Aku tidak pernah ingin menghibur satupun pria sebelumnya. Aku tidak pernah mempunyai perasaan halus terhadap pria. Mereka hanya selalu menjadi pengalihan yang menyenangkan atau mimpi terburukku. Membingungkan, aku menemukan diriku menggapai dan menangkup wajahnya di telapak tanganku untuk menenangkannya.
"hey," suaraku melembut. "Jangan cemaskan itu, sehun."
Dia bersandar disentuhanku dan membuang nafas, menempatkan tangannya diatasku, lalu mengaitkannya dan mencium buku-buku jariku.
Oh Tuhan!
"Ayo," aku sengaja menginterupsi momen menyenangkan ini. "Aku akan mengantarkanmu ke rumahmu sehun."
"aku tidak ingin membuatmu berjalan ke rumah membawa foto-foto itu melewati keramaian. Masuklah."
Dia berkedip seksi, tersenyum dan melompat masuk ke mobilku.
Oh Luhan, apa yang telah kau perbuat?"
#with me in Gangwon-do (remake)
.
.
.
Come Away With Me
HUNHAN STORY
.
.
.
Rumah Sehun sangat dekat dengan pantai dan itu menyadarkanku bahwa tempat ini kurang dari seperempat mil dari tempatku. Dia menuntun dan menarikku ke trotoar yang berpagar. Aku hanya bisa melihat jalur tunggal di depanku, tidak ada pemandangan rumah.
"kodenya 041294" katanya memberitahuku.
"eh? Kau mempercaiku untuk kode pintu gerbangmu?" aku mencoba untuk mempertahankan kelakar di antara kami untuk menutupi kegugupanku datang ke rumah ini. Apa dia akan mengajakku ke dalam?
"kau akan kagum dengan apa yang aku percayakan padamu, Lu." Aku meliriknya dan menangkap kerutan di dahinya. "pada kenyataannya, demikianlah aku."
Aku mengabaikan komentarnya dan menarik pintu gerbang lalu berbelok ke arah kiri dan terkesiap pada rumah modern yang indah.
Tidak besar dan ini terlihat sederhana. Tapi pemandangan disekitar sangat menakjubkan dan rumah putih itu aku tebak masih baru, karena garis-garis yang masih bersih, jendela-jendela yang besar dan semak-semak yang dipangkas memagari jalan mobil.
"Waa.. Sehun, ini sangat indah."
"Gomawo." Suara bangga kembali terdengar dari mulutnya dan sangat jelas ia mencintai rumahnya. Aku mulai tersenyum kepadanya, sepenuhnya mengerti akan perasaan itu.
Aku memakirkan mobilku dan tidak berniat untuk melepaskan sabuk pengamanku. Sehun melompat keluar dan mengejutkanku dengan berjalan ke depan mobilku dan membuka pintu mobilku.
"Masuklah." Dia mengulurkan tangan kekarnya padaku, tapi aku tidak menyambutnya.
"Aku harus pergi.."
"Aku akan sangat senang jika kau mau masuk ke dalam." Dia memberikanku seringaian yang menawan membuat diriku mulai melembut. "Aku akan menunjukkan padamu pemandangannya. Mungkin mengajakmu makan malam. Hanya itu Lu, aku janji." Matanya bersinar nakal membuatku tak bisa menolaknya. Bukan, tepatnya aku tak mau menolaknya.
"Aku tidak menahanmu dari apapun?"
"Tidak, aku laki-laki BEBAS, Luhan. Ayo."
Aku tak bisa berpikir lagi. Aku keluar dari mobil dan menyambut tangan kekarnya yang diam-diam aku sukai itu. Wow.. sengatan listrik dari sentuhan tangannya masih terasa, dan mataku melebar saat bertemu dengan matanya. Senyum manisnya menghilang dan dia tetap menatap mataku dengan intens. Sehun menarik tanganku dan mengarahkannya ke bibir miiknya, lalu menutup pintu mobil dibelakangku dan menuntunku ke pintu rumahnya tanpa melepaskanku, seolah-olah ia takut aku akan melarikan diri.
Diam-diam aku memperhatikan keseluruhan tubuhnya. Aku menyukai bagaimana celana jeansnya yang menggantung di pinggulnya, membuat pantatnya terlihat bagus. Kaus putihnya tidak dimasukkan, memeluk otot bahu dan lengannya dengan sempurna. Aku ingin memeluknya dari belakang dan menenggelamkan hdungku di punggungnya, menghirup aromanya, dan menciumnya di sana diantara tulang belikatnya.
Sangat tidak sah untuk menjadi begitu indah. Sehun terlihat benar-benar menjaga dirinya. Tiba-tiba aku merasa telah keluar jalur. Dia sepuluh dan aku beruntung jika mendapatkan tujuh setelah perawatanku di salon.
Sehun membuka pintu dan berbalik ke arahku, dan pandangan matanya mengatakan bahwa dia tidak melihat kekurangan dari diriku. Dia terlihat baik-baik saja dengan apa yang ia lihat dan mulai berharap untuk dekat denganku.
"Selamat datang Luhan. Anggap saja rumah sendiri." Aku mengikutinya masuk ke dalam dan tidak bisa menghentikan senyumku yang datang ketika melihat rumahnya yang sangat megah. Ruangannya besar dengan langit-langit tinggi dan dinding ynag berwarna pucat.
Dinding belakang semuanya kaca dan pemandangannya adalah puget sound. Barang-barangya besar dengan warna biru dan putih dan sedikit sentuhan hijau. Aku bisa meringkuk di kursinya dan menatp keluar sepanjang hari.
Aku berjalan-jalan melalui ruangan, sepatuku menggema di lantai kayu yang gelap, dan memandang ke luar jendela sebentar. Matahari hampir tenggelam, di atas gunung memantul air biru berombak, dan perahu putih yang indah meluncur dengan anggun. Aku berbalik untuk melihat Sehun yang masih berada di sisi lain ruangan memperhatikanku, lengannya menyilang di depan. Aku berharap bisa membaca pikirannya.
"Apa?" aku bertanya dan meniru sikapnya, menyilangkan lenganku di depan.
"Kau sangat cantik, Luhan"
Deg.
Aku menjatuhkan lenganku dan membuka mulut untuk berbicara, tapi tak ada satupun yang keluar, jadi aku hanya menggelengkan kepalaku dan melihat ke arah kananku terdapat dapur yang sangat indahnya.
"Kau mempunyai dapur yang hebat."
"Ya." Sehun perlahan berjalan menuju ke arahku. Tidak ada rasa humor di matanya
sekarang, tatapan matanya seperti orang yang sedang kelaparan. Kelaparan akan diriku.
Aku tidak dapat bergerak walaupun aku ingin.
"Apakah kau suka memasak?" suaraku menjadi lebih tinggi dari normal dan kegugupan itu kembali, tapi kegugupan ini tidak menakutkan. Aku sudah pasti tidak takut padanya. Aku hanya sedikit "terintimidasi" oleh tatapannya.
"Ya." Dia berkata lagi, dan ketika dia mendekatiku dia mengarahkan jari panjangnya menyusuri pipiku. Aku kesulitan menelan dan menahan tatapan matanya.
"Kau tidak ingin membicarakan tentang dapurmu?" bisikku.
"Tidak." Dia balik berbisik.
"Oh." Aku melihat ke bawah mulutnya, dan kembali melihat mata indahnya. "Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Aku tidak ingin bicara, Luhan." Sejak kapan bisikannya menjadi sangat seksi? Pangkal pahaku mengencang, dan aku tiba-tiba basah dan panas dan terengah-engah. Sehun menggenggam wajahku di antara kedua tangannya, masih menatap mataku intens, seolah-olah dia sedang berusaha untuk menyampaikan pesan yang mendalam, atau mungkin dia meminta ijinku? Aku sedikit memiringkan kepalaku ke belakang, dan dia dengan perlahan menurunkan bibirnya ke bibirku. Dia meninggalkan mereka di sana untuk beberapa menit, hanya ciuman yang menempel, memimpin bibir lembutnya padaku.
Aku mengangkat tanganku dan menggenggam lengan bawahnya dan dia menggeram ketika dia memperdalam ciumannya, merayu bibirku agar terbuka dan menggelitik lidahku dengan lidahnya.
Ya Tuhan, baunya sangat enak, dan lidah berpengalamannya adalah candu yang tak dapatku tolak. Dia menyambut sisi mulutku, menggigit bibir bawahku kemudian menyerang mulutku lagi. Dia
menarik rambutku, dan menenggelamkan tanggannya di dalam rambutku.
"Kau. Sangat. Cantik." Dia menggumam di dalam mulutku, tiap kata di antara ciuman-ciuman manisnya dan aku sepenuhnya mabuk. Aku melarikan tanganku di atas bahunya dan memilin rambutnya dengan jariku dan memegangnya erat.
Oh, laki-laki ini pandai mencium!
Sehun memperlambat ciumannya, menangkup wajahku dengan lembut, dan meninggalkan ciuman-ciuman manis di rahang, pipi, hidung, lalu menanamkan bibirnya di dahiku dan mengambil nafas yang sangat dalam. Aku menjalankan tanganku ke bawah bahunya – sialan, dia kencang! – melewati lengan seksinya dan memegang lengan bawahnya, dan aku lebih dari sekedar pusing.
Aku tak ingin dia berhenti.
Ketika pandangan buramku menjadi jelas, Sehun bersandar ke belakang, masih menangkup wajahku dan tersenyum lembut kepadaku. "Aku ingin melakukannya sepanjang hari."
Tring..tring..tring
Tring..tring..tring
Darimana musik itu datang? Aku kemudian menyadari ponselku berdering dari dalam saku jeansku, dan aku memutuskan kontak intim kami untuk mencari dan menemukan ponsel itu. Senyuman Sehun berubah menjadi seringaian ketika aku menjawab telepon.
"Hi, Kyung." Aku melisankan teman sekamar pada Sehun ketika dia menaikkan alisnya.
"Luhaaaannnn! Kau tidak menjawab pesanku. Kau baik-baik saja?" dia terdengar kesal dan aku memutar mataku.
"Aku baik-baik saja. Maaf, aku tak melihat pesanmu. " Aku melangkah mundur dari Sehun mencoba untuk menjernihkan kepalaku dan dia meletakkan tangannya di pinggul.
"Apa kau punya rencana makan malam?"
"Makan malam?"
Sehun bersandar dan menggumam di telingaku yang bebas, "Aku membuatkanmu makan malam." Dia mengedipkan mata padaku mengedipkan mata! – dan kemudian berjalan menuju dapur meninggalkan ku untuk menelepon.
"Um, yeah, aku punya rencana makan malam." Aku mengernyit, mengetahui bahwa aku akan mendapatkan Gelar Ketiga Kyungsoo.
"Oh?" aku tahu dia menaikkan alis dengan ahli. Aku juga tak ingin mempunyai percakapan ini dengan Sehun yang mendengarkannya. Aku mendengar Adele mulai menyanyi dan memutar melihat Sehun telah dihentikan oleh sound system, mengutak-atik iPod nya.
"Yeah, sesuatu baru saja datang. Kenapa? Apa yang terjadi?" Sehun berada di dapur sekarang, mengobrak-abrik lemari es, dan aku punya pemandangan yang bagus pada pantatnya yang tertutup jeans. Astaga.
"Aku tadi mengundang mu untuk pergi makan malam dengan beberapa teman kerjaku, tapi jika kau sudah punya rencana aku akan melihatmu nanti malam." Ada jeda. "Apakah ini si perampok?"
Aku terkejut. Tinggalkan Kyungsoo! "Mungkin."
"Daebak! Bersenang-senanglah, hati-hati, ambil gambar jika kau bisa. Sampai jumpa!" dia memutus teleponnya dan aku tertawa untuk sikap riang temanku.
"Jadi, itu tadi teman sekamarmu?" Sehun bertanya ketika dia menuangkan wine putih ke dalam dua gelas. Aku menyesapnya dan terkejut oleh rasa manis buahnya.
"Yeah, dia memeriksa keadaanku." Aku duduk di bar sarapan berwarna ringan dan membuka pesanku. Aku punya tiga, semuanya dari Kyungsoo.
Hey Lu, ingin pergi makan malam, malam ini?
Lu? Hidupkan ponselmu!
Luhan, aku melakukan reservasi...
Makan malam?
Aku meletakkan iPhone ku di atas meja dan menenggak wine.
Luke memperhatikanku.
"Maaf, itu tadi kasar." Aku tersenyum meminta maaf. "Dia mengkhawatirkanku ketika aku tidak merespon pesannya."
Sehun menggelengkan kepalanya. "Kau sama sekali tidak kasar, Luhan. Jadi, bagaimana pendapatmu dengan saus alfredo?"
Aku menyeringai pada nada menggodanya. "Aku punya affair cinta yang lama dengan saus alfredo."
"Benarkah?" dia terkekeh.
"Saus alfredo yang beruntung." Dia berbalik lagi dan mulai mengambil teko, penggorengan dan bahan-bahan dari lemari penyimpanan dan lemari es. Dia sangat….Ahli di dapur.
Ketika dia berbalik memulai urutan kekacauannya, dia melihatku sedang memperhatikan dirinya dan memberikanku senyum separuh.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Kau sangat ahli di dapur."
"Terima kasih." Dia membungkuk dengan anggun dan membuat ku tertawa.
"Siapa yang mengajarimu memasak?"
"Ibuku." Dia menuangkan air ke dalam teko untuk merebusnya dan mulai mengiris keju.
"Apa yang bisa ku bantu?"
"Duduklah di sana dan menjadi cantik."
Aku merona. "Aku ini tampan kau tau. Dan sungguh, aku ingin membantu."
"Baiklah, aku tau itu. Kau iris keju ini dan aku akan mengurus ayamnya."
Aku dengan senang hati mengambil alih mengiris keju, mengamati Sehun dan mengelilingi dapur dengan mudah.
Seketika ruangan ini beraroma ayam panggang, membuat mulutku berair. Sehun pindah ke belakangku dan meletakkan lengannya di sekelilingku, memeriksa kejunya, tanpa benar-benar menyentuhku.
Kulitku terasa terbakar. Sentuh aku! Pegang aku! Tapi dia tidak, sebelum aku mengetahuinya dia telah beranjak dan tubuhku hampir bergetar karena kebutuhan.
Aku tidak ingat pernah merasakan ketertarikan secara fisik dengan seorang laki-laki sebelumnya. Ini sedikit mengerikan, tapi ini juga menyenangkan.
"Baiklah, aku pikir kita sudah hampir siap untuk menyajikan. Bisakah kau menyaring pasta ini?" aku dengan senang hati membantunya ketika dia menyelesaikan sausnya, dan perut ku mulai keroncongan.
Sehun mengambil piring, alat makan berwarna perak dan serbet. "Mari makan di luar, sambil menikmati pemandangan."
"Ide yang bagus." Aku tersenyum ketika kami menyajikan makanan-makanan itu, memegang wine dan menuju ke beranda ruangan besar ini. Ruangan makan di luar sangat mengagumkan. Warnanya hangat dengan merah dan coklat, meja dengan enam kursi, dan ada pemanggang stainless yang besar dengan konter dapur di luar ruangan, lemari es dan wastafel.
Kami duduk dan kegugupanku dari ciuman lezat kami sebelumnya sudah hilang, sekarang aku hanya merasakan lapar.
"Lapar?" tanyanya, membaca pikiranku.
"Kelaparan!"
"Aku tahu."
Aku mengambil satu gigitan dan memejamkan mataku. "Mmmmm…ini sangat enak."
Aku menutupi mulutku dengan serbet dan tertawa. Mata Sehun menari dan dia menyeringai, lalu kemudian meminum winenya.
"Aku senang kau menyukainya."
"Jadi," aku menyendok lagi. "Ibumu mengajarimu memasak?"
"Ya, dia selalu mengatakan bahwa semua anaknya harus bisa memberi makan diri mereka sendiri setelah kami meninggalkan sarang."
Aku memperhatikannya menusuk daging ayam dengan garpu.
"Berapa jumlah saudaramu?"
"Aku punya satu saudara laki-laki dan satu saudara perempuan."
"Kakak, adik?" tanyaku. Ya Tuhan, laki-laki ini pandai memasak.
"Kakak perempuan, adik laki-laki."
"Dan, apa pekerjaan mereka?"
"Yoona kakakku, adalah seorang editor untuk Vivi Magazine." Mata Sehun terlihat bangga. "Mark menyingkirkan kuliahnya untuk menjadi penangkap ikan."
"Ku asumsikan kau tidak menyetujuinya?" ku naikkan alisku padanya ketika aku menyesap wine.
"Dia masih muda. Aku kira itu bagus ketika dia menaburkan gandum liarnya." Sehun mengangkat bahu.
"Orang tuamu?" aku suka mendengarkan dia membicarakan keluarganya. Sangat jelas dia sangat mencintai mereka.
"Mereka tinggal di Seoul. Ayah bekerja untuk sebuah perusahaan dan Ibu adalah seorang ibu rumah tangga." Dia melirik ke arah piring kosongku.
"Itu tadi sangat enak, terima kasih." Aku bersandar di kursi dan meregangkan kakiku.
"Sama-sama." Dia terlihat sangat muda dengan senyum malu-malunya. "Kau ingin lagi?"
"Oh tidak, aku sudah kenyang." Kutepuk perutku dan memandang keluar ke arah air. "Ini adalah pemandangan yang sangat indah."
"Ya." Aku melihatnya, dan dia memandangku. Pipiku terasa mulai memanas. Oh ayolah Luhan!
"Kau sangat pandai memuji."
"Kau mudah untuk dipuji."
Aku menyeringai.
Dia memiringkan kepalanya ke samping dan mengangkat tanganku ke atas, membawanya ke mulut. Ini adalah pertama kalinya dia menyentuhku sejak ciuman panas – mengencangkan paha – itu dan aku mendesah akan sentuhan panasnya.
"Kau sangat cantik, Luhan. Kenapa kau tidak mempercayainya?"
Aku tertegun. Tidak ada seorangpun yang pernah memanggilku keluar dari rasa ketidak nyamananku karena aku tidak pernah menunjukkannya kepada orang lain. Aku mengangkat bahu.
"Kau pikir aku bahagia?"
Dia mengernyit atas jawabanku tapi tidak menekanku. "Ya."
"Aku berharap aku punya kamera." Aku tidak sadar bahwa aku mengatakannya dengan keras dan aku merasa dia menegang di sampingku.
"Mengapa?" suaranya dingin, dan pandangan matanya sangat mengintimidasi.
"Karena pemandangan ini." Aku menunjuk air. "Ini bisa membuat gambar yang sangat indah."
Dia bersantai di sampingku. "Mungkin suatu hari nanti kau akan bisa mengambil gambarnya."
"Akan ada 'suatu hari' lagi." Aku tersenyum padanya dan dia tersenyum padaku juga.
"Suatu hari." Dia mengatakannya lagi dan aku merasa pusing di dalam.
Aku sedikit menggigil ketika angin berhembus melalui terasnya. Senja telah datang, langit berwarna ungu dan oranye, dan menjadi dingin.
"Kau kedinginan?" tanyanya.
"Tidak, aku tidak apa-apa."
"Benarkah?"
"Aku sedikit kedinginan, tapi aku tidak mau masuk ke dalam."
"Aku akan segera kembali." Bersamaan dengan itu dia berdiri dan mengumpulkan piring-piring kotor.
"Hey, aku akan membersihkannya. Kau sudah memasak."
"Tidak akan. Kau tamuku, Luhan. Selain itu, aku punya pengurus rumah tangga yang akan melakukan itu semua besok pagi. Duduklah. Tetap di sini." Dia mengunciku dengan tatapan yang serius, lalu masuk ke dalam rumah.
Dia sangat bossy. Ku pikir aku menyukainya. Tidak ada seorangpun yang pernah mempunyai keberanian untuk bertingkah seperti bos denganku sebelumnya. Ini sangat menyenangkan.
Aku mendengar suara iPod berubah dari Adele menjadi sesuatu yang lebih lembut dan melankolis dan beberapa waktu sesudahnya dia kembali dengan sebuah selimut hijau yang mewah dan iPhone ku.
"Lampu ponselmu tadi berkedip, aku pikir kau mungkin ingin mengeceknya." Dia memberikan ponselku, tapi sebelum aku bisa melihatnya dia memegang tanganku.
"Ikut denganku."
"Kita mau kemana?"
"Hanya di sana." Dia menunjuk kursi empuk mewah dekat dengan tepian teras.
Aku meraih tangannya dan dia memimpin kemudian mendudukkanku, tenggelam ke dalam bantal. Dia duduk di sampingku dan membungkus kami berdua dengan selimut. Lengannya melingkar di sekitarku.
"Ini terlalu cepat." Aku melihat ke dalam mata tajamnya, tidak yakin berada di lengannya seperti ini, kecepatan ini seluruhnya aman, secepatnya aku ingin berada di sini.
"Kita hanya mengagumi pemandangan, Luhan." Dia mendorongku lebih dekat dengannya, menjalankan tangannya di sisi tubuhku dan aku bersandar di bahunya. Aku teringat ponsel di tanganku dan aku mengeluarkannya dari selimut untuk membacanya, aku rasa aku tidak perlu menyembunyikannya dari Sehun.
Hey manis, ada rencana malam ini?
Itu temanku Kris, dan untuk sementara kami tidak melakukan hubunganseks beberapa waktu ini, kadang-kadang, jika kami sedang mabuk atau kesepian, kami menikmatinya. Aku tidak mendengar kabarnya selama beberapa minggu, dan tentunya sekarang, ketika aku meringkuk di lengan laki-laki seksi ini dia mengirimiku pesan.
Sial, sial, sial. Sehun menegang di sampingku, dan aku menunduk tapi menekan balas, masih tidak menyembunyikan ini dari matanya. Aku tidak punya sesuatu untuk disembunyikan.
Ya, aku ada acara. Maaf.
Sehun terlihat tak nyaman di sampingku dan aku tahu dia marah.
Sial.
Kris membalas dengan sangat cepat.
Besok?
Maaf Kris, aku tidak tertarik.
Baiklah, bye Lu.
Aku menaruh ponsel di saku ku dan menyandarkan kepalaku kembali di lengan Sehun, tidak berani mengatakan apapun. Apa yang bisa aku katakan? Dia mendengus dan mengeratkan pelukannya padaku, tidak mengatakan apapun cukup lama.
Akhirnya aku menatapnya.
"Apakah kau baik-baik saja?"
"Kenapa tidak?"
"Um, aku tak tahu. Hanya memastikan."
Dua kata terakhir adalah bisikan. Dia terlihat marah padaku, tapi aku tidak melakukan kesalahan. Aku mengatakan pada seseorang untuk menjauh!
Tiba-tiba dia bergerak dan mengambil iPhone nya dari saku. "Berapa nomor ponselmu?"
Aku memandang lebar padanya dan dia menaikkan sebelah alisnya. Aku mengguncangnya dan dia memukulkan pada ponselnya. "Apa nama margamu?"
"Xi, margaku Xi." Dia telah selesai memprogram nama dan nomorku ke dalam ponselnya dan aku menutup mataku, menghirup aromanya sementara dia melanjutkan menggesek gadgetnya. Ponselku berdengung di sakuku.
TBC
.
.
.
.
Hai hai hai...
Pojen update lagi
Maafkan aku yang telat update :'(
Jangan marah yaaaa...
Happy reading
And
Next update "My wife and My Fault"
