Chapter 4

Crush!

(1)

Neru masih saja menonton acara televisi NBA dan Singing Contest. Aduh... padahal malam sudah larut. Sudah jam setengah sepuluh! Aku sudah mengantuk, tapi herannya, Neru masih saja kuat menghadapi layar televisi.

"Neru-chan... tidurlah, aku mengantuk. Kau tidak capek?" Neru menggeleng tanpa melihat ke arahku, tapi aku tahu dia menggeleng, bukannya mengangguk. Huh... Neru memang keras kepala.

"Tapi aku ngantuk, kau mau tak mau harus mematikan televisimu, dan... tidur," tegasku. Neru melihat ke arahku. Eh! Dia masih segar lagi. Uh...

"Baiklah, tunggu... ah! Kohaku-kun! Kau harusnya melakukan tembakan three point di quarter terakhir ini. Coba aku ada di sana, kau pasti akan kuteriakkan untuk melakukan tembakan tiga poin!" teriak Neru sambil mengomel. Aku menutup telingaku. Berisik sekali sih Neru!

"Kyaaa... harusnya Taiki yang kalah, kenapa malah Yumi? Ah, dasar juri tidak a..."

"Kau! TIDUR!"

...

Aku merapikan kerah seragamku. Oke... aku sangat suka seragam hari Rabu. Kemaja dengan sweater abu-abu. Sweater itu terbuka di bagian kerah, sehingga seragam yang ada di dalamnya bisa nampak. Aku merapikan pita kupu-kupu di bagian kerah, kemudian menoleh ke arah Neru yang sudah memakai kaus kakinya.

"Ayo, cepatlah Neru..." Aku sudah tidak sabar. "Iya... tapi kau harus sabar untukku." Oke, aku menunggu Neru. Setelah itu, kami langsung menuju ke lantai bawah dan memakai sneakers hitam dengan tali putih, lalu menyambar tas, kemudian Neru sudah berlari dan aku harus mengunci pintu.

"Neru... tunggu aku!" Aku menyusul Neru. Lalu, kami sudah berjalan bersama menuju sekolah. Yutoku Gakuen... mungkin, tanpa Len, apakah semua keadaan akan segera berubah?

Seperti biasa, keramaian yang menyambut kami di dalam kelas. Sudah ada Gumi. Tapi Kaito belum datang.

"Hai Gumi... selamat pagi. Kaito belum datang?" tanyaku. Gumi menggeleng.

"Mungkin dia akan terlambat. Hei, Neru, mengapa kau bengong?" Neru tersadar. Ia langsung menoleh ke arah Gumi. Gumi tersenyum, dan menepuk-nepuk pipi Neru yang gembil.

"Kau memperhatikan siapa?"

"Itu, Haku."

"Kenapa dia?"

"Dia menatapku tajam..."

Aku langsung melihat ke arah Yowane Haku, sang ketua kelas. Eh! Dia juga melotot ke arahku!

"Ke-kenapa dia?" Neru menggeleng, Gumi menepuk bahuku dan bahu Neru.

"Dia sedang lelah. Dialah yang akan mempersiapkan drama musim semi Mei akhir nanti, menjelang musim panas. Anggotanya klub teater lama," ujar Gumi. Aku dan Neru hanya mengangguk-angguk. Len sepertinya tidak masuk. Ya, mungkin, seperti yang dikatakan Gumi, dia jatuh sakit karena hanya demam. Apakah akan parah? Dia bahkan belum menjawab pesanku kemarin.

"Len sedang dibawa ke rumah sakit di Amerika. Kau harus tahu, dia terkena penyakit aneh sejak jatuh demam... dan yah, aku dikabarkan oleh ibu Len." "APA?!" Aku spontan berteriak. Ke Amerika?!

"Berapa lama?" tanyaku. Neru juga terkejut. Gumi menggelengkan kepalanya dan menaikkan alisnya.

"Mungkin akan lama. Rin, kau bersabar saja. Kalau kau mau tahu nomor telepon ibu Len, aku punya. Tunggu, nah... ini, kau catat," kata Gumi sambil mengeluarkan ponselnya dan menunjuk ke layarnya. Aku juga mengambil ponselku dan memasukkan kontak baru. 26557x

"Makasih ya Gumi..."

"Sama-sama."

"Hai! Aku sudah sembuh sekarang..." Tiba-tiba, terdengar suara ceria yang familiar di telingaku. Bukankah itu suara Meiko? Gadis yang suka nosebleed itu di depan Mikuo? Uoh, aku baru ingat, dia sakit flu parah dan mimisan akut. Untunglah dia sudah sembuh sekarang.

"Meiko-chaaannn!" Aku langsung berlari dan memeluknya. Meiko juga salah satu sahabat terbaikku, dan dia sekarang sudah masuk. Luka belum datang, Aoki masih ijin, Ai belum datang, Teto masih sakit. Rinto dan Lenka mungkin terlambat datang, karena mereka masih harus ikut orangtua mereka yang masih bertugas di Bremen, Jerman.

"Aku sayang sekali padamu, Rin... adakah cowok yang kau sukai saat ini?"

Normal P.O.V~~

Rin tercekat ketika Meiko menanyakan tentang itu padanya. Cowok yang ia sukai? Rin... sesungguhnya, ia masih belum yakin, apakah perasaannya saat ini adalah cinta? Dia masih sulit mempercayai apa yang terjadi. Dimulai dari awal... sampai saat ini. Len berobat ke Amerika dan ia jatuh cinta pada Len? Oh tidak... Rin terdiam, dan Meiko tahu Rin sedang berpikir. Rin sedang menimbang-nimbang, apakah harus ia katakan pada Meiko? Tapi, Rin mengurungkan niatnya.

"Tidak ada kok... kau sendiri? Masih setia pada Mikuo-kun?" tanya Rin sambil sedikit menggodanya. Tiba-tiba saja, ia langsung mimisan mendengar nama Mikuo disebut oleh Rin! Uh, apa yang terjadi pada Meiko-chan?

"Ah, aku mimisan lagi..." Ia memekik tajam, lalu Rin segera mengeluarkan saputangan miliknya, tetapi, Meiko menolaknya dengan halus, dan ia memakai saputangannya sendiri. Kasihan Meiko... rupanya, dia masih belum sembuh total dari penyakitnya.

"Meiko... kau perlu ke klinik..." "Baiklah." Rin menuntun Meiko dibantu Neru dan Gumi, menuju klinik sekolah.

"Moriya-san... Meiko jatuh sakit lagi. Dia mimisan terus," aku Rin, berkata dengan mimik wajah cemas. Moriya-san memeriksa keadaan Meiko. Dia terkejut setengah mati.

"Dia... dia mengidap leukemia?" Rin pingsan, Meiko lemas, Neru berusaha tegar, dan Gumi terhuyung-huyung. Leukemia? Selama ini, Meiko mengidap leukemia? Leukemia atau kanker darah memang berdampak buruk dan merupakan penyakit yang masih belum bisa ditemukan obatnya. Jadi, biasanya... penderita leukemia hanya menjalani pengobatan untuk memperpanjang penderitaan. Justru, semakin lama ia di rumah sakit dan dirawat, dirinya tersiksa. Maka, ada yang memilih lebih baik langsung dibunuh agar ia tak merasa kesakitan yang berkepanjangan. Tapi, hal itu... hal mengerikan itu justru malah terjadi pada Meiko? Sahabat sekaligus teman Rin, Gumi, Neru, Miku, dan yang lainnya? Rin merasa hidupnya sudah mulai hancur perlahan. Dimulai dari Len yang berobat ke Amerika dalam jangka waktu panjang karena penyakit aneh, lalu disusul Meiko yang kata Moriya-san mengidap penyakit leukemia. Terlebih, Miku tidak ada sekarang. Ia sedang di rumah neneknya.

"Be-benarkah?" tanya Neru tak percaya. Moriya-san tak yakin. Ia lalu menelepon orangtua Meiko, dan menyuruhnya untuk memeriksakan keadaan Meiko ke rumah sakit, untuk bisa dipastikan apakah Meiko benar mengidap leukemia atau tidak. Yang jelas saat itu, suasana hening dan semuanya sedih. Meiko juga tak berdaya. Tubuhnya semakin lemas, dan ketika ia dijemput, tangannya dingin, wajahnya pucat, dan ia sudah dalam keadaan pingsan atau tak sadarkan diri.

...

Rin P.O.V~~

Aku merasa diriku terbaring. Sesaat, aku membuka kelopak mataku. Keadaan hening, sepi, tak ramai seperti di kelas. Pendingin ruangan mendinginkan tubuhku, dan aku semakin bisa terlelap. Oh, apakah aku pingsan? Karena apa? Seketika, aku tak dapat mengingat semuanya. Aku bingung akan apa yang terjadi pada diriku, sebelum aku terbaring di ranjang klinik seperti ini.

Eh... tunggu dulu. Ranjang klinik? Apakah mungkin aku sakit? Tapi sakit apa? AH! Aku ingat sekarang! Aku pingsan karena mendengar Meiko sakit kanker darah. Aku, sekarang, kembali lesu. Mengapa harus teman-temanku yang memikul penderitaan yang berat sekali seperti itu? Andai, aku bisa menukar posisiku dengan Meiko... aku pasti akan membuat Meiko bahagia. Ia bisa menjadi diriku, menjadi yang diuntungkan. Menjadi yang bahagia, menjadi yang lega. Dan aku... menjadi Meiko yang tersiksa dan menderita. Namun, jika saja kesempatan itu datang, aku bersedia menukarnya. Aku sudah terlalu iba pada Meiko. Dia teman yang baik, walaupun kadang membuat kesal dengan tingkah 'sok lugunya'.

Eh tapi, tunggu dulu... mana Gumi? Mana Neru? Mana Moriya-san? Ke mana mereka semua? Apakah aku sendirian di sini? Tidak... pasti masih ada roh penasaran di sekitarku.

Aku mencoba menyesuaikan mataku dengan cahaya, lalu segera terduduk. Ya, benar, Gumi dan yang lainnya tidak ada. Tidak ada Meiko, aku sendirian di sini.

Baiklah... aku langsung beranjak dari ranjang, lalu segera keluar dari klinik. Eh?! Lorong sekolah sepi? Saat aku melirik jam... tidak! Ini sudah waktu pulang sekolah! Sudah lewat satu jam malah! Tanpa basa-basi, aku langsung menuju ke ruang kelasku, dan memasukinya dengan napas tersengal-sengal. Kemudian, aku bergegas mengambil tasku, dan mengeluarkan ponsel sambil keluar dari kelas.

From : Kagamine Rin

Tuesday, 04.02 A.M

Hei Neru... kau di mana? Kenapa kau dan Gumi meninggalkan aku di ruang klinik? -,-

==SENDING==

.

.

.

Reply : Neru Akita

Tuesday, 04.05 A.M

He? -,- aku lagi di rumah sakit sekarang... lho? bukannya Gumi ada bersamamu?"

Gumi? Ada bersamaku? Aku mendadak ketakutan dan mendadak bulu romaku menegak...

"Hei!"

DHEG!
"Gumi?!" seruku dengan jantung yang berdebar keras sekali. Aku kaget setengah mati!

"Ada apa kau kaget begitu?" tanyanya. Ia juga jadi terkejut. Uh, dia mengagetkanku. Kukira, dia tak ada bersamaku. Kukira, dia pergi juga bersama Neru.

"Maaf ya, tadi aku ke toilet, eh, kau sudah sadar? Baiklah, yuk kita makan siang di kafetaria saja. Kantin sekolah sudah tutup karena hari ini kegiatan klub diliburkan, semuanya. Oke?" Aku mengangguk, malas mengeluarkan kata-kata. Akhirnya, aku dan Gumi segera pergi ke kefateria di depan sekolah untuk mengisi perut kami yang kelaparan.

"Aku pesan roti Prancis yang panjang, diberi keju ya! Sama em... susu coklat hangat saja. Oh ya, sekalian coklat Belgia-nya," kata Gumi. Kami sudah sampai di kafetaria dan kini giliranku memesan makanan.

"Kalau aku pesan tiga buah muffin coklat big size, coklat Swiss, dan jus jeruk dingin."

"Baiklah... tunggu beberapa saat lagi. Terima kasih." Setelah mencatat pesan kami, pelayan itu pergi setelah sebelumnya, ia membungkukkan badan tanda menghormati pelanggan. Gumi langsung memulai bicaranya.

"Meiko sakit. Ya, aku dikabari Neru. Dia disuruh ikut dengan Moriya-san ke rumah sakit tempat Meiko dirawat. Benar katanya... dia terkena leukemia, hampir mencapai stadium akhir karena sudah agak lama... rumah sakit yang sebelumnya goblok! Tak pernah tahu hal itu..." Aku terkesiap, lalu menggigit kukuku dengan cemas. Hampir mencapai stadium akhir? Menyeramkan!

Beberapa menit setelahnya, pesanan kami tiba, dan aku langsung makan dengan lahap. Jelas... aku belum makan siang! Tadi pagi juga, aku dan Neru hanya sarapan roti tanpa isi dan susu vanila dingin.

"Aku sangat lapar... untung tadi aku pesan banyak makanan," gumamku lega. Gumi tersenyum melihatku. Aku mengambil ponselku. Eh? Ada pesan masuk... dari siapa ya?

Reply : Kagamine Len

Wednesday, 12.55 A.M

Maaf... saya mama Len, Kagamine Minna. Len sakit panas tinggi sampai empat puluh derajat Celcius dan juga terkena penyakit beguk. Len belum pernah sakit beguk. Ia keadaannya semakin parah... kata dokter...

HAH?! Pesan tidak dilanjutkan lagi. Aku buru-buru membalasnya sambil makan.

Reply : Kagamine Rin

Wednesday, 04.11 A.M

Oh, tidak apa, bibi. Saya turut bersedih atas Len yang sakit parah, saya khawatir. Tapi... apa yang dikatakan dokter pada Len?

.

.

.

.

.

Reply : Kagamine Len

Wednesday, 04.16 A.M

Hikss... bibi juga terkejut awalnya, tapi kata dokter, Len sepertinya akan mati jika terus-menerus keadaannya memburuk. Tapi untunglah, kali ini, suhu badannya sudah turun perlahan menjadi tiga puluh sembilan derajat Celcius. Mohon doanya, Rin-san :)

Aku bahkan hampir meneteskan air mata. Apa? Bisa meninggal? Jika Len meninggal, jika itu terjadi... rasanya, aku sudah tak memiliki teman cowok sebaik dia. Jujur saja, kuakui, aku belum pernah bergaul dengan anak cowok, kecuali jika anak cowok itu adalah teman Mikuo atau saudaraku, seperti Rinto. Tapi, Len yang pertama kalinya. Dia satu-satunya cowok yang bukan teman Mikuo, bukan saudaraku (hanya seperti), dan bukan orang yang kukenal akrab, tapi akhirnya... aku berteman dengannya!

Gumi heran melihat ekspresi wajahku, yang mungkin... yah, kusut dan suram. Memang itu keadaanku sekarang. Walaupun ada suatu penghiburan, itu nggak akan mengubahku, kecuali, Len sembuh dan ia segera pulang ke Tokyo, dan kembali bersekolah, sehingga... sehingga... aku bisa kembali melihat wajahnya.

Reply : Kagamine Rin

Wednesday, 04.19 A.M

Syukurlah kalau keadaan Len sudah mulai membaik, bibi... iya, bibi, Rin selalu mendoakan keadaan Len karena Len teman yang baik untuk Rin :D ^o^

.

.

.

.

.

Reply : Kagamine Len

Wednesday, 04.14 A.M

Ah... bibi baru sadar, namamu... margamu... Kagamine? Ah... bibi sepertinya sudah pernah mendengar namamu sebelumnya...

JLEGAAARRR!

Petir seolah menyambarku. Mendengar namaku sebelumnya? Apakah mungkin... aku dan Len adalah orang yang sebenarnya bersaudara?

Aku terdiam dan Gumi lagi-lagi menatapku aneh dengan rasa curiga yang semakin besar...