Main Cast : |EXO|
|Suho|Kris|Luhan|Baekhyun|Jongdae|Kyungsoo|Jongin|
Other Cast : Infinite Myungsoo, B.A.P Daehyun, B.A.P Zelo
Genre : Crime, Friendship, Drama, Angst
Rate : T+
Standard disclaimer applied.
Warning : OOC, Typo(s) bertebaran, penggunaan EYD gak tepat, cerita abal dan pasaran, imajinasi terbatas dan seadanya, membuat anda merasa pusing dan mual.
Don't Like Don't Read!
C.U (Catch U)
Happy Reading…..
~O.O~
Baekhyun berjalan malas menyusuri trotoar yang dipenuhi pejalan kaki. Tua dan muda, semuanya tertumpah pada jejakan yang sama. Matanya yang merapat masih terlalu enggan untuk sepenuhnya terjaga.
Pagi itu masih terlalu dini untuknya keluar dari pembaringan nyaman yang Baekhyun kira baru beberapa saat lalu diraihnya. Hari eksekusi yang terasa mendebarkan baginya setelah sekian lama tertinggalkan.
Sesekali ia menguap dalam langkah pelannya. Jika bukan karena dering ponsel dan sebuah janji yang sempat dilupakannya, mungkin Baekhyun tidak akan keluar dari rumah hingga matahari tepat bertengger di atas kepalanya.
Ia mendongakkan kepalanya. Memastikan bahwa tempat yang ditujunya merupakan tempat yang tepat seperti kesepakatan yang telah dibuat. Baekhyun mengecek arloji di tangannya. Ia masih punya beberapa menit untuk menikmati menu pagi ini.
Rumah makan yang tergolong cukup ramai yang mana didominasi oleh sosok-sosok dengan setelan kemeja yang rapi. Meja-mejanya hampir terisi penuh dan Baekhyun terlalu malas mengambil tempat di lantai dua.
Ia berdecak kesal. Tepat ketika Baekhyun menoleh ke kiri, dua pria beranjak pergi. Ia buru-buru mengambil tempat yang letaknya begitu strategis. Berada di pojok ruangan berhadapan dengan dinding kaca dan sangat dekat dengan pintu masuk.
Baekhyun mendudukkan dirinya menghadap sebuah televisi besar yang berseberangan dengan pintu masuk. Penayangan berita yang cukup menyita perhatian turut menemani menu sarapan paginya kala itu.
Suara pembaca berita cukup keras untuk didengar seisi ruangan di lantai satu. Seorang pelayan mengantar pesanan Baekhyun dengan senyuman di wajahnya. Apa yang didengar Baekhyun dari siaran itu membuat kantuknya menguap dengan cepat.
Ia menyantap makanannya dengan cepat. Sebuah senyum puas turut menghias wajahnya. Setiap untai kata yang terlontar dari pengeras suara televisi seperti mengikis rasa lelahnya. Rasanya Baekhyun ingin tertawa jika membayangkan raut-raut wajah kesal dan panik disana.
"Luhan benar akan ucapannya." Ucap Baekhyun, mendorong piring kosongnya menjauh.
Sandarannya begitu nyaman untuknya menikmati kesibukan kota Seoul yang tidak pernah mati. Seperti yang Luhan katakan padanya melalui pesan singkat beberapa saat lalu ketika ia bersama Jongdae, Baekhyun sudah menunggu di sebuah kamar hotel yang berseberangan dengan kantor kepolisian setempat.
Ia datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Kamar yang dipesan Luhan cukup mewah dan berada di lantai dua puluh hingga memudahkan Baekhyun untuk melihat apapun yang tersaji di depan matanya.
Baekhyun tidak mempunyai minat untuk mengagumi setiap inci kemegahan interior yang disajikan di depan matanya. Jelas ini sangat berbanding terbalik dengan tempat yang terakhir kali ditinggalinya selama sepuluh bulan.
Tidak akan pernah punggungnya beradu dengan dinginnya lantai atau dinding yang hanya berupa jajaran besi yang menyisakan jarak beberapa centimeter saja. Angin malam yang menyentuh kulitnya tanpa sebuah selimut hangat yang memberinya kehangatan.
Baekhyun berdecak kesal, mengusir ukiran memori yang mencoba menggelitik kesenangan hatinya malam ini. Terhitung sejak kebebasannya terbelenggu, Baekhyun memetakan berbagai prinsip baru untuk hidupnya.
Tirai jendela tersibak sebagian saat Baekhyun merapatkan dirinya pada sisi kaca jendela. Lampu kamar sengaja dibiarkannya rehat karena pendar lampu kota yang berlomba cukup memenuhi kapasitas penerangan bagi dirinya.
Mata kecilnya berputar pada sudut-sudut tertentu, mencoba menemukan hal yang mungkin mampu menyita atensinya yang hampir mencapai tahap jengah dalam penantian. Baekhyun meniup poninya lalu meniti kemungkinan-kemungkinan terbaik untuk penyelesaian rencananya bersama Luhan.
Sudut-sudut kritis terukur pasti dalam pemetaan di kepalanya. Situasi dan kebiasaan yang terjadi pada objek yang menjadi fokusnya tersimpan rapi dalam ingatannya. Baekhyun tersenyum puas atas hasil yang didapatnya.
Ia melirik angka-angka yang berkedip di ujung ponselnya. Berpindah ke sisi sebuah teropong yang menghadap jendela. Kemungkinan, Luhanlah yang sengaja menaruhnya disana. Salah satu ujungnya bergerak seperti yang Baekhyun inginkan.
Satu bibirnya tertarik ke atas saat mata kecilnya menangkap sebuah peranan yang menyita seluruh minatnya. Wajah-wajah familiar yang memainkan sebuah sketsa layaknya pemutaran drama di sebuah panggung.
Baekhyun menyamankan dirinya pada sebuah kursi yang buru-buru ditariknya. Menikmati setiap pergerakan dalam lingkup situasi yang menurutnya cukup sengit dan serius. Hal itu mampu membunuh kebosanan baekhyun secara perlahan.
Sekalipun tidak ada suara yang tersampaikan ke telinganya, Baekhyun rasa penantiannya untuk Luhan tidak akan begitu menyiksanya. Dan ia mulai berpikir untuk memiliki beberapa makanan ringan untuk tontonannya kali ini.
*…*
Sebuah sambungan telepon terjawab setelah dua kali bunyi nada tunggu yang mengawalinya. Sengaja ia membiarkan suara seseorang memenuhi seisi kamar yang hening tanpa sedikit pun kebisingan.
"Seperti yang kutahu….kau masih begitu mahir memainkan peranmu. Harusnya ada yang mengingatkan Kris akan makna di balik topengmu itu." seru Baekhyun, tetap merapatkan kedua manik matanya pada satu sisi teropong.
Hanya suara kekehan pelan yang menjadi respon pihak yang bersangkutan. Tentu saja Baekhyun menyadari bagaimana bola hitam mata Joonmyeon berputar setenang mungkin pada sisi bangunan yang berhadapan dengan tempat dimana ia berada.
Kali ini ia pun tahu bahwa Kris mulai tertarik dengan pembicaraan Joonmyeon dan dirinya. Baekhyun terlalu bosan melirik jam tangannya dan mendapati Luhan yang tak kunjung tiba. Jadi tidak ada salahnya untuk sekedar menyapa teman lama.
"Kris…santailah. Sejak tadi kuperhatikan…wajahmu terlihat sangat tegang." Baekhyun sungguh tidak mampu menahan tawanya menyaksikan Kris yang begitu antusias dengan sebuah fakta bahwa ia mengawasi mereka.
Sama halnya seperti Joonmyeon, Kris pun berusaha menemukan keberadaannya. Bahkan setelah rentetan pertanyaan Kris tertuju padanya, Baekhyun masih saja mengumbar tawanya yang pasti terdengar begitu menyebalkan bagi sosok yang lain.
"Aku yang seharusnya bertanya…apa yang kalian lakukan disana? Mengenang masa lalu, hah?"
Sergahan Joonmyeon begitu cepat kembali. Ada jeda saat Baekhyun kehilangan segala ketertarikannya setelah nama Luhan disebut. Tanpa sebuah penjelasan pun ia sangat mengerti kemana arah tujuan mereka dan alasan mengapa mereka berada di sana bersama Daehyun.
"Kau benar-benar ingin membunuhnya? Seperti yang pernah kau katakan dulu?" tanya Baekhyun dengan semua emosi yang tertuang dalam kalimatnya. Berbagai spekulasi akan mengembara atas pertentangan pada kedua belah pihak.
Baekhyun tidak benar-benar menyimak lontaran jawaban Kris. Sekalipun ia begitu paham dengan watak dan sifat Kris, bagaimanapun juga rasa kecewa tetap datang dan singgah dalam dirinya.
Begitu kental dan secara pasti menyulut kemarahan Kris setelah penolakan dari bibirnya. Joonmyeon mungkin akan menjadi pemeran utama dalam kisah ini. Menjadi bayangan hitam yang merindukan cahaya. Hembusan nafasnya mengantar kepergian Kris bersama amarahnya.
Luhan benar-benar mengantar dirinya sendiri dalam sebuah perang. Baekhyun kembali pada dirinya setelah suara Joonmyeon kembali mengudara. Senyuman kecil lolos dari bibir tipisnya. "Terlalu bodoh jika aku mengatakan keberadaanku padamu." Jawabnya.
Anggukan kepala dari Joonmyeon dimana tiga detik dalam keheningan menguap.
"Hati-hati dengan kemungkinan mereka memasang penyadap pada ponselmu." Tuturnya dan Baekhyun menyadari bahwa jika pernyataannya adalah sebuah kebenaran maka ia harus segera pergi dari hotel sebelum sebuah tim menyerbu setiap pintu keluar.
Sambungan telepon terputus ketika Luhan mendekat ke sisinya dengan sebuah ransel besar di punggungnya. Menyodorkan satu cup kopi hangat di depan wajahnya. Ketenangan Luhan membuktikan kekeliruan analisanya.
"Kau bertemu Kris sebelum masuk kemari?" tanya Baekhyun dan Luhan mengingat sejenak sebelum menggelengkan kepalanya. Kegelapan menjadi hal yang menarik dalam perbincangan mereka malam itu. "Kau pasti akan segera berhadapan dengannya." Ucap Baekhyun di belakang punggung Luhan.
Gumaman malas mengantarkan pemahaman akan sebuah kejengahan ke telinga Baekhyun. Luhan berdecak kesal dalam langkahnya menuju sisi tepi ranjang. Ransel besarnya terlempar bersama tubuhnya yang merapat pada lembutnya pembaringan.
"Berhentilah membuatku terlihat begitu menyedihkan?" sahut Luhan menutup kedua matanya. Baekhyun menyadari akan sebuah keletihan yang sarat tergambar di wajah Luhan. Dan semakin lama ia sadar telah melewatkan banyak hal dari Luhan.
"Kakek tua itu sedang mencari kacamatanya. Tongkat bantunya terjatuh pada sisi barat." Tutur Baekhyun sambil menyesapi kopi dalam genggamannya. Kata-kata acak yang terasa aneh dan tidak bermakna.
Begitulah Baekhyun yang selalu dikenalnya. Luhan tersenyum dan bangkit dari pembaringannya. Meraih kembali gelas kopi yang sempat diabaikannya. Makna yang tersampaikan membuatnya tersadar akan waktu yang dimilikinya. "Selama itukah?" tanya Luhan, lebih pada dirinya sendiri.
Tengah malam perlahan menjelang dalam penantian kedua sosok yang berlindung dalam kegelapan. Terlalu banyak hal yang dilakukan Luhan dalam keremangan. Baekhyun rasa ia telah kehilangan saat seperti ini untuk beberapa bulan terakhir ini.
Dalam ketekunan Luhan membuat peta-peta yang tersusun rapi, Baekhyun cukup mahir memilih waktu untuk menyela perkataan Luhan. Sebuah dering singkat mengantarkan kedua sosok meninggalkan ruangan dalam langkah yang ringan.
Seruan yang bergulir dalam ruang dengar keduanya mengiring setiap pijakan. Dalam hiruk pikuk tengah malam yang memberi pilihan untuk setiap jiwa menghabiskan detik-detik hidupnya, Luhan dan Baekhyun punya caranya sendiri untuk memilih sebuah permainan.
Tepat di depan sebuah bangunan besar kepolisian yang menjulang tinggi, keduanya mengambil sisi yang berlawanan. Mengikuti apapun yang menjadi arahan dari suara yang terdengar. Kemungkinan pada jam yang tidak biasa seperti ini, penjagaan tidak akan begitu menyulitkan.
Sosok-sosok berseragam tidak begitu mempengaruhi Baekhyun dengan jumlah yang masih mampu terhitung dengan jarinya. Pada sisi barat gedung utama merupakan gedung baru yang merupakan tempat tujuannya.
"Beri jalan yang paling mudah untukku." Baekhyun merapatkan dirinya pada dinding salah satu sudut bangunan. Matanya bergerak liar memantau keberadaan penjaga yang kemungkinan melakukan patroli.
Kamera pengintai bukanlah hal yang menjadi urusan utamanya setelah pengalihan fungsi yang akan meluputkan keberadaannya. Sebuah bola asap berukuran kecil tergenggam pada tangan kanannya.
Menunggu perhitungan yang tepat hingga benda itu terlontar pada satu titik acak yang dipilihnya. Dua orang pria berseragam beringsut meninggalkan tempatnya dan Baekhyun menyelipkan dirinya pada sebuah kesempatan.
Berada pada sisi dalam gedung dengan manipulasi kamera pengintai bukan alasan untuk Baekhyun menurunkan tingkat kewaspadaannya. Cukup mudah untuknya tiba pada lantai dua dimana Luhan yang ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya keluar dari salah satu ruangan yang kosong.
Sudut-sudut yang memungkinkan menjadi sebuah tempat persembunyian ketika derap langkah menggema hingga ke telinga mereka. Langkah-langkah tertiti perlahan dalam ketenangan yang tercipta.
Seruan suara yang memegang pengendali terus mengalun tanpa jeda. Sebuah pintu besi merupakan satu-satunya pintu di lantai tiga dimana Baekhyun dan Luhan menghentikan langkah mereka.
Dua kali ketukan dengan ujung jarinya, Baekhyun memprediksikan seberapa tebal dan kuatnya pintu itu untuk dirobohkan dengan dorongan kaki. Satu sisi pada bagian kanan pintu merupakan kumpulan tombol dan sebuah layar kecil dengan lampu merah yang berkedip teratur.
Baekhyun mulai gelisah. Mengernyitkan dahinya guna mempertajam pendengarannya. "Bagus….kakek tua itu tidak tahu kombinasinya." Ucap Baekhyun pelan di samping Luhan yang dengan tekun meneliti alat itu dalam diamnya.
"Apakah kita harus meledakkannya?" Baekhyun hampir mengeluarkan peledak dari tas ransel yang dibawanya jika Luhan tidak menahan tangannya. "Tidak untuk sekarang. Lakukan seperti yang kita sepakati." Balas Luhan.
Cukup dengan raut wajahnya, Baekhyun menyampaikan protes akan sebuah kebingungannya. Sang pemandu memberi rambu aman. Luhan menarik sebuah kabel tipis dari jam tangan miliknya dengan sebuah penjepit kecil pada bagian ujung.
Terkait pada salah satu besi penghubung layar yang telah Luhan buka di luar kesadaran Baekhyun. Pemuda itu melirik penuh minat pada gerak tangan Luhan yang menekan tombol-tombol kecil pada jam tangannya.
"Kyungsoo? aku butuh celah pada pintu ini dalam tiga puluh detik." Ujar Luhan tenang. Baekhyun melebarkan matanya mendengar ujaran Luhan. Hitungan yang terlampau cepat untuk meminta sebuah pemecahan.
Tiga puluh detik terasa begitu panjang dalam situasi yang mendebarkan. Baekhyun memutar kepalanya pada ujung lorong. "Seseorang sedang menaiki tangga menuju kemari." Seru Baekhyun cukup pelan mengingat suasana tenang disana.
Jelas sekali kecemasan terbaca pada kedua matanya yang bergetar.
Baekhyun beringsut mencari celah pada langit-langit. Berusaha menemukan sebuah tempat yang akan mengaburkan keberadaan mereka berdua. Degupan jantungnya kian bertalu seiring derap langkah yang semakin mendekat pelan.
Beberapa detik terakhir penantiannya, Luhan mengeluarkan ponselnya. Ujung telunjuknya menari pada layar. "Mainkan." Ucapnya singkat.
Sebuah bunyi tunggal terdengar pelan seiring dengan sebuah lampu berwarna hijau yang menyala tepat di atas sisi pintu. Baekhyun tersenyum girang dan berlari masuk lebih dahulu. Luhan melepas kabel penghubungnya dan menyusul Baekhyun.
Pintu tertutup dan lampu hijau kembali padam tepat ketika sepasang kaki dengan sebuah senter dan pemukul di tangannya tiba di lantai tiga yang senyap.
*…*
Dengan berbekal sebuah senter, Luhan dan Baekhyun tersenyum penuh arti di antara jajaran lemari besi setinggi tubuh mereka yang berbaris layaknya serdadu dalam perang yang membangun sebuah benteng.
"Ini terlalu banyak….dan juga terlalu gelap." Baekhyun menggeleng pelan, tak percaya. Luhan mengambil langkah lebih dulu. Tenang, walau tenggat waktu yang menyadarkannya untuk bergerak cepat. "Kita harus cepat." sahut Luhan memenuhi seisi ruangan besar itu.
Penerangnya menyorot satu per satu lemari besi. "Bagaimana menemukan berkas milik kita di antara jutaan kemunginan. Ini akan memakan waktu yang sangat lama." Keluh Baekhyun dengan rengekannya.
"Kau hanya perlu menemukan rumus yang dipakai untuk menyusun semua berkas itu. perhatikan setiap lemari yang kau lewati." Balas Luhan sedikit berteriak. Baekhyun mendengus kesal. "Berbicara memang lebih mudah." Cibirnya.
Ratusan hari dihabiskannya bersama Luhan dan itu memberi Baekhyun pemahaman bagaimana cara berpikir Luhan selama ini. Satu sisi Luhan bermain penuh malam ini. Meninggalkan sifat riang dan cerianya.
Berada pada sisi yang berjauhan membuat Baekhyun tidak begitu jelas mengetahui apa yang Luhan lakukan. Butuh waktu yang memuakkan hingga Baekhyun mengerti akan perkataan Luhan sebelumnya.
Melupakan batas waktu yang tersisa, suara teriakan Luhan berkali-kali mengudara dan berlomba dengan derap langkah kaki Baekhyun yang memburu. Luhan bergerak dua kali lebih cepat darinya.
"Baekhyun! Temukan milikmu. Aku tidak menemukannya disini." Teriak Luhan dari sisi kejauhan yang gelap.
Jika bukan karena permintaan Luhan dengan ribuan alasan yang logis dan penuh perhitungan, Baekhyun akan lebih memilih untuk meledakkan sekaligus tempat menyebalkan ini. Ia harus kehilangan waktu tidurnya dan berakhir dengan berlari-lari seperti tikus got yang mencari makan.
Disini merupakan otak dari segala sistem yang menyimpan catatan bagi tiap-tiap mereka yang berurusan dengan para penindak hukum. Lembar-lembar kertas akan begitu mudah hangus. Dengan mengambil otak dari segala informasi, maka segala celah dan corengan yang tergambar akan menghilang bagaikan tersapu badai.
Baekhyun tersenyum senang ketika ia menemukan tempat yang ditujunya. Dengan beberapa hal yang bersangkutan dengan pribadinya, sebuah laci kecil terbuka dengan pendar kemerahan yang bersinar.
"Sial!" Baekhyun mengumpat dalam hatinya ketika pintu utama terbuka sementara ia masih membutuhkan beberapa detik untuk mendapatkan apa yang dicarinya. Ketukan langkahnya membuat ritme jantung Baekhyun berdetak cepat.
Lampu kemerahan sialan itu akan menjadi petaka jika terus menyala. Dan Baekhyun semakin geram ketika lempengan tipis itu tak juga diraihnya.
Sorot cahaya tertuju pada tempatnya terdiam. Perlahan mendekat dan Baekhyun merapat pada sisi lemari besi. Terlalu banyak langkah kaki dan itu mengindikasi kehadiran beberapa pihak lain ke dalam ruangan ini.
Luhan mengalami keterdesakan pada sisi yang lain. Sorot lampu senter makin bersilang ke setiap penjuru. Tatapan mata menajam dalam kegelapan. Luhan lebih tenang bergeser pada sisi yang menyembunyikan dirinya.
Memperhitungkan kesempatan yang akan melewatkan dirinya dari sorot senter. Seorang penjaga tepat berada di belakang tubuhnya, hanya berbatas sebuah lemari besi setinggi badannya.
Perhitungan gerak langkahnya hanya ditentukan Luhan dari ketukan-ketukannya pada lantai. Pada sisi yang lain derap langkah yang tidak menguntungkan hampir mendekat sementara dirinya tidak memungkinkan untuk beranjak.
Sebuah keuntungan manakala pintu keluar terbuka maksimal, namun Luhan butuh beberapa menit untuk satu hal yang belum diperolehnya. Samar terdengar suara bel berdering tanpa henti hinggap ke ruang dengarnya.
Para penjaga terlonjak meninggalkan tempatnya. Keheningan yang tercipta memberikan kepastian pada situasi yang kondusif. Luhan bisa bernafas lega ketika satu per satu penjaga meninggalkan ruangan.
Kegelapan total kembali menjelang seiring dengan pintu yang kembali merapat. Luhan menyalakan penerang. "Baekhyun?" panggilnya pelan di antara samar alarm yang terus mendengung.
"Baekhyun?" ulangnya setelah kediaman tanpa balasan yang diharapkannya. Penyisiran lokasi merupakan hal yang terpikir olehnya sebelum suara dari sambungan yang tetap terhubung membeberkan posisi Baekhyun yang sungguh mencengangkannya.
Dalam pencarian terakhir yang begitu singkat, sebuah nama tergenggam dalam kendalinya. Keramaian yang terjadi di luar seharusnya bisa ditekan hingga Luhan menjejak pada tujuan terakhir.
Meninggalkan tempat bermula bersama semua hal yang berhasil diraihnya. Sisi gedung pada bagian barat terlihat begitu tenang setelah kegemparan di sisi yang lain.
Setiap perhatian teralihkan pada kepulan asap yang membumbung tinggi dari gedung lain yang menyimpan kobaran-kobaran menyala. Luhan menajamkan mata untuk segala sisi teraman yang mampu dilewatinya.
Berbekal sebuah keyakinan yang buram, Luhan punya dua puluh menit seperti yang diberitahukan oleh pemandu yang mulai gelisah. Baekhyun mengirim pesan pada tempat dimana seharusnya ia berada.
Luhan sedikit mengabaikan perintah yang didapatinya. Kakinya membawa pada pijakan yang lain.
Melangkah pada sisi gedung yang berseberangan. Luhan masih mendapati hal yang tidak berubah. Ruangan Daehyun masih pada tempat yang sama sekalipun posisinya mengalami perubahan.
Melewati lorong yang begitu sempit cukup menyita waktu berharga yang dimilikinya. Pada jejakan pertama dalam ruangan Daehyun yang tidak begitu besar, Luhan membuka setiap laci dengan teliti.
Setelah hal yang diperlukannya tersimpan rapi dalam tas ranselnya, Luhan mengulang kembali langkah awalnya. "Bisakah kau buat api yang lebih besar, Byun." Tuturnya. Kesanggupan mengalun dalam pendengarannya.
Kebisingan mendominasi kegelapan malam. Sirine berlomba dengan teriakan yang nyaring mengudara. Ayunan langkah kaki tersebar acak dalam kepanikan yang melingkupi. Tidak cukup sulit bagi Luhan menemukan ujung permainannya malam itu.
Sebuah sedan hitam metalik membawanya menjauh dari kekacauan. "Besok…hal ini akan menjadi berita yang sangat besar." Ucapnya pada dua sosok yang berdampingan pada kursi depan.
Kyungsoo terfokus pada kemudi. Melirik sekilas melalui kaca spion yang merefleksikan sosok Luhan dengan kertas-kertas pada kedua tangannya.
Baekhyun tertawa pelan mengadukan punggungnya. Hiburan yang cukup mengesankan dan mungkin setimpal dengan segala kesulitan serta kuantitas waktu istirahatnya yang terpangkas. Rasa kantuk yang memberatkan kedua kelopak matanya sirna dalam sekejap.
"Setidaknya ini tidak akan sia-sia, bukan?"
Suara klakson dan deru mesin kendaraan semakin intens merasuki ketenangan Baekhyun. Denting-denting sendok yang beradu menggelitik kesadarannya. Pagi yang tenang semakin beranjak selama penantiannya.
Wajah-wajah silih berganti mengisi ruang pandangnya. Sebuah mobil sport berwarna hijau berpadu hitam dan putih yang pas terparkir tepat di depan café. Netra Baekhyun mengikuti langkah kaki jenjang seorang pemuda yang perlahan mendekati pintu masuk.
Tubuh tinggi yang proporsional. Kulit putih menghias jiwa muda yang kuat, lincah dan pekerja keras. Dua mata itu menyempurnakan sebuah kamuflase. Tipikal pribadi yang mampu melakukan hal melebihi ekspektasi yang diharapkan.
Tatanan dan warna surai yang berkilau di bawah hangatnya mentari itu mengingatkan Baekhyun akan seseorang. Lonceng berdenting pelan saat pintu terbuka. Pemuda itu memutar pandang pada setiap kepala.
Baekhyun belum memutus kontak matanya dengan kedua jemari tangan yang saling terkait di depan dadanya. Hanya ada dua detik hingga pemuda itu melemparkan sebuah kunci mobil pada Baekhyun dan berlalu tanpa sepatah kata sapaan.
"Pribadi yang menarik. Kuat….jiwa saingnya sangat tinggi." Ucapnya menatap lekat sang pemuda yang menunggu untuk kopi paginya. Setelah sebuah pesan tersampaikan, Baekhyun meninggalkan tempatnya.
Sebuah kepercayaan adalah hal termahal yang sulit Baekhyun raih. Banyak hal yang akan dipertaruhkan untuk menyempurnakannya atau ketika ia menghancurkannya.
*…*
Mungkin Luhan melupakan seberapa besar ketegangan syaraf dan sendinya. Melewati batas-batas yang mengharuskan dirinya rehat untuk beberapa saat. Ia bukanlah pribadi dengan ambisi yang membara hingga memaksakan setiap keadaan untuknya.
Akan lebih tepat jika itu semua merupakan kerja kerasnya. Menempatkan sebuah kesempatan terakhir pada tiap-tiap menit yang dilewatinya. Dengan sebuah keterhubungan akan menghapuskan berbagai kata penundaan dalam kamus hidupnya.
Tidak lebih baik dari Baekhyun yang masih sempat meraih periode dalam ketenangan dunia mimpinya. Luhan tidak mempedulikan waktu-waktu yang menjadi batasan. Beban-beban pada kedua pundaknya terasa lebih kuat daripada perekat kelopak matanya.
Sebelum Kyungsoo menyadari seberapa tingginya matahari menjulang berbagi cahayanya ketika ia membuka mata, Luhan tidak kehilangan satu detik pun dalam kesia-siaan. Kedua kakinya mengikuti perintah, menjalankan setiap rencana yang tersusun rapi.
Tiba pada malam yang Luhan nantikan dengan rentetan telepon dari Kyungsoo layaknya gerbong kereta api. Seperti kesepakatan yang telah terucap, Luhan memacu kendaraannya ke sebuah dermaga yang dijanjikan.
"Situasi aman. Kau bebas bergerak." Luhan mengangguk puas setelah seruan itu. Sebuah senyuman tersembunyi di balik masker yang menutup sebagian wajahnya. Anak rambutnya menari oleh deru angin dari jendela mobilnya yang terbuka.
Sorot lampu yang berpendar cukup untuk menerangi jalannya. Luhan menyapukan pandangnya ke segala arah dengan mengurangi kecepatan mobilnya. Sengaja ia berputar untuk memastikan keamanan tempat itu.
Kendaraan yang membawanya berhenti pada ujung dermaga lima dimana sebuah yacht menanti dengan anggunya. Luhan memindahkan beberapa tas besar dari bagasi mobilnya yang terlihat penuh ke badan kapal.
Dua orang pria berbadan gempal dan kekar membantu mengopernya. Satu dengan wajah persegi tegas dalam bingkai mata sipitnya yang tajam dan satu yang lain yang lebi pendek namun terlihat lebih tenang.
Luhan sejatinya adalah pribadi yang penuh perhitungan matang, cerdik dengan segala pemetaannya yang rapi serta kecermatan dalam kewaspadaannya yang tinggi. Titik-titik keberhasilan sudah terlihat di depan mata untuk diraihnya.
Tetapi ia melupakan bagaimana perangai Daehyun dengan segala latar belakang kisah yang mengiringi langkah hidupnya. Melupakan bahwa dirinya adalah satu-satunya nama yang menjadi pengisi buku jurnal Daehyun.
Tidak peduli seberapa besar kegemparan yang melanda kepolisian pusat. Kerusakan serta noda-noda hitam yang menjadi cat barunya. Kepanikan dan desas-desus yang belum surut mengenai pelenyapan dokumen penting bukan hal yang dapat menghalangi langkah Daehyun.
Mengesampingkan pula bahwa dirinya pun kehilangan beberapa hal yang selalu disimpannya dengan begitu rapi. Namun, Daehyun sangat paham siapa pelaku di balik semua itu tanpa harus bersusah payah memutar otaknya.
Semua tenang di bawah perintah Daehyun, tidak terkecuali Kris dan Joonmyeon yang berada di sisi yang berlainan. Setiap sudut terisi oleh pihak-pihak yang siap menodongkan senjatanya. Berbagai penjuru merupakan jalan buntu bagi Luhan.
Setelah ribuan menit dalam perdebatan yang begitu sengit dan menegangkan. Berbagai argument dan sanggahan saling bersaling silang memenuhi ruangan. Deru emosi bergejolak dalam suasana panas yang mendominasi.
Kris dan Joonmyeon tentu masih ingat segala tindak tanduk Luhan selama mereka menapak pada jalan yang sama. Satu kunci bagi Daehyun untuk meraih apa yang diinginkannya.
Tidak sedikitpun Daehyun melepas pandang dari sosok Luhan. Tidak perlu untuk memaparkan satu per satu detail hal yang tergambar dalam sorot matanya. Melihat caranya menggeser Jongdae cukup membuktikan seberapa besar luapan emosi dalam dirinya pada Luhan.
Luhan sempat menoleh ke sisi kanan dan kiri sebelum berpindah pada kapal yang perlahan meninggalkan dermaga. "Predator bertahan. Semua amphibi bergerak." Perintah Daehyun lewat sebuah alat komunikasi jarak jauh dalam genggamannya.
Keluar dari tempatnya dimana dirinya memindai Luhan. Daehyun beringsut mendekat pada mobil Luhan yang ditinggalkannya. Sebelumnya, Luhan selalu punya cara untuk lolos pada transaksi narkoba yang dilakukannya. Dan Daehyun geram dengan semua fakta itu.
"Sebuah kapal lain mendekat. Kami menunggu perintah." Suara Joonmyeon dari seberang menyentak dirinya. Daehyun merendahkan dirinya, berlutut di tepian dermaga. "Tunggu hingga mereka merapat dan semua kuasa beralih pada kalian." Ucapnya singkat.
Kembali pada sebuah perencanaan, ada alasan mengapa Daehyun bertahan di tepian sementara Kris dan Joonmyeon melenggang langsung untuk menyergap Luhan.
*…*
"Kau dengar itu Kris?" tanya Joonmyeon melalui sambungan yang terselip di telinganya. Gumaman singkat sebagai balasan yang cukup lirih untuk didengarnya. Setiap tim mempersempit jarak dengan kapal milik Luhan. Perlahan.
Setenang mungkin, berhati-hati untuk tetap berada pada persembunyian. Terlalu banyak yang telah mereka lakukan dan itu membuat Kris dan Joonmyeon tidak memerlukan koordinasi yang intensif untuk menentukan langkah.
Joonmyeon mengamati detail-detail sosok Luhan. Mulai bertanya-tanya akan perubahan pada mata Luhan yang mencolok di matanya. Tetapi ia memahami hal itu sebagai konsekuensi akan renggangnya hubungan mereka.
Joonmyeon mengumbar senyumnya yang menyiratkan berjuta makna di balik itu semua. Ia bisa meyakini bahwa Kris berada pada titik tertingginya. "Kris….tidakkah kau merasa kalau Luhan…."
"Berhentilah. Aku tidak peduli pada apapun yang akan kau sampaikan." Potong Kris yang mampu membungkam Joonmyeon. Ia mengendikkan bahunya acuh.
Mata Joonmyeon menyipit kala menyaksikan seorang gadis yang turut terlibat pada kapal lain yang mendekat. Menjadi sulit dimengerti dirinya karena kedua tangan gadis itu terikat dan sebuah kain menutupi matanya.
Kedua kapal saling merapat. Semua tim beranjak dari posisinya setelah aba-aba Kris dan Joonmyeon. Luhan hampir mengoper tas besar pada pihak yang bersangkutan sebelum tim pimpinan Kris mengepungnya.
"Angkat tangan! Kalian terkepung!"
Luhan menurutinya hingga tas besar itu jatuh bebas pada lantai kapalnya. Tanpa terkecuali sang gadis patuh karena tidak ada celah untuk lari dari tempat itu. Situasi menjadi begitu tegang dalam teriakan yang menggema.
Joonmyeon beringsut cepat ke sisi sang gadis. Melepaskan ikatan dan kain yang menutup matanya. Ketakutan terasa kental di wajah cantiknya yang pucat. Begitu hampa seolah ia kehilangan sebagian jiwanya.
Luhan menyerah dalam kepungan. Ia diam walaupun Kris mendorong tubuhnya hingga terjungkal ke sisi lantai. Kakinya menekan kuat dada Luhan bersamaan dengan sebuah pistol yang melekat erat di dahi Luhan.
Satu tangan Kris lain yang bebas mengerat kerah baju Luhan dengan erat. Wajah Kris mengeras berhadapan dengan Luhan. Tatapan mata itu seolah menguliti Luhan hingga ke seluruh tulangnya.
"Kau! Penghianat sialan! Membusuklah di penjara!" ujar Kris penuh kegeraman dalam nada bicaranya yang pelan. Joonmyeon berusaha untuk menarik tubuh Kris tetapi berakhir dengan kemarahan Kris yang begitu besar.
Kris menarik kasar masker yang menutupi wajah Luhan. Hanya dua detik hingga Kris melayangkan pistolnya untuk membenturkannya dengan kepala Luhan.
Joonmyeon mengalihkan pandangannya ke sisi lain. Menjaga ketenangannya dalam tatapan mata para prajurit berseragam di bawah kendalinya. Menyembunyikan rasa iba akan wajah yang berada di hadapannya saat ini.
.
.
.
.
.
T.B.C
**…..**
Terima kasih untuk para reader yang berkenan membaca satu lagi ff gagal dari aku. Kekurangan tentunya masih sangat menjamur disini.
