Banyak sekali kutipan penuh arti yang kubaca dari novel-novel yang sudah kulahap sepanjang hidupku. Keadaan orangtuaku yang tanpa henti berteriak satu sama lain memberiku cukup banyak waktu untuk memikirkan banyak hal dan membaca, salah satu kegiatan yang membuatku masih berpijak di bumi.

Bagaimana ketika aku diberi kebebasan untuk membayangkan hal tertulis, memberi sanggahan-sanggahan di kepalaku dan memenuhi imajinasiku dengan begitu banyak sampai seolah ada banyak warna yang meledak-ledak. Banyak rangkaian kata yang abstrak kemudian disusun dengan apik dan terkadang tertukar satu sama lain, tapi kepalaku tahu intinya, bahkan akhir ceritanya. Kemudian warna lainnya akan muncul dan membuat kepalaku mulai tidak fokus pada satu hal.

Bayangkan begini, seperti kau sedang berada di taman dengan cuaca cerah, kau berada diatas tanah berumput bersama seseorang yang cantik dan dia tengah berbaring, kemudian kau sadar hanya orang itu yang berbaring sementara kau hanya bunga yang sedang mekar disampingnya. Kau cantik, dapat melihat banyak hal, tapi hanya itu yang bisa kau lakukan, hanya memperhatikan birunya langit, pias cahaya matahari di rambut orang itu, kilau kulitnya yang putih bersentuhan dengan embun di rumput yang mulai meninggi, dan merah apel yang di genggamnya ketika mulai tertidur. Lalu tiba-tiba seperti film yang berganti layar, gelapnya warna hitam pekat, layaknya warna rambut eboni, atau mata tajam terfokus, atau suasana pertambangan batu bara di bawah tanah, warna hitam menyedotku sampai aku lelah. Lalu kepalaku langsung dipenuhi warna putih salju di musim dingin yang menuruni Sungai Han sampai membeku dan tidak memberikan kesempatan bagiku merasakan hangat lagi. Lalu kembali menjadi biru langit yang jernih seperti atmosfir murni diluar angkasa, merasakan pasir putih sehalus satin diantara jemari kaki, lalu menyelam ke bawah laut tapi aku masih bisa bernafas.

Terkadang imajinasi yang terkurung itu menakutkan sekali, aku ketakutan dan kedinginan hingga frustasi.

Namun ada kalanya imajinasi bahkan tidak bisa menyelamatkanku dari situasi dalam dunia nyata.

Mungkin pukul dua atau tiga pagi ketika ayah membangunkanku dan menangis kencang dalam pelukanku. Keadaannya sedikit canggung ketika logikaku terpaksa bekerja saat otakku belum dapat menyesuaikan diri untuk menyadari ayah menangis. Aku masih berbaring dan dia memeluk perutku dengan erat, raungan dari tangisannya mulai mengganggu otakku dan entah muncul darimana ada keharusan untuk menghentikkan tangisan Ayah, jadi aku mengusap punggung kokohnya. Sudah lama sekali, sepuluh tahun sejak aku melihat ayah menangis, yang ku sadari kali ini pun dengan alasan orang yang sama.

"Ibumu Luhan, dia ditemukan overdosis di rumah sewanya kemarin."

Pekatnya gelap dibawah pertambangan batu bara semakin bertambah, dan kali ini oksigen mulai menghilang juga dan aku sesak.

.

.

.

Keesokan harinya aku dan ayah menuju Gyeonggi, diantar Sehun dan tidak satupun dari aku dan ayah menemukan alasan untuk menolak keikut sertaan Sehun. Tidak ada yang menjamin kami tidak akan saling berteriak dan menangis menyalahkan apapun yang bisa disalahkan dalam perjalanan. Kami tiba di Gyeonggi nyaris ketika matahari tenggelam dan sepanjang hari itu pula aku merasakan ketakutan berlebih pada kegelapan. Aku tidak pernah memiliki masalah dengan berada di kegelapan bahkan dalam waktu yang lama, tapi sekarang aku kehilangan kemampuan bergerak dan bernafas.

"Jangan ditahan, Sayang." Bisikkan di sebelahku itu membuatku menoleh, diikuti dengan genggaman di antara jariku. Setengah perjalanan Sehun membiarkanku menatap kosong keluar jendela mobil sementara dia mengemudi. Ayah tampak lelah di kursi belakang walau sebelum berangkat yang dilakukannya hanya duduk termenung di sofa ruang utama.

"Aku tidak menahan apapun, Sehun."

Sehun tahu ketika aku tidak protes dengan panggilannya, atau ketika aku menghela nafas dan membuang pandanganku kearah lain selain padanya, dia harus menyudahi pembicaraan dan membiarkan aku sibuk dengan diriku sendiri.

Kami tiba di lokasi tujuan kami dan disambut dengan isak tangis keluarga, yang sebagian besar aku tidak tahu eksistensinya selama hidupku (sekali lagi mungkin karena aku yang terlalu cuek akan kehadiran mereka, atau mereka yang terlalu sibuk untuk peduli keluarga kami selain secara finansial). Aku dan ayah serta Sehun berjalan masuk dan mendapati foto ibu dengan senyuman tipis dan riasan tebal seperti biasa, rupa yang sama yang mengisi masa kecilku yang begitu…

Entahlah.

Aku tidak bisa menemukan kata tepat yang menggambarkan betapa sialnya aku tapi aku juga terlalu lelah untuk peduli.

Saat itu aku sadar, ada bagian hatiku yang masih mendendam pada ibu. Semua peristiwa itu, pukulan, teriakan, cubitan, kata-kata memalukan, terlalu berakar di dalam hatiku hingga tidak ada kesedihan dalam hatiku. Hanya marah, dan takut, dan iba. Ketika aku melihat ayah berhasil menahan tangisnya dan keluar lebih dulu, aku dan Sehun masih berdiri didepan foto ibu. Aku bisa merasakan genggaman tangan Sehun yang mengerat dan usapan di punggungku setiap kali aku menghela nafas, mungkin dia menduga aku menahan tangisan, tapi sungguh aku hanya kesulitan berjalan keluar saat ini.

"Luhan?"

Panggilan itu membuatku menoleh dan mengernyitkan alis, mungkin kerabat lainnya yang tidak bisa kukenali, "Ya?"

"Halo, aku Liu Wei. Suami ibumu."

Oh, jadi dia menikah dengan pria asal Cina lagi.

"Ayahmu datang?"

"Ya, ayah sudah keluar lebih dulu." Jawabku sekenanya. Genggaman tangan Sehun mengerat, dia menyadari suaraku yang bergetar.

"Dan pria di sebelahmu?"

"Nama saya Oh Sehun. Saya tunangan Luhan."

"Oh tentu saja. Halo Oh Sehun, aku suami ibu Luhan, jadi secara teknis aku adalah ayah tiri Luhan."

Ya, secara teknis. Fakta yang tidak dapat kuterima tapi juga tidak bisa kupungkiri, jadi aku hanya menaikkan satu alis.

"Kuasumsikan kalian akan menikah kalau begitu?"

"Ya, kami masih merencanakan satu dan lain hal." Jawab Sehun. Aku bersyukur dia sama sekali tidak menyebutkan apapun mengenai detailnya.

Pria itu mengangguk, "Kau mirip sekali dengan ibumu, Luhan. Hanya saja ibumu lebih garang." Dia tertawa pahit, "Dia wanita yang kuat."

Wanita yang kuat tidak akan bunuh diri dengan overdosis obat-obatan.

"Mohon maaf, tapi kami tidak bisa berlama-lama. Kami masih ada urusan. Titipkan salam dariku dan ayah pada kerabat yang lain."

Aku dan Sehun bergegas keluar dari rumah itu, bangunan yang baru kali ini ku datangi dan ternyata sudah menjadi tempat tinggal Ibu selama sepuluh tahun. Tidak terlalu bobrok, tapi jelas jauh sekali jika dibandingkan dengan kehidupannya yang dulu bersama Ayah. Aku tidak banyak bercakap-cakap dengan Liu Wei tadi, tapi aku sempat mendengar dari kerabat yang lain bahwa Ibu bekerja sebagai pegawai swasta, dan entah apa motivasinya menenggak begitu banyak dosis obat tidur karena kehidupannya tampak normal terutama setelah menikah.

Itulah pemikiran orang lain. Selalu seperti itu, orang-orang akan berasumsi seperti apa yang mereka lihat. Dulu pun begitu.

Mereka tidak tahu, bahwa tidak pernah ada kehidupan yang tetap 'normal' setelah dua orang memutuskan untuk menjalin sebuah pernikahan. Entah itu pernikahan yang bahagia atau buruk seperti kedua orang tuaku dulu. Aku tidak bisa menilai bagaimana kehidupan Ibu setelah berpisah dari Ayah, tapi aku tahu bagaimana Ibu. Dia tidak bahagia, atau tidak puas dengan apa yang dia punya.

Mungkin.

Karena selama hidupku, satu-satunya hal yang kukenali dengan baik dari Ibu adalah pedasnya tamparan beliau di pipiku atau cubitannya.

Aku mendapati diriku sudah terduduk di kursi penumpang depan dan Sehun sedang memasangkan sabuk pengaman untukku. Ayah sudah duduk manis di kursi belakang dengan sandaran kursi yang direnggangkan ke belakang, mungkin mencoba mencegah dirinya sendiri dari menangis dan memutuskan tidur (atau hanya menutup mata, entahlah). Sehun tidak mengatakan apapun ketika mulai mengemudi membelah pekatnya langit malam, sepanjang perjalanan dia terus melirik kearahku yang tidak mengindahkannya, dia menyadari sikapku yang menghindar dan menghela nafas. Sedikit banyak aku merasa bersalah, tapi aku sama sekali tidak bisa mengeluarkan kata apapun sekarang dan untunglah Sehun mengerti aku butuh ketenangan dan dukungan.

Jadi Sehun terus menggenggam tanganku sepanjang perjalanan.

Aku tertidur ketika merasakan elusan lembut tangannya yang besar di kepalaku.

Pertambangan batu bara di kepalaku masih gelap gulita, tapi kali ini aku mulai menemukan oksigen.

.

Ayah langsung masuk kamar ketika kami masuk ke rumah, aku dengan baik menawarkan teh hangat untuk diantarkan kekamarnya, tapi ayah menolak dan mengatakan ingin tidur saja. Jadi aku masuk ke dapur, Sehun masih mengekori di belakangku. Dia tidak mengatakan apa-apa selain duduk di meja makan dan membiarkan aku menyuguhkan segelas teh untuknya. Dia menerima dan menatapku setelah tegukan kedua.

"Aku belum sempat bertemu dengan ibumu."

"Tidak apa-apa. Itu tidak akan mengubah apapun."

"Tentu ada, jika saja aku memiliki kesadaran untuk melakukan itu juga, kita akan menikah dengan restu penuh kedua orangtuamu."

"Tidak akan mengubah kenyataan Sehun, dia tetap akan meninggal juga."

"Hanya saja…"

"Sudah. Kita tetap akan menikah."

"Lu… kenapa kau tidak pernah berbagi tentangnya?"

"…"

"Tidak akan ada rahasia di antara kita, ingat?"

"…"

"Cobalah terbuka padaku."

"Aku tidak suka," Aku menghela nafas, kepalaku panas karena berusaha keras untuk menyingkirkan pening, "Aku tidak tahu apa yang kuketahui tentangnya."

"Ibu selalu seperti itu di kepalaku, berteriak-teriak, kemudian ayah akan membalas seruannya dan aku mendengar suara pecahan dari luar kamar," Rasa panas itu mulai berpindah ke mataku dan jemariku saling meremas satu sama lain, "Aku tidak tahu apa salahku sampai mereka seperti itu, tapi aku sendirian setiap waktu dan mereka tidak mau mendengar ketika aku menangis."

"Hei, hei," Sehun berpindah duduk di sebelahku dan melepas remasan jariku yang mulai saling mencakar, dia menggenggam tanganku lembut, "Pelan-pelan."

Aku mendongak setelah merasakan telunjuknya memegang daguku untuk menatap langsung kematanya. Mata yang siap menerima apapun yang akan aku racaukan seberapapun buruknya.

"Aku ingat pernah mendapat cubitan di pahaku, lalu aku terjatuh di lantai karena ibu menamparku setelah ibu mengatakan bahwa aku pencuri, padahal itu ulah Ilgook, tapi tidak ada satu orang pun yang percaya karena Ilgook anak pintar di sekolahnya. Paman pernah memarahi ibu, tapi paman tidak cukup kuat untuk bangun dari ranjang rumah sakit lagi, jadi ibu kembali meneriakiku. Ayah tidak pernah pulang jika belum jam sembilan, lalu pergi kerja lagi ketika aku baru bangun untuk sekolah. Di hari Minggu ibu akan membawaku ke gereja untuk mendengar khotbah untuk saling mengasihi, tapi ibu akan berteriak lagi ketika di rumah, Sehun." Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai meracau dan merengek tidak tahu malu, tapi aku tidak bisa menahannya. Sehun memelukku dan membawa tubuhku duduk di pangkuannya dengan mudah, tapi aku tidak bisa berhenti mengadu setelah bertahun-tahun kutahan sendiri, "Tolong…"

Aku bisa merasakan tubuhku terangkat ketika Sehun berdiri dan berpindah untuk duduk di sofa ruang tengah, tanpa menyalakan lampu dia menatap wajahku, "Hal buruk apa saja yang sudah kubiarkan terjadi padamu, Sayang?" Gumamnya. Aku masih sesenggukan tapi dia mengelus punggungku lagi dan aku mulai tenang, "Aku tahu kau masih belum bisa memaafkan ibumu, tapi kau harus belajar melakukan penerimaan padanya. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah mendoakan ibumu dari sini, oke?" Aku mengangguk patuh, karena itulah satu-satunya yang bisa kulakukan.

"Aku berjanji, demi apapun yang ada di semesta, tidak akan ada lagi yang akan menyakitimu. Dengan cara apapun."

Kepalaku yang rumit mulai membuat sanggahan sarkastik, secara otomatis seperti sudah terbiasa, mengatakan kemungkinan bahwa Sehun dengan kata-kata dan sikap yang semanis inipun bisa menyakitiku. Tapi aku percaya padanya.

Aku percaya pada Oh Sehun begitu saja. Seolah kemungkinan di masa depan bahwa dia akan menyakitiku sama sekali tidak ada, bahwa jikalau pun dia pergi meninggalkanku juga, aku akan merasa bahagia.

Walau kenyataannya saat ini, Sehun adalah satu-satunya orang di semesta yang mampu menyakitiku paling parah.

Tapi aku percaya padanya.

Kali ini cuaca di kepalaku mulai membaik, hitam pekat pertambangan itu mulai menghilang karena aku menemukan jalan keluar. Namun langit tidak sebagus itu, matahari masih ditutupi awan hitam mengerikan yang siap menumpahkan air ke bumi.

.

.

Sehun pernah datang pagi-pagi sekali pada akhir pekan, menyodorkan sebuket bunga mawar merah darah dengan cengiran yang membelah wajahnya. Kulitnya masih seputih kertas dan tubuhnya tampak kuat seperti patung lilin, kali ini dia memadukan jins dengan kaos abu-abu dan sepatu sneakers hitam, dia mengenakan jaket bomber warna abu-abu, dan kuakui dia tampak sangat keren. Setelah kupersilahkan masuk dan kusuguhkan segelas kopi (aku selalu mencibir tiap dia meminta dibuatkan minuman ini karena Sehun bisa meminum tiga gelas dalam sehari, tapi raut wajahnya yang tampak santai setiap kali menghirup aroma kopi, aku tidak bisa mengatur hal satu ini).

"Ayo jalan-jalan."

"Mau kemana?"

"Menghabiskan akhir pekan bersama calon istriku."

"Aku ada janji dengan seseorang."

"Kau tidak." Oh, sial.

"Bagaimana kau tahu aku tidak sedang memiliki janji dengan siapapun hari ini?" Cecarku setengah menuntut.

"Aku sudah menanyakan pada Baekhyun dan Kyungsoo, lagipula kau tidak akan mau menghabiskan di akhir pekan dengan siapapun selain mereka."

"Aku tetap punya teman, bodoh."

"Ganti saja pakaianmu, demi Tuhan. Langsung turun kebawah yah? Aku akan menyuruh pelayanmu menyiapkan makanan untuk kita."

"Gunakan kata 'meminta' jangan 'menyuruh'. Lagipula kita akan pergi kemana? Kita bisa beli ramyeon ditengah jalan kan?"

"Banyak makan ramyeon tidak bagus untuk kesehatan, Luhan. Lagipula tidak cocok jika dibawa piknik."

"Apa?"

"Piknik. Sekarang pakai baju yang cantik yah."

Ketika dia setengah mendorong tubuhku untuk naik ke kamarku di lantai dua, aku menemukan diriku sedikit kebingungan. Didalam lemariku kebanyakan berisi pakaian kantor konservatif, beberapa hoodies dan kaos oblong, juga banyak sekali celana jins (aku memiliki ketertarikan lebih dengan celana jins). Ada beberapa mini dress, tapi dari potongan dan bahannya sangat tidak cocok di pakai saat piknik. Jadi aku memutuskan akan menyeimbangkan pakaianku dengan Sehun saja, dengan rok abu-abu bermotif rumit selutut, satu-satunya rok yang cocok kubawa piknik dengan bahannya yang ringan, aku juga memakai atasan pastel dengan sepatu yang juga berwarna pastel. Kujejalkan beberapa perintilan yang penting dan tidak penting ke dalam tas slempang hitamku. Tidak buruk.

Kami berangkat setelah aku membantu Bibi Seo di dapur, memasukkan roti lapis, jus kemasan yang selalu ada di dalam kulkas, buah apel merah kesukaan Sehun dan stroberi kesukaanku, selai coklat dan stroberi, ayam dan kentang goreng yang kumasukkan kedalam kotak makan dengan apik. Sehun mengemudi dengan santai dan entah dimana kami saat dia menyuruhku turun. Sebuah tempat dengan lapangan hijau rumput yang luas, beberapa bunga mengintip dari antara rumput-rumput itu, juga sebuah pohon besar yang rindang dan sejuk.

Disana sudah ada bangku dan meja kayu dan aku hampir meletakkan bawaan kami disana jika Sehun tidak dengan sigap menggelar sebuah karpet diatas tanah. Kami mulai makan dan bicara dan bicara terus hingga kami sendiri bingung bagaimana topik pembicaraan tidak pernah selesai. Rasanya seperti kau sedang bicara dengan dirimu sendiri di depan cermin, selalu ada sanggahan cerdas, tapi sedikit banyak kau sudah tahu sanggahan macam apa yang akan keluar.

Rasanya luar biasa.

Dan aneh.

Si musim semi mulai muncul. Angin yang semula terasa dingin, namun matahari mulai membiaskan cahayanya dari sela-sela awan menggumpal. Mulai sejuk.

Saat itu aku merasakan angin yang meniup rambutku, atau telapak tanganku yang lembab ketika bersentuhan dengan rumput dan tanah, atau sepatu dan ujung rokku yang mulai berwarna kecoklatan, atau bahkan aroma bawang dari roti lapis buatan Sehun yang cukup buruk hingga kami tidak melanjutkan makan siang kami dan alih-alih kami hanya minum jus jeruk kemasan.

Untuk sesaat aku merasa aku lah orang cantik yang sedang tertidur di taman itu.

Tapi kemudian aku sadar…

Sehun tertidur dengan apel merah di tangannya.

He looks so beautiful.

.

.

.

"Apa warna kesukaanmu?"

"Merah." Jawabku tanpa ragu.

"Kenapa?"

"Karena itulah yang kubayangkan tentang isi kepalaku, selalu berwarna merah menyala. Rumit dan misterius dan cantik dan berani."

"Alasan yang bagus."

"Kalau kau?"

"Kuning."

"Kau bisa melihat di kernyitan alisku bahwa aku sama sekali tidak percaya."

"Aku bersungguh-sungguh."

"Kenapa?"

"Karena kuning itu indah, ceria, terkadang manja. Kuning itu warna dasar dari bias matahari, kuning juga menggambarkan bintang. Kuning bisa menyinari sekitarnya jika menyala, tapi dia juga tidak sebersih putih karena dia sudah berpengalaman melalui banyak hal yang membentuknya seperti itu. Dia bisa berani, cantik, dan ceria."

"Sehun…"

"Aku menjadikan apapun yang menggambarkan dirimu sebagai kesukaanku."

"Astaga Sehun."

"Aku bisa melihat dari rona pipimu bahwa kau senang dengan kalimatku."

.

.

.

Tbc

.

.

.

A/N:

Haluuuu~ Long time no see! Ada banyak yang pengen gua omongin disini, since this is the only place I can communicate with u guys, I will use this for good (terutama karna gua jarang apdet, jarang buka ffn juga, jadi pasti banyak hal yang pengen gua bagi #ceileh)

First, let's talk about last night Mubank. Gua ga dateng sih, tapi gatau kenapa ikut seneng aja (especially buat Maudy yang beruntung aned, congrats sis). And believe me or not, pas pertama tau hal ini sampe waktu mereka mendarat di Jakarta, gua b aja. Kaya yang yaudahlah, anggep aja kaya mereka lagi nyenyong di tempat lain. Tapi tadi sore gua liat Sehun apdet ig dengan foto langit dan hashtag #jakarta. Disitu aku merasa tersanjunk. Have fun, anak-anak~ Sampe ketemu di exoplanet4 yah~ #janjikupadamudandirikusendiri

Second, gua aktif di twitter dan beberapa waktu ini emang lagi marak banget isu tentang men'genderswitch'kan member grup. Banyak banget yang ngomongin ini sampe akun2 gede pun ngomongin.

Gini.

Banyak dari mereka yang berpendapat bahwa kami (author gs) masih ngga bisa nerima kalo hunhan/chanbaek/kaisoo/otp lainnya itu gay. Nope. Itu salah besar.

Kami nulis gs bukan karna kami jijik sama gay dan motif BIM terselubung (for real ada banyak yang berpendapat, ketika kami mengedit foto ato menulis ff ato membuat uke jadi cewe, kami membayangkan diri kami sendiri sebagai si uke. Pas ngebayangin aja gua geli wk). Dalam kasus gua pribadi, gua ngeship HUNHAN CHANBAEK KAISOO CHENMIN tanpa syarat tetek bengek, dan gua terima mereka sebagai gay. Gua dukung banget kalo mereka pengen coming out, serius. Dan gua sebagai pembaca juga menikmati ff gs/yaoi, sampe tema yang sensitif kaya pedofil/bdsm/beastility/etc kalo emang tulisannya bagus, pasti gua apresiasi. Kenapa? Karena gua tau cara menempatkan diri. Sebagai pembaca ff, gua harus nempatin diri gua sebagai penonton yang gabisa ngubah apa2, oke kadang author minta saran ke pembacanya untuk melanjutkan cerita, tapi pada akhirnya itu kembali ke si author ff. Gua cuma tamu yang masuk ke dunia yang dibuat oleh authornya, dengan karakter bernamakan idola yang gua suka. Authornya punya hak paten atas imajinasi dan cerita. Titik.

Kami nulis ff gs karena kami mau, karna kami suka, and it feels simpler this way. Sbg fangurl apalagi fujoshi, kita percaya banget ttg ke'real'an dari otp masing-masing, sampe kita nutup satu fakta bahwa: ENGGA ADA SATUPUN DARI KITA YANG TAU KEBENARANNYA.

Gua bukan mau menghakimi ato gimana yah, tp emang dari awal nulis ff, terlepas itu yaoi/gs, faktanya author menulis apa yang dia mau. Gua nulis loohaen as cewe, ato barkyawn as cewe, kalian ship yaoi garis keras marah2 karena itu mesgendering, dan itu menyakiti harga diri mereka sebagai laki-laki. Can u imagine kalo ternyata kebenarannya mereka bukan gay? Bukankah cerita yaoi juga akan menyakiti harga diri mereka sebagai cowo straight? So what's our difference? Circle saling menyalahkan itu bakal selalu ada begimanapun keadaannya, so let's chill.

Bukan mau menggurui ato apa yah, kalo udah di ffn/aff/wattpad/wordpress or any shitty sites like that, lu mesti ngerti kalo apa yang ada disana tuh fiksi, yang kadang bener2 diluar nalar manusia. Yang isinya adalah karakter buatan si author. Mesti ngerti bagaimana harus bersikap kalo nemu cerita yang tidak dia suka, bukannya mengatakan hal jahat tidak berguna yang malah bikin kalian keliatan serakah.

So guys, take a seat. Imagine you're sitting alone, watching tv. Switch the channel if u don't like it. Grab some popcorn if u enjoy. Nobody ever force u to do anything here. (damn what a quote I just said wk)

Gitu.

Salam cenat cenut.

Ps. Cerita ini mungkin akan tamat 3 chapter lagi sampe hunhan nikah. dan isinya juga gabakal rumit2 kok wkwk

Pss. Happy Wedding Hamish Daud, kau memilih perempuan yang tepat dan membawa serpihan hatiku yang sudah tidak bisa berfangirlingan padamu #AntiFangirlLakiOrangClub