Title: A Taste of His Own Medicine

Author: niedlichta

Rating: T (mungkin akan naik seiring chapter berjalan)

Pairing: Shizuo x Izaya

Disclaimer: Karakter di fic ini bukan punya saya. Durarara! juga bukan punya saya.

Warnings: Mengandung MalexMale. Possibly OOC. Read at your own risk.

-xxx-

Kalau boleh jujur, meskipun dia terus mengeluarkan tawa seperti psikopat saat berlari dari Shizuo, sekujur tubuhnya terasa sangat sakit sekarang.

Informan itu akhirnya ingat alasan utamanya mengunjungi Shinra segera setelah sampai di Ikebukuro, meski tadinya dia buru-buru ke sana untuk melihat Shizuo yang amnesia. Euforia yang dirasakannya saat melihat bodyguard itu kehilangan ingatan membuatnya nyaris melupakan hal yang penting. Agak konyol, sebenarnya.

Dia merasakan denyutan di otot-otot tubuh yang tertutup oleh hoodie berbulunya, dan pemuda bermata merah itu mengutuk dalam hati. Belum lagi memar tambahan di tangan yang tadinya dia gunakan untuk mencubit pipi Shizuo terasa amat ngilu. Agak sulit untuk melakukan parkour dengan keadaan seperti ini.

Dia kembali mengutuk saat dirinya tersandung dan nyaris terjatuh saat hampir mencapai apartemennya. Mata merahnya melirik ke belakang, dan dia harus menahan desahan napas lega saat menyadari pemuda dengan kostum bartender itu tidak memperhatikan karena sibuk menarik napasnya. Kembali memasang seringainya—ya, dia tidak mau Shizuo tahu kalau dia sebenarnya sedang tidak berdaya—Izaya melangkah perlahan, mendekati pemuda dengan kekuatan berlebih itu.

Dia nyaris tertawa saat melihat pelototan yang dikirim mata coklat milik Shizuo.

Yah, syukurlah kalau sekarang bukan hanya dia yang sedang tidak berdaya.

"Aw, Shizu-chanku yang malang," dia merasakan kalau pelototan itu makin tajam saat mendengar penekanan yang sengaja dia letakkan. "Aku pergi meninggalkanmu selama dua bulan dan lihatlah, kau melupakanku, dan kau sudah kecapekan hanya karena mengejarku seperti itu."

Izaya harus menahan diri untuk tidak mengernyit karena kata-katanya sendiri. Bukan hanya Shizuo yang capek, dia juga. Tapi, hei, setidaknya berpura-pura kuat bisa membuat Shizuo kesal. Bukankah salah satu alasan dia hidup adalah membuat pemuda itu kesal?

'… alasan hidup…?'

Tiba-tiba, sebuah kenyataan membuatnya tersentak.

Dia masih hidup.

Ya, dia masih hidup. Setelah apa yang dia lewati selama dua bulan ini, dia masih bisa bertahan untuk hidup. Dia masih sanggup mengerjai orang, menggoda Shizuo, tapi jika hal yang sama terjadi lagi padanya, apakah dia sanggup untuk bertahan?

Izaya merinding tanpa sadar, keringat dingin meluncur dari pelipisnya.

Dia benci ini.

Dia benci menyadari bahwa dia jugalah manusia. Dia benci menyadari kalau dia punya emosi, bahkan emosi yang amat lumrah dirasakan oleh seluruh manusia, rasa takut. Dia takut mati. Dia, Orihara Izaya, informan yang mengaku masokis, yang sering mempermainkan hidup manusia seakan-akan dia itu Tuhan, takut akan kematian.

Itulah salah satu alasannya pernah menyewa sekelompok geng untuk jadi bodyguard-nya.

Tunggu dulu.

Dia tertawa kecil, menyadari sesuatu saat menatap Shizuo yang masih berusaha untuk bernapas dengan normal. Hahaha, benar juga!

Izaya benar-benar beruntung Shizuo kehilangan ingatannya! Dia bisa memanfaatkan Shizuo untuk menjadi pelindungnya, saat dia berusaha melakukan pekerjaannya untuk mendapatkan hal itu kembali. Tidak akan ada yang berani menyentuh kekasih dari Heiwajima Shizuo, iya kan?

Informan itu meraih tangan Shizuo yang lebih besar dari miliknya, merasakan kehangatan memancar di tangan dinginnya. Ini menjijikkan, tapi jika tangan ini bisa melindunginya dengan berpura-pura sebagai kekasihnya, Izaya bisa menahan rasa jijik itu.

Dia kemudian membawa tangan itu untuk mengelus pipi Shizuo, melihat pemuda itu perlahan menutup matanya, menikmati sentuhan darinya.

Izaya ingin muntah.

-xxx-

Tidak pernah dalam hidupnya dia merasa harus jadi serendah ini, harus meminta perlindungan dari Shizuo meskipun bodyguard itu tidak menyadarinya. Tidak pernah terpikirkan akan datang suatu hari di mana dia berpikir kekuatan tidak normal yang dimiliki Heiwajima Shizuo akan dia gunakan untuk melindunginya. Tetapi, memikirkan bahwa dia akan memiliki kemampuan untuk mengendalikan Shizuo membuatnya sedikit lega.

Setidaknya, sebodoh apapun otak protozoa milik pemuda itu, Izaya tahu dia akan melindungi kekasihnya, bagaimanapun caranya.

Jadi, Izaya memilih untuk menekan rasa jijiknya dengan segala kemampuan yang dia miliki saat melihat Shizuo menikmati sentuhannya. Lagipula, sepertinya hidung Shizuo menggoda untuk dicubit.

"Sudah, sudah, tidak ada adegan kejar-kejaran lagi malam ini," kali ini dia tidak bisa menahan tawa saat melihat pelototan Shizuo. 'Oh, mencoba mengintimidasi dengan hidung yang sedang dicubit? Lucu sekali, Shizu-chan.'

"Orihara Izaya," dia mengucapkan namanya, mengingatkan Shizuo. "Kau kejam sekali bisa melupakanku, Shizu-chan."

Yah, bukannya dia peduli, sih. Malahan dia dapat untung karena Shizuo melupakannya.

Perasaan lega yang mengalir di pembuluh darahnya membuat Izaya merasa lelah. Dia memutuskan untuk membenamkan dirinya di dada Shizuo, mencengkram kostum bartender itu untuk melupakan segalanya.

Melupakan apa yang telah terjadi selama dua bulan itu. Melupakan saat di mana dia merasa terhumiliasi. Melupakan saat di mana dia menyadari bahwa dia lemah, lemah kalau dia sudah terikat dan dikerumuni oleh manusia-manusia rendahan. Melupakan saat di mana dia gagal, gagal memprediksi apa yang akan terjadi. Melupakan saat di mana dia berpikir kalau dia nyaris membenci manusia yang dia cintai.

Lebam di perut dan tangannya membuatnya mencengkram kemeja Shizuo sedikit lebih erat. Dia kemudian terkejut saat sebuah pelukan menariknya keluar dari memorinya secara paksa. Tapi, tangan yang membungkus tubuhnya itu terasa hangat, terlalu hangat, berbeda dengan saat di mana tangan-tangan dingin memborgolnya di ruangan gelap.

Persetan dengan rasa bencinya terhadap Shizuo. Persetan dengan lukanya yang terasa perih karena tersentuh tangan hangat itu tanpa sadar.

Dia sudah cukup lelah.

Izaya menyerahkan diri ke dalam kehangatan itu, membiarkan kehangatan itu mengisi dirinya, hanya untuk sehari ini.

Sehari ini saja.

"Aku merindukanmu, Shizu-chan."

Saat pelukan itu mengerat, melingkupinya dengan kehangatan yang benar-benar terasa nyaman, Izaya bahkan tidak sadar bisikan itu sempat keluar dari bibirnya.

Dia bahkan tidak tahu bisikan itu palsu atau tidak.

-xxx-

Beberapa saat kemudian, ketika rasa lelah itu hilang, kehangatan yang menyelimutinya itu membuatnya… malu. Kalau saja Izaya tidak ahli menyembunyikan emosi, dia yakin kalau wajahnya sudah memanas sekarang.

"Uhm… Shizu-chan," dia menggeliat tidak nyaman. "Terlalu erat."

Tangan itu langsung hilang dari tubuhnya dalam sekejap. Tampaknya Shizuo melepaskan tangannya dengan terburu-buru, karena dia tidak sadar kalau dia telah memeluk Izaya terlalu erat. Mata Izaya menangkap semburat merah tipis di pipi Shizuo, dan berusaha untuk mengabaikannya.

"… maaf," dia bergumam. Sedikit terlihat—kalau penglihatan Izaya benar—bersalah.

Oh, jadi, hanya dengan status palsu yang dia buat, Shizuo bisa menunjukkan ekspresi seperti itu padanya? Ini menarik.

Izaya menyeringai tanpa sadar.

Mungkin ide ini tidak terlalu buruk juga.

"Kau tahu, Shizu-chan," dengan jempolnya, dia menunjuk gedung yang ada di depan mereka. "Di situ apartemenku. Tempat kita biasa… melakukan banyak hal," termasuk nyaris membunuh satu sama lain, tentu saja.Yah, tapi yang dimaksudkan Izaya bukan itu. Salah Shizuo sendiri kalau dia salah tangkap. "Mau melakukannya lagi malam ini? Hitung-hitung melepas rindu~"

Dia nyaris terbahak begitu melihat pemuda di depannya memerah seperti kepiting rebus sebelum memucat bagai hantu. Dia kemudian berteriak frustasi, mungkin berusaha membuang bayangan yang muncul di kepalanya.

"GAAH! TERUS SAJA SIMPAN RINDUMU!"

Izaya tertawa, rasa senang mengalir di seluruh tubuhnya saat mendapati ekspresi marah yang sudah jadi langganannya sehari-hari.

Ah, ya, dia benar-benar merindukan wajah itu.

-xxx-

Author's note:

... *hening*

...THIS IS LAME. SO LAME I CAN'T EVEN UGH

~silahkan skip sampai yang dibold kalau temen-temen gak suka A.N yg panjang~

Percaya gak percaya, chapter ini entah udah ada beberapa versi. Saya bingung, mau bikin plot yang mana. Yang ringan? Yang sedang? Yang berat? Yang humor atau yang hurt/comfort? Akhirnya setelah berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk mengambil plot yang ini. Yang mana, itu rahasia. Mihihi. #dor Yang jelas chapter ini ngebuat saya pengen nangis jejeritan karena diksi abalnya dan paragrafnya yang muter-muter, hiks!

Ehem. Oke, kita ngomong serius. Maaf kalo chapter ini abal dan author's note-nya kepanjangan. Tapi chapter ini, meskipun abal, merupakan kunci plot dari alur selanjutya. Saya berusaha untuk mengeluarkan sedikit petunjuk, tapi saya juga maksa pengen bikin IC (meski akhirnya gagal, ya, saya tahu) plus masukin adegan fluff. Hasil akhirnya ya begini...saya sendiri gak puas, tapi kalo mau ditambahin lagi, entar petunjuknya terlalu banyak dan meski saya suka spoiler, saya gak suka ngasi spoiler. Hem.

Mungkin udah pada sadar kalau saya nulis ini gantian dari sisi Izaya dan Shizuo, ya? Haha. Jujur, saya lebih suka nulis dari sisi Shizuo. Lebih...mudah bagi saya buat mendalami dia daripada Izaya. Sialnya, di fic ini, saya mungkin dipaksa nulis lebih banyak dari sisi Izaya. Dan povnya akan seperti ini, jadi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya bagi teman-teman yang gak suka pengulangan adegan yang diceritain dari dua sudut berbeda. Ke depannya akan seperti ini terus, akan ada adegan yang udah ditulis di sudut Izaya tapi ditulis lagi di sudut Shizuo dan pasti gantian, meski belum tentu selang gantiannya setiap satu chapter.

Kalau boleh minta pendapat, teman-teman lebih suka penulisan saya di sudut Shizuo atau Izaya?

Intinya, mohon maaf karena pengulangan dari pov yang berbeda dan keabalan chapter ini meskipun chapter ini pembuka konflik di fic ini. orz

Terima kasih telah membaca! (heart)

Komentar, kritik, dan saran akan selalu diterima dengan senang hati. :3