B.C.B

(BUKAN CINTA BIASA)

Disclaimer : Sayangnya, D Gray Man bukan milik saya. D Gray Man, seluruh tokoh, isi, dan alur ceritanya adalah milik Hoshino Katsura secara paten.

Sedangakan lagu BCB adalah milik Afgan^^

Pairing : No pair. Family pair CrossxFemAllenxFemlavixFemkanda.

Warning : OC, OOC, NO YAOI, NO LEMON.


Kalau ada orang bertanya apa warna kesukaanku, dia tidak akan mendapat jawaban.

"MARIAAA!! MARIAAA!!!" Aku berteriak-teriak tidak keruan, menepis semua tangan yang memelukku erat-erat, menghalangiku melewati garis polisi.

Banyak orang berkerumun.

Tapi mereka tidak melakukan apa-apa.

Apa yang sedang mereka lakukan? Menonton?

Kepalaku terasa pusing ketika mencium bau anyir seperti besi berkarat.

Sesuatu telah menodai jalan raya dengan warna merah.

Aku suka warna itu.

Warna cinta.

Warna gairah.

Warna keberanian.

Warna rambutku dan Maria.

Baru kali ini aku benci melihat warna itu.


(NORMAL POV)

"Maaf…," Cross mengusap wajahnya,"Sekarang kita pulang saja, ya?" Cross mengajak mereka bertiga. Ketiga saudari itu mengangguk. Lavi bangun duluan, menggandeng Cross. "Curang!!" Allen buru-buru bangun juga dan ikut menggandeng.

Cross tertawa. Lavi paling tua, tapi paling kekanak-kanakan. Mereka bertiga menuju mobil di parkiran, sambil disambut ucapan selamat tinggal dari satpam.

Allen tetap duduk di depan, seperti biasa, setelah kalah suit dengan Lavi. Bagaimanapun juga, Lavi tidak pernah menang suit dari Allen. Entah si bungsu ini memang anak kesayangan Dewi Fortuna atau punya bakat berjudi.

"Sabuk pengaman!" Lavi mengingatkan Allen dengan gaya polisi lalu lintas yang hendak menilang. Allen tertawa, lalu memakai sabuk pengaman. Mazda merah kesayangan Cross itu melaju mulus di jalan raya.

"Omong-omong, baru kali ini aku pulang dalam keadaan tidak mabuk," Cross bergurau, memutar setir dan berhenti di perempatan jalan. "Kalau Daddy mabuk, biar aku aja yang nyetir!" Lavi mengajukan diri. "Kau menyetir? Jauh lebih parah dari Otou-san yang sedang mabuk, tahu! Sekali injak gas, kau mengirim kita semua ke neraka!" Kanda mencibir, menghina kakaknya.

Lavi menggeram, lalu memiting kepala Kanda. Allen tertawa, posisi badannya diputar ke belakang. "Hmm?" Allen mengerutkan alis, menatap bagian belakang. Lavi dan Kanda berhenti saling memiting, lalu ikut memandang bagianbelakang mobil.

"Ada apa, Llen?" tanya Lavi heran. "Sepertinya, 2 mobil itu mengikuti kita terus dari tadi…" gumam Allen. "HE?" Lavi dan Kanda dengan kompak mengamati mobil yang ditunjuk Allen. "Itu benar. Dari spion, kedua mobil itu terus mengikuti. Padahal aku pakai jalan yang agak jarang dipakai," Cross membenarkan pernyataan Allen.

"Kira-kira siapa?" Allen bertanya. "Entahlah. Lebih baik kita menghind…" salah satu mobil itu tiba-tiba menambah kecepatannya, mengejar mazda Cross dan menyainginya. "Apa-apaan ini?" Cross terkejut, memutar setir agar tidak terserempet mobil putih itu. Ditengah kebingungannya memutar setir, salah satu mobil lainnya mengapit, menghalangi Cross untuk memutar setir.

Allen menjerit ketika tubuh mobil Cross beradu dengan mobil warna biru yang mengapit Cross, menimbulkan suara berdecit membahana.

Cross hendak mengerem, tapi mobil putih sudah bersiap-siap mendorong dari samping, terlalu berbahaya untuk mengerem sekarang. Kedua mobil itu menambah kecepatan, seakan tidak mengizinkan Cross untuk mengerem.

Cross memutar, memaksa si mobil biru membuka jalan. Tanpa ampun, mobil putih membanting setir, menabrak mobil Cross. Lavi menjerit karena terkejut akan benturan tepat di sisinya.

Kedua mobil itu terus menambah kecepatan, mengiringi jalan Cross. Cross menyadari satu hal. Kedua mobil jahanam ini menggiringnya…..

Pada truk yang sekarang melaju dengan kencang menuju mereka.

Cross panik. Dia tahu apa yang akan dilakukan kedua mobil itu. Cross terus memaksa agar kedua mobil yang mengapitnya itu membuka pertahannya. Truk besar itu melaju dengan kecepatan maksimum. Tanpa ampun akan menggilas tubuh mungil si Mazda Merah.

Allen menjerit. Lavi memeluk Kanda, bermaksud melindunginya. Cross membanting setir, mendobrak si mobil putih. Tepat waktu. Sebelum truk itu menabrak mereka, Cross melesat ke kanan jalan, walau dengan bayaran tubuh mobil bagian kanan yang rusak berat.

Mobil putih yang oleng karena didobrak Cross oleng, menabrak pohon. Cross sempat melihat, kaca depan mobil itu berlumuran darah sang pengemudi. Cross merasakan jantungnya berdebar keras. Merah lagi. Merah.

Cross lengah.

Tubuh Truk itu dibanting ke kanan, menghancurkan kaca samping mobil. Kanda menjerit, mengangkat tangannya, untuk melindungi diri. Lavi melompat ke sisi Kanda, melindungi Kanda dari pecahan Kaca.

Truk itu terus memutar , bagian belakangnya menghantam kaca depan.

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!" Allen menjerit sejadi-jadinya. Cross mengulurkan tangan, hendak meraih Allen ke sisinya.

Semuanya buram.

Cross merasa sangat pusing.

Semuanya terasa tidak jelas.

Dia bisa melihat, mobil biru itu melesat melarikan diri, beserta pengemudi truk yang cepat-cepat turun, diiringi sirene berisik.

Sirene? Itu sirene polisi patroli.

Segalanya terasa buram.

Apa yang terjadi?

"Ada yang terluka di dalam! Bukan kecelakaan, bukan!"

Cross bisa mendengar seseorang berteriak.

"Tuan! Anda bisa mendengar saya? Tuan!"

Cross beraksi sediikit ketika merasa ada yang mengguncang bahunya.

"Tuan? Anda dengar saya?"

(CROSS' POV)

Oh, tidak.

Tidak lagi.

Kumohon jangan.

Aku bisa mencium bau anyir seperti besi berkarat yang memenuhi kepalaku. Bau menjijikkan yang sanget kubenci.

Dan warna merah yang sangat kubenci, berceceran, menodai jalanan dengan bercak-bercak….

DARAH.

Darah siapa? Darah….

Aku menyaksikan tubuh kecil yang kutindih. Kedua matanya tertutup, tidak lagi merespon. Wajah bagian kirinya terhujam kaca, menggoreskan luka dalam yang mengeluarkan banyak darah.

Tangan dan kaki kirinya tersayat-sayat. Tak bisa berhenti mengucurkan darah.

Tanganku gemetar, menyusuri rambutnya yang sudah tidak putih bersih lagi.

Di sampingku, berbaring kedua gadis yang saling berpelukan.

Salah satu gadis itu, sebagian wajah bagian kanannya terhujam kaca.

Aku mengerang, berusaha tidak memperdulikan rasa sakit yang meyerang seluruh tubuhku.

Aku merentangkan tangan, berusaha merangkul ketiga gadis itu.

Warna merah telah memenangkan dominasi.

Sebelum semuanya menjadi gelap.

Tuhan..

Tolonglah kami...

Aku menyadari. Untuk pertama kalinya sejak Maria meninggal, aku berdoa, memohon pada Tuhan.


"Bagaimana keadaannya?"

"Kau bisa lihat sendiri. Buruk sekali…"

"Lalu bagaimana?"

"Entahlah, jangan tanya aku. Pamannya sedang dalam perjalanan kemari."

"Aku tidak tahu harus bilang apa pada Cross nanti…"

Aku mengerjapkan mata. Bau obat alkohol memenuhi seluruh indra penciumanku. Pandanganku bergoyang. Samar-samar kulihat beberapa orang duduk di sampingku.

Aku mencoba menggerakkan tangan. Sepertinya aku sedang tidur di atas kasur.

"Hwa! Kaget aku! Kau sudah sadar, Cross?"

Aku mendengar suara Cornelia. Apa aku sedang bermimpi?

"Halo? Cross? Bisa dengar aku?"

Kali ini suara Cloud. Aku mencoba duduk. Tapi seluruh tubuhku masih terasa sakit.

"Sepertinya masih bingung. Apakah kepalanya terbentur?"

Suara bass milik Zokaro. Apa yang terjadi di sini?

Aku merasakan sebuah tangan memaksaku tidur lagi. Aku mengerjap. Pandanganku kembali fokus. Aku bisa melihat Cornelia yang menatapku dengan sangat khawatir.

"Kau baik-baik saja?" Cornelia menyentuh dahiku. "Apa yang terjadi, hah? Seluruh tubuhku… aduh!" Aku mengerang ketika merasakan hujaman rasa sakit di bahuku. "Kau tidak ingat? Kau kecelakaan. Sekatang kau di rumah sakit," Cloud menjelaskan padaku.

"Kecelakaan ap…"

Tiba-tiba bayangan berkelebat di benakku.

Ketiga mobil yang berpacu dengan liar.

Truk yang dengan ganas akan menghantam.

Allen yang kupeluk.

Darah yang berceceran di mana-mana.

Tanganku gemetar, mencoba meraih mereka bertiga dalam dekapanku…..

"Itu bukan kecelakaan!! ALLEN!! LAVI!! KANDA!!" Aku memaksakan diri untuk duduk walaupun seluruh tubuhku menjerit kesakitan. "Tenanglah dulu!! Mereka semua baik-baik saja!" Cloud memaksaku untuk tidur lagi.

Pintu bangsalku dibuka. Masuk seorang dokter bersama seorang polisi.

"Rupanya anda sudah sadar, Tuan Cross!" dokter itu berlari mendekat dan dengan cekatan mengukur suhu tubuh Cross. Polisi yang bersamanya duduk di sofa.

"Itu bukan kecelakaan! Dan bagaimana keadaan mereka, dokter… Link?" Aku membaca papan tanda pengenal yang tersemat di dadanya. "Ya. Soal mobil yang menabrakmu, Tuan Laven yang akan mengurusnya," Dokter itu menoleh pada polisi yang duduk di sofa.

"Soal ketiga anakmu, mereka semua selamat. Allen, yang berambut putih, dirawat di kamar sebelahmu. Sebentar, saya ambil catatannya dulu," Link beranjak meninggalkan bangsal. Setelah Link pergi, aku menoleh pada polisi yang duduk di sofa itu.

"Perkenalkan, saya Laven," polisi itu bangun dan menjabat tanganku. "Sayangnya, pengemudi mobil putih itu telah meninggal, tanpa ditemukan identitas apapun. Jadi tidak bisa dimintai keterangan. Ini sepertinya dilakukan dengan terperinci… Apa anda punya dugaan tertentu?" Laven menatapku tajam.

Dugaan tertentu? Aku berpikir sejenak. "Hei, Versazo.." Aku memanggil Cornelia yang tersentak kaget. "Y-ya?" "Siapa saja yang kau beri tahu kalau aku akan pergi ke restoran favoritku?" Aku menanyainya dengan nada interogasi.

"Eh..eh.. Umm.. Anu.. Rui, Cloud, Zokaro, dan.. eh.. seseorang yang meneleponku," ujar Cornelia terbata-bata. "Siapa?" Aku menyipitkan mata. "Tidak tahu. Tiba-tiba menelepon handphoneku dan memaksaku untuk memberitahu diamana kau berada," Cornelia mengambil handphone-nya dari kantong.

"Pivate number.." gumamnya sambil menunjukkan daftar Log-in handphone-nya. Laven mengambil handphone Cornelia, lalu mengembalikannya pada Cornelia. Laven mengangguk berterimakasih, lalu mengeluarkan handphone-nya dan mulai memencet-mencet nomor.

"….. Halo? Ya? Ini kami. Ya. Ya. Kami minta siapa saja yang mendaftar untuk private number pada jam 21.38. Ya. Sekitar itu. Ya. ……………Benarkah? Terimakasih.." Laven menutup sambungannya. Aku menatap Laven, berharap adanya petunjuk.

"Biarkan pihak kepolisian mengurus ini. Saya permisi dulu. Semoga anda cepat sembuh, Tuan Cross," Laven membungkuk dengan sopan sebelum pergi meninggalkan bangsal.

Aku mengerang. Siapa yang merencanakan pembunuhan terhadapku? Aku bukan presiden ataupun orang penting. Tidak ada untungnya sama sekali bagi mereka untuk membunuhku…

"Allen dirawat di ruang sebelah, kan? Boleh aku mengunjunginya?" Aku bangun, tidak menghiraukan rasa sakit. Zokaro membantuku berdiri, lalu menuntunku ke kamar Allen. "Di mana kamar Lavi dan Kanda?" aku menanyai Zokaro. Zokaro hanya diam saja.

Aku masuk ke kamar Allen dan menghampirinya.

Dia sedang tidur. Perban putih yang senada dengan warna rambutnya membalut wajah bagian kirinya, tangan kiri, dan kedua kakinya. Tampak jelas keadaannya yang paling parah.

Hatiku sakit melihatnya. Tanganku gemetar, mengusap wajahnya.

"Bagaimana dengan Lavi dan Kanda?" Aku menoleh lagi pada Zokaro. Zokaro tampak enggan menjawab. "Mereka…."


"Kita akan ke bendara nanti malam. Kau tidurlah dulu, Yuu sayang," seorang wanita berpenampilan sangat mewah melambaikan tangannya pada seorang gadis berambut hitam yang dipanggilnya Yuu. Yuu menganggguk. Tapi tampaknya wajahnya diselimuti kesedihan.

"Onee-sama," seorang gadis kecil masuk ke kamar Yuu. Yuu tidak merespon. "Hei, hei, kau mau pergi tanpa bilang apa-apa pada tou-sama mu?" gadis kecil itu menatap Yuu dengan pandangan mata heran. Yuu kesal sekali, dia menyeret gadis kecil itu dan memitingnya dengan satu tangannya yang masih sehat, "Dasar bocah sok tahu!! Urusai!"

"Auh!! auh!! Sakiiit!" Gadis kecil itu tertawa, melepaskan diri dari Yuu yang memang sedang cidera dengan mudah. Yuu ikut tertawa, lalu duduk di ranjangnya. "Hatiku sakit kalau harus bertemu tou-san sebelum pergi…," Yuu tersenyum, dengan senyuman dingin yang tidak mencapai matanya.

Keheningan mencekam kedua gadis itu.

"Mecha Moya..," Yuu memecah keheningan.

"Nee?" Gadis kecil itu menelengkan kepala.

"KELUAR SANA!!!!" jerit Yuu sambil menyabetkan katana yang tergeletak di atas ranjang.

Yuu tersenyum kecil ketika mendengar sumpah serapah dan kata-kata tidak pantas yang diteriakkan gadis kecil itu padanya ketika dia berlari keluar kamar, dan tak lupa membanting pintu.

Yuu menjatuhkan diri ke atas ranjangnya yang empuk. Yuu mengeluh, membenamkan wajahnya dalam-dalam ke bantal.

"Tou-san…" Gumamnya pelan.

"Moyashi… Lavi…" Gumamnya lagi. Hatinya benar-benar perih memikirkan mereka bertiga. Dia sudah tak sanggup lagi. Perasaan di dadanya tumpah menjadi kristalan air mata.


"Kenapa masih di sini? Istirahatlah, nanti malam kita segera ke bandara," seorang pria tua menasehati gadis di sebelahnya. Gadis itu diam saja. Tatapan matanya kosong. Gadis itu menutup mata kanannya dengan perban.

"Lavi! Kau dengar, tidak?" bentak kakek itu. Gadis berambut merah yang dipanggilnya tersentuk kaget. "Y-ya, Gramps?" Lavi tergagap, menoleh kepada kakeknya. Kakeknya menggeleng-geleng kepala, pasrah dengan tingkah laku cucunya yang satu ini.

Lavi merenung ketika kakeknya sudah membanting pintu kamar Lavi. Perlahan, dia menyentuh mata kanannya. Mata kanan yang sudah tak akan pernah melihat cahaya lagi, akibat melindungi Kanda dari pecahan kaca.

Mata hijaunya kini sendirian. Kesepian.

Gadis itu mengeluarkan foto dari dalam dompetnya. Photos-box yang diambilnya secara paksa bersama kedua saudarinya.

Lavi tertawa kecil melihat foto itu. Di foto berpigura hati itu, Lavi dan Allen saling berangkulan, mencoba memerangkap Kanda di tengah. Wajah Kanda yang terang-terangan tidak suka terpampang jelas di foto itu.

Lavi memasukkan foto itu lagi, lalu mengeluarkan foto yang lain.

Foto kuno hitam putih yang diberikan Deak dulu, saat dia masih berumur 7 tahun.

Foto seorang pria tampan berambut panjang. Yang kelihatannya difoto diam-diam oleh Deak.

Lavi dulu sering heran, mengapa Deak suka sekali mengoleksi foto. Baik foto sahabat, mantan pacar, dan keluarga.

Kini dia mengerti.

Karena selembar foto ini adalah kepingan kenangan terindah. Bukti bahwa seorang pria bernama Cross Marian pernah hidup dan berpijak di dunia fana ini.

Lavi tak sanggup lagi membendung emosinya.

Air matanya tumpah ruah.

Seperti hujan yang turun di luar kamar hotelnya.

Seakan-akan langit ikut menangis bersamanya.

Dipeluknya dompet yang berisi foto Cross dan saudari-saudarinya itu dengan sangat erat. Suatu fakta. Bukti nyata bahwa mereka pernah hidup bersama sebagai satu keluarga…..


(CROSS' POV)

"KENAPA?? KENAPA BISA??" Aku meraih kerah kemeja Zokaro. "Mereka… wali mereka mengambil mereka saat kau masih koma..," jawab Zokaro, yang mencoba mendorongku karena lehernya tercekik.

Seluruh tubuhku membeku. Wali? Tidak! Aku ayah mereka! Tidak ada yang berhak memiliki mereka selain aku!

Aku melepaskan kerah baju Zokaro. Zokaro menatapku tajam ketika aku melepas piyamaku dan meraih pakaian dari dalam lemari.

"Kau… Jangan bilang kau…" Zokaro mencegahku keluar. Aku menaikkan risleting sampai ke leher, lalu menepis tangannya.

"Aku sudah pernah kehilangan ibu mereka, kehilangan hak asuh mereka. Kali ini tak akan kubiarkan…" desisku pelan. Tapi pasti. Seluruh tubuh yang masih terasa sakit bukan masalah bagiku.

Karena cintaku pada mereka bukanlah cinta biasa.

BCB

(Be Continued Besok)

Bukan besok beneran, sih… Kalau lancar, Sabtu depan bisa update^^.


Bagaimana? Sulit menggambar luapan emosi masing-masing karakter… Omong-omong, bagian kejar-kejaran mobil itu keren,ya? Terinspirasi dari 2fast2furious, nih^^.

Buat Laven-kun adeknya Yucchan, maaf nggak bisa ngejadiin kamu tetangganya Cross. Malah saia kasih peran yg lebih keren, alias polisi lalu lintas!!! *ditabok Laven* maksud saia.. Polisi level atas!

Chapter Blood pun akhirnya selesai… Untuk chapter punishment, tetap tidak akan ada lemon! Sayang sekali, ya? Kapan-kapan aja, kalo Rei ada niat bikin fic M. (Kapan niat??)

Balasan review anonymous :

Rin-chan : Ihik ihik? Nangis atau ketawa ala mbak kunti? *dihajar Rin*. Soal pacaran… jadi bingung sendiri. Mending sama saia… ( just kidding! XD ) Lucky, mungkin? Thx fo review!

Hyuuga Nala : Maaf,ya, Nala! Rei sibuuuk banget ngurusin OSIS, jadi baru bisa apdet Kamis. Kamis, kok! Bukan Jumat! ( kayaknya, sih ) *ngebuang air dari ember* Thx fo review!

Oke! Review please! Kalo ngerasa fic ini jelek, Flame juga boleh!