~Nagisa itu ... Laki-laki?~

Ansatsu Kyoushitsu

Rated : T

Pair: KaruNagi / Karma x Nagisa

Genre : Romance, Hurt/Comfort, etc.

Disclaimer:

Ansatsu Kyoushitsu milik Matsui Yuusei-sensei. Saya hanya meminjam tokohnya saja.

Warning:

Jika kalian tidak menyukai Yaoi/BL, maka silakan lambaikan tangan ke kamera. Ralat, silahkan menekan tombol back. Memang tertulis bahwa genre fic ini Romance, namun jika tidak berkenan di hati Anda, saya minta maaf. Jika anda tidak suka fic saya, sekali lagi silahkan menekan tombol back. Apalagi sepertinya Karma disini udah kelewat OOC dan berbagai typo bertebaran~

Summary :

Karma tak bisa berhenti memikirkannya. Karma tak bisa melupakannya. Perempuan manis nan cantik yang dia temui beberapa tahun yang lalu di taman kejahilannya. Perempuan yang tersenyum lembut dan berani mendekati iblis sepertinya. Tapi, takdir berkata lain ketika Karma kembali bertemu dengannya.

WARNING! RATE DI CHAPTER INI SUDAH BISA DIBILANG TINGGI. APABILA ANDA MASIH POLOS, JANGAN DIBACA! SAYA TAK BERTANGGUNG JAWAB JIKA ANDA TAK POLOSDAN UNYU-UNYU LAGI.

Chapter Empat ...

Nagisa terbelalak. Syal yang sedang ia pegang... Dia sangat yakin bahwa itu adalah syalnya. Hm,baiklah. Kemungkinan kecil ini miliknya. Ayolah, syal yang seperti ini juga banyak di kota Tokyo, apalagi musim dingin. Tapi, entah kenapa Nagisa sangat yakin ini syalnya. Yang membuatnya lebih yakin lagi adalah secorak tinta biru di ujung syal yang bertuliskan huruf "NS". Inisial dari namanya. Dia mengingat jelas bahwa dia sendiri yang menuliskannya.

"Berarti... laki-laki tujuh tahun yang lalu adalah Karma...?" Nagisa mengigit bagian bawah bibirnya. Antara senang, terkejut dan takut.

Klekk... Suara pintu membuat Nagisa kaget dan sukses menyembunyikan syal itu kembali ke gantungan di lemari Karma. Dia segera keluar dan memastikan siapa yang datang.

"Karma-kun,kau sudah pulang?"

Karma tersenyum tipis melihat Nagisa menyambut kedatangannya. "Hei,ada apa ini? Aku mendapat sambutan layaknya seorang suami baru pulang kerja." Dia terkekeh pelan, membuat Nagisa merona. "J-Jangan bercanda,Karma-kun! Kau yang membuatku menunggu terlalu lama! Tentu saja aku risih di rumah orang sendirian! Nanti ada barang yang hilang,aku yang dicurigai!"

Karma tersenyum tipis kemudian berjalan ke arah ruang tengah dan melemparkan tasnya. "Di rumah ini mana ada barang yang penting? Semuanya pasti dibawa orangtuaku pergi. Yah, kecuali barang di kamarku." Karma menatap tajam Nagisa

"Kau tak membongkar isi kamarku, 'kan?"

Glek! Nagisa terdiam sejenak. Tidak,tidak,tidak! Kalau kau berbuat hal yang mencurigakan, kau bisa dicurigai.

"Tidak, untuk apa aku membongkar kamarmu? Aku kesini bukan untuk mencuri." Nagisa berusaha tenang dengan mengeluarkan beberapa buku di meja tamu. "Hm..." Karma bergumam sebentar. "Kau tak tahu tentang 'itu'?"

"Hah? Itu? Apaan itu?" Karma tertawa pelan ketika melihat ekspresi wajah Nagisa yang kebingungan. "Tidak... Tak ada apa-apa... Ayo mulai, kau tak mengerti di bagian mana?" Karma duduk di sebelah Nagisa sambil melihat buku-buku Nagisa dan mulai menjelaskan beberapa bagian yang kurang Nagisa mengerti.

"Eh? Tapi, Koro-sensei menjelaskan seperti ini?" Nagisa menunjuk sebuah buku dengan beberapa coretan dan tinta merah disertai beberapa gambar gurita. "Hm, itu boleh juga. Tapi, jika kau memang sulit mengerjakan ini, kau boleh memakai ini. Tapi,ingat! Rumus ini juga penting dan ingat datang darimana angka-angka ini..."

Nagisa mengerutkan dahi. "Ukh... Aku masih kurang... " Karma mengambil buku yang lain. "Coba kerjakan dulu soal ini. Bandingkan saja dulu mana yang lebih mudah. Itu tergantung denganmu sih ..."

Nagisa mengangguk dan segera mengerjakan soal yang diberikan Karma. Karma memperhatikan Nagisa baik-baik. "Eh, k-kayak begini ya?" Nagisa menunjukan coretan yang masih setengah jalan. "Tak-tahuu~" Karma mengangkat bahu membuat Nagisa mengendus kesal. "Karma-kun...menyebalkan." Nagisa melanjutkan.

Karma terdiam sejenak,kemudian mencubit pelan telinga Nagisa. "Masih beruntung aku mau mengajari,"

Hening sesaat. Nagisa sangat serius mengerjakan soal sedangkan Karma memperhatikannya. Tidak, Karma bukan memperhatikan jawaban Nagisa, tapi memperhatikan wajah Nagisa. Ekspresi wajahnya yang serius tampak imut di mata Karma.

"Ne,Nagisa-kun..." Karma memanggil. Nagisa menjawab tanpa menatap wajah Karma. "Hmm?"

"Kau takut mati?"

Nagisa menghentikan kegiatannya. Terkejut dengan pertanyaan Karma. "Kenapa kau menanyakan hal seperti itu? Jangan membuatku takut!"
Karma tertawa pelan. "Habis,kau serius sekali. Jangan terlalu dipikirkan, santai saja."

"Seharusnya,kau mengatakan itu pada dirimu sendiri." Nagisa menepuk pelan kepala Karma. "Eh?"

"Jangan terlalu dipikirkan tentang itu, santai saja." Nagisa mengulangi perkataan Karma membuat Karma sedikit terkejut.

"Kau... tahu tentang 'itu'?"

Nagisa memiringkan kepala. "Apa itu?" Karma tersenyum tipis. "Lupakan." Dia memegang tangan Nagisa yang membelai rambutnya.

"Nagisa-kun, kau pernah bermain di taman bermain dekat sini?" Nagisa sedikit gugup ketika tangannya dipegang oleh Karma. "C-Cukup sering,"

"Jadi, apa kau mengenal perempuan berambut biru itu?" Nagisa menelan ludah. "A-Aku ..."

"Aku sering bermain di sana, tapi aku tak pernah melihatmu."

"M-Mungkin jam main kita berbeda."

"Benarkah? Kau tahu tidak?" Jarak wajah mereka semakin dekat. "T-Tahu apa?"

"Aku... " Karma berbisik. Nagisa menutup mata. "Menyukainya."

"E-Eh?" Semburat merah terlihat jelas di bawah mata Nagisa. "Aku menyukai perempuan itu. Walau dia sudah menjadi laki-laki sekarang... Aku tetap menyukainya." Karma mendorong pelan tubuh Nagisa hingga terbentur oleh sofa. "K-Karma-kun, a-apa maksudmu?"

"Kau tak mengerti maksudku,Nagisa-kun? Kau sedang berhadapan dengan anak setan yang dibilang itu lho~"

"B-Baiklah, aku mengerti maksudmu. Tapi, kenapa kau yakin bahwa aku adalah perempuan itu?"

"Ng? Bukannya kau sendiri yang bilang?"

"E-Eh?"

Flashback
"A-Aku harus pergi dulu,ya!" Anak perempuan itu melangkahkan kakinya pergi.

"Tunggu!" Laki-laki bersurai merah itu menghentikan langkah kaki perempuan itu dengan cara menarik lengannya.

"N-Nama..."

Perempuan itu memiringkan kepala. "Namaku?" Laki-laki itu mengangguk.

"Nagisa Shiota! Yoroshiku, Akabane Karma!"

"K-Kenapa kau... tahu namaku?" Laki-laki itu kaget. "Ngg...? Darimana,yah?" Perempuan itu tersenyum misterius.

"Karena... aku suka denganmu!"

"E-Eh?" Laki-laki bersurai merah itu terkaget. "Apa maksudmu? Kita bahkan belum bertemu sebelumnya."

Perempuan itu tersenyum tipis. "Memang benar, kita belum bertemu sebelumnya. Tapi,aku mengagumimu. Kau begitu tampan, keren dan berani melawan orang-orang di sekitarmu. Kau begitu gagah ketika melawan lawanmu. Kau begitu manis ketika tersenyum atas kemenanganmu. Itu yang membuatku menyukaimu."

"A-Apa?" Laki-laki itu terkejut. Ah,lebih tepatnya tak tahu mau berkata apa. Perempuan itu tersenyum. "Sampai berjumpa lagi,Karma-kun!"

Flashback off

"Kau lupa itu,Nagisa-kun?"

"A-Aku ..." Nagisa lupa. Kenapa dia melupakan hal sepenting itu? Yang dia ingat hanyalah syal itu. Ah,bodohnya dirinya. Dia sudah mengatakan suka pada anak iblis ini sejak lama.

"Terdiam? Kau jahat sekali,Nagisa-kun. Kau membuatku kecewa. Padahal aku sudah menyukai perempuan itu dan menemukanbahwa perempuan itu menjadi seorang laki-laki sekarang ..."

Nagisa menelanludah. Apa ... ? Apa dia harus membuka aibnya disini sekarang?

"I-Ibuku ... Ibuku sangat menginginkan anak perempuan, karena itulah aku dididik seperti anak perempuan ... Ma-Maafkan aku ..." Nagisa menutup mata. Hei,jarak wajah mereka masih dekat lho.

"Hoo...? Ibu yang kejam ...Dia memPHP diriku. Kau juga. Kenapa kau mengatakan suka padaku kalau kau tahu kalau dirimu ini laki-laki?" Nagisa merasa geli. Karma memegangi perutnya dan perlahan turun ke bawah. Itu membuatnya risih. "K-Karma-kun ,j-jangan ..."

Karma tersenyum. "Ternyata kau benar laki-laki."

"Ukh ..." Nagisa memerah. Karma mengangkat pelan tubuh Nagisa ke atas sofa dan menindih tubuh mungil Nagisa tersebut.

"K-Karma-kun, apa yang ingin kau lakukan?!" Nagisa panik. Ya,panik sekali. Siapa sangka Karma yang selama ini baik kepadanya ternyata sekejam dan seberani ini?

"Melampiaskan kekecewaanku terhadapmu. Itu semua salahmu. Aku... " Karma menghentikan pergerakannya. Terdiam sejenak. Nagisa merasa sedikit lega, tapi...

"Karma-kun,kenapa?" Nagisa memberanikan diri bertanya.

"Nagisa-kun, kau tahu...? Aku benar-benar kaget ketika mengetahui bahwa kau sebenarnya adalah laki-laki. Hatiku terlanjur sakit,Nagisa-kun. Aku benar-benar menyukaimu, tapi... " Karma menundukan kepalanya, namun Nagisa bisa melihatnya dengan jelas. Raut wajah Karma tidak seperti biasanya. Apa yang terjadi?

"Karma-kun,maafkan aku."

"Beberapa kali kau meminta maaf padaku, itu tak bisa membuatku melupakan semuanya. Aku sudah terlanjur jatuh. Kau meluluhkan hatiku,Nagisa-kun... Apa... yang harus kulakukan? Aku tak mau membuatmu..." Nagisa mengerutkan dahi. Hei, ke arah mana pembicaraan ini?

"Aku takut,Nagisa-kun... " Badan laki-laki di depannya itu bergetar hebat. Ketakutan,pasti. Tapi, Nagisa tak mengerti... Kenapa kau setakut ini...?

"Aku takut... Aku takut mati,Nagisa-kun..." Karma meremas pelan baju seragam Nagisa. Nagisa kaget. Ma... ti? Kenapa? Kenapa tiba-tiba Karma takut mati?

"Kau kenapa,Karma-kun?!" Nagisa memegang pipi Karma. Tidak ... Karma tak menangis. Dia tak boleh menangis.

"Karma-kun... Hmphhh!" Mata Nagisa terbuka sempurna. Bibirnya bersentuhan secara langsung dengan bibir Karma. "K-Kar... Ukh.. argh," Karma tak membiarkan Nagisa menghirup oksigen. Nagisa berusaha melawan dengan cara memukul-mukul dada Karma, tapi gagal. Karma hanya meresponnya dengan menyipitkan mata untuk menahan rasa sakit. Lidah Karma mulai masuk dan memainkan lidah Nagisa. Sesak ... Tapi, Nagisa menikmatinya, hanya pasrah dengan apa yang Karma lakukan padanya.

"U-Ukh... K-Ka," Nagisa tak kuat. Dia butuh oksigen. Dia tak ingin mati. Dia menarik rambut Karma,memberi kode bahwa dia butuh napas.

"Hah... Hah..." Keduanya sama-sama membutuhkan napas. Karma tak peduli,seolah dirasuki. "Nagisa-kun, kau membuatku galau."

Nagisa terdiam. "Maafkan aku,Karma-kun!" Menangis, dia hampir menangis mengingat kejadian tadi. "Akan kulakukan apapun... Tapi,kumohon jangan... " Nagisa sudah mengeluarkan air mata. "Aku benar-benar menyukaimu,Karma-kun! Sangat menyukaimu. Jadi,kumohon jangan ..." Ciuman itu terjadi lagi. Sekilas, tapi itu cukup membuat Nagisa terkejut.

"Lebih baik kau melupakanku,Nagisa-kun," ucap Karma sehabis setelah ciuman terakhir itu. "Eh...? Kenapa?"

"Kau sudah salah karena menyukaiku. Lebih baik kita tidak perlu berbicara lagi,"

"Tunggu!" Nagisa berusaha berdiri dan mendorong Karma. "Kenapa...? Kenapa jadi seperti ini? Kau telah berbuat seperti ini padaku! Bagaimana bisa kau bilang kalau aku harus melupakanmu?!"

"Itu tadi... hanya hukumanmu. Kumohon, biarkan aku..." Karma memalingkan wajah.

"Karma-kun, sebenarnya apa yang terjadi padamu?"

Karma diam, tak mau menjawab. "Lupakan."

"Tak, aku tak bisa." Nagisa serius.

Ponsel Karma berdering secara tiba-tiba. Karma mengambilnya dan melihat siapa yang menganggunya.

"Akabane-kun! Ke rumah sakit sekarang! Jangan melarikan diri!"

Si penelpon berteriak. Nagisa bisa mendengarnya dengan jelas. "Rumah ... Sakit?"

"Cih,berisik Sensei. Aku tak apa-apa,"

"Lagipula ini sudah waktunya untuk check up. Sekaligus memeriksa kesehatanmu."

"Berisik!" Karma membanting ponselnya ke arah meja.

"Karma-kun... Kau sakit apa?" Nagisa memberanikan diri bertanya.

Karma tak menjawab,malah mengalihkan pembicaraan. "Kau... ingin berjanji padaku,Nagisa-kun?"

"Janji? Jika aku bisa, yah... aku melakukannya."

Karma tersenyum, berusaha tersenyum. "Jangan ... tanyakan... "

"Apa? Bicaralah dengan jelas,Karma-kun..."

"Jangan... " Karma memegang kuat tangan Nagisa. Dan di saat itulah Nagisa menyadari...

Bahwa Karma sudah seperti mayat hidup.

"Karma-kun!" Nagisa berteriak kencang, panik, takut. Darah ... Bau amis, bau besi ... Tidak, sebenarnya apa yang terjadi?

Karma Akabane tak sadarkan diri, tepat di pangkuan Nagisa Shiota

To Be Continue!

Gajebo? Gajebo? Gomen,gomen! Aku buatnya buru-buru! Aku ada urusan yang mengharuskanku keluar kota, jadi aku buru-buru membuat chapter terbaru

Ideku untuk memasukan Koro-sensei sepertinya tak berhasil, biarkan sajalah seperti ini ::_::

Etooo! Untuk chapter selanjutnya, tunggu aku selesai di luar kota ya~ Makanya aku buat chapter ini AGAK panjang +_+

Gak usah banyak bacot! Sebenarnya Karma kenapa? Apa yang akan dilakukan Nagisa selanjutnya?!

Tunggu sajaa≧﹏≦

Balasan repiuw!

mari: Gak boleh request! /tabok

Bole kok, tapi abis ujian mid ya~ Sekarang udah susah buka laptop T_T

Aku juga buanyak tugas,tapi malas kerjakan ~T_T~

Rinciannya ditunggu! Aku udah dapet ide untuk fic yang direquest mari-chan!

Wako : Ndak,ndak. Fic ini bukan horror '-')/ Jangan takut,ya *^▁^*

.9 : Kalau kukasih tahu, ga seru donggg ~T_T~ Ditunggu aja ya.:)

Rhea-Alektrona-san: Ceritanya seru? Arigatooo! xD

TM itu apaan? (maaf)

Kemungkinan kecil, dokter itu jadi pihak keempat /lha?

Aku tak berbakat „ Aku celalu kena marah karena tak punya bakat. Tahunya nonton,main,tidur xD

Asapnya tebel,ya? Masih gak sesak nih T_T

Rhea-san SMA kan? Rekomendasikan SMA dong /lhainianak!?

Mama curuh SMA 8, Papa curuh SMA 1, Aku maunya langsung kuliah/lha?

Sekian dulu deh, maaf ivy jadi ribut:v

Ok,minna! Sampai jumpa lagiiiiii!

Salam,

Ivy-chan9