-_- Raffa brengsek! XD
Iya, nih aku bales yah review kalian, kemaren soalnya mepet waktunya, bukannya males, jangan dengerin apa yang laki-laki hidung belang itu katakan tentang diriku yah teman-teman :D
Raffalovers V3holic : ini udah update cepet kan?
Obsinyx : iya, dia emang hobbynya buka aib, ino bukan penghalang hubungan sasusaku kok, tenang aja, we both like her ;)
Naomi : emang mati yang elit tuh gmn de? ._.a
Pink : hehehee, tunggu aja yah konflik yang akan terjadi pada pasangan favorit kita ini :D
Pah : ngga bohong, apa yang dibilang raffa itu bohong, jangan dipercaya… dan tentang kknya ino, ditunggu aja yah siapa kakaknya ino itu :D
Gerarderza : hahahaa, mau bukti apa? Nanti aku bilangin ke dia, iya emang jarang author cowok, aku aja tadinya ngira dia banci XD
Ran : Ino gabung kok *nih aku kasih bocoran*
Wakamiya : dia cowok kok, tapi malem berubah jadi cewek , hahahahhaa #Piss raffa
Momijy : Gaara ada, kalo Sai masih dipikirin lagi, hehehee
Bluremi : kalo raffa yang bikin pasti ada lemonnya, aku juga lagi mulai belajar bikin lemon, biar ga kalah dari raffa :D mohon kritikannya yah…
Kira : your voice udah tamat sayang -_-"
Sindi : dramanya city hunter aneh yah, ino bakalan jadi slah satu elite assassine kok, di tunggu aja yah prosesnya :D
Icha : halaah neng, makasih reviewnya, kalo mau tanya lebih banyak kef b aja, kamu kan orangnya penasaran bgt, ga tega juga mikirinnya, hahahaha, yang ngebantu mereka? Yg nyiksa sasu? Itu RAHASIA, ahahhahahaa
BlueHaruchi : ayahnya Ino itu salah satu orang yang khilaf karena kekuasaan harta, sekarang kan banyak orang2 yg kaya jadi jahat, bahkan tega ngebunuh istri n anaknya sendiri… jadi dia murni jahat, kalo Hinata… ehm, kayaknya masih agak lama deh dia muncul :D
SS : Ino ikut Sasuke kok
FhYLvRhy ELF : gpp, review aja terus, kita seneng banget kok, hehhehehe… dan iya, naruto itu suka sama sakura, ga makan temen kok, dia kan ga nikung :p… akur sama raffa? Ga ah, ga sudi, wakakakakaa
Ninda : terima kasih yah :D
Hikari : makasih yaaaah :D
Uchiha Henrich Gaara : iya, jujur aku juga seneng, raffa emang pinter sih kalo bikin adegan itu, ngayalin itu adalah dia n cewek incerannya, *Buka aib dikit*
Rama : kakaknya Ino? Di tunggu yah jawabannya, hehehee
Rizuka : gpp kok, kamu review di chapter yg aku update aja, hahahahaa becanda… chap kemaren pendek? Raffa emang pemalas! PM aja ke dia, protes, hahahaa
Hasni kazuyakamenashi : lemon narusaku ngga ada, naruto ga berani sampe segitunya, lima kali lipatnya itu kan idenya raffa, jangan tagih ke aku yah, hahahahaa
Uchihaiyka : ini kurang kilat apaa? -_-"
Syarah : hehehee, Hinata perannya masih dirahasiakan, jangan kecewa dong, ikutin aja alurnya, fufufufufu
Chadeschan : gpp, asal chapter berikutnya jangan lupa review yah, hahahhaa… killing scenenya mulai chapter depan bakalan sadis-sadis, kuat kan?
Uchiharuno phorepeerr : iya, chapter yg raffa buat pasti ada lemonnya, dia kan mesum :p… jodoh sama raffa? TIDAAAAAKKKK *kabur ke pelukan Sasuke*
.
.
L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)
Naruto Belong Masashi Kishimoto
Rated M-MA
Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri
.
.
"Pagi hari, di temukan politikus terkenal bernama Miyazawa Jyou tergeletak di depan rumahnya dalam keadaan kepala yang terpisah dari tubuhnya, di perkirakan orang yang membunuh politikus ini sangat handal dan tidak memliki rekan, karena tidak ada tanda-tanda kerusakan barang di dalam rumahnya. Para tetangga juga tidak mengetahui adanya keributan tengah malam. Apakah ini semua perbuatan dari elite assassin yang akhir-akhir ini menjadi tipik panas masyara-"
Cliiik
"Teme, kenapa di matikaaaan!"
"Berita itu tidak ada gunanya," jawab Sasuke santai.
"Tapi kejadian itu seolah kita yang perbuat, padahal tadi malam kita menjalani misi lain," ucap Neji.
Saat ini, Sasuke, Naruto dan Neji berada di ruang tv, pagi hari di hari libur memang paling nyaman kalau berkumpul bersama. Sejak kejadian tadi malam, satu-satunya misi yang mereka jalani dengan hasil yang sangat tidak memuaskan, karena beberapa peraturan di langgar di mulai dari Shikamaru.
Saat ini Sasuke sedikit diam dari biasanya, laki-laki itu masih memikirkan tentang kondisi Sakura saat dia pulang. Tatapan kosong itu, persis tatapan yang Sakura alami ketika kedua orang tuanya meninggal. Apakah Sakura merindukan orang tuanya? Atau… Sakura kembali pada sosok gelapnya? Sosok gelap yang Sasuke kubur dalam-dalam dari ingatan wanita itu. Di saat sedang memikirkan kekasihnya itu, suara teriakan menggelegar di seluruh ruangan.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"Sakura!" Sasuke yang tadinya sedang duduk santai sambil berpikir, langsung bangkit dan lari ke arah munculnya suara itu. Di ikuti oleh Neji dan Naruto. Sesampainya pada sosok Sakura yang kini sedang berdiri di dapur sambil menunjuk seseorang, Sasuke hanya menghela nafas.
"Ke-ke-kenapa?" tanya Sakura yang matanya berbinar-binar, "KENAPA ADA INOOO?"
Ino, sosok yang di tunjuk Sakura kini hanya berdiri terdiam sambil dipapah oleh Shikamru, "How should I know," jawab Ino pelan.
"Ada apa ini? Sakura apa kau tidak a-" ucapan Karin yang tadi sempat panik kini terdiam.
"Kenapa bisa ada Ino? Ya ampun, dada kananmu kenapa? Kenapa di balut perban? Shikamaru kenapa bisa bersama Ino? Kenapa hanya aku yang kageeeeeet!"
"Sakura," Sasuke berusaha menenangkan Sakura yang kini sedang panik, memegang bahu mungil wanita itu dan menepuk kepalanya, "Ada yang harus kami bicarakan dengan Ino, khusus untuk masalah ini, aku mengizinkanmu ikut serta dalam rapat."
Mata Sakura kembali berbinar, "Terima kasih, Sasuke-kun."
Dan sekarang di sini lah mereka berada, di ruangan tempat Naruto melakukan hacking pada malam hari itu. Semua berkumpul atas perintah Sasuke. Sakura menawarkan diri untuk membantu Ino berjalan dan memposisikannya di sofa, Sakura duduk di samping Ino sementara Karin berdiri di samping Sakura. Sasuke duduk di sofa yang muat untuk dua orang, hanya dengan satu tatapan Sasuke pada Sakura, wanita itu mengerti, Sasuke ingin dia duduk di sampingnya. Akhirnya Sakura bangkit dan berganti posisi, itu lebih baik dari pada Sasuke terus menatapinya dengan tatapan sinis.
Naruto bersender di meja kerjanya, Shikamaru bersender di pintu sedangkan Neji duduk di sofa yang nganggur. Begitu semua sudah siap untuk melakukan pembicaraan serius ini, Sasuke memulainya, "Neji, tolong terjemahkan setiap kata yang keluar dari mulutku ke dalam bahasa inggris, dan Shikamaru, terjemahkan semua kata yang keluar dari mulut Ino" perintah Sasuke dengan tujuan agar Sakura mengerti.
"Okay" jawab Neji dan Shikamaru mengangguk.
"Pertama, kita akan membahas masalahmu, Ino," ucap Sasuke yang di iringi oleh translate Neji agar Ino mengerti.
"Aku?"
"Kau mempunyai dua pilihan di sini, kami telah memenuhi red mail mu, tapi karena misi kami gagal, kami tidak akan mengambil imbalan itu. Tapi kau menyaksikan aksi kami, dan kau melihat salah satu orang di antara kami," jelas Sasuke sambil melirik ke arah Shikamaru seolah menyindir.
"Ka-kalian… elite assassin?" ujar Ino tidak percaya.
"Pilihannya ada dua," Sasuke mengabaikan pertanyaan Ino, "Satu, kau pilih tinggal di sini, kami membiarkanmu hidup dan mengizinkanmu melakukan aktifitas sehari-harimu dengan satu syarat, kau harus berguna untuk kami… atau pilihan kedua... mati."
Mendengar pilihan yang Sasuke tawarkan, Sakura bereaksi, akan mengatakan sesuatu namun tangan Sasuke memberi kode agar Sakura tidak mengatakan apa-apa. Tapi Sakura heran ketika dia melirik Naruto, Neji dan Shikamaru.. mereka malah tersenyum? Kenapa? Itu karena mereka sangat tahu Sasuke. Dan Sakura sendiri kurang peka dengan perlakuan Sasuke untuknya. Mereka mengerti maksud Sasuke, dia meminta Ino untuk tinggal karena dia tahu, tidak mungkin Ino kembali ke rumah itu, tawaran untuk tinggal di sini juga bukan untuk kepentingan Ino tapi Sakura… Seolah Sasuke memberi pilihan, jadi teman Sakura… atau mati.
Dan, kalau dia menelantarkan Ino dan tidak membawanya ke mansion, Sakura bisa khawatir, Sasuke bisa menerka semua apa yang terjadi kalau sudah berhubungan dengan Sakura. Ino menatap Sasuke dalam-dalam dengan tatapan tegas, "Aku sudah berjanji, kalau kalian berhasil membunuh ayahku, aku akan menyerahkan seluruh kekayaanku… mungkin untuk saat ini hanya itu yang bisa kuberikan atau… berguna untuk kalian," jawab Ino mewakili memilih jawaban untuk tinggal bersama mereka.
Saat Shikamaru selesai menerjemahkan, Sakura tersenyum pada Ino sambil menghela nafas, bersyukur Ino memilih keputusan itu. Melirik Sakura yang sedang tersenyum senang, Sasuke tersenyum kecil, hampir tidak kelihatan oleh Sakura. Namun di sadari oleh Ino. Laki-laki ini… benar-benar sakit jiwa.
"Satu syarat lagi untukmu," ujar Sasuke smabil beranjak dari duduknya, membawa Sakura untuk keluar, "Pelajari bahasa jepang."
Kemudian dia keluar bersama Sakura, meninggalkan yang lainnya di dalam, bahkan belum sempat mendengar jawaban Ino.
"Dasar pantat ayam gila," geram Karin yang kesal, baru sebentar bersama Sakura, sudah langsung di sabotase oleh Sasuke.
"Kenapa kau kesal? Yang disuruh belajar bahasa jepang itu kan Ino, bukan kau," ujar Neji dengan wajah bingung, melihat ekspresi Karin yang sangat kesal, Neji membuat candaan, "Jangan-jangan kau suka pada Sasuke!"
Bleeetak!
Asbak sukses mendarat di kepala Neji.
"Aku kan hanya bercandaa~"
"Candaanmu tidak lucu! Pantas saja Tenten meninggalkanmu!"
"Tolong di ralat, kita pisah karena beda SMA!"
"Hahaha, sudah-sudaaah, kalian ini bertengkaar terus, jangan-jangan kalian jodoh," ledek Naruto.
"Sampai mati aku tidak sudi punya suami seperti dia," desis Karin.
"Aku juga, kau tidak ada sisi femininnya sama sekali, contohlah Sakura dan Ino ini," ucap Neji.
"Hhh, pembicaraan yang tidak berkelas," Shikamaru memutuskan untuk keluar.
Walaupun pembicaraan itu tidak ada yang Ino mengerti, tapi gadis itu merasa nyaman oleh suasana ini, hingga gadis berambut pirang itu kini sedikit tersenyum karena melihat Neji dan Karin adu mulut. Tapi saat dia melihat Shikamaru pergi, Ino memutuskan untuk mengikutinya. Melihat Shikamaru sudah sedikit jauh, Ino berlari dan memanggilnya, "S-Shikama- hyaaa!"
Karena belum terlalu jauh, Shikamaru menoleh saat Ino sedikit memanggil namanya, dia melihat tubuh Ino yang lunglai dan akan terjatuh, dengan gerakan yang cepat, Shikamaru menghampiri Ino dan menahan tubuh gadis yang ringan itu.
Greb.
"*M-maaf."
"*Ada apa? Jangan lari-lari, kau ini belum sembuh benar, kalau lukamu makin parah bisa-bisa aku dimarahi oleh Sakura," ucap Shikamaru smabil membantu Ino berdiri dengan benar.
"*Aku ingin berterima kasih padamu, karena sudah merawat lukaku tadi malam."
"Sama-sama, tubuhmu kuat juga yah, biasanya orang yang habis kena tembak tidak akan mudah untuk berdiri."
"*Yah, aku kan kuat," jawab Ino smabil tersenyum. Melihat senyuman yang terlukis di wajah gadis ini membuat Shikamaru yang tadinya berwajah datar juga jadi ikut tersenyum.
"*Maaf yah," ucap Shikamaru pelan.
"*Untuk?"
Shikamaru tidak menjawab, tatapannya menyendu sambil tangannya berusaha menyentuh dada kanan Ino yang terlilit perban yang diikat sehingga tangan kanannya menggantung.
"*Oh, " Ino menyadarinya, "Tidak apa-apa, niatmu ingin menyelamatkanku kan?"
Tidak bisa di pungkiri, saat itu Shikamaru lepas kontrol melihat posisi Ino yang akan di bunuh oleh ayahnya sendiri, karena… itu mengingatkannya pada kejadian dulu yang di timpa oleh dirinya sendiri. Bagaimana bisa Shikamaru melupakan kejadian itu.
"*Ehm, boleh tanya sesuatu?" tanya Ino pelan, "Kenapa kalian membentuk tim elite assassin? Kenapa kalian membunuh? Dan… kenapa Sakura sepertinya tidak ikut turun tangan? Apa dia yang memerintahkan kalian untuk-"
"*Tidak, kau salah," potong Shikamaru, "Justru Sakura lah yang memberikan kesempatan pada kami untuk hidup."
Ino memiringkan kepalanya, kemudian Shikamaru tersenyum percaya diri, "Kau juga suatu saat akan sangat mengerti, kenapa Sasuke membawamu kesini."
Shikamaru kembali melanjutkan jalannya yang tertunda tadi, sedangkan Ino hanya berdiri di depan pintu tempat tadi mereka rapat. Saat sedang memandangi punggung Shikamaru, lamunan Ino buyar oleh suara yang keluar dari pintu yang terbuka di dalamnya.
"*Sakura… dia itu berbeda dari kami," ucap Karin tiba-tiba pada Ino.
"*Maksudmu?"
"*Kami semua bisa berkumpul berkat dia," jawab Karin sambil tersenyum, "Aku… tidak akan membiarkan dia terjun ke dalam dunia yang kotor ini."
Ino sedikit terpana melihat kesungguhan Karin yang benar-benar menjaga Sakura. Sebenarnya apa yang telah Sakura lakukan sehingga mereka begitu menjaga wanita itu? Padahal kalau Ino lihat sepintas, Sakura tidak ada istimewanya, apa dia yang memiliki mansion ini? Rasanya tidak, karena semua kendali di pegang oleh Sasuke. Kalau begitu seharusnya mereka menghormati Sasuke lebih dari Sakura kan?
"*Di lihat dari wajahmu, sepertinya kau masih bingung yah, Ino?" sambung Neji yang masih bersender di sofa, untuk mendengar perkataan Neji lebih jelas, Ino masuk kembali ke ruangan itu.
"*Dulu, Sakura-chan lah yang membuat kita bisa berkumpul seperti ini," kali ini Naruto menambahkan.
"*Intinya, kami yang dulu tidak mempunyai apa-apa, dari teman, rumah dan keluarga… Sakura dengan polosnya mengulurkan tangan pada kami yang saat itu sedang terpuruk," jelas Karin.
"*Walaupun Sasuke lah yang sebenarnya membantu kami, tapi itu semua atas permintaan Sakura," lanjut Neji.
"*Sasuke… dan Sakura itu…" ucap Ino ragu.
"*Mereka sudah bersama sejak kecil, aku orang pertama yang ikut dengan mereka sangat mengerti bagaimana hubungan mereka, aku juga mengagumi mereka yang saling mengerti satu sama lain, makanya aku ingin menjaga mereka berdua," ujar Naruto sambil mendongakkan kepalanya, mengistirahatkan kepalanya yang sedikit berat itu.
Ino terdiam, ternyata mereka semua yang berada di sini sudah tidak mempunyai keluarga, dan masa lalu mereka pasti sangat buruk, tidak ada apa-apanya mungkin di bandingkan dengan dirinya. Ino merasa malu karena sempat merasa menjadi orang yang paling menyedihkan di dunia ini. Ternyata orang lain juga ada yang lebih parah dari dirinya sendiri.
"*Makanya, aku ingin kau bersikap baik pada Sakura, sekalinya dia ingin menolong orang, lawan maupun kawan, itu sudah pasti perasaannya yang sebenarnya," sambung Karin.
"*Tapi justru itulah sifat Sakura-chan yang paling bahaya," lanjut Naruto dengan wajah serius, begitu Neji dan Karin menoleh ke arah Naruto, dia melanjutkan, "Mengerti kan maksudku?"
"*Hhh, yaah, itu memang tidak menguntungkan bagi pihak musuh yah," gumam Neji.
"*Sebenarnya, dia juga mengusulkan agar Sakura di ikut sertakan dalam tim ini," ucap Karin.
"*Tapi Sasuke menolaknya, dia tidak mengizinkan Sakura melihat darah yang berserakan dimana-mana," jelas Neji.
Kali ini Ino menebak, "*Sepertinya diantara kalian semua… yang paling sadis itu Sasuke yah?"
Semua menoleh menatap Ino dengan senyuman bingung, "*Kau salah," jawab Naruto, sebelum dia melanjutkan ucapannya, ekspresi Karin dan Neji berubah menjadi pilu, "Diantara kami semua, Sakura-chan lah yang paling kejam."
"*Hah? Maksudmu? Sakura? Orang seperti dia?" tanya Ino yang tidak percaya, wanita lembut seperti Sakura ternyata adalah yang paling kejam di antara semuanya.
"*Kau bisa cari di internet, kasus paling panas lima tahun yang lalu, kejadian yang membuat Sasuke mengutuk dirinya sendiri akibat kelalaiannya, Sakura berubah menjadi monster yang menyeramkan, karena itu, sejak kejadian itu… Sasuke selalu mengurung Sakura di dalam mansion dan selalu memberikan hypnotherapy pada Sakura sebelum tidur," ujar Karin.
"*Sebenarnya apa yang terjadi lima tahun yang lalu?" tanya Ino.
"*Aku tidak berani cerita, bisa-bisa aku di bunuh oleh teme, karena teme bilang kita tidak boleh ada yang membicarakan topic itu, topic lima tahun yang lalu adalah topic yang paling tabu di mansion ini, jadi kau harus hati-hati," usul Naruto.
Ino kembali terdiam, masih sangat banyak misteri tentang orang-orang yang tinggal di mansion ini, kenapa Sakura dulu selalu di kurung, menjadi se sadis apa Sakura dulu? Apa yang Sakura lakukan sehingga orang-orang ini begitu menghargainya? Dan… apa yang terjadi pada Shikamaru dulu? Itulah yang paling membuat gadis berambut pirang ini sangat penasaran.
.
.
"Aahhnnggg! Sasuke-kuun! He-hentikaaaaaan~ aaaaaaaahhh!"
Sasuke tidak memperdulikan desahan Sakura dan rontaan wanita itu yang kini sedang berada di bawah dekapannya. Sasuke terus memaju mundurkan pinggulnya, memberikan kepuasan untuk dirinya sendiri juga untuk Sakura. Sampai Sasuke merasakan klimaksnya, dia menanam lebih dalam kejantanannya dengan satu kali dorongan.
"Aaaghhh!"
"Hyaaaaaa!~ ngghhh~"
Merasa sudah sampai pada batasnya, Sasuke ambruk di atas tubuh Sakura, "Hah… hah… hah… masih ada tiga ronde lagi, Sakura."
"Apa! Tidak mau! Sasuke-kun kau jahaat~ aku sudah lelaaaah~" Sakura berusaha mendorong tubuh laki-laki itu, namun Sasuke tidak beranjak, dia malah sengaja memberatkan tubuhnya di atas Sakura, "Aku bercanda, aku tidak akan memaksamu," ujar Sasuke yang kemudian mengecup kening Sakura.
"Ada apa denganmu hari ini?" tanya Sakura pelan.
Sasuke memejamkan matanya, sejak dari ruangan tadi, Sasuke terus merengut dan membawa Sakura ke kamar mereka lalu langsung menyerang Sakura, dengan satu helaan nafas, Sasuke membalikkan tubuhnya menjadi terlentang dan membawa tubuh Sakura agar tidur di atas dadanya, "Si dobe."
"Ng? ada apa dengan Naruto?" Sakura menaikan sedikit kepalanya agar dapat melihat ekspresi Sasuke.
"Dia… dari tadi selalu mencuri pandang padamu, aku tidak suka."
"…" Sakura hanya bisa bengong mendengar pernyataan Sasuke, yang benar saja? Sampai Naruto pun dia cemburui? "Sasuke-kun… ini Naruto loh yang kita bicarakan."
"Ya, ini Naruto yang kita bicarakan, dan Naruto yang kita bicarakan ini sudah mulai menyukaimu."
"Pfffttt,Ahahahahhaa," dan pernyataan Sasuke yang satu itu membuat Sakura tertawa menggelegar.
"Apa maksud dari tawamu itu?" tanya Sasuke dengan jengkel.
"Itu tidak mungkin terjadi, kamu itu pemikiran dari mana sih?"
"Itu… aku bisa merasakannya!" sewot Sasuke.
"Sasuke-kun, sepertinya kamu stress atas kejadian semalam yah? Apa yang terjadi sih? Jangan terlalu dipikirkan, ini kan hari minggu, santai saja."
"Sakura! Jangan meledekku!"
Saat Sasuke sedang emosi karena di jahili oleh kekasihnya itu, hpnya berbunyi, Sasuke lupa mengaktifkan silent mode, akhirnya dengan kesal Sasuke mengangkatnya, "Ada apa!"
"Woaw! Santai teme! Apa salahku?"
"Ah, ada apa dobe?" nada Sasuke memelan, dan Sakura hanya bisa menahan tawanya melihat ekpresi Sasuke yang sedang mendumel, saat Sasuke sedang menerima telepon dari Naruto, Sakura memainkan rambut Sasuke sambil bersenandung dan sesekali memeluk dada bidang Sasuke, benar-benar seperti anak kecil.
"Baiklah, kali ini kita harus menyusun strategi yang halus, oke, malam ini jam 8 berkumpul di ruanganku," kemudian Sasuke menutup hpnya.
"Ada apa?" tanya Sakura.
"Red mail… tapi kali ini sepertinya akan sulit," jawab Sasuke sambil berpikir, Sakura hanya memiringkan kepalanya, meihat Sakura dengan ekspresi bertanya-tanya, Sasuke melirik kemudian tersenyum, "Tenang saja, seberapa pun bahaya yang ku tempuh, aku tidak akan mati sebelum membunuh orang yang telah membuat kita sengsara itu," ujar Sasuke lembut sambil membelai pipi Sakura.
Sakura tersenyum dan mencium bibir Sasuke, "Aku akan tunggu kamu pulang, kita lanjutkan ronde berikutnya setelah misimu selesai."
"Oke."
.
.
"Habisi salah satu anggota dewan perwakilan rakyat, namanya Saito Fujiwara, imbalan yang dia berikan adalah satu sertifikat tanda kepemilikan villa di pulau Hawaii, terima atau tidak?" jelas Naruto yang sdang berhadapan di depan laptopnya.
Karin berdiri di samping Naruto, Neji meracik penemuan barunya, Shikamaru mempersiapkan beberapa senapan dan Sasuke hanya duduk sambil melipat tangannya, "Setahuku, tempat tinggalnya banyak alarm dan pengawasannya sangat ketat, baiklah… Karin, aku akan mengirimmu lebih dahulu, kita awasi gerak-geriknya, kalau bisa pancing dia sampai Saito menyadari keberadaanmu dan sebisa mungkin bikin dia membawamu kerumahnya, agar kita tahu seberapa ketat pengawasan di rumahnya."
"Baik," jawab Karin.
"Naruto, bisa kau cari jadwal Saito besok?" tanya Sasuke,
"Sebentar," Naruto membobol rancangan site yang di buat khusus untuk para anggota dewan itu, kemudian, "Dapat, besok dia akan mengadakan rapat di hotel, letaknya tidak jauh dari sekolah kok."
"Baiklah, rencana pertama kita jalankan besok, Neji… siapkan apa saja yang perlu di siapkan, gas bius, sleepy spray, dan beberapa lencana yang berbentuk cctv agar Karin dapat memasangkannya di kerah atau pergelangan tangannya," perintah Sasuke.
"Shikamaru, senjata?"
Cekrek.
"Beres," jawab Shikamaru sambil mengetes senapannya.
"Ah, teme!" ekspresi Naruto membuat Sasuke penasaran, kemudian Naruto melanjutkan, "Dia… lihat ini catatan kehidupannya, sempat menjadi tersangka pada kejadian…9 tahun yang lalu?"
Mata Sasuke membulat dan reaksinya langsung di luar dugaan, Sasuke beranjak dari duduknya dan melihat ke layar laptop Naruto, terlihat foto sosok laki-laki dewasa yang memiliki tubuh tegap, rambut klimis dan kumis yang tidak enak di pandang itu. Wajahnya terlihat sangat jahat, membuat Sasuke makin mengeras ekspresinya, "Jangan-jangan…"
"9 tahun yang lalu? Itu kan kejadian saat musibah menimpa Sakura dan kau, ya kan?" tanya Karin.
"Tolong… jangan katakan apapun pada Sakura," ucap Sasuke pada siapa saja yang mendengarnya di ruangan itu.
.
.
Pagi hari, Sakura berjalan dengan sambil sesekali melirik pada orang yang di sebelahnya, bingung apa yang harus di bicarakan. Merasa canggung, dia mendumel, kenapa menjalani misi harus di pagi hari? Meninggalkan Sakura sendirian bersama sosok orang yang sangat ingin Sakura jadikan teman, namun tidak mengerti bahasa yang digunakannya. Beruntung ada Shikamaru, jadi suasana tidak terlalu canggung.
"*Mana pacarmu dan yang lain?" tanya Ino pada Sakura.
"Eh?" kaget. Itulah reaksi Sakura pertama saat Ino tiba-tiba bertanya.
"Dia bertanya, mana Sasuke dan yang lain," kata Shikamaru.
"Kau saja yang jawab," gumam Sakura pelan.
"*Mereka sedang menjalani misi baru," jawab Shikamaru.
"*Kenapa kau tidak ikut?"
"*Harus ada yang menjaga si tuan putri satu ini salah satu di antara kami, karena peranku tidak terlalu di butuhkan hari ini, maka aku lah yang mendapat tugas merepotkan begini."
Ino tersenyum, walaupun Shikamaru bicara malas-malasan begitu, entah kenapa Ino tahu kalau sebenarnya Shikamaru sendiri tidak keberatan untuk menjaga Sakura, dan lagi… Ino bersyukur ternyata Shikamaru lah yang harus tinggal, itu artinya Ino bisa bersama Shikamaru seharian.
"Kalian jangan bicara yang tidak kumengerti dong~" keluh Sakura.
"Makanya, belajar sana," ejek Shikamaru.
"Aku sudah belajar kok sedikit-sedikit dengan Sasuke-kun," jawab Sakura.
"O iya, Sakura, istirahat nanti sampai pulang, jangan pernah lepas dari pandanganku," pint Shikamaru.
"…" Sakura menganga ketika mendengar Shikamaru berucap begitu, memergoki ekspresi Sakura saat inim, Shikamaru sewot, "Apa-apaan ekspresimu itu, hah!"
"Ah tidak, hanya saja ucapanmu lama-lama mirip Sasuke-kun… makanya aku kaget," jawab Sakura spontan.
"Cih, ayo cepat jalan," Shikamaru memalingkan wajahnya yang sedikit memerah, mana mungkin dia bilang kalau diam-diam, Shikamaru kagum pada sosok Sasuke yang tegas dan berkharisma itu. Sakura hanya terkekeh sedikit sdangkan Ino… tersenyum dengan wajah yang memerah sambil menatap punggung laki-laki itu.
.
.
Waktu telah menunjukkan pukul 9, saat ini para elite assassin sedang berada di dalam mobil sedan hitam yang dikendarai oleh Neji, mereka memakai pakaian biasa, casual selayaknya orang-orang yang berlalu lalang. Karena tubuh mereka yang tinggi, dan tubuh Karin yang seksi, orang-orang tidak akan ada yang menyangka kalau mereka ini berumur 16 tahun.
Mobil mereka parkir sekitar 100 meter dari hotel tempat Saito rapat, "Tadi kita sudah lihat dia masuk kan? sekarang sudah lewat dari 2 jam, Karin, siap-siap," perintah Sasuke.
"Okay," Karin mengambil tas kecilnya dan berjalan menuju hotel, dengan high heels yang tingginya 15 cm, tank top dengan setelah sweater manis di padukan dengan rok mini, siapa laki-laki yang tidak tergoda oleh penampilan itu? Buktinya sekarang para pria tengah menatapi sosok Karin yang begitu mempesona.
Saat sedang berjalan, pikiran Karin hanya satu, bagaimana keadaan Sakura di sekolah sendirian di kelasnya? Wanita ini benar-benar khawatir pada Sakura, sampai-sampai dia tidak memperhatikan jalan dan menabrak seseorang.
Bruuk!
"Ah, maaf aku melamun," ucap Karin. Ternyata yang ditabraknya itu… anak kecil? Tidak… tidak bisa dibilang anak kecil juga karena orang yang Karin tabrak sudah memiliki dada? Perempuan berambut hitam pendek seleher, ketika gadis itu menoleh, dia memiliki mata biru pucat.
Karin mengulurkan tangannya, diraih oleh satu tangan oleh gadis itu, karena satu lagi dia sedang memegang benda yang adalah PSP? Sedang apa gadis tipe begini berjalan di daerah sini? Itulah pemikiran Karin.
"Terima kasih, nee-san," ucapnya sambil tersenyum aneh dan nada yang kekanak-kanakan.
Kemudian gadis itu berlalu meninggalkan Karin, sedangkan Karin yang masih berdiri disitu hanya bengong dan kembali pada tujuan pertamanya.
Dua jam Karin menunggu Saito selesai dari rapatnya, berarti sat ini sudah jam 11. saat Karin sedang melihat ke arah jam tangannya, dia mendengar ada percakapan suara laki-laki dewasa yang terdengar dari lorong lobby hotel itu. Saat Karin menoleh, benar saja, dia adalah Saito Fujiwara. Karin mengaktifkan wireless yang terpasang di jam tangannya, serta cctv yang dipasang di pin, yang kini tertempel di dada kirinya.
"Target terlihat," ucap karin pelan.
Karin menggunakan earphone kecil agar dapat mendengar perintah dari Sasuke, "Dekati dia, pakai cara apapun agar dia membawamu kerumahnya."
Karin beranjak dari tempatnya berjalan menuju tempat Saito yang kini sedang berbincang-bincang dengan beberapa rekan bisnisnya mungkin. Saat perkumpulan itu sudha bubar, Karin sengaja menjatuhkan dirinya di depan Saito dan mencengkram jas laki-laki itu.
"Hei Nona, apa kau tidak apa-apa?" tanya Saito yang langsung reflek memegang tubuh Karin.
"Ah, maaf tuan… Anemia ku kambuh," ujar Karin yang sengaja mengenakan make up pucat, Karin sengaja berpose sedikit menunduk agar tank topnya sedikit terbuka sehingga Saito bsia meluhat belahan dadanya, saat Saito tertarik dan mendekati tubuh Karin, wanita yang memakai kacamata ini menempelkan pahanya sedikit pada tangan Saito, "Maaf, aku masih sedikit pusing."
"Tidak apa-apa, kau kan sakit, mau kubawa ke dokter?"
"Tidak usah, nanti juga pulih," tolak Karin.
Saat para bodyguard Saito berkumpul, Saito menyuruh mereka untuk bubar, dengan senyum yang menyeringai, Saito mendekatkan wajahnya pada Karin, lengannya merangkul dada Karin seolah kalau orang lihat Saitu sedang menolongnya berdiri, padahal dia sedang sengaja menggenggam dada Karin yang bisa dibilang besar itu, "Bagaimana kalau istirahat sebentar di rumahku?
"Berhasil!"
"Apa… tidak apa-apa, tuan?" tanya Karin pura-pura gugup dan lemas.
"Tidak apa-apa, kau kan sakit, aku punya banyak obat di sana."
"Baiklah kalau begitu," akhirnya Karin menyetujuinya.
Sementara itu di dalam mobil, Sasuke, Neji dan Naruto hanya menyeringai.
"Part one, success."
A/N : nah, ada sedikit berita buruk nih untuk kalian, aku dan Raffa mulai besok ngga bisa update sekilat ini… jadi update kilatnya hanya bisa sampai chapter 4, soalnya besok aku harus ada interview, lusa aku ada acara nonton bareng para pemain the Raid XD
Sedangkan Raffa sendiri, kerjaannya mulai menumpuk, kemaren dia curhat katanya pengen cincang bossnya, hahahaa, jadi maaf yah kalo nunggunya agak lama… kita sudah ngasih tahu loh kalo ngga bisa update cepet.
Oh iya, sekedar informasi juga, mulai chapter depan aku dan Raffa akan masukin permintaan seseorang dengan Penname Okakura Roman yang menawarkan OC-nya untuk ikut serta di dalam fict ini, terima kasih yah, berkat dia cerita kami makin terbantu. :D
V3Yagami
