Pairing : Meanie
Rated : T/M
Length : Chaptered
Warning : Boys Love and Typo
.
.
Mata sipit Wonwoo mulai terasa berat. Ia berulang kali menggelengkan kepalanya untuk mengusir rasa kantuk. Acara tv yang ia tonton belum selesai. Terasa sayang kalau di lewatkan. Tapi sepertinya matanya tidak bisa di ajak bertahan lebih lama lagi.
Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Biasanya Wonwoo tahan tidak tidur sampai dini hari. Karena selalu saja ada pekerjaan dadakan meski itu tengah malam. Seperti malam sebelumnya, Wonwoo tidur di sofa. Ia menepuk-nepuk bantal yang sudah ia siapkan sedari tadi.
"Kau tidurlah di kamar! Aku tidak ingin di pukul Halmonie lagi."
Belum sempat Wonwoo mendaratkan kepalanya pada bantal, Mingyu sudah menginteruksinya. dengan mata setengah terpejam, Wonwoo mengambil bantalnya. Memeluknya dan membawanya ke kamar.
Tanpa bertanya tidur di sebelah mana, Wonwoo langsung merebahkan tubuhnya. Ia tidur membelakangi Mingyu. Lebih tepatnya tidur menghadap lemari. Sedangkan Mingyu menyusul tidur di sisi lainnya.
Mereka sama-sama tidur membelakangi. Mingyu mengangkat sedikit kepalanya dan menoleh ke arah Wonwoo. Ia mengerutkan keningnya. Namun kembali rebahan. Baru beberapa detik, ia sudah mengangkat kepalanya lagi dan menghadap Wonwoo.
"Kau tidak ingin membuat perjanjian?" tanya Mingyu. Sesuai dugaannya, wonwoo belum benar-benar terlelap. Ia menghadap Mingyu dengan malas.
"Apa maksudmu?" tanyanya.
"Kau tidak ingin membuat kontrak atau semacamnya? Misalnya batas tempat tidur kita?" tanya Mingyu. Biasanya kalau orang yang menikah seperti mereka, akan ada salah satu pihak yang membuat perjanjian. Takut di sentuh atau semacamnya. Tapi Wonwoo berbeda. Ia justru terlihat santai saja. Bahkan sama sekali tidak ada ancaman untuknya. Atau larangan untuk menyentuh.
"Kau tenang saja. Aku tidak akan melakukan sesuatu padamu malam ini. Aku sedang tidak ingin," jawab Wonwoo santai.
"M-Mwo?" mata Mingyu langsung terbelalak. Tidak menyangka justru kalimat seperti itu yang keluar dari bibir Wonwoo.
"Jadi kau tidurlah. Aku tidak akan melakukannya padamu," terang Wonwoo sekali lagi.
"Tidak melakukan sesuatu padaku?" tanya Mingyu dengan wajah horrornya.
"Kenapa? Kau berharap aku melakukan sesuatu padamu? Sayang sekali aku sedang tidak ingin. Kapan-kapan saja." Wonwoo menjawab tanpa menatap Mingyu. Ia sudah kembali pada posisi semula. Tidur membelakangi Mingyu.
"Yak, apa yang kau bicarakan? Kenapa kau berbicara seolah-olah aku yang berada di bawah hah?" teriak Mingyu tidak terima. Ia merasa di lecehkan dengan kalimat Wonwoo. Di lihat dari segi manapun, Mingyu yang terlihat mendominasi.
"Ck, kau berisik sekali. Kau diamlah! Ini sudah malam. Aku mengantuk," tegur Wonwoo yang membuat Mingyu ingin menjatuhkan rahangnya.
"Kau meremahkanku huh? Kita lihat saja nanti," batin Mingyu sambil merubah posisinya. Tidur membelakangi Wonwoo. Menarik selimut sebatas dada dan mulai memejamkan mata.
.
.
"KIM MINGYUUUU."
Dua makhluk yang tengah terlelap langsung terlonjak. Mata setengah mengantuk milik mereka terarah ke pintu. Wonwoo mengucek matanya saat melihat nenek dan ibu mertuanya sudah berada di depan pintu kamar mereka. Berbeda dengan Mingyu yang sudah memasang wajah horror.
"Kau tidur nyenyak dengan selimut tebal sedangkan kau biarkan istrimu tidur tanpa selimut?" tanya Jinhae sambil memasang wajah garangnya.
Mingyu langsung menoleh ke arah Wonwoo. Memang benar pemuda manis itu tidak mengenakan selimut. Tubuh kurusnya hanya di balut piyama berwarna kuning. Dan Mingyu baru sadar kalau Wonwoo memakai piyama dengan motif lucu.
"Ah… itu… itu… aku—"
Mingyu kehilangan kata-kata. Tidak ingin mendapat pukulan lagi, Mingyu melompat dari tempat tidur. Langsung berlari masuk ke kamar mandi.
"Eomma, piyama ini sangat pantas kan untuk Wonwoo? Lihatlah dia manis sekali," ucap Deehae.
Sedari tadi wanita cantik itu tidak memperhatikan anaknya yang terkena omelan. Ia fokus pada Wonwoo yang duduk di ranjang. Piyama berwarna kuning bermotif kucing tampak lucu di tubuh putih Wonwoo. Membuat Deehae gemas dan ingin membelikan yang lebih banyak.
"Ahh… iya. Ini benar-benar lucu. Sangat cocok untukmu Wonwoo-ya," balas Jinhae yang baru saja memperhatikan Wonwoo. Tadi ia terlalu terlarut untuk mengomeli cucunya.
"Kapan-kapan kita cari lagi ya Eomma. Menyenangkan bisa mencari baju-baju lucu untuk Wonwoo." Kalimat Deehae langsung di anggguki ibunya. Membuat Wonwoo hanya menghela nafas pasrah. Baru tiga hari menikah saja ia sudah berubah seperti ini. Tidak tahu bagaimana nasibnya di bulan-bulan selanjutnya.
"Asalkan mereka tidak berniat merubah alat kelaminku saja," batin Wonwoo.
"Selesai Mingyu mandi, kau bersiap-siaplah Wonwoo-ya. Hari ini Eomma akan mengajak kalian membeli furniture sesuai selera kalian. Barang-barang yang ada di sini hanya sementara. Karena kami ingin kalian yang memilihnya sendiri."
"Tapi ini semua sudah bagus Eomma," ucap Wonwoo sebagai penolakannya. Ia tidak hoby dengan acara belanja seperti itu. Bahkan ia tidak tahu barang mana yang bagus. Yang ia tahu, barang yang mahal sudah pasti bagus.
"Ini semua tidak bagus. Desainnya saja terlihat sangat sederhana. Kau bisa bicarakan dengan Mingyu nanti."
Mata Wonwoo mengitari kamarnya. Baginya kamar mereka terlihat begitu mewah. Paduan warna cream, gold dan maroon membuat matanya sakit. Ranjang mereka berwarna putih ciri khas ranjang pengantin baru. Sedangkan ia terbiasa dengan rumah kumuh dan cat yang itu-itu saja. Bahkan ranjangnya terbuat dari kayu. Dan tidak jarang hanya tidur beralaskan kasur lipat.
.
.
Wonwoo melangkahkan kakinya ke dalam rumah mewah keluarga Kim. Meski bukan kali pertama ia menginjakkan kakinya ke rumah megah itu, tapi tetap membuatnya terkagum. Ia masih belum bisa membayangkan berapa nominal untuk membangun mewah bergaya eropa itu.
Pemuda manis itu mendudukkan dirinya di sofa. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Jadi, Wonwoo hanya diam memandangi sekitar rumah. Ia menantu di rumah Kim. Tapi ia tetap merasa seperti tamu yang harus bersikap sopan.
Wonwoo melenguh bosan. Mingyu sedang tidak ada di rumah. Suaminya itu pergi menemui sekretaris pribadinya karena ada urusan mendadak. Ayah dan ibu mertuanya sedang pergi keluar. Sedangkan sang nenek tengah menerima telepon di ruangan lain.
"Wonwoo-ya, sepertinya Halmonie harus pergi sebentar. Kau tunggulah di sini. Mingyu juga sebentar lagi akan kembali."
Wonwoo mengangguk. Tidak mungkin ia merengek meminta ikut. Ia sangat sadar usia. Meski sepertinya sang nenek akan melakukan apa saja untuknya.
"Kalau kau butuh sesuatu, jangan lakukan sendiri. Kau bisa panggil mereka!" Wonwoo mengikuti arah pandang Jinhae. Tampak beberapa maid dan butler di sekitar rumah mewah itu. Lagi-lagi Wonwoo hanya menangguk saja. Tapi ia tidak akan melakukannya, karena ia lebih suka melakukannya semua sendiri.
Sepeninggal Jinhae, Wonwoo pergi ke dapur. Belum sempat ia mengambil gelas, dua gadis cantik langsung menghampirinya.
"Tuan muda ingin sesuatu?" tanya salah satu gadis yang memiliki tubuh berisi.
"Aku hanya haus," jawab Wonwoo sambil meraih gelas. Namun ia terkejut saat maid lainnya mengambilkan gelas untuknya. Dan menuangkan air mineral ke dalamnya.
"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri," tolak Wonwoo.
"Maaf tuan muda. Tapi ini pekerjaan kami. Halmonie sudah memerintahkan kami untuk mengurus segala kebutuhan tuan muda." Pemuda manis itu menghela nafasnya. Ia merasa risih dengan panggilan tuan muda.
"Panggil Wonwoo saja. Sepertinya Noona lebih tua dariku. Jangan panggil tuan muda. Aku tidak menerima penolakan."
Kedua maid cantik itu mengangguk terpaksa. Namun mereka tersenyum karena tuan muda yang satu ini berbeda dengan tuan muda pewaris keluarga Kim. Karena tuan muda mereka sangat sulit di ajak berbicara.
"Noona, aku mau ke taman belakang! Tapi di mana jalannya? Bisa-bisa aku tersesat kalau mencarinya sendiri."
Tanpa banyak bicara, kedua gadis yang lebih tua dari Wonwoo berjalan menunjukkan jalan. Sedangkan Wonwoo berjalan dengan tenang. Rumah Mingyu terlalu luas. Bahkan masih banyak tempat yang belum pernah ia lihat. Hanya ruang tengah, ruang makan, kamar Mingyu dan juga halaman depan. Selebihnya Wonwoo tidak tahu.
"Ini dia taman belakangnya," ucap maid bertubuh kurus.
Wonwoo mengedarkan pandangannya. Meski belakang rumah, namun tetap luas. Di teras belakang, berjejer sofa berwarna coklat. Dan meja bundar di tengah-tengahnya. Tidak jauh dari teras, terdapat sebuah ayunan berwarna putih. Dan tampak juga taman mini yang di tumbuhi berbagai bunga.
Wonwoo berjalan ke taman mini yang terletak di tengah-tengah. Ia tidak takut kulitnya akan terbakar. Padahal jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Tapi dengan santai, Wonwoo melenggang mendekati seorang laki-laki yang tengah membersihkan rumput.
Ke dua gadis cantik itu membulatkan matanya melihat Wonwoo berada di bawah terik matahari. Kalau sampai penguasa rumah itu tahu, mereka berdua yang akan terkena imbasnya.
"Ahjussi tidak lelah?" tanya Wonwoo tiba-tiba.
"Tuan muda!" ucapnya terkejut. Ia langsung membungkuk memberi hormat.
"Ahjussi jangan seperti itu. Aku lebih muda dari Ahjussi. Dan jangan panggil tuan muda. Panggil Wonwoo saja." Wonwoo berjongkok melihat tanaman yang sepertinya baru tunas.
"Tapi tuan muda—"
"Aku tidak menerima penolakan Ahjussi," potong Wonwoo langsung. Kali ini paman pembersih kebun tidak membantah. Ia hanya tersenyum maklum. Sangat tampak kalau Wowoo tidak nyaman dengan kehidupannya yang saat ini.
"Kau suka menanam Wonwoo-ya?" tanya laki-laki paruh baya itu.
"Dulu saat aku di panti asuhan, aku juga sering menanam Ahjussi. Aku sering membantu Eomma menanam beberapa sayuran. Tapi semenjak bekerja menjadi pengantar paket, aku tidak pernah menanam lagi."
Lagi-lagi, laki-laki paruh baya itu tersenyum. Jelas terlihat kalau Wonwoo adalah pemuda yang begitu sederhana. Bahkan walau saat ini statusnya sudah menjadi bagian keluarga Kim, tapi tidak merubah sifat aslinya. Tampak rendah hati dan begitu sederhana.
"Apa yang tuan mu… emm maksudnya kau lakukan Wonwoo-ya?" tanya maid cantik yang sedari tadi memperhatikan Wonwoo.
"Mencabut rumput. Apalagi?" tanya Wonwoo balik.
"Wonwoo-ya, jangan lakukan itu. Kau tidak boleh mencabut rumput seperti itu. Sudah ada Ahjussi yang melakukannya," ucap gadis cantik itu panik. Ia merasa nasibnya berada di tangan Wonwoo. Karena ia bisa di pecat kalau Jinhae tahu cucu menantunya mencabut rumput di bawah terik matahari.
"Noona ke dalam saja! aku akan di sini bersama Ahjussi. Matahari tidak bagus untuk kulit Noona."
"Bukan mataharinya yang tidak bagus, tapi kau yang tidak bagus kalau kotor-kotoran seperti itu." Wonwoo tidak memperhatikan wajah khawatir para maid yang memperhatikannya. Bahkan maid yang sedari tadi masih bekerja ikut menatap Wonwoo was-was.
"Aigoo… bisa habis kita. Kau lihat itu tangan tuan muda berlumuran tanah."
"Bagaimana ini? Nanti Halmonie memecat kita kalau cucu menantunya tidak putih lagi." Dua gadis cantik itu semakin heboh. Ia seperti tengah menjaga balita. Balita yang baru bisa berjalan dan perlu di jaga ekstra.
"Ahjussi, apa bunga-bunga di dalam pot ini akan di pindahkan?" tanya Wonwoo menunjuk beberapa pohon kecil di dalam pot berwarna hitam.
"Iya, bunga-bunga ini akan di satukan dengan bunga lainnya."
"Kalau begitu aku yang akan memindahkannya Ahjussi." Wonwoo mengambil cangkul yang terletak di samping laki-laki itu. Mencangkul tanahnya tanpa takut tangannya akan kasar. Sedangkan para pekerja keluarga Kim sudah membulatkan matanya horror.
Setelah menggali lubang yang tidak terlalu dalam, Wonwoo memindahkan pohon di dalam pot ke dalam tanah. Saat ini ke dua tangannya benar-benar tampak kotor. Tapi Wonwoo tampak menikmati kegiatannya. Sampai tidak menyadari pekerja lainnya menelan salivanya susah payah. Mereka bersama-sama berdoa supaya Jinhae tidak segera kembali.
"Tamatlah riwayat kita," keluh para maid yang melihat keringat mengalir di pelipis Wonwoo. Mereka sadar Wonwoo bukan anak gadis. Mereka sadar Wonwoo bukan balita yang harus di jaga. Tapi akan menimbulkan masalah karena yang akan mereka hadapi adalah Jinhae. Bahkan sejak dulu, Jinhae tidak mengizinkan Mingyu bermain sembarangan.
"Kalau kita di pecat, kita harus cari pekerjaan di mana lagi?" tanya gadis cantik itu lemah.
"Omo… omo… cucu menantuku. Aigoo… ya Tuhanku."
Tubuh mereka menegang mendengar suara yang tidak asing itu. Mereka tidak berani memutar kepalanya. Membatu di tempat masing-masing.
"Ya Tuhaaaan… kenapa cucu menantuku seperti tukang kebun begini?" Jinhae langsung mendekati Wonwoo. Mendengar suara sang nenek, Wonwoo menghentikan kegiatannya. Wanita paruh baya itu tampak berjalan tergesa-gesa ke arahnya.
"Halmonie sudah pulang?" tanya Wonwoo polos. Tidak menyadari Jinhae dan pekerja lainnya sudah kelabakan karena tingkahnya.
"Omo… omo… kau berkeringat. Dan apa itu? Tanganmu kotor penuh dengan tanah. Ya Tuhanku kenapa cucu menantuku bekerja seperti ini?" Jinhae menarik Wonwoo berdiri. Setelahnya ia berkacang pinggang. Menatap pekerjanya dengan wajah garang.
"Apa yang kalian lakukan hah? Kenapa kalian membiarkan cucu menantu Halmonie seperti tukang kebun? Kalian lihat kan Wonwoo sampai berkeringat. Dan lihat itu tangannya kotor seperti itu!"
Kedua gadis cantik itu mengkeret di tempatnya. Meski Jinhae tidak akan melukai mereka, tapi mereka benar-benar takut dengan wanita tua itu.
"Maaf Halmonie, tadi Wonwoo yang—"
"Siapa yang baru saja kau sebut Wonwoo?" tanyanya galak.
"Maksud kami, tuan muda—"
"Halmonie, jangan marahi mereka. Aku yang ingin melakukannya. Aku yang suka berkebun. Karena sejak di panti, setiap hari aku berkebun Halmonie—" Wonwoo memutus kalimat para maid cantik itu. Tapi kalimatnya langsung di potong oleh Jinhae.
"Ya Tuhanku, kenapa Kau biarkan cucu menantuku tersiksa seperti itu? Tapi sekarang kau tidak boleh melakukannya lagi Wonwoo-ya. Halmonie sudah membayar orang untuk mengerjakan semuanya. Jadi Halmonie tidak akan membiarkan cucu Halmonie bekerja lagi. Kau tahu kan Mingyu yang akan mencari banyak uang. Jadi kau jangan kerjakan apapun!" Jinhae mengucapkannya dengan begitu tegas. Sangat terlihat wanita tua itu tidak ingin di bantah.
Kali ini Wonwoo tidak membantah lagi. Ia tidak ingin wanita tua itu terus-terusan mengomel. Bukan karena Wonwoo risih mendengarnya. Tapi Wonwoo menghormati nenek Mingyu yang juga sudah menjadi neneknya.
"Sekarang bersihkan tanganmu! Setelah itu kita pergi ke salon." Kali ini mata Wonwoo yang membulat horror. Salon? Membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
"S-Salon Halmonie? Untuk apa?"
"Tentu saja melakukan perawatan." Rasanya, dunia berhenti berputar. Kepala Wonwoo terasa pusing mendadak. Ia seorang laki-laki. Bagaimanapun ia tetap laki-laki. Sama sekali tidak pernah terpikir akan melakukan perawatan seperti wanita.
"Halmonie… itu… aku—"
"Sudah. Ayo kita ke dalam. Bersihkan tanganmu dan kita langsung pergi." Jinhae menarik lengan Wonwoo. Mau tidak mau pemuda manis itu mengikuti langkah sang nenek.
"Halmonie, untuk apa aku juga ikut ke salon? Aku bukan wanita, Halmonie," ucap Wonwoo yang masih di geret Jinhae masuk ke dalam rumah.
"Siapa bilang salon hanya untuk wanita. Laki-laki juga bisa ke salon. Dan kau harus melakukan perawatan."
"Tapi aku tidak terbiasa ke salon Halmonie. Aku di rumah saja ya menunggu Mingyu," ucap Wonwoo memelas. Ia benar-benar takut masuk ke salon. Dan sama sekali tidak ingin masuk ke dalamnya. Apalagi sampai melakukan perawatan.
"Tidak ada penolakan. Kau tadi baru saja memegang tanah dan terkena panas matahari. Kulitmu bisa terbakar kalau di biarkan. Nanti kau tidak putih lagi. Cucu Halmonie harus terlihat cantik setiap saat. Percuma saja Mingyu bekerja mencari uang kalau istrinya tidak terawat."
Wonwoo kehilangan kata-kata. Kalau bisa, ia sudah menangis saat ini. Apalagi melihat beberapa maid menawahan tawanya. Mereka tersenyum geli melihat nasib Wonwoo yang mengenaskan.
"Cepat bersihkan tanganmu!" Jinhae memaksa Wonwoo masuk ke kamar mandi. Ia merasa bukan seperti menantu. Tapi seperti gadis kecil yang di jaga ketat. Wonwoo yakin, berat badannya akan terus menurun kalau seperti ini. Ia benar-benar merasa stress dengan nenek dan ibu mertua yang memperlakukannya seperti seorang gadis.
Jinhae menarikan tangannya di layar sentuh ponselnya. Ia mendial salah satu nomor yang tersimpan di kontaknya. Setelah menunggu beberapa detik, terdengar suara dari seberang sana.
"Deehae-ya, Eomma dan Wonwoo akan pergi ke salon. Kau mau ikut tidak?"
"Ke salon? Waaah aku ikut Eomma, aku ikut. Sudah seminggu aku tidak ke salon. Rasanya kulitku sudah kasar. Apa itu artinya Wonwoo akan perawatan juga Eomma?" Deehae terlihat begitu antusias. Mereka berdua seperti anak remaja yang begitu heboh membicarakan salon.
"Wonwoo ikut. Dia akan melakukan perawatan bersama kita."
"Aaaaaa akhirnya aku bisa pergi ke salon dengan menantuku. Pasti kulit Wonwoo akan bertambah halus."
"Itu harus. Cucu menantu Eomma tidak boleh terlihat gelap. Cukup Mingyu saja yang berbeda dengan kita. Kalau begitu, Eomma tunggu di salon langganan kita."
"Baiklah Eomma! Aku akan langsung ke sana. Dan aku yang akan memilihkan perawatan terbaik untuk Wonwoo."
Di dalam kamar mandi, batin Wonwoo menangis sedih. Ia ingin berteriak kalau ia adalah laki-laki. Ia ingin menjerit kalau ia bukan gadis yang membutuhkan perawatan. Tapi lagi-lagi ia tidak bisa menentang keinginan nenek dan ibu mertuanya.
"Siapapun tolong aku. Aku tidak mau ke salon," batin Wonwoo pilu. Setelah ini ia berjanji tidak akan berkebun lagi. Ia tidak akan mengotori tubuhnya kalau harus berakhir di salon.
.
.
Mingyu dan seorang pemuda tampan duduk berhadap-hadapan di kafe yang terlihat mewah. Di hadapan Mingyu, tampak beberapa tumpukan kertas.
"Mingyu, kenapa kau ingin kita bertemu di sini? Padahal aku bisa langsung ke rumahmu untuk meminta tanda tangan."
Mingyu tidak langsung menjawab pertanyaan sekretaris pribadinya. Tangannya masih sibuk menorehkan tinta hitam pada berkas-berkas penting di hadapannya.
"Aku sedang ingin keluar saja. Sudah empat hari ini aku tidak pernah keluar."
"Bukan karena kau tidak ingin aku melihat istrimu itu?" tanya Jun sambil menaik turunkan alisnya. Namun Mingyu menahan kekesalannya. Meski Jun adalah pegawainya. Tetap saja Jun lebih tua darinya.
"Aku belum tahu seperti apa istrimu. Bagaimana dia? Apa menarik?" tanya Jun sambil mengambil dokumen dari hadapan Mingyu. Menutupnya dan memasukkan ke dalam tasnya.
"Tidak seburuk yang aku bayangkan." Mingyu menyesap secangkir Americano yang sedari tadi ia di abaikan.
"Jadi?" tanya Jun penasaran.
"Apanya?" tanya Mingyu malas.
"Kau tidak menyesal di jodohkan. Dan bagaimana malam pertama kalian?" Jun langsung tersenyum lebar melihat wajah kesal sajangnim-nya. Ekspresi Mingyu menunjukkan kalau mereka belum melakukan apapun.
"Kenapa? Dia kurang menarik?"
"Dia sangat menarik. Aku jadi membayangkan bagaimana rasanya bibir tipis berwarna merah alami itu. Dan bagaimana kalau tubuh putih dan mulusnya itu berada di bawahku tanpa tertutup apapun," Mingyu menyeringai ke arah Jun. Sedangkan sekretaris pribadinya menggeleng tidak percaya.
"Kalimatmu begitu mesum Sajangnim. Mengerikan."
.
.
.
.
.
TBC
Typo tolong di maapin. Gue lagi gak mood buat ff. ini aja maksa. Maap kalau aneh dan gak ada feelnya.
