Present

A DBSK and Super Junior Fanfiction

Throbbing Tonight

Disclaimer : All DBSK, Super junior, and other character belong to themselves

Throbbing Tonight © Koi Ikeno

Main Pair : Yunho x Jaejoong

Pair lainnya akan diketahui sejalan dengan cerita ini

-Chapter 4-

Summer camp I


Malam hari yang sepi di kediaman keluarga Kim. Hanya terdengar suara bergemerisik dedaunan yang ditiup perlahan oleh sang angin.

Kim Hankyung, Kim Heechul, Kim Jaejoong, Kim Ryeowook. Satu keluarga yang tengah duduk rapi mengelilingi sebuah meja makan berukuran persegi di ruang makan milik mereka.

"Umma.. Besok aku akan ada summer camp di pantai Haeundae." Ujar Jaejoong sambil menikmati makanan yang tersaji di hadapannya. Makanan yang di masaknya sendiri.

"Hum? Jauh sekali! Bukannya pantai itu berada di Busan?" sahut Heechul agak keras pada Jaejoong yang berada tepat di depannya. "Tidak! Kau tidak boleh pergi Kim Jaejoong!" Jaejoong langsung memanyunkan bibirnya mendengar pernyataan Umma tersayangnya itu.

"Umma... Kumohon, biarkan aku pergi." Ujar Jaejoong dengan nada memohon dan tampang yang sungguh-sungguh memelas.

"..."
Jaejoong mendengus kesal melihat tidak adanya reaksi dari sang Umma yang lebih memilih untuk terus menikmati makanannya akhirnya dia menoleh ke arah sang Appa. Memohon bantuan.

"Appa." Jaejoong bergelayut manja di lengan Hankyung, "Aku boleh pergi kan? Please!" dipandanginya sang Appa dengan puppy eyes nya.

"Iya, pergilah." Satu lagi kelemahan Hankyung yang berhasil di manfaatkan oleh Jaejoong. Tatapan mata memelas ala Jaejoong pasti sanggup meluluhkan hati siapa saja yang melihatnya.

"Tapi Gege! Busan itu cukup jauh! Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Joongie kita?" pekik Heechul. Hankyung menepuk pundak Heechul lembut, "Sudah. Tidak apa-apa. Biarkan saja Jaejoong pergi kali ini. Biarkan dia menikmati kehidupan sebagai manusia normal."

Heechul melotot marah ke arah Hankyung, "Kau!"

"Kau boleh pergi Jae. Jangan dengarkan perkataan Umma mu." Ujar Hankyung santai tanpa memperdulikan pelototan Heechul.

Heechul mengatupkan rahangnya kuat-kuat. "Oke Jaejoong, umma memperbolehkanmu pergi. Dan kau! Tidak ada jatah satu bulan untukmu Kim Hankyung!" ujar Heechul dengan penuh penekanan di setiap katanya ditambah dengan ekor, telinga, plus taring yang sudah mencuat keluar. Heechul meninggalkan meja makan dengan sedikit gebrakan keras.

Hankyung langsung terlihat lemas begitu mendengar perkataan Heechul. "Hyaa- Chullie ya!" Hankyung langsung berlari meninggalkan meja makan dan mengejar Heechul yang telah menghilang di balik pintu kamar mereka.

Jaejoong dan Ryeowook hanya terkikik geli mendengar suara teriakan dan gedoran pintu yang terdengar sangat keras dari sang Appa.

"Hyung, kalau hyung pergi, aku bermain dengan siapa dong?" tanya Ryeowook pelan. Jaejoong mengusap kepala Ryeowook lembut dan tersenyum, "Kau bisa bermain dengan Yesung kan? Nanti hyung akan minta tolong pada Umma untuk memanggilkannya kesini."

Ryeowook memandang Jaejoong dengan mata berbinar-binar, "Ah, Hyung benar juga! Lagipula aku udah jarang main sama Yesunggie."

Jaejoong bangkit dari meja makan dan menggandeng Ryeowook menuju kamarnya, "Kajja. Bantu hyung untuk menyiapkan barang-barang yang harus hyung bawa."

Sosok tubuh Jaejoong dan Ryeowook menghilang di balik tangga.

"Ya! Heechullie!" Hankyung terus menggedor pintu kamar mereka.

Ceklek...

Heechul membuka pintu kamar dengan tampang yang sungguh mengerikan. "Pokoknya, aku tidak mau tahu. Kamu harus mengikuti Jaejoong selama dia berada di Busan! Laporkan keadaanya padaku setiap harinya!"

BRAK!

Setelah menyelesaikan kata-katanya tersebut Heechul kembali menutup pintu dengan bantingan yang sangat keras. Sesaat kemudian, Heechul kembali membuka pintu dan melemparkan bantal, guling, dan selimut. "Tidur diluar!" dan BLAM, pintu kembali ditutup dengan kasar.

"Heechullie." Ratap Hankyung di depan pintu kamar mereka. Tapi Heechul tetap tak bergeming dengan ratapan Hankyung yang terus bergaung dengan memilukan

."Hyung, apakah Summer Camp itu menyenangkan?" tanya Ryewook dengan penuh semangat. Bagi dirinya yang belum pernah pergi bersekolah ke sekolah resmi, summer camp merupakan hal yang aneh baginya. Itulah mengapa dia kini sangat bersemangat untuk beratanya pada sang hyung.

"Ya- bisa dibilang sangat menyenangkan. Kita bisa bermain dengat teman-teman kita sepuasnya." Jelas Jaejoong sambil memasukkan baju-bajunya ke dalam sebuah tas besar. Meskipun ia belum pernah ikut dalam summer camp sebelumnya, tapi mendegar cerita dri teman-temannya setelah pulang dari summer camp di tahun-tahun yang lalu. Jaejoong dapat menyimpulkan bahwa summer camp itu pasti menyenangkan.

"Hyung, Umma bilang aku akan masuk sekolah di tahun pelajaran baru. Aku benar-benar sudah tidak sabar! Umm- apa aku boleh mengajak Yesungie untuk ikut besekolah denganku?"

Jaejoong sedikit terkejut mendengar pernyataan adiknya itu. "Hmm- kalau soal itu lebih baik kamu bertanya sendiri pada Yesung. Hyung tidak bisa menjawabnya."

"Ok! Aku akan bertanya padanya. Pasti menyenangkan jika aku bisa satu sekolah dengannya." Celoteh Ryeowook yang semakin riang dan bersemangat. Jaejoong hanya tersenyum simpul melihat adiknya yang sangat riang.

Pergi ke sekolah memang merupakan hal yang paling diinginkan oleh Ryeowook. Sejak kecil dia memang belajar namun gurunya merupakan guru yang berasal dari dunia setan. Ryeowook tidak diperbolehkan untuk pergi ketempat yang ramai sendiri. Takutnya, dia akan berubah secara mendadak di hadapan banyak orang karena tidak bisa mengontrol emosinya. Dan itu sangat berbahaya, karena manusia dunia setan harus menyembunyikan identitas nya dari manusia biasa.

Hal itu diharuskan karena manusia merpakan mahluk yang tamak dan egois. Bayangkan bila manusia mengetahui kehidupan manusia dunia setan. Pasti akan ada banyak manusia yang mau menginginkan kehidupan sebagai manusia dunia setan.

Jaejoong menaikkan resleting tas besar miliknya dan meletakkannya di samping lemari. "Ayo Wookie, sudah waktunya untuk tidur."

Ryeowook menurut, ia bangkit dari lantai beralaskan karpet yang sedari tadi di dudukinya dan beranjak keluar. "Konbawa, aniki."

"Konbawa, Wookie."

Suara debuman pintu yang ditutup dengan perlahan oleh Ryeowook masuk ke indra pendengaran Jaejoong. Sesaat setelah itu, Jaejoong bangkit dari dudukknya dan melangkah menuju ranjang empuk yang sudah menunggunya untuk segera memejamkan mata dan terbang ke alam mimpinya.

Sang raja pagi telah muncul, sinar hangatnya telah berpencar ke seluruh bumi dan menerangi dunia yang sebelumnya gelap gulita.

Tidak seperti pagi-pagi sebelumnya dimana seorang laki-laki berparas cantik yang dapat dipastikan akan bangun setelah sang matahari terbit kali ini bangun lebih awal bahkan mendahului sang raja pagi.

Rumahnya pun yang di pagi-pagi sebelumnya sangat sepi dan tenang kini berubah menjadi sangat riuh.

"Gege! Bangun!" Heechul menarik paksa tangan Hankyung yang kini sedang tertidur pulas di sofa ruang tengah.

"Uwaa-!" jerit Hankyung yang kaget karena tarikan itu.

BUMM

Dan Hankyung pun jatuh dengan posisi yang sungguh-sungguh tidak elit dan sangat tidak enak dipandang oleh mata siapa saja.

Hankyung mengelus kepalanya yang terjatuh lebih dulu dari atas sofa. "Apaan sih?" tanyanya dengan kesal. Siapa yang tidak kesal jika tidur indahnya diganggu dengan cara yang seperti itu?

"Jaejoong sebentar lagi akan berangkat. Kau juga harus bersiap-siap Kim Hankyung! Laporkan padaku setiap gerak-geriknya. Sedang apa dia, bersama siapa, apa yang dia lakukan, dan bla-bla-bla-bla-bla-bla-bla-bla" oceh Heechul dengan panjang lebar, Hankyung hanya mengangguk malas mendengar ocehan sang istri yang menurutnya sangat panjang itu.

"Apa yang kau tunggu? Cepat sana bersiap-siap!" Ujar Heechul tajam ditambah dengan pelototan serigala mautnya yang mampu membuat siapa saja bergidik ngeri termasuk sang suami sendiri. Hankyung menelan ludah gugup, tanpa banyak bicara lagi Hankyung langsung mengambil bantal, guling, dan selimut yang tadi digunakannya untuk tidur dan ia langsung kabur dengan kecepatan cahaya menuju kamar mereka yang sedari tadi malam tertutup untuknya.

Tak lama setelah Hankyung masuk ke dalam kamar, Jaejoong terlihat sedang menuruni tangga dengan membawa satu tas punggung besar dan satu tas jinjing yang berukuran sedang. Disamping kirinya terlihat Ryeowook yang juga sedang menggenggam tangan kiri milik Jaejoong yang bebas.

"Selamat pagi umma," sapa Jaejoong ceria sambil mencium pipi kanan Heechul.

"Ah, selamat pagi juga sayang." Balas Heechul. Wajah galaknya yang sedari tadi diperlihatkannya berubah menjadi sumringah dan ceria. "Apa kau sudah siap? Apa semua yang kaubutuhkan sudah kau bawa? Sepertinya tas mu terlalu kecil." Ujar Heechuil sambil menunjuk tas punggung yang digunakankan Jaejoong.

"Terlalu kecil apanya? Ini sudah besar umma, besar sekali malah." Jawab Jaejoong dengan nada yang sangat heran.

Heechul tersenyum malu, "Umm- benar juga sih."

"Oke Umma aku harus pergi sekarang. Bye Wookie, sampai jumpa lagi." Jaejoong melangkah menuju pintu depan. Tiba-tiba langkah nya terhenti, ia berbalik "Appa mana? Aku belum berpamitan dengannya."

Heechul terseyum simpul, "Appa mu sedang ada di kamar mandi. Nanti biar Umma yang bilang padanya."

Jaejoong balas tersenyum, "Baiklah. Aku pergi semuanya." Sosok Jaejoong menghilang di balik pintu.

"Umma, bisa panggilkan Yesungie untukku? Aku kesepian tanpa Jaejoong hyung." Pinta Ryeowook lengkap dengan wajah memelas dan sinar mata yang benar-benar memohon.

"Arasseo, Umma akan panggilkan Yesungie untuk menemanimu bermain." Ujar Heechul lembut sambil mengelus rambut Ryeowook dengan lembut. "Kembali lah ke kamarmu Wookie, sepertinya kau masih mengantuk."

Ryeowook mengangguk patuh.

Seteleh mengirim Ryeowook kembali ke kamarnya, Heechul berjalan menuju kamarnya, "Cepat pergi sana! Villa kita yang di pantai Haeundae sudah dibersihkan, kau bisa tinggal di sana." Ujar Heechul ketus lebih mirip dengan mengusir.

Hankyung hanya mengangguk, "Cium dulu." Ujarnya dengan nada manja. Heechul hanya memutar bola matanya. Kesal. Dengan cepat dikecupnya bibir Hankyung. "Sudah kan? Cepat pergi sana!" usir Heechul lagi.

Hankyung memusatkan pikirannya dan dalam sekejab mata ia sudah berubah menjadi kalelawar. Ia melesat terbang melalui jendela.

Setelah kepergian Hankyung, Heechul langsung bergegas berjalan menuju ke ruang belakang di mana terdapat sebuah patung singa yang sedang duduk dengan gagahnya.

Heechul mendorong kepala singa itu hingga sebuah jalan rahasia terbuka. Dengan cepat ia menuruni tangga berputar hingga ia tiba di depan tiga buah pintu yang dipasang berjajar pada sebuah dinding. Pintu-pintu itu memiliki warna dan model yang sama.

Heechul menggaruk kepalanya bingung, pintu mana yang harus ia pilih.

Heechul membuka pintu yang terletak di tengah. "Aish, sial! Padahal sudah berkali-kali lewat sini tapi kenapa tetap saja salah?" rutuknya ketika pintu yang dibukanya hanyalah sebuah kamar mandi bukan pintu yang ditujunya.

Akhirnya Heechul membuka pintu sebelah kanan, Ketika ia membuka pintu itu yang terlihat hanyalah kabut tebal yang menutupi pandangan siapapun yang berusaha melihat apa yang sebenarnya ada di balik pintu itu.

Sesosok manusia muncul dari dalam kabut, "Ada apa anda memanggil saya?" ujar orang tersebut. Perlahan kabut yang menutupi orang tersebut perlahan menghilang, menampakkan seorang laki-laki yang berbadan cukup tegap dengan rambut yang tertata rapi. Wajah angkuh menghiasi wajahnya yang bisa dibilang tampan.

"Aku hanya ingin kau mengikuti putraku Jaejoong dalam Summer camp yang diikutinya selama 3 hari 3 malam." Ujar Heechul dingin. "Laporkan apapun yang dikerjakannya padaku setiap harinya."

Orang tersebut hanya menganggukkan kepalanya, mengerti dengan perintah yang diberikan kepadanya kali ini.

"Baiklah, aku percaya padamu Park Yoochun." Heechul menyunggingkan seringainya yang dibalas dengan senyuman licik yang diperlihatkan oleh orang yang tadi di panggil Park Yoochun olehnya.

"Satu hal lagi, jangan sampai kau ketahuan oleh Hankyung. Sebisa mungkin kalian jangan bertemu. Ah- tolong panggilkan Yesung, katakan padanya Ryeowook menunggunya." Tambah Heechul.

"Baiklah, aku pergi dulu." Ujar Yoochun, perlahan sosoknya kembali menghilang ditelan kabut.

Heechul tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai. "Dengan begini, aku bisa mengetahui apa yang dilakukan oleh Jaejoong selama summer camp dengan lebih detail." Desisnya tajam.

"Jangan berpikir aku akan melonggarkan pengawasanku pada Jaejoong. Aku tahu ia sedang jatuh cinta pada seorang manusia dan itu tidak boleh terjadi. Aku sudah menunangkan Jaejoong Jung Siwon. Pokoknya dia harus menikah dengan seorang pangeran dan Siwon merupakan orang yang tepat."

Heechul meninggalkan ruangan itu dan kembali melakukan tugas sebagai seorang ibu rumah tangga sementara menunggu kabar dari kedua mata-mata yang telah dikirimnya.

Jaejoong dan siswa-siswi GwangGi high school lainnya sudah berbaris rapi di depan gerbang sekolah mereka, menunggu bis-bis pariwisata yang akan membawa mereka menuju pantai Haeundae.

Tak lama, ada sekitar 15 bis pariwisata dengan kapasitas 32 orang per satu bis datang secara beriringan.

"Baiklah, satu bis masing-masing terdiri dari 30 anak yang berada dalam satu kelas. Kalian bebas menetukan pasangan duduk kalian." Sang kepala sekolah memberikan intruksi yang kepada seluruh murid.

Tanpa di komando, seluruh siswa masuk ke dalam bis mereka masing-masing yang telah ditentukan oleh sekolah berdasarkan urutan kelas.

Jaejoong mengambil tempat di kursi paling belakang di samping jendela. "Semoga summer camp ini menyenangkan." Batinnya sambil tersenyum lebar. Jaejoong terus memperhartikan keadaan di luar bis. Melihat siswa-siswa yang sedang berjalan menuju bis mereka masing-masing sambil mengobrol dengan teman mereka.

Tanpa di sadarinya, seseorang telah duduk di sampingnya. Orang yang kini duduk di samping Jaejoong terus memperhatikan wajah cantik Jaejoong yang kini hanya terlihat dari samping karena Jaejoong tengah menolehkan wajahnya ke arah samping.

"Ada yang menarik di luar sana Jae?"

Suara berat orang yang ada di sampingnya membuat Jaejoong tersadar, ketika ia menoleh betapa terkejutnya ia. Jung Yunho, orang yang diam-diam di cintainya kini tengah duduk di sampingnya bahkan sedang tersenyum penuh keingintahuan padanya.

"Umm- tidak ada." Jawab Jaejoong pelan. "Kenapa kau duduk di sini?" tanyanya dengan gugup.

Yunho hanya tersenyum, "Kenapa? Kau tidak suka? Apa aku sebaiknya pindah?"

Jaejoong langsung membelalakkan matanya dan mencengkram pergelangan tangan Yunho dengan cepat ketika dilihatnya Yunho akan berdiri dan pindah dari sebelahnya, "Aniyo, tidak apa-apa. Kau boleh duduk di sini." Ujarnya cepat sambil menunduk. Wajahnya kini sudah memerah tanpa bisa ia kendalikan.

"Aku pikir kau tidak suka aku duduk di sebelahmu." Ujar Yunho. "Hmm- Jae... bisa lepaskan tanganmu? Pergelangan lenganku sedikit sakit, sepertinya kau terlalu kuat mengenggamnya."

Jaejoong terkejut, dengan cepat dilepasnya cengkraman tangannya dari pergelangan tangan Yunho. "Mianhae." Ujarnya pelan.

Yunho terkekah pelan, "Gwaenchana, kau kuat juga ya Jae."

Jaejoong hanya menundukkan wajahnya yang kini sudah sangat memerah. Malu.

"Ya! Yunho! Kenapa duduk di sebelah dia?" Tiba-tiba dengan lengkingan suara dolphinnya, Junsu muncul dan berteriak marah di samping kursi yang diduduki oleh Jaejoong dan Yunho.

"Bukankah Kyuhyun Songsaenim menyuruh kita untuk duduk bersama teman sebangku kita? Jaejoong teman sebangkuku bukan?" ucapan Yunho dengan telak langsung membuat Junsu terdiam. Dengan wajah masam dan tertekuk (?) Junsu kembali ke bangkunya dengan mulut yang tak henti-hentinya menggumankan sesuatu. Kata serapahan? Mungkin.

Jaejoong memejamkan matanya, berusaha kembali merengangkan sedikit pikirannya dalam alam mimpi. Tak lama dirinya pun sudah kembali menuju alam mimpinya yang tenang.

"Hey, ayo bangun Wookie." Seorang laki-laki yang diperkirakan berusia 12 tahun sama seperti Ryeowook sedang duduk di tepian ranjang milik Ryeowook dan menepuk lembut pipi chubby Ryeowook untuk membuatnya terbangun.

Benar saja, tak lama Ryeowook membuka matanya sedikit demi sedikit, "Hum? Siapa?" tanyanya dengan suara yang sedikit parau akibat dari baru bangun tidur. Dikerjab-kerjabkan nya mata nya untuk membiasakan diri dengan lingkungan di sekitarnya sudah sangat terang.

Sedetik kemudian, ia menyadari siapa orang yang tega menganggu tidurnya itu. "Yesungie!" pekik Ryeowook riang. Ia langsung meloncat dan memeluk laki-laki yang dipanggilnya Yesung tadi dengan sangat erat,

"Pelan-pelan Wookie." Ujar Yesung dan balas memeluk Ryeowook. "Kau tahu..." Yesung memutus ucapannya dengan satu helaan berat.

"Wae?" tanya Ryeowook dengan penuh penasaran, dilepaskannya pelukan nya pada Yesung.

"Kau tahu..." ulang Yesung sekali lagi. "Kau itu bau Wookie. Mandi sana! Baru kau boleh memelukku!" ujar Yesung sambil tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai.

Ryeowook tersenyum kecut, "Kau jahat Yesungie!" balas nya. Dengan cepat ia bangkit dan menyambar handuk miliknya dan masuk ke kamar mandi. "Jangan kemana-mana! Tunggu aku disana!" pekik Ryeowook dari dalam kamar mandi.

Yesung hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.

Namanya Jung Yesung. Adik dari sang pangeran Dunia setan, Jung Siwon. Saat ini ia berusia 12 tahun. Namun jangan pernah membuatnya marah karena kau akan dipastikan akan langsung terkena jarum beracun yang akan membuatmu tertawa sepanjang sisa hidupmu. Dan di usianya yang baru menginjak tahun ke 12, Yesung telah mahir melempar benda apapun dengan ketepatan 99% pasti mengenai sasaran.

Jaejoong membuka matanya, dirasakannya kepalanya sedang bersandar pada pundak orang yang berada di sebelahnya, tak lain dan tak bukan adalah seorang Jung Yunho.

Jaejoong terkesiap, bukankah tadi ia tidur dengan bersandar pada ujung sandaran kursi yang dekat dengan jendela? Kenapa sekarang ia bisa tidur dengan bersandar pada pundak Yunho?

Buru-buru Jaejoong mengangkat kepalanya dan bersandar kembali pada sandaran kursi miliknya. Diedarkannya pandangannya keseluruh penghuni bis yang kini sangat sepi. Tidak terlihat keramaian yang tadi terlihat pada awal-awal keberangkatan mereka.

Mereka pasti masih mengantuk karena harus bangun di pagi buta, batin Jaejoong. Diliriknya arloji putih yang terpasang di lengan kirinya, waktu telah menunjukkan pukul 9 pagi. Sudah berlalu hampir 3 jam sejak keberangkatan mereka pagi tadi. Berarti tersisa 1 jam lagi sebelum mereka sampai di Busan.

Jaejoong menolehkan kepalanya ketika ia mernengar suara dengkuran halus yang berasal dari sampingnya. Ia mendapati Yunho tengah tertidur pulas. Diperhatikannya wajah Yunho yang terlihat begitu keren dan tampan di matanya.

Entah apa yang merasuki pikirannya, tangan Jaejoong terjulur pelan ke arah wajah Yunho, tergoda untuk menyentuk wajah mainly milik sang pujaan hati. Namun saat jemarinya hampir menyentuh kulit Yunho, Jaejoong menarik kembali tangannya.

Dihembuskan nafasnya perlahan, berusaha menahan jantungnya yang kini berdetak secara tidak normal.

"Apa yang tadi hampir aku lakukan?"batin Jaejoong histeris sambil menutup mukanya. "Aku pasti sudah kehilangan akal sehat ku! Bagaimana jika tadi aku benar-benar menyentuhnya dan tiba-tiba ia membuka mata dan melihatku sedang menyentuh wajahnya? Hyaa- maluuuu." Digeleng gelengkannya kepalanya dengan kuat sambil tetap menutup wajahnya.

Tanpa di sadarinya Yunho tengah menatapnya, bahkan Yunho menyadari apa yang ingin dilakukan oleh Jaejoong tadi. Memang ia sengaja tetap berpura-pura tidur, menunggu Jaejoong menyentuh wajahnya. Dan ketika Jaejoong menarik kembali tangannya, sekejab rasa kecewa menyelubungi hatinya.

Yunho tak mengerti mengapa ia membiarkan Jaejoong untuk menyentuh wajahnya meskipun akhirnya Jaejoong membatalkan niatnya itu. Bukankah dirinya sangat tidak menyukai disentuh oleh orang lain?

Mengapa?

Apa ia jatuh cinta pada lelaki yang sedang duduk di sampingnya ini?

Jujur diakuinya, Jaejoong memiliki paras yang sangat cantik bahkan melebihi kecantikan wajah perempuan di sekelilingnya. Kulit putih tanpa cela, bibir penuh berwarna merah, mata besar yang bening bahkan hidung mancung yang sangat sesuai dengan bentuk wajahnya.

Yunho berani bertaruh, kulitnya pasti lembut dan halus. Kulit yang sangat diidam-idamkan oleh setiap perempuan manapun.

Yunho menarik nafas, "Apa yang kau lakukan Jae? Apa kau bermimpi buruk?" tanya berusaha setenang mungkin.

Refleks Jaejoong langsung menoleh ke arah Yunho dengan wajahnya yang masih mememerah, "Hum?"

"Kenapa wajahmu memerah? Apa kau sakit?" Yunho mengulurkan tangannya, menyentuh kening Jaejoong dengan lembut dan merabanya. Benar saja, kulit Jaejoong terasa sangat lembut dan halus di telapak tangan Yunho.

"Tidak panas." Ujar Yunho. Salah tingkah, Jaejoong langsung menarik tangan Yunho dari keningnya. "Uhm... aku tidak apa-apa. Aku hanya kepanasan." Elak Jaejoong tanpa berpikir lebih dahulu. Yunho hanya tersenyum simpul mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Jaejoong.

Beberapa detik kemudian, Jaejoong menyadari ucapannya yang benar-benar tidak masuk akal Bagaimana mungkin ia bisa kepanasan sementara AC yang ada di atasnya menyala dan terus mengeluarkan udara dingin untuk orang yang ada di bawahnya?

"Oke, Kim Jaejoong. Kamu pasti terlihat sangat memalukan di mata Yunho sekarang!" rutuk Jaejoong dalam hati. Kembali di palingkannya wajahnya ke arah Jendela bis yang kini sedang menampakkan lembah-lembah yang dihiasi oleh phon-pohon yang menjulang tinggi dan padang rumput yang sangat luas. (A/n : saya ga tahu bagaimana perjalanan seoul ke busan, jadi ngarang sajalah)

Tanpa disadarinya lagi, Yunho tengah berjuang keras menahan tawanya dan keinginan nya yang sangat ingin mencubit pipi Jaejoong karena melihat tingkah Jaejoong yang tengah salah tingkah seperti itu menurutnya lucu dan menggemaskan.

Yunho mengeluarkan mp4 miliknya dari tas kecil yang dibawanya. Yunho menepuk pundak Jaejoong pelan, "Mau mendengarkan lagu?" tanyanya. Jaejoong kembali menoleh ke arah Yunhi, "Boleh." Ujar Jaejoong pelan.

Yunho memberikan sebelah headsetnya pada Jaejoong yang langsung memakainya dengan malu-malu.

Now Playing : Kiss Baby Sky – DBSK


-TBC-


Ada yang ngga puas sama chapter ini?

Ayo ayo...!
yang pengen ngeluh sama chapter ini silahkan comment...hohoho XDDD

Makin gaje ga?

Saya pikir ini chapter makin gaje aja..

Chapter ini biasa aja..

Ga ada sesuatu yang menarik, bener kan?

Penasaran ma yang terjadi di chapter selanjutnya?
silahkan tunggu saja chapter selanjutnya..

Hhh- sudahlah...

Semakin banyak yang komen semakin semangat saya buat nyelesein ni fic..

Makasi banyak buat pembaca yang bersedia meninggalkan jejaknya

dan buat anda silent reader yang terhormat, silahkan meninggalkan jejak anda meskipun hanya satu atau dua kalimat.

Daripada saya terus berbicara yang tidak-tidak, lebih baik anda semua yang sudah membaca chapter ini sampai bawah harus memberikan review!

Pokoknya harus komen!

Sampai jumpa di chapter 5 all readers...

tapi kalau masih banyak SR sih mungkin ga bakal dilanjutin..

jangan lupa komen yah.. ^^