Chapter 3: Secret
.
.
Akashi memberi tatapan malas kearah rintik hujan yang membasahi permukaan kaca limousin-nya. Tampaklah dinding putih yang merupakan bagian depan mansionnya terbentang luas. Ukuran mansion yang besar itu dikelilingi oleh halaman yang luar biasa luas, membuatnya menjadi bangunan terbesar diseluruh kompleks tersebut.
Mansion bergaya bangunan Jepang tradisional itu tampak menonjol diantara rumah-rumah modern disekitarnya. Sekali lihat, siapapun langsung tahu bahwa tuan rumah mansion itu pastilah bukan rakyat jelata.
Setelah beberapa saat melewati dinding putih itu, limosin hitam tersebut akhirnya tiba didepan gerbang kayu besar yang merupakan pintu masuk utama. Meskipun tampak seperti gerbang kayu dari luar, gerbang itu merupakan gerbang otomatis.
Dibalik gerbang tersebut, tampaklah mansion besar yang hanya tampak atapnya saja dari luar. Tempat itu terdiri dari mansion utama yang paling besar yang terlihat dari luar dan dibelakangnya tampak mansion-mansion yang lebih kecil namun semuanya terhubung dengan mansion utama.
"Selamat datang, Tuan muda." Ujar seorang pelayan wanita yang mengenakan kimono tradisional menyambut kedatangan Akashi sambil membungkuk. Dia adalah kepala pelayan wanita yang melayani keluarga tersebut. Beberapa pelayan lain yang lebih muda dibelakang wanita itu ikut membungkuk menyambut kedatangan sang calon penerus generasi keluarga Akashi.
"Kami telah mempersiapkan makanan dan air panas untuk berendam, mana yang anda inginkan terlebih dahulu?" Tanya wanita itu seraya menerima tas sekolah dan seragam blazer Akashi.
"Aku ingin berendam terlebih dahulu."
"Baiklah, kami akan menghangatkan makanan hingga anda selesai berendam." Ujar pelayan itu sebelum memberikan instruksi pada beberapa pelayan yang lebih muda. "Ayah anda telah menitipkan pesan untuk disampaikan pada anda, tuan muda. Beliau ingin anda menemuinya setelah makan malam."
Akashi menghentikan langkahnya saat mendengar informasi tersebut. Ekspresinya tetap tengan sebelum ia menjawab.
"…Aku mengerti." Katanya. "katakan padanya, aku akan siap saat waktunya tiba." Kemudian dia meneruskan langkahnya menelusuri lorong berlantai kayu tersebut hingga akhirnya dia tiba di sebuah ruangan di ujung bagian kanan lorong. Perlahan dia membuka pintu geser tersebut dan melangkah kedalam ruangan kecil yang beralaskan tatami berwarna hijau yang mahal.
Ruangan kecil tersebut adalah ruang altar keluarga.
Akashi berlutut dan memusatkan perhatiannya pada altar dihadapannya. Ekspresi kerasnya telah berganti menjadi ekspresi lembut, penuh kasih sayang di momen dia melayangkan pandangannya kearah foto yang terletak diatas altar tersebut.
Foto adalah foto seorang wanita cantik berambut cokelat muda dengan mata merah yang serupa dengan matanya. Dia tampak berada di pertengahan 30-an umurnya. Dia tengah tersenyum ceria sambil melambaikan tangannya.
Wanita itu adalah wanita yang pernah menjadi pusat kehidupannya saat beliau masih hidup. Orang yang paling berharga yang pernah dimilikinya dalam hidupnya.
"Aku telah kembali, Okaa-sama." Akashi menyapanya dan kemudian membungkuk di hadapan altar tersebut.
Altar tersebut adalah tempat dimana mereka menyimpan memori terakhir akan istri kepala keluarga Akashi yang meninggal 6 tahun yang lalu. Akashi tak pernah melewatkan waktu untuk mengunjungi altarnya setidaknya 2 kali sehari.
Melihat foto ibu-nya membuatnya teringat akan event sebelumnya hari itu diantara Furihata dan ibunya.
Dia past dengan tidak sengaja telah menampakan emosinya lewat ekspresinya, menilai dari tatapan kaget yang terlihat jelas diwajah Furihata. Normalnya, Akashi dapat mengendalikan emosinya secara sempurna dihadapan orang asing. Tetapi, kecemburuan itu bukan sesuatu yang dapat dihentikannya. Rasa iri yang tercipta dari kerinduan yang dalam akan hubungan yang telah lama menghilang dari kehidupannya.
Akashi kemudian menoleh kearah telapak tangannya yang tadi di sentuh oleh ibu Furihata. Dia masih dapat merasakan kehangatan yang ditinggalkan oleh tangan tersebut. Kehangatan yang mirip dengan kehangatan yang tak pernah dirasakannya lagi setelah kematian ibunya.
Dimasa lalu ia sering berjalan disamping ibunya sambil menggandeng tangannya.
Kehangatan tersebut dapat membuat seluruh rasa khawatir dan ragu dalam dirinya menghilang tanpa jejak.
Betapa Ia amat merindukan hari-hari tersebut…masa yang tak mungkin akan kembali kedalam hidupnya…
.
.
Furihata duduk di tempat tidurnya sambil menatap kearah jendela kaca disamping tempat tidurnya. Matahari sudah hampir terbenam dan jam kunjungan sudah hampir berakhir jadi dia takkan menerima kunjungan siapapun lagi hingga besok.
Fukuda dan Kawahara sudah pulang sedari tadi dan Ibunya sedang pulang ke rumah sebentar untuk mengambil pakaian ganti dan beberapa manga dan majalah yang dimintanya untuk dibawa sekalian.
Sekarang Furihata benar-benar sendirian dalam ruangan besar tersebut, dia merasa sedikit kesepian. Dia tengah membaca episode adventure shounen Manga dinilai dari jump yang tengah pegangnya, dia meminjamnya dari Kawahara sebelum mereka pulang tadi. Namun sekeras apapun usahanya ia tetap tidak bisa fokus membaca serial tersebut.
Kesendirian ini membuat pikirannya menerawang akan kejadian dari masa lalu.
Dia belum benar-benar sembuh dari patah hatinya akan gadis yang ditaksirnya semenjak SMP. Namun mengingat hal tersebut sama seja dengan mengorek luka lama dalam batinnya. Karena itulah dia mencoba untuk merenungkan memori yang lain.
Wajah tanpa ekspresi dengan air mata yang mengalir itu… Furihata teringat saat pertemuannya dengan Akashi d lorong tempat pertandingan basket terakhir mereka.
Setelah kejadian itu, Furihata tidak merasa terlalu bersemangat di pesta perayaan mereka. Padahal mereka merayakan dengan makan Yakiniku, makanan yang jarang dimakannya karena harganya yang terbilang mahal untuk ukuran anak SMA. Yang lain tampak amat bersemangat memperebutkan daging sapi yang dipanggang, mengumpulkan sebanyak daging yang dapat mereka tampung di piring mereka.
Koganei bahkan mengambil foto wajah Kagami yang hampir menyerupai pipi hamster yang gembung saat dia memasukan makanan dalam jumlah besar dalam mulutnya. Sepertinya Kagami menolak bahkan untuk menelan daging dimulutnya terlebih dahulu karena akan memperlambat gerakannya untuk mengambil lebih banyak daging.
Furihata ingat malam itu dia tidak terlalu banyak bicara dan hanya diam di tempatnya sambil menyesap minumannya.
Rasanya aku pernah melihatnya disuatu tempat…
Furihata berbaring diranjangnya dan menatap kearah langit-langit putih diatasnya. Mencoba untuk mengingat memori dari masa lampau, saat dimana ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Ekspresi Akashi yang dilihatnya saat itu entah kenapa terasa familiar.
Dimana aku melihatnya ya…?
Dia merasa seakan ia melupakan sesuatu yang penting.
Mata merah yang menatap kosong tampak begitu kebingungan…
Iris cokelat Furihata bergerak mengalihkan pandangannya dari langit-langit kembali ke arah jendela kaca disamping tempat tidurnya. Dia melihat rintik-rintik hujan perlahan turun membasahi permukaan jendela kaca tersebut.
"Aku ingat…hari itu turun salju…"
.
.
"Haaah?! Dia kena demam?!" Tanya Riko tampak begitu terkejut akan penjelasan Kawahara dan Fukuda. Furihata tidak dapat datang untuk latihan lagi hari ini dan mereka berdua mengatakan dia terkena demam parah.
"Yah…dia tampak parah sekali saat kami mengunjunginya kemarin." Ujar Fukuda dengan keringat dingin. "Iya-kan, Kawahara?!" Dia buru-buru menoleh kearah Kawahara untuk meminta dukungan.
"I-Iya! Dia bahkan tidak bisa turun dari tempat tidurnya!" Kawahara menganguk cepat.
"Apa kalian mengatakan hal yang sejujurnya?" Riko bertanya dengan nada tajam. Dia tidak bisa tidak merasa curiga terhadap kedua juniornya itu. Mereka tampak seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Fukuda dan Kawahara berjengit saat mendapat tatapan tersebut.
"Te-Tentu saja! Kenapa kami harus berbohong soal itu?!"
"Dia tidak menjawab ponselnya karena dia tertidur setelah minum obat!"
"Hmmm, Begitu…" Riko bergumam sambil menaruh jarinya di dagunya. Sejujurnya Riko masih belum benar-benar mempercayai alasan Fukuda dan Kawahara; namun mereka berdua adalah teman terdekat Furihata sehingga ia tidak punya pilihan selain mempercayai mereka.
Setelah Riko berbalik barulah mereka berdua menarik nafas lega.
Fukuda dan Kawahara telah melakukan sesuai apa yang Furihata katakan pada mereka saat mereka mengunjunginya di Rumah sakit.
Dia meminta mereka untuk mendiamkan kejadian tersebut dan juga tentang Akashi. Furihata tidak ingin membuat keributan besar bila tim Seirin mengetahui kondisinya, menilai hasilnya pasti buruk.
"Bagaimana Furihata bisa kena demam?" Tanya Kagami sambil mengangkat alisnya dan bertanya pada Fukuda ditengah latihan pass bersama Kuroko.
"Sepertinya, dia amat shock karena ditolak oleh gadis yang disukainya." Furihata sudah menjelaskan tentang Ogawa Mai pada mereka dan merasa penolakan itu dapat menjadi alasan yang masuk akal bagaimana dia sakit. "Dia menolak untuk makan dan istirahat dan akhirnya dia malah jadi sakit."
"Haah? Dia bodoh ya? Jadi sakit gara-gara masalah cewek." Kagami berujar sambil terkekeh mengejek. "Dia membuat kami khawatir untuk masalah bodoh begitu." Dibalik tawa mencemooh Kagami tersebut, Fukuda dapat merasakan nada lega menandakan dia merasa tenang setelah mengetahui Furihata baik-baik saja. Tiba-tiba dia merasa amat bersalah harus berbohong pada mereka. Tim Seirin yang lain pasti amat mengkhawatirkan kondisi Furihata.
"Kau tidak boleh mengejek teman yang sedang kesusahan kagami, kau-kan tidak tahu rasanya ditolak." Nasihat koganei yang berdiri disampingnya yang dibalas Kagami dengan mendecih pelan.
"Tenang saja Senpai," Kuroko menambahkan dengan wajah datarnya. "Kagami-kun selalu payah dalam menghadapi masalah sensitif, kata-kata saja takkan dapat merubah pemahamannya yang minim." Kemudian dia tidak mengacuhkan Kagami yang marah-marah sambil berseru 'Kuroko, sialan kau!' yang terdengar saat ia menyelesaikan kata-katanya.
Fukuda dan Kawahara hanya dapat menonton perkelahian antar Kagami dan Kuroko, dimana mereka kejar-kejaran keliling lapangan dengan tawa renyah hingga Riko menghentikan mereka berdua dan mengancam akan menambah waktu latihan mereka bila mereka terus bertindak bodoh.
.
"Haah…Aku benar-benar ketakutan tadi saat sang pelatih melihat kita dengan tatapan tajam." Kata Kawahara sambil menghela nafas panjang. Saat ini mereka tengah bertugas untuk membersihkan gym setelah latihan selesai. Kemarin adalah bagian Kagami dan Kuroko jadi hari ini giliran mereka. Biasanya mereka mengerjakannya bertiga dengan Furihata.
"Yah, setidaknya mereka mempercayai alasan itu, setidaknya semuanya baik-baik saja." Ujar Fukuda seraya mengambil salah satu dari bola-bola basket dilantai dan mulai mengelapnya.
"Untuk saat ini…aku tidak bisa mengatakannya dengan pasti, apalagi pelatih tampak amat meragukan alasan tersebut…" Ujar Kawahara.
Menurut kata-kata Furihata dia akan keluar dari rumah sakit dalam waktu sekitar 2 minggu setelah lukanya sembuh. Mereka tahu cepat atau lambat mereka harus mencari alasan lain untuk menjelaskan alasan absennya Furihata beberapa hari kedepan.
"Aku bisa mengerti sih, alasannya tidak mau membuat keributan, tapi kedepannya akan sulit untuk kita…" Kata Fukuda dan kemudian bertopang dagu setelah selesai membersihkan bola terakhir.
"Untuk apa?"
"Tentu saja-" Kata-kata Fukuda terhenti di tengah saat ia mengenali suara yang bertanya tersebut bukan milik Kawahara dan teman botaknya kini tampak tertegun melihat sesuatu atau lebih tepatnya seseorang dibelakangnya. Perlahan Fukuda menoleh dan menemukan Kiyoshi yang tersenyum lebar.
"Uwaaah! Kiyoshi-san!" Fukuda buru-buru berdiri kemudian mundur dari tempatnya. Bola yang tadi dipegangnya terjatuh dan kemudian jatuh memantul ke permukaan dinding kayu yang datar.
"Selamat sore." Kiyoshi menyapa mereka dengan senyuman lembutnya seperti biasa. Bagaimana mungkin mereka berdua tidak menyadari kehadirannya sama sekali?! Kiyoshi-kan tidak bisa menggunakan Misdirection seperti Kuroko!
"E-eh…sejak kapan, Kiyoshi-san ada disini?" Tanya Kawahara dan Fukuda disaat bersamaan. Keduanya tampak benar-benar gugup.
"Hmm? Semenjak Fukuda mengatakan kedepannya akan sulit bagi kalian." Jawab Kiyoshi dengan tampang polos. Kata-katanya seketika membuat Fukuda dan Kawahara mendesah lega, setidaknya Kiyoshi tidak mendengar percakapan mereka yang sebelumnya.
"Jadi…apa yang mengganggu kalian?" Tanya Kiyoshi lagi, memberi kedua juniornya tatapan penuh rasa ingin tahu.
"I-i-itu..itu…latihan yang diberikan pelatih!" Ujar Kawahara buru-buru menyebutkan alasan pertama yang terpikirkan olehnya.
"Be-benar! Semua persendianku jadi sakit karena latihan yang berat itu!" Tambah Fukuda sambil merenggangkan lengannya, memijat pundaknya agar terkesan lebih realistis.
"Oh ya? Kukira latihan sebelum Winter Cup jauh lebih berat?" Kiyoshi memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung. "Yah, sudahlah, setidaknya bukan sesuatu yang penting." Pemuda berambut cokelat itu mengangkat bahu dan tertawa kecil membuat Fukuda dan kawahara kembali mendesah lega.
"Kukira itu sesuatu yang penting, misalnya seperti bagaimana aku melihat kalian kemarin berjalan tergesa-gesa melewati lorong rumah sakit." Pernyataan yang dikatakan dengan nada kasual oleh Kiyoshi membuat Fukuda dan Kawahara membeku ditempat.
"Eh? Ke-kemarin? K-kau ada di rumah sakit?" Tanya Fukuda dengan terbata-bata.
"Aku harus menjalani pemeriksaan rutin akan kakiku agar aku tahu aku tidak memperparah kondisiku." Ujar Kiyoshi menjelaskan.
"Tadinya aku bertanya-tanya apa pernyataanmu tadi ada hubungannya dengan kalian diantar oleh pemuda dengan setelan pakaian formal berwarna hitam dengan wanita setengah baya yang mirip dengan Furihata menuju ruangan VIP." Kata Kiyoshi lagi. "Lalu kemudian, beberapa menit kemudian aku melihat pria yang sama mengikuti Akashi Seijūrō keluar ruangan tersebut."
"Apa kalian bisa menjelaskan semuanya?" Kiyoshi menoleh kearah mereka san memperlihatkan senyumannya yang paling ramah dan saat itulah Fukuda dan Kawahara menyadari mereka tidak punya pilihan lain selain menjelaskan semuanya pada Kiyoshi.
Orang ini mungkin sering terlihat seperti orang yang santai dan lamban namun dia sebenarnya amat observant akan keadaan disekelilingnya.
.
"Heeh…jadi itu yang terjadi…" Kiyoshi bergumam mengerti setelah mendengar cerita Fukuda dan Kawahara. "Aku bisa paham kenapa dia tidak ingin ada orang lain yang mengetahui kejadian itu." Katanya lagi sambil menganguk dan menutup matanya. "Kalau sampai ketahuan pasti akan timbul masalah besar."
"Bukannya kami tidak mengerti, tapi apa tidak sebaiknya ia menjelaskan hal yang sebenarnya daripada berbohong?" Fukuda mengangkat bahunya dan menyandarkan punggungnya kearah dinding. "Maksudku, dengan begitu dia tidak perlu dimarahi pelatih dan semuanya takkan mengasihaninya tau memperlakukannya seperti orang bodoh karena menganggapnya sakit karena ditolak cewek."
Fukuda tidak dapat menyalahkan Kagami ataupun Hyuuga yang mengejek Furihata karena mereka tidak tahu alasan sebenarnya dibalik keadaannya. Namun sebagai teman baik Furihata sekaligus orang yang mengetahui kebenaran dibalik kisah tersebut, ia tidak dapat menahan diri untuk tidak merasa kesal pada mereka dan Furihata sendiri karena tidak mau mengatakan hal yang sebenarnya.
"Fukuda…" Kawahara menatapnya, memberikannya pandangan simpatik saat melihat ekspresi serius diwajah Fukuda.
"Kau memang ada benarnya." Kiyoshi terkekeh kecil mendengar pengakuan juniornya, Fukuda benar-benar orang memperhatikan sahabat-sahabatnya. 'Tapi, harus kukatakan Furihata memutuskan untuk melakukan hal yang benar."
'Eh? Kenapa?" Fukuda tampak sedikit terkejut mendengar seniornya yang bijaksana mengatakan hal seperti itu.
"Dia memilih untuk berbohong akan kondisinya dan menjadi bahan ejekan daripada membuat yang lain khawatir bila ia mengatakan hal yang sebenarnya." Kiyoshi mengganti arah tatapannya ke arah lantai. Ada nada bangga dan kagum dalam suaranya saat ia berbicara lagi. "Furihata, benar-benar orang yang baik hati ya?"
Fukuda dan Kawahara terdiam dan kemudian ikut menatap kearah lantai setelah mendengar penjelasan tersebut. Sejauh yang mereka tahu, Furihata adalah salah satu orang yang paling baik yang pernah mereka temui.
Memang benar, dia sering ketakutan akan banyak hal dan selalu ragu-ragu setiap kali menghadapi konfrontasi langsung, namun dia orang yang selalu berusaha untuk tidak merepotkan orang-orang disekelilingnya.
"Yah, kurasa dia memang seperti itu…" Ujar Kawahara dengan suara pelan. Di depannya tampak Fukuda yang masih terdiam.
"Tapi aku lumayan terkejut saat mengetahui dia bisa berbuat hal seceroboh itu! Menyerang orang yang memegang senjata, kalau aku tidak mengenalnya, aku akan mengatakan itu tindakan bunuh diri!" Komentar Kiyoshi. Ia terdengar antara protektif akan keselamatan Furihata dan marah akan kecerobohannya.
"Yah…kami juga terkejut saat mendengar bagian itu sih, ternyata Furihata bisa bertindak bodoh begitu." Fukuda menambahkan dengan desahan panjang. Terserahlah, setidaknya dia bahagia temannya masih hidup dan kini kondisinya mulai pulih.
"Hei, bagaimana kalau aku menemani kalian untuk berkunjung besok? Aku ingin melihat kondisi Furihata." Kiyoshi bertanya dan menoleh kearah mereka dengan ekspresi ceria.
"Eh…eh…ka-kalau hanya Kiyoshi-san sih…" Jawab Kawahara dengan ragu-ragu sambil mnggaruk pipinya.
Kalau hanya Kiyoshi, Furihata takkan marah pada mereka, ya-kan?
.
End of Chapter 3
A/N :
Akhirnya chapter ini kepublish juga!^^
Di chapter ini ada hint akan masa lalu Furihata dan Akashi tapi nanti akan dijelaskan di chapter berikut-berikutnya.
Di fic unexpected Revelation dibagian Furihata ngomong dia nggak punya apa-apa kan? Dia memang nggak punya apa-apa dibidang basket selain keberuntungan sekali-sekali, karena itulah aq menonjolkan sikapnya yang baik hati di sini. Dia tipe orang yang rendah diri dan nggak keberatan dicemooh tapi dia bisa jadi berani saat dia memiliki hal yang harus dilindungi seperti itulah (KyaaaXD kayak karakter utama dari Shounen manga! emg dy dari Shounen Manga kali!)
Kebaikan hatinya itu nanti yang bakal menaklukan Akashi. Oh iya, sebagai tambahan Akashi yang bakalan selalu muncul disini itu Akashi yang asli yang iris matanya merah dua-dua.
Akashi emperor bakal muncul nanti disaat2 dramatis, di fic ini dy blm ngilang sih -_-" cuman 'tertidur' aja
Sekian dari pesan author dan banyak terima kasih bagi semua yang berkenan membaca fic ini :D
