NARUTO © Masashi Kishimoto

LOVE YOU © Evellyn Ayuzawa

Title: Love You [Chapter 4]

Author: Evellyn Ayuzawa (Elva Agustina ManDa)

Genre: Romance, Drama, School-life

Length: Chaptered

Rated: M

Cast:

Naruto U. x Sakura H.

Warning: OOC, Typo, EyD Amburadul, etc.

Thanks To: all reader!

Happy Reading!

NO BASH, NO PLAGIAT, RnR PLEASE!

Hati-hati Typo bertebaran ^_^

Story Begin

-AUTHOR Pov.-

.

.

.

.

.

"Oi, Naruto," Naruto menghentikan langkahnya, ia menoleh ke belakang karena suara feminin yang memanggilnya.

"Oh, Ino. Ada apa?" tanya Naruto heran karena tak biasanya Ino menghampirinya di kelas padahal kelas mereka berdua berbeda walaupun letaknya tepat berhadapan.

Ino mengibaskan tangannya di depan muka kemudian balik menanyai pemuda pirang di depannya itu, "Apa yang terjadi dengan Sakura?" Naruto tertegun.

"Apa yang terjadi dengan Sakura?" Naruto mengulang pertanyaan Ino, balik memandang gadis itu tak mengerti.

"Iya, apa yang terjadi dengannya? Hari ini dia bolos," Ino menjawab dengan bosan.

"Dia bolos?" Naruto sedikit menegang mengetahui bahwa Sakura membolos.

Ino mengangguk pelan, "Iya, kau tahu sendiri bukan, Sakura paling anti dengan kegiatan tak berguna itu. Ada apa dengannya? Kau pasti tahu, rumah kalian kan bersebelahan."

Naruto menggeleng, "Aku tidak tahu, Ino."

"Oh, ya sudah. Bye," Ino berbalik kemudian melangkah keluar dari kelas Naruto. Pemuda pirang itu kembali melangkahkan kakinya dan segera duduk pada bangku miliknya.

Naruto bergeming, ia menyangga dagunya dengan tangan kirinya kemudian memandang keluar jendela yang tepat berada di samping kanannya. Langit biru tampak cerah, angin berhembus lumayan kencang akhir-akhir ini. Sudah mulai memasuki musim menerbangkan layang-layang.

Naruto menghembuskan nafas berat. Ia memikirkan Sakura. Apa yang terjadi kemarin di rumah Sakura kembali terlintas di benaknya. Naruto sangat tahu dan sangat memahami ekspresi Sakura kemarin saat mengatakan bahwa gadis musim semi itu dengan senang hati menerima hubungannya dengan Hinata.

Sakura sudah sangat lama ia kenal. Mereka tumbuh dan berkembang bersama dari kecil hingga sekarang. Ia sudah sangat mengenal diri gadis itu. Segala keburukan dan kelebihan gadis itu diketahuinya. Banyaknya kebiasaan yang rutin dilakukan Sakura pun ia tahu. Bahkan seakan-akan Naruto tahu apa yang ada di dalam kepala gadis itu.

Sakura sangat mudah ditebak. Gadis itu memang sangat ekspresif dan enerjik. Naruto tahu apa saja yang ada pada diri Sakura. Cerita pilu kehidupan Sakura yang membuatnya sebatang kara. Masalah pelik yang pernah dilalui Sakura. Semua ia tahu. Termasuk perasaan Sakura terhadapnya.

Naruto tahu kalau Sakura mempunyai perasaan lebih padanya.

Namun ia tetap diam. Naruto takut jika suatu saat hubungan mereka yang telah terbangun selama ini akan rusak. Ia terlalu takut dengan perasaan Sakura. Naruto tidak ingin menyakiti gadis malang itu. Namun sekali lagi ia tahu kalau gadis itu telah tersakiti olehnya.

Dua kali.

Dua kali ia menyakiti Sakura. Dan dua kali pula ia tak melakukan apapun. Sakura menyatakan perasaan padanya, dan ia menolaknya. Gadis itu menangis saat tahu bahwa ia telah memiliki orang lain, dan sekali lagi ia hanya diam.

Ia merasa telah menjadi seorang pengecut. Nyalinya tiba-tiba menciut jika sudah berhadapan dengan mata hijau cerah milik Sakura. Mata indah yang terpaksa berkali-kali menyaksikan kekejaman dunia yang gelap.

Naruto tak dapat menolong Sakura. Ia tak berdaya melawan rasa takut menyakiti gadis itu yang semakin lama semakin besar, hingga semakin hari memperlebar jarak di antara mereka. Membangun dinding tak terlihat pada mereka. Dan sekarang hubungan yang mati-matian ia jaga telah hancur lebur hanya karena kebodohannya sendiri.

Naruto ingin menerima perasaan Sakura, tapi hatinya telah dimiliki orang lain. Ia tidak mungkin sanggup jika harus membohongi gadis bersurai merah muda itu terus-menerus. Naruto tak ingin menyakiti Sakura lebih besar. Ia pun tak ingin menyiksa hatinya sendiri.

Naruto teringat dengan tatapan sedih dari kedua mutiara hijau milik Sakura. Sakura tak menerima hubungannya dengan Hinata. Jelas sekali bahwa Sakura kemarin sangat terpaksa menerima kenyataan itu.

Matanya tidak berbinar seperti biasanya. Mereka terlihat lebih gelap dari aslinya. Sakura menangis terlalu lama, membuat mereka redup. Mata Sakura putus asa. Dan Naruto dengan kebodohannya tak melakukan apapun untuk mengembalikan binar bercahaya dari kedua mata Sakura. Jelas ia tahu dan sangat mengerti bahwa kedua kristal indah milik Sakura tengah meminta tolong padanya. Mereka ingin diselamatkan.

Naruto mengepalkan tangan kanannya yang sedari tadi diam di atas meja. Ia terlalu malu untuk menemui Sakura langsung. Mereka sudah beberapa minggu ini tidak lagi berjalan bersama ke sekolah.

Sakura memutuskan untuk berangkat sekolah naik bus semenjak Naruto menolaknya. Dan akan berjalan kaki saat pulang bersama dengan Ino. Namun mereka berdua akan pulang paling terlambat hingga jumlah siswa di lingkungan sekolah bisa dihitung jari.

Naruto menyadari perubahan itu. Waktu itu Ia secara diam-diam mengikuti Sakura. Naruto sebenarnya tidak ingin seperti itu, tapi ia mengkhawatirkan gadis musim semi itu. Naruto ingin tetap menjaga Sakura walaupun kehadirannya tak diinginkan oleh gadis itu. Setidaknya ia cukup memastikan bahwa Sakura baik-baik saja.

Sakura masih sama seperti sebelumnya. Namun ia tahu bahwa gadis itu sedikit berubah. Sakura menjadi lebih tertutup dari sebelumnya. Hanya Ino lah satu-satunya teman yang sangat dekat dan selalu menempel pada Sakura.

Karena mereka tinggal di kota kecil, jadi kabar sekecil apapun akan mudah tersebar, apalagi jika kabar tersebut cukup panas untuk dijadikan perbincangan antar Ibu-ibu rumah tangga tukang gosip. Hal itu membuat masalah tentang keluarga Sakura diketahui banyak orang.

Sakura menjadi bahan ejekan dan dijauhi selama beberapa bulan setelah Ayahnya meninggalkan rumah, ia menjadi korban bullying. Naruto dan Ino mati-matian melabrak anak-anak itu. Namun tetap saja masih banyak yang tak menyerah dan tetap mengucilkan Sakura dengan segala tuduhan-tuduhan kosong.

Naruto menghela nafas panjang saat mengingat hal itu. Ia bersyukur masa-masa gelap itu telah berlalu. Sakura juga telah diterima dengan baik lagi oleh penduduk kota ini. Mereka akhirnya sadar kalau semua hal yang terjadi pada keluarga Sakura bukanlah salah anak itu, ia adalah korban. Dan secara perlahan sikap orang-orang menjadi hangat.

Naruto tersenyum saat mengingat bagaimana dulu Sakura memeluknya erat dan berterimakasih –tentu saja Ino juga bersama dengan mereka. Sakura mulai kembali ceria, ia semakin sering tersenyum. Ia ingat saat mengajari Sakura untuk membalas setiap sapaan orang-orang. Karena cukup lama tidak ada yang menyapanya, Sakura menjadi canggung dan kaku. Sakura sangat senang karena bisa menyapa orang-orang dan membalas sapaannya lagi. Gadis itu terlihat sangat bahagia waktu itu.

"Naruto, ada yang mencarimu," Naruto menatap Kiba –teman sekelasnya– yang memberitahunya.

"Siapa?" tanya Naruto.

"Pacarmu," Naruto mengalihkan pandangannya pada pintu kelas dan melihat Hinata telah berdiri dengan wajah merona saat mata mereka bertemu.

"Oh, thanks!" Kiba hanya bergumam kemudian berbalik dan pergi dari bangku Naruto.

Naruto bangkit dari bangkunya dan melangkah pada Hinata. Gadis itu tersenyum lembut pada kekasihnya dengan pipi yang semakin merona.

"Ada apa, Hinata-chan?" tanya Naruto sembari membalas senyum Hinata.

"Eum... Naruto-kun, aku hanya ingin memberitahumu kalau hari ini tidak bisa pulang bersama. Hari ini ada acara keluarga, jadi nanti pulangnya dijemput Ayah." Hinata menjelaskan.

"Oh, baiklah. Hubungi aku jika sudah sampai di rumah," ucap Naruto sembari melempar senyum.

"Tidak apa-apa kan, Naruto-kun?" Naruto menggeleng dua kali dengan senyum yang semakin melebar.

"Tidak apa. Memangnya aku bisa mencegahmu?" Naruto mengusap lembut mahkota gelap milik Hinata.

"Tidak. Baiklah, aku pulang dulu." Naruto tersenyum kemudian mengangguk, ia menurunkan tangannya di samping tubuhnya. Hinata berbalik dan melangkah menjauh dari Naruto dan melambai sebentar sebelum hilang di belokan menuju tangga.

Naruto menghela nafas. Ia juga ingin segera pulang, tapi masih ada dua pelajaran tambahan hari ini. Naruto mengerang pelan, ia frustasi karena mendapat dua nilai merah di ujian percobaannya minggu lalu. Dan sekarang ia harus mengikuti pelajaran tambahan untuk memperbaiki nilainya. Ia berjalan malas kembali ke bangkunya kemudian merebahkan kepalanya di meja.

"Kau kenapa?" Kiba yang bangkunya tepat di depan Naruto heran melihat pemuda pirang itu tak bersemangat.

"Hinata pulang duluan," jawab Naruto datar, tetap menempelkan pipinya pada permukaan meja miliknya.

"Lalu?" Kiba kembali bertanya.

"Aku juga ingin cepat-cepat pulang," Naruto kembali menghela nafas panjang.

"Kau akan mendapat hukuman kalau pulang sekarang," ucap Kiba yang kini fokus dengan ponselnya.

Naruto mengerang lumayan keras, "Sialan! Kau tak perlu mengingatkanku tentang itu, Idiot!"

Kiba hanya melirik Naruto bosan sekilas kemudian mengedikkan bahunya tak peduli, "Kau harusnya tidak mendapat nilai merah kalau ingin pulang cepat setiap hari."

"Itu bukan salahku mendapatkan nilai merah," Naruto mengangkat kepalanya kemudian menyangganya dengan tangan kanan dan memandang ke luar. Di bawah sana hampir seluruh siswa melangkah keluar halaman sekolah. Ia memandang iri pada para siswa yang selamat dari pelajaran tambahan.

"Memangnya salah siapa lagi kalau bukan salahmu sendiri?" Kiba mengerutkan dahinya.

"Salah Sakura," Naruto berujar lirih dengan mata sendu saat mengucapkan nama teman dari kecilnya.

Kiba mengalihkan pandangannya dari ponsel pada Naruto. Ia mengernyitkan alis tinggi. Memperhatikan perubahan raut wajah teman pirangnya itu. Kemudian ia ikut-ikutan menghela nafas panjang dan menepuk bahu Naruto.

"Buat dia bertanggung jawab pada nilai merahmu," ucap Kiba yang kembali fokus pada layar ponselnya.

"Maksudmu?"

"Kau bilang nilai merahmu salah Sakura kan?" Naruto mengangguk walaupun Kiba tak melihatnya, "Datangi dia lalu minta pertanggung jawabannya."

Naruto hendak mengajukan pertanyaan lagi pada Kiba, namun terinterupsi dengan kedatangan guru pembimbingnya. Kiba memasukkan ponselnya ke saku celananya kemudian melempar seringai khasnya pada Naruto lalu berbalik dan mulai memperhatikan pelajaran.

Naruto masih berusaha memikirkan perkataan Kiba. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke luar, memandang keindahan langit sore yang cerah dengan semburat cahaya oranye terang yang mengintip di sela-sela awan putih.

"Ini tidak akan mudah,"

.

.

.

.

.

Naruto menyandarkan tubuhnya di pagar rumah Sakura. Ia mengapit tas sekolahnya di lengan kirinya. Kedua tangannya masuk ke saku celana seragamnya. Sesekali ia melirik jam tangan kecil di pergelangan tangan kirinya. Kemudian menghela nafas panjang.

Hari sudah semakin gelap dan ia masih belum berniat untuk masuk ke rumahnya. Sudah hampir pukul sembilan malam, itu berarti Naruto telah berdiri di depan rumah Sakura selama dua jam. Menunggu pemilik rumah membukakan pagar rumahnya dan mempersilahkannya masuk. Namun nihil, ia masih tetap pada posisi awalnya. Tak beranjak dari wilayah luar rumah Sakura.

Naruto mencemaskan keadaan gadis itu. Ia tahu bahwa sahabat merah jambunya tidak ada di rumah. Rumah gadis itu masih gelap dan tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya, selain anjing jantan besar mirip srigala milik Sakura yang beberapa kali terdengar gonggongannya saat melihat orang lewat atau lebih tepatnya pada setiap gadis yang berjalan. Naruto beranggapan mungkin anjing itu mengira bahwa gadis-gadis yang lewat adalah Sakura.

Ia sudah mencoba mencari gadis merah muda itu di sekitar kota. Beberapa kali juga ia berkeliling ke tempat-tempat yang kemungkinan didatangi oleh Sakura. Mengirim pesan berkali-kali juga menelpon tak ada satupun yang ditanggapi Sakura. Akhirnya ia hanya bisa menunggu gadis pemilik mata emerald itu pulang. Ia benci jika harus menunggu. Dan ia sangat benci saat tidak mengetahui dimana gadis itu berada.

Naruto mulai terserang pegal-pegal pada kedua kakinya karena terlalu lama berdiri. Ia meringis kemudian memutuskan untuk mendudukkan pantatnya di tanah. Tangan kanannya masuk ke dalam celah pagar Sakura dan tak berapa lama terasa geli karena menyentuh benda lunak yang berair. Yeah, apa lagi jika bukan anjing besar milik Sakura yang sedang menjilat dengan semangat telapak tangan Naruto yang terbuka. Naruto sedikit terkikik merasakan jilatan penuh air liur itu.

"Haru, kau tahu kemana si kelinci merah jambu pergi?" tanya Naruto pada Haru –nama anjing Sakura– kemudian membelai leher penuh bulu Haru yang dijawab dengan gonggongan serta jilatan lagi.

"Oh, kau tidak tahu ya? Hahh... kau juga menunggunya kan?" Haru menggonggong keras dan menjulurkan dua kakinya ke celah pagar. Menggonggong terus dan berjalan mondar-mandir dengan semangat.

"Hei, kau kenapa? Ingin keluar ya? Sayang sekali, aku tak bisa mengeluarkanmu dari situ, Haru. Kita harus menunggu kelinci merah jambu pulang dulu," ucap Naruto pelan seraya mengusap leher Haru agar anjing besar itu tenang.

Naruto mengalihkan pandangannya dari Haru saat dirasanya ada langkah kaki yang mendekat lumayan cepat. Ia melihat seseorang berlari ke arahnya, seorang gadis, tepatnya Sakura. Naruto segera bangkit dari duduknya kemudian menepuk bokongnya yang terkena tanah.

"Sakura-chan!" panggil Naruto saat gadis muda itu telah sampai di depannya.

Sakura berhenti kemudian mengatur nafasnya dengan pandangan yang tak lepas dari sosok tetangganya itu.

"Naruto, ada apa?" Naruto mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya.

"Kau itu yang ada apa?! Kau itu kemana saja? Tidak masuk sekolah dan tidak ada di rumah!" Naruto bertanya dengan suara keras, ia sedikit kesal dengan Sakura karena gadis muda itu terlihat santai dan biasa saja. Padahal Naruto mencemaskan keadaan gadis itu dan sekarang Sakura hanya bertanya ada apa?

Sakura memandang Naruto datar, ia mengalihkan pandangannya pada mata Naruto kemudian berjalan melewatinya dan berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Haru yang masih menjulurkan kedua kakinya keluar pagar dan terus menggonggong.

"Aku hanya berlari sebentar," jawab Sakura sembari menggaruk leher anjingnya yang kini berhenti menggonggong dan menjulurkan lidahnya.

"Apanya yang sebentar?! Kau pergi dari tadi pagi, Sakura-chan! Dan sekarang sudah hampir tengah malam!" Sakura bangkit dari posisi jongkoknya kemudian berdiri dan menghadap pemuda pirang yang menatapnya tajam.

"Itu bukan urusanmu," jawab Sakura dengan suara datarnya.

Naruto semakin merasa kesal pada Sakura karena secara tidak langsung gadis itu menyuruhnya untuk tidak mempedulikannya, dan tentu saja itu sedikit menyinggung perasaannya. Naruto mendekatkan tubuhnya pada Sakura kemudian mencekal kedua lengan gadis itu lumayan erat.

"Dengarkan aku, Sakura! Kau boleh melakukan apapun dan pergi kemanapun, tapi satu hal yang harus dan perlu kau tahu serta lakukan adalah JANGAN PERNAH MENGHILANG DARI PANDANGANKU! Kau mengerti?!" Sakura membulatkan kedua matanya, ia tertegun dengan kalimat Naruto. Sakura juga lumayan terkejut karena untuk pertama kalinya, Naruto berteriak padanya. Bahkan pemuda itu tak memberikan –chan di belakang namanya seperti biasa. Itu berarti Naruto telah benar-benar marah.

"Jangan pernah sekali-sekali KAU menghilang dari pandanganku!" Naruto mengulangi kalimatnya dengan cengkraman yang semakin erat di kedua lengan atas Sakura. Dengan takut-takut, gadis muda itu menganggukkan kepalanya pelan dua kali.

Mereka berdua saling menatap mata satu sama lain. Pandangan tajam mata Naruto yang sedikit mengintimidasi gadis muda pemilik mata bening nan terang kehijauan di depannya perlahan melembut saat disadarinya mulai tampak berkaca-kaca. Sakura menundukkan kepalanya, namun kedua tangan Naruto dengan cepat telah berpindah pada sisi wajah Sakura.

Kedua tangan Naruto menuntun wajah gadis muda itu agar kembali menatapnya. Naruto mengelus pipi kanan Sakura dengan ibu jarinya lembut. Kemudian ia melemparkan senyum tulus pada Sakura. Kristal bening mulai memenuhi bola bulat emerald milik gadis itu kemudian dengan pelan mulai meluncur meninggalkan kelopak matanya.

"He– hei! Jangan menangis! Maafkan aku, Sakura-chan!" Naruto panik saat Sakura mulai menangis. Wajahnya sendu.

Sakura tersenyum saat melihat pemuda pirang itu panik dan mengusap air mata yang keluar dari matanya. Ia menatap mata Naruto dalam. Hatinya kembali menghangat saat tenggelam dalam ombak tinggi lautan tak berdasar milik teman sejak kecilnya. Sakura seakan tersadar pada dunia nyatanya kembali bahwa hatinya masih dimiliki pemuda pirang itu.

Naruto juga ikut tersenyum saat melihat Sakura tersenyum begitu manis padanya. Ia membelai kembali pipi merona milik Sakura. Gadis itu terlihat nyaman dengan apa yang ia lakukan. Sakura memejamkan matanya kemudian memiringkan kepalanya untuk menenggelamkan pikirannya pada kenyamanan yang diberikan Naruto.

Naruto tak mengalihkan sama sekali pandangannya dari gadis merah muda itu. Ia merasakan kehangatan menjalar pada hatinya. Menyelubunginya hingga seluruh tubuhnya tertutup dengan kehangatan itu. Memperhatikan wajah damai milik sahabat karibnya itu menimbulkan perasaan aneh pada hatinya.

Perlahan namun pasti, perasaan aneh itu semakin timbul ke permukaan, menggetarkan seluruh indranya. Aroma wangi serta rasa menggelitik di perutnya mulai jelas. Hingga saat mata terpejam milik Sakura terbuka dan kembali memperlihatkan keindahan tiada tara kealamian hutan nirwana dalam mata emeraldnya itu, tubuh Naruto seakan terbakar oleh api surga yang membuatnya bersedia hangus menjadi abu oleh api surga itu. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat saat pandangan matanya bertemu dengan berlian terindah milik Sakura yang menatapnya sayu.

Tubuh Naruto seperti bergerak sendiri. Kedua tangannya yang masih berada di masing-masing sisi wajah Sakura ia gunakan untuk menarik gadis itu mendekat padanya. Sakura terlihat kebingungan, namun Naruto tak menghentikan gerak tubuhnya dengan Sakura yang sudah sangat dekat. Hingga saat wajah mereka hanya berjarak satu jari panjangnya, Sakura menahan tubuhnya dengan kedua tangan gadis itu pada dadanya. Ia begitu gila menginginkan satu hal pada gadis manis di hadapannya ini.

"Na– Naruto! Tunggu!" ia menulikan pendengarannya, matanya tetap fokus pada keindahan kelopak mawar merah yang ranum milik Sakura yang kini tengah terbuka. Ia hanya penasaran dengan bibir penuh milik gadis muda yang sedang meronta minta dilepaskan itu.

"Naru! Tidak!" Sakura semakin kuat mendorong tubuh Naruto menjauh darinya, namun apa daya, fisik serta kekuatannya jauh di bawah pemuda pirang yang saat ini tengah menawan wajahnya dengan kedua tangan kekarnya.

Naruto cukup sadar dengan apa yang ia lakukan sekarang. Namun ia tak dapat mengendalikan gerak tubuh serta akal sehatnya untuk berhenti. Gadis bermahkotakan surai merah muda di hadapannya ini seakan telah menghipnotisnya. Dan Naruto adalah lelaki yang sangat normal untuk tidak menyia-nyiakan keindahan tersebut, apalagi jika hal itu berada di hadapannya tepat satu jengkal darinya.

Ia melepaskan tangan kirinya dari pipi kanan milik Sakura kemudian menawan kedua tangan mungil gadis itu agar berhenti mendorongnya. Sakura membelalakkan matanya melihat kedua tangannya tidak dapat membantunya lagi, ia menggelengkan kepalanya berkali-kali hingga tak lama usahanya itu malah membuat tangan kanan Naruto menekan wajahnya agar berhenti dan kembali bertemu pandang.

"Naruto, aku tidak mau!" Air mata kembali menggenang pada kedua matanya. Ia menatap Naruto sendu.

"Kenapa? Kenapa kau tidak mau?" tanya Naruto pelan, matanya masih fokus pada bibir ranum merona milik gadis merah muda itu. Ia merasa gemas sendiri menyaksikan kelopak mawar yang ranum itu membuka dan menutup.

"Karena––" perkataan Sakura tak dapat ia lanjutkan saat dirasanya sesuatu yang empuk dan kenyal menyentuh keningnya lama.

Naruto mencium kening Sakura lama. Ia menarik tubuh gadis itu dalam pelukannya dan merengkuhnya erat, melingkari tubuh langsing Sakura dengan kedua lengan berototnya. Lama ia tidak melepaskan bibirnya dari kening Sakura. Ia seperti orang gila karena sangat mendamba bibir ranum menggemaskan itu, namun ia harus kuat menahan dirinya jika ia tak mau Sakura membencinya maka cukup ia tumpahkan dengan ciuman ringan di kening.

Ia masih belum mengerti dan memahami perasaannya sendiri pada Sakura. Perasaannya pada gadis muda pemilik Haru itu tak dapat ia ketahui dengan jelas. Hatinya bimbang karena terlalu ragu untuk mengartikan jenis perasaan yang kini tengah menggetarkan hatinya begitu keras. Naruto tahu hal itu salah, ia telah memiliki Hinata. Namun ia tak dapat menahan lebih lama lagi perasaan aneh yang menyenangkan itu saat memandang gadis manis ini. Ia hanya ingin Sakura berada di sisinya.

"Sakura-chan! Bagaimana bisa kau lari begitu cepat? Hosh... Hosh... Hosh," suara berat di belakang punggung Naruto membuatnya kecewa karena Sakura mendorong dadanya hingga bibirnya lepas dari kening gadis itu. Ia sangat tidak rela dan tentu keberatan dengan itu.

Naruto tak melepaskan Sakura dari kungkungan lengannya dan tetap menempelkan tubuh mereka berdua. Menghembuskan nafas berat karena kesal telah diinterupsi orang asing, Naruto membalikkan tubuhnya melihat seseorang yang kini memandangnya terkejut serta Sakura.

Naruto balik memandang pria yang ia prediksikan berusia lebih tua dari dirinya itu tajam. Pria berambut panjang yang dikuncir itu dengan sekejap telah memasang wajah datar dan balik menatapnya tajam. Naruto mengeratkan pelukannya pada tubuh Sakura, tak ia biarkan pria asing itu melihat wajah merona Sakura yang sangat cantik nan menggemaskan. Naruto memerangkap wajah Sakura di dadanya.

"Siapa kau?" Naruto bertanya pada pria asing itu dengan suara yang sangat dingin.

"Kau pasti Naruto. Perkenalkan, aku Itachi," ucap Itachi tak kalah dinginnya, ia tak repot-repot mengulurkan tangannya pada Naruto karena ia tahu hal itu hanya akan membuatnya malu. Jelas sekali jika pemuda pirang yang tengah memerangkap Sakura itu mengeluarkan aura membunuhnya dan hal tersebut sudah jelas berarti uluran tangannya nanti hanya akan mendapati udara kosong tanpa raga dari pemuda itu.

"Katakan apa yang ingin kau katakan dan cepat tinggalkan Sakura," Naruto menatap tajam Itachi.

Itachi memiringkan kepalanya ke kanan kemudian tersenyum meremehkan pada Naruto. Ia menggelengkan kepalanya dua kali sembari menutup matanya. Tangannya pun ikut mengibas beberapa kali.

"Oh... sopan sekali, anak muda. Kau tidak bisa mengusirku begitu saja. Lagi pula seharusnya kau itu yang segera pergi karena kau dan aku tidak ada urusan apa-apa. Dan sebaiknya kau segera melepaskan Sakura-chan. Ku kira dia tidak nyaman kau kurung seperti itu," Itachi dengan entengnya melangkahkan kakinya mendekat pada sepasang muda mudi itu kemudian menarik tubuh Sakura hingga terlepas dari Naruto dan menempatkannya di belakang tubuhnya.

Naruto tak terima karena Itachi yang seenaknya menarik Sakura dan menyembunyikannya. Ia merengut dan melangkah maju hendak merebut kembali Sakura dari pria dewasa itu. Naruto jengkel dengan lagak Itachi yang seakan tengah melindungi gadis itu dari penjahat. Seharusnya ia lah satu-satunya pemuda yang pantas melindungi Sakura dari pria dewasa sok kenal itu.

"Tunggu dulu, anak muda. Lebih baik kau pulang saja ke rumahmu dan biarkan aku berbicara dengan gadis manis ini," Itachi menghentikan langkah Naruto dengan kalimatnya. Naruto menatapnya tajam kemudian berdecih.

"Memangnya kau itu siapa berani sekali memerintahku, Paman?" tanya Naruto dingin. Ia kembali melangkahkan kakinya.

"Sakura, ayo pulang!" Naruto menarik tangan Sakura dan menggenggamnya erat kemudian menjauh dari Itachi yang tak berniat mencegahnya.

"Kau itu memang anak muda yang keras kepala. Kau itu seharusnya tidak berpindah ke gadis lain. Kau seharusnya hanya peduli dengan wanitamu dan hanya kepadanya saja. Tidakkah kau sedikit saja memikirkan perasaan orang lain dengan perlakuanmu itu? Kau bisa saja membuat seseorang salah paham," ucap Itachi santai dengan kedua tangan yang terlipat di depan dadanya namun dalam kalimatnya tersirat makna yang cukup membuat Naruto tertohok.

Naruto paham dengan maksud dari kalimat Itachi padanya. Tapi ia memilih diam tak menjawabnya. Tangannya masih menggenggam erat pada Sakura. Gadis itu tak berniat untuk ikut masuk dalam percakapan dua pria berbeda usia di depannya.

"Kau itu bukan lagi anak kecil yang bisa seenaknya bersikap egois. Kau tidak bisa memiliki keduanya. Kau harus pilih salah satu, bocah." Naruto masih bungkam.

Itachi merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan bungkus persegi panjang yang berisi rokok. Ia mengambil satu dan menyulutnya dengan korek api. Itachi mengisap rokoknya pelan kemudian mengeluarkan asap putih dari mulutnya.

Ia menatap Naruto dingin. Kemudian melangkah mendekat dan berhenti tepat di depan hidung pemuda pirang itu, Naruto hanya diam dan memandang Itachi tajam. Itachi tak membalas tatapan Naruto dan mengalihkan pandangannya pada Sakura yang menatapnya takut-takut di belakang Naruto. Itachi menjulurkan tangan kirinya yang kosong dan membelai rambut merah muda Sakura lembut. Sakura memandang Itachi dan melempar senyum tulus yang tak luput dari penglihatan Naruto.

"Aku pulang dulu. Kapan-kapan kita ulang lomba larinya, aku pasti akan menang," Sakura mengangguk kemudian ia berbalik dan berjalan menjauh dari Naruto dan Sakura.

Naruto merasa panas melihat adegan yang menurutnya terlalu memuakkan. Hal itu sama dengan yang ia rasakan pada Itachi. Muak. Tanpa sadar ia mengeratkan pegangannya pada tangan Sakura yang membuat gadis itu merintih pelan.

"Lebih baik kau masuk sekarang," ucap Naruto yang memecah keheningan.

Sakura mengangguk kemudian menekan kode pagar. Pagar telah terbuka, Haru dengan semangat menghampiri Sakura. Ia menaikkan kedua kaki depannya pada perut Sakura dan menjulurkan lidahnya, ekornya berputar-putar tak karuan. Sakura berjongkok dan menggaruk leher Haru. Anjing itu terlihat keenakan.

Sakura tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya dari Haru pada Naruto. Naruto tak memandangnya, pemuda itu menatap lurus. Sakura melihat tangan kirinya yang masih di genggam erat Naruto. Ia berdiri kemudian balas menggenggam telapak tangan hangat milik pemuda pirang itu dan membawanya ikut masuk ke rumahnya. Naruto tak menolak, ia hanya diam dan mengikuti Sakura yang berjalan di depannya.

"Kau bisa melepaskan tanganku sekarang," Naruto bergeming. Ia tak melepaskan tangan Sakura.

"Apa hubunganmu dengan pria tadi?" tanya Naruto datar. Ia tak memandang Sakura dan tetap lurus ke depan.

Sakura menghela nafas berat kemudian menuntun Naruto ke sofa dan mendudukinya, pemuda pirang itu tentu saja juga mengikutinya duduk.

"Itachi-kun adalah atasanku di restoran," jawab Sakura singkat. Naruto memandangnya tajam kemudian berdecih cukup keras.

"Bohong, kau sudah tidak kerja sejak kita naik kelas tiga." Sakura mengangguk.

"Itachi-kun adalah atasanku di restoran tempatku kerja dulu. Bukankah kalian juga beberapa kali bertemu? Hmm... mungkin kau sudah lupa, itu sudah lama sekali," ucap Sakura pelan.

"Kalau memang pria itu hanya sebatas mantan atasanmu dulu, lalu kenapa kau membiarkannya mengusap rambutmu?!" Sakura sedikit tersentak dengan pertanyaan Naruto.

"Kenapa hal itu mengganggumu? Dia hanya mengusap rambutku," jawab Sakura seadanya. Naruto merengut marah.

"Jadi kau akan membiarkan semua atasan priamu mengusap rambutmu?! Berlomba lari menuju rumahmu dan menyuruhnya masuk ke dalam rumahmu! Begitu?!" Naruto benar-benar kesal dengan Sakura. Ia sedikit meninggikan suaranya.

Sakura menggelengkan kepalanya. Ia menggenggam erat tangan Naruto.

"Tidak! Tentu saja tidak! Itachi-kun sudah seperti kakakku sendiri, begitu pula sebaliknya. Dia juga belum pernah masuk ke rumah. Lagipula dia hanya mengantarku pulang. Kau adalah laki-laki satu-satunya setelah Ayahku yang masuk ke rumahku," Naruto melebarkan kedua matanya mendengar jawaban Sakura. Sakura menundukkan kepalanya guna menyembunyikan rona merah yang menyebar pada pipinya karena malu.

Naruto juga merasa wajahnya memanas. Ia mengalihkan pandangannya dan menatap lurus kemudian berdeham, "Ehm... Jadi kalian cukup dekat?"

"Eum," jawab Sakura yang terdengar seperti gumaman pelan.

"Kau menceritakan tentang hidupmu padanya?" Naruto kembali bertanya.

"Ya," jawaban Sakura cukup membuat perasaan Naruto kecewa. Ia kecewa karena dirinya bukanlah satu-satunya laki-laki lagi yang mengetahui apa saja tentang Sakura.

"Termasuk apa yang terjadi dengan kita?" Sakura tak menjawab, Naruto tahu jawabannya adalah ya. Ia sangat tahu kebiasaan Sakura yang satu ini. Jika Sakura diam saja saat ditanya, pertama berarti ya, kedua bisa ya bisa tidak, ketiga tidak tahu. Dan kali ini Naruto memilih arti pertama.

"Aku akan mengambilkanmu minum," Sakura bangkit dari duduknya. Naruto telah melepaskan tangannya.

"Aku akan menginap," ucap Naruto singkat yang sempat menghentikan langkah Sakura.

Gadis itu terdiam cukup lama, ia sedikit terkejut dengan keputusan sepihak dari Naruto. Walaupun ini bukan pertama kalinya Naruto menginap di rumahnya, namun kali ini semuanya telah berbeda. Mereka memang tidak tidur bersama, tapi tetap saja berada dalam satu atap membuatnya canggung.

Dulu Naruto sering menginap karena mengajaknya menonton film horor yang pemuda pirang itu sewa karena tidak berani menonton sendirian dan karena Ibu Naruto selalu mengomel sebab suara-suara dari film horor itu menakuti Nari hingga adik perempuannya itu menangis dan bermimpi buruk. Naruto tidak suka menggunakan earphone karena menurutnya akan mengurangi tingkat kualitas dari film tersebut, jadi walaupun ia menonton di dalam kamar, suaranya dapat terdengar sampai kamar Nari yang letak kamarnya bersisian.

Naruto juga sering menginap tanpa alasan, walaupun ujung-ujungnya pasti memintanya membantu mengerjakan tugas dan berakhir dengan ia sendiri yang mengerjakannya, walau tak jarang juga mereka bekerja sama.

Naruto paling sering menginap saat musim penghujan. Pemuda pirang itu tahu jika Sakura takut dengan petir. Naruto akan menemaninya sampai tertidur, menggenggam erat tangannya dan pemuda itu akan berjaga di luar kamarnya semalaman jika tiba-tiba Sakura terbangun ketakutan karena petir.

"Eum," Sakura hanya bergumam pelan tanpa membalikkan tubuhnya, mengijinkan Naruto menginap.

Naruto mendengar gumaman Sakura dan melihat gadis itu mengangguk. Ia memandang punggung Sakura dengan penuh arti, gadis itu kembali berjalan menuju dapur dan menghilang di balik pintu dapur. Naruto kemudian menghela nafas panjang.

Ia melepaskan sepatu dan kaus kakinya. Mengangkat kakinya dan meluruskannya pada sofa empuk kemudian membaringkan tubuhnya. Ia menatap langit-langit atap rumah Sakura. Suasana hati dan perasaannya yang tiba-tiba berubah saat berhubungan dengan gadis itu membuatnya bingung. Naruto kembali menghela nafas kemudian menutup matanya. Mungkin dengan tidur sebentar dapat membuatnya sedikit tenang.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

A/N: Hai semuanya... terimakasih banyak sudah mau membaca karyaku. Maaf apabila saya updatenya gak rutin. Banyak sekali aktivitas yang saya lakukan, salah satunya kuliah. Tugas-tugas semakin banyak, apalagi ini mendekati UAS. Saya usahakan tetap melanjutkan fanfic ini maupun yang lainnya, tapi tidak janji bakal cepet. Dan juga di sini Naru punya adik perempuan namanya Namikaze Nari *ewhh, lagi gemes banget sama chibi Naru versi cewek*. Maaf jika ceritanya tidak nyambung sama chapter sebelumnya. Yeah, tolong dimaklumi. Terimakasih yang sudah bersedia berpendapat, saya sangat menghargai kalian. Sekian dari saya, Semoga bermanfaat dan menginspirasi.

Jangan lupa RnR yaaa...