Impossible 3
Levi memacu kecepatan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia meletakan ponselnya di penyangga tepat di depan stirnya agar mudah melihat lokasi Eren pada ponselnya. Levi mengumpat ketika kemacetan kecil menghalangi laju mobilnya.
"T-tenanglah Ackerman-san. Eren pasti baik – baik saja." ujar Armin. Entah kenapa. Hanya saja Armin merasa jika ia memang harus mengatakan itu pada Levi saat ini.
Benar perkiraan Armin. Levi sedikit lebih tenang. Macet telah berlalu Levi kembali melaju dengan kecepatan penuh. Ia hanya bisa berharap jika Eren memang baik – baik saja.
Jauh memasuki sebuah jalan setapak memasuki sebuah hutan. Tempat yang pas sebagai lokasi penyekapan bagi seorang penculik. Sinyal di ponselnya semakin berkurang membuatnya tidak bisa melihat lokasi tempat Eren berada. Setidaknya Levi berfikir jika ia sudah dekat dengan Eren.
"Ackerman-san." Armin menjujut kaus Levi. "Sepertinya dari sini kita harus bejalan kali jika memang kita sudah dekat dengan lokasi Eren."
"Huh?."
"Kita jauh dari keramaian dan akan sangat berbahaya jika kita ketahuan para penculik itu." Levi membenarkan perkataan Armin di dalam hatinya. Mungkin Levi tidak perlu meragukan kepintaran yang di miliki Armin.
"Ada rencana?." Levi memiringkan tubuhnya menghadap kedua bocah SMP di mobilnya. Mikasa dan Armin saling bertatapan sesaat kemudian di susul dengan anggukan Armin setelahnya.
Selesai menyusun rencana. Mereka bertiga langsung keluar dari mobil. Mobil di letakan di tempat yang sedikit tersembunyi agar mereka tidak kesulitan melarikan diri ketika sudah mendapatkan Eren nanti.
Rencana pertama adalah mengalihkan perhatian para penjaga yang ada di luar sepertinya berjalan sangat lancar. Tentu saja keributan di luar sana memancing perhatian orang yang ada di dalam. Membuat para penculik itu keluar dan memastikan apa yang terjadi di luar sana.
"Cih hanya dua anak kecil?." Mereka menatap remeh Mikasa dan Armin yang berdiri menantang mereka.
"Bagaimana anak kecil bisa sampai di sini?." Mereka kebingungan. "Tangkap mereka." Belasan pria mendekat dengan cepat menuju Mikasa dan Armin.
Selagi para penculik itu sibuk mengurusi Mikasa dan Armin Levi dengan leluasa menyelinap dan menyelamatkan Eren. Menjadikan anak kecil sebagai umpan? Tenang saja Mikasa bukan bocah biasa. Levi tidak terlalu mengkhawatirkan mereka berdua. Perioritasnya sekarang adalah Eren.
Seperti dugaanya. Eren di sekap di tempat yang sangat 'nggak banget' di dalam sana. Dengan kondisi mengenaskan, tangan terikat, mulut disumpal dan air mata yang berderai. Pemandangan itu membuat Levi geram. Berani sekali sampah itu melakukan hal ini pada 'Eren-nya'.
Levi melepaskan seluruh ikatan yang mengikat Eren.
"Levi-san hiks." Panggilnya lirih dengan tatapan nanar.
"Tenanglah semua baik-baik saja. Aku ada di sini." Levi mengangkat tubuh Eren dan membawanya keluar dari sana.
Levi hanya mengedipkan mata beberapa kali setibanya di luar. Seperti dugaannya, musuh sikat habis Mikasa. "Kerja bagus." Ujar Levi.
"Eren." Mikasa langsung bergegas menghampiri Eren yang digendong oleh Levi. Terdapat sedikit lebam di wajahnya membuat Mikasa menggeretukan gigi. "Berani sekali mereka." Mikasa menatap marah tumpukan manusia yang sudah babak belur di sana.
"Ikat mereka lalu kita serahkan mereka kepada yang berwajib." Titah Levi.
Menyuruh bocah SMP berkelahi? tidak kah Levi keterlaluan? Ya memang. Tapi itu tidal berlaku untuk Mikasa. Ditambah lagi. Levi tidak suka mengotori dirinya untuk hal seperti itu.
Eren masih mengalami trauma hingga membuatnya enggan kesekolah bahkan keluar dari kamar. "Oi waktunya makan malam." Levi bersandar di pintu dan menatap Eren yang masih meringkuh di kasurnya.
Hening...
Eren tak bergeming. Levi hanya menghela nafas dan mendekatkan makan malam Eren. Levi tidak bisa berkata banyak dalam situasi seperti ini. Levi hanya bisa duduk di pinggir bibir kasur dan menatap Eren dalam diam.
"Mungkin ini adalah kegagalan bagiku." Levi membuka suara. Hal itu berhasil membuat Eren meliriknya sedikit. "Aku gagal menjalankan permintaan dari Dr. Yeager untuk menjagamu."
"Itu bukan salah Levi san." Ucap Eren serak. "Mereka masuk kedalam sekolah dan membawaku."
"Tch. Mereka sampai nekat melakukan itu? Bagaimana denan cctvnya?". Dahinya mengkerut. "Selemah itu keamanan di sekolahmu?" Eren mengelen pelan menanapi Levi.
Levi membelai lembut pucuk kepala Eren. "Tenanglah. Aku jamin hal ini tidak akan lagi terjadi padamu." Dengan kata lain Levi telah bersumpah pada dirinya sendiri. hal ini tidak akan terjadi lagi kepada Eren. Eren mengangguk. "Makan." Levi membantu Eren untuk duduk dan menyuapinya.
Seminggu berlalu. Eren sudah terlihat lebih tenang dan membaik kondisinya. Eren sudah mau pergi kesekolah. Sesuai janji Levi. Jika hal yang lalu tidak akan pernah terjadi lagi kepada Eren. Levi mempersiapkan suruhannya untuk berjaga dan mengawasi tempat sekolah Eren. Tidak hanya itu Levi bahkan menelusuri pelaku penculikan sebelumnya. Karena menurut penyelidikan polisi orang – orang yang sebelumnya ditangkap hanyalah orang suruhan.
"Jadi?." Annie menatap Eren dengan tatapan penasaran. "Kau benar – benar sudah baikan?"
Eren mengangguk. "Hm. Kalau boleh jujur aku masih takut berada di luar sendirian."
"Aku rasa kau tidak perlu cemas. Karena kau sudah seperti tuan putri sekarang." Annie melihat sekitar yang di penuhi orang – orang berpakaian serba hitam di setiap sisi kantin. "jujur saja ini cukup mengganggu. Tapi apa boleh buat. Para penculik itu bahkan bisa masuk ke sekolah kita dan membawamu." Eren terdiam. "Jadi Mikasa yang bertugas mengawalmu di sekolah?".
"Bukan begitu Annie. Mikasa bukannya selalu bersama ku?." Eren mengibaskan tangannya.
"Kau tahu? dia lebih possesive dari biasanya." Annie menatap tidak suka Mikasa yang sedari tadi menatapnya horor dari meja seberang sana.
"Ah maafkan aku." Eren terkekeh.
Annie. Gadis berambut pirang ini adalah sosok yang bisa di bilang baru di kenal Eren. Dia sangat suka menyendiri dan jarang sekali berjalan dengan teman atau semacamnya. Namun anehnya tidak halnya dengan Eren.
Diawal mereka bertemu Annie tampak shock melihat Eren. Namun kelamaan mereka menjadi dekat. Dia tidak pernah jalan dengan orang lain jika diajak pun ia akan menolak. Namun tidak halnya dengan Eren. Aneh memang.
"Jadi Eren bagaimana dengan tawaranku dulu?." Annie kembali membuka pertanyaan setelah keheningan yang panjang.
"Hm?."
"Tentang bergabung di klub beladiri."
"Soal itu..."
"Ah sebenarnya bukan begitu. Aku hanya ingin kau berlatih bersamaku. Aku yang akan mengajarimu."
"Huh?."
"Melihat kondisimu yang sekarang. Kau terlalu lemah. Setidaknya untuk melindungi dirimu sendiri."
"Hm baiklah." Eren mengangguk setuju.
"Aku tidak keberatan jika penjagamu itu mau ikut." Annie menatap Mikasa yang tiba – tiba sudah berada di belakang Eren.
"Bagaimana Mikasa?" Eren melenggakan kepalanya.
"Aku ikut."
"Yosh."
"Kita akan latihan di rumahku sepulang sekolah." Annie bangkit dari duduknya. "Tidak hanya aku. Teman – temanku akan membantu melatihmu."
"Baiklah. Sebelumnya aku akan meminta izin terlebih dahulu dengan Levi-san." Eren mengeluarkan ponselnya dan mulai mengirim pesan.
"Levi?." Annie mengerutkan dahi.
Levi mengerutkan dahi saat melihat layar ponselnya. Bela diri? Kenapa tiba – tiba? Pikirnya. Tapi Levi tidak mempermasalahkan itu. Sudah seharusnya Eren bisa bela diri mengingat situasinya sekarang. Di tambah lagi ia berlatih bersama Annie?
Levi membayangi wanita pirang dengan hidung besar. Ternyata Eren yang menjadi wanita cukup akrab dengan Titan wanita di abad ini.
Sekarang apa yang akan ia lakukan? Eren akan pulang lebih lama di tambah lagi Levi tidak perlu menjemputnya karena Eren akan pulang bersama Annie.
Levi bangkit dari sofa nyamannya dan berjalan menuju ke kamar Eren. Sebelum Eren datang kemari kamar ini hanyalah taman kosong tak berpenghuni. Tentu saja Levi jarang sekali di datangi tamu. Sebenarnya ia kurang suka jika di datangi tamu apa lagi sampai menginap.
Sekarang kamar kosong ini telah di huni oleh 'Seorang Gadis'. Tidak kah arsitekturnya terlalu 'gak banget' untuk seorang gadis? Terbesit ide di kepala Levi untuk melakukan sedikit perombakan pada kamar Eren.
Hari sudah mulai gelap. Keringat bercucuran di pelipis Eren. Kedua lengan dan kakinya terasa sakit. "Sial. Kau kuat sekali." Umpat Eren.
"Tidak. Kau yang terlalu lemah." Annie mengulurkan tangan memberikan pertolongan. Mikasa hanya komat – kamit tidak karuan melihat Eren yang di bantai habis oleh Annie.
"Ah. Tubuh ku sakit semua." Eren menyambut tangan Annie. Bergegas Mikasa menghampiri Eren dan mengantarkan air mineral untuk Eren.
"Eren baik – baik saja?." tanyanya cemas.
"Ya, Aku baik – baik saja. Ini hanya latihan Mikasa. Jangan terlalu mencemaskanku."
"Wanita sialan itu seperti benar - benar ingin membunuhmu. Aku akan menghancurkannya." Mikasa hendak menyerang Annie namun dengan cepat Eren menahan tubuhnya.
"Kerja bagus Eren."
"Kau cepat sekali belajar." Puji dua orang pria yang sedang beristirahat di belakang Annie.
Mereka sempat mengajarkan Eren gerakan dasar. Namun untuk latihan bertarung Annie yang mengambil alih.
"Ah terimakasih, Rainer, Bertolt." Eren tersenyum.
"Ah sial. Aku rasa gula darahku naik." Rainer tertawa renyah. "Tapi tetap saja tak lebih manis dari Historia AHAHAHAHA." Lanjutnya.
"Ah ano. Sepertinya aku harus segera pulang. Levi-san pasti sudah menunggu." Ujar Eren sembari melihat jam di ponselnya.
"Eh cepat sekali?" ujar Rainer.
"Aku ingin lebih lama di sini. Tapi Levi-san sendirian di rumah. Lagi pula aku belum membuatkan makan malam untuknya." Eren cemas.
"Baiklah. Kami akan mengantarkanmu pulang." Annie melambaikan tangannya memanggil pelayan di rumahnya. Keluarga Leonhart memang tampak sederhana namun kekayaannya hampir sama dengan keluarga Yeager. Itu karena bersatunya ketiga keluarga yakni keluarga Annie, bertolt dan Rainer. Ketiga keluarga itu membuat sebuah aliansi perusahaan dan menjadikannya perusahaan terkokoh di daerahnya.
"Dan kau Ackerman. Bukankah supirmu sudah ada di luar? Pulanglah sendiri. kami yang akan mengantar Eren." Mikasa menatap Annie tidak senang. Entah apa yang membuatnya begitu tidak menyukai wanita berambut pirang yang satu ini.
"Yaaa baiklah. Ayo tuan putri mari kita pulang." Rainer mendorong Eren melintasi cela di antara Annie dan Mikasa. "Nona Ackerman pulanglah. Percayakan keselamatan Eren pada kami bertiga. Kami akan pastikan Eren selamat sampai tiba di rumah." Rainer mengacungkan jempol.
Mikasa mengerutkan dahinya menatap mereka kurang percaya. Jujur saja kalau jauh di lubuk hatinya Mikasa sangat tidak menyukai mereka bertiga.
Setibanya di kediaman Levi. Lama sekali keheningan mengerumuni mereka berenam. Annie, Rainer, Bertolt dan Levi saling memandangi. "A.. kalian saling mengenal?." Eren memecahkan keheningan itu. Mereka terlihat saling mengenal satu sama lain di mata Eren.
"Hn aku rasa." Jawab Levi singkat. "Na Eren. Masuk kemudian mandi." Titah pemuda itu mutlak. "Dan kalian? Titan Shiffter." Levi menatap tajam ketiga Titan shiffter itu.
"Ah sudah ku duga." Annie mendengus pelan.
"Ah kami adalah teman Eren. Kami hanya mengantarnya pulang." Jawab Rainer santai dan hanya di jawab Levi dengan keheningan. "Ah baiklah karena kami sudah mengantarnya kami akan pulang." Rainer menunjuk ke arah belakang dengan jempolnya kemudian berbalik dan pergi.
"Aku tidak suka mereka bertiga." Ujar Mikasa setelah kepergian mereka. "Entah kenapa aku merasa tidak suka seperti ini rasa nya sudah sedari lama aku tidak menyukai mereka." Mikasa terus berkicau mengenai betapa tidak sukanya ia dengan Rainer, Annie dan Bertolt.
"Hn tentu saja." Levi hanya mengangkat bahunya. "Kau pulanglah." Ucapnya sembari menggerak gerakan tangan kanan nya seolah memberi aba – aba untuk pergi. Mikasa sepertinya sudah terbiasa dengan kelakuan pamannya itu.
Jauh di dalam lubuk hati seorang Levi Ackerman jika sebenarnya ia mengagumi Mikasa. Bahkan tanpa ingatan tentang masa lalunya insting Mikasa pada Eren masihlah kuat. Tentang siapa yang sudah melukai dan menculik Eren dahulu. "Waw." Gumamnya.
"Kau yakin baik – baik saja Eren?." Tanya Levi pada Eren sambil membaca koran.
"Aku baik – baik saja Levi-san." Jawab Eren yakin sambil mengurus masakannya dan membelakangi Levi yang sedang duduk membaca di meja makan. "Terimakasi sudah mencemaskanku." Levi hanya diam menanggapi ucapan Eren.
"Nah makan malam sudah siap." Eren meletakan masakannya di atas meja dan Levi segera mengenyahkan koran yang ia pegang.
"Eren, apa yang kau lakukan bersama mereka?." Levi bertanya penuh selidik.
"kami hanya latihan bela diri." Jawab Eren enteng sambil meletakan makanan lalu duduk berhadapan dengan Levi.
"Bela diri?." Beo Levi.
"Hm.. Annie dan Rainer mengajari ku bela diri. Aku merasa aku perlu menguasai bela diri. Yah walau aku sama sekali tidak memiliki basik bertarung seperti keluarga Ackerman." Eren terkekeh.
"A.. bagus. Lain kali aku dan yang akan mengajarimu bertarung. Bantuan mereka cukup sampai di sini." Ucapnya mutlak.
"Eh kenapa?." Eren memiringkan kepalanya tidak mengerti.
"Bukan apa – apa. Yang penting aku dan Mikasalah yang akan mengajarimu bertarung titik." Kali ini Eren tidak berani bertanya. Ya apa pun keputusan Levi ia akan menurutinya. Demi keamanan dirinya dan agar tidak menyusahkan Levi, Mikasa atau Armin lagi.
"Apakah Papa tau mengenai ini?" Tanya Eren sedikit takut.
"Beliau sudah tahu."
"Levi-san yang memberitahunya?."
"Hn. Aku sudah meyakinkan beliau kalau kau sudah aman sekarang." Jawabnya. "Apa kita bisa mulai makan sekarang?."
"Ah silahkan Levi-san." Gara – gara terlalu banyak bertanya Eren hampir lupa dengan makan malam. Padaha sudah di depan mata. "Maafkan aku." Levi hanya terdiam tidak menjawab. Yang Levi pikirkan saat ini ialah betapa terkejutnya Eren ketika melihat kamarnya nanti.
Makan malam pun usai. Levi kembali kemeja kerjanya untuk menyelesaikan beberapa proposal miliknya. Sedangkan Eren membereskan bekas makan mereka kemudia kekamar dan mengerjakan PR yang mungkin sudah bertumpuk karena absen.
Eren membuka pintu kamarnya kemudian terdiam kemudian menutupnya lagi. Tidak lama kemudian ia membukannya lagi dan menutupnya lagi. Eren berjalan berbalik dan menemui Levi.
"Levi-san, kamarnya..."
"Bagaimana? Kau suka?."
"Huh?."
"Selagi kau tidak ada di rumah aku merenofasinya. Kau suka?." Tanyanya tanpa menatap Eren dan masih berkutat dengan dokumennya.
"Levi-san melakukannya? Merenofasinya? Untukku?." Tanya Eren bertubi – tubi. Senyum lebar merekah di bibirnya. "Aku menyukainya." Jawab Eren senang. "Bagaimana Levi-san tahu kalau aku suka warna hijau.?" Tanya Eren penasaran.
"Aku hanya menebak – nebak." Levi meletakan berkas yang ia pegang ke atas meja. "Aku pikir itu kontras dengan warna matamu." Jawab Levi jujur.
Eren sangat bahagia. Ia tidak menyangka jika Levi begitu memperhatikan dirinya. Mungkin kebahagiaanya akan terasa singkat. Siapa yang menduga jika hal buruk akan terjadi pada dirinya. Entah angin apa yang membuat kediaman Levi tidak menghidupkan telefisinya seharian ini. Membuat mereka ketinggalan suatu berita yang mengejutkan terutama bagi Eren.
Lokasi kediaman Yeager. Helikopter menderu di atas sana bersautan dengan siulan mobil polisi dan ambulan. Suasana malam itu sangat ramai di tambah lagi oleh orang – orang yang penasaran atas kejadian atau hanya sekedar lewat.
Bahkan para wartawan tidak kalah memenuhi kediaman Yeager yang sudah di pasangi garis polisi itu. "Di sinilah lokasi pembunuhan itu terjadi. Tepat di rumah seorang dokter ternama Mr. Yeager. Tidak di ketahui motif pembunuhan. Di temukan beberapa yang diduga adalah Dr. Yeager itu sendiri beserta istri dan para pelayannya."
Bersambung...
Udah selesai UAS. Akhirnya bisa next beberapa FF lagi. Jangan lupa Follow Vote dan comentnya...
Thanks to: Reskarah NagisaSN 3
Review?
