Didasarkan pada pair yang biasa sudah terlalu mainstream, dan hubungan brother-incest juga kelewat banyak.


FATHER

Rating: M

Cast:

Mayuzumi Chihiro

Kuroko Tetsuya

Akashi Seijuurou

Hayama Kotarou

Warning [!]: BL, OOC, typo[s], no edit, confusing, ambiguous, incest!MayuKuro

KnB is T. Fujimaki's


.

"Selamat pagi, Seijuurou-sama."

Sebuah lengan menghampiri pundak Seijuurou. Ia sudah tahu benar milik siapa lengan itu. Seijuurou membiarkan saja Kotarou merangkulnya sepanjang koridor menuju kelasnya sambil berceloteh mengenai sesuatu entah apa itu. Yang jelas Seijuurou tidak ingin tahu. Melihat Seijuurou mengabaikannya, Kotarou sedikit kesal. Jika sudah seperti ini, terkadang mulutnya terbuka sesuka hati, tanpa berpikir panjang, kalimat tajam meluncur begitu saja tanpa ingat siapa yang akan disindirnya.

"Baguslah. Sekarang Akashi Seijuurou mengabaikanku karena berhasil menculik seseorang yang biasanya diantar sang ayah dan membawanya ke sekolah dengan selamat."

"Kotarou! Kau lancang. Kau ingin mulutu terjahit?"

Pemuda berambut oranye itu lupa siapa sahabatnya. Pemuda sadis yang bahkan sudah berkali-kali ingin membunuhnya karena tak mampu menyaring kalimat.

"Hai, hai. Maaf Tuan Muda. Aku tidak suka kau mengabaikanku."

"Karena aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan sedari tadi."

Kotarou melepas rangkulannya dari pundak Seijuurou dan menepuk dahinya sendiri sedikit lebih keras. Pemuda berambut merah disampingnya itu membuat Kotarou tidak mengerti.

"Baiklah. Apa sekarang aku hanya perlu membicarakan Kuroko Tetsuya jika di depanmu?"

"Kotarou!"

"Terkadang cinta membuat yang sadis jadi lebih lembut. Tapi jika hal itu menyangkut dirimu, kau jadi jauh lebih sadis, Akashi. Bahkan malah jadi tidak masuk akal. Baiklah, aku ke kelas duluan. Sampai nanti."

Seijuurou mengernyitkan dahi. Ia memang tidak berniat membalas perkataan Kotarou. Bagi Seijuurou, dirinyalah yang paling benar. Tapi kali ini ia mengalah pada Kotarou. Kalimat Kotarou barusan, rasanya itulah yang paling benar.

.

Tetsuya melamun sepanjang jam pelajaran. Jam pertama adalah matematika. Baiklah, ia memang tidak tertarik pada pelajaran ini. Atau lebih pantas dibilang ia tidak begitu menguasainya. Tapi bukan itu alasan yang membuat Tetsuya hanya menopang dagu dan melayangkan pandangan jauh ke luar kelas.

'Tidak Tetsuya. Kita tidak bisa selamanya seperti ini. Aku tidak akan membiarkanmu terus bergantung padaku dan mencampakan semua masa depanmu.'

Tetsuya terus memikirkannya. Setiap kalimat tanda keputusasaan dari mulut Chihiro. Sungguh apa yang ia lakukan bersama Chihiro selama ini tidak pernah membuatnya takut. Tetsuya bersungguh-sungguh. Ia menyayangi ayahnya, mencintai dan selalu ingin berada di sisi Chihiro. Ia tidak pernah mendapat kasih sayang dari orang lain sebanyak yang diberikan Chihiro untuknya. Ia terbiasa dengan perlakuan Chihiro. Ia terbiasa mendapat cinta kasih dari Chihiro. Ia terbiasa selalu bersama Chihiro. Ia terbiasa-

Tetsuya tersentak dan berkedip.

Terbiasa?

"Kuroko Tetsuya?"

Satu suara membuatnya tersadar dari lamunan. Dan akhirnya, sebuah perintah dari sang guru untuk menyelesaikan satu soal mengenai trigonometri membuat Tetsuya memaksa pikirannya kembali ke dunia nyata. Semoga saja ia tidak salah mengerjakan.

.

"Seijuurou-sama, bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan. Sepertinya aku ingin membeli sepatu basket yang baru untuk latihan. Dan kurasa seleramu cukup bagus untuk jadi referensi."

Seijuurou baru saja memasukkan ponselnya ke saku dan berdiri dari bangkunya. Ia meraih tasnya dan memilih diam sambil melewati Kotarou. Artinya jelas bukan? Seijuurou menolak ajakan Kotarou. Tapi pemuda itu tidak menyerah. Ia memilih mengikuti Seijuurou yang keluar kelas, masih dengan ocehannya mengenai belanja dan sepatu basket. Sampai akhirnya Seijuurou mendengus pelan dan menghentikan langkahnya.

"Kau memang lupa atau berpura-pura lupa aku pergi dengan siapa hari ini, Kotarou?"

"Eh? Tidak. Aku tidak lupa. Kau kan datang dengan dia, ah maksudku Tetsuya. Apa aku belum bilang kau bisa mengajaknya?"

"Tidak. Kita tidak akan pergi bertiga, Kotarou. Aku akan mengantarnya dan jika kau ingin membeli sepatu yang kau inginkan denganku, tunggu sampai aku memberitahumu waktu yang tepat."

"Ha? Baiklah, baiklah. Kurasa aku akan mengajak Reo-nee kali ini. Kau nikmati saja waktumu dengannya. Sampai besok Tuan Muda."

Kotarou meninggalkan Seijuurou dengan perasaan gusar. Baginya, Seijuurou kali ini lebih egois dan lebih menyebalkan dari biasanya.

"Semoga kau bisa membuatnya sadar dan berpaling dari ayahnya, Akashi."

.

Seijuurou sampai di depan kelas Tetsuya. Sepertinya pelajaran terakhir belum selesai, dan mau tidak mau ia harus menunggu. Seijuurou tak sengaja melirik ke arah Tetsuya dari luar. Dan matanya menyipit ketika ia tahu di dalam sana Tetsuya tak sedikitpun fokus pada pelajaran. Mata Tetsuya kosong, memandang jauh entah ke mana.

'Jika saja yang kau pikirkan itu aku, Tetsuya.'

Batin Seijuurou berharap. Tak ada yang mendengar, tak ada kata terucap. Hanya keinginan agar Tetsuya mampu menyadarinya. Seijuurou tahu betul siapa yang ada dalam lamunan Tetsuya, dan ia sangat paham bahwa butuh usaha berkali-kali lipat untuk sekedar membuat posisinya setara dengan 'orang itu' di hati Tetsuya. Tapi bukan Seijuurou jika ia menyerah.

Sebuah bel membuyarkan asa yang sejenak melintas dipikiran Seijuurou. Ia memilih menyingkir dari depan pintu. Dengan sabar ia menunggu Tetsuya keluar. Dan benar saja, butuh waktu sampai semua murid di kelas keluar hingga Tetsuya menyapanya pelan.

"Akashi-kun?"

"Langsung pulang, Tetsuya?"

"Bagaimana jika, ehm- bermain sebentar?"

"Tentu, Tetsuya."

Seijuurou mengikuti Tetsuya dari belakang. Bisa ia lihat punggung kecil itu sedikit membungkuk. Sepertinya ada yang salah dengan pemuda berambut biru muda itu. Tapi Seijuurou lebih memilih memainkan taktik bernama 'diam dan menunggu'. Ia yakin, Tetsuya bukan pemuda kuat yang akan menanggung beban selamanya seorang diri. Jika pemuda itu butuh topangan, Seijuurou akan jadi yang terkuat.

"Tetsuya, hari ini kau mau bermain kemana?"

"Rumahmu Akashi-kun?"

Terkejut adalah reaksi pertama dari Seijuurou. Tapi ia memilih untuk menyembunyikannya. Mengiyakan permintaan Tetsuya, Seijuurou mengulum senyum dan meraih pergelangan Tetsuya lalu menariknya perlahan ke arah dimana mobilnya berada. Kunjungan pertama yang mungkin akan membawa Seijuurou melangkah sedikit lebih dalam ke hati Tetsuya.

.

Matematika saja sudah membuat Tetsuya tak berkutik, apalagi shogi. Ini sudah ketiga kalinya ia kalah. Seijuurou membiarkan Tetsuya 'memakan' beberapa bidak miliknya, tapi menyelesaikan permainan dengan satu langkah kemenangan memang keahlian Seijuurou.

"Baiklah aku menyerah sampai disini. Bermain catur dengan Ayah saja aku tidak pernah menang, apalagi shogi, dan lawanku Akashi-kun."

Satu kata yang membuat seluruh syaraf Seijuurou menegang.

'Ayah'

"Apakah Ayahmu pintar bermain catur, Tetsuya?"

"Dia yang terhebat."

Rasanya Seijuurou ingin menjadi lebih egois sekarang. Ia ingin bibir Tetsuya yang menggumamkan kata 'Ayah' menggantinya dengan nama Seijuurou. Bagaimana rasanya menjadi yang terbaik di mata Tetsuya? Bagaimana rasanya menjadi satu-satunya di hati Tetsuya? Bagaimana rasanya memiliki Tetsuya seutuhnya? Bagaimana rasanya mendengar Tetsuya hanya menyebut namanya?

Seijuurou benar-benar ingin tahu, merasakan dan menikmatinya.

"Akashi-kun?"

Gumaman pelan Tetsuya menyadarkan Seijuurou segera.

"Ada apa, Tetsuya?"

"Kebiasaan apa yang harus kau lakukan tapi membuatmu tersiksa? Aku ingin tahu."

Tiba-tiba saja Tetsuya bertanya padanya. Kebiasaan yang menyiksa?

'Memikirkanmu, Tetsuya'

Andai jawaban itu terucap dari bibir Seijuurou.

"Aku tidak tahu maksudmu, Tetsuya."

"Apa aku boleh membiasakan diri agar selalu bersamamu, Akashi-kun?"

"Hm?"

Seijuurou mengerutkan dahi. Entah ia benar-benar tidak paham atau memang hatinya yang menolak datangnya pemahaman pada kalimat yang baru saja ia dengar dari Tetsuya. Otaknya mencerna, tapi gagal. Namun sepenuh hatinya ia berharap.

"Aku ingin bersama Akashi-kun. Aku ingin kau juga memberiku cinta. Aku ingin kau juga memilikiku. dan aku ingin kau juga memberiku cinta. Seperti yang biasa ia lakukan."

"Juga? Biasa ia lakukan? Siapa?"

"Ayah. Semua itu agar aku bisa melupakan Ayah."

Jika saja orang lain mendengarnya, rasanya Tetsuya jauh lebih egois daripada seorang Akashi Seijuurou. Tapi disitu hanya ada Seijuurou. Terkadang cinta bisa membodohi yang pintar dan merusak yang berkuasa jadi manusia biasa. Seijuurou contohnya. Mengangguk lalu merengkuh tubuh Tetsuya adalah caranya menjawab permintaan Tetsuya.

"Jadi aku boleh memilikimu, Tetsuya?"

Anggukan pelan membuat helai rambut Tetsuya menyapu pelan leher Seijuurou. Layaknya sebuah pemnatik yang menyalakan api, hal itu membuat pikiran Seijuurou berjalan begitu saja melancarkan segala keinginannya selama ini. Ia muntahkan hasratnya begitu saja.

Seijuurou memulai dari mengelus pelan punggung Tetsuya. Lalu jemarinya merayap pelan ke dagu Tetsuya dan mendongakkannya hingga pandangan pemuda beriris biru langit itu tertuju pada Seijuurou seorang. Berikutnya Seijuurou memilih menyentuhkan bibirnya pada bibir Tetsuya. Perlahan, lama-lama jadi tak kuat menahan. Pelan jadi terabaikan, mnejadi kasar. Seijuurou melumatnya, lalu semakin lama terlepas dan ia lebih memilih menyusuri dagu dan leher Tetsuya.

Tanda kepemilikan Seijuurou berwarna merah, sebagian berwarna keunguan. Mulai dari leher hingga dada Tetsuya. Saat gerilya bibirnya ingin mengecap rasa Tetsuya lebih jauh, isakan kecil meruntuhkan segalanya. Seijuurou berhenti.

"Maaf, Akashi-kun."

'Mungkin belum sekarang kau bisa melupakannya. Perlahan-lahan, akan kujadikan kau milikku seutuhnya Tetsuya.'

Seijuurou mendesah pelan. Tangannya berpindah ke arah pakaian Tetsuya dan membenarkan kancing-kancing yang tadinya terlepas. Ia juga merapikan rambut Tetsuya. Ibu jari perlahan menghapus jejak lelehan air mata dan merambat ke bawah, mengusap pelan bercak merah di leher Tetsuya.

"Ayo, kuantar kau pulang Tetsuya."

.


A/N: Astagfirullah, ini cerita ga apdet berapa lama? Ampe berdebu gini, pake nongol sarang laba2 pula (?). Hangatnya cinta Papa Mayu dan AkaKuro kembali diteruskan #plak. Jadi sebenarnya saya masih galau (segalau dan se-amburegul cerita ini) buat nentuin Tetsu sama siapa. Saya juga ga tau masih ada yang baca atau enggak. Terima kasih (dan Alhamdulilah) buat yang masih menunggu (kalau ada), hahaha. Selamat menikmati.