Whaaaai, senangnya reviewer yg masuk makin banyak. Terharuuuu! U're da best! Setiap kata yang kalian tumpahkan adalah bahan bakar saya. Maaf karena saya tidak bisa menjawab review satu2. Loading masuk FFn agak lemot buat bales via PM. (alesan konyol) Mengenai hubungan Hinata dan Naruto akan diusik di chapter berikutnya. Cuma secara keseluruhan, hubungan mereka sdg rehat. Terima kasih karena sudah menyuarakan pertanyaan kalian. Saya usahakan memberikan scenes yang terbaik. On to the story! (semangat)

Canis Loyalis

Kiba's journey; Naruto a fic

Chapter 4: Confrontation

Fic by Crow

Shino menampar sisi kepala Kiba. Cukup keras untuk membuat telinganya berdenging.

"Aww!" Sahabatnya yang dimaksud meringis. "Apa-apaan itu, Shino!?"

Shino tetap diam, tapi seperti biasa, sifat Kiba dan Shino itu bagaikan api dan es. Mereka tidak bisa menyatu. Setelah mencuri satu serangan tiba-tiba dari Kiba, itu membuat si Inuzuka muda keki setengah mati. Apalagi ditambah dengan ekspresi si pengguna serangga yang seperti tak terjadi apa-apa, itu bagaikan menuang minyak kedalam kobaran lidah api. "Brengsek!"

Kiba meraih tudung jaket Shino, menarik dan menerjangnya. Shino juga melawan dengan menahan muka Kiba dengan kedua tanganya. "Ngapain kau memukulku, Shino!?"

Masih berusaha melepaskan dirinya dari pergulatan dengan Kiba, Shino menjawab setenang mungkin. "Seharusnya kau tahu," Ia mendengus, membuat Kiba semakin merasa diremehkan. "Kupikir kau lebih pintar 'sedikit' dari ini, Kiba."

"Apa?!" Lagi; kini percikan-percikan api diatas kepala Kiba sudah berubah menjadi kebakaran hutan.

"Kurasa," Suara lembut menghentikan pertikaian kekanakan kedua pria tersebut. "Mm, kurasa maksud Shino-san adalah mengenai Hinata-chan,"

Anzu, istri setia Shino, berkomentar. Ia meletakkan dua gelas teh, yang Kiba perhatikan, merupakan racikan spesial klan Tokageroh dari Kusa. Kiba membenarkan duduknya diatas kursi, dan Shino sepertinya tak memiliki niat untuk menaikkan tudung kepalanya kembali. "...Dari semua orang, kenapa harus Hinata, Kiba?"

Jika Anzu, dengan lembutnya berusaha menyadarkan Kiba, Shino lebih memilih jalan teoritis yang mempertanyakan tindakan Kiba yang telah lalu. "Aku tidak mengerti!" Kiba menggeram kearahnya. "Kalau ingin mengatakan sesuatu, ngomong yang jelas Shino!"

"Mengapa kau menciumnya; kenapa kau membuat situasi ini semakin runyam?"

Akamaru yang tengah bersantai di pekarangan rindang komplek Aburame melirik kearah kedua pria tersebut. Mereka bertiga berada diatas satu beranda santai yang terbuat dari kayu jati kokoh dan beratapkan rerumputan organik yang dapat menangkal panas dari terik matahari.

Kenapa?

"A-aku tidak membuatnya menjadi lebih runyam!" Kiba melempar tantrum seperti anak kecil. Tipikal Kiba. Tapi sorot mata penuh keraguan itu tidaklah berbohong. Kiba tengah memproses ulang tindakannya yang telah lalu. "Hi-Hinata 'membutuhkannya'!"

"Hm? Butuh bibirmu itu-kau yakin?" Shino bertanya dengan dingin. Jika orang lain mendengar nada suara Shino, mereka pasti berpikir Shino tengah menghina keberadaan Kiba hingga sekecil-kecilnya.

Raut Kiba merona, ia merasa menyerah walau tidak ingin mengakuinya. "Shino, dengar, jika kau berada disana, kau bisa melihat...betapa hancurnya Hinata." Kiba mengingat raut sedih Hinata lantaran Naruto, idola sekaligus kekasihnya, meninggalkannya begitu saja. "Kau bisa melihat betapa rapuhnya dia pada saat itu,"

Mereka semua terdiam. Anzu, wanita berambut hitam gelap duduk disebelah suaminya dengan setia, menjadi pendengar yang baik. Walau ia belum begitu lama mengenal Kiba dan Hinata, namun mereka berdua tidak pernah membeda-bedakan pasangan hidup Shino tersebut.

"Tapi kau menciumnya bukan karena dia rapuh." Ekspresi Kiba kembali menggelegak seperti air mendidih. "Sial, Kiba..." Shino mengutuk dari balik napasnya. "Bagaimana kalau dia berubah mencintaimu?"

Kiba tertegun.

"Bagaimana kalau kau, dari kesemua orang, menjadi 'orang ketiga' yang menghancurkan hubungan khusus antara Hinata dan Naruto?" Anzu menampilkan raut lesu, mendengar deduksi suaminya. Anzu memang tak begitu mengenal pria pirang yang dimaksud, tapi ia tahu bagaimana Naruto begitu disanjung bagaikan utusan langit; bisa saja Kiba menjadi bahan omongan dan gunjingan orang karena merebut kekasih sang pahlawan dunia shinobi. Terlebih lagi, Hinata bisa bernasib sama dengannya. Atau lebih parah lagi malahan.

"Kau menciumnya lantaran kau melihat Hinata tengah tak berdaya, tak bisa mengharapkan bantuan orang lain dan terutama, karena bagaimana ia begitu mengandalkanmu saat ini-" Shino melanjutkan, tak memberikan ruang bagi Kiba untuk berfikir sejenak. "Kau tidak mencintainya, Kiba. Kau hanya ingin memuaskan napsu birahimu kepadanya. Kau, Kiba, memanfaatkan kerapuhan Hinata untuk mencumbunya."

Anzu tidak bisa merespon penyudutan dari suaminya terhadap Kiba. Dilain pihak, Anzu juga tidak tega melihat ekspresi terpukul Kiba saat ini. "...Aku...memanfaatkannya?" Kiba tak kesal, dia juga tidak marah. Tapi mungkin, badai catarhina akan segera mengamuk didalam benaknya. "Seharusnya...aku yang melindunginya disaat seperti ini, tapi...tapi,"

Kiba menggeram kesal. Badainya tengah bertiup liar saat ini, batin Anzu, tak tega. "Kau melihat ekspresi Hinata saat itu, Kiba? Bagaimana kau menilainya?" Lanjut tanya Shino.

Kiba berusaha mereka ulang; puas, terlampiaskan, mabuk kepayang, bahagia, senang, mengharapkan lebih. Yang manapun Kiba pilih, tindakannya sudah meracuni perasaan serta kepolosan Hinata walau sedikit. "...Aku tidak tahu-aku tidak bisa menjawabnya,"

"...Tidak, Shino-san," Anzu membuka suara, tidak kuat melihat Kiba terjatuh semakin jauh lagi kedalam palung rasa bersalahnya. "Maaf, Shino-san, bukan maksudku untuk menentang pendapatmu," Anzu menyentuh paha suaminya untuk menekankan poinnya. "Kiba dan Hinata adalah sahabat semenjak kecil. Walau mereka tak melihatnya, 'ikatan' spesial mereka selalu ada disana."

Kiba dan Shino memperhatikanya. "Aku tidak akan menyalahkan Kiba-san ataupun Hinata-chan; tapi orang dulu selalu bilang kalau cinta dan kebencian adalah dua wajah dari satu mata koin yang sama. Tapi, aku selalu dibuat bertanya-tanya, lalu dimana letak 'persahabatan'?"

Anzu melanjutkan. "Jika cinta bisa berubah menjadi kebencian kapanpun juga dan sebaliknya, sekali lagi, 'bagaimana dengan persahabatan?' Aku selalu melihat persahabatan berada didalam 'cinta'; dia membuat kediaman mewah didalam cinta, dan mereka bisa bertukar posisi kapanpun juga. Persahabatan mengandung cinta dan cinta mengandung persahabatan. Tergantung mood juga perasaan, persahabatan bisa menelurkan cinta, dan cinta bisa semakin erat menjadi persahabatan sejati yang takkan bisa tergantikan."

Anzu memfokuskan pandangannya pada Kiba. "Jika saja rasa persahabatan Kiba-san berubah menjadi cinta membara terhadap Hinata-chan, maka tak usah ragu, kejarlah." Kedua mata Kiba menyala lebar. Apakah barusan ia mendengar seseorang mendukung...perasaannya? Dan lagi...Kiba sendiri kurang begitu yakin dengan perasaannya terhadap Hinata. "Itu hanya karena...hal yang serupa juga berlaku dengan Hinata-chan sendiri. Dia akan menyadari pada akhirnya, dengan siapakah dirinya sebenarnya ditakdirkan. Siapakah seseorang yang selalu peduli padanya, selalu berada dipihaknya, berdiri disebelahnya, meraih pundaknya jika ia lemah dan menghiburnya jika ia tengah bersedih.

Jadi, pendapatku...jika kau menginginkannya, Kiba-san, kejarlah Hinata-chan, dan tumpahkan kebahagiaan padanya. Jangan biarkan dia bersedih lagi."

Semuanya terdiam. Kediaman Aburame yang terkeal dengan suara serangganya pada musim dingin sekalipun hening menjadi satu dengan udara. "Ehhm," Shino melancarkan tenggorokannya. "...Kalau Anzu berkata demikian,"

Urat kekesalan terlempar keluar dari kulit kepala Kiba. Tadi si 'teroris' ini menyudutkannya, dan sekarang secara tiba-tiba ia berada dipihak istrinya dan Kiba.

Anzu berpamitan sebentar untuk mengambilkan kedua sahabat itu beberapa potong senbei kering dan cemilan. Ketika Anzu sudah memasuki rumah utama Aburame, Kiba menyengir menunjuk kearah istri Shino berpaling. "Itu...yang seperti itu yang kumau sebenarnya,"

Shino menampar tangan Kiba. Ia kemudian menunjukkan jarinya pada Kiba, seolah menuduhnya atas pembunuhan berencana seperti pada buku-buku komik detektif. Ia memelototi Kiba dari balik shades gelap. "Cabut, Inuzuka. Dia miliku."

"Aww...! Kau sensitif sekali hari ini?" Komentar Kiba, mendengar tawa Akamaru dari belakangnya. "Terakhir kali kucek, adalah para perempuan yang mengalami menstruasi. Maksudku tadi, aku menginginkan pasangan yang bisa melihat lebih dalam dari suatu masalah, dan membantuku. Tidak seperti seseorang." Kiba memicingkan matanya penuh akan konspirasi kearah Shino.

"...Baiklah, Kiba," Buka Shino dengan senyuman tipis, mencoba mengerti pada akhirnya. "Apapun yang kau lakukan, apapun, aku akan mencoba untuk mendukungmu. Tapi tolong ingat satu hal Kiba, kita berdua menyayangi Hinata. Ia sudah seperti adik kandung yang tak pernah kita miliki,

Apapun caranya, tolong bahagiakan dia. Sudah cukup semua kesedihan dan kekecewaan dalam hidupnya. Dia juga berhak atas kebahagiaan."

Kiba tersenyun padanya. Ia mengerti itu semua. "Pasti. Memang itu tujuanku sedari awal."

"Bagus. Aku senang mendengarnya." Sepertinya suasana pertikaian sengit diantara keduanya sudah sedikit mereda. Menyeruput teh spesial Anzu, kini Shino sudah bisa menyender dengan santai di kursi santai balkon pribadi. "Nah, silahkan lanjutkan ceritamu tadi,"

"Bah, kalau kau tidak pake acara menamparku segala, ceritanya pasti sudah selesai sekarang!" Kiba melipat tangannya didepan dada dan secara terang-terangan menyalahkan Shino untuk itu semua. "Sampai mana tadi...oh ya, sekarang bagian menemui yakuza Hyuuga."

Kiba mulai menceritakan pengalamannya hari ini,

Kiba tadi sempat bilang kalau dia tidak takut sama sekali pada Hiashi Hyuuga, ayah Hinata. Setelah membenarkan dan merapikan letak kimononya, Hinata memutar tubuhnya kearah Kiba dan bertanya mengenai penampilannya. Begitu menawan. Merona akan pujian tersebut, Hinata membimbingnya memasuki ruang pertemuan. Begitu didalam, Kiba harus menelan ludahnya sendiri ketika melihat 'ngerinya' rupa Hiashi dari jarak sedekat ini.

Tidak hanya dia saja, para sesepuh yang terus kena hina dan ledek Kiba semenjak ia mengenal Hinata ternyata merupakan kumpulan kaki tanan sang kepala yakuza Hyuuga dengan aura tak kalah menakutkan.

Pada kedua sisi Hiashi, Kiba bisa melihat Neji, si sepupu kandung Hinata yang jenius, dan Hanabi, adik Hinata yang tidak kalah berbakat dari sepupu mereka berdua. Mereka berdua tidak menatap Kiba dan Hinata sedikitpun, memejamkan mata seolah bersemedi.

Hinata membungkukkan badannya, memberi hormat kepada sang ayah. Melihat gerak Hinata dan anggukan ringan dari Hiashi, Kiba menyapanya- "Halo," dengan mengangkat satu tanganya sebatas dada.

Para sesepuh langsung berbisik-bisik seperti ibu-ibu pasar. Demi menjaga nama baik Hinata, Kiba mau tidak mau menahan egonya dan ikut membungkuk. "Silahkan duduk, Inuzuka-kun." Perintah sang ayah.

Sebelum duduk, Kiba menyempatkan dirinya untuk berbisik pada Hinata. "Kau tidak bilang ayahmu punya tato mengelilingi badannya. Dia yakuza asli~!" Hebohnya, meski hanya berbisik.

"K-Kiba-kun!" Hinata hanya mengeluarkan napasnya untuk memohon pada Kiba agar diam.

Hinata mengambil bantalan sebelum duduk sedikit didepan Kiba, namun dengan egoisnya si Inuzuka muda itu mengangkat bantalannya dan meletakkannya sedikit didepan Hinata. Sekali lagi, para sesepuh saling bisik mengenai kurangnya tata krama pemuda dihadapan mereka semua. "Maaf, tapi biar aku yang bicara menggantikan Hinata."

"...Akhirnya kita bertemu, Inuzuka-kun." Ujar Hiashi, dengan aura intimidasinya. "Terakhir kali aku melihatmu, kau masih seorang bocah ingusan di sekitar bangku penonton lapangan pertandingan ujian utama chuunin. Saat itu kau menyaksikan duel antara Neji dan Naruto bersama dengan putri sulungku."

"Aku...hm, aku sering melihatmu, Hiashi-san. Tapi itu bukan masalahnya saat ini 'sih, 'kan ya." Hinata menarik jaket kulit Kiba secara refleks untuk mengisyaratkannya agar tetap merendah diri sedikit. Hinata hanya tidak ingin anggota keluarga lainnya melihat Kiba cuma dari kacamata negatif dan subjektif saja nantinya.

Namun Kiba menepuk tangan Hinata, menenangkannya, seolah berkata: 'serahkan saja yang satu ini padaku, ya.' Kiba semakin memberanikan dirinya. "Hiashi-san, saya datang kemari tidak untuk berbincang-bincang santai. Saya datang untuk mengajukan proposal penyandingan putri sulung anda, Hinata Hyuuga untuk menjadi istri saya. Saya meminta ijin anda dengan rendah diri."

Kedua mata Hinata terbelakak. Mendengar Kiba mengucapkan permohonan itu saja membuat Hinata merasa diantara tersanjung dan terkagum-kagum dengan perubahan sikap Kiba yang 180°. Hinata tidak bisa tidak merona dengan sikap Kiba. Hiashi, Neji, dan Hanabi menyadari perubahan raut pada wajah Hinata. Belum lagi, Kiba yang sungguh-sungguh bersujud dihadapan Hiashi dan lainnya. Dia benar-benar meruntuhkan egonya sebagai pemuda Konoha yang paling bebas dan badung.

Kiba. Dia...benar-benar serius terhadap Hinata-sama, batin Neji yang kini telah membuka kedua matanya.

"Aku serius, dan telah memikirkannya masak-masak."

Hiashi melihat Kiba sebelum kemudian melirik putri tertuanya. "...Tadinya kukira Hinata akan membawa Naruto-kun, tapi...kini ternyata dia membawa mantan rekan satu timnya." Hiashi membersihkan tenggorokannya. "Angkat kepalamu, Inuzuka-kun, dan mulailah penjelasanmu untuk ini, Hinata."

Nada suaranya begitu strik, membuat Hinata terlepas dari kekagumannya terhadap Kiba dengan seketika. "Situasinya agak sedikit rumit Hiashi-san, tapi saya-"

Hiashi memelototkan matanya pada Kiba; membuatnya pertama kali ragu untuk melanjutkan bandingnya terhadap orang dewasa. "Aku tidak ingat bertanya padamu barusan. Koreksi jika aku salah, Neji, Hanabi,"

"Sama sekali tidak, Hiashi-dono. Anda benar; saya mendengarnya sendiri." Jawab Neji, dengan dinginnya. Biasanya Neji memang sedikit dingin, pikir Kiba, tapi tidaklah pernah sedingin ini.

Hanabi juga mengangguk sejenak. "Saya satu suara dengan Neji-niisan, chichihue*." AN: feudal polite form/pronounce for father

Hinata berusaha kuat menghentikan getaran pada tiap bagian tubuhnya. Jika dia tidak bisa mengatasi situasi seperti ini, dia memang tidak berhak sama sekali untuk melangkah sebagai penerus klan Hyuuga. Seperti Kiba, seperti Kiba; percaya dirilah seperti Kiba-ia terus mengulang-ngulang mantera penyokongnya tersebut.

"Ayahanda, aku bisa menjelaskannya dengan lebih panjang lebar, tapi, akan kucoba membuatnya sesingkat mungkin." Hinata berhasil mengatakannya tanpa gelagapan sedikitpun. Sang ayah mengangguk, memberikan Hinata ijin untuk melanjutkan. "Hingga sampai beberapa hari yang lalu, aku masih merupakan kekasih dari Naruto Uzumaki-kun. Namun sepanjang jalan, ada beberapa perubahan dan perkembangan pada hati kami masing-masing,"

Hinata kembali mengingat wajah ceria Naruto. Dia tidak menyangka bahwa pemuda itu akan berselisih jalan dengan dirinya. Namun Hinata tidak membencinya. Kebulatan tekad untuk mendapatkan sesuatu; hanya dengan memikirkan itu, Hinata merasa bangga pada Naruto. Dia hanya sedih, bahwa Naruto tentu saja tidak 'kan bisa ataupun mau menunda impiannya. "W-walau masih saling mencintai, kami memilih untuk menusuri jalan masing-masing. Pada saat itu, t-tibalah Kiba-kun."

Hinata merasa begitu kecewa dengan dirinya. Tidak hanya membohongi ayahnya, ia juga mendustai dirinya sendiri. Naruto adalah satu-satunya pria yang ia cintai sepenuh hati, tapi bila tidak begini...dia tidak yakin ayahnya dan dewan sesepuh akan mengijinkannya untuk melanjutkan rencana mereka. Ia serasa mengkhianati Naruto yang akan kembali dalam setahun, cuma prospek ini sesungguhnya tidaklah buruk juga jika dibandingkan menikah dengan salah satu dari lima bangsawan asing.

Apapun hubungan yang dimilikinya dengan Kiba, apapun itu, dia yakin Kiba akan menunaikan janjinya selama setahun. Hingga akhirnya tiba waktu untuk bercerai, dan menjelaskan semuanya secara terperinci pada Naruto.

Hinata hanya berharap Naruto bersedia menerima permintaan maaf tulusnya.

Tapi...bayangan beberapa menit yang lalu di lorong utama aula Hyuuga menjambret untaian pikiran Hinata.

Mulut Kiba yang lembab, hangat, dan liar. Menciumnya dengan seluruh hasrat manusia dan hewani yang ia miliki. Ia merasa begitu dibutuhkan pada saat itu.

T-tapi...aku tidak mencintai Kiba-kun...'kan? D-dan aku yakin...Kiba-kun juga begitu. Hinata hanya dapat memikirkan satu alasan terbaik dibalik tindakan Kiba beberapa saat yang lalu dengan polosnya: Kiba hanya mengisengiku.

Namun dilain pihak...Kiba menunjukkannya; dari tatapan itu, dari senyumannya itu, dan hanya dari keberadaannya saja, Hinata bisa tahu bahwa Kiba benar-benar menganggapnya ada. Hinata merasa diperlakukan setara oleh Kiba. Sebuah perasaan yang membuatmu merasa berguna...dan hidup...

Satu hal yang begitu diinginkan Hinata dalam hidupnya. Ia mendapatkannya dari Kiba.

Tangan Kiba menggenggam punggung tangan mulus Hinata yang berada diatas pangkuan paha. Hinata terlepas dari genjutsu lamunannya. Ketika Hinata menatap wajah Kiba, ia berbisik: "Tak apa."

Kiba kembali menghadap Hiashi, dan merundukkan kepalanya sedikit. "Hiashi-san, saya bisa terima jika anda merasa kecewa. Tapi, saya mohon untuk tidak menimpakannya pada Hinata. Anda bisa menjadikan saya kambing hitam pada hubungan antara Hinata dan Naruto, tapi...tapi..."

Sekarang, apa yang akan kukatakan...?

Hiashi menuntut jawaban. Apa yang harus kukatakan untuk meyakinkannya?

Serupa dengan Hinata, sedikit banyaknya pelucut romansa beberapa saat yang lalu antara dirinya dan Hinata membuat Kiba merasa tidak yakin. Pikiran Kiba saling bertabrakan, membuat kepalanya penuh akan dua sisi pro dan contra. Perhatian sesungguhnya yang Kiba tunjukkan terhadap Hinata adalah murni dan merupakan poin terpenting dari pro, namun disisi lain, contra menyatakan bahwa Kiba tidak memiliki perasaan lebih pada Hinata selain persahabatan...

Lalu bibir Hinata menjelaskan semuanya. Bibir lembut yang ia selami tadi membuat Kiba ingin memiliki Hinata...dengan egoisnya.

Tadinya pemikiran ini tak terlintas sama sekali. Sial, umpatnya didalam hati; Kiba sendiri tidak pernah memikirkan Hinata melebihi tapal batas kepedulian dan persaudaraan erat. Namun kini, ia ingin mengulum bibir empuk itu walau hanya selama satu tahun, dan mengorbankan seumur hidup waktunya dalam kesepian.

Imagi setan pada sisi kiri tubuhnya turun tangan. Dia membisikkan wahyu Lucifer kepada Kiba: 'Katakan saja kau 'mencintainya'. Anggap saja seperti memasang lotere. Jika dapat, syukur, jika tidak, tak ada yang terluka. Kini saatnya dirimu yang bersifat egois terhadap Hinata. Ingat bibir itu untuk sekali lagi, dan kau telah siap memberikan jawaban. Hanya itu saran dariku.'

Berbohong? Berbohong demi bibir dan tubuh Hinata?

Rupanya...aku memang menyukai saat-saat mencumbu Hinata?

Kiba tak bisa mendustai dirinya lebih jauh lagi. Usahanya untuk membuat Hinata bahagia mulai berbalik bagaikan bumerang, siap menghantam wajahnya dengan keras. Kiba berpikir mengenai pernikahan tersebut dan hidup seorang diri dalam kesepian dan cinta tak berbalas oleh Hinata seumur hidup lamanya.

Mungkin ia akan mengambil kesempatan satu tahun ini. Mungkin ia hanya ingin beregois sedikit terhadap Hinata, mungkin ia ingin mencoba bibir supel dan lembut itu sekali lagi. Mungkin dia tertarik terhadap tubuh mempesona itu dan ingin mencicipinya... Atau...mungkin ia kini benar-benar mencintai Hinata?

Indera posesifnya terhadap Hinata juga kian menguat. Tanda bahwa...adanya ikatan tersendiri yang mulai terbentuk didalam dunia bawah sadar Kiba terhadap Hinata.

Namun seperti katanya tadi, meski anjing adalah hewan yang begitu setia kepada pasangannya, hubungan seks adalah satu dari sedikit kesukaan utama mereka. Dan karena Kiba menganggap dirinya merupakan setengah manusia setengah hewan, dia bukanlah makhluk suci seperti malaikat yang tidak tertarik sedikitpun terhadap lawan kelamin.

Kiba masih tidak tahu apa yang terjadi dengan diri dan perasaannya tiap kali membayangkan Hinata. Tapi... Berbohong, ya?

"...Saya mencintainya, Hiashi-san," Kiba memberikan pandangan penuh akan kepastian.

Dia tidak mencintai Hinata, begitupula sebaliknya. Kiba tidak bisa berdoa akan hal demikian, meski disudut hatinya ia dengan jujurnya mengharapkan perhatian sedikit lebih dari Hinata. Terkadang Kiba merasa iri pada Naruto; mengapa ia begitu spesial bagi Hinata? Ada aku dan Shino; setia dan menyayanginya. Tapi mengapa hanya Naruto, Hinata?

Namun ironisnya, hati wanita tersebut memang hanya milik Naruto seorang,. Dan itu adalah kenyataan kosmik seperti matahari yang merupakan pusat galaksi bima sakti, atau bersifat natural bagaikan matahari yang terbit di timur untuk tenggelam di barat.

Mungkin hanya ini satu-satunya cara untuk menikahinya. Berbohong. "...Semenjak dulu jauh-jauh hari; semenjak kecil, jauh sebelum Naruto menyadari betapa indahnya Hinata. Saya telah terlebih dulu...mencintainya. Saya tahu saya terdengar menjijikkan, tapi berikan saya waktu untuk membuktikan keseriusan saya kepada Hinata dalam jenjang pernikahan. Mohon pertimbangkan lamaran saya."

Tidak bisa cukup sekali ditekankan, Kiba bukanlah manusia sempurna tanpa celah. ia juga menyukai wanita, wajah dan tubuh mereka. Setelah menikmati bibir Hinata, pahamnya runtuh...dan, ia merasa begitu menjijikkan saat ini.

Namun dengan semua upayanya itu, disampingnya, Hinata dengan polosnya mendapati hati serta jiwanya bergetar. Ia tak pernah sedikitpun memikirkan Kiba berniat buruk terhadapnya. Tak sedikitpun. Tidak dan belum pernah sekalipun dalam hidupnya. Ya. Kiba tak menyadarinya bahwa Hinata mempercayainya sepenuh hati. Sebuah ironi yang diputar dengan kejam dan tak berperasaan. Ia tak tahu menahu...bahwa Kiba sedikit demi sedikit sudah tak bisa menahan kuasa atas kendali libido-nya terhadap Hinata.

"Apa yang bisa ia tawarkan demi Hyuuga?" Salah satu dewan sesepuh Hyuuga berkomentar dengan kasar, seolah Kiba yang datang dari rakyat jelata berniat menikahi tuan puteri kerajaan mereka.

Tapi seperti pada dongeng-dongeng, kata-kata sang tuan puteri selalu bisa memberikan fakta mengenai hubungan manusia sesungguhnya yang seharusnya. "K-Kiba-kun adalah seorang jounin yang handal dan tangkas. Indera perasanya sebagai kapten dari regu pengejar dan penyergapan khusus milik Hokage-sama adalah sebaik kita para Hyuuga." Kiba membalikkan tatapannya kepada Hinata. Tak hanya satu-dua anggota keluarga saja yang dibuat terkejut oleh nada suara beraninya yang datang secara tiba-tiba.

"Satu yang selalu kutahu dan tak pernah keliru: indera perasanya yang paling sensitif...meliputi hatinya yang baik, peduli, dan perhatian."

Semuanya terdiam, tanpa terkecuali Kiba.

Ada suatu bunyi dari dada Kiba yang terdengar remuk. Ia merasa malu terhadap dirinya sendiri. Ia merasa menjadi penjahat perang yang jauh lebih kejam daripada ideologi sinting yang ditelurkan Madara dan Obito Uchiha.

Keyakinan Hinata membuat Kiba kehabisan napas. Mengapa wanita sepolos dan sesuci Hinata bisa menjadi salah satu orang terdekat dirinya?-Kiba tidak mengerti; dia hanya tidak bisa mengerti alasan dari balik itu semua. Kiba menggeram,

Benar-benar lelucon kosmik yang tidak lucu...benar-benar tidak lucu sampai ingin membuatku menangis. Keparat, aku serasa menjadi bajingan terberat alam semesta karena berniat memanfaatkan kesucianmu...Hinata.

Naruto...kau memang bajingan paling beruntung.

"Cinta saja...takkan bisa mempertahankan dan membangun klan menjadi yang tersohor!" Sesepuh yang lain menyerobot, tidak cukup senang dengan kemajuan perundingan diplomasi ini. "Selain uang dan pengaruh besar yang dimiliki sang suami dari Hinata-kun, kami tak membutuhkan apapun darinya. Cinta hanya akan menghalangi saja nantinya."

Mendengar itu membuat darah Kiba dan Neji mendidih. Walau memiliki hubungan masa lalu yang cukup tragis antara dirinya dan Hinata, Neji tumbuh menjadi pengganti abang yang dominan dan caring terhadap Hinata. Selagi Neji berpura-pura tak mendengar apa-apa demi kelancaran perundingan, merasa diremukkan oleh pembelaan absolut dari Hinata barusan, Kiba benar-benar membuang semua harga diri, kebanggaan, dan namanya.

Disini, saat ini, yang tengah kembali bersujud simpuh dimuka Hiashi adalah makhluk tak bernama yang berusaha memberikan satu hal terbaik kepada sahabatnya yang paling suci, tercantik, dan terpolos.

"Saya tak membawa apapun untuk dipersembahkan...kecuali 4750 ryo di kantong celana saya saat ini. Tapi," Terakhir, Kiba membuang semua napsu birahinya terhadap Hinata. Aku...aku pasti akan mempersatukan Hinata dengan Naruto. Walau apapun hasil akhirnya nanti. "Tapi...tapi Hinata berhak mendapatkan kebahagiaan 'juga' dalam hidupnya. Biarkan saya dan ijinkan saya melakukan hal demikian dengan terus memikirkan kebaikan demi dirinya dan hanya dirinya seorang sebagai kepala klan Hyuuga masa depan! Saya mohon, beri saya kesempatan!"

Ada saja niat Hinata untuk meneteskan air matanya. Hinata merasa begitu tersentuh masih ada orang yang begitu setia bersedia membela dirinya. Dia tahu...itu adalah isi hati Kiba yang sesungguhnya. Dengan mengatakan 'kebahagiaan', maksud Kiba adalah kebahagiaan dengan bersatunya Hinata sang kepala Hyuuga dengan Naruto sang Hokage. Kiba tahu bagaimana cinta Hinata begitu besar kepada Naruto-dan Hinata sendiri mengenal Kiba dengan sangat baik. Meski tadi mereka berbagi keintiman yang jarang didapat Hinata (bahkan dari Naruto sekalipun), ia berpikir bahwa mungkin...mungkin itu adalah untuk pertama dan terakhir kalinya...

...

Apapun itu alasan yang melatar belakangi keputusan Hiashi, mungkin hanya dirinya sendiri yang tahu. "...Baiklah. Kukabulkan." Hiashi melipat tangannya didepan dada, memperhatikan ekspresi terkejut dan tidak percaya pada wajah Kiba dan Hinata. Mereka berdua mulai merekahkan ukiran senyuman kecil pada bibir mereka.

Terdengar gemuruh ketidaksetujuan dan penolakan dari seluruh dewan sesepuh, namun Hiashi tetap melanjutkan kata-katanya. "Tapi, dengan satu ketentuan. Kau harus berpartisipasi dalam 'permainan suci' klan Hyuuga, Ahura Kai."

Sekali lagi para sesepuh berkomentar satu sama lain. Tapi ketika Kiba menolehkan wajahnya kearah Hinata, ia mendapati calon istrinya tersebut menampilkan ekspresi yang tak bisa dibacanya. Grasak-grusuk komentar puas dan cengiran yang saat ini menghiasi wajah-wajah tanah liat kendur para sesepuh, Kiba dibuat bertanya-tanya, apa yang membuat kakek-kakek yang baru saja mengekspresikan kekecewaan terhadap keputusan Hiashi berubah lega dan tak peduli dengan situasi ini lagi?

Demi Rokudo Sennin, apa itu Ahura Kai? Dan mengapa wajah Hinata berubah pucat pasi seperti hantu hanya dengan mendengar dua kata tersebut?

"Jadi yang harus kulakukan untuk bisa menikahi Hinata adalah melakukan Ahura Kai, Hiashi-san? Apa ketentuannya?"

"...Satu lawan satu; kalahkan aku."

|Bersambung|

Berikutnya di Canis Loyalis:

"Apa yang kau pikirkan, Kiba?! Menikahi pacar orang!"

"Kalau begitu maafkan aku karena sudah terlalu peduli dan sayang kepada sahabatku, Naruto! Kalau saja kau tidak mengecewakannya gara-gara gelar Hokage...yang-yang konyol itu!"

"...KAU!"

AN: Ketimbang chapternya yaaang panjang, saya ingin mengucapkan selamat karena kalian sudah sudi membaca fic ini hingga chapter segini. Kudos to all of us! Saya terlalu dibuat khawatir, apakah chapter fic saya ini kepanjangan? Saya ingin membuat fic ini spesial, baik untuk saya dan juga para pembaca, khususnya jika kalian fans KibaHina jg. Silahkan suarakan saja semua uneg-uneg kalian. Atau mungkin saya harus memperpendek word count-nya?

Untuk catatan pendek jika ada yang bingung:

Hinata saat ini masih mencintai Naruto; namun perasaannya diombang-ambingkan oleh hasrat hidup yang ditawarkan Kiba, sementara

Kiba tidak mencintai Hinata, belum, paling tidak; saat ini dia masih bimbang antara cinta dan birahi.

Review selalu bisa membuat saya senang jungkir balik, so...review! Click! Voila!

Crow signed out, Adieu!