yang sumvah syeksih syekaleh. Nggak heran kalo doi jadi idaman seluruh warga jurusan tempatnya nyuri ilmu (karena menimba ilmu udah terlalu mainstream), jurusan Hubungan Internasional.
Lalu ada Sai, mahasiswa seni rupa ini nggak kalah kerennya dari ayang Sasuke *ayangapanya*. Emang sih pas pake kaos body-nya keliatan kurus dan rata kayak aspal tapi buang jauh-jauh pemikiran itu kalo Sai udah lepas baju. Kalo gue ada yang kayak Sai buka baju di depan gue, gue bakalan divonis menderita rabies gara-gara iler gue nggak bisa berenti ngalir. Kayak perhatian aku ke kamu gitu deh, nggak berenti ngalir.
Kemudian, Sabaku Gaara. Makhluk manusia tercakep di fakultas teknik, lebih tepatnya pangeran di jurusan teknik sipil. Meskipun kadang bego dan ngeselin banget tapi tampang dan tatapan matanya nggak nahan banget, apalagi kalo udah buka baju gini. Lehernya yang ditumbuhi (?) jakun, bahunya yang kokoh dan perutnya yang rata. Percayalah, body-body kayak Gaara ini paling enak kalo dijadiin temen tidur. Hahaha. Temen tidur doang ya, kayak boneka gitu, jadi pajangan doang di kasur. Nggak diapa-apain kok. Paling cuma di peluk-peluk doang.
Nah, jangan lupain Uzumaki Naruto. Anak muda yang niatnya nerusin usaha Ayahnya ini terdaftar sebagai mahasiswa fakultas ekonomi jurusan Manajemen. Meskipun doi kadang tersibukkan (?) oleh tugas kampus yang nggak berprikemahasiswaan dan nggak berprikeanakmudaan tapi doi tetep rajin olahraga. Well, rajin jogging udah bikin body-nya Naruto ngasih sensasi hangat dan nyaman kalo lagi meluk *ehem.
Inuzuka Kiba, mahasiswa yang terobsesi dengan sesuatu yang berbau 'kedokteran hewan'. Doi kemarin daftar di fakultas kece itu tapi nggak keterima, akhirnya sebagai bentuk kecintaannya terhadap sesama hewan, eh maksudnya sesama makhluk ciptaan Tuhan. Doi tetap gencar nembak jurusan yang ada hewan-hewannya gitu dan jadilah doi resmi menjadi mahasiswa ter-populer di fakultas peternakan -_-. Jangan salah, nyet. Gini-gini keseksian Kiba nggak bisa diabaikan kalo lagi buka baju, belum lagi bekas jahitan di lengan kirinya seakan menambah kesan maskulin tuh manusia. Jangan tanya bekas jahitan karena apa, bukan jatoh dari motor dan bukan pula karena jatuh bangun ngejar gebetan. Jawabannya simpel kok, di cakar ayam pas praktek. Udah gitu aja.
Nah, ini andalan gue juga nih. Nara Shikamaru, Shikamaru ini se-fakultas sama Sasuke tapi beda jurusan. Shikamaru adalah mahasiswa jurusan ilmu pemerintahan, mahasiswa paling apatis sedunia. Kalo 'kemalasan' adalah penyakit, mungkin Shikamaru udah kronis di stadium 4 dan pokoknya tinggal tunggu tanggal mati aja dah tu anak. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik emang di dominasi sama mahasiswa cowok gonrong-gonrong kece, ya kayak Shikamaru dan Sasuke ini. Kalo bahas masalah body mah Shikamaru juga nggak bakal ngecewain kok, tinggi, kekar dan yang pasti perutnya bukan tipe perut prenagen loh ya.
Oke. Selesai sudah kita ngabsen latar belakang pendidikan dan keseksian keenam cowok kece itu. Persoalan 'kok masih jomblo aja', biarlah hal itu menjadi rahasia Sang Pemberi dan Pemelihara Hidup, Tuhan Yang Maha Kuasa.
Hinata keluar dari ruangan yang memang adalah kamarnya (?). Gadis berambut panjang yang dicurigai Gaara sebagai 'janda muda beranak satu' itu keluar dengan rambut yang dikuncir, baju kaos putih dan rok selutut motif kembang 7 rupa.
Hinata sedikit terkejut melihat pemandangan ruang tamunya yang tidak seperti biasanya. Bayangin aja, man, satu geng cowok keren lagi topless berjamaah. Kuat-kuatin iman kalian.
"A-anu, bentar lagi jam makan siang. Ka-kalian ma-mau makan apa?" tanya Hinata malu-malu.
"Hum, makan apa ya, ada buku menunya nggak?" tanya Gaara seperti biasa.
"Sekalian aja lo tanyain promo paket hematnya" kata Naruto memandang Gaara yang buka baju sambil kipas-kipas kenapasan. Kayak abang tukang becak gitu deh.
"Kita makan apa yang Hinata-chan masak aja deh" kata Kiba senyum-senyum jelas. *krnasenyum2nggakjelasudahmainstream*
"Aku bisa masak juga kok, mungkin kita bisa masak bareng" Sasuke kembali memasang kaosnya bersiap bantuin Hinata masak.
"Aku juga bisa kok, Hinata-chan. Aku sering bantuin Mamaku, calon mertua kamu, masak di dapur" Kiba pun segera memasang kaosnya, berniat melakukan hal yang sama dengan Sasuke. Bantuin Hinata masak.
"Aku lebih bisa masak, Hinata. Temennya Mama aku, calon nenek dari anak kita, pernah menang lomba masak" oeehh, apa hubungannya sama kamu, Sasuke.
"Kalo gitu kita juga pengen bantuin Hinata masak. Tetangganya Mama aku koki di salah satu restoran" sahut Gaara nggak mau ketinggalan.
"Aku juga bisa kok, nenek buyutnya temen sepupuku juga jago masak" Nauzubillah, jangan ikutan bego, Naruto.
"Apalagi aku, Hinata-chan. Aku-" Sai baru aja mau ngasih alesan bantuin Hinata masak tapi mulutnya udah dimute sama Shikamaru.
"Daripada semuanya bantuin Hinata masak, mending kita bagi job aja" Untung aja Shikamaru bisa ngontrol diri.
"Wah, bener juga tuh" yang lain tersadarkan (?)
"Emangnya Hinata-chan pengen masak apa?" tanya Shikamaru memandang Hinata yang kebingungan.
"Mungkin ikan goreng, sambel terasi, sup kol + ubi" jawab Hinata sambil pose mikir.
"Semua bahannya udah ada?" yang lain menonton pembicaraan Shikamaru dan Hinata, menunggu takdir job apa kiranya yang bakalan mereka dapatkan dari Shikamaru.
"Kol sama ubinya masih di kebun samping rumah" Hinata menunjuk ke arah kebun ubi dan kolnya.
"Oke. Sasuke dan Kiba. Kalian berdua bantuin Hinata masak" Shikamaru nunjuk Kiba dan Sasuke sebagai yang paling ngebet.
'Yes' batin Sasuke dan Kiba bersamaan.
"Gaara dan Naruto, kalian yang nyari ubi dan kol di samping rumah" Shikamaru melirik Naruto dan Gaara.
"Kok kita sih" Gaara protes nggak terima.
"Karena muka lo kayak tukang kebun" sahut Kiba penuh kemenangan.
"Terus lo sama Sai ngapain? Bercinta dengan mesranya?" Naruto mulai curiga, jangan-jangan Shikamaru pengen tidur lagi saat mereka semua bekerja.
"Enak aja, bercinta. Gue normal, nggak doyan sama yang gonrong" Sai protes. Nggak doyan sama yang gonrong? Berarti kalo nggak gonrong? Ahsudahlah.
"Gue mulai mencium aroma-aroma curang dari kalian berdua" Sasuke bersuara penuh selidik.
"Mending lo balik ke sungai nyuci pakean Hinata yang nggak sempet kecuci tadi gara-gara kedatangan kita" lanjut Sasuke.
.
.
.
Semua udah kebagian job masing-masing. Sasuke, Kiba dan Hinata otw dapur. Gaara dan Naruto otw kebun samping rumah, sedangkan Sai dan Shikamaru otw sungai.
Sasuke dan Kiba saling pandang sesampainya di dapur.
"Ngapain lo liat-liat?" tanya Sasuke nggak suka.
"Siapa yang ngeliatin elo? Gue ngeliatin dinding di belakang elo" Kiba membela diri.
Padahal baru saja mereka memang saling pandang, bingung apa yang harus mereka kerjakan. Temennya Mama Sasuke yang pinter masak nggak ngaruh apa-apa sama Sasuke, sedangkan Kiba yang cuma ngeliatin Mama-nya kalo lagi masak juga nggak bisa ngasih skill masak ke dia.
"Aku yang masak nasi, kalian berdua bersihkan ikannya" Hinata mengangkat sebuah panci.
"Apa?" Sasuke shock. Jangankan bersihin ikan, bedain mana panci mana ember aja Sasuke nggak tahu. Apalagi disuruh bersihin ikan.
"Bersihin ikan, bego" Kiba mengulang pernyataan Hinata.
"Iya gue tau. Tapi lo ngerti nggak caranya?" bisik Sasuke ke Kiba.
"Mana gue tau, lo kira gue anak perikanan" Kiba balik berbisik pada Sasuke.
"Terus gimana?" Sasuke mulai panik.
"Trial and error aja lah"
Hinata menunjukkan kendi yang terbuat dari tanah liat di sudut ruangan dapur. Kiba dan Sasuke menuju kendi tersebut dengan bekal pisau di tangan mereka masing-masing. Kendi tersebut terlihat horror bagi Sasuke dan Kiba. Ini pertama kalinya bagi mereka berdua. Cieee... pertama kalinya ciieeee..
Kiba memberanikan diri membuka tutup kendi dan tampaklah ikan berbagai ukuran yang saling adu gaya renang.
"Ambil ikannya gih" perintah Kiba yang masih memegang tutup kendi.
"Masa gue" Sasuke agak geli kalo harus pegang ikan yang masih hidup.
"Gue kan udah buka tutupnya. Sekarang giliran lo yang ambil ikannya" Kiba alesan aja biar nggak pegang ikan.
"Kita suit aja" Sasuke memberikan tantangan gunting-batu-kertas pada Kiba.
"Oke. Siapa takut"
Suit pertama. Sasuke gunting, Kiba gunting.
Suit kedua. Kiba kertas, Sasuke kertas.
Suit ketiga. Sasuke batu, Kiba juga batu.
"Lo kok ngikutin gue mulu sih" Kiba merasa gerakannya diikuti oleh Sasuke. Kiba pernah denger tuh kekuatan matanya Sasuke sekali lirik bisa bikin cewek pingsan, mungkin meniru saat suit juga kemampuan mata Sasuke.
"Enak aja. Siapa yang ngikutin lo" Sasuke pun ogah disebut ngikutin Kiba. Udah-udah, kalian kalo emang udah sehati ya mau diapain aja.
"Kok belum bersihin ikan?" sahut Hinata yang mencuci beras.
"Udah cepet, buruan" Kiba jorokin tangan Sasuke masuk ke dalam kendi.
Sasuke nggak bisa ngelak saat tangan kekarnya udah masuk ke dalam kendi. Perpaduan air yang terasa licin, gerakan ikan yang bikin geli membuat Sasuke merinding.
"Gila, gue kayak megang apaan" Sasuke menarik tangannya.
"Pegang apaan emang?" Kiba otak dan pikirannya udah kemana-kemana.
"HUUWAAA...!" Sasuke berteriak mesra saat jarinya digigit ikan.
"Yaelah, digigit ikan aja teriak. Gimana kalo udah digigit 'yang lain'" 'yang lain' bagaimana maksudmu, Kiba?
"Yaudah, kalo emang lo bisa. Lo aja yang ngeluarin ikannya" Sasuke nantangin Kiba.
Kiba yang merasa tertantang menerima dengan lapang dada. Kiba memasukkan tangannya ke dalam kendi-
"HUUUAAA...!" Kiba pun menjerit nggak kalah seksinya.
"Tuh kan, gue bilang juga apa. Lo yakin ikan ini bukan ikan piranha?" tanya Sasuke parno.
"Gilee.. mana ada ikan piranha di sekitar sini. Itu ikan purba, lagian kalo ada biasanya di sungai Amazon" Kiba pun menjelaskan berdasarkan pengetahuannya dari nonton film.
"Daripada kegigit dan ketusuk duri, mending pake ini aja" Hinata menyodorkan saringan.
'selamaaattt...'
Ikan-ikan itu kini bergerak layaknya seorang cewek yang ketemu sama pacarnya. Bergerak manja dan pengennya nempel mulu. Lagi-lagi Kiba dan Sasuke bingung harus ngapain.
"Mereka ini dibunuhnya gimana?" tanya Sasuke di depan sebuah keran air.
"Dasar psikopat, ikan aja pengen lo bunuh" Kiba geleng-geleng.
"Terus diapain? Gue bukan malaikat pencabut nyawa yang bisa nyabut nyawa ikan" iya Sasuke sayang, kamu bukan malaikat pencabut nyawa kok.
"Setidaknya bahasa lo yang sopan dikit, dong. Disembelih..." Kiba pun ikut berjongkok memandangi ikan yang ternyata ribet banget sebelum siap makan.
"Daripada dibunuh atau disembelih, pake ini aja" lagi-lagi Hinata sang penyelamat datang membawa sebuah properti (?) sebuah balok kecil.
"Bu-buat apa?" tanya Sasuke kaget-kaget.
"Diginiin aja"
DUAAGGH..!
Dengan balok kayu yang tidak terlalu besar, Hinata memukulkan kayu tersebut kepada sang ikan. Seperti yang diharapkan. Ikannya diam kalem adem setelah dipukul balok kayu, pokoknya nurut dan pasrah aja pengen diapain sama Sasuke dan Kiba.
Sasuke dan Kiba kemudian bergantian membungkam pergerakan sang ikan, setelah itu mereka membelah perut ikan kemudian mengeluarkan isi perutnya. Bdw, kok jadi kayak tutorial bersihin ikan gini sih.
Benar-benar perjuangan yang penuh keringat dan air mata. Ikan sekeranjang berhasil dibersikan oleh Kiba dan Sasuke. Hinata mengambil alih ikan untuk dibersihkan dan dilumuri bumbu.
"Kalian kupas bumbu dulu" Hinata memerintahkan, Kiba dan Sasuke menuju meja makan kecil untuk mengupas bawang merah, bawang putih beserta saudara tirinya. Eh, bukan ding. Ini bukan FTV.
"Hinata-chan, bawangnya ditelanjangin doang?" tanya Kiba inosen.
"Buset, dasar hentai. Bawang aja pengen lo telanjangin" Sasuke menendang kaki Kiba.
"A-apa ma-maksudnya?" tanya Hinata malu-malu.
"Maksudnya, ini dikupas doang? Nggak di iris tipis-tipis gitu?" oh, jadi gitu.
Tidak ada kisah anak dan ibu yang terpisahkan, tidak ada novel tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan juga tak ada gebetan yang nggak peka tapi Kiba dan Sasuke menangis tersedu-sedu.
"Hiks..hiks..." mata Sasuke tak henti-hentinya mengeluarkan air matanya.
"Hiks..hiks.." Kiba pun sama, hidung mancungnya semakin lama semakin memerah.
"Gue nggak nyangka, ngupas bawang aja bikin gue terharu gini" ucap Sasuke.
"Iya, ternyata perasaan kita halus banget ya, man. Ngupas bawang aja kita nggak tegaan sampe nangis gini" Kiba pun ikut meratapi dirinya yang menangis tanpa sebab yang jelas.
Intinya, mereka berdua dibikin baper sama bawang merah.
.
.
.
Sementara itu, di waktu yang sama mari kita lihat perjalan Sai dan Shikamaru ke sungai.
Seperti cowok pada umumnya yang lupa cara kalem kalo udah ketemu cewek yang beningnya seperti tanpa kaca. Sai pun seolah nggak kehabisan stok senyumannya setelah senyum dari tadi, nggak jarang beberapa cewek dibikin salting oleh senyuman mautnya.
Kucing bunyinya gimana?
Meooonngg...
Anak anjing bunyinya gimana?
Guk..gukk..
Buaya bunyinya gimana?
"Hay, cantik. Bisa minta nomer hape kamu nggak?" tanya Sai menggoda sebagian cewek lewat.
"Jadi cowok jangan murahan amat. Kaleman dikit napa" Shikamaru risih melihat tingkah Sai. Shikamaru sebenernya bisa aja tebar pesona tapi nggak mungkin juga kalo sambil nenteng keranjang cucian gini.
Nggak lama kemudian tibalah mereka di tempat dimana mereka ditemukan oleh Hinata (?). Shikamaru berjalan sedikit lebih jauh untuk mencuci di batu-batuan tempat beberapa gadis juga masih sibuk dengan cucian mereka.
"what's next?" tanya Sai sambil dongo.
"Nyuci lah. Masa kuliah" Shikamaru mengambil posisi duduk di bebatuan.
"Emang lo tau caranya?" tanya Sai ikut mengambil posisi tak jauh dari Shikamaru.
"Caranya bunuh lo aja gue tau, apalagi kalo cuma nyuci pakean gini" Percayalah, siapapun bisa bertindak anarkis kalo jam tidurnya diganggu, apalagi bagi seorang tuti (tukang tidur) seperti Shikamaru.
Mereka kemudian mengambil satu per satu pakean dari keranjang cucian.
Baju.
Rok.
Baju lagi.
Rok lagi.
Lalu...
"WUIH, BUSET. APAAN NII...?" Shikamaru melempar sesuatu ke wajah Sai saat menemukan sesuatu yang nggak biasanya doi pegang.
"Ini namanya bra. Bahasa emak-emaknya, ini disebut BeHa" Sai menurunkan sesuatu yang sempat menutupi pandangannya.
"Huhh, gue kirain kacamata raksasa gitu" tuh kan, akhirnya Shikamaru bego juga.
"Ah, makanya. Sekali-kali nonton video if you know what i mean" Sai mencolek kepala Shikamaru.
"Iya, pokoknya sampe Konoha gue harus nonton. Masa nemu bra aja gue sampe grogi gini" Shikamaru mengusap-usap dadanya yang semakin berdebar-debar. Ciiieee... ketemu bra aja deg-degan. Apa ini yang namanya cinta?
"Tenang aja, gue punya banyak. Ntar gue copy-in ke lo" Sai menampilkan cap jempolnya.
"Nah, lo cuci gih" Sai melempar bra putih kepada Shikamaru.
"Kok gue, lo aja" Shikamaru kembali melemparkan bra malang tersebut kepada Sai.
"Anggap aja training buat lo, biar nggak ngrogi megang bra" nggak pengen kalah, Sai balik melempar Shikamaru.
"Ogah, ntar gue latihan pake punya istri gue" kali ini Shikamaru melempar agak kencang ke Sai.
"Lo nikahnya masih lama" Sai pun melempar dengan kekuatan penuh.
Mereka saling melempar bra tanpa memperdulikan tatapan gadis-gadis lain yang juga masih mencuci. Dari kejauhan, mereka persis seperti pilem-pilem India yang lagi kasmaran. Diantara lemparan-lemparan tajam tersebut, Sai harus menerima kenyataan saat Shikamaru menghindar dan bra tersebut...
"Wuiihhh, hanyut kebawa arruuusss...!" Shikamaru berdiri berseru memandang bra Hinata yang terbawa arus sungai yang lumayan deras.
.
.
.
Mari kita tinggalkan perdebatan Sai dan Shikamaru di tepi sungai. Sekarang saatnya melihat situasi dan kondisi di kebun samping rumah Hinata, tempat Naruto dan Gaara berduaan. Berduaan nyari ubi dan kol maksudnya.
Joollaanng si jollaanng...
Si jomblo petualaanngg...
Niat liburan tapi malah nyasar
Nggak tau jalan pulang laaanng..langg..laanngg..
Begitulah nyanyian Gaara saat memasuki kebun mini milik Hinata.
"Lo bisa diem nggak sih, mending lo cari tau gih, pohon ubi itu yang kayak gimana" kata Naruto gelisah memandang sekeliling.
Meskipun kebun ini terlihat kecil tapi tanaman di dalamnya ngalahin jenis tanaman di Kebun Raya Bogor, saking banyaknya.
"Coba tanya dukun terdekat, kali aja dia tahu mana pohon ubi" ucap Gaara santai.
"GAARAAA...!" Naruto akhirnya melepaskan amarahnya yang semakin memuncak.
"Iya, iya. Gue jelasin ciri-cirinya ya, elo yang cari. Berhubung nilai pertanian gue semasa SMP emang yang terbaik" Gaara membanggakan diri.
"Iya, gimana ciri-cirinya?" tanya Naruto pasrah memandang sekeliling
"Ciri-cirinya, rada tinggi, berkulit sawo matang, memiliki tompel pada bagian kiri wajahnya, mengenakan t-shirt biru dan menghilang disekitar warung pojok"
"Ini pohon ubi, kurap. Bukan ciri-ciri orang ilang" Naruto pengen banget membunuh sesuatu saat ini.
"Iya, iya. Pohon ubi itu biasanya kecil, tinggi, batangnya bergerigi dan daunnya ijo kecoklatan rada keungu-unguan" nah, cari dah tuh, Naruto.
Naruto dan Gaara gampang-gampang aja menemukan kol tapi beda halnya pohon ubi. Kalo di Mekkah nih, mereka berdua udah kayak tawaf. Udah keliling 7 kali tapi nggak nemu pohon ubi juga.
Tiba-tiba semak-semak di depan mereka bergerak, semacam ada yang mau keluar. Apa hayoo yang mau keluar, hahaha.
"Apaan tuh, man.." Gaara memundurkan langkahnya.
"Naga, bukan?" tebak Naruto, ngaco.
"Jangan-jangan kuda poni yang suka makan apel?" Gaara pun nggak kalah ngaconya.
"Atau nggak kuda pegagus kayak di pilem pilem Berbi?" Hayoloh, Naruto. Ketahuan tontonannya apaan.
"Atau jangan-jangan mantan gue yang minta balikan?" aahhhh, Gaara.
Kkkrssskkrkkskksss...
Semak belukar tersebut makin mengeluarkan suara yang menyeramkan, perlahan-lahan menyembullah kepala manusia lengkap dengan tubuh kaki dan tangannya.
"TUUUYYUUUULLLLL...!" teriak Naruto dan Gaara bersamaan mengangetkan si terduga tuyul.
"Apaa?" terdengar suara serak khas seorang laki-laki berumur.
"Jangan ganggu kami, kami anak muda baik-baik. Nggak suka nonton bokep apalagi ngintip cewek pake rok mini. Sumpah..!" Naruto melangkah mundur.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya si terduga tuyul.
"Kita cuma disuruh nyari ubi. Kalau anda kurcaci hutan ini, kami tidak punya apa-apa untuk diberikan" Gaara pun menyakinkan si terduga tuyul yang kini diyakini sebagai kurcaci hutan.
"Kakek Ohnoki..!" seru Hinata keluar dari dalam rumah melalui pintu dapur.
"Eh?" Gaara dan Naruto saling pandang.
'Ha? Ternyata kakeknya Hinata'
"Eh, ternyata Kakek.. tadi kirain naga, hehe" ucap Naruto sok akrab mendekati kakek Hinata yang bertubuh pendek nan kecil.
"Saking karismatiknya, kita sampe ngirain kakek ini kurcaci hutan, hehe" Gaara mengusap bulir keringat di keningnya. Jujur aja guys, Gaara takut ngeliat penampakan aneh semacam Kakek Ohnoki, Kakeknya Hinata.
"Sejak kapan saya punya cucu laki-laki?" Kakek Ohnoki memandang Gaara dan Naruto bergantian.
"Anggap aja cucu sendiri, Kek" Naruto manggut-manggut.
"Atau nggak, anggap cucu angkat aja, Kek" Gaara ikutan bungkuk-bungkuk, takut diusir.
Hinata menjelaskan semuanya pada kakeknya, rentetan kesialan yang menimpa orang-orang yang kini berada di kebun kecilnya. Naruto dan Gaara mewakili seluruh kerabat kerja yang bertugas memohon izin untuk nginap barang sehari sebulan di rumah Hinata.
Kakek Ohnoki mengangguk, sekarang Gaara tahu bahwa Hinata bukanlah janda beranak satu karena pakean anak kecil yang dijemur di belakang rumah. Pakaian kecil itu adalah pakaian kakeknya Hinata.
Hinata mengekor di belakang Kakek Ohnoki disusul Gaara dan Naruto yang telah menemukan ubi berkat bantuan Hinata. Mereka kemudian menuju dapur tempat Sasuke dan Kiba latihan menjadi tukang sate. Tiup sana tiup sini, kipas sana kipas sini.
Naruto dan Gaara kemudian bergabung menjadi team work divisi konsumsi bersama Sasuke dan Kiba.
"Siapa nih?" tanya Sasuke dengan nada sarkastik melihat kakek-kakek bertubuh kecil.
"Orang nyasar juga ya?" tanya Kiba nggak ngerti suasana.
"Anjiiirr, itu kakeknya Hinata, baka!" bisik Naruto menyadarkan Kiba.
"Mereka siapa, Hinata?" tanya kakek Ohnoki.
"Ini kek, yang mukanya kayak anak anjing ini namanya Inuzuka Kiba" Hinata memperkenalkan Kiba pada kakeknya.
'Masa tampang cakep gini kayak anak anjing' batin Kiba melongos.
"Yang rambutnya kayak ayam kate ini namanya Uchiha Sasuke, Kek" kali ini Hinata menunjuk Sasuke.
'Ayam kate darimane?'
"Terus yang mukanya kayak serigala namanya Uzumaki Naruto"
'Asal bukan duo serigala aja deh, Neng'
"Terus yang mukanya kayak kucing ini namanya Sabaku Gaara, Kek"
'Kayak kucing? Emang iye?'
Kakek Ohnoki beristirahat di bale-bale teras depan rumahnya, Hinata mengantarkan kopi. Sementara itu di dapur terjadi kerusuhan yang tak mampu di redam.
Sasuke yang sampe pake jas hujannya Shikamaru sebagai pelindung saat goreng ikan,
"Takut percikan minyak" begitu ucapan Sasuke,
Kiba yang mati-matian mempertahankan nyala api untuk masak nasi, Hinata masih memasak menggunakan kayu bakar.
Naruto yang sibuk dengan ubinya dan Gaara yang tidak tahu harus ngapain sementara semua orang sibuk.
Kerusuhan tak hanya terdengar di dapur, di depan pagar masuk pun Sai dan Shikamaru seolah tak ingin kalah membuat kerusuhan, tak lain dan tak bukan saling menyalahkan atas hilangnya bra putih Hinata.
"Man, lo yakin kita nggak salah rumah?" tanya Sai memandang orang tua kerdil yang lagi asik ngopi di teras rumah. Kurang wifi aja sih, udah mirip kafe ni rumah.
"Nggak, gue yakin ini rumahnya Hinata" Shikamaru melangkah menuju jemuran untuk menjemur cucian Hinata.
"Lo yakin dia bukan goblin kayak di pilem Harry Potter?" tanya Sai mulai menjemur baju dan rok Hinata.
"Masa iya goblin ngopi-ngopi santai gitu" Shikamaru pun ikut menjemur pakaian Hinata.
Di tengah-tengah keasikan Shikamaru dan Sai memandang kakek Ohnoki lagi ngopi, Sasuke tiba-tiba keluar masih lengkap dengan jas hujannya membawa sepiring ubi goreng untuk kakek Ohnoki.
"Anak ilang mana tuh?" celetuk Sai.
"Kakeknya Hinata, etaaannnn...!" seru Sasuke disertai senyum paksa.
"Selamat siang, Keeeekkkkk..." Sapa Sai dan Shikamaru tanpa perlu diperintah.
.
.
.
Waktu berlalu begitu cepat, makan siang pun seakan mengakrabkan Kakek Ohnoki dengan cucu laki-laki dadakannya. Matahari bentar lagi meninggalkan bumi, seperti biasanya. Meskipun tiap hari ditinggal matahari, bumi tidak pernah bersedih karena ia tahu matahari pergi hanya untuk kembali lagi keesokan harinya *ehbaper.
Mereka berkumpul di ruang tamu sambil menikmati perpaduan antara hangatnya sinar matahari senja dengan sejuknya angin yang berhembus pelan.
"Sore-sore gini enaknya ngapain yaa..." kata Gaara kekenyangan setelah makan masakan pertama teman-temannya.
"Memangnya apa yang biasa kalian kerjakan kalau di Konoha kalau sudah sore begini?" tanya kakek Ohnoki seolah menemukan teman ngobrol asik.
"Biasanya sih, Kek. Kita main futsal" celetuk Kiba.
"Kadang juga cuma main PS" tambah Naruto.
"Atau nggak baca ulang chat history sama gebetan yang sekarang jadi pacar orang" Ciiee, Sai baper ciieee...
"Eh, lo mau kemana?" tanya Naruto pada Shikamaru yang kini tanpa baju tanpa celana tapi tenang aja, doi pake handuk kok.
"Keliatannya mau kemana?" tanya Shikamaru risih.
"Kalo dibilang mau dugem ya nggak mungkin" Gaara kau ini-
"Dilihat dari penampilannya dan barang bawannya. Si jomblo gonrong ini mau mandi" Kiba menatap Shikamaru dari ujung kaki sampe ujung rambut terus turun lagi ke ujung kaki.
"Udah tau, nanya. Gue nggak bisa bobo kalo nggak fresh. Gue mau otw sungai. Bye." Shikamaru berlalu dengan tampilan sexy-nya menuju sungai.
"Terus disini kalo sore-sore biasanya ngapain, Kek?" tanya Sasuke sokab (sokakrab).
"Biasanya minum sake" kata si Kakek santai.
"Kalian sudah pernah coba belum?" lanjut Kakek Ohnoki, yang lain menggeleng.
"Ini sake murni tanpa campuran apapun" Kakek Ohnoki mengeluarkan satu jerigen penuh sake murni.
"Wah, boleh juga nih" Naruto udah ngiler duluan.
"Tapi kita masih dibawa umur" Gaara menyela.
"Sadar, nyet. Sadar...umur lo udah 20 tahun otw 21 malah" Kiba menendang kaki Gaara.
"Wah, kapan lagi bisa nyoba yang murni kayak gini" Sai kayaknya juga udah kebelet.
"Nah, bagaimana? Kalian ingin coba, tidak?" sekali lagi Kakek Ohnoki menawarkan, Gaara berlari menuju dapur mengambil gelas.
Sasuke tidak tertarik dengan sake murni tanpa campuran apapun itu, pemuda cakep yang kelak jadi suami Kika itu memilih keluar ke bale-bale sambil nemenin Hinata yang lagi lipat jemuran hasil kerja Sai dan Shikamaru.
"Hei, lagi apa" oke. Ini pertanyaan sapu jagat paling basi setelah 'udah makan?'
"Lagi melipat pakaian" jawab Hinata kalem. Sasuke mengambil duduk tak jauh dari Hinata.
"Thanks ya, udah ngizinin aku dan temen-temen nginap disini. Kalo nggak ada kamu, kami nggak tahu harus tidur dimana" Sasuke memandang Hinata yang menunduk malu-malu .
"Ti-tidak masalah. Rumah kami ja-jarang rame seperti ini" Hinata mengalihkan wajahnya. Nggak tahan dipandangi Sasuke.
'Rame? Tunggu aja, bentar lagi bakal rusuh. Gue jamin'
"Yang lain sedang apa?" tanya Hinata melirik ke dalam rumah.
"Ah, mereka mencoba sake. Oh iya, itu bangunan apa?" tanya Sasuke menunjuk bangunan tinggi tak jauh dari rumah Hinata.
"Entahlah, tapi ku dengar itu villa milik orang kaya" Hinata menghentikan aktifitas melipat pakaiannya dan memandang bangunan villa yang menjadi tujuan beberapa orang.
"Bagian belakang villa-ku juga seperti itu, mirip ya" kata Sasuke dengan begonya tidak menyadari sesuatu.
"Ah? Sepertinya cucianku ada yang kurang"
.
.
.
Hari semakin senja, sungai pun semakin sepi. Shikamaru menanggalkan handuknya di salah satu batuan dan berendam di salah satu bagian sungai yang lumayan dalam. Ia melepas kunciran rambutnya dan sesekali menyelam untuk menenangkan dirinya.
Dari kejauhan dua pemuda berjalan melewati sungai. Sebut saja namanya Sasori dan Yahiko.
"Eh, eh. Nggak biasanya cewek-cewek di desa kita mandi jam segini" Sasori menyadarkan rekannya, Yahiko. Mereka berdua baru pulang dari sawah layaknya pemuda-pemuda desa.
"Wah, iya" Yahiko pun memandang seseorang yang sedang berendam sebatas leher dengan rambut hitam yang dibiarkan tergerai tersapu oleh aliran air sungai yang sejuk.
"Jangan-jangan, itu bidadari yang diceritakan di buku SD kita" Sasori tiba-tiba teringat dengan bacaannya semasa SD.
"Katanya kalo kita ambil selendangnya dia bisa jadi istri kita"Yahiko pun menambahkan.
Sasori dan Yahiko kemudian mengendap-endap mendekati batu tempat Shikamaru menyimpan handuknya.
"Bidadari kok pake handuk sih?" tanya Yahiko memegang handuk Shikamaru.
"Bidadarinya udah modern kali. Masa hari gini mandi pake selendang, kampungan!" Sasori berpikiran post-modernisme.
"Terus motifnya kok Marsupilami gini" Yahiko semakin heran.
"Ah, anggap aja si bidadari ini fans-nya Marsupilami. Ayo, cabut!" Sasori membawa pergi handuk Marsupilami Shikamaru bersama Yahiko.
Sementara itu, Shikamaru sudah merasa cukup rilex setelah berendam. Ia berbalik mencari handuknya dan ternyata-
"Oeh, handuk guee mana" Shikamaru memandang sekeliling tak menemukan handuknya.
Suasana di rumah Hinata semakin rame, lebih dari rame malah. Bayangin aja, Naruto, Kiba dan Sai udah mabuk. Mabuk karena pertama kali minum sake, bukan mabuk judi atau mabuk janda loh ya.
"Aaa, Sakuuraaaa-chaaann, aku salah apaaaaa..." ketahuan, Naruto masih nggak rela diputusin sama Sakura.
"Uuggghh... Akamarrruuu, berhenti..." Kiba pun ngigo soal Akamaru, anjing kesayangannya dan Sai-
Senyum senyum sendiri sambil menutup matanya, ia terbaring lemah sambil bergerak kesana kemari.
Lalu, Gaara?
"Kok elo nggak mabok sih?" tanya Sasuke heran melihat Gaara baik-baik aja.
"Gue nggak mabuk. Makanya, minum antimo" ucap Gaara sumringah sambil menunjukkan bungkusan obat anti mabok perjalanan.
"Eh, itu Shikamaru mana? Kok jam segini belum pulang" Sasuke mulai mencari-cari keberadaan Shikamaru.
"HUUUUAAAAAA...!" Hinata menjerit.
"eebuuseet, apaan tuh!" seru Gaara nggak kalah terkejutnya.
"Manusia purba dari mana?" Sasuke pun nggak bisa lolos dari rasa shock.
"Siapakah dirimu, kisanak?" tanya Kakek Ohnoki.
Gimana nggak heran, bayangin aja di depan pintu seorang laki-laki dewasa dengan rambut panjang terurai tanpa sehelai benang pun, bagian pinggangnya hanya ditutupi oleh daun pisang sementara bagian tubuhnya yang lain ia tutupi dengan tumbuhan merambat.
"Cepet ambilin gue handuk" kata Shikamaru menggigil kedinginan.
"SHIKAMARRRUUU?
.
.
.
TBC
.
.
.
Nggak tahu kenapa, makin gaje aja nih fic.
Haha.
See you next chap, guys.
