Ollllaaa readers… ^0^
Gimana kabarnya ? lama kita tidak berjumpa
Maaf ya kodok telat update soalnya selama beberapa minggu berturut-turut guru-guru kodok yang cantik nan baik hati itu ngasih ujian terus-terusan …
Sekali lagi gomenneeeee…
oiya… ntar di fic ini bakalan nyenggol soal 'goku' . Goku itu adalah salah satu member dari kartun dargon ball yang punya kekuatan super ya… gitulah pokoknya
Trus di dalam sana ntra bakalan ada nyempil kata-kata ini
'Je t'adore' yang artinya 'aku mencintaimu'
Okeh cukup basa basinya …
Readeerrrsssss happyyyy readddiiiiiinnnnggggggg ^-^
Lucid Dream
Disclimer: It isn't mine!
Warning inside: Typo-san,OOC,EYD ditelan bumi,garing,abal,gak nyambung,hambar,dll
DLDR!
Chapter 4
Sebuah ruangan yang dipenuhi bau tidak sedap, suasana gelap, dan lembab membuat ruangan ini terlihat begitu menyeramkan. Tidak ada suara perbincangan, kicauan burung, atau bahkan musik. Yang ada hanyalah suara tetesan air yang tak jelas dari mana datanganya. Ruangan ini begitu membingungkan Tidak ada jendela atau bahkan pintu, kau hanya akan menemukan beberapa jeruji yang berderet dengan rapi di dekatmu. Jeruji yang entah terbuat dari apa, tapi yang jelas itu bukanlah logam yang terbuat dari biji besi. Karena saat kau mendekatkan hidungmu ke jeruji itu, kau tidak akan mencium bau besi yang begitu khas, melainkan udara kosong.
Seorang pria tampan dengan kulit putih porselennya, menutup kedua matanya dan duduk bersila di depan deretan jeruji-jeruji yang mengurungnya. Pria ini kembali mengosongkan pikirannya, seolah dia hanyalah sebuah patung pajangan yang tidak bernyawa.
Tiba-tiba sebuah bunyi yang berfrekuensi tinggi dan begitu bising mengisi setiap ceruk yang ada di ruangan itu. Membuat suasana yang tadinya begitu sepi berubah menjadi sangat bising. Tapi, ini bukan memberikan pertanda baik … Ini malah sebaliknya …
"Hentikan meditasi bodoh mu! Sebentar lagi kau akan sepenuhnya mati" Ucapan kasar dan sinis meluncur dari bibir lembut dan tajam Pein
"Dan lagi sekarang kau harus diadili. Bersiaplah untuk menghadapi kematianmu!" Kata-kata sinis yang menyeramkan itu dengan mudah melayang di udara, merambat di setiap medium yang ada dan berinteraksi dengan telinga pria bernama Neji itu.
Dalam hitungan detik dua pria bertubuh kekar dan jubah hitam mereka yang berkibar-kibar kasar akibat pergerakan mereka yang kasar, menyeret Neji keluar dari ruangan itu. Neji yang berposisi sebagai tahanan itu hanya mampu menurut dan menatap Pein yang berjalan di depannya dengan tatapan dendam dan benci.
Mereka terus berjalan melewati beberapa pintu-pintu besar dan jendela-jendela besar. Mungkin itu memang jendela, tapi apa yang ada dibalik jendela itu bukanlah hal yang ingin kau lihat. Kau mungkin akan menutup rapat kedua matamu dan berharap kau tidak melihatnya. Tapi sayang … saat kau melihat apa yang ada di balik jendela-jendela itu, itu berarti cepat atau lambat kau akan bernasib sama dengan apa yang kau lihat.
Kehidupan kekal….
Bagi para pembangkang….
Mereka pun memasuki sebuah pintu yang terlihat sangat suram dan mengerikan. Derit pintu itu seakan siap menghujam telingamu berkali-kali dan menyobek gendang telingamu. Kedua pria kekar itu mendudukkan Neji di atas sebuah kursi yang terletak di tengah-tengah ruang yang besar itu. Perasaan ngeri memanjati Neji dari ujung kaki sampai kepala. Tapi, hal itu tidak begitu terlihat dari wajahnya yang begitu datar.
"Apa benar kau telah menyembunyikan penyusup?" Suara itu mengaung memenuhi ruangan
Neji memilih diam dan menutup kedua matanya, seolah saat ini dia sedang tidak ditanyai oleh siapapun.
"Apa benar kau menyembunyikan penyusup!" Kali ini pemilik suara itu tidak lagi bertanya dan kali ini pemilik suara itu mulai gerah dengan kelakuan Neji
Keadaan hening memenuhi ruangan, ini bukan kecanggungan atau semacamnya. Ini lebih terasa seperti ketakutan yang merambat di kegelapan, meskipun saat ini ruangan ini terlihat begitu terang.
Ini begitu menyeramkan, di saat matamu menoleh ke seluruh ruangan seolah mencoba mencari bantuan, yang kau dapatkan hanya rasa takut yang menjadi-jadi. Tidak ada kesempatan untuk selamat atau bahkan diselamatkan. Mungkin jika kau berada di posisi Neji saat ini, otakmu akan berputar keras mencoba mencari ide bagaimana mendapatkan pertolongan. Tapi jujur saja, jika aku berada di posisi Neji aku pasti akan berkhayal tentang sosok pahlawan yang tiba-tiba datang, melepaskan ikatanku, dan membawaku lari dari dunia yang menyeramkan itu.
"Nyawamu akan dicabut dan kau akan dihukum selama dua abad atas perbuatanmu!" Suara menggelegar itu pada akhirnya mucul lagi, tapi dia tidak memberikan kebaikannya. Si pemilik suara itu lebih memilih untuk memamerkan kekuasaannya.
Pein yang berada di ujung ruangan tersenyum sinis sambil melipat kedua tangannya. Seolah dia puas akan apa yang baru saja terjadi di hadapannya, seolah itu adalah hal terindah di dalam hidupnya. Seolah… Seolah… itu adalah kado terindah baginya
Neji terdiam dan membuka kedua matanya. Dia tidak tahu harus berkata apa atau bahkan berpikir apa. Kata-kata yang terus terngiang di kepalanya hanyalah 'Ini semua adalah keputusan yang tepat' dan dengan perlahan dialihkannya pandangannya ke arah seorang gadis cantik yang menatapnya prihatin. Gadis itu menggunakan pakaian serba hitam, namun rambut soft pinknya memberi sedikit warna pada penampilannya. Gadis itu menatap Neji dengan tatapan aneh, seolah dia telah melakukan sesuatu yang salah ke pada Neji. Tapi Neji tahu, itu hanya salah satu tipu daya dari malaikat kematian. Karena pada dasarnya malaikat kematian tidak pernah memiliki rasa kasihan
Tidak akan pernah….
.
Neji kembali dikurung di tempat sebelumnya dia dikurung. Tempat yang begitu gelap, menyeramkan dan sepi. Tapi, kali ini Neji tidak dapat melakukan meditasi. Karena kedua tanganya diikat dengan kuat dan matanya ditutup dengan sebuah kain. Entah apa maksud dari hal itu, tapi ini jelas ide Pein. Ide yang berbau kekejaman tanpa rasa kasihan sedikit pun.
Sudah berapa hari Neji diperlakukan seperti ini? Dua hari? Tiga hari? Atau seminggukah? Tidak ada yang tahu pasti sudah berapa lama, yang jelas itu sudah cukup lama bagi seorang Neji. Pein selalu datang mengunjungi Neji, baik hanya untuk mengatakan kepuasannya atau bahkan hanya untuk sekedar mengancam Neji. Tapi hal itu jelas, tidak cukup untuk membuat Neji gentar dan membeberkan semua tentang Ino kepada Pein. Rasanya memang sedikit bodoh, berkorban untuk orang yang baru kau kenal. Bahkan jika dipikir-pikir, sulit rasanya untuk sekeder meminjamkan uang satu yen untuk seseorang yang kau temui di jalan. Kau mungkin hanya akan berjalan cepat menjauhi orang itu dan mengatakan bahwa orang itu 'aneh'.
"Hei … Tuan meditasi! Aku membawakan teman kesayanganmu yang juga akan bernasib sama sepertimu" Ucap Pein dengan seringaian khasnya.
Tubuh Neji seolah baru saja dilemparkan dari lantai empat kelantai dasar. Ditinju oleh seribu tinjuan seorang Goku tepat di perut sehingga membuatnya ingin memuntahkan apa yang ada di perutnya. Semua perasaan itu bercampur aduk, seperti adonan kulit pai!
Saat ini Neji tengah dilanda kegelisahan yang luar biasa, dia bahkan tidak mampu mengesot satu inci pun. Neji tidak terkulai lemas, malah sebaliknya setiap jengkal ototnya kaku, seolah Pein baru saja menungkan seember lilin panas ke atas tubuh putihnya.
Neji mencoba menenangkan pikirannya dengan menghirup udara lembab di sekitarnya. Mengisi setiap ceruk yang ada di paru-parunya. Menahannya beberapa saat, lalu menghembuskannya. Menghembuskannya seolah masalah yang baru saja menyapanya ikut keluar dari otaknya.
Pein memerhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh Neji dan dia sadar. Sadar akan emosi Neji yang naik beberapa undukan dari garis kenormalan. Dan karena itulah, saat ini dia tersenyum puas dan hampir melepaskan tawanya yang renyah.
BRAK
Sesuatu atau tepatnya seseorang baru saja dilemparkan dengan kasar di dekat Neji. Neji tidak tahu apa atau siapa itu. Neji memalingkan kepalanya ke arah sumber suara berharap setidaknya dia dapat mengetahui apa yang menyebabkan bunyi barusan
"Sialan! Apa yang kau lakukan padaku? Dimana ini?" Suara penuh dengan kemarahan mengisi ruangan. Suara yang sangat familiar di telinga Neji. Suara yang sangat dirindukan oleh Neji selama ini. Suara Ino yang penuh semangat dan kehangatan yang membuatnya selalu merasa nyaman saat dia mengira dia akan mati.
"Good bye guys… just wait for your night mare hahahaha" Tubuh Pein yang proposional menghilang dari sana dan diikuti oleh bayangannya. Tunggu! Semua yang ada di sini adalah bayangan karena pada dasarnya tidak ada sama sekali cahaya disini. Kecuali saat para penjaga datang untuk sekedar lewat atau mengecek tahanan.
"Ino?" Pada akhirnya Neji memutuskan untuk bertanya, melepaskan keheningan dan keingin tahuan yang menderanya sedari tadi. Keingintahuan yang secara perlahan-lahan membunuhnya.
"Ne…Neji? Itu kau?" Tanya wanita yang ternyata adalah Ino itu
"Bagaimana bisa … " Ucapan Neji terhenti begitu tubuh Ino merapat dengan tubuhnya
"Neji sebenarnya ini di mana? Kenapa tempat ini sangat dingin?" Ucap Ino sambil terus merapatkan dirinya dengan Neji.
"Kita berada di underworld" Jawab Neji singkat
"Underworld? Apa maksudmu neraka?" Tanya Ino lebih lanjut. Neji menundukkan kepalanya, menumpukkan rasa bersalahnya pada dirinya.
"Hey, kenapa kau menunduk seperti itu?" Tanya Ino ! Kenapa Ino tau Neji sedang menunduk?
"Kau bisa melihatku?" Tanya Neji heran
"Tentu saja akukan tidak buta" Jawab Ino santai
"Mereka tidak menutup matamu?" Neji benar-benar penasaran akan apa yang sedang terjadi di sini. Meskipun mata Ino tidak ditutup seharusnya Ino tetap tidak dapat melihat apapun karena tempat ini lebih gelap dari pada gelapnya malam.
"Baiklah aku akan membuka penutup matamu" Ucap Ino sambil mengesot ke belakang Neji. Neji terdiam tidak tahu mau berkata apa. Karena dia memang sudah sangat muak dengan simpul-simpul yang dibuat di tubuhnya.
Dengan perlahan Ino berdiri dengan lutunya sebagai tumpuannya tepat di belakang Neji. Dengan perlahan Ino mendekatkan wajahnya ke simpul kain yang berada di belakang kepala Neji. Ino mulai menggit simpul kain itu, menarik simpul kunci dan simpul itu pun terbuka sepenuhnya.
Neji mengerjap pelan matanya yang kini dapat merasakan udara bebas. Namun sayang , hal yang dapat dilihat oleh Neji hanyalah kegelapan
"Terima kasih" Ucap Neji pelan
"Apakah kita akan benar-benar mati?" Tanya Ino pelan.
Neji terdiam dan tidak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan Ino yang satu itu. Karena mereka berdua tahu bahwa cepat atau lambat mereka berdua akan disiksa habis-habisan. Dan bisa saja saat mereka disiksa jiwa mereka kehabisan energi dan tidak ada lagi kata 'reinkarnasi' untuk mereka.
"Kenapa dingin sekali di sini" Ucap Ino tidak jelas kepada siapa
"Mendekatlah!"Titah Neji lembut . Ino menatap ragu kearah Neji yang tengah tersenyum lembut.
"Mendekatlah!" Titah Neji lagi dan kali ini Ino pun memutuskan mendekatkan tubuhnya dan menyenderkan kepalanya di bahu Neji.
DEG
Entah dengan alasan apa jantung Ino yang tadinya normal berubah menjadi begitu hiperaktif. Wajahnya yang terasa panas dan tangannya yang dingin, cukup membuatnya sedikit risih akan kondisinya sendiri.
.
.
"Apa dia sudah sadar?" Tanya Hinata cemas
"Tidak sama sekali" Jawab Deidara pelan sambil memalingkan wajahnya kearah seorang wanita yang bernama Ino tengah tergolek lemas di atas tempat tidur berukuran king size
"Cepat atau lambat dia pasti akan sadar. Tenanglah!" Ucap Hinata sambil membelai bahu Deidara dengan pelan. Meskipun dia tahu kemungkinan Ino untuk sadar adalah 50 persen, pasalanya sudah satu bulan Ino pingsan atau mungkin lebih tepatnya koma tanpa alasan dan tanpa tanda-tanda untuk sadar.
.
.
.
"Hei Neji" Panggil Ino pelan
"Hn" Sahut Neji singkat
"Jika kita dapat keluar dari tempat ini … Bagaimana jika kita bertemu?" Tanya Ino sedikit bersemangat. Neji terdiam dan perasaan bersalah kembali memupuk di dadanya. Jika saja dari awal Neji melarang Ino untuk melakukan lucid drema. Jika saja Neji tidak selalu berada di samping Ino, keberadaan Ino pasti tidak akan di ketahui oleh Pein. Jika saja…
ZRRTTTT…CIIIITT….ZRRTTTT…
Suara bising kembali memenuhi ruangan di mana Ino dan Neji berada. Bayangan Pein dengan jubah hitamnya kembali menghantui otak Neji dan Ino. Dan lama-kelamaan berubah menjadi bayangan siksaan dan kematian yang menyeramkan. Ino menutup ke dua matanya rapat-rapat berharap itu akan membantunya atau bahkan menyelamatkannya dari nasibnya yang akan tandas itu.
Sepuluh detik
Dua puluh detik
Tunggu ada sesuatu yang aneh!
Ino menatap kedua pergelangan tangannya yang kini tudak diikat lagi begitu juga dengan Neji. Ini membingungkan …
Permainan apa ini?
"Cepat ikut aku!" Ucap wanita bersurai pink itu kepada Ino. Dengan cekatan Ino bangun dan menarik tangan Neji untuk ikut bangun
"Tunggu! Ada apa ini?" Tanya Neji bingung. Neji benar-benar tidak mengrti karena aku sudah mengatakannya bukan? Bahwa Neji tidak dapat melihat apapun
"Ikutlah denganku! Kau hanya harus mengikutiku … percayalah!" Ucap Ino sunguh-sungguh. Dan beberapa saat kemudian mereka bertiga sudah berada di lorong-lorong sempit nan gelap dan tak berarah itu. Ino terus mengikuti langkah wanita yang ada di depannya dan menggengam tangan Neji dengan erat. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, tapi satu-satunya yang dapat dilakukannya adalah mempercayai wanita yang ada di depannya.
Melewati beberapa ruang dan bersembunyi dari para penjaga sudah berkali-kali mereka lakukan. Sampai pada akhirnya tampak sebuah pintu yang begitu terang berdiri dengan gagah di hadapan mereka
"Sebentar lagi kita akan sampai" Ucap wanita bersurai pink itu tak jelas kepada siapa.
Dan dalam hitungan menit merea sudah melewati pintu itu dan mendapati diri mereka keluar dari sebuah gedung yang begitu menyeramkan. Namun mereka tidak berhenti berjalan malah kali ini mereka berlari dengan kencang meninggalkan gedung itu.
.
"Hosh…hosh… kurasa di sini aman" Ucap wanita itu sambil megelap peluhnya yang turun membasahi keningnya
"Terima kasih" Ucap Ino pelan
"Tidak… tidak perlu berterima kasih malah seharusnya aku meminta maaf kepadamu" Ucap wanita itu sambil tersenyum lembut
"Kanapa?" Tanya Ino bingung
" Sebenarnya akulah yang menyebabkan kau masuk ke dunia ini" Ucap wanita itu sambil menunduk
"Maksudmu?" Tanya Ino semakin tidak mengerti
"Pada awalnya semua manusia dapat melakukan lucid dream. Tapi lama-kelamaan manusia mulai menemukan underworld dan mengancam keberadaan kami . Jembatan anatara dunia nyata dan underworld pun ditutup dengan mengikat jiwa manusia pada tubuhnya dan akan dilepaskan jika mereka mati atau mengalami koma. Jadi mereka tidak dapat melakukan lucid dream dan menemukan kami." Wanita itu berhenti dan menghirup napasnya dalam-dalam
"Dan ternyata kau mampu melepas ikatan itu dan akhirnya kau masuk ke dunia ini" lanjut wanita itu sambil tersenyum ragu
"Tapi kenapa saat di tempat tadi Neji tidak dapat melihat apa-apa?" Tanya Ino bingung
"Itu rahasia" Ucap wanita itu sambil kembali tersenyum kearah Ino
"Kalian hanya memiliki waktu lima menit lagi dan setelah itu Ino tidak dapat lagi kembali ke underland dan Neji … kami tidak dapat menahanmu lebih lama lagi keluargamu…" wanita itu menatap Neji penuh makna
"Tidak apa, aku mengerti" Ucap Neji datar
"Baiklah aku harus pergi sekarang sampai jumpa" Ucap wanita itu sambil tersenyum lalu berjalan pergi meninggalkan Ino dan Neji dalam keheningan.
"Ne…Neji?" Panggil Ino pelan.
Bukannya mengatakan sesuatu Neji malah memeluk Ino dengan erat dan menenggelamkan kepalanya di leher putih Ino
"A…pa kau baik-baik saja?" Tanya Ino heran
Dengan perlahan Neji melepaskan pelukannya dan menatap mata Ino dalam. Dan tersenyum seolah tidak ada yang terjadi
"Aku ingin mengakui sesuatu" Kalimat Neji yang begitu ambigu sukses membuat Ino bingung
"Sebenarnya aku tidak pernah melakukan lucid dream. Sebenarnya aku …" Rasanya kalimat itu sangat sulit keluar dari mulut Neji. Kalimat yang sangat simpel namun bermakna begitu menyayat hati.
"Tapi apapun yang terjadi kau adalah orang pertama yang dapat membuatku bahagia" Ucap Neji
"Neji …" Panggil Ino lirih. Ino tidak tahu sama sekali apa yang sebenarnya yang terjadi tapi feelingnya mengatakan bahwa ini pertanda buruk. Pertanda ini akan menjadi terakhir kalinya Ino dan Neji bertemu.
"Berjanjilah kau tidak akan pernah melupakan aku!" Ucap Neji dalam
CUP
Dengan lembut Neji mendaratkan bibir lembutnya tepat di bibir mungil Ino. Ino hanya mampu membulatkan matanya, tidak mengerti akan apa sebenarnya yang terjadi di sini. Entah kenapa perasaan takut menjalari tubuh Ino dan alhasil saat ini tubuh Ino terguncang hebat.
Dengan perlahan Ino mendorong dada bidang Neji
"Apakah kita tidak akan berjumpa lagi?" Pertanya to the point Ino yang penuh dengan rasa takut dan keraguan berhasil meluncur keluar
"Dan kau menciumku setelah kau tahu kita tidak akan berjumpa lagi?" Bulir-bulir air mata merosot turun membasahi pipi Ino
"Kenapa kau kejam sekali? Membuatku bahagi beberapa saat lalu menghancurkanku dalam beberapa detik. Aku membencimu Neji … Kau pria terkejam yang pernah ada!" Ucap Ino menumpahkan kesedihannya sambil memukuli dada Neji dengan pelan
"Maafkan aku" Ucap Neji pelan
" Katakan … katakan padaku kenapa? Apa aku tidak cukup baik?" Ino menangis sejadi-jadinya di hadapan pria yang sukses membuat hatinya hancur saat ini
Dengan lembut Neji mengusap bulir-bulir air mata di pipi Ino. Lalu tersenyum lembut mencoba menenangkan Ino
"Jika aku dapat membuatmu bahagia, kenapa kita tidak dapat bertemu lagi?" Kali ini Ino menatap Neji dalam dan mengharapkan jawaban yang pasti dari pria yang ada di hadapannya saat ini
"Aku yakin kau dapat menemukan pria yang lebih baik Ino" Ucap Neji pelan. Ino yang mendengarnya hanya mampu terdiam dan memberikan tatapan yang begitu sulit diartikan kearah Neji.
"LARIII!" Sebuah teriakan yang begitu keras berhasil membuat Neji dan Ino memalingkan pandangannya ke sumber suara. Dan ternyata itu adalah wanita yang tadi menyelamatkan mereka. Mereka terdiam dalam beberapa detik mencoba menerjemahkan apa yang baru saja terjadi
"LARIII!" Kali ini wanita itu berteriak lebih keras. Ino dan Neji pun segera berlari memasuki hutan yang lebat. Mereka berlari sekencang mungkin dengan rasa takut yang menggelitik setiap jengkal otak mereka. Tampa berani melihat dan tampa berani berhenti.
"Kita sembunyi disini" Titah Neji sambil menggiring Ino untuk bersembunyi di balik sebuah bongkahan batu besar yang terletak tidak jauh dari pinggiran sebuah tebing. Sebuah tebing yang begitu curam dan memamerkan pemandangan yang indah namun mematikan. Karena begitu kau terjatuh dati tebing itu, jangan harap kau akan tetap hidup. Kemungkinan kau hidup hanyalah 0 banding 100!
Ino dan Neji saling bertukar pandangan. Mereka tidak tahu harus berkata apa, yang mereka berdua dapat lakukan hanyalah saling menatap.
"Ba..bagai mana ini?" Tanya Ino takut
"Tenanglah … Kita pasti selamat" Ucap Neji mencoba menenangkan Ino
Keheningan kembali tercipta diantara mereka. Rasa takut, gugup, bingung, sekaligus panik bercampur menjadi satu. Apakah mereka akan selamat? Apakan Pein akan menemukan mereka? Pertanyaan itu menyerbu dan menabrak labirin-labirin otak Neji dan Ino. Sayangnya, mereka bahkan tidak mendapatkan jawabannya
"Sudahlah Neji … Menyerahlah! Apa kau lupa? kau tidak akan pernah bisa keluar dari dunia ini, Kau hanya dapat keluar jika kau mati. Keluargamu mungkin sudah menyerah tapi tidak berarti kau akan mati dan dapat keluar dari dunia ini. Yang kau lakukan saat ini hanyalah omong kosong!" Ucap Pein lantang
'Dia benar … aku tidak akan pernah bisa keluar dari dunia ini' Batin Neji
" Dan kau tahukan aku akan selalu menemukan jiwa yang ku cari" Ucap Pein seolah memamerkan kekuatannya
Neji menatap Ino dalam dan Ino menggeleng pelan seolah dapat membaca pikiran Neji
"Kau akan selamat Ino" Bisik Neji pelan
Dengan perlahan Neji menggiring Ino untuk keluar dari tempat persembunyian mereka. Dan mereka langsung mendapat seringaian menjijikkan dari Pein yang berdiri di dekat mereka saat ini
"Ayo ikut denganku!" Ucap Pein santai. Dengan perlahan Neji mengambil langkah mundur dan diikuti oleh Ino
"Neji …" Panggil Ino lirih
"Kau akan selamat" Bisik Neji lirih
Mereka terus mengambil langkah mundur sampai akhirnya mereka benar-benar berada di ujung tebing tersebut. Dengan cepat Neji membalikkan tubuhnya menghadap Ino yang berdiri tepat di belakangnya
Neji tersenyum penuh arti
"AKKKHHH…" Teriakan Neji yang begitu menyakitakan berhasil melayang di udara setelah sebuah panah menembusnya
Ino terdiam tidak tahu harus berbuat apa
"Je t'adore" Ucap Neji lirih sambil menguusap pelan pipi Ino
"Ne … Ne … Neji" Panggil Ino terbata-bata
Dengan kekuatan yang tersisa Neji mendorong Ino ke belakang
Dan
Tepat seperti perkiraannya …
Ino terjatuh dari tebing itu!
"A….."
.
.
.
"Dia sadar!" Pekik seorang wanita dengan rambut cepolnya yang bernama Tenten itu
Dengan perlahan Ino mengerjap matanya dan mendapati Hinata, Tenten, Shikamaru, Deidara, Gaara, dan Itachi tengah mengelilinginya dengan senyum bahagia menghiasi wajah mereka. Dengan gerakan super lambat Ino membuka masker oksigennya dan mencoba untuk duduk. Rasa sakit dan kaku menjalari setiap saraf di tubuhnya, pasalnya sudah lama tubuh ini tidak digerakkan oleh sang pemilik
"Neji …" Ucap Ino pelan dan air mata kembali turun membasahi pipinya
"Kami sangat mengkhawatirkanmu … Sudah dua bulan kau koma tanpa alasan" Ucap Tenten sambil memeluk erat Ino yang masih lemah
"Dua bulan?" Ucap Ino lirih dan akhirnya tangis yang sedari tadi ditahannya tumpah ruah membanjiri atmosfer kamar VVIP itu.
Deidara, Itachi, Gaara dan Shikamaru saling bertukar pandang, tidak mengerti kenapa Ino menangis seperti baru saja mengalami kepedihan yang sangat dalam. Kalau saja mereka berempat tahu apa yang baru saja dialami Ino, mungkin mereka sudah memeluk Ino erat-erat untuk menenangkannya dan membantunya melewati masa sulit yang baru saja dimasuki Ino.
Ya, Baru saja …
.
Satu minggu kemudian
"Anak-anak kita akan membicarakan tentang cara kerja otak dalam membuat mimpi" Ucap Kakashi sambil menulis sesuatu di papan tulis
"Jadi … blablabla" Kakashi terus menjelaskan sambil mengambar sebuah skema aneh yang membingungkan sedangkan Ino? Dia hanya memangku kepalanya ditangan kananannya seolah dia sedang menonton tayangan TV yang paling membosankan yang pernah ada
"Jadi ada yang ingin bertanya?" Tanya Kakashi sambil melemparkan pandangannya keseluruh ruangan
" Bagaimana dengan lucid dream? Apa jiwa kita benar-benar dapat berkeliling kemana saja?" Tanya Tenten bersemangat
"Hahaha … tentu tidak. Itu hanyalah salah satu rekayasa dari otak kita. Beda lucid dream dengan mimpi yang biasa adalah saat mengalami lucid dream kita dalam keadaan setengah sadar. Jadi kita dapat menentukan alur dari mimpi kita sendiri" Jelas Kakashi
"Jadi Neji tidak nyata? Ti.. tidak nyata?" Ucap Ino lirih. Ino tidak dapat menerima penjelasan Kakashi. Akal sehat Ino seolah tidak berfungsi lagi, seolah apa yang dikatakan oleh Kakashi hanyalah kebohongan belaka dan omong besar
BRAK
Semua mata tertuju kearah Ino yang baru saja menggebrak mejanya dengan kasar
" Itu … tidak benar" Ucap Ino lantang
"Apa maksudmu Ino?" Kakashi benar-benar tidak mengerti akan apa yang dilakukan oleh Ino
"Lucid dream nyata … itu bukan hanya sebuah rekayasa otak" Ucap Ino sambil menatap Kakashi tajam
"Itu tidak nyata Ino! Itu hanyalah rekayasa otak kita karena otak kita dalam keadaan setengah sadar" Jelas Kakashi tidak mau kalah
"Itu bohong!" Kali ini Ino berteriak dengan kencang dan tanpa terasa bulir-bulir air mata kembali turun
"Apa maksudmu Ino? Kau mau memungkiri kenyataan?" Kakashi sukses dibuat heran sekaligus bingung. Seorang murid yang biasanya sopan tiba-tiba saja berubah 180 derajat dengan alasan yang tidak masuk akal.
Ino berlari keluar dari kelas, menjauhi mata-mata manusia yang tengah menatapnya bingung. Menjauhi hal yang tidak ingin didengarnya sama sekali. Atau mungkin lebih tepatnya menjauhi kenyataan.
Ino terus berlari hingga sampai akirnya Ino berhenti di tempat tidak ada mata manusia yang memandangnya. Ditempat yang begitu sepi yaitu balkon.
Disini dia menangis sejadi-jadinya, berteriak sejadi-jadinya, dan menumpahkan kemarahan yang menumpuk pada dirinya. Dia tidak perduli lagi siapa yang memperhatikannya saat ini yang dia perdulikan hanyalah rasa sakit yang mendera dadanya
"I… no apa kau baik-baik saja?" Seorang pria bernama Shikamaru menggunacangkan pundak Ino pelan. Ino menatap Shikamaru dengan matanya yang masih setia mengeluarkan air mata
"Apa yang harus kulakukan? Jika memang dia tidak nyata kenapa rasa ini begitu menyakitkan? Kenapa rasanya begitu nyata? Kenapa … rasa ini tidak ingin pergi? Kenapa aku … selalu merasa dia ada? Kenapa… kenapa… KENAPA?!" Ino kembali berteriak dengan keras. Menutup kedua matanya, berharap dia dapat terbangun di dunia mimpi bukan di dunia nyata. Berharap pria yang ada di hadapannya saat ini adalah Neji bukan Shikamaru
"Tenanglah Ino!" Shikamaru hanya mampu menarik Ino dalam rengkuhannya karena dia tidak tahu harus berbuat apa selain itu. Sebenarnya ada sedikit kekecewaan yang hadir di hatinya. Karena saat ini Ino menangis untuk pria lain bukanlah dirinya. Tapi ini semua kesalahannya sendiri karena dari awal dirinyalah yang menyia-nyiakan perasaan Ino.
TBC
EMBER'S AUTHOR
OLLLLLAAAA….
Gimana? Gak asik ya! Gomen…
Rencanya sih eggak berheti sampe di situ tapi karena wordsnya udah 3000an jadinya gini deh …
Raders … (Apa sih manggil-manggil!)
Jadi gini ders … kodok nerima segala bentuk masukan selain nyebrang pairing (bahasa apa ini )
Tapi kalo kalian mau request fic dengan pairing yang kalian suka boleh kok
kodok pasti bakal buatin buat kalian hehehe
So guys … ayo dong tinggalin jejak n masukan soalnya fic ini eggak jauh-jauh dari yang namanya kekurangan
BTW rencanya itu next chap adalah final chap so … stay tune yach…
See u at next chapie
Rereview
kirei- neko : aduh jangan ngambek sama kodok dong ! ngambeknya sama otak kodok aja ya soalnya
otak kodok lagi kesemsem sama pair yang satu ini (CRACK PAIR! AGAIN! )
jenny eun-chan :Gomen ne… kali ini saya malah update lebih lama… salahkan guru kodok yang bikin ujian tengah semester bertubi-tubi gitu TTnTT. Gomen juga buat kesalahan saya yang itu … otak kodok lagi demonstrasi nih hehehe (wah berabe nih author)
mrs percy mcelis: Namamu jauh sekali dari yang asli =,=
Ini udah lanjut kok … tapi kamu udah baca di luan kan =-='
Osaka the Japan : uwa …. Kamu mampir kesini rupanya next chap mampir lagi ya.. ^-^
For all : Semuanya …. next chap datang lagi ya …. Jangan lupa masukan plus jejaknya.. ^0^
